Beranda blog Halaman 1849

Dishub Kudus Kembali Buka Layanan Uji KIR, Petugas Kenakan APD

0
Petugas uji KIR di Kudus menggunakan APD untuk layani pengujian kendaraan. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejak 4 Mei 2020, Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus kembali membuka layanan pengujian kendaraan bermotor atau uji KIR. Namun, kali ini, pelayanan dibatasi hanya untuk 40 kendaraan saja.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil mengatakan, sebelumnya pihaknya meliburkan sementara layanan uji KIR selama satu bulan, yakni bulan April. Penghentian sementara layanan tersebut dikarenakan pandemi Covid-19.

Ia katakan, seharusnya pada April lalu, ada 1.000 an kendaraan yang wajib melakukan uji KIR. Namun, karena pandemi Covid-19, pihaknya menutup sementara layanan tersebut.

Baca juga : Pemkab Kudus Gelontorkan Rp 48 Miliar untuk Hadapi Corona

“Sejak Senin kemarin kami sudah membuka layanan uji KIR kembali. Namun, kali ini kami menerapkan protokol kesehatan. Yakni, petugas kami lengkapi dengan APD (alat pelindung diri), seperti hazmat coverall, masker, kacamata google dan kaus tangan,” ungkapnya saat ditemui di ruangannya Rabu (5/6/2020).

Selain itu, setiap kendaraan yang akan masuk lokasi uji KIR, terlebih dahulu disemprot disinfektan. Pun demikian dengan tempat uji KIR, yang secara rutin setiap pagi juga disemprot disinfektan.

“Jika ada kendaraan kotor dan sopir tidak mengenakan masker, kita minta untuk kembali,” ungkapnya.

Untuk pelayanan, katanya, pada masa pandemi ini waktunya dibatasi, mulai pukul 07.00 hingga 10.30 WIB. Hal itu berlaku dari Senin hingga Jumat. Sedangkan, untuk kuota kendaraan yang melakukan uji KIR dibatasai 40 saja.

Baca juga : Ketahuan dari Zona Merah Covid-19, 50 Kendaraan Pemudik Diminta Putar Balik

Dalam pengujian kendaraan sebagai tanda laik jalan, pihaknya memeriksa antara lain, lampu dan daya pancar, emisi gas buang, sistem kemudi, kaki mobil dan truk serta speedometer.

Selain itu, juga sistem pengereman, kaca mobil, klakson berfungsi dengan baik, ban mobil tidak gundul serta tidak dimodifikasi. Sedangkan untuk biaya uji KIR, antara Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kabar Gembira, Pekerja yang Dirumahkan Tetap Dapat THR

0
Kepala Disnakerperinkopukm Bambang Tri Waluyo sedang mengecek daftar perusahaan yang siap memberi Tunjangan Hari Raya (THR). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria paruh baya memasuki ruangan Bidang Hubungan Industrial dan Perselisihan Ketenagakerjaan di kantor Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkopukm) Kabupaten Kudus, Rabu (6/5/2020). Dia adalah Bambang Tri Waluyo (59), kepala dinas setempat yang akan mengecek data laporan perusahaan di Kota Kretek, soal kesiapan memberi Tunjangan Hari Raya (THR).

Setelah melakukan pengecekan, dirinya menjelaskan, pihaknya sudah memberi surat edaran kepada perusahaan di Kudus perihal THR Keagamaan Tahun 2020 sejak 27 April lalu. Saat ini, sudah ada sejumlah perusahaan yang melaporkan siap melaksanakan kewajiban untuk membayar THR.

“Ini sudah ada beberapa perusahaan yang lapor. Karena paling lambat pemberian THR tujuh hari sebelum Hari Raya, mungkin yang lain akan menyusul. Untuk THR, perusahaan di Kudus sepertinya aman. Termasuk pekerja yang dirumahkan juga dapat THR,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Bambang itu menambahkan, di Kudus ada perusahaan yang memberikan THR 50 persen terlebih dahulu. Sisanya akan diberikan paling lambat akhir 2020. Menurutnya, semua dikembalikan pada kesepakatan antara perusahaan dan serikat buruh.

