Beranda blog Halaman 1873

Nabila Vespa Kudus, Showroom Vespa Second yang Bisa Jadi Jujugan Penggemar Skuter

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa unit motor matic beraneka warna tampak berjajar di dalam bangunan yang berada di tepi selatan Jalan Kudus – Jepara, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Di antara motor tersebut, terlihat seorang pria yang sedang mengenakan kemeja pendek sedang melayani calon pembeli. Tak beselang lama, datang pria lain membawa besi pipa mengkilat. Pria tersebut yakni Lilik Winarno (34) pemilik showroom Nabila Vespa Kudus.

Setelah meletakkan besi yang dibawanya, Lilik Winarno sudi menjelaskan tentang usahanya tersebut. Menurutnya, showroom miliknya itu baru buka Sabtu (14/3/2020). Dia mengaku memilih usaha jual beli vespa matic bekas karena dianggapnya lebih menguntungkan.

Lilik Winarno, Owner Nabila Vespa Kudus. Foto : Rabu Sipan

“Sebelumnya, usaha saya itu jual beli mobil. Di sela usahaku itu, setahun yang lalu saya coba jual vespa bekas secara online, ternyata vespa bekas lebih cepat laku. Perputaran uangnya lebih cepat dan tentunya lebih menguntungkan,” ujar pria yang akrab disapa Lilik kepada betanews.id

Baca juga : BMW R2, Motor Langka Koleksi Sekaligus Maskot Rajawali Bursa Motor, Tidak Dijual Meski Ditawar Rp 1 Miliar

Karena alasan itu lanjut Lilik, jual beli mobilnya berhenti dan modalnya dipakai untuk modal usaha jual beli vespa bekas. Menurutnya, selama menjual motor tersebut secara online, respon para pecinta motor produk Negeri Pizza itu sangat bagus. Sebulan diakui Lilik, mampu menjual 10 hingga 15 unit dengan berbagai tipe.

“Karena tingginya peminat vespa itulah, kemudian saya nekat menyewa tempat pinggir jalan raya dan buka showroom. Selain itu, di rumah juga sudah tidak muat. Sayang juga mobil saya harus diparkir di luar terus,” ungkapnya sambil tersenyum.

Lilik menjelaskan, motor vespa itu tidak sekedar kendaraan, tapi juga bisa dianggap sebagai gaya hidup. Orang yang mengendarai motor vespa di jalan raya pasti jadi pusat perhatian.

Baca juga : Menengok Bengkel Mobil Offroad BSR Fabrication yang Selalu Puaskan Pelanggan

“Motor vespa itu memang seolah dibuat agar pengendaranya itu jadi pusat perhatian. Apalagi, jika yang dikendarai itu vespa yang warnanya ngejreng,” kelakarnya.

Lilik mengatakan, showroomnya itu menjual motor vespa bekas dengan berbagai tipe. Harga mulai Rp 20 juta hingga Rp 50 jutaan per unit. Sedang untuk pembayaran di Vespa Nabila Kudus bisa secara cash maupun kredit.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kini di Kudus Sudah Ada Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19

0
Suasana pelayanan di posko terpadu pencegahan Covid-19 di Alun-alun Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu-lalang kendaraan terdengar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (27/3/2020). Dua tenda berjejer bertuliskan Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 Kabupaten Kudus tampak di depan Pendopo Kabupaten Kudus. Satu di antara sejumlah petugas di sana yakni Titik Khouzanah (53), dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, menjelaskan pos tersebut sudah berjalan dua hari.

Perempuan paruh baya yang akrab disapa Titik itu berharap dengan keberadaan pos tersebut warga merasa lebih tenang. Dari Pemerintah Kabupaten Kudus akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pencegahan penyebaran Covid-19.

Posko terpadu pencegahan Covid-19 di Alun-alun Kudus. Foto :Ahmad Rosyidi

“Di sini kami akan terus berusaha mengedukasi warga. Hari ini baru ada tiga orang yang datang, memang sepi karena warga diimbau untuk tidak keluar jika tidak ada kepentingan. Khusus Dinas Kesehatan, kami dibagi tiga shift, jadi mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB,” terangnya kepada betanews.id.

Baca juga : Gunakan Water Canon, Jalanan di Kudus Disemprot Disinfektan

Dia juga menjelaskan jika Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 Kabupaten Kudus akan dibuka selama dua pekan. Tetapi tidak menutup kemungkinan akan diperpanjang jika situasi masih belum dirasa aman dari penyebaran Covid-19.

Sementara itu, Jamjuri Ahmad Fatoni (26), petugas piket dari Sabhara Polres Kudus juga menambahkan, bahwa pos tersebut memang lebih mengedukasi dan memantau aktivitas warga di Kudus. Selain itu melakukan imbauan di tempat-tempat keramaian yang ada di Kudus.

“Kami juga melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat ibadah, di desa-desa juga bekerja sama dengan perangkat desa melakukan penyemprotan sekaligus mengedukasi kepada warga, memberi imbauan di tempat keramaian agar tidak berkerumun,” ungkap pria yang akrab disapa Fatoni itu.

