Beranda blog Halaman 1872

Perangi Covid-19, Rumah Warga Ketitang Wetang Kembali Disemprot Disinfektan

0
Warga Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, sedang bersiap untuk melakukan penyemprotan disinfektan. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI -Wabah Covid-19 kian membuat warga berbondong-bondong mencari langkah-langkah pencegahan awal. Tak terkecuali warga Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati yang menggalakkan penyemprotan desinfektan ke rumah-rumah warga.

Penyemprotan tersebut diinisiasi oleh warga dan dilaksanakan oleh para pemuda Karang Taruna desa setempat pada Minggu (29/3/2020). Setelah ada pengumuman oleh salah satu perangkat desa melalui pengeras suara masjid seusai sholat dzuhur, terlihat satu per satu rumah di datangi para pemuda untuk penyemprotan desinfektan.

Penyemprotan Disinfektan di Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, Minggu (29/3/2020). Foto : Titis Widjayanti

“Ini sudah yang ke dua kali. Sebelumnya minggu lalu. Yang pertama itu sumbangan dari GP Ansor untuk penyemprotan di tempat-tempat ibadah, sekolah dan berbagai tempat umum lain di desa. Kalau ini memang inisiasi warga sendiri, bahan-bahannya juga dari sumbangan warga sekitar dalam rangka penanggulangan penyebaran wabah Covid-19 di wilayah Desa Ketitang Wetan,” papar Prasetyo Wahyudi (29) Ketua Karang Taruna Desa Ketitang Wetan kepada betanews.id, Minggu (29/3/2020).

Baca juga : Sembilan Jurnalis Pati yang Kontak dengan Mbah Roso Dinyatakan Negatif Covid-19

Dari pemuda berkaos panjang hitam itu pula, diketahui bahwa bahan desinfektan dibuat sendiri oleh mereka. Tampak disinfektan tersebut ditampung dalam dua tandon air berwarna biru yang diangkut menggunakan sebuah mobil bak terbuka. Terlihat para pemuda lain bergantian mengisi ulang desinfektan dengan alat penyemprot hama yang biasanya digunakan petani di sawah.

“Ini tadi mulai jam 14.00 WIB. Selain penyemprotan dari kami, tadi juga kami sosialisasikan untuk warga waktu penyemprotan. Supaya mereka melakukan penyemprotan mandiri setidaknya 3 hari sekali. Nah untuk selanjutnya ada juga nanti obat khusus dari puskesmas dan racikan desinfektan utamanya untuk tempat ibadah dan sekolah-sekolah yang kami ajukan ke desa untuk nanti bisa diolah dan diberikan pada tempat-tempat tersebut. Dan pengolahannya besok kami kerjakan,” kata dia.

Dia juga mengatakan, meskipun kondisi desa masih aman, tetapi upaya untuk mencegah wabah Covid-19 memang harus diantisipasi dengan baik. Hal lain yang dilakukan adalah pelaporan data warga dari luar desa yang kemudian dicatat untuk dipantau oleh bidan desa hingga puskesmas. Langkah tersebut dilakukan, sebagai bentuk solidaritas warga menjaga lingkungan supaya tetap aman dan sehat.

Baca juga : Sederet Kisah Perjuangan Dua Warga Jateng yang Sembuh dari Covid-19

“Kalau langkah lain, kami mendata orang-orang yang pulang ke desa sini kepada perangkat desa. Utamanya yang dari perantauan untuk dipantau kondisinya oleh bidan lalu puskesmas. Bulan ini ada satu, beliau dari luar negeri. Sementara memang sudah melakukan isolasi mandiri di rumah. Tapi alhamdulilah sejauh ini masih aman. Kami juga berharap semoga wabah virus korona ini segera berlalu dan warga sehat semua,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sembilan Jurnalis Pati yang Kontak dengan Mbah Roso Dinyatakan Negatif Covid-19

0
Salah satu wartawan sedang menjalani rapid test di halaman Stadion Joyo Kusumo Pati, Senin (30/03/2020). Hasilnya, sembilan jurnalis dinyatakan negatif Covid-19. Foto : Ist

BETANEWS.ID, PATI – Sembilan wartawan di Kabupaten Pati telah menjalani rapid test, yang diadakan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati di halaman Stadion Joyokusumo Pati, Senin (30/3/2020). Hasilnya, sembilan jurnalis dari beberapa media tersebut dinyatakan negatif Covid-19.

Sembilan wartawan ini, sebelumnya melakukan peliputan dalam kegiatan bakti sosial berupa pembagian masker dan hand sanitizer yang diadakan almarhum Anggota Komisi IX DPR RI, Imam Suroso di Pasar Puri Baru Pati, Jumat (20/3/2020) lalu.

Perlu diketahui, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan asal Pati yang akrab disapa Mbah Roso ini, meninggal dunia saat menjalani perawatan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di RSUP Kariadi Semarang, pada Jumat (27/3/2020).

Baca juga : Gubernur Ganjar: ‘Mbah Roso Kritis Sejak Sore’

Berkaitan dengan hal ini, Ketua PWI Pati, Moch Noor Efendi menyampaikan apresiasinya kepada Pemkab Pati melalui Gugus Tugas Covid-19 Pati dan DKK Pati karena telah memfasilitasi rapid test kepada para jurnalis yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Perlu digaris bawahi, bahwa teman-teman ini masuk dalam kategori ODP dan bukan PDP. Saya jelaskan, ODP merupakan orang yang mempunyai riwayat kontak dengan PDP, atau memilki riwayat bepergian di daerah yang memiliki kasus tinggi,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta agar masyarakat bisa membedakan hal tersebut dan tidak berprasangka kepada seluruh ODP di kabupaten berjuluk Bumi Mina Tani. Kemudian juga bahu-membahu melakukan pencegahan persebaran virus corona dengan mengikuti imbauan pemerintah yakni social distancing dan physical distancing.

“Sembilan teman kami dan teman-teman yang lain memang agak pikiran karena stigma. Dari situ, kami mohon dukungannya kepada masyarakat, ini bukan aib, kita harus saling suport,” pintanya.

Ia mengaku bersyukur, setelah sembilan jurnalis tersebut dinyatakan negatif Covid-19. Meski begitu, ia tetap menyerukan untuk tetap melanjutkan isolasi mandiri dan bekerja dari rumah (work from home).