“Yang penting perusahaan melaksanakan kewajibannya membayar THR. Soal kondisi perekonomian perusahaan yang mungkin terdampak Covid-19, saya persilahkan untuk dirundingkan dengan pekerja untuk mencari jalan tengah dan solusi yang terbaik,” terangnya.

Baca juga: KSBSI Kudus: ‘THR Kewajiban Perusahaan, Bukan Kebaikan Perusahaan’

Selain perusahaan, Disnakerperinkopukm Kudus juga melayangkan surat kepada perbankan agar memenuhi kewajiban memberi THR. Hal ini juga sudah ada perbankan yang merespon dan siap memberi THR.

“Selain perusahaan, ini juga ada perbankan yang sudah merespon surat kami. Mereka sudah menyatakan siap memberi THR. Meski masih banyak perusahaan yang belum melapor, tetapi saya yakin perusahaan di Kudus aman untuk urusan THR,” tandas Bambang.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Stok Masker N95 untuk Tenaga Medis Jateng Dipastikan Aman

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat menerima Bantuan dari Bank Mayapada dan beberapa lembaga lain di Puri Gedeh. Rabu (6/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Stok masker N95 di Jawa Tengah dipastikan aman, menyusul banyaknya bantuan dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan. Sebelumnya, stok masker khusus tenaga medis itu sempat menipis bahkan kekurangan.

Kepastian ini disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat menerima bantuan masker N95 dari sister province Fujian China, dan dari sejumlah lembaga lain di rumah dinasnya, Rabu (6/5/2020).

“Stok masker N95 Jateng sudah aman. Kondisi saat ini makin banyak dan cukup. Bantuan terus mengalir dan terus kami distribusikan,” kata Ganjar.

Baca juga: Gandeng Banom NU, Anggota DPRD Jateng Bagikan Sembako

Selain masker N95, sumbangan yang terus berdatangan dari berbagai kalangan itu berupa alat pelindung diri (APD), seperti hazmat, ventilator dan lain-lain. Bantuan tersebut telah ditampung dan didistribusikan kepada rumah sakit, puskesmas hingga klinik kesehatan.

“Hari ini kami kembali mendapat bantuan masker dari Rotary Club sebanyak 20.000 buah. Diantara jumlah itu, sebanyak 10.000 adalah masker N95,” imbuhnya.

Menurut Ganjar, keberadaan masker N95 ini sangat penting untuk tenaga medis. Dengan tercukupinya masker N95 tersebut, maka pihaknya akan semakin mendorong kekuatan tenaga medis hingga layanan primer atau paling depan.

“Mereka jamin bisa aman dan kami pastikan aman. Dengan banyaknya bantuan ini, maka protokol-protokol kesehatan bisa kita perbaiki,” tegasnya.

Baca juga: Ganjar Siap Seluruh Pendapatannya Dipotong untuk Penanganan Covid-19

Selain masker, dalam kesempatan itu Ganjar juga menerima bantuan berupa 1.000 paket sembako dari Bank Mayapada. Bantuan diserahkan kepada Ganjar untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Seluruh bantuan ini tentu sangat membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya mereka yang terdampak Covid-19. Akan segera kami salurkan bantuan-bantuan ini kepada masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sediakan Aneka Bibit Anggur Unggulan, Aan Punya Pelanggan dari Seantero Nusantara

0
Sama'an sedang menyambung bibit anggur. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pekarangan depan dan belakang rumah tembok di Dukuh Ngrangit Baru, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus tampak tanaman anggur merambat pada baja ringan. Di pekarangan belakang yang terasa rindang dengan tanaman anggur terlihat seorang pria sedang melakukan penjarangan buah anggur. Pria tersebut yakni Sama’an (32), seorang petani anggur.

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Aan itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, menekuni sebeagai petani anggur sudah dua tahun. Hal itu dilakukannya, tak terlepas dari hobinya bercocok tanam, serta ingin memperbaiki kualitas tanaman anggur yang ada di Indonesia.

Sama’an sedang memetik buah anggur di kebun miliknya. Foto : Rabu Sipan

“Anggur yang umum ditanam di negara kita, itu sebenarnya bukan untuk dikonsumsi tapi untuk bahan minuman wine. Itu sebabnya buahnya kecil dan rasanya masam,” ujarnya kepada betanews.id, Senin (4/5/2020).

Baca juga : Di Lahan 3000 Meter Persegi, Aan Wujudkan Mimpi Buat Tempat Wisata Edukasi Buah Anggur

Seusai melakukan penjarangan, Aan kemudian mengambil bibit anggur di polybag dan dipotongnya. Setelah itu, ia memotong batang anggur yang menjalar pada baja ringan. Setelah daunnya dibuang, kedua batang itu pun disambung.

Batang yang bawah yang disambung tuturnya, merupakan varietas lokal. Sedangkan yang batang atas merupakan varietas batang anggur unggul dari Ukraina. Agar bisa menghasilkan buah anggur yang besar dan manis rasanya.

Di kebunnya, Aan mengaku menyediakan aneka macam bibit anggur. Antara lain, Transfiguration, Julian untuk anggur warna hijau kekuningan. Ada juga jenis Akademik Avidsba, B2, Viking yang nanti buah anggurnya warna hitam.

Untuk buah anggur warna merah hati bibitnya berjenis Ninel, dan Everest. Sedangkan untuk buah anggur warna hijau jenis bibitnya yakni Harold serta Ilaria. Dan buah anggur warna pink, jenisnya Dubovsky Pink.

“Semua jenis bibit anggur itu saya jual dengan harga sama, yakni Rp 125 ribu,” jelasnya sambil meletakkan bibit anggur yang selesai disambungnya ke tempat semula.

Selama ini, kata dia, peminat bibit anggurnya lumayan banyak, bahkan seluruh Nusantara. Kecuali Papua, hal itu dikarenakan ongkos kirimnya yang mahal. Bahkan beberapa kali juga pernah dapat permintaan dari Malaysia.

Baca juga : Embung Panguripan Desa Ngemplak Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Air, Ada Area Outbond

“Kendalanya lagi – lagi sama, yakni ongkos kirimnya yang mahal. Untuk sehari saya bisa jual dua sampai tiga bibit anggur. Itu pas sepi ya, sebab saat ramai saya mampu jual 40 hingga 50 bibit anggur sehari,” ungkapnya.

“Saya juga berharap agar banyak masyarakat yang menanam tanaman anggur. Biar negara kita tidak impor buah yang dikenal sebagai santapan orang berduit itu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jenazah Warganya Dimakamkan dengan SOP Covid-19, Desa Ngemplik Wetan Demak ‘Lockdown’

0
Salah satu akses jalan di Desa Ngemplik Wetan, Kecamatan Karanganyar, Demak ditutup. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, DEMAK – Sejumlah akses jalan memasuki Desa Ngemplik Wetan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak ditutup, Selasa (5/5/2020). Hal tersebut, dilakukan setelah adanya seorang warga yang meninggal dan dimakamkan dengan SOP Covid-19. Karena waswas, sehingga warga memutuskan untuk melakukan lockdown hingga Idul Fitri.

Seorang pria mengenakan sarung dengan mata terlihat sayup, memberi penjelasan kepada betanews.id tentang lockdown di desa itu. Menurutnya, warga Desa Ngemplik Wetan sudah mulai resah dengan pemberitaan penyebaran Virus Covid-19.

“Sebenarnya warga masih bisa keluar masuk, tetapi diwajibkan memakai masker. Untuk warga dari luar tidak kami izinkan masuk. Sejumlah akses jalan kami tutup, hanya satu yang di buka. Nantinya akan dijaga selama 24 jam,” jelas Ketua RW 02, yang akrab disapa Sulis itu.