Baca juga : Lawan Corona, Warga Kauman Kudus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Selain petugas, Dwi (20) satu di antara beberapa warga yang datang, mengaku senang dengan adanya pos tersebut. Dia merasa terbantu dan mendapat informasi baru terkait pencegahan Cirus Covid-19.

“Saya senang dan terbantu dengan adanya pos ini. Jadi bisa tanya-tanya terkait Virus Corona ini. Tadi juga mendapat saran untuk menjaga pola makan dan istirahat cukup,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Rapid Test Sudah Tiba di Jateng, ODP Jadi Prioritas

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengecek alat rapid test yang sudah tiba di Jateng pada Kamis sore. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sebanyak 8.400 rapid test sudah tiba di Jawa Tengah pada Kamis (26/3/2020) sore. Alat tes cepat tersebut kini berada di gudang obat milik Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah di Tambak Aji Ngaliyan Semarang. Hari ini, Jumat (27/3/2020) alat tersebut diminta untuk segera didistribusikan.

Hal itu disampaikan langsung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengecek keberadaan ribuan rapid test tersebut. Ia memerintahkan, hari ini juga, ribuan alat tersebut dikirim ke daerah-daerah dengan Orang Dalam Pengawasan (ODP) terbanyak.

Ganjar menegaskan, pengecekan menggunakan rapid test akan diprioritaskan kepada ODP. Untuk itu, masyarakat yang dalam kondisi sehat, diminta tidak berbondong-bondong mendatangi rumah sakit untuk melakukan rapid test.

Baca juga : Jateng Sudah Bisa Tentukan Positif Corona Dalam Hitungan Jam

“Masyarakat tidak perlu berbondong-bondong, yang sehat tenang saja. Kami akan konsentrasi dulu pada mereka yang ODP,” tegasnya.

Adapun metode yang akan digunakan, kata Ganjar, adalah jemput bola. Petugas yang akan melakukan pengecekan menggunakan rapid test, akan mengunjungi rumah-rumah warga yang dinyatakan ODP.

“Kami akan mendatangi ODP, jadi mereka di rumah saja karena kami sudah punya datanya semua. Selain itu, ODP kan memang harus di rumah, mengisolasi diri. Maka kami akan jemput ke rumah dan melayani semuanya,” terangnya.

Baca juga : Geger Kota Tegal Lockdown, Ganjar: ‘Tidak, Hanya Isolasi Terbatas’

Terkait dengan target waktu, Ganjar menerangkan, bahwa pengecekan menggunakan rapid test sangat cepat. Ditargetkan setelah alat disebarkan, dalam waktu sehari pengecekan bisa selesai.

“Itu cepat kok, target satu hari selesai. Paling lambat dua hari, biar cepat diketahui hasilnya dan dilakukan tindakan-tindakan selanjutnya,” pungkasnya.

Perlu diketahui, untuk di Jawa Tengah, ODP saat ini mencapai 3.638 orang. Jumlah itu tersebar di beberapa kabupaten/kota di Jateng.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Geger Kota Tegal Lockdown, Ganjar: ‘Tidak, Hanya Isolasi Terbatas’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo membantah adanya keputusan lockdown dari Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono. Dia menegaskan, keputusan yang diambil setelah ada pasien positif corona di daerah itu hanya isolasi terbatas.

“Tidak seseram itu. Saya sudah tanya (ke Wali Kota Tegal), saya sudah mendapat penjelasan. Intinya bukan lockdown, keputusan yang diambil hanya isolasi terbatas agar masyarakat tidak bergerak bebas. Jadi hanya sebatas itu saja,” ujar Ganjar saat mengecek alat rapid test di gudang Dinkes Jateng, Jumat (27/3/2020).

Dia menerangkan, setelah ada pasien yang dinyatakan positif corona, Pemkot Tegal beserta jajarannya untuk mengambil keputusan yang mereka sebut lock down secara lokal di alun-alun. Karena di sana dianggap masih banyak warga yang berkerumun.

Namun, setelah kebijakan tersebut diambil, kata Ganjar, ternyata masih banyak warga yang berkerumun. Maka dinaikkanlah statusnya dengan menutup tempat wisata dan hiburan.

“Namun tampaknya kebijakan yang diambil untuk membatasi pergerakan masyarakat tersebut tidak begitu ditaati masyarakat. Banyak orang yang masih berkeliaran di jalan. Maka diambillah keputusan untuk menutup akses jalan masuk ke kota atau kampung menggunakan barier,” ujar Ganjar.

Baca juga: Jateng Sudah Bisa Tentukan Positif Corona Dalam Hitungan Jam

Ganjar juga bertanya kepada Wali Kota Tegal, apakah dengan penutupan akses jalan tersebut masyarakat masih boleh keluar rumah. Dedy menjawab masih boleh.

“Lha kalau gitu bukan lockdown. Kalau lockdown, masyarakat sama sekali tidak boleh keluar rumah. Jadi saya tegaskan, ini bukan lockdown,” tegas Ganjar.