“Jika terdapat keperluan atau peliputan mendesak yang mengharuskan turun ke lapangan, wajib memerhatikan petunjuk dan protokol kesehatan secara disiplin, salah satunya dengan melengkapi alat pelindung diri (APD) yang memadai sesuai edaran PWI Pusat dan Dewan Pers,” katanya.

Baca juga : Sederet Kisah Perjuangan Dua Warga Jateng yang Sembuh dari Covid-19

Dirinya juga meminta kepada pihak kepolisian agar menindak tegas kepada pelaku penyebar hoaks terkait dengan informasi seputar Covid-19. Hal itu sangat diperlukan, agar tidak timbul kepanikan di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pati, Suharyono mengamini, jika hasil rapid test dari kesembilan jurnalis Pati adalah negatif. Namun standar operasional prosedur (SOP) harus tetap dijalani.

“Tetap isolasi mandiri selama 14 hari karena yang bersangkutan kontak langsung dengan almarhum (Mbah Roso). Masa inkubasi 14 hari sejak kontak terkahir dengan PDP,” ucapnya melalui pesan singkat.

Dirinya juga berpesan agar awak media menjaga kondisi kebugaran tubuh dan psikis, satu di antaranya dengan polah hidup bersih dan sehat (PHBS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), mengonsumsi makanan dan minuman bergizi, mengurangi stres, serta tidur minimal 6-8 jam per hari.

“Tidak usah dekat dengan keluarga dulu, begitu meriang langsung ke dokter saja. Berdoa juga penting,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sederet Kisah Perjuangan Dua Warga Jateng yang Sembuh dari Covid-19

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menelepon salah satu warganya yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Ucapan syukur terus mengalir dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan dua pasien yang dinyatakan sembuh dari virus corona. Suasana haru itu terjadi, tatkala Ganjar menelepon kedua warganya pada Minggu (29/3/2020). Di mana, dua orang itu sebelumnya positif corona dan saat ini sudah dinyatakan sembuh.

Adalah Robby dan Purwanti, dua pasien yang dinyatakan sembuh itu. Robby merupakan warga Jateng yang sehari-hari bekerja di Bali sebagai tour guide dan diduga tertular saat berada di pulau Dewata itu. Sementara Purwanti, adalah istri dari pasien positif corona yang meninggal dunia di Solo usai mengikuti seminar di Bogor.

Ganjar menelpon dua warganya itu secara terpisah. Awalnya, ia menghubungi Robby melalui video call dan langsung disambut dengan ucap syukur kepada Tuhan. Cukup lama keduanya berbincang, baik tentang cerita awal penularan, masa inkubasi, proses perawatan dan cerita lainnya.

“Alhamdulillah pak, saya sudah melewati masa inkubasi dan sudah dinyatakan negatif. Ini masih di rumah sakit pak, sekarang siap-siap pulang ke rumah,” kata Robby.

Baca juga : Mata Ganjar Berkaca-Kaca Dengar Curhat Tenaga Medis Positif Corona yang Kangen Anaknya

Kepada Ganjar, Robby menceritakan bagaimana pengalamannya menjalani masa inkubasi selama 16 hari di rumah sakit Moewardi Solo. Selama itu, ia merasakan kejenuhan dan kelelahan yang luar biasa.

“Saya minta semua masyarakat untuk menjaga kesehatan masing-masing. Patuhi pemerintah untuk mengisolasi diri di rumah. Yang kerja di luar kota, saya juga berharap tidak mudik dulu, takutnya keluarga di rumah tertular. Jangan sampai semakin banyak orang tertular, saya sendiri sudah merasakan betapa sakitnya harus menjalani pengobatan akibat virus ini,” terangnya terbata.

Robby menerangkan, dirinya merasa demam saat masih berada di Bali. Ketika kondisinya tidak kunjung membaik, ia memutuskan untuk pulang kampung. Namun setibanya di Bandara Adi Soemarmo Solo, ia langsung dibawa ke RSUD Moewardi.

“Setelah dicek dan saya dinyatakan positif corona. Saya belum sempat pulang dan langsung dirawat di RSUD Moewardi. Alhamdulillah sekarang sudah sehat, sudah dinyatakan negatif,” imbuh Robby.

Baca juga : Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

Untuk proses perawatan selama dirinya diinkubasi, Robby mengatakan semua berjalan sangat baik. Dokter dan perawat-perawatnya selalu memberikan suport dan melakukan penanganan medis dengan sangat baik.

“Semua memberikan suport, itu membuat saya semakin semangat untuk sembuh. Saya hanya berdoa, semoga penyakit ini segera berakhir. Setelah ini, saya juga berharap masyarakat tidak mengucilkan kami karena kami butuh suport untuk menjalani semuanya,” pungkasnya.

Sementara itu, Purwanti tidak henti-hentinya mengucap syukur atas kesembuhan yang diberikan saat ditelpon Ganjar. Perjuangannya untuk sembuh akhirnya terwujud setelah 11 hari menjalani proses inkubasi. Kamis (26/3) lalu, ia diperbolehkan pulang.

“Alhamdulillah, Tuhan masih sayang sama saya pak. Saya diberikan kesembuhan dan dinyatakan negatif corona,” kata dia.

Baca juga : 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

Purwanti mengatakan tertular suaminya yang terlebih dahulu dinyatakan positif corona usai pulang seminar di Bogor. Sama-sama berjuang, namun Tuhan berkehendak lain, suaminya meninggal dalam proses perawatan.

Anehnya, Purwanti mengatakan tidak merasa ada gejala apapun yang dirasakan. Saat dicek, ternyata hasilnya ia dinyatakan positif corona.

“Saya tidak merasa apa-apa, tapi hasil tes mengatakan positif. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Semoga saya dan keluarga yang ditinggalkan tetap diberi kesehatan dan ketabahan,” terangnya.

Ganjar sengaja menelpon dua pasien yang sembuh dari virus corona itu untuk mendengarkan cerita dan pengalaman mereka. Bagaimana awal mereka tertular, bagaimana bertahan, cerita selama proses penyembuhan dan kisah selama menjalani masa-masa sulit di inkubasi.

“Agar masyarakat bisa belajar dari kisah ini, belajar dari pengalaman mereka yang berhasil berjuang untuk sembuh. Mudah-mudahan ini menginspirasi semuanya,” kata Ganjar.

Baca juga : Jateng Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Hingga Akhir Mei

Kisah ini lanjut Ganjar juga dapat menjadi pelecut semangat bagi mereka yang dinyatakan positif, ODP maupun PDP virus corona untuk berjuang agar sembuh dari penyakit itu. Ia juga meminta doa dan dukungan dari semua masyarakat agar baik pasien maupun tenaga medis diberikan kesehatan.

“Kepada masyarakat yang sehat, mari kita bantu para tenaga medis kita dengan memutus mata rantai penyebaran virus corona ini. Kalau tidak penting jangan keluar rumah dulu. Juga saya minta, hilangkan stigma negatif pada saudara kita yang sedang berjuang untuk sembuh dari virus corona ini, mereka semua butuh doa dan suport kita bersama,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dua Kali Ditolak Dewa Bumi, Nama S.A HIO 168 Akhirnya Disetujui

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria dengan sejumlah dupa di tangannya terlihat sedang berdoa di depan pintu sebuah gudang kecil di Desa Loram Kulon, RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kudus. Pria itu yakni Samuel Hidayat (29), pemilik S.A HIO 168. Setelah berdoa dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang nama usahanya.

Sebelum memulai usaha, dirinya selalu meminta petunjuk dari Dewa Bumi (YM. Kongco Hok Tek Cengsin). Menurut Semmy, sapaan akrabnya, nama usahanya sudah dua kali ditolak. Nama ketiga S.A HIO 168 baru disetujui dan akhirnya digunakannya.

“Awalnya saya pilih S.A HIO, ditolak. Kemudian saya ganti HIO 168 juga ditolak. Baru yang ketiga S.A HIO 168 ini yang disetujui YM. Kongco Hok Tek Cengsin,” jelas pria dua anak itu.

Baca juga : Produksi Dupa di Kudus Terdampak Corona

Selain nama, hari pertama mengawali usaha juga dia tanyakan dulu kepada Dewa Bumi. Dia juga menjelaskan, karena bisnisnya menjual produk yang digunakan untuk spiritual jadi perlu meminta izin terlebih dahulu agar diberkati.

“Sebelum memulai bekerja saya juga berdoa dulu. Semua saya meminta petunjuk dulu termasuk memberi takaran aroma. Saat ini saya sedang membuat produk baru, untuk nama nanti saya minta petunjuk dulu baru saya berani jual,” terangnya.

Produk terbaru S.A HIO 168 di antaranya dupa kerucut, botol labu, dupa asap yang keluar dari bawah dan dupa bentuk obat nyamuk. Bahan yang dia gunakan membuat dupa yaitu tepung lengket, serbuk kayu jati dan batok kelapa kemudian ditambah air. Setelah jadi kemudian diberi bibit parfum dan alkohol.

Baca juga : DAV Coffee, Kopi Asal Pati dengan Cita Rasa Tiada Dua

“Untuk harga bahan serbuk kayu jati kering, per satu kilogramnya sekitar Rp 9.300. Jika kayunya basah Rp 7 ribu.Kayu gaharu per satu kilogram mulai Rp 4 juta hingga Rp 50 juta,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

4
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jateng telah menyiapkan dana sebesar Rp 1,4 triliun untuk menanggulangi kasus penyebaran virus corona. Dana tersebut akan digunakan untuk jaring pengaman sosial dan jaring pengaman ekonomi.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjelaskan, jaring pengamanan sosial dan ekonomi tersebut ada yang sifatnya konsumtif dan ada yang sifatnya pemberdayaan. Pemprov Jateng akan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) untuk 1,8 juta orang yang belum masuk data masyarakat miskin.

“Dana ini akan diberikan selama tiga bulan untuk menjamin kelangsungan hidup warga selama pandemi corona,” ungkap Ganjar, Minggu (29/3/2020).

Warga yang akan mendapat bantuan langsung tunai tersebut, kata Ganjar, yakni warga yang belum mendapat bantuan program keluarga harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan kelompok risiko rentan.

Baca juga: Mata Ganjar Berkaca-Kaca Dengar Curhat Tenaga Medis Positif Corona yang Kangen Anaknya

Selain bantuan langsung, Ganjar menuturkan, dana yang disiapkan tersebut juga akan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan itu bisa dilakukan dengan melibatkan masyarakat untuk kegiatan padat karya.

“Yang perlu lebih mendapat perhatian itu perempuan kepala keluarga, kelompok rentan, termasuk mereka yang kehilangan pekerjaan, yang terlanjur di Jawa Tengah yang kemarin bekerja di luar kota,” katanya.

Ganjar mengatakan, dana yang telah disiapkan tersebut sebagai anggaran Pancemic Respon. Angka tersebut merupakan hasil dari menghitung aspek sosial dan aspek ekonomi. Dia menarget dana tersebut bisa diketok DPRD Jateng pekan ini, karena telah disiapkan beberapa skenario.

Baca juga: Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

“Angka Rp 1,4 triliun ini merupakan angka minimal. Kami sudah kalkulasi secara rinci. Jadi angkanya tidak boleh kurang, ini harus ada,” ujar Ganjar.

Dia menambahkan, anggaran itu merupakan alokasi dari Pemprov Jateng untuk menangani penyebaran Covid-19 dan menanggulangi dampak yang ditimbulkan. Dana tersebut bisa bertambah, karena pemerintah kabupaten dan kota di Jateng bisa membuat alokasi anggaran yang sama di tiap daerah. Anggaran bisa bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

“DAK yang dimiliki di tiap daerah cukup besar. Kami akan memberikan petunjuk, di tempatmu ada dana sekian, DAK sekian dan boleh digeser ke sana. Segera lakukan,” katanya.

Baca juga: Jateng Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Hingga Akhir Mei

Selain anggaran dari pemerintah daerah, Ganjar berharap akan ada tambahan dana dari kelompok masyarakat, perusahaan dan filantropis. Namun, mereka harus didorong agar potensi dana untuk penanggulangan Covid-19 di Jateng bisa dicapai.

“Sumber dana lain, bisa melalui penganggaran dari pemerintah desa. Mereka bisa membuat program padat karya yang bersumber dari dana desa. Jika semua bisa bergerak serentak, penanganan Covid-19 ini bisa dioptimalkan,” tuturnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Polisi Kudus Datang, Kerumunan Muda-Mudi Tunggang-Langgang

0
Petugas Polres Kudus tengah membubarkan kerumunan di sekitar GOR Bung Karno, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara sirine dari mobil polisi memecah suasana malam di sekitar GOR Bung Karno Kudus, Sabtu (28/3/2020) malam. Dari pengeras suara mobil itu terdengar suara polisi meminta orang-orang yang berkerumun untuk bubar. Imbauan itu disampaikan untuk pemberlakuan social distancing untuk pencegahan Covid-19.

Mendengar seruan dari polisi itu, belasan muda-mudi yang lagi asyik nongkrong di angkringan tepi Jalan Patimura, tampak tergesa-gesa membayar saat puluhan polisi datang. Mereka membubarkan diri, dan suasana di GOR berubah sepi.

Yahyah Arfian (19), pedagang di sana, mengaku kaget ada banyak polisi. Meski begitu dirinya tidak keberatan karena harus mengikuti aturan.

Yahya, begitu dia akrab disapa, menjelaskan jika penghasilannya menurun drastis adanya penyebaran Virus Covid-19. Karena dagangan masih banyak, dia akan tetap membuka angkringannya. Tetapi jika ada pembeli akan diberi saran untuk dibungkus saja demi kebaikan bersama.

Baca juga: Peduli Pencegahan Corona, Pemdes Jepang Adakan Penyemprotan Disinfektan

“Sejak ada penyebaran Virus Corona ini pemghasilan saya menurun drastis. Banyak warga yang tidak keluar rumah, sepertinya semua pedagang merasakan dampaknya,” ungkapnya kepada betanews.id.

Sama halnya dengan Suwanto (35), pedagang angkringan yang membuka lapak di area Gor Kudus. Penyebaran virus corona juga berpengaruh pada penghasilannya. Setelah pembubaran dia hendak menutup lapaknya karena sudah sepi.

Baca juga: Kata Pati Jadi Trending 1 Twitter, Ramai Warganet Posting Corona

“Penghasilan saya jelas menurun. Ini sudah pada bubar, jadi ya saya tutup karena sudah sepi. Saya mengikuti peraturan yang ada saja, semoga segera kembali seperti semula,” terang warga Loram Wetan, Jati, Kudus itu.

Setelah menyisiri titik-titik keramaian, rombongan polisi kembali ke Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 Kabupaten Kudus yang berada di Alun-alun simpang tujuh Kudus. Seorang pria mengenakan kaus berwarna hitam dengan kaca mata berjalan di depan Pos tersebut.

Baca juga: Sepi Peziarah, Pedagang di Kawasan Menara Kudus Sambat Omzet Turun Drastis

Dia yakni Ipda Subkhan SH.MH, perwira pengendali Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 Kabupaten Kudus. Subkhan begitu dia akrab disapa, menjelaskan bahwa pembubaran tersebut dilakukan secara rutin di seluruh wilayah Kota Kudus.

“Ini tadi pukul 21.00 WIB kami tugaskan Polsek untuk melakukan pembubaran kerumunan di wilayah masing-masing. Untuk sekala besar tim gabungan ini tadi dimulai pukul 22.00 WIB menyisir wilayah kota,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Produksi Dupa di Kudus Terdampak Corona

0

BETANEWS. ID, KUDUS – Aroma dupa tercium di sebuah ruangan berukuran 4,5 x 3 meter di Desa Loram Kulon, RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kudus. Di dalam ruangan tersebut, terlihat seorang pria berkacamata sedang membungkus dupa. Dia adalah Samuel Hidayat (29), pemilik S.A HIO 168.

Sambil membungkus dupa, Semmy begitu dia akrab disapa, berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya itu. Karena bahan membuat dupa dia impor dari Cina, adanya virus Corona membuatnya tidak bisa membeli bahan baku.

“Saya ambil bahan baku dari Cina. Adanya virus Corona jelas berpengaruh dalam bisnis saya. Sementara ini saya cuma bisa menghabiskan stok bahan yang ada, mungkin bertahan satu hingga dua bulan ke depan,” ungkapnya, Rabu (18/3/2020).

Baca juga : Sepi Peziarah, Pedagang di Kawasan Menara Kudus Sambat Omzet Turun Drastis

Saat ini, stok bahan baku S.A HIO 168 ada di Jakarta. Menurutnya, lokasi di Kudus belum mampu menampung banyak bahan. Semmy juga menambahkan, jika dia bekerja sama dengan produsen di Surabaya. Dia mengirim bahan baku ke Surabaya, kemudian proses pemberian aroma dan pengemasannya di Kudus.

“Saya menyiapkan sejumlah aroma sesuai permintaan konsumen. Ada aroma bunga melati, cendana, cempaka, mawar, dan racikan sendiri namanya Maharaja. Untuk aroma gaharu memang dari aroma kayunya asli,” jelasnya.

Dia menyediakan beberapa jenis ukuran dupa, di antaranya 39 cm, 42cm dan 48cm. Harga dupa per satu kilogram ukuran 39 cm Rp 42 ribu, 42 cm Rp 51 ribu dan 48 cm isi 10 batang harganya Rp 45 ribu.

Baca juga : Virus Corona Merebak, PO Haryanto Kandangkan Armada

“Awal pemasaran dulu ditolak-tolak, sekarang sudah banyak yang pesan. Penjualan sudah hampir seluruh wilayah Indonesia. Saya jual secara online dan langsung menawarkan ke Klenteng. Omzet dalam sebulan kurang lebih Rp 40 hingga Rp 50 juta,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Peduli Pencegahan Corona, Pemdes Jepang Adakan Penyemprotan Disinfektan

0
Penyemprotan disinfektan di Desa Jepang. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah mobil pick up terlihat melintas di sebuah jalan di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Terdengar suara dari mobil tersebut menyampaikan imbauan kepada warga untuk menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan agar terhindar dari virus Corona. Dua orang di belakang mobil itu berjalan memasuki halaman rumah warga dan menyemprot dengan disinfektan.

Satu di antara sejumlah warga yang berdiri di depan rumah yakni Tohari (55), usai disemprot halaman rumahnya dia mengaku merasa lega. Menurutnya penyemprotan tersebut membuat warga merasa lebih tenang dengan berita maraknya wabah virus Covid-19.

Baca juga : Gunakan Water Canon, Jalanan di Kudus Disemprot Disinfektan

“Penyemprotan ini memang sudah kami tunggu-tunggu. Dengan disemprot disinfektan seperti ini saya merasa lebih tenang. Saya berterima kasih atas perhatian dari perangkat Desa Jepang,” ungkapnya kepada betanews.id, Sabtu (28/3/2020).

Seksi Keamanan RT 2 RW 6 Desa Jepang itu juga menambahkan, dirinya berharap warga merasa aman dan tenang dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut. “Karena saat ini warga merasa resah, semoga bisa mengurangi keresahan dan kepanikan warga,” tambahnya.

Mobil yang terus berjalan akhirnya berhenti di halaman sebuah rumah. Seorang pria paruh baya mengenakan masker putih turun dari mobil pick up itu. Dia adalah Chamdan (53), satu di antara perangkat Desa Jepang. Dirinya menjelaskan, bahwa penyemprotan tersebut bertujuan untuk menjaga warga agar tidak terjangkit virus Covid-19.

Penyemprotan dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. “Hari ini kami menyemprot di dua RW, yaitu RW 2 dan RW 6. Kemarin sudah di tempat-tempat ibadah dan sekolah. Besok kami akan melanjutkan di RW 3 dan RW 4,” jelas Kasi Pelayanan itu.

Baca juga : Lawan Corona, Warga Kauman Kudus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Penyemprotan di Desa Jepang akan dilakukan secara rutin satu pekan dua kali. Menurutnya, antusias warga sangat baik sehingga tidak ada kendala dalam melaksanakan hal tersebut. Selain menyemprotkan disinfektan, dia juga memberi imbauan kepada warga agar tetap menjaga kebersihan dan selalu waspada akan penyebaran virus Covid-19.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mata Ganjar Berkaca-Kaca Dengar Curhat Tenaga Medis Positif Corona yang Kangen Anaknya

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Suasana haru terlihat saat Gubenur Ganjar Pranowo bercakap melalui sambungan telepon, Sabtu (28/3/2020). Mata Ganjar sempat berkaca-kaca saat mendengar cerita seorang tenaga medis yang dinyatakan positif Covid-19.

Tenaga medis itu bernama Dian. Kepada Ganjar, perempuan satu anak itu menceritakan awal mula dirinya dinyatakan positif corona. Kepada Ganjar, Dian juga mengaku sangat kanget pada anaknya yang masih berusia dua tahun.

Pada awal percakapan, Ganjar menanyakan kondisi Dian yang dirawat di rumah sakit. Dian mengatakan, kondisnya sudah membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun dirinya harus tetap melakukan karantina mandiri di rumah.

Baca juga: Jateng Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Hingga Akhir Mei

Suasana percakapan mulai berubah saat Ganjar menanyakan kondisi keluarganya. Bahkan percakapan terhenti beberapa kali, karena Dian tak sanggung berkata-kata ketika mengaku kangen dengan anaknya.

Lihat video lengkapnya di: Beri Semangat Perawat Terpapar Corona

“Setelah dinyatakan positif, saya belum pernah bertemu. Anak saya umurnya dua tahun pak. Selama ini saya hanya bisa melihat wajahnya melalui video call,” ungkap Dian sambil sesenggukan.

Dian juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, saat mengungkapkan bahwa anaknya kini dititipkan pada mertuanya. Suami Dian tengah bekerja di Jakarta, sehingga tidak bisa menjaga anaknya.

Baca juga: Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

“Waktu video call, anak sering tanya mama kapan pulang? Saya jawab mama masih kerja. Dia tahunya saya masih kerja,” imbuhnya.

Mendengar cerita Dian, raut muka Ganjar berubah dan memerah. Matanya berkaca-kaca, karena tak kuasa mendengar kisah tenaga medis yang berjuang melawan corona itu.

Meski begitu, Ganjar tetap memberinya semangat dan mendoakan Dian segera sembuh dan sehat. Ganjar juga titip pesan kepada anaknya, dia ingin menggendong anaknya.

Terpapar Corona Saat Periksa Pasien

Dian menceritakan awal mula dirinya tertular Covid-19. Saat itu dirinya menerima pasien, yang tanpa diduga terpapar corona. Pasien tersebut datang tanpa membawa masker, dan hanya mengeluhkan gejala batuk ringan.

Baca juga: Gubernur Ganjar: ‘Mbah Roso Kritis Sejak Sore’

Dian beserta beberapa rekan tenaga medis lainya memeriksa pasien tersebut, tanpa mengenakan APD lengkap. Saat itu, rumah sakit tempat dirinya bekerja belum begitu siap.

Namun, setelah pemeriksaan, pasien tersebut dinyatakan sebagai PDP dan harus dilakukan isolasi. Dian beserta rekan tenaga medis yang memeriksa pasien itu sempat panik. Karena setelah lima hari, dirinya mengalami gejala terpapar corona. Setelah dilakukan pemeriksaan, Dian dinyatakan positif corona dan harus diisolasi.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Kata Pati Jadi Trending 1 Twitter, Ramai Warganet Posting Corona

0

BETANEWS.ID, PATI – Siang ini ramai kata Pati menjadi trending 1 di platform media sosial Twitter. Banyak warganet yang mengaitkan nama kabupaten di Jawa Tengah ini dengan berita-berita dan informasi terkait penyebaran virus corona.

Hingga pukul 16.00 WIB, ada lebih dari 35 ribu postingan yang menyebut kata Pati. Berita dan informasi meninggalnya Anggota DPR RI Imam Suroso merupakan yang paling banyak diposting warganet. Anggota Komisi IX asal Kabupaten Pati itu meninggal pada Jumat (27/3/2020) malam di RSUP dr Kariadi Semarang, menyandang status PDP corona.

Baca juga: Gubernur Ganjar: ‘Mbah Roso Kritis Sejak Sore’

Berita-berita yang memuat meninggalnya pria yang lebih dikenal sebagai Mbah Roso itu membanjiri Twitter. Selain berita terkait meninggalnya Mbah Roso karena corona, banyak pula warganet yang membagi berita aktivitas politisi PDI Perjuangan tersebut sebelum meninggal. Diketahui, sebelum diisolasi di RSUP dr Kariadi, Mbah Roso membagikan masker dan hand sanitizer kepada warga di Pasar Puri, Pati.

Selain tentang Mbah Roso, banyak juga yang membagi video ditutupnya Pasar Puri selama sepekan. Dalam sebuah video yang dibagi @oeka16 diperlihatkan seorang pria berbicara menggunakan megaphone menyampaikan informasi.

Baca juga: Dalam Sehari, Pasien Positif Corona di Jateng Melonjak 2 Kali Lipat

“Pasar Puri tutup tujuh hari, Pasar Puri tujuh hari nggeh,” ujar pria mengenakan kaus oranye kepada para pedagang yang masih berjualan.

Selain itu, ada pula warganet yang membagi video penyemprotan disinfektan di pusat kota, Kabupaten Pati. Dalam video yang diunggah oleh akun @YunieMooo, tampah satu unit kendaraan water canon milik Polres Pati menyemprotkan cairan disinfektan dari tengah jalan raya. Dari pengeras suara kendaraan tersebut, polisi memberikan imbau kepada masyarakat untuk waspada.

Baca juga: Jateng Terima 1000 VTM, Alat yang Langka untuk Mengecek Corona

Ada pula beberapa warganet yang memposting gambar penutupan akses perkampungan dengan bambu dan kayu, dan diberi tulisan “Lockdown”. Gambar itu diketahui diambil di Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo dan sebuah perkampungan di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.

Banyak pula warganet yang memposting aktivitas penyemprotan disinfektan di perkampungan. Ada yang menyemprotkan disinfektan di masjid, perkantoran dan fasilitas umum lainnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Sepi Peziarah, Pedagang di Kawasan Menara Kudus Sambat Omzet Turun Drastis

0
Suasana toko oleh-oleh di kawasan Menara Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, suasana Jalan Menara Kudus tampak lengang. Jalan akses untuk mencapai Makam Sunan Kudus itu tampak sepi dari para peziarah. Sesekali hanya terlihat satu, dua orang lewat yang kemudian menyempatkan berswafoto dengan latar belakang Menara Kudus. Di kanan atau kiri jalan terlihat para pedagang duduk menanti calon pembeli. Satu di antara pedagang itu tersebut yakni Noor Kholish (49) yang mengaku penghasilannya turun drastis sejak ada virus corona.

Dia mengatakan, sejak ada kabar virus corona di Kota Kretek dan pemerintah menutup terminal wisata yang ada di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, peziarah yang datang ke Makam Sunan Kudus sangat berkurang. Otomatis itu berpengaruh pada penghasilannya.

Salah satu pedagang oleh-oleh di kawasan wisata religi Makan Sunan Kudus. Foto : Rabu Sipan

“Sejak ada corona, peziarah sepi, pembeli juga sama. Dulu sebelum ada corona pada akhir pekan saya bisa mendapatkan Rp 5 juta sehari. Saat ini, mencari omzet Rp 100 ribu sehari susah sekali,” ujar pria yang akrab disapa Kholish kepada betanews.id.

Baca juga : Virus Corona Merebak, PO Haryanto Kandangkan Armada

Pria warga Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus itu mengungkapkan, sebenarnya ziarah makam Sunan Kudus tidak ditutup. Tapi yang datang ziarah itu perorangan, tidak rombongan. Padahal biasanya yang membeli oleh – oleh itu mereka para peziarah rombongan dari luar kota.

“Biasanya yang beli oleh – oleh itu rombongan peziarah dari lain provinsi. Mereka biasanya membeli oleh – oleh untuk dibagikan pada keluarga setelah sampai di rumah,” jelas Kholish.

Pria yang berdagang sejak tahun 1993 itu menuturkan, selama berdagang di wilayah Menara Kudus, saat inilah paling sepi pembeli. Bahkan saat krisis moneter pada tahun 1998 pembeli tidak sesepi saat ini. Dia berharap, keadaan sepi pembeli cepat berlalu, dan kembali normal.

“Padahal bulan – bulan menjelang puasa seperti ini biasanya ramai rombongan peziarah yang datang. Jalan sekitar menara sampai macet, dagangan juga laris. Namun saat ini sangat sepi,” ungkapnya lirih.

Baca juga : Imbas Corona, Tingkat Hunian Hotel King’s Kudus Turun Hingga 50 Persen

Hal senada juga dikatakan Nor Khayat, pedagang oleh – oleh bernama Toko Enceha itu menuturkan, hampir semua pedagang di sekitaran Menara Kudus menjerit dengan keadaan saat ini. Sejak ada virus corona dan terminal wisata ditutup, tidak ada lagi rombongan peziarah dari luar kota. Sehingga pendapatannya turun drastis.

“Kalau ngomongin pendapatan saat ini dengan sebelum ada virus corona itu sangat drop sekali. Dulu di hari biasa, saya bisa mendapatkan uang Rp 3 juta sehari. Sekarang paling hanya Rp 500 ribu sehari,” papar pria yang akrab disapa Khayat.

Dia mengungkapkan, pembeli sekarang palingan hanya orang lewat saja. Bukan mereka para rombongan peziarah. Padahal saat ada rombongan beli oleh – oleh jadi satu di tokonya, sudah lumayan omzet yang didapatnya.

“Rombongan satu bus wisata itu kan ada puluhan orang. Kalau satu rombongan itu beli oleh – oleh di toko saya semua, hasilnya lumayan. Semoga saja virus corona segera berakhir, sehingga ada rombongan peziarah dari lain daerah,” harapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

0
Ganjar Pranowo usai meninjau alat rapid test di gudang Dinas Kesehatan Jateng, Jumat (27/3/2020).Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Para pekerja yang ada di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Jabar, Jatim, Bali dan lainnya diminta untuk tidak mudik pada saat Lebaran nanti. Mereka diminta untuk menetap di lokasi masing-masing. Hal itu disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

“Saya sarankan untuk warga Jateng yang sedang bekerja untuk tidak mudik. Saya doakan Anda semua sehat, tapi kalau tidak sehat dan terjangkit virus corona, maka anda bisa menularkan kepada keluarga tercinta di rumah, kan kasihan,” kata Ganjar usai meninjau alat rapid test di gudang Dinas Kesehatan Jateng, Jumat (27/3/2020).

Ganjar mengatakan, dari hasil tracking yang dilakukan terhadap pasien yang positif corona di Jateng, ditemukan beberapa tertular dari daerah lain. Misalnya yang meninggal di Solo, itu terjangkit usai mengikuti acara seminar di Bogor.

Baca juga : Jateng Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Hingga Akhir Mei

“Kami ngecek satu persatu, beberapa yang positif corona di Jateng itu dari luar. Jadi apa, persebaran virus ini sangat cepat sekali. Demi keluarga tercinta di rumah, tolong tidak mudik dulu,” ungkapnya.

Pemerintah lanjut Ganjar, sedang menggodok aturan mengenai larangan mudik itu. Sambil menunggu kepastian, Ganjar mengimbau kepada masyarakat untuk sadar dan tidak mudik.

“Kalau alasannya mudik hanya untuk bertemu orang tua atau keluarga, hanya membelikan pakaian, itu semua tidak ada manfaatnya jika ada potensi penularan. Mari kita menahan diri sebentar, kita lawan virus corona ini bersama-sama,” imbuhnya.

Selain demi keluarga, Ganjar juga meminta masyarakat melihat bagaimana perjuangan para tenaga medis yang saat ini sedang berjuang melawan corona.

“Lihatlah mereka yang setiap hari fight melawan virus ini. Mereka berjuang mati-matian, waktunya habis, nyawa menjadi taruhannya dan keluarga tercinta ditinggal di rumah. Mari kita bantu, mari kota kompak agar musibah ini bisa segera dikendalikan,” jelasnya.

Baca juga : Rapid Test Sudah Tiba di Jateng, ODP Jadi Prioritas

Di samping itu, pihaknya juga sudah menjalin komunikasi dengan Gubernur DKI, Gubernur Jabar dan Ketua Gugus Tugas Covid-19 di Jakarta untuk menghindari masyarakat mudik saat Lebaran. Koordinasi dilakukan agar masing-masing daerah melakukan pengawasan dengan ketat.

“Mari bantu pemerintah agar penyakit ini bisa cepat berlalu. Tolong yang di Jakarta, di Jabar atau dimanapun, jangan pulang dulu. Kita bantu DKI, Jabar dan daerah lainnya dengan tetap berada di tempat agar mudah dikontrol,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Hingga Akhir Mei

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana corona hingga akhir Mei mendatang. Ketetapan ini dibuat setelah melihat kondisi penyebaran Covid-19 di Jateng yang semakin meluas.

Dalam surat keputusan bernomor 360/3/Tahun 2020 tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberlakukan status tanggap darurat hingga 29 Mei mendatang. Ketetapan ini mulai berlaku sejak ditandatanganinya surat tersebut pada Jumat (27/3/2020).

Ganjar menjelaskan, penetapan satus tanggap darurat ini dibuat dengan pertimbangan semakin mewabahnya virus corona, termasuk di Jawa Tengah. Tak ayal, pembangunan sarana dan prasarana menjadi terganggu. Dampak sektor sosial dan ekonomi yang ditimbulkan juga besar.

“Banyak orang terinfeksi (Covid-19), ada yang mati juga. Selain itu tentu ada kerugian harta benda. Banyak sektor yang terganggu, pembangunan, sosial dan ekonomi juga terdampak. Dengan melihat ini semua, kami memutuskan untuk menetapkan status tanggap darurat,” ujar Ganjar.

Baca juga: Jateng Terima 1000 VTM, Alat yang Langka untuk Mengecek Corona

Dengan ditetapkannya status ini, penanganan kasus Covid-19 menjadi lebih serius dan fokus. Ganjar mengatakan, semua biaya yang timbul akibat ditetapkannya status tanggap darurat ini akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Tengah.

Setelah ditetapkannya status ini, langkah-langkah teknis akan diatur melalui keputusan berikutnya. Anggaran-anggaran tertentu yang sudah diplot dalam APBD bisa digeser untuk penanganan kasus corona.

Baca juga: Dalam Sehari, Pasien Positif Corona di Jateng Melonjak 2 Kali Lipat

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi Jateng tengah menyiapkan anggaran untuk dialokasikan kepada warga yang terdampak virus Corona (Covid-19). Alokasi dana tidak hanya ditujukan untuk aspek kesehatan, namun juga sosial dan ekonomi.

Keputusan tersebut diambil Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai melakukan rapat tersbatas via teleconference dengan Presiden Jokowi, Selasa (24/3/2020). Terkait berapa anggaran yang akan dikucurkan, hingga kini masih dihitung.

Baca juga: Warga Terdampak Covid-19 Akan Dapat Bansos dari Pemprov Jateng

Saat ini, kata Ganjar, pihaknya telah dan tengah berkonsentrasi untuk penanganan virus Corona dari aspek kesehatan. Anggaran yang telah disiapkan lebih dari Rp 100 miliar.

“Anggaran ini sebenarnya masih sangat kecil. Anggaran Rp 100 miliar ini hanya untuk sektor kesehatan. Sedangkan untuk social asfety net sedang disiapkan. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah saya minta untuk melakukan penghitungan,” tuturnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

DAV Coffee, Kopi Asal Pati dengan Cita Rasa Tiada Dua

0
Dav Coffe yang diproduksi di Juwana. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI – Siang itu, bangunan berderet bekas salah satu TPQ di area pertambakan Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati terlihat ramai dengan aktivitas beberapa orang di salah satu petak ruangan paling kanan. Di luarnya, pohon cemara sepanjang jalan setapak menuju parkiran sesekali bergoyang diterpa angin.

Ketika didekati, ruangan satu-satunya yang menghadap ke arah timur itu nampak kontras dengan banner bertuliskan Hanggo Coffee. Setelah pintunya diketuk, seorang pemuda keluar dengan senyum ramah. Ia mempersilakan kami masuk dan duduk. Ialah Dafiq Riska (29) Owner Hanggo Coffee yang memiliki produk kopi dengan merek DAV Coffee.

Dafiq Riska sedang melakukan roasting kopi. Foto : Titis Widjayanti

“Untuk usahanya namanya Hanggo, itu dalam bahasa Temanggung artinya silakan. Dulu sempet punya usaha dengan nama itu, terus saya teruskan memakai namanya. Tapi seiring perkembangan zaman, kok kelihatannya kurang menarik. Akhirnya untuk kopinya kami beri merek DAV Coffee,” ungkap Dafiq kepada betanews.id, Jumat (13/3/2020).

Baca juga : Kopi Muria Wilhelmina Aman Dinikmati Bagi Penderita Lambung

Pria asli Temanggung tersebut kemudian menceritakan awal mula berdirinya bisnis yang sudah hampir satu tahun itu berdiri. Ia mengatakan, bahwa sebagai keturunan keluarga yang dekat dengan penghasil tembakau dan biji kopi, ia kemudian mencoba peruntungan mendirikan produksi kopi di tanah kalahiran sang istri.

“Kebetulan, saya asli Temanggung. Keluarga besar di sana banyak yang berprofesi sebagai petani kopi. Selain itu, setelah menikah dan tinggal di sini, melihat Juwana adalah salah satu kota dengan penikmat kopi cukup besar. Buktinya banyak warung kopi hampir di sepanjang jalan. Dari sana, akhirnya bisnis kami mulai,” papar Dafiq.

Sambil sesekali menunjukkan hasil olahan ia menuturkan bahwa sebagai usaha baru, untuk sementara DAV Coffee memang dipasarkan dengan metode ditawarkan door to door ke warung-warung kopi terdekat, selain melalui online. Diakuinya, memang masih sulit menembus pasar dengan perbandingan realita pemproduksi kopi yang menjamur di sekitar.

“Untuk pemasaran masih menggunakan sales kami yang menawarkan dan mengunjungi warung-warung kopi sekitar sini. Selain pelanggan dari online, atau kenalan ya kita coba kembangkan dan perkenalkan produk kami. Meskipun masih sulit. Karena hampir setiap warung sudah mengolah kopinya sendiri,” kata dia.

Selain itu, Dafiq menambahkan, bahwa pesaing pasar lain kebanyakan punya trik tersendiri yang sudah lama dipakai. Namun, karena hal itulah justru ia berani memastikan produknya layak untuk dipilih. Andalan dari produknya adalah kualitas dan harga yang merakyat.

“Kalau di sini, kebanyakan produk kopi yang manual cara pengolahannya. Yang masih pakai kuali dan tungku, sedangkan di sini salah satu dari dua pembuat kopi dengan alat atau roaster modern. Kelebihannya suhu dan kualitas lebih terjaga. Karena ada pengujur suhu dan api. Selain itu, lebih ekonomis dan efektif. Kalau biasanya pakai kuali itukan bisa satu jam untuk satu kilo, kalau di sini maksimal 15 menit,” jelas dia.

Baca juga : Miris dengan Nasib Kopi Muria, Hikma Munculkan Brand Kopi Muria Wilhelmina

Unggulan lain dari produknya adalah kopi khas Temanggung yang dikatakan memiliki aroma tembakau. Lalu ia juga menambahkan jika penyimpanan dan pemilihan biji kopi yang teliti juga merupakan kunci dari kualitas kopi yang diproduksi.

“Dari mulai penyimpanan, pemilihan sampai pemrosesan kami jamin terjaga. Seperti biji kopi yang baru datang tidak boleh dibiarkan ditumpuk dengan langsung menempel lantai atau tanah. Karena itu memengaruhi kelembapan kopi. Lalu pemilihan biji yang baik dan layak diproses sampai pembuangan kulit ari. Setelah digiling pun harus disimpan di wadah yang kedap udara untuk menjaga aromanya,” tambah dia.

Pada ujung perbincangan ia mengatakan jika tidak hanya kopi Temanggung, ia menyetok beberapa kopi dari kota lain. Seperti Kopi Mandailing. Namun keseluruhannya memiliki grade berbeda-beda. Dari grade 1, 2, sampai 3. Harganya pun menyesuaikan. Yakni dari sekitar Rp 80 hingga Rp 150 ribu. Sedangkan untuk bentuk, ia menunjukkan jika Dav Coffee menjual dalam bentuk biji kopi matang dan serbuk kopi yang sudah digiling.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tentang Pos Terpadu Pencegahan Covid-19, Wafiq : ‘Saya Dapat Edukasi Agar Tak Terjangkit Corona’

0
Wafiq saat berkonsultasi terkait pencegahan virus corona di Pos Terpadu Pencegahan Covid-19 di Alun-alun Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua kendaraan berhenti di samping Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 Kabupaten Kudus, Jumat (27/3/2020). Terlihat dua orang muda mudi memarkirkan sepeda motornya. Setelah parkir, dua orang itu kemudian mencuci tangan di tempat yang tersedia.

Satu di antara mereka yakni Achmad Farihul Wafiq (19). Dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang hal yang ia dapat setelah mampir ke pos pelayanan tersebut. Menurutnya, pos pelayanan tersebut sangat membantu. Kerena bisa lebih mengerti hal-hal yang perlu dilakukan agar tidak terjangkit Virus Covid-19.

“Ini tadi saya dari Semarang mau pulang ke Jawa Timur. Melihat ada pos pencegahan Covid-19 jadi mampir istirahat sekalian tanya-tanya. Jadi tahu hal-hal yang harus saya lakukan. Seperti saat ini perjalanan jauh saya harus lebih banyak minum,” ungkap Wafiq sapaan akrabnya.

Baca juga : Kini di Kudus Sudah Ada Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19

Selain banyak minum air mineral, dia juga mendapat saran agar setelah sampai rumah harus langsung ganti pakaian dan membersihkan badan. Hal tersebut demi mengantisipasi jika dalam perjalanan bertemu dengan orang yang terjangkit Covid-19.

“Makan-makanan bergizi dan istirahat cukup juga agar imun tubuh kuat sehingga tidak mudah terjangkit virus. Pokoknya sering cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan dan waspada menghindari keramaian,” terangnya.

Sementara itu, Titik Khouzanah (53), petugas yang menjaga pos tersebut, mengungkapkan, bahwa pos itu hanya mengedukasi warga. Setiap warga yang datang akan dijelaskan terkait cara mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

Baca juga : Gunakan Water Canon, Jalanan di Kudus Disemprot Disinfektan

“Jadi kami tidak melakukan pemeriksaan di sini. Kami memberi pengertian dan cara-cara agar terhindar dari Covid-19. Ini kami sediakan brosur untuk warga yang datang, agar bisa dibawa pulang dan dibagikan informasi yang didapat dari sini,” jelas petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -