Warga datang memeriksakan diri di Poskes Covid-19 RSUD Tugurejo Semarang, Kamis (19/3/2020). Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Kamis (19/3/2020) siang tadi, Poskes Covid-19 di RSUD Tugurejo ramai orang bermasker mengantre di kursi yang disediakan. Mereka hendak memeriksakan kesehatannya, karena khawatir terjangkit virus Corona.
Satu di antara banyaknya orang yang mengantre yakni Bunga Ramadhani (25). Mahasiswi di satu universitas negeri di Semarang tersebut datang bersama dua teman satu kos.
Meski tidak mengalami demam dan sesak nafas, Bunga tetap datang untuk periksa. Karena setelah pergi dari Aceh beberapa waktu lalu, dia mengalami batuk dan pilek.
“Saya hanya ingin memastikan saja, apakah saya terjangkit (virus Corona) atau tidak. Karena setelah pergi ke Aceh bulan lalu saya mengalami pilek dan batuk,” tutur perempuan berkacamata tersebut.
Data datang periksa ke Poskes Covid-19 RSUD Tugurejo setelah melihat informsi di media sosial. Dia berinisiatif memeriksakan diri karena tidak ingin tertular, dan jika dinyatakan tertular dirinya tidak menulari orang lain.
“Kalau negatif alhamdulillah. Tadi teman sati kos ikut karena ada yang pilek. Yang satu tidak mengalami gejala apa-apa tapi tetap ikut karena ingin memastikan saja,” tuturnya.
Poskes Covid-19 RSUD Tugurejo Diserbu Warga
Sementara itu Wakil Direktur RSUD Tugurejo Semarang Prihatin Iman Nugroho mengatakan, Poskes Covid-19 dibuka sejak Rabu (18/3/2020) kemarin. Dibukanya Poskes dibuka atas perintah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Hari pertama dibuka, Poskes diserbu warga untuk memeriksakan diri.
“Sejak pertama dibuka kemarin tercatat sudah ada 73 orang. Kalau hari ini belum tahu jumlahnya berapa, tapi sepertinya lebih banyak dari hari pertama,” ujar Prihatin.
Menurutnya, kebanyakan warga yang datang untuk periksa mengalami flu. Namun tak sedikit pula warga yang tidak mengalami sakit apapun tapi tetap datang untuk periksa.
Prihatin menjelaskan, bagi masyarakat yang ingin memeriksakan diri di Poskes Covid-19 diharuskan membawa KTP atau tanda pengenal lain. Pemeriksaan kesehatan di poskes tersebut tidak dikenakan biaya atau gratis. Poskes dibuka mulai pukkul 09.00 hingga 12.00.
“Setelah mendaftar, petugas kemudian memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah. Setelah itu ada sesi edukasi tentang Covid-19. Setelah hasil pemeriksaan selesai kemudian akan ditentukan, apakah dia perlu dirawat atau tidak,” tuturnya.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Dalam waktu dekat, pabrik masker bakal berdiri di Jawa Tengah untuk mencukupi kurangnya alat pelindung diri (APD), dalam rangka penanganan COVID-19. Rencananya, pabrik itu akan dibangun di Brebes, dan saat ini masih dalam proses perizinan.
Hal tersebut, menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi mewabahnya virus corona di Provinsi Jateng. Seperti halnya mencontoh negara Korea Selatan dalam menangani wabah Corona.
“Pengalaman di Korea, maskernya sehari diproduksi 10 juta, dinaikkan 14 juta per hari dan harus. Kita mesti tiru itu,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai rapat evaluasi perkembangan corona di Ruang Lapor Gubernur Jateng, Kantor Gubernur, Semarang, Rabu (18/3/2020).
Selain masker, salah satu kebutuhan dalam menangani COVID-19 adalah alkohol sebagai salah satu komponen untuk membuat hand sanitizer. Ganjar menyampaikan di Jawa Tengah hanya ada satu perusahaan yang memproduksi alkohol, yakni di Wonogiri. Dan saat ini, menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan jumlah produksi.
“Nanti akan produksi sampai 3 juta liter. Karena kita perlu hand sanitizer yang selama ini produksinya terbatas,” katanya.
Untuk menutup kekurangan hand sanitizer tersebut, Ganjar mengatakan akhir-akhir ini dirinya melihat para ahli berkreasi membuat pencuci tangan itu secara mandiri, dengan memadukan alkohol dengan tumbuh-tumbuhan yang mudah ditemui di sekitar.
“Ada temuan menarik dari perguruan tinggi, juga anak SMK yang menggunakan dari berbagai bahan, itu juga bisa sebenarnya. Ini kesempatan bangsa ini mandiri. Ini kesempatan bangsa ini berdikari,” harapnya.
Ganjar juga memantau langkah kuratif yaitu suatu serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, hingga pengurangan penderitaan akibat penyakit, dan pengendalian penyakit. Seperti terus memantau perkembangan kuratif berupa mendata persoalan penyediaan alat kuratif yang saat ini masih kurang.
“Sekarang kita meminta untuk dicari PIC (person in charge) siapa, contact person-nya siapa, terus kita meminta kapasitas yang ada di sana berapa. Intinya satu, kita akan sedikit memaksa agar peralatan-peralatan untuk kuratif ini, terutama alat pelindung diri (APD) ini, ada,” beber dia.
Termasuk juga masker, baju astronot, hingga Virus Media Transfer (VTM). Menurutnya, Jateng butuh banyak VTM. Karena itu, pihaknya juga terus mencari siapa yang bisa memproduksi banyak VTM.”Kita akan paksa untuk produksi lebih banyak,” kata dia.
Bahkan bila nanti keputusan otoritasnya di kementerian, Ganjar akan bicara langsung dengan kementerian. “Intinya, hari ini masker, APD yang baju, VTM harus diproduksi banyak. Negara harus memproduksi banyak. Tekan seminim mungkin harga sehingga bisa dilakukan efisiensi,” ungkapnya.
Pemerintah daerah juga sudah siap dengan perubahan anggaran atau mendahului anggaran kaitannya penanganan dari antisipasi mewabahnya Corona. Hal itu juga telah diperintahkan mendagri.
Adapun langkah preventif yang juga dilakukan yaitu akan libatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan cerdas dan pintar. Tentu mereka harus paham tentang Covid-19 agar mereka bisa melakukan sosialisasi.
Sebab, kata Ganjar, pihaknya butuh warga yang bisa menjelaskan di seluruh pasar, minimal bisa cuci tangan di pasar. Menurut dia, hal itu penting sekali. Bahkan juga hal itu bisa tersampaikan ke tingkat RT, rw, dan tokoh desa. Mereka diharapkan melakukan isolasi kecil di desa. Tentu dengan melakukan gerakan bersih desa. Sehingga selain bisa menangani COVID-19 juga demam berdarah dengue (DBD).
Ganjar juga menyampaikan agar warga melakukan langkah promotif karena virus Corona belum ada obatnya. Maka kekuatan yang dibutuhkan adalah daya tahan tubuh. Hal itu musti didorong ke masyarakat. Termasuk jua mereka melakukan isolasi diri, olahraga, makanan bergizi, minum vitamin.
“Vitamin ini mungkin makan pisang, manggis, godhong kelor, enak itu di desa, disop enak, temulawak, jahe, serai, kunir. Ini antioksidan yang musti dikonsumsi dan di desa banyak. Termasuk jambu juga, yang kemarin banyak riset-riset,” bebernya.
Rexsove, brand tas lokal yang memiliki kualitas oke. Tas ini buatan warga Kudus. Foto : Titis Widjayanti
BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, nampak seorang pemuda berkaos merah sedang sibuk riwa-riwi menyiapkan beberapa bahan tas untuk dibawa pulang oleh seorang wanita di gudang yang berlokasi di pojok Gang Rejomulyo, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Di antaranya tampak gunungan tas yang menumpuk. Pemuda itu bernama Hendrawan Triyanto (25), seorang wirausahawan muda yang telah berhasil membangun bisnis tas lokal berkualitas tinggi dari Kota Kudus.
Di tangannya pula, bisnis yang dirintis sejak tahun 2013 tersebut, telah melebarkan pasar ke berbagai kota hingga luar pulau Jawa. Bahkan semenjak tahun 2015, produknya kemudian memiliki brand sendiri dengan nama Rexsove.
Ratusan tas dengan brand Rexsove buatan warga Kudus. Foto : Titis Widjayanti
Selesai mengepak bahan-bahan mentah ke dalam karung yang dibawa pulang oleh salah satu penjahit tersebut, Hendra kemudian bercerita, jika awalnya bisnis tersebut dijalankan oleh sang ayah tanpa brand atau merek pribadi. Namun, setelah tahun 2015, usaha tersebut dijalankan dirinya dan membuat merek dagang sendiri. Hal tersebut ia lakukan bahkan sebelum lulus dari UNDIP tahun lalu.
“Sebenarnya dari tahun 2013. Waktu itu dipegang sama orang tua dan belum punya merek sendiri. Sejak 2015 mulai saya pegang. Lalu memutuskan untuk berdiri dan pakai merek sendiri,” ungkap Hendra, Selasa (3/3/2020) kepada betanews.id.
Tepatnya berada di Desa Loram Wetan, RT 04/RW 03 Gang Rejomulyo, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rexsove diproduksi setiap harinya. Akan tetapi, di sana hanya ada proses finishing berupa pengecekan, bartek dan packing. Sedangkan untuk proses awal penjahitan, dikatakan Hendra ada di beberapa tempat. Yakni dibawa pulang oleh karyawan sekitar rumah, di daerah Kecamatan Undaan hingga daerah Gadu, Kabupaten Pati.
“Kalau di sini memang khusus gudang untuk finishing. Sedangkan untuk proses penjahitan itu ada yang dibawa ke rumah sama penjahitnya. Ya penjahit sekitar sini, ada yang di daerah Undaan sama daerah Gadu, Pati. Kalau finishing meliputi pengecekan. Dicek semua tas yang sudah dikirim atau kami ambil dari penjahit. Jika ada yang rusak kami kembalikan untuk diperbaiki. Kedua, bartek. Jadi jahitannya ditambah di beberapa bagian supaya lebih kuat. Lalu kalau sudah semua baru dipacking,” paparnya.
Wirausaha muda itu menuturkan, bahwa Rexsove rata-rata memproduksi sekitar 64 lusin tas tiap bulan dan siap untuk dipasarkan. Akan tetapi untuk musim-musim tertentu, ada lonjakan produksi sesuai dengan kalender sekolah sebagai pangsa pasar utama.
“Paling ramai itu kalau musim kenaikan sekolah. Stok berapapun pasti habis. Jadi buat produksi juga biasanya kami tambah di waktu seperti itu,” kata dia.
Untuk pemasaran, Hendra mengatakan, produknya merambah beberapa kota sekitar Kudus, seperti Pati bahkan hingga luar pulau Jawa, yakni Palembang. Dari beberapa jenis tas yang diproduksi olehnya seperti model tas backpack, slingbag, waistbag, handbag, totebag dan tas seminar. Diakuinya, backpack atau ransel masih menjadi produk paling tinggi peminat.
“Karena pangsa pasar paling besar adalah anak sekolah, paling banyak diproduksi ya tas ransel. Kecuali memang ada pesanan dari pembeli,” kata dia.
Ketika disinggung mengenai omzet, Hendra membocorkan, bahwa rata-rata per minggu ia mengantongi Rp 2 juta sebagai hasil kotor. Omzet tersebut belum dikurangi untuk gaji karyawan dan bahan-bahan produksi. Oleh karena itu, ia menambahkan, bahwa bisnis tersebut secara penghasilan nominal tidak seberapa, bahkan sering minus. Akan tetapi, lebih terlihat pada jumlah tas yang menjadi stok dengan range harga, antara Rp 80-150 an ribu.
“Kalau nominal omzet nggak seberapa. Kadang juga minus, kecuali musim-musin kenaikan kelas. Tapi uang yang masuk kemudian tetap diputar lagi untuk produksi tiap hari. Jadi keuntungannya yang kelihatan ya masih berupa barang (tas) yang distok di sini. Dari sana bisa dihitung, jika per tas bisa dijual Rp 80-150 an ribu untuk grosir. Tinggal dikalikan dari sana. Soalnya tas kan bukan barang primer, nggak bisa langsung dijual habis,” ungkap dia.
Berbicara mengenai kualitas, ia berani memastikan bahwa Rexsove memiliki kualitas yang cukup kuat dan bagus. Seperti model tas ransel, mulai dari bahan kain yang dipakai, bentuk dalam tas yang dilengkapi busa untuk pengaman laptop, resleting, jahitan hingga kelengkapan seperti rainbag dari bahan plastik.
“Kelebihan dari Rexsove ini saya rasa selain harganya yang murah, juga bahan-bahan yang kami gunakan memang kami pilih dan sesuaikan dengan kebutuhan. Seperti ransel, kami sediakan busa di dalam dan bawah tas untuk keamanan semisal dipakai untuk laptop. Lalu ada pegangan tas di atasnya dan rainbag dari bahan plastik supaya tidak tembus air. Resleting dan sablon juga kami sesuaikan dengan model dan kebutuhannya. Hingga adanya quality control seperti pengecekan jahitan dan bartek sebelum di packing,” paparnya lagi.
Sejauh ini, Hendra menambahkan, bahwa melalui bisnisnya tersebut ia sudah mempekerjakan sejumlah 19 orang karyawan yang di antaranya adalah tetangganya sendiri. Mulai dari penjahit, pembartek, hingga pengepak atau tukang packing. Oleh karena itu, ia berharap para pemuda pada khususnya terpantik untuk berwirausaha. Karena baginya, selain bisa sebagai mata pencaharian dan mencintai brand lokal, juga sebagai lapangan pekerjaan untuk orang lain. Khususnya di daerah sekitar produsen.
“Ya meskipun pasang-surut, harus tiap hari mikir bagaimana cara pemasaran dan model yang setiap waktu berubah, setidaknya dengan menciptakan brand lokal yang berkualitas kita bisa mencintai produk lokal. Selain itu, secara penghasilan juga lumayan. Bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain,” pungkas dia.
Sangkar burung perkutut milik Akim yang harganya capai Rp 5 juta. Foto : Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan pria tampak asyik menyaksikan burung perkutut yang digantung pada batang bambu. Di samping mereka terlihat seorang pria mengenakan kaus sedang memberi minum burung perkutut. Tampak perkutut tersebut berada dalam sangkar mewah dengan hiasan ukiran. Sangkar dan burung itu milik Mustakim yang harganya jutaan rupiah
Mustakim mengatakan, sangkar burung perkututnya itu harganya Rp 5 juta. Dia beranggapan, sangkar itu merupakan rumah bagi si burung. Jadi harus dibikin mewah dan mahal. Agar bisa menambah wibawa untuk si perkutut itu sendiri.
“Jujur ya, burung perkutut saya ini harganya palingan sekitar Rp 2 juta. Tapi agar bisa menambah wibawa saya beri sangkar seharga Rp 5 juta. Tapi bagi yang tidak tahu pasti dikira harga burung saya lebih mahal dari sangkarnya,” ucap pria yang akrab disapa Akim kepada betanews.id.
Pria warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sangkar burungnya itu mengandung filosofi dan bahannya juga dari kayu pilihan. Ukiran atas yang berbentuk nanas itu diambil dari Surat An-Nas.
“Itu maksutnya gini, hidup itu tidak mudah dijalani. Dan Surat An-Nas kan agar selalu dapat perlindungan Allah SWT. Jadi kita harus selalu berharap pertolongan dan lindungan Sang Kuasa,” ungkap pria yang memiliki 50 ekor perkutut lokal.
Dia menambahkan, selain ukiran berbentuk nanas, bawahnya ada mahkota. Filosofinya agar burung perkutut saya nyaman bak raja. Di sangkarnya juga ada puluhan biji tasbih yang terbuat dari kayu gaharu. Agar harumnya mewangi.
“Tidak hanya itu kunci pintu sangkarku itu terbuat dari kayu kaokah. Dan juga ada hiasan diamond nya serta ada batu dari Pulau Natuna. Dan yang terpenting sangkar burung perkutut lokal itu harus ada bambu wulungnya,” ungkapnya.
Sebenarnya sangkar yang dibawanya belum begitu mahal. Karena dirinya pernah punya sangkar perkutut seharga Rp 15 juta. Dan sangkar tersebut kini sudah laku. “Selain pecinta perkutut, saya juga perajin sangkar khusus burung perkutut,” ujar Akim.
Petugas medis sedang melakukan simulasi penanganan pasien virus Corona. Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Korban meninggal akibat virus Corona (Covid-19) di Jawa Tengah bertambah lagi. Rabu (18/3/2020) petang, satu orang pasien positif Corona yang dirawat di RS Moewardi Surakarta dinyatakan menghembuskan napas terakhir.
Kabar tersebut disampaikan Gunernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kepada wartawan petang tadi. Dia menjelaskan, sebelum meninggal, pasien tersebut menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari.
“Pasien ini (meninggal) memiliki riwayat yang sama dengan pasien Corona yang meninggal pertama di Jateng. Dia pernah sama-sama mengikuti seminar di Bogor,” ujar Ganjar.
Ganjar mengatakan, pasien Corona yang meninggal kedua di Jateng ini berjenis kelamin perempuan berusia 49 tahun. Berdasarkan hasil tracking perjalan ke Bogor, ada empat orang mengikuti seminar yang sama di Bogor. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya telah meninggal.
Dia menyatakan terus melakukan tracking siapa saja warga Jateng yang mengikuti seminar tersebut. Pihaknya baru mengupayakan data tersebut dari panitia penyelenggara. Selain menghubungi panitia, Ganjar juga telah menjalin komunikasi dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Data terakhir disebutkan, terdapat 1.005 orang dalam pengawasan (ODP). Sedangkan 68 orang masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan (PDP). Dari jumlah tersebut, 24 orang telah dinyatakan sehat dan telah pulang, dua di antaranya dinyatakan meninggal.
Sedangkan pasien yang telah terkonfirmasi positif Corona, tercatat sudah ada tiga orang di Jateng yang meninggal. Dua pasien meninggal saat dirawat di RS Moewardi Surakarta, dan satu pasien meninggal di RSUP Kariadi Semarang.
Sebelumnya diberitakan, ada enam kasus pasien positif COVID-19 di Jateng. Termasuk satu pasien yang positif terjangkit virus corona meninggal, setelah 10 hari dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang.
Pasien berjenis kelamin laki-laki berusia (43) tahun tersebut, sepuluh hari terakhir menjalani perawatan intensif di RSUP dr Kariadi Semarang. Setelah dilakukan tracking, pasien sempat melakukan perjalanan di Bali.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sangat geram kepada para penyebar berita bohong terkait isu Corona. Dirinya bahkan sampai mengancam akan melaporkan para pembuat hoaks kepada polisi.
Di antara berita bohong yang membuat gubernur dua periode tersebut geram yakni, saat ada berita yang mengabarkan dirinya meliburkan karyawan di Jateng. Selain berita itu, ada juga yang menyebar informasi hoaks bahwa dirinya menghentikan sementara angsuran bank di seluruh Jawa Tengah.
“Ini bisa saya laporkan (penyebar hoaks) ke polisi. Mungkin niatnya hanya main-main, janganlah,” ujar Ganjar dalam konferensi pers update penanganan Virus Corona, Selasa (17/3/2020).
Berdasarkan data yang dikumpulkan, setidaknya ada 60 kabar bohong terkait isu Corona yang disebar melalui berbagai platform. Kabanyakan informasi hoaks tersebut dikirim berantai melalui aplikasi What’s App (WA). Selain pesan teks, sejumlah berita bohong dibuat dengan mengedit berita dari media mainstream.
“Kami telah menemukan beberapa berita yang memelintir atau bahkan mengganti judul berita. Ada yang soal diliburkannya pekerja hingga dihapusnya angsuran di bank. Jangan ada hoaks di kondisi seperti ini,” tutur Ganjar.
Ganjar juga menceritakan, dirinya sempat mendapat pertanyaan dari masyarakat langsung yang dikirim ke WA. Dia ditanya apakah benar para pekerjad di Jawa Tengah diliburkan. Ganjar tidak lantas menjawab pertanyaan itu.
“Saya tanya balik kepadanya, dari mana dia mendapatkan informasi tersebut. Saya juga bertanya, boleh orang yang mengirim informasi kepadanya saya laporkan ke polis. Dia menjawab, ‘jangan pak, ini kawan saya’, kata Ganjar menceritakan.
Ganjar mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memancing di air keruh dalam situasi penyebaran virus Corona. Dia meminta masyarakat untuk bijak dalam membagi informasi. Tidak melebih-lebihkan berita dan tidak menutupi informasi.
“Dalam kondisi seperti ini, informasi terkait Corona sangat sensitif. Saya minta jangan melebih-lebihkan informasi apalagi membuat berita bohong, karena bisa membuat masyarakat menjadi panik. Tapi jangan juga menutupi informasi,” katanya.
Komunitas Kung Muria Kudus saat melakukan latihan bersama. Foto : Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Suara khas burung perkutut beberapa kali terdengar di belakang Rumah Makan Sari Rejo Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Masih di tempat yang sama, puluhan sangkar berisi burung tergantung pada batang bambu. Di bawahnya puluhan pria memegang perkutut. Setelah mendapat aba – aba, secara bersamaan burung – burung itu pun mereka lepas. Mereka adalah Komunitas Kung Muria Kudus (KMK) yang melepas seratus burung perkutut agar lestari di alam bebas.
Abdul Rohman, Ketua KMK menuturkan, Kung Muria Kudus merupakan sebuah wadah atau komunitas pecinta perkutut lokal. Saat ini komunitasnya sedang mengadakan latihan bersama atau biasa disebut gantangan. Yang acaranya diawali dengan pelepasan 100 ekor burung perkutut.
“Dengan pelepasan 100 ekor perkutut, kami berharap burung perkutut bisa lestari di alam bebas. Khususnya di Kudus dan daeeah sekitarnya,” ungkap pria yang akrab disapa Ndoro Kakung tersebut.
Ndoro Kakung menuturkan, komunitas Kung Muria Kudus baru pertama kali mengadakan gantangan. Dia berharap, dengan diadakan acara tersebut bisa menjalin silaturahmi antarpecinta perkutut di Kudus maupun daerah sekitarnya.
“Selain untuk ajang silaturahmi, kami berharap pecinta perkutut di Kudus dan daerah sekitarnya kelak makin banyak. Agar bisa menjaga kelestarian budaya yang berkaitan dengan burung perkutut,” jelasnya.
Dia menambahkan, gantangan yang di adakan komunitasnya itu melombakan dua jenis burung perkutut.Yakni burung perkutut lokal alam yang ada di sekitar Gunung Muria dan perkutut lokal hasil budi daya.
Untuk penilaian lanjutnya, tetap pada gacor atau manggungnya. Tapi ini bukan perlombaan. Anggap saja pelatihan bersama untuk melatih mental perkutut.
“Soalnya, terkadang perkutut di rumah itu gacor, tapi pas digantang diam saja. Lha dengan sering diadakan gantangan akan tercipta perkutut lokal yang berkualitas,” ungkapnya.
Dia bersyukur antusias para pecinta perkutut di Kudus yang ikut gantangan lumayan banyak. Di daftar hadir ada sekitar 95 peserta. Peserta tersebut tidak datang dari Kudus saja melainkan juga dari daerah sekitar, ada yang dari Pati, Demak, dan Jepara.
“Kegiatan ini Insyaallah akan berlanjut. Ke depannya akan kami adakan kontes burung perkutut dan tentu ada piala dan hadiahnya,” ungkap pria yang memelihara 33 ekor perkutut tersebut.
Siti sedang mengurus izin PIRT di DPMPTSP Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi
BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan paruh baya terlihat di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kudus, Selasa (3/3/2020). Dia yakni Siti Suriyah (49), sedang menyelesaikan perizinan usaha makanan ringan. Tak lama setelah menunjukan berkas-berkasnya, dia sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang manfaat memiliki izin usaha.
Menurutnya, dengan memiliki izin usaha menjadi lebih tenang, selain itu juga mendapat pembinaan yang bermanfaat untuk mengembangkan usahanya. Saat ini dirinya masih bekerja menjadi karyawan di salah satu perusahaan, tetapi usahanya tetap akan dikembangkan untuk persiapan setelah mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK).
Suasana pelayanan di DPMPTSP Kabupaten Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi
“Kalau sudah punya izin usaha kita bisa mendapat pembinaan dan informasi dana hibah juga. Jadi bisa dapat informasi-informasi untuk pengembangan usaha kita. Saat ini saya produksi makanan ringan seperti kacang telur, stik kerupuk, stik bawang dan krupuk tahu. Saya jual di pasar, angkringan dan kantin,” terang warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu.
Sementara itu, Velani Khasbullah Shidiq (39), Helpdesk DPMPTSP Kudus menjelaskan, jika sekarang untuk mendapat izin Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lebih mudah, karena pendaftaran sudah melalui sistem Online Single Submisision (OSS). Dia juga menjelaskan, bahwa di OSS sudah dijelaskan langkah-langkah apa saja untuk mengurus perizinan usaha.
“Sekarang caranya dibalik, izin keluar dulu kemudian komitmen persyaratan bisa menyusul. Jadi mendapat izin itu lebih mudah, tinggal daftar akun di OSS, yang penting punya E-KTP. Kemudian di situ sudah ada penjelasan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dan persyaratan yang perlu dilengkapi,” jelas pria yang akrab disapa Velani itu.
Meski mudah untuk mendapat izin usaha, Velani juga menjelaskan, dalam melengkapi komitmen persyaratan juga ada batas waktunya. Untuk UMKM, toleransi waktu melengkapi berkas persyaratan selama 35 hari. Jadi jika melebihi batas waktu tersebut izin usaha bisa dicabut.
“Kalau melebihi batas waktu izin bisa dicabut, tetapi dengan pertimbangan-pertimbangan. Bila ada kesulitan bisa datang kemari dan kami siap membantu, karena tugas kami untuk membantu. Saat ini sudah berbeda dengan dulu, persyaratan harus lengkap baru mendapat izin,” Pungkas Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus itu.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memutuskan untuk pemberlakuan bekerja di rumah Aparatur Sipil Negara (ASN). Keputisan tersebut berlaku untuk ASN di lingkungan Pemprov Jateng, dan mulai berlaku Rabu (18/3/2020) besok.
Keputusan ini menyusul kebijakan sebelumnya sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Corona. Sebelumnya Pemprov Jateng telah menghentikan KBM di sekolah bagi para siswa di Jateng, dan diganti KBM daring di rumah.
Ganjar menjelaskan, keputusan tersebut telah tertuang dalam surat edaran Pemprov Jateng nomor 965/932. Surat dibuat sebagai tindaklanjut perintah Menteri Kemenpan RB tentang petunjuk kerja untuk menanggulangi penyebaran Corona.
“Kami sudah putuskan untuk ASN di lingkungan Pemprov Jateng bekerja di rumah. Tapi tidak semua, sekitar 30 persen ASN akan tetap ke kantor agar pelayanan tidak terhenti,” ujar Ganjar di Semarang, Selasa (17/3/2020).
Menurut Ganjar, para ASN yang bekerja di rumah diharuskan mengaktifkan alat komunikasinya. Selain agar mereka bisa berkoordinasi dan konsultasi, aktifnya alat komunikasi bisa menunjang kinerja secara efektif.
“Ketentuan untuk bekerja di rumah bagi para ASN ini berlaku mulai tanggal 18 hingga 31 Maret mendatang. Kami akan mengevaluasi lebih lanjut sesaui dengan perkembangan,” tuturnya.
Dalam surat yang ditandatangai Sekda Provinsi Jateng Heru Setiadhie tersebut, tercantum ketentuan semua kepala dinas danpejabat teras di lingkungan Pemprov Jateng wajib masuk kantor. Selain itu, Selain itu, para pejabat administrator minimal dua orang harus hadir dalam setiap OPD.
Sementara itu, dalam surat juga dicantumkan seluruh OPD wajib membuat jadwal sendiri siapa yang masuk dan yang bekerja di rumah. Namun ada ketentuan minimal 30 persen pegawai masuk setiap harinya untuk mempertahankan kinerja pemerintahan.
Selain itu juga dijelaskan, Sementara untuk pejabat pengawas, minimal satu orang harus ngantor setiap hari. Kepala Cabang Dinas atau Kepala Unit Pelaksana Teknis, Koordinator Satker, Kepala Sekolah semuanya juga harus tetap masuk kerja.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Setelah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menutup 55 destinasi wisata di 11 kabupaten/kota, hari ini (17/3/2020) Taman Nasional Karimunjawa di Jepara resmi ditutup sementara. Penutupan yang mulai berlaku hari ini dilakukan untuk mencegah dan antisipasi menyebaran virus Corona.
Plt Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa Darmanto menyatakan, pihaknya telah menerbitkan surat penutupan Taman Nasional Karimunjawa. Surat tentang kewaspadaan dan pencegahan terhadap risiko penyebaran virus Corona itu telah diterbitkan hari ini.
“Pengumuman ini menindaklanjuti surat dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah yang terbit sehari sebelumnya,” ujar Darmanto.
Dia menjelaskan, penutupan kawasan Taman Nasional Karimunjawa meliputi seluruh obyek wisata untuk aktivitas pariwisata. Selain itu, pihaknya juga menunda dan membatasi kegiatan penelitian, pendidikan, ekspedisi dan lainnya di kawasan tersebut.
“Penundaan dan pembatasan aktivitas penelitian dan lain sebagainya itu untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona karena melibatkan dan kontak langsung dengan banyak orang,” katanya.
Dia menambahkan, penutupan Kawasan Nasional Karimunjawa berlaku hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pihaknya akan mengevaluasi lebih lanjut penutupan ini dengan melihat perkembangan penyebaran virus Corona.
“Kami membuka layanan informasi dan call center Balai Taman Nasional Karimunjawa di nomor 08112799111. Bagi yang ingin meminta informasi bisa SMS atau telepon,” tutur Darmanto.
Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi Jateng telah menutup 55 destinasi wisata di 11 kabupaten/kota. Perintah tersebut diterbitkan melalui surat Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Nomor: 556/908 pada 16 Maret 2020.
Lokasi wisata yang ditutup tersebar di 11 kabupaten dan kota di Jateng, di antaranya Kota Surakarta, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, Kota dan Kabupaten Semarang. Ada juga destinasi di Kabupaten Magelang, Klaten dan Kabupaten Banyumas.
Sejak merebaknya isu Corona, kunjungan wisatawan di Jateng terus menurun. Untuk wisatawan lokal penurunan kunjungan menurun hingga 72,49 perseb. Sedangkan kunjungan dari turis asing menurun hingga 88,46 persen.
Suasana di Mall Ramayana Kudus. Jumlah pengunjung di tempat ini mengalami penurunan akibat dari virus merebaknya virus corona. Foto : Ahmad Rosyidi
BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah motor terparkir di area depan Pasar Bitingan Kudus, Selasa (17/3/2020). Terlihat seorang pria mengenakan batik berwarna biru. Dia yakni Muhammad Toha (52), Koordinator Pasar Bitingan Kudus. Dia mengungkapkan, akibat merebaknya virus corona ini, aktivitas di pasar berkurang. Meski begitu, katanya, untuk harga berbagai kebutuhan pokok masih stabil.
Dalam hal ini, pihak Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kudus juga sudah memberi imbauan kepada pedagang, agar tetap menjaga kebersihan.“Saat ini dari pihak dinas sedang mengupayakan antiseptik yang rencananya akan segera kami taruh di pintu masuk. Rencana ini akan berlaku untuk semua pasar yang ada di Kudus,” Jelas Toha sapaan akrabnya.
Suasana di Pasar Bitingan Kudus, Selasa (17/3/2020) siang. Foto : Ahmad Rosyidi
Sementara itu, salah satu pedagang di Pasar Bitingan, Karyati menyampaikan, jika adanya virus corona tersebut berdampak terhadap sepinya pembeli. Akibatnya, penghasilannya juga menurun, tidak seperti hari biasa.
Menuju area parkir, seorang pria tampak membantu dua orang perempuan yang sedang menarik motornya. Pria tersebut adalah Muhammad Umar (40), tukang parkir di pasar tersebut. Umar sapaan akrabnya berbagi cerita kepada betanews.id tentang kondisi Pasar Bitingan.
Menurutnya pasar dirasa mengalami penurunan pengunjung karena adanya virus COVID-19. “Karena pengunjung menurun, jadi penghasilan saya juga ikut menurun ini,” ungkapnya.
Berpindah lokasi ke area depan Taman Boejana Kudus, terlihat sejumlah pria mengenakan jaket berwarna hijau. Satu di antara mereka yakni Eko Syaifudin (33), driver ojek online yang sedang menunggu orderan. Dia menyampaikan, jika dua hari ini penghasilannya mulai menurun hingga 40 persen.
“Pengguna grab rata-rata anak sekolah. Jika diliburkan selama dua pekan untuk mengejar poin sulit, karena sepi. Jujur saya ada rasa takut dengan Corona, tetapi karena kewajiban, saya harus memberi makan anak istri, jadi ya harus tetap kerja. Harapan saya, pemerintah segera menemukan vaksin agar aktivitas kembali normal seperti semula. Jangan terlalu takut lah, mencegah harus, tetapi jangan berlebihan takutnya,” harapnya.
Baca juga : Antisipasi Penyebaran Covid-19, Dukcapil Kudus Maksimalkan Layanan Online
Berjalan ke Mall Ramayana, tampak puluhan motor terparkir di halaman samping mall itu. Masuk ke dalam, seorang pria mengenakan baju putih dengan corak warna biru dongker berjalan menghampiri. Dia adalah Eko Supriyanto (42), supervisor di mall tersebut.
Dia mengungkapkan, bahwa di Ramayana terkena pengaruh penurunan pengunjung. Demi mengantisipasi penularan virus corona, di sana menyediakan antiseptik di setiap kasir. “Selain di kasir, di toilet juga kami sediakan antiseptik. Memang ada penurunan pengunjung, tetapi penurunan omzet tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat conference dengan bupati dan walikota se-Jateng. Foto : Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan perkembangan terkini terkait dengan corona. Hingga saat ini, ada enam kasus pasien positif COVID-19 di wilayahnya. Termasuk satu pasien yang positif terjangkit virus corona meninggal, setelah 10 hari dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang.
Kata Ganjar, pasien berjenis kelamin laki-laki berusia (43) tahun tersebut, sepuluh hari terakhir menjalani perawatan intensif di RSUP dr Kariadi Semarang. Setelah pihaknya melakukan tracking, sebelum dinyatakan positif terjangkit, pasien sempat melakukan perjalanan di Bali.
“Kita mengupdate perkembangan penanganan COVID-19 di Jawa Tengah, ini kondisi paling terakhir,” kata Ganjar dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (17/3/2020).
Selain pasien yang meninggal tersebut, Ganjar juga menyampaikan di Surakarta saat ini ada satu pasien juga dinyatakan positif terjangkit. Berkelamin perempuan dengan usia 49 tahun dan saat ini dirawat di RS Moewardi.
“Dia kelanjutan dari kasus positif Corona yang meninggal di Solo. Dia satu forum dengan yang meninggal, ikut seminar di Bogor,” sebut Ganjar.
Menindaklanjuti kasus pasien positif yang kini dirawat di RS Moewardi itu, Ganjar menegaskan jika pihaknya terus koordinasi intens dengan Gubernur Jawa Barat dan juga Pemprov Jatim agar turut melakukan tracking.”Saya juga sudah komunikasi dengan Gubernur Jabar dan walikota, tapi ternyata berada di wilayah kabupaten,” katanya.
Dengan bertambahnya dua kasus tersebut, sampai saat ini di Jawa Tengah telah terjadi enam kasus positif COVID-19, empat masih dirawat dan dua telah meninggal dunia. Empat pasien tersebut kini dirawat RS Kariadi Semarang, RS Tidar Magelang dan dua pasien di RS Moewardi. Selain empat pasien positif tersebut, Ganjar juga membeberkan pasien lain yang masih dalam pantauan.
“Yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 1.005 orang, Pasien Dalam Pemantauan 69, yang dirawat 42 dan yang pulang sehat 24,” pungkas Ganjar.
Suasana pelayanan di Kantor Dukcapil Kudus. Untuk mengantisipasi adanya penyebaran virus corona, Dukcapil memaksimalkan pelayanan online. Foto : Ahmad Rosyidi
BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah botol berisi cairan antiseptik terlihat di depan pintu masuk tempat pelayanan umum Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kudus, Selasa (17/3/2020). Seorang pria mengenakan baju batik berwarna biru terlihat memberi arahan kepada warga yang datang untuk menggunakan antiseptik tersebut. Dia adalah Putut Winarno, Sekretaris Dukcapil Kudus yang sedang mengecek situasi tempat pelayanan.
Untuk antisipasi virus corona, Dukcapil Kudus sediakan hand sanitizer untuk pengunjung. Foto : Ahmad Rosyidi
Menurutnya, saat ini Dukcapil Kudus sedang mendorong warga untuk menggunakan aplikasi online yang sudah disediakan. Dari pihaknya sudah membuat surat edaran terkait kesiapan dan antisipasi penyebaran Covid-19. Satu di antara sejumlah poin yang disampaikan adalah mengutamakan pelayanan secara online.
“Kami sudah membuat surat edaran sesuai intruksi yang ada. Kami akan berupaya untuk mendorong warga agar memanfaatkan pelayanan secara online. Selain melalui aplikasi kami juga membentuk koordinator di setiap kecamatan,” terangnya kepada betanews.id.
Koordinator tersebut siap menerima pesan melalui WhatsApp, dan jika persyaratan sudah lengkap maka Dukcapil Kudus akan segera menindaklanjuti. Setelah jadi, Dukcapil akan mengantar ke tempat pemohon sekaligus mengambil berkas persyaratan yang sebelumnya dikirim berupa foto.
Pria yang akrab disapa Pak Win itu menjelaskan, melalui aplikasi secara online masih belum bisa melayani perekaman. “Jadi kalau mau membuat E-KTP, kami bisa datang ke sana, warga cukup menghubungi kami melalui WA. Karena jemput bola ini sudah menjadi program layanan kami,” jelasnya.
Dia juga menambahkan, saat ini Dukcapil Kudus juga bekerja sama dengan relawan, di antaranya Karang Taruna, PKK desa, dan bidan desa. Program tersebut diberi nama Rumah Paman Capil (Rumah Pelayanan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil).
“Kami juga dibantu kepala desa se-Kabupaten Kudus. Selain itu juga ada Karang Taruna, PKK dan bidan desa yang membantu. Kami koordinasi melalui WA grup. Dukcapil juga melayani delivery order dengan gratis tanpa dipungut biaya,” tambahnya.
BETANEWS.ID, KUDUS -Mendung sekitar Gang Rejomulyo, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus berarak menyingkir ke selatan. Mentari mulai sumringah menyinari salah satu gudang perakitan sepeda yang dimiliki Udin (56).
Di sana nampak beberapa pekerja sedang sibuk merakit sepeda berbagai jenis dan ukuran. Sementara di dalam gudang, diisi ratusan tumpukan sepeda setengah jadi dan beberapa sepeda yang sudah selesai dirakit.
Proses perakitan sepeda di showroom milik Udin di Desa Loram Wetan. Foto : Titis Widjayanti
Tak terkecuali Udin, pria paruh baya yang siang itu sibuk melayani beberapa pelanggan. Tampilannya yang sederhana, berkaus polo garis-garis dan bercelana kain, kemudian menceritakan awal mula usahanya itu dibangun sekitar 5 tahun yang lalu.
“Awalnya sekitar 5 tahun yang lalu. Dari teman dan kerabat yang menyarankan untuk buka usaha perakitan sepeda. Waktu itu minat sepeda juga cukup masih cukup tinggi. Jadi saya pikir peluang bisnis di sana lumayan bagus,” kata Udin kepada betanews.id, Rabu (4/3/2020).
Ia kemudian menjelaskan, jika usahanya tersebut memang berfokus pada perakitan. Mulai dari pengambilan sepeda yang belum jadi dari pabrik, lalu dirakit melalui tiga tahap. Selanjutnya baru ia setorkan ke beberapa toko atau pemesan yang kebetulan membeli sepeda pada dirinya langsung.
“Untuk di sini khusus perakitan. Jadi sepeda-sepeda yang dari pabrik yang masih di dus itu kami bongkar. Selanjutnya kami rakit. Ada tiga tahap. Pertama merakit jeruji dan seluruh komponen roda. Kedua merakit badan sepeda, termasuk rantai. Lalu terakhir perakitan sedel, stang dan rem juga komponen lain seperti lampu atau keranjang,” papar dia.
Selama kurun 5 tahun tersebut Udin mengatakan bahwa omset yang didapat sekitar Rp 300 juta-an per bulan. Di mana mangsa pasar lebih banyak adalah sepeda ukuran kecil untuk anak-anak. Terlebih jika musim kenaikan kelas. Sedangkan untuk merek paling tinggi peminat adalah saat kenaikan kelas.
“Sebenarnya kalau omset, naik-turun nggak tentu. Tapi memang paling banyak ya permintaan waktu musim-musim kenaikan kelas. Tapi memang rata-rata sekitar Rp 300 juta-an tiap bulan. Tapi itu kotor sih Mbak,” jelas lelaki tambun itu.
Sementara untuk pemasaran, kebanyakan Udin mengaku hanya mengirim ke beberapa pelanggan yang memang sudah lama jadi langganannya. Atau mengecer kepada warga sekitar yang langsung membeli di dirinya.
“Untuk sementara ya sama yang sering ambil dari sini. Nanti kalo sudah dirangkai, ditali terus di susun di mobil pick up. Di drop ke tempat-tempat langganan. Kalau enggak paling ada yang pesan, atau warga sini yang langsung mau beli,” jelas Udin.
Meskipun begitu, usaha Udin yang telah banyak juga punya pesaing, kini telah mampu membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain. Terlihat ada 11 lebih karyawan yang kesemuanya sibuk memegang satu buah rangka sepeda di sana.
BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi utara jalan Gang 9 Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus tampak rumah bercat kuning. Di pelataran rumah tersebut tampak pria mengenakan topi sedang fokus dengan pekerjaannya. Terlihat pria tersebut dengan telaten memahat pola yang tergambar pada papan kayu. Pria tersebut yakni Heru Suprayitno (39) perajin seni ukir wajah tiga dimensi.
Heru Suprayitno menuturkan, menekuni seni ukir wajah tiga dimensi sejak tahun 2007. Tapi sebelumnya, dia mengaku terlebih dahulu malang melintang di seni ukir gebyok. Dia pun tak sungkan mengaku mempunyai keahlian mengukir setelah ‘mencuri’ ilmu dari pamannya.
“Dulu setiap saya pulang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah kelas lima, suka melihat pamanku mengukir. Dan saat pamanku tidur alat ukirnya saya curi dan saya pakai mengukir. Hal itu berlangsung selama sebulan. Dari situlah awal aku bisa mengukir,” ungkap pria yang akrab disapa Heru kepada betanews.id.
Setelah sebulan lanjutnya, pamannya pun mengetahui bahwa dirinya bisa mengukir meski hasilnya belum sempurna. Hingga pamannya pun mengajarinya agar ukir hasil karyanya lebih bagus. Dan tidak sampai setahun hasil ukiran Heru sudah sempurna.
Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Heru mengaku masuk Madrasah Tsanawiyah, sambil sesekali mengasah kemampuan ukirnya. Hingga pada tahun 1998 setelah lulus sekolah, dia langsung kerja di tempat pembuatan gebyok di Kudus. Dia mengaku kerja hanya dua tahun, karena pada tahun 2000 mendirikan usaha pembuatan gebyok sendiri.
“Tapi sayang usaha saya tidak berjalan lancar. Saya kena tipu, dua gebyok dan satu gapura penuh ukiran dibawa kabur orang dan tak dibayar sepeserpun. Saat itu saya rugi sekitar Rp 30 juta, dan modal saya habis,” kenangnya.
Karena modal habis, Heru pun memutuskan bekerja lagi. Namun di sela bekerja, dirinya menerima orderan ukir relief pemandangan atau pun membuat wayang dari kayu. Hingga pada tahun 2007 dia mengaku dapat order ukir wajah tiga dimensi.
“Setelah orderan selesai saya buat. Hasilnya pun saya upload di instagram. Hingga kemudian diliput oleh media nasional dan lokal. Alhamdulillah setelah itu orderan ukir wajah tiga dimensi berdatangan,” ungkapnya.
Menurutnya, karena minim pesaing saat ini, membuat ukir wajah tiga dimensi dijadikannya pekerjaan utama. . Bahkan saat ini dirinyalah satu – satunya perajin seni lukis wajah tiga dimensi di Kudus. Dalam sebulan Heru bisa mendapatkan sekitar enam orderan. Sedangkan harga dipatok bervariasi.
“Untuk harga, saya patok bervariasi, dari Rp 800 ribu hingga Rp 7 juta. Harga tergantung ukuran serta berapa tokoh yang diukir dalam satu bingkai. Selain ukir wajah tiga dimensi saya juga masih menerima order pembuatan gebyok dan wayang,” ujar Heru.