Baca juga: Gunakan Water Canon, Jalanan di Kudus Disemprot Disinfektan

Kepada seluruh kepala daerah, baik bupati maupun wali kota di Jateng diminta Ganjar untuk berhati-hati dalam memilih istilah kata dalam pengambilan keputusan. Dia meminta untuk tidak menggunakan kata lockdown, karena itu bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Kalau yang dipakai kata lockdown, wartawan pasti suka kan? Jadi tambah rame seperti ini,” katanya.

Baca juga: Jateng Terima 1000 VTM, Alat yang Langka untuk Mengecek Corona

Apapun itu, Ganjar memberikan apresiasi yang positif terhadap kepala daerah yang merespon kondisi saat ini terkait merebaknya kasus Covid-19. Termasuk yang dilakukan Pemkot Tegal, yang melakukan isolasi terbatas terhadap warganya.

“Kalau ini berhasil, saya akan mendukung penuh. Dan kalau perlu kebijakan serupa akan saya terapkan di daerah lain (di Jateng),” tuturnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

25 Santri Al Furqon Pilih Tinggal di Ponpes Karena Merasa Lebih Aman dari Covid-19

0
Beberapa santri di Ponpes Al Furqon Kudus lebih memilih untuk tinggal di ponpes daripada pulang kampung di tengah merebaknya virus corona. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kertas bertuliskan himbauan terpasang di pintu gerbang Pondok Pesantren Al Furqon, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Di pondok tersebut, terlihat seorang pria mengenakan baju koko berwarna abu-abu mengajak masuk santri-santri di sana. Dia yakni Yusuf Azhari (31), Wakil Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Furqon.

Yusuf begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang upaya pencegahan Covid-19 di ponpes tersebut. Menindaklanjuti intruksi dari PWNU Jawa Tengah, maka Ponpes Al Furqon akan memulangkan santrinya. Dari sekitar 280 santri, ada sekitar 25 santri yang menginginkan tetap tinggal di ponpes itu.

“Sementara ini, ada sekitar 25 santri yang masih ingin di pondok. Sebagian orang tua santri juga menginginkan anaknya di pondok dulu, soalnya merasa lebih aman jika di sini. Selain itu, mereka juga masih bisa mengaji melanjutkan hafalannya,” terangnya, Rabu (25/3/2020).

Baca juga : Lawan Corona, Warga Kauman Kudus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Semenjak ada imbauan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Ponpes Al Furqon mulai mewajibkan seluruh santri untuk minum empon-empon yang disediakan setiap pagi. Selain itu juga wajib mengkonsumsi vitamin. Untuk sore hari juga wajib minum madu demi menjaga imun para santri.

“Setiap pagi mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB kami wajibkan membersihan lingkungan pondok. Jadi semua santri ikut kerja bakti agar lingkungan tetap bersih. Sebetulnya kondisi baik-baik saja, tapi karena ada imbauan jadi kami mengikuti,” jelas Yusuf.

Di pintu gerbang ponpes tersebut, tampak seorang remaja berjilbab menyemprotkan antiseptik ke tangan setiap orang yang hendak masuk ke ponpes. Dia adalah Nurul Muflikhah, satu di antara santriwati di sana. Dia menjelaskan, bahwa setiap orang yang masuk harus disemprot tangannya dengan antiseptik.

Baca juga : Pulangkan Santri, Ponpes Al Furqon Sewa Bus Demi Antisipasi Covid-19

“Selain itu, setiap santri yang ingin masuk kantin juga wajib disemprot tangannya. Kami juga ada piket bersih-bersih, jadi khusus bagian yang sering disentuh tangan kita semprot dengan desinfektan dua kali sehari,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Sudah Bisa Tentukan Positif Corona Dalam Hitungan Jam

0
Ganjar Pranowo (tengah) meninjau laboratorium di Salatiga, Kamis (26/3/2020) . Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jateng kini tidak harus lagi bergantung pada Jakarta dan Jogja untuk mengecek virus corona. Pemerintah Pusat telah menunjuk satu lembaga di Salatiga, yang bisa menentukan apakah pasien postif atau negatif corna dalam hitungan jam.

Lembaga yang ditunjuk tersebut yakni Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP). Lembaga di Salatiga tersebut memiliki laboratorium untuk meneliti sampel spesimen dari pasien yang diduga terjangkit corona.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo telah saat berkunjung ke B2P2VRP menjelaskan, adanya laboratium samapel spesimen pasien yang diduga terjangkit virus corona tidak lagi dikirim ke Jakarta atau Yogjakarta. Jika sebelumnya sampel dikirim ke dua kota tersebut, kini sampel pasien bisa dicek di Salatiga.

“Alhamdulillah Ini bisa membantu seluruh rumah sakit yang ada di Jateng untuk melakukan pengecekan,”kata Ganjar usai meninjau laboratorium dan perlengkapannya, Kamis (26/3/2020).

Baca juga: Bantuan Terus Berdatangan untuk Penanggulangan Corona di Jateng

Dalam kunjungannya itu, Ganjar yang didampingi Kepala laboratorium dan para ahli, melihat fasilitas yang dimiliki B2P2VRP. Dia mengecek satu demi satu ruangan dan peralatan yang digunakan untuk meneliti virus corona.

Dia menjelaskan, hasil pengecekan sampel bisa ditentukan dalam hitungan jam. Jika sampel diterima pukul 12.00, hasilnya bisa langsung diketahui sore hari.

Baca juga: APD Mulai Didistribusikan ke 61 Rumah Sakit di Jateng

Namun, jika sampel dari pasien tiba melebihi pukul 12.00 siang, hasilnya akan ditentukan pada hari berikutnya. “Apapun itu, ini progres yang sangat bagus untuk melakukan percepatan. Diambil minimalnya, di sini bisa melakukan pengecekan maksimal dua hari saja,” tegasnya.

Penelitian virus corona dari sampel pasien ini yang sangat cepat ini, kata Ganjar, sangat berpengaruh terhadap tindakan untuk pasien. Karena setelah hasil diketahui, apakah dinyatakan positif atau negatif, tindakan medis terhadap pasien yang diduga terjangkit corona akan berbeda-beda.

Baca juga: Warga Terdampak Covid-19 Akan Dapat Bansos dari Pemprov Jateng

Ganjar menambahkan, sebenarnya RSUP dr Kariadi Semarang juga ditunjuk sebagai rumah sakit yang bisa menentukan status pasien. Namun, menurutnya butuh dorongan lebih agar segera siap seperti yang dilakukan B2P2VRP.

Kepala B2P2VRP Salatiga, Joko Waluyo mengatakan, hingga kini pihaknya sudah meniliti sebanyak 18 sampel. Sebenarnya, dalam sehari pihaknya bisa mengecek hingga 40 sampel.

“Waktu yang dibutuhkan untuk pengecekan satu sampel biasanya 8 jam. Jika nanti sampel yang dikirim semakin banyak, kami akan lebih mengoptimalkan pengerjaan,” ujarnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pulangkan Santri, Ponpes Al Furqon Sewa Bus Demi Antisipasi Covid-19

0
Beberapa santriwati Ponpes Al Furqon Kudus terlihat sedang bersih-bersih menggunakan disinfektan sebelum mereka pulang kampung. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan baju koko berwarna abu-abu terlihat mengajak masuk sejumlah santri di sana. Dia tak lain adalah Yusuf Azhari (31), Wakil Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Furqon. Demi mengatisipasi Covid-19 dan sesuai intruksi PWNU Jawa Tengah, Ponpes tersebut memulangkan santri-santrinya.

Pria yang akrab disapa Yusuf itu juga menjelaskan teknis pemulangan santri di sana. Untuk santri yang dijemput, wali santri tidak diizinkan untuk masuk ke area pondok demi mengantisipasi penyebaran Covid-19. Selain dijemput, pihak ponpes juga menyewa bus untuk mengantar santri ke daerah Jabodetabek, Tegal dan Brebes.

“Pengurus kami minta untuk pulang hari Jumat, karena hari kamis menjadi panitia kepulangan adik-adiknya. Kami akan menyewa bus untuk mengantar santri pulang. Nanti kami berangkatkan malam hari setelah salat Maghrib,” terangnya kepada betanews.id.

Baca juga : Lawan Corona, Warga Kauman Kudus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Demi mengantisipasi adanya penyebaran Covid-19, Yusuf juga menambahkan, bahwa nantinya bus yang mengantarkan santri tidak perlu mampir makan. Dari Ponpes menyiapkan konsumsi agar tidak ada pemberhentian makan malam.

Pria berkacamata itu mengungkapkan, bahwa masih ada sekitar 25 santri yang ingin tetap tinggal di Ponpes Al Furqon. Sedangkan sebagian besar santri, kurang lebih sekitar 255 akan pulang. Jika ada yang ingin di pondok kami mempersilakan dengan aktivitas seperti biasa.

“Kami tetap mengizinkan, asalkan ada persetujuan dari wali santri. Sebetulnya banyak dari wali santri yang menginginkan anaknya tetap di pondok, tapi kami tetap menyarankan untuk pulang,” tambahnya, Rabu (25/3/2020).

Baca juga : Bersatu Perangi Corona, Lazisnu Singocandi Semprot Disinfektan di Masjid

Jika orang tua menginginkan anaknya tetap tinggal, maka pihak pondok akan mempersilakan. Dan santri yang sudah pulang tidak boleh kembali ke pondok terlebih dahulu hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Gunakan Water Canon, Jalanan di Kudus Disemprot Disinfektan

0
Penyemprotan disinfektan dengan menggunakan water canon di beberapa ruas jalan di Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara sirine mobil patwal polisi terdengar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Puluhan orang tampak berkerumun di sebuah tenda bertuliskan Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran virus Covid-19 Kabupaten Kudus. Satu di antaranya yakni HM Hartopo, Plt Bupati Kudus. Setelah keluar dari pos tersebut, dia sudi berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang kegiatan penyemprotan disinfektan dalam rangka memerangi wabah virus Covid-19 itu.

Plt Bupati Kudus bersama Forkopimda melakukan breafing sebelum kegiatan penyemprotan disinfektan. Foto : Ahmad Rosyidi

Selain melakukan penyemprotan disinfektan, mereka juga memberi imbauan kepada warga agar tidak panik dan tetap tenang. Selalu menjaga kebersihan serta menghindari kerumunan banyak orang demi mencegah penyebaran Virus Covid-19.

“Kegiatan ini hasil dari rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kudus, sekaligus launching Pos Terpadu Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19 Kabupaten Kudus. Rencana akan dilakukan secara rutin sepekan sekali, terutama di daerah Kudus bagian pinggir,” jelas Plt Bupati Kudus itu.

Baca juga : Lawan Corona, Warga Kauman Kudus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Penyemprotan disinfektan dilaksanakan pukul 13.00 WIB, Kamis (26/32020). Dimulai dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, berlanjut ke Jl Jend Sudirman, Balai Jagong, Jl Ahmad Yani, DPRD, RSUD, kemudian kembali ke Alun-alun.

Satu di antara sejumlah warga yang berada di tepi jalan, yakni Nanik Sukarni (63), mengaku senang adanya penyemprotan tersebuat. Selain itu, dia juga merasa lebih tenang karena lingkungan sudah mulai disemprot disinfektan.

“Kalau urusan hidup dan mati kan saya serahkan ke Tuhan, tapi senang dan mendukung kegiatan ini. Saya jadi lebih nyaman, lebih tenang. Imbauan-imbauan seperti ini juga perlu agar warga tidak terlalu cemas,” ungkap warga Desa Rendeng, Kudus itu.

Baca juga : Bersatu Perangi Corona, Lazisnu Singocandi Semprot Disinfektan di Masjid

Perempuan paruh baya yang akrab disapa Nanik itu juga berharap agar virus Corona bisa segera teratasi. Sehingga warga merasa nyaman dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Solo Darurat Corona, Ganjar Minta Masyarakat Doakan Ibunda Jokowi dari Rumah Saja

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan keterangan pers usai menghadiri pemakaman Ibunda Jokowi di Solo, Kamis (26/3/2020). Foto : Istimewa

BETANEWS.ID, SOLO – Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut hadir dalam upacara pemakaman Ibunda Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Sudjiatmi Notomoharjo pada Kamis (26/03/2020). Ganjar tiba di rumah duka sekitar pukul 11.00 WIB.

Kehadiran Ganjar sebagai bentuk penghormatan terakhir dan juga sebagai penanggungjawab wilayah di Jawa Tengah. “Saya harus hadir untuk menyiapkan segala keperluannya dan membantu lancarnya prosesi ini,” ujar Ganjar.

Selain itu, Ganjar yang mengenal dekat almarhumah Sudjiatmi merasa harus hadir dalam acara itu. Pun begitu, ia juga menjadi anak buah sekaligus teman dari Presiden Jokowi, sehingga kedatangannya sebagai bentuk penghormatan.

Baca juga : Ibunda Jokowi Tutup Usia, Ganjar : ‘Bu Noto Itu Orangnya Grapyak dan Semanak’

“Sebagai Gubernur tentu saya harus memantau apa yang terjadi. Tadi malam saya sudah kesini, tapi terpaksa pulang karena harus memantau laboratorium di Salatiga yang digunakan untuk cek Swab Corona. Maka tadi pagi saya cek langsung di Salatiga itu dan langsung ke sini,” terangnya.

Dengan kondisi Solo yang darurat corona, Ganjar meminta seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Ia juga meminta masyarakat untuk mematuhi apa yang menjadi permintaan keluarga besar Jokowi agar tidak ikut melayat.

Baca juga : Jateng Terima 1000 VTM, Alat yang Langka untuk Mengecek Corona

“Keluarga sudah menyampaikan pada masyarakat, terimakasih atas doanya dan berharap masyarakat bisa melakukan penghormatan dengan doa di rumah. Saya harap masyarakat mengerti, karena ini tidak bisa dipisahkan kondisi bangsa dan Solo saat ini,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lawan Corona, Warga Kauman Kudus Lakukan Penyemprotan Disinfektan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang tampak berkumpul di sebuah halaman rumah warga di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Rabu (25/3/2020). Satu di antaranya yakni Faiz Dani (47), selaku Ketua RW Desa Kauman. Dia mengaku sangat mendukung kegiatan penyemprotan disinfektan yang dilakukan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) bekerja sama dengan perangkat Desa Kauman itu.

Menurut pria yang akrab disapa Faiz itu, warga Desa Kauman juga senang dan antusias dengan adanya kegiatan tersebut. “Warga sangat antusias dan menginginkan adanya kegiatan ini. Rencana ini akan dilakukan setiap satu pekan sekali hingga pemerintah menyatakan sudah aman dari virus corona,” terangnya kepada betanews.id.

Warga Desa Kauman, Kudus, melalukan penyemprotan disinfektan untuk mencegah Covid-19. Foto : Ahmad Rosyidi

Setelah penyemprotan selesai, seorang pria mengenakan kaus putih dengan gambar menara di dadanya tampak sedang duduk. Dia adalah Zaenal Abidin, selaku Ketua BPD Desa Kauman, sekaligus mewakili Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Dia menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran Covid-19.

Baca juga : Bersatu Perangi Corona, Laziznu Singocandi Semprot Disinfektan di Masjid

Zaenal begitu dia akrab disapa, juga menjelaskan penyemprotan dibagi dua tim. Mereka menyemprot seluruh gang dan halaman rumah warga. Selain itu juga Gedung YM3SK, area menara termasuk masjid dan makam.

“Kalau area Masjid dan Makam Sunan Kudus malah sehari disemprot dua kali. Ini tadi kita mulai pukul 08.30 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Ke depan ini akan jadi kegiatan rutin satu pekan sekali hingga waktu yang belum ditentukan,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Izudin (30), satu dari sejumlah warga, mengaku sangat mengapresiasi kegiatan itu. Dia juga merasa senang karena lingkungannya disemprot dengan disinfektan sehingga mengurangi rasa kehawatiran adanya penyebaran Covid-19.

Baca juga : Pasukan Anti Corona Boys SMK Duta Karya Adakan Penyemprotan Disinfektan Gratis

“Warga sini sangat antusias dengan adanya kegiatan ini. Tadi malam warga sudah pada pasang status, mengapresiasi dan menunggu adanya penyemprotan ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kisah Pilu Pak Slamet, Sudah Kena Tipu Masih Terlilit Utang

0
Slamet sedang menyusun sepatu second di toko miliknya. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan pasang sepatu tampak terjejer rapi di samping rumah. Seorang pria mengenakan kaus singlet berwarna putih terlihat sedang menggantungkan beberapa pasang sepatu. Dia yakni Slamet (58), pemilik Bursa Sepatu Second Kudus.

Setelah menggantungkan sepatu, dia sudi berbagi kisah kepada betanews.id tentang usahanya itu. Sebelum membuka Bursa Sepatu Second, dia pernah berada di masa-masa sulit. Slamet pernah hampir kehilangan rumah karena utang bank.

“Waktu itu kondisi ekonomi saya memang sedang sulit. Jadi saya meminjam uang dengan jaminan rumah untuk modal berangkat ke Malaysia. Rencana mau ikut teman kerja menjadi kuli bangunan, ternyata malah disuruh kerja di hutan. Saya tidak tahan jadi lebih baik pulang,” ungkap warga Desa Megawon RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Baca juga : Sepatu Safety Paling Diburu di Bursa Sepatu Second

Pada Tahun 1999, dia meminjam uang Rp 8 juta. Yang Rp 6 juta dia gunakan untuk biaya ke Malaysia dan sisanya diberikan ke istrinya. Setelah pulang karena gagal kerja di sana, dia malah kena tipu. Uang arisan yang dia ikuti malah dibawa kabur temannya.

“Saat itu saya benar-benar terpuruk, sudah jatuh tertimpa tangga. Saya benar-benar memeras pikiran dan tenaga untuk bangkit. Saya bersyukur ada teman yang menawarkan pekerjaan, menjual tanah kavling,” terangnya, Sabtu (14/3/2020).

Slamet juga menambahkan, jika dirinya memang dari dulu menjadi pedagang kaki lima. Dia juga pernah bekerja sebagai kuli bangunan, tetapi pekerjaan itu demi mencari modal untuk berjualan. Menurutnya, dia menghidupi anak istrinya juga dari hasil berdagang kaki lima.

Baca juga : Gunakan Trik Pemasaran Warisan Orang Tua, Produk Sinta Shoes Tetap Digemari Konsumen

“Saya pernah dagang di Jakarta, modal utang Rp 500 ribu. Kurang lebih dua tahun hidup di sana. Anak sakit tidak bisa pulang karena tidak punya uang. Saya bersyukur sekarang anak-anak sudah besar dan ekonomi saya juga sudah membaik,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Terima 1000 VTM, Alat yang Langka untuk Mengecek Corona

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerima 1.000 VTM di Puri Gedeh, Semarang, Kamis (26/3/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerima bantuan alat untuk mengecek Covid-19, Kamis (26/3/2020). Alat berupa Virus Transfer Media (VTM) tersebut didapat dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Jakarta.

Ganjar mengatakan, alat yang sekarang ini sangat langka tersebut diterimanya sebanyak 1.000 unit. Alat tersebut sangat penting untuk proses pengecekan pasien sedang terjangkit virus corona atau tidak.

“Kami menerima 1.000 unit VTM. Bantuan ini dari lembaga yang ditunjuk pemerintah dalam penanganan virus corona,” ungkap Ganjar saat menerima alat tersebut di rumah dinasnya, Puri Gedeh, Semarang, pagi ini.

Didampingi Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Tengah, Ganjar menjelaskan, VTM adalah sejenis tabung yang dipergunakan untuk meletakkan spesimen dari pasien. Metode yang digunakan untuk pengambilan spesimen yakni Swap.

Baca juga: Warga Terdampak Covid-19 Akan Dapat Bansos dari Pemprov Jateng

“Setelah spesimen diletakkan di VTM, Swab dibawa ke laboratorium pemeriksaan untuk diketahui apakah pasien yang diduga terjangkit, positif atau negatif corona. Jadi kami sangat beruntung mendapat alat ini,” ujar Ganjar.

Setelah mendapat alat tersebut, Dia mengatakan segera menyerahkannya ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dinas Kesehatan kemudian akan mendistribusikan alat ini ke rumah sakit-rumah sakit yang ditunjuk untuk penanganan kasus corona.

Baca juga: APD Mulai Didistribusikan ke 61 Rumah Sakit di Jateng

Menurutnya, bantuan VTM tersebut merupakan hasil dari ikhtiar pemerintah untuk memenuhi segala kebutuhan penanganan kasus corona. Selain bantuan VTM, Pemprov Jateng sebelumnya juga telah menerima sejumlah bantuan, di antaranya hand sanitizer, multi vitamin dan sejumlah Alat Pelindung Diri (APD).

Pemerintah, lanjut Ganjar terus berupaya sekuat tenaga untuk mencegah virus corona menyebar lebih luas di provinsi yang ia pimpin. Dia meminta masyarakat untuk mematuhi aturan yang dibuat pemerintah untuk memutus rantai penyebaran corona.

Baca juga: Bantuan Terus Berdatangan untuk Penanggulangan Corona di Jateng

“Kami (pemerintah) terus berikhtiar sampai jungkir balik untuk mengatasi persoalan ini. Saya mohon kepada masyarakat, tolong bantu kami untuk tetap di rumah. Sakit memang, namun ini demi kepentingan orang banyak dan rasa kemanusiaan,” pintanya kepada masyarakat.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Sepatu Safety Paling Diburu di Bursa Sepatu Second

0
Bursa Sepatu Second memiliki ragam sepatu pilihan dengan harga terjangkau. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah banner bertulis Bursa Sepatu Second tampak di sebuah halaman rumah di Desa Megawon RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang membersihkan puluhan pasang sepatu yang berjejer di samping rumah. Dia tak lain adalah Slamet (58), penjual sepatu bekas.

Sambil membersihkan sepatu, Slamet sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usaha itu. Saat ini sepatu yang paling laris di lapaknya yaitu sepatu sefety. Menurutnya, sepatu safety lebih awet dan aman jika digunakan untuk kerja lapangan.

“Di sini yang paing laris sepatu safety. Pernah ada orang beli sepatu safety gak pake nawar, kalau sepatu yang lain biasanya ditawar dulu. Mungkin karena saya buka harga sudah murah,” terang bapak empat anak itu.

Baca juga : Televisi LED Paling Diburu Pembeli di Toko Barang Bekas Putra Kudus

Meski menjual sepatu bekas, Slamet tetap memilih kualitas yang masih layak pakai. Dengan memilih terlebih dahulu, menurutnya barang yang diambil bisa cepat laku. Dia mengambil sepatu bekas dari Jakarta. Jika sekala kecil dia ambil dari Semarang.

“Kalau sekala besar saya ambil di Jakarta, sekali ambil memerlukan modal minimal Rp 15 juta. Saat ini saya juga ambil dari Pasar Kliwon Kudus, sepatu baru, tapi harganya yang murah untuk senam ibu-ibu PKK,” ungkapnya, Sabtu (14/3/2020).

Sepatu yang dia jual mulai kisaran harga Rp 75 ribu hingga Rp 250 ribu. Dari hasil menjual sepatu tersebut, dalam satu bulan keuntungan bersih Slamet sekitar Rp 4,5 juta.

Baca juga : Gunakan Trik Pemasaran Warisan Orang Tua, Produk Sinta Shoes Tetap Digemari Konsumen

“Saya menjual di emperan rumah seperti ini, nanti ada yang datang sendiri. Katanya sih lihat banner saya yang di pinggir jalan. Tapi anak saya juga memasarkan secara online. Pelanggan saya ya sekitar daerah Karesidenan Pati,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ibunda Jokowi Tutup Usia, Ganjar : ‘Bu Noto Itu Orangnya Grapyak dan Semanak’

0
Ibunda Jokowi Sudjiatmi Notomiharjo meninggal dunia. Foto : Fb Presiden Joko Widodo

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kabar duka datang dari keluarga Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ibunda dari Jokowi, Sudjiatmi Notomiharjo, meninggal dunia, Rabu (25/3/2020). Eyang Notomiharjo meninggal di Surakarta di usia 77 tahun pukul 16.45 WIB.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan ungkapan duka mendalam atas meninggalnya ibunda Presiden Joko Widodo tersebut. Sosok yang biasa dia panggil Bu Noto itu, bagi Ganjar adalah orang yang grapyak dan semanak (ramah dan mudah bergaul).

Kabar meninggalnya ibunda orang nomor satu di Tanah Air itu, kata Ganjar, ia terima sangat mendadak. Setelah mendapat kepastian Presiden meluncur ke Surakarta, dia langsung koordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). “Saya turut berduka, Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Semoga husnul khatimah,” kata Ganjar, Rabu (25/3).

