Salah satu toko kelontong di Kudus. Foto : Titis Widjayanti
BETANEWS.ID, KUDUS – Malam semakin panjang, tetapi aktivitas warga Kudus masih padat. Seperti yang terlihat di salah satu toko kelontong sekitar Jl Raya Pati-Kudus seusai adzan Isya berkumandang. Beberapa pelanggan dari berbagai usia keluar masuk untuk membeli sejumlah barang yang mereka butuhkan. Nampak seorang perempuan berjilbab cokelat tak kalah sibuk melayani para pembeli. Ialah Siti Nur Khalimah (35) pemilik dari Toko Pojok Jaya yang salah satunya menjual bahan pokok atau sembako.
Gula pasir di toko kelontong tak ada pembatasan penjualan. Foto : titis Widjayanti
Setelah agak lengang, tim betanews.id akhirnya bisa sedikit berbincang-bincang dengan wanita ramah tersebut. Dikatakannya, sejauh ini terkait dengan surat edaran Mabes Polri mengenai pembatasan penjualan sembako yang sempat viral justru baru didengarnya. Ia mengatakan, bahwa sampai saat ini, untuk toko kelontong seperti miliknya tidak ada pembatasan. Akan tetapi, kondisi adanya Covid-19 memang cukup besar pengaruhnya. Utamanya jumlah pembeli yang kebanyakan adalah mahasiswa.
“Untuk pembatasan sih enggak ada ya Mbak, masih normal. Tapi karena virus corona, justru jumlah pembeli yang berkurang. Kalau kemarin-kemarin situasi masih normal kan memang pembeli kebanyakan mahasiswa. Ini sekarang mereka libur, jadi pengaruhnya cukup besar. Kalau stok sembako masih aman juga. Ngaruh di jumlah pembeli itu tadi,” papar Siti kepada betanews.id, Jumat (20/3/2020).
Perbincangan sempat terjeda dengan datangnya pembeli, namun akhirnya Siti meneruskan, bahwa tidak hanya hal tersebut. Bahwa kondisi terkini, apalagi ditambah menjelang bulan Ramadan yang terlihat cukup signifikan adalah harga gula. Dikatakan Siti, gula yang harga awalnya berkisar antara Rp 12-13 ribu, untuk sekarang berkisar di angka Rp 17-18 ribu.
Seorang pekerja sedang merangkai kaligrafi karya Muhammad Assiry. Foto: Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan bilah bambu tipis terangkai rapi menghiasi halaman Arjuna Resto yang berada di tepi Jalan Lingkar Ring Road Utara Kudus, tepatnya di sebelah barat Universitas Muria Kudus. Bilah-bilah bambu berwarna coklat itu tampak disusun menjadi satu-kesatuan, berbentuk abstrak dan tinggi sekitar tujuh meter. Rangkaian bilah bambu tersebut yakni karya seni kaligrafi tiga dimensi.
Muhammad Assiry (40) pembuat karya seni kaligrafi tiga dimensi itu menuturkan, sengaja membuat karya kaligrafi dengan wujud beda dari yang sudah ada, agar seni kaligrafi bisa lebih dinikmati banyak orang. Menurutnya, selama ini kaligrafi biasanya ditaruh di dalam ruangan, kalaupun di luar biasanya posisinya itu di ketinggian. Semisal di lesplang atau kubah masjid.
Kaligrafi terbuat dari bambu karya Muhammad Assiry. Foto: Rabu Sipan
“Setiap pelaku seni pasti ingin karyanya itu bisa dinikmati orang lain. Begitu juga saya, karena saya adalah pembuat karya seni kaligrafi, maka saya pun berinovasi membuat kaligrafi tiga dimensi agar kaligrafi itu lebih bisa dinikmati banyak orang. Seperti kemarin ada orang yang sengaja berhenti hanya untuk berswafoto dengan kaligrafi tiga dimensi karya saya. Saat melihat itu, mejadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya,” ujar pria yang akrab disapa Assiry kepada betanews.id.
Pria yang merupakan pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Alqur’an (PSKQ) Kudus itu mengungkapkan, ide membuat kaligrafi tiga dimensi sudah ada sejak lama. Bahkan, pada tahun 2000 saat ada pameran kaligrafi pertama di Yogyakarta, dirinya sudah membuat kaligrafi tiga dimensi. Pada waktu itu respon pengunjung sangat bagus.
“Respon para pengunjung saat itu sangat bagus. Mereka juga mensuport kaligrafi tiga dimensi karya saya. Karena alasan itu, guna menyambut hari lahir PSKQ bulan depan, saya membuat sekitar 10 kaligrafi tiga dimensi dengan berbagai lafadz,” ungkap pria berjambang tersebut.
Pria yang mengenakan jas panjang itu mengatakan, untuk yang sudah dipasang di Arjuna resto itu lafadznya Laa Ilaaha illallah. Dengan filosofi bahwa semua yang terjadi dunia ini adalah kehendak Allah. Tidak ada satu hal yang terjadi tanpa izin Allah. Karena Allah adalah sang pencipta, sang maha kuasa dan Allah adalah segala – galanya.
“Lewat kaligrafi tiga dimensi berlafadz Laa Ilaaha illallah itu saya ingin menyampaikan tetang virus yang sedang mewabah. Agar tetap percaya bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Allah menurunkan virus, Allah pasti sudah menyiapkan obatnya. Kita harus tetap tenang dan selalu jaga kebersihan. Serta selalu mengikuti anjuran pemerintah,” ujarnya.
Assyri menambahkan, kaligrafi tiga dimensi karyanya itu terbuat dari bambu. Dia mengaku sengaja memilih bambu karena merupakan kekayaan lokal dan barangnya mudah didapat. Bambu juga lebih awet. Apalagi bambu yang digunakan untuk membuat kaligrafi tiga dimensi telah dilapisi resin. Kemungkinan bisa bertahan puluhan tahun meski ditaruh di luar. Selain itu bambu jika diberi sentuhan seni nilainya akan sangat tinggi.
“Orang Timur Tengah, orang Eropa maupun orang Amerika itu melihat kaligrafi terbuat dari beton, dari fiber dan logam itu sudah biasa. Mereka juga sudah mahir untuk membuatnya. Tapi saat kaligrafi itu terbuat dari bambu mereka itu sangat suka. Mereka menganggap lebih artistik,” ungkapnya.
Dia mengaku, khat yang digunakan untuk membuat kaligrafi tiga dimensi itu merupakan khat kontemporer. “Karena memang untuk membuat khat kaligrafi tiga dimensi itu tidak harus menggunakan khat pakemnya,” jelas Assiry.
Tandon air untuk cuci tangan yang ditempatkan di Alun-alun Kudus. Foto : Titis Widjayanti
BETANEWS.ID, KUDUS -Lalu lalang kendaraan terlihat di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Di satu sudut tempat tersebut, tepatnya di sebelah kanan ikon tulisan Simpang 7 Kudus terdapat penampungan air berwarna orange lengkap dengan dua keran dan dua sabun batang berwarna merah. Ternyata itu adalah salah satu fasilitas publik yang memang diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus.
Salah seorang petugas kebersihan sedang memanfaatkan tandon air yang tersedia di Alun-alun Kudus untuk cuci tangan. Foto: Titis Widjayanti
“Sebenarnya ada dua yang dipasang. Di sini, sama di Taman Bojana. Kalau pemasangan yang di sini sekitar habis salat Jumat (20/3/2020) kemarin. Fasilitasnya dari Pemda,” ucap Imam Ngatono (34), lelaki yang sudah dua tahun bekerja membersihkan Alun-alun Simpang 7 Kudus tersebut, Sabtu (21/3/2020).
Dari ceritanya pula, diketahui bahwa semenjak pemasangan hari pertama sudah banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar alun-alun memanfaatkan fasilitas tempat cuci tangan itu. Sambil memindahkan sapu, ia memaparkan beberapa karyawan toko dan swalayan sekitar alun-alun kalau habis makan siang atau akan salat di masjid biasa mampir untuk cuci tangan. Selain itu, pagi juga ramai oleh beberapa warga yang olah raga mengitari alun-alun.
Lelaki bertopi hitam itu juga mengaku, jika ia dan teman-temannya juga dari pagi sudah mulai memanfaatkan tempat cuci tangan tersebut sebelum dan sesudah menyapu area taman. Setelah itu ia melanjutkan bekerja dan mempraktikkan mencuci tangan setelahnya. Ia menambahkan, kalau jam makan siang sebenarnya lebih banyak yang mencuci tangan di sekitar Taman Bojana. Karena memang di sana area pusat kuliner.
“Kalau di sini akhir pekan begini, ramainya pagi. Tapi kalau siang, di Taman Bojana itu ramai yang menggunakan. Soalnya kan warung makan banyak, terutama para karyawan yang makan siang. Banyak yang cuci tangan di sana jam-jam segini,” pungkas dia.
Ilustrasi petugas medis di sebuah rumah sakit di Semarang sedang melakukan simulasi penanganan Corona. Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Data terbaru per Sabtu (21/3/2020), jumlah pasien positif COVID-19 di Jawa Tengah kembali bertambah menjadi 14 dari sebelumnya 12 kasus. Untuk dua pasien positif tersebut telah dirawat beberapa hari di RS Margono dan RS Kraton. Dari hasil tracking yang dilakukan, kedua pasien tersebut tidak ada riwayat perjalanan dari luar negeri.
“Hanya saja yang Pekalongan ada keluarganya yang punya riwayat perjalanan luar negeri. Kedua pasien itu berjenis kelamin lelaki dewasa,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto, Sabtu (21/3/2020).
Dengan tambahan dua pasien positif tersebut kini total kasus COVID-19 di Jawa Tengah menjadi 14 positif, 3 di antaranya sudah meninggal. Sebanyak 138 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dirawat dan sebanyak 2.391 berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP).
Menyikapi hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau agar bupati dan walikota untuk terus bergerak melakukan tracking pasien dan kampanye hidup sehat. Dirinya juga menyampaikan, jika sampai saat ini 58 rumah sakit yang telah ditetapkan sebagi rujukan terus menggunakan protokol kesehatan secara cepat setiap ada pasien yang ditetapkan positif COVID-19.
“Kita memantau secara intens dan juga dilapori bupati dan walikota setempat. Mereka cukup serius. Sehingga kita bisa mengupdate terus dan memudahkan kita untuk menyiapkan langkah-langkah berikutnya,” ujar Ganjar.
Menurut Ganjar, dalam beberapa hari terakhir terjadi lonjakan yang cukup signifikan pada status Orang Dalam Pemantauan. Hal tersebut, kata Ganjar terjadi karena dua hal. Pertama tingginya intensitas tracking yang dilakukan jajarannya, serta banyaknya masyarakat yang pro aktif memeriksakan diri.
“Jadi tidak usah takut untuk periksa. Kita menyiapkan skenario, jika positif langsung kita rujuk ke rumah sakit. 58 kita siapkan, ditambah rumah sakit swasta yang siap membantu. Kita juga bisa meminjam provinsi lain jika kekurangan tenaga medis,” tandasnya.
Lanjutnya, terdapat dua wilayah di Jawa Tengah yang warganya berstatus Orang Dalam Pemantauan, Kota Semarang terdapat 606 ODP, sementara Kabupaten Temanggung ODP-nya 414. Ganjar berharap, masyarakat benar-benar menerapkan pola hidup sehat, dari olahraga teratur, konsumsi makanan bergizi hingga istirahat yang cukup.
“Makanya kepada bupati dan walikota saya mengatakan, ini saatnya kita bergerak masif dengan menggerakkan tokoh agama, tokoh masyarakat sampai hansip dan lainnya untuk memberi pembelajaran kepada masyarakat,” pungkasnya.
Sofi'i (tengah) Branch Corporate Communication PT Sumber Alfaria Trijaya Semarang. Foto : Titis Widjayanti
BETANEWS.ID, KUDUS -Bau tanah basah sekitar Kota Kudus sudah mulai tak tercium. Sore itu memang hujan yang sudah kesekian kali yang turun di Kota Kretek. Meskipun begitu, hawa sejuk yang dibawanya tetap memberikan sedikit ketenangan di tengah-tengah kepanikan semakin merebaknya Covid-19. Tak terkecuali beberapa aturan dari pusat yang akhirnya memberikan kebijakan-kebijakan tertentu demi menanggulangi kepanikan masyarakat.
Termasuk edaran dari Mabes Polri mengenai pembatasan penjualan sembako kepada Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melalui surat Nomor:B/1872/III/Res.2.1/2020 untuk menghindari panic buyying. Siang itu, tepatnya pada Jumat (20/3/2020) tim betanews.id menyambangi beberapa toko ritel di Kota Kudus untuk memastikan. Akan tetapi, karena alasan beberapa SOP, kami tidak bisa meminta penjelasan langsung kepada para penjaga toko. Beruntungnya, hari itu akhirnya kami bisa bertemu dengan Branch Corporate Communication PT Sumber Alfaria Trijaya Semarang yang tak sengaja berkunjung ke Kudus.
“Memang waktu ada imbauan itu, sempat ada pembatasan. Tapi untuk saat ini, sesuai dengan surat edaran dari Satgas Pangan hari Kamis (19/3/2020), maka kami tidak memberlakukan adanya pembatasan dengan kebutuhan bahan pokok. Terkait dengan situasi saat ini, kecuali gula. Kalau itu karena memang karena stok gula Nasional tidak aman. Karena permintaan dengan persediaan ternyata tidak seimbang. Jadi di tempat kami, dibatasi maksimal setiap orang membeli 2 Kg. Secara umum, untuk sembako yang lain tetap mengacu dengan surat edaran Satgas Pangan. Dan itu berlaku untuk seluruh cabang toko kami di Indonesia,” papar Sofi’i (48).
Lelaki mungil berkaus polo merah itu mengatakan, bahwa tulisan mengenai pembatasan pembelian sembako yang sudah sempat ditempel di toko-toko ritel mereka semenjak Senin (16/3/2020) itu kini sudah mulai dicopot. Ia menegaskan, bahwa pencopotan itu berdasarkan dengan surat edaran terbaru yang ia jelaskan di atas.
Selain itu, Sofi’i juga mengatakan, bahwa menurut pantauan mereka, kondisi masyarakat masih terbilang aman. Artinya, meskipun kondisi masyarakat sempat mencekam karena momok virus Covid-19, pembelian sembako di toko mereka masih normal.
“Kalau pada akhirnya ada pembatasan gula kan lebih karena alasan stok tadi. Kalau yang lain per hari ini sudah tidak ada pembatasan. Karena menurut perkembangan dan pemntauan kami, di kondisi semacam ini pada akhirnya masyarakat bisa beradaptasi. Dan sejauh ini masih aman. Artinya tidak ada panic buyying. Kalau sebelumnya memang ada pembatasan selain gula. Seperti beras yang maksimal 10 Kg, mie instan maksimal 2 karton. Tapi sekarang cuma gula,” papar dia.
Sambil didampingi dua orang, lelaki yang duduk di tengah-tengah itu melanjutkan. Bahwa pihaknya mewakili salah satu ritel terbesar di Indonesia berharap, supaya kondisi menjadi lebih stabil lagi. Utamanya terkait dengan efek Covid-19 yang memengaruhi berbagai segi kehidupan Nasional.
Sementara itu, ia juga menegaskan, bahwa untuk harga semua masih normal mengacu kepada harga yang dipatok pemerintah. Ia memisalkan gula yang berkisar di harga Rp 12 ribu. Sedangkan untuk persiapan menjelang Ramadan, secara pasokan mereka sudah mengantisipasi beberapa stok barang-barang tertentu yang biasanya secara permintaan akan melonjak.
“Ya kami berharap, semoga kondisi ini segera membaik. Pemerintah bisa menanggulangi dengan baik. Covid-19 segera bisa diatasi dan situasi kembali normal. Kebutuhan pokok masyarakat bisa terpenuhi, apalagi ini menjelang Ramadan. Pasti kami juga mengusahakan untuk kebutuhan masyarakat tetap bisa kami penuhi. Seperti beberapa item yang biasanya secara permintaan lebih melonjak di bulan Ramadhan, seperti sirup, biscuit, dan lain sebagainya. Kami juga masih mengusahakan ketersediaan barang lain seperti masker dan hand sanitizer segera bisa kami penuhi kembali,” pungkas dia.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminum jamu tradisional buatan warga dan kemudian juga ikut memasarkannya dengan mengupload di medsos. Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Seperti biasa, Ganjar Pranowo melakukan aksi gowes untuk mengisi kesibukannya sebagai Gubernur Jawa Tengah. Tidak hanya sebagai sarana olahraga, aktivitasnya bersepeda itu juga dimanfaatkan untuk berkunjung dan menyapa warga. Sabtu (21/3/2020), saat Ganjar gowes ke Wonolopo, Kecamatan Mijen, Semarang, dia menemukan jamu Corona.
Saat tiba di sana, Ganjar dan rombongan disambut warga, termasuk Titi (60). Ganjar yang langsung mendatangi penjual jamu langsung diberitahu Titi, bahwa jamu yang dijajakan tersebut satu di antaranya adalah jamu Corona.
Ganjar berbincang dengan penjual jamu di Kampung Jamu Wonolopo, Semarang. Foto: Ist
Menurut Titi, disebut jamu Corona karena dengan meminum jamu tersebut orang bisa kebal terhadap virus Corona. Jamu tersebut berbahan Jahe, Temu Lawak, Kunyit dan Sereh, yang diyakini bisa meningkatkan daya tahan tubuh untuk menangkal Corona.
“Pak Ganjar, ini jamu Corona pak, bisa menangkal virus corona. Kalau minum ini, badan jadi sehat, hangat dan segar. Kalau badan fit, virus tidak akan masuk tubuh,” katanya.
Penamaan jamu Corona tersebut, tutur Titi, karena saat sedang marak isu penyebaran Covid-19. Menurutnya, beberapa sumber menyebutkan dengan mengonsumsi bahan rempah-rempah tersebut bisa meningkatkan stamina tubuh dan imunitas. Dengan minum jamu itu serta berolahraga badan menjadi sehat dan virus bisa ditangkal.
Mendengar penjelasan Titi, Ganjar lantas memesan satu gelas jamu Corona. Ganjar memuji rasa jamu yang diteguknya. Menurutnya rasanya enak.
“Ini enak, menyehatkan juga. Ini bukan obat corona, tapi bisa menangkal virus corona. Ayo semua minum jamu, biar tidak kena Corona,” ungkap Ganjar sambil mengacungkan jempol tangannya.
Kampung Jamu Wonolopo merupakan kampung yang sebagian besar warganya para pembuat jamu. Ganjar yang penasaran dengan produksi jamu di kampung tersebut lantas mendatangi beberapa rumah warga. Ganjar melihat proses pembuatan jamu yang masih dibuat secara tradisional dan berbincang dengan para pembuatnya.
Supriyanto, satu di antara produsen jamu menjelaskan kepada Ganjar tentang khasiat rempah-rempah yang digunakan sebagai bahan. Satu demi satu dirinya menjelaskan, jahe membuat badan menjadi hangat. Sedangkan Temu lawak bagus untuk meningkatkan stamina tubuh.
“Kalau Kunir Asem ini bagus untuk pencernaan pak, sehingga bagus untuk menurunkan berat badan. Ini juga baik untuk memperlancar haid bagi perempuan. Kalau jamu pahitan ini, untuk badan capek-capek bisa sembuh. Bapak cocok kalau habis sepedaan minum ini,” terang Supriyanto.
Setelah berbincang dengan beberapa produsen jamu di sana, Ganjar kemudian mendatangi kerumunan warga yang tengah menunggu dirinya. Kepada warga, Ganjar mewanti-wanti untuk menjaga jarak. Yang sakit diminta mengenakan masker untuk menangkal penyebaran virus Corona.
Ganjar pun meminta masyarakat rajin mengkonsumsi buah dan multivitamin. Tidak perlu membeli dengan harga mahal, sebab semua bahan itu ada di sekeliling masyarakat.
BETANEWS.ID, KUDUS – Di lantai bawah sebuah rumah di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tampak seorang perempuan sedang mengambil biji kopi kering, yang kemudian dimasukkan ke dalam mesin roasting. Setelah sekian menit, kopi di dalam mesin roasting tersebut dituang. Seketika asap pun ikut mengepul dan aroma kopi begitu harum memanjakan hidung. Rumah tersebut yakni tempat produksi Kopi Muria Wilhelmina yang diklaim aman bagi lambung.
Proses pengemasan Kopi Muria Wilhelmina. Foto : Rabu Sipan
Hikmawati Inaya (39) Owner dari Kopi Muria Wilhelmina membenarkan, kopi produksinya itu memang aman bagi mereka yang punya riwayat penyakit lambung. Dia menuturkan, kopi memang komoditas yang mempunyai kadar asam yang tinggi. Karena itu, bagi mereka yang mempunyai riwayat sakit lambung tidak berani mengkonsumsi kopi.
“Tapi hal itu tidak berlaku untuk Kopi Muria Wilhelmina. Kopi saya itu cenderung aman dikonsumsi siapa saja. Termasuk mereka yang punya penyakit maag dan asam lambung,” ungkap perempuan yang akrab disapa Hikma kepada betanews.id.
Dia mengungkapkan, punya cara khusus untuk menurunkan kadar asam dalam kandungan kopi. Menurutnya, cara yang digunakan adalah dengan menyimpan biji kopi, mininal selama tiga tahun untuk jenis Kopi Robusta dan minimal empat tahun untuk Kopi Arabica.
“Selain bisa menurunkan kadar asam. Penyimpanan itu juga bertujuan untuk menjaga kualitas rasa kopi,” ungkap Hikma sambil melanjutkan aktivitasnya.
Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu menuturkan, selain aman bagi lambung, keunggulan Kopi Muria Wilhemina lainnya adalah kualitas rasa. Karena lanjutnya, Kopi Muria Wilhelmina merupakan kopi murni yang proses produksinya melalu seleksi yang ketat.
“Untuk menjaga kualitas rasa kopi dengan cita rasa tinggi, kami memang tidak sembarangan. Dari awal pemetikan sudah kami awasi. Biji kopi yang dipanen harus yang sudah merah. Saat akan diroasting juga kami sortir lagi. Jangan sampai ada biji yang ukuran dan warnanya beda. Hal itu sangat penting untuk menjaga cita rasa kopi,” jelas Hikma.
Dia mengatakan, dengan menjaga cita rasa tersebut Kopi Muria Wilhelmina begitu diminati bagi pecinta kopi. Bahkan peminatnya tidak hanya orang Kudus saja, tapi juga lain daerah. Antara lain Jepara, Jogja, Magelang, Tuban, Kalimantan, Papua dan lain sebagainya.
Hikma melanjutkan, menjual Kopi Muria Wilhelmina dengan berbagai kemasan. Untuk kemasan fouch dibanderol Rp 18 ribu dan Rp 25 ribu per 100 gram. Menurutnya harga tersebut untuk jenis Kopi Robusta, sedangkan untuk Kopi Arabica dijual Rp 30 ribu dengan ukuran yang sama.
“Selain menjual dalam kemasan fouch, kami juga menjual Kopi Muria Wilhelmina dengan kemasan kardus dan gelas. Dari berbagai kemasan itu kami bisa menjual lebih seribu pak sebulan,” ujarnya.
Hikmawati menunjukkan produk Kopi Muria Wilhelmina. Foto : Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Dua perempuan mengenakan celemek tampak sibuk di satu ruangan rumah yang berada di RT 4 RW 1 Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Mereka terlihat memasukan serbuk berwarna hitam kecokelatan ke dalam sebuah kemasan. Di samping mereka, tampak seorang perempuan memperhatikan dan sesekali memberi intruksi. Perempuan tersebut yakni Hikmawati Inaya (39), pemilik usaha Kopi Muria Wilhelmina.
Proses penggilingan kopi dari produk Kopi Muria Wilhelmina. Foto : Rabu Sipan
Hikmawati Inaya menuturkan, merintis usahanya tersebut pada tahun 2012. Dia mengaku tercetus usaha Kopi Muria Wilhelmina karena rasa keprihatinannya atas nasib hasil panen kopi di lereng Gunung Muria. Saat itu tuturnya, hasil panen kopi berlimpah, tapi sayang tak pernah ada nama kopi Muria dalam merek kopi yang beredar.
“Pada saat itu saya begitu miris. Setiap masa panen kopi, banyak tengkulak dari lain daerah berdatangan. Mereka membawa kopi Muria ke daerahnya dan kemudian diolah diberi merek dengan nama daerah para tengkulak. Kalau begitu terus, maka nama kopi Muria akan menguap dan hilang begitu saja,” ujar perempuan yang akrab disapa Hikma kepada betanews.id.
Atas dasar itu lanjutnya, dia bertekad mengolah sendiri hasil panen kopi dari ladangnya dan diberi merek Kopi Muria Wilhemina. Dipilihnya nama Wilhelmina, karena kopi yang ada di Gunung Muria saat ini adalah hasil tanam paksa yang digalakkan Belanda pada masa penjajahan.
“Karena pada masa itu, Belanda dipimpin Ratu Wilhelmina, jadi namanya saya cantumkan di merek kopi saya. Biar kita selalu ingat sejarah,” celetuknya.
Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, saat awal produksi dirinya mempromosikan Kopi Muria Wilhelmina secara online. Dia mengaku respon terhadap kopi produksinya lumayan bagus. Beberapa teman dan kolega banyak yang memesan kopi miliknya.
Selain dipasarkan lewat media sosial, dia mengaku juga beberapa kali ikut pameran. Saat pertama ikut pameran itulah dirinya dapat pengalaman yang agak kurang enak sekaligus berharga. Karena kopi hasil produksinya yang dikemas dalam plastik transparan malah dikira kaus kaki.
“Saat itu kemasan Kopi Muria Wilhelmina masih berupa plastik transparan dan ditempel stiker untuk merek. Lha pas tergeletak di atas meja pameran itulah, pengunjung mengira, kopi saya itu kaus kaki,” jelasnya.
Karena kejadian tersebut, sambil membetulkan jilbabnya Hikma menuturkan, selalu mencari refrensi pengemasan yang bagus agar produknya makin diminati. Karena dirinya sangat sadar kemasan sangat punya pengaruh besar terhadap citra produk.
“Percuma dong produk bagus kalau kemasannya seadanya. Takutnya nanti dikira produk kita tidak berkualitas,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, saat ini Kopi Muria Wilhelmina dikemas dengan berbagai ukuran. Ada kemasan pouch, kemasan kardus, serta kemasan gelas. Dia bersyukur saat ini produk Kopi Muria Wilhelmina sudah banyak peminatnya.
“Saat ini, setiap bulannya saya bisa memproduksi sekitar 900 kwintal kopi Muria. Dan menjual lebih dari seribu pak Kopi Muria Wilhelmina,” ungkap Hikma.
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan di posko siaga Covid-19 di salah satu rumah sakit di Jateng. Foto : Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Jika mekanisme opsi rapid test (tes cepat) Covid-19 jadi ditempuh oleh Presiden Joko Widodo, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengaku siap. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, untuk prioritas tes dilakukan di dua wilayah, yakni Solo dan Semarang.
“Prioritasnya ya setidaknya Solo dan Semarang. Itu dilihat dari hasil penelusuran (positif Corona). Kalau ada (alat tes cepat) ya kita prioritaskan dulu (Solo dan Semarang),” ujar Ganjar, seusai memimpin rapat dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Jumat (20/3/2020).
Meski demikian, Ganjar belum bisa mengetahui kapan tes tersebut akan dilakukan. Lantaran, hingga saat ini ia belum mendapatkan kabar terkait kapan alat tes cepat itu, datang ke Indonesia. Jika sudah, Ganjar mengaku siap menerjunkan tenaga kesehatan untuk mengaplikasikannya pada warganya yang diduga terjangkit Covid-19.
Namun, ia melihat dengan perkembangan seperti ini, wilayah seperti DKI Jakarta perlu mendapat prioritas tes cepat Covid-19.
“Laboratorium kita juga bisa bantu buat VTM (Virus Transport Medium), jadi kalau pemeriksaannya harus lebih detail lagi. Tinggal ada beberapa peralatan yang harus kita beli dari luar. Prioritas ya setidaknya Solo dan Semarang,” kata Ganjar.
Lanjutnya, Ganjar juga mengajak pejabat di wilayahnya memberi contoh, dengan memeriksakan diri sendiri. Lantaran, ketika seseorang dirinya tertular, gampang untuk melakukan isolasi dan pengobatan.
“Saya angkat jempol dengan Walikota Bogor Arya Bima. Langsung saya WA dia. Dia hebat karena mau deklarasikan diri. Kalau kena kan diisolasi dan diobati. Ketika sudah sembuh dia akan imun,” ujarnya.
BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan orang tampak keluar dari Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jumat (20/3/2020). Satu di antaranya yakni Rizki Talang Tiyant (26), yang hendak ziarah ke makam Sunan Kudus usai salat Jumat. Talang begitu dia akrab disapa, mengaku ada rasa khawatir adanya virus COVID-19.
Rasa khawatir tersebut tidak membuatnya menghentikan aktivitas di luar rumah termasuk salat Jumat dan ziarah. Tetapi membuat Talang menjadi lebih waspada adanya wabah Corona. Menurutnya, semua kembali pada diri sendiri, yang terpenting mau menjaga kebersihan dan antisipasi.
“Khawatir juga sih adanya wabah COVID-19. Ini mau ziarah juga masih ada rawa waswas. Tapi di sini sudah disediakan antiseptik bagi tamu, dan ada imbauan juga dipasang di depan tadi,” ungkap Warga Desa Ploso, RT 02 RW 03, Kecamatan Jati, Kudus itu.
Dia juga menambahkan, jika sudah memiliki keinginan untuk ziarah sudah lama. Bahkan sudah tiga kali tertunda karena waktunya yang belum tepat.
“Rencana mau ziarah sudah lama, sebelum acara Ta’sis Masjid Menara saya sudah berencana ziarah. Tapi batal terus karena waktunya tidak pas. Jadi, ini setelah salat Jumat saya sempatkan untuk ziarah,” ungkapnya, Jumat (20/3/2020).
Sementara itu, Anis (65), selaku koordinator kebersihan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus menjelaskan, bahwa sudah memasang banner imbauan kewaspadaan dini terhadap virus corona. Selain itu juga disiapkan hand sanitizer bagi para peziarah. Area makam juga sudah disemprot menggunakan desinfektan.
“Air di bak yang biasa diambil peziarah juga kami kuras. Sengaja kami kosongkan untuk antisipasi penularan virus corona. Kecuali tempat wudhu, kami sediakan air bersih yang mengalir. Penyemprotan juga akan kami lakukan dua kali sehari, khususnya area makan dan masjid,” jelasnya.
Selain itu, dia juga menambahkan jika ada tamu rombongan dari luar kota dari pihak yayasan meminta untuk menjadwalkan ulang. “Peziarah yang datang sejauh ini hanya warga sekitar Kudus saja,” tambahnya.
BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan baju batik dengan blangkon di kepalanya terlihat sedang berjalan di area Masjid Al Aqsha Menara Kudus. Dia adalah Anis (65), koordinator kebersihan di masjid tersebut. Dia sudi berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang kesiapan salat Jumat, (20/03/2020) di Masjid Al Aqsha Menara Kudus.
Dia mengungkapkan, bahwa pihak Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus sudah melakukan upaya pencegahan penularan virus corona. Sehingga kawasan Masjid Menara dan area Makam Sunan Kudus masih bisa dikunjungi.
“Kami sudah menggulung semua karpet masjid, bak mandi juga sudah kami kosongkan. Jadi kami hanya menyediakan air untuk wudhu dan buang air kecil. Air yang kami sediakan juga mengalir terus, jadi Insya Allah aman,” terang warga Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.
Selain itu, juga dilakukan penyemprotan desinfektan di seluruh area masjid dan makam Sunan Kudus. Khusus bagian yang sering dikunjungi orang, dilalukan penyemprotan dua kali dalam sehari sesuai imbauan dari pihak yayasan.
Seorang pria menggunakan masker, juga tampak sedang mengelap bagian tiang di dalam masjid yang sudah disemprot dengan desinfektan. Dia adalah Arif Munawir (21), yang kali ini bertugas untuk melakukan penyemprotan. Ia jelaskan, jika area masjid yang sudah disemprot, bisa digunakan setelah menunggu kering. “Menunggu sekitar 30 menit paling sudah kering,” tambahnya.
Sementara itu, Athol (25), satu di antara ratusan warga yang ikut Salat Jumat di Masjid Al Aqsha Menara Kudus mengaku tidak merasa khawatir. Dirinya tetap beribadah seperti biasanya meski ada imbauan pencegahan virus corona, untuk tidak berkumpul di keramaian.
“Saya tidak khawatir ikut Jumatan di masjid sini. Ini juga sudah dibersihkan, karpet sudah digulung dan dilakukan penyemprotan. Jadi saya tetap nyaman beribadah,” terang warga Desa Sunggingan, Kudus itu.
Proses pembuatan tempat tidur di showroom Annisa Furniture. Foto : Titis Widjayanti
BETANEWS.ID, KUDUS – Deru motor sekitar Jl Patimura, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus sore itu masih ramai dikuasai kendaraan beroda dua. Lalu lalang lalu lintasnya meredam suara mesin pompa udara milik Suprihatin (53) di sebelah barat jalan.
Lelaki paruh baya itu masih sibuk mengoperasikan pompa udara yang ujung selangnya diganti corong kecil. Sesekali ia memilah beberapa baut engsel dari plastik, lalu kembali mengelap salah satu kayu ukir bahan tempat tidur di depan toko. Suprihatin merupakan pemilik sekaligus perintis toko mebel yang dinamani Annisa Furniture.
“Usaha ini memang saya rintis sendiri. Awalnya dulu saya pernah kerja di toko mebel milik orang asing. Lalu lambat laun saya keluar dan berpikiran untuk buka sendiri. Salah satunya karena merasa jika punya sendiri setidaknya nggak kerja sama orang lain, utamanya orang asing. Alasan lain, karena dengan buka usaha sendiri nantinya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain,” papar Suprihatin kepada betanews.id, Selasa (10/3/2020).
Dari ceritanya pula, usaha yang mulai berdiri sejak tahun 2008 ini meskipun masih dipasarkan di lingkup lokal, akan tetapi sudah cukup berkembang. Hal tersebut ia buktikan dengan penjualan produk furniture yang stabil dari tahun ke tahun. Selain itu sesuai dengan tujuannya, Suprihatin memanfaatkan tenaga lingkungan sekitar sebagai karyawannya.
“Kalau pemasaran, kebetulan masih lokal. Sekitar Kudus, Pati, Demak, Semarang. Tapi alhamdulilah tiap bulan ada yang memesan. Dari sana selain memang sengaja nyetok, kalau ada pesanan yang diminta pelanggan ya kami buatkan. Makanya setiap hari sampai sekarang karyawan tetap bekerja. Kalau pesanan banyak, bahkan sampai mengambil tenaga ibu-ibu sekitar untuk dibawa pulang barangnya terus diamplas di rumah,” ungkap dia.
Sambil mengambil sebatang rokok, ia melanjutkan, bahwa sekarang ia punya langganan perajin dari beberapa daerah. Seperti Blora dan Jepara. Dari sana pula, bahan dan jenis kayu jatinya didapat. Sehingga untuk pengerjaan pesanan pelanggan, ia mempunyai beberapa pilihan kayu jati dan kemudian di finishing di tempatnya.
“Kebetulan karena pernah kerja di usaha yang saya sebutkan tadi, jadi punya beberapa kenalan perajin. Dari Blora sama Jepara. Kayu jatinya pun dari sana. Jadi semisal stok yang di sini masih ada, tapi ada pelanggan yang minta jenis kayu berbeda dan model yang lain ya saya hubungi pengrajin yang bersangkutan. Makanya di sini cuma proses finishing,” ungkapnya.
Selanjutnya ia menyebutkan, bahwa bisnisnya tersebut memiliki musim yang bisa diandalkan. Salah satunya menuju bulan Ramadan atau menjelang Idul Fitri. Katanya, banyak pelanggan yang datang kepadanya untuk membeli atau memesan furniture.
“Kalau bulan-bulan biasa ya kadang ada satu-dua pesanan. Tapi kalau seperti sekarang kan menjelang bulan puasa, sehabis itu Idul Fitri. Memang biasanya lebih ramai. Bisa 2-3 kali lipatnya. Jika katakanlah omzet per bulan biasa rata-rata Rp 10 juta, kalau menjelang Idul Fitri alhamdulilah bisa sampai Rp 20 jutaan lebih,” kata dia.
Selanjutnya ia memaparkan, beberapa jenis kayu jati yang dipakai oleh bisnis mebelnya tersebut. Mulai dari kayu jati desa, jati Sulawesi sampai jati Perhutani. Suprihatin menuturkan jika membicarakan harga, paling tinggi adalah Jati Perhutani Blora yang secara kualitaspun paling baik.
“Kalau harga, itu tergantung jenis kayu jati sama seberapa besar barang. Semisal kursi, lemari, dipan atau barang-barang apapun yang bisa dibuat dari kayu. Paling tinggi biasanya harga lemari. Sedangkan untuk jenis paling tinggi harganya kayu jati Perhutani dari Blora. Karena memang kayunya paling tua, jadi kualitasnya paling bagus dan mahal,” kata dia.
Setelah itu ia mengatakan, jika bisnisnya memang masih terbilang kecil. Sehingga kadangkala harus berani mengambil risiko untuk menghutang di bank sebagai modal awal. Setelah itu baru mendapatkan untung jika pelanggan membayar. Dari sanalah Annisa Furniture mengakali berputarnya roda bisnis hingga sekarang.
“Ya namanya masih tergolong UMKM ya Mbak. Belum besar. Jadi ya pasti kadang kala ada kesulitan terutama perihal permodalan. Karena kadang ada pelanggan yang memesan dengan dp 50 persen dulu, kadang malah dibayar kalau barangnya sudah jadi. Kalau seperti itu kan saya harus tetap tombok dulu ke perajin. Baru setelah barang dikirim pelanggan membayar. Kalau saking nggak ada modal ya larinya minjem ke bank,” pungkas dia.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengecek kesiapan pengurus masjid jelang salat Jumat. Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Untuk memastikan masjid-masjid menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo keliling Semarang. Dia menginspeksi sejumlah masjid terkait persiapan jelang salat Jumat hari ini (20/3/2020).
Ganjar bersama rombongannya berkeliling menggunakan sepeda. Masjid pertama yang dia datangi yakni asjid al-Hikmah Gayamsari Kota Semarang. Setelah itu dirinya melihat persiapan salat Jumat di Masjid Agung Kauman Semarang.
Di Masjid Agung, Ganjar memanggil pengurus masjid dengan nada serius. Hal itu dilakukan karena dirinya melihat di tempat wudhu tidak ditemukan sabun untuk mencuci tangan.
“Itu kok tidak ada sabunnya? Ini serius lho, jangan anggap sepele,” tegas Ganjar kepada para pengurus masjid.
Seorang pengurus masjid mengatakan memang belum menaruh sabun di tempat wudhu. Namun pihaknya akan menyemprot tangan para jamaah salat Jumat dengan hand sanitizer sebelum masuk masjid.
“Ini saya kasih uang untuk beli sabun. Sekarang langsung beli dan taruh di tempat-tempat wudhu itu,” kata Ganjar sambil memberikan sejumlah uang kepada pengurus untuk dibelikan sabun.
Selain mempertanyakan penyediaan sabun, Ganjar juga memastikan semua karpet masjid digulung. Dia juga menanyakan apakah lantai masjid diseterilkan dengan mengepelnya.
Ganjar memang sangat detil memperhatikan persiapan di dua masjid yang dikunjungi. Dia ingin memastikan semua regulasi terkait protokol pencegahan Covid-19 dijalankan.
Sementara itu, Sekertaris Badan Pengelola Masjid Agung Kauman Semarang, Abdul Wahid mengatakan, pihaknya sudah melakukan sejumlah antisipasi penyebaran virus Corona.
“Kami sudah antisipasi. Nanti jamaah yang masuk, tangannya kami semprot cairan disinfektan. Selain itu kami juga membatasi pintu masuk,” tegas Abdul.
Selain mengatur akses pintu masuk, Abdul mengatakan pihaknya juga akan mengatur shaf para jamaah. Nantinya, shaf tidak boleh terlalu dekat agar semua terhindar dari penyebaran virus Corona itu.
Petas sebaran kasus Covid-19 di Jawa Tengah. Sumber: Pemprov Jateng
BETANEWS.ID, SEMARANG – Pasien yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 di wialayah Jawa Tengah bertambah lagi. Data terakhir hingga Kamis (19/3/2020) malam jumlah pasien positif Corona menjadi 12 orang. Dari jumlah tersebut, tiga orang di antaranya telah meninggal.
Penambahan data pasien tersebut disampaikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo malam ini. Menurutnya, tambahan pasien positif Corona itu di Solo dan Semarang.
“Dengan update ini, berarti di Jateng kasus positif Corona menjadi 12 pasien. Tiga orang sudah meninggal, tiga pasien kini dirawat di RSUP Dr Kariadi, dua pasien didi RSUD Wongsonegoro Semarang dan satu pasien di RSUD Tidar Magelang,” kata Ganjar.
Ganjar merinci, data terkini ada sejumlah 2.0202 Orang Dalam Pengawasan (ODP). Sedangkan pasien yang dirawat intensif ada sebanyak 97 pasien.
Untuk mempermudah pemantauan masyarakat terhadap kasus Corna di Jateng, kata Ganjar, Pemprov meng-update data di saluran corona.jatengprov.go.id. Selain itu pihaknya juga menyiapkan aplikasi yang bisa diakses masyarakat.
“Melalui aplikasi ini masyarakat bisa melapor apabila pernah memiliki riwayat kontak dengan orang yang terpapar Corona. Kami berharap masyarakat pro-aktif untuk memberi informasi melalui aplikasi tersebut,” tutur Ganjar.
Sebagai langkap kesiapsiagaan penanganan kasus Corona di Jateng, Ganjar mengatakan juga telah menyiapkan sebanyak 303 ruang isolasi dan 56 rumah sakit rujukan. Selain rumah sakit rujukan tersebut, beberapa rumah sakit swasta telah menyatakan siap membantu.
Langkah-langkah yang telah ditempuh pemerintah, kata Ganjar, tak ada artinya jika masyarakat tidak ikut berperan aktif. Dia meminta masyarakat untuk menghindari kerumunan dan menjaga kesehatan dan ketahanan tubuhnya.
“Seringlah berolahraga, jaga pola hidup bersih dan sehat serta konsumsi multivitamin. Kalau sudah ada regulasi atau protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah, tolong ditaati,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, korban meninggal akibat virus Corona (Covid-19) di Jawa Tengah bertambah pada Rabu (18/3/2020) petang. Satu orang pasien positif Corona yang dirawat di RS Moewardi Surakarta dinyatakan menghembuskan napas terakhir.
Kabar tersebut disampaikan Ganjar kepada wartawan petang kemarin. Dia menjelaskan, sebelum meninggal, pasien tersebut menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari.
BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kendarahan roda empat tampak terparkir di depan RSUD dr Lukmono Hadi Kudus, Kamis (19/3/2020). Puluhan orang mengenakan baju putih terlihat di rumah sakit tersebut. Satu di antaranya yakni Aris Jukisno, dia sudi berbagi informasi kepada betanews.id terkait pasien COVID-19 atau Corona.
Hingga Kamis (19/03/2020) siang, di ruang isolasi rumah sakit tersebut ada dua pasien dalam pengawasan (PDP). Dua pasien itu merupakan rujukan dari Jepara dan Pati. Saat ini, mereka masih menunggu hasil dari Badan Litbangkes Jakarta. Bila dinyatakan negative, maka pasien bisa langsung dibawa pulang.
Gedung RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi
“Karena perkembangan kedua pasien ini baik, jadi tinggal menunggu hasil dari Badan Litbangkes Jakarta. Di sini ada dua ruang isolasi. Kami juga menambah kapasitas tempat tidur di ruang isolasi,” terang Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr Lukmono Hadi Kudus itu.
Pria yang akrab disapa Sukisno itu juga mengungkapkan, saat ini juga terdapat 21 orang dengan kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP).
Dia juga mengimbau, jika ada warga yang merasa ada gejala, pulang dari luar negeri, atau terpapar dengan penderita corona untuk segera memeriksakan diri. Bisa ditangani di Klinik MCU RSUD Kudus. Di sana sudah ada SOP untuk pemeriksaannya.
“Di sini sudah ada SOP pemeriksaan bagi warga yang ingin memeriksakan diri. Pertama nanti akan di rontgen dan diambil darahnya. Jika pasien masuk kategori PDP atau ODP maka hasil akan kami kirim ke Badan Litbangkes,” jelasnya.
Untuk mengetahui hasil pemeriksaan idealnya dua hari. Karena banyak yang diperiksa, hingga saat ini pihak rumah sakit sudah menunggu sekitar empat hari dan masih belum keluar hasilnya.
Selain itu, di RSUD dr Lukmono Hadi Kudus saat ini tidak mengizinkan untuk menjenguk pasien. Dan hanya dua orang dari pihak keluarga yang diperbolehkan menunggu pasien. Hal tersebut bagian dari upaya pencegahan penularan virus corona.