BETANEWS.ID, BOYOLALI – Langkap cepat ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam penanggulangan penyebaran Covid-19. Pemerintah setempat menyulap rusunawa menjadi rumah sakit darurat khusus pasien corona.
Petugas Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Boyolali dr Nugroho menjelaskan, rumah sakit tersebut akan digunakan untuk mengantisipasi lonjakan pasien corona yang diperkirakan terjadi pada akhir April nanti.
Dia menjelaskan, rusunawa yang dijadikan rumah sakit darurat ini terletak di Kampung Rejosari Kelurahan Kemiri Kecamatan Mojosongo. Ada 18 kamar di rusunawa yang dimanfaatkan untuk tempat perawatan pasien. Setiap kamar memiliki dua tempat tidur.
Baca juga: Pemegang Kartu Prakerja Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ganjar: ‘Yang Kena PHK Buruan Daftar!’
“Sebenarnya rusanawa ini memiliki lima lantai dengan kapasitas 114 unit. Namun tidak semua dimanfaatkan untuk ruang perawatan. Kami baru memanfaatkan ruangan di lantai satu,” ujar Nugroho kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berkunjung, Jumat (10/4/2020).
RSD Covid-19 Boyolali, kata Nugroho, memiliki fasilitas ruang IGD, radiologi, ruang isolasi dan ruang rawat inap. RSD tersebut didesain kedap udara, karena lantai satu rusunawa seluruhnya telah berlapis kaca.
“Kami di sini memiliki 123 medis. Untuk saat ini kami sudah menerima pasien, jumlah ada delapan orang. Mereka dirujuk dari puskesmas. Tidak hanya dari Boyolali, tapi ada yang dari luar juga,” ungkapnya.
Nugroho menambahkan, pasien yang datang ke RSD ada yang dirawat dua hari dan ada pula yang dirawat tiga hari. Selanjutnya para pasien melakukan isolasi mandiri di rumah.
Baca juga: Warga Jateng Dijatah Rp 200 Ribu per Bulan Selama Wabah Corona
“Jadi RSD ini khusus untuk ODP dan PDP ringan sedang. Sedangkan untuk PDP berat dirawat di RSUD Pandan Arang (Boyolali),” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat meninjau RSD Covid-19 Boyolali melihat ruangan-ruangan perawatan. Ganjar juga mendapat penjelasan dari petugas medis yang berada di sana.
Baca juga: Berdayakan Ojek untuk Distribusi Pangan di Jateng
Dia mengaku bungah karena langkahnya juga diikuti bupati dan walikota di Jawa Tengah, termasuk Pemkab Boyolali. Respon cepat dan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi lonjakan pasien harus dilakukan semua kepala daerah.
“Sebenarnya ini cara yang bisa kita siapkan dengan urut-urutan. Ini tindakan-tindakan yang mesti dilakukan kabupaten kota untuk berjaga-jaga,” kata Ganjar.
Editor: Suwoko