Semasa hidup, Ganjar mengenang Bu Noto adalah sosok tauladan. Tidak ada yang berubah sampaipun anaknya menjabat sebagai pemimpin tertinggi republik ini.

Baca juga : Guru Besar UGM Positif Corona Tutup Usia, Ganjar : ‘Banyak Kenangan Saya Bersama Prof Iwan’

“Sejak Pak Jokowi jadi walikota saya mengenal beliau (Bu Noto). Tidak ada yang berubah sampai sekarang. Tetap grapyak dan semanak,” kata Ganjar.

Ganjar pun mengungkapkan acap kali bertemu dengan almarhumah, terutama di acara-acara pengajian. Pernah suatu ketika, saat hendak mencalonkan diri sebagai Gubernur Jateng periode pertama, Bu Noto turut hadir di salah satu acara pengajian. Tapi kehadiran Bu Noto tersebut tidak diketahui dirinya.

“Beliau tetap mengikuti dan bercampur dengan masyarakat. Sama tetangga Bu Noto juga masih tetap sering mengunjungi,” katanya.

Bahkan menurut Ganjar, kebiasaan Presiden Jokowi yang sering blusukan dan tidak berjarak dengan masyarakat, menurun dari sang ibu. Bahkan Ganjar menilai Bu Noto patut dijadikan rujukan oleh para ibu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dalam Sehari, Pasien Positif Corona di Jateng Melonjak 2 Kali Lipat

0
Petugas medis RS RSUD Tuguharjo Semarang simulasi penanganan Virus Corona. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kasus penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah (Jateng) melonjak tajam. Berdasarkan data yang di-update Pemerintah Provinsi Jateng, hari ini (25/3/2020) jumlah pasien positif Corona bertambah dua kali lipat dari hari sebelumnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengungkapkan, hingga hari ini jumlah pasien terkonfirmasi positif Corona di Jateng sebanyak 38 orang. Jumlah tersebut melonjak dua kali lipat dibanding sehari sebelumnya, yakni sebanyak 19 orang pasien.

“Perhari ini, pasien yang dirawat sebanyak 34 orang. Empat orang pasien sudah meninggal dunia. Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 2858 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 257,” ujat Ganjar kepada wartawan di Puri Gedeh, Semarang, petang ini.

Ganjar merinci, Ke-19 pasien baru tersebut dirawat di RSUD Moewardi Surakarta sejumlah 1 orang, RSUP Dr Kariadi Semarang 2 orang, RS Wongsonegoro Semarang 4 orang.

“Lainnya dirawat di RSUD Goeteng Purbalingga sebanyak 3 orang, RSUD Cilacap 1 orang, RSUD Banyumas 3 orang, RS Kardinah Tegal 1 orang, RSUD Soediran Wonogiri 1 orang, RS Sudjono Magelang 2 orang, dan RSUD Setjonegoro Wonosobo 1 orang,” katanya.

Menurut Ganjar, kondisi ini harus direspon secara serius oleh semua pihak, khususnya pemerintah daerah. Masyarakat diminta untuk semakin waspada dan mengikuti imbauan agar tetap di rumah.

Baca juga: Satu Lagi Pasien RSUD Moewardi Solo Dinyatakan Positif Corona

“Boleh jadi anda kuat, anda sehat, atau imun anda bagus, sehingga meskipun tertular anda tidak merasakan gejala sakit. Tapi ketahuilah, anda tetap bisa menularkan virus ini pada orang tua, isteri, suami, dan anak-anakmu,” tuturnya.

Kepada bupati dan wali kota di Jateng, Ganjar secara tegas memerintahkan agar mereka lebih ketat untuk menerapkan protokol kesehatan. Setiap perantau yang pulang diminta untuk diperiksa kesehatannya, dan terus dipantau.

Baca juga: Bantuan Terus Berdatangan untuk Penanggulangan Corona di Jateng

Dia mencermati ada pergerakan warga perantau dari jateng yang melakukan mudik lebih cepat. Ganjar menyebut, ada 80 bus membawa 1776 penumpang dari Jakarta ke Jepara. Juga terjadi peningkatan penumpang dari Jabodetabek yang turun di terminal-terminal di Jateng.

“Pada 22 Maret di terminal Bulupitu Purwokerto ada 2323 penumpang turun dan di Terminal Giri Adipura Wonogiri ada 2625 penumpang. Situasi yang sama juga terjadi di terminal Cepu, Pemalang, kebumen, Wonosobo, Cilacap, dan lainnya,” ungkap Ganjar.

Baca juga: Warga Terdampak Covid-19 Akan Dapat Bansos dari Pemprov Jateng

Para kepala daerah juga dipersilahkan jika memang harus menutup tempat-tempat yang berpotensi menciptakan kerumunan seperti alun-alun, objek wisata, pantai dan sebagainya. Juga melarang setiap bentuk aktifitas massal seperti peribadatan dan resepsi pernikahan.

Editor: Suwoko

- advertisement -