BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria dengan sejumlah dupa di tangannya terlihat sedang berdoa di depan pintu sebuah gudang kecil di Desa Loram Kulon, RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kudus. Pria itu yakni Samuel Hidayat (29), pemilik S.A HIO 168. Setelah berdoa dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang nama usahanya.
Sebelum memulai usaha, dirinya selalu meminta petunjuk dari Dewa Bumi (YM. Kongco Hok Tek Cengsin). Menurut Semmy, sapaan akrabnya, nama usahanya sudah dua kali ditolak. Nama ketiga S.A HIO 168 baru disetujui dan akhirnya digunakannya.
“Awalnya saya pilih S.A HIO, ditolak. Kemudian saya ganti HIO 168 juga ditolak. Baru yang ketiga S.A HIO 168 ini yang disetujui YM. Kongco Hok Tek Cengsin,” jelas pria dua anak itu.
Baca juga : Produksi Dupa di Kudus Terdampak Corona
Selain nama, hari pertama mengawali usaha juga dia tanyakan dulu kepada Dewa Bumi. Dia juga menjelaskan, karena bisnisnya menjual produk yang digunakan untuk spiritual jadi perlu meminta izin terlebih dahulu agar diberkati.
“Sebelum memulai bekerja saya juga berdoa dulu. Semua saya meminta petunjuk dulu termasuk memberi takaran aroma. Saat ini saya sedang membuat produk baru, untuk nama nanti saya minta petunjuk dulu baru saya berani jual,” terangnya.
Produk terbaru S.A HIO 168 di antaranya dupa kerucut, botol labu, dupa asap yang keluar dari bawah dan dupa bentuk obat nyamuk. Bahan yang dia gunakan membuat dupa yaitu tepung lengket, serbuk kayu jati dan batok kelapa kemudian ditambah air. Setelah jadi kemudian diberi bibit parfum dan alkohol.
Baca juga : DAV Coffee, Kopi Asal Pati dengan Cita Rasa Tiada Dua
“Untuk harga bahan serbuk kayu jati kering, per satu kilogramnya sekitar Rp 9.300. Jika kayunya basah Rp 7 ribu.Kayu gaharu per satu kilogram mulai Rp 4 juta hingga Rp 50 juta,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