Baca juga : Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown

Ketua RW yang belum tidur sejak semalam itu juga mengungkapkan, sebenarnya masih belum bisa dikatakan lockdown, hanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kemudian, warga desa masih bisa beraktivitas seperti biasa, dengan catatan menggunakan masker jika ingin keluar masuk desa.

“Jadi ini lebih tepatnya PSBB, tetapi biar lebih akrab kita sebut lockdown. Sebenarnya rencana dimulai hari Kamis (7/5/2020). Tetapi karena ada warga yang meninggal tadi malam, dan dimakamkan dengan SOP Covid-19, jadi kami percepat mulai hari ini,” terangnya.

Meski belum dinyatakan positif dan masih menunggu hasil swab, warga diimbau untuk tetap waspada serta menghindari kerumunan. Termasuk tradisi mendoakan warga yang meninggal selama tujuh hari untuk sementara ditiadakan. Warga diminta mendoakan dari rumah saja.

“Karena masih banyak warga yang datang untuk berbelasungkawa, jadi kami imbau kepada keluarga yang ikut merawat untuk menjaga jarak dengan warga yang datang. Semalam saat pemakaman juga masih banyak warga yang ikut menunggu jenazah, tetapi diminta jaga jarak,” jelas warga RT 04 RW 02 itu.

Baca juga : Desa Ternadi Kudus Berlakukan ‘Lockdown’

Sulis juga menambahkan, jika warganya yang meninggal tersebut memang sudah sakit sejak lama. Kurang kebih sekitar enam bulan sudah sakit di rumah. Jadi memang ada sekitar enam penyakit penyerta.

“Memang sudah sakit komplikasi sejak lama. Dua pekan sebelum Ramadan juga ketemu saya, dan kondisinya memang belum membaik. Apapun hasil tesnya, kami tetap akan melanjutkan pembatasan demi kebaikan bersama,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jejak Dakwah Sunan Kedu, Datang ke Kudus Naik Tampah Terbang

0
Masjid at-Taqwa yang didirikan oleh Sunan Kedu, murid Sunan Kudus. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pengeras suara masjid berlantai dua di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu terdengar berbunyi. Di dalam masjid, tampak satu orang sedang salat kemudian dilanjutkan dengan berzikir. Masjid itu yakni Masjid at-Taqwa, saksi sejarah penyebaran agama Islam oleh Sunan Kedu di Kabupaten Kudus

Sesepuh masjid Maslani (60) menceritakan, Masjid At-Taqwa dibangun oleh Sunan Kedu pada tahun 1599 Masehi, di hari Jumat Pahing. Sunan Kedu sendiri berasal dari Parakan Temanggung dan bernama lahir Abdul Hakim bin Abdullah Taqwin.

Sesepuh masjid Maslani, saat menunjukkan bagian masjid yang dibangun Sunan Kedu. Foto: Rabu Sipan.

Kisah kedatangannya ke Kudus, Lanjut Maslani, dimulai saat ia tiba dari Mekah untuk menuntut ilmu. Waktu itu, ia dapat perintah agar melanjutkan menimba ilmu kepada Sunan Kudus.

“Setelah beranjak dewasa, Abdul Hakim memutuskan belajar agama ke Mekah setelah lulus mendapat gelar dari gurunya Syeh Abdul Basyir atau dikenal dengan nama Sunan Kedu,” ujar Maslani kepada, Jumat (1/5/2020).

Saat berangkat ke Kudus itu, dia menggunakan alat transportasi yang tidak lazim. Yaitu dengan menaiki tampah melayang-layang di angkasa.  Sesampai di Kudus, karena tidak mengetahui alamat pasti Sunan Kudus, Sunan Kedu berputar-putar di atas kota dan menggemparkan masyarakat Kudus.

Baca juga: Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

Sunan Kudus yang mendengar kegemparan itu kemudian keluar dan melihat tampah yang dinaiki Sunan Kedu. Syeh Ja’far Shadiq, nama asli Sunan Kudus, lantas menunjuk tampah terbang itu. Seketika itu juga Sunan Kedu jatuh di tanah jemberan (becek). Tempat jatuhnya itu kelak dikenal sebagai Desa Jember. 

“Setelah Sunan Kedu jatuh, Sunan Kudus berkata, Kudus itu gudangnya ilmu, jadi jangan pamer ilmu di sini,” kata Maslani menirukan Sunan Kudus.

Setelah terjatuh, lanjut Maslani, Sunan Kedu kemudian sadar bahwa yang dihadapinya itu Sunan Kudus. Lalu bergegaslah dia mencari tempat sesuci.  Kelak tempat untuk bersuci itu dikenal sebagai Desa Pesucen. Setelah bersih, Sunan Kedu kemudian menghadap Sunan Kudus untuk memohon maaf serta mengutarakan niatnya untuk berguru.

“Sunan Kedu sendiri datang ke Kudus pada tahun 1576. Setelah jadi murid, Sunan Kudus diminta ikut menyebarkan agama Islam. Dan beliau memilih Desa Gribig sebagai pusatnya. Di Gribig, Sunan Kedu dibantu murid Sunan Kudus dan Sunan kudus sendiri untuk mendirikan masjid. Masjid itulah cikal bakal Masid At-Taqwa Sunan Kedu,” ungkapnya.

Baca juga: Kisah Cerdik Sultan Hadirin Dibalik Pendirian Masjid Wali Loram Kulon

Pria yang dianugerahi dua anak itu menuturkan, sampai saat ini, Masjid Sunan Kedu sudah direnovasi sebanyak tiga kali. Meski begitu, bentuk masjid utama masih dipertahankan. Bagian masjid yang masih dipertahankan hingga sekarang yakni mustaka, empat tiang saka, dan mihram masjid. 

“Sedangkan peninggalan lainnya yakni batu kenong yang selalu digunakan Sunan Kedu untuk bermunajat kepada Allah SWT. Serta Mbelik Sumber Jaya, yang konon airnya dipercaya sebagai obat dan pelarisan,” tutup Maslani.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Brebes Zona Merah, 16 Alumni Ijtima Ulama Gowa Positif Covid-19

0
Ilustrasi petugas medis di sebuah rumah sakit di Semarang sedang melakukan simulasi penanganan Corona. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Berdasarkan hasil laboratorium, banyak alumni ijtima ulama Gowa dinyatakan positif Covid-19. Terbaru, sebanyak 15 orang di Kabupaten Brebes yang mengikuti ijtima ulama di Gowa tersebut dinyatakan positif Covid-19. Sebelumnya, satu orang yang berasal dari klaster sama sudah lebih dulu dinyatakan positif di Brebes, sehingga total saat ini ada 16 orang alumni ijtima ulama Gowa di Brebes yang positif.

“Saya minta sekali lagi, untuk kesekian kalinya kepada kawan-kawan yang kemarin ikut ijtima ulama di Gowa. Tolong betul-betul mendaftar dan melapor agar bisa dilakukan penanganan dengan cepat,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di rumah dinasnya, Rabu (6/5/2020).

Baca juga : Kasus Covid-19 di Jateng Tinggi, Ganjar Kumpulkan Pengelola Laboratorium PCR

Sebelumnya lanjut Ganjar, Brebes adalah satu-satunya daerah yang masih kuning karena belum ada kasus positif Covid-19. Saat ini, daerah itu sudah menjadi merah dan penyebabnya adalah klaster Gowa. Penyebaran Covid-19 dari klaster Ijtima Ulama Gowa ini menjadi perhatian serius Ganjar.

“Klaster Gowa ini akan menjadi perhatian kami. Saya meminta Bupati/Wali Kota dan khususnya Dinas Kesehatan masing-masing daerah untuk mencari, mengejar sampai dapat mereka-mereka yang kemarin ikut ijtima ulama Gowa. Cari betul-betul, agar bisa dicek kesehatannya,” tegasnya.

Dari data sementara yang didapat, Ganjar menerangkan bahwa ada sekitar 1.500 warga Jateng yang mengikuti ijtima ