Sebuah kedai angkringan dengan tampilan sederhana tampak berisi beraneka ragam makanan dan minuman. Ada sate-satean seperti sate usus, jeroan ayam, telur puyuh, dan lainnya. Selain itu, terdapat berbagai pilihan nasi kucing dengan lauk-pauk berbeda, juga aneka gorengan yang baru saja diambil dari penggorengan. Nama kedai itu ialah Angkringan Mas Peje, salah satu angkringan yang letaknya tidak jauh dari Menara Kudus, tepatnya di Jalan Menara, Desa Langgardalem, Kecamatan Kudus.
Menurut pemilik usaha, Dwi Pujianto (30), angkringan ini sudah ada sejak dua tahun lalu. Pria yang akrab disapa Mas Puji itu merintis usaha angkringan bersama istrinya, Hardianti Riski Lestari. Sebelumnya, sepasang suami istri tersebut memiliki usaha grosir sembako pada 2016. Hingga akhirnya, pada tahun 2022 mereka terpaksa gulung tikar karena kalah persaingan dengan banyaknya grosir sembako yang lebih besar dan lebih lengkap.
Dengan modal yang pas-pasan, mereka berputar haluan dari usaha sembako ke usaha angkringan. Meskipun lapak dagangnya terlihat sederhana, namun di dalamnya terdapat berbagai menu makanan dan minuman yang beraneka ragam dengan harga ramah di kantong.
Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang
Untuk rasa sendiri tidak perlu diragukan. Puji sengaja tidak menerima penitipan makanan dari mana pun. Hal itu ia lakukan untuk menjaga konsistensi rasa makanan yang ia jual, sehingga semua dagangannya ia peroleh dari masakan karyawannya yang sudah terpercaya.
“Selain itu, keuntungannya juga nipis kalau pada nitip. Kalau masak sendiri keuntungannya bisa sampai tiga kali lipat,” ujar ayah satu anak itu saat ditemui beberapa waktu lalu.
Harga makanan yang ada di angkringannya Puji dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk nasi bungkus, ia jual dengan harga Rp 3.000, sate-satean mulai dari Rp 3.000 sampai dengan Rp 5.000, dan gorengan mulai dari Rp 1.000 sampai dengan Rp 2.500. Selain itu, angkringan Puji juga menyediakan berbagai minuman hangat seperti jahe geprek, teh hangat, juga aneka kopi.
Puji mengaku pelanggannya berasal dari berbagai daerah. Bahkan, sering juga yang dari luar kota seperti Pati dan Jepara. Beberapa dari mereka mengaku sudah menjadi pelanggan tetap Angkringan Peje.
“Puncak ramainya itu mulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam. Sering juga kawan-kawan kami waktu sekolah datang. Kadang pula anak-anak geng motor mampir,” ujarnya.
Baca juga: Diminati Warga Kudus, 2 Kilogram Serabi Asmoro Ludes Setiap Hari
Angkringan Puji buka mulai pukul 15.30 WIB hingga tengah malam. Selain usaha angkringan, ia juga memulai usaha seblak baru-baru ini. Lapak usaha seblaknya berada pas di depan angkringan. Ke depannya, ia juga berencana akan membuka cabang angkringan baru di daerah Kudus Kota.
Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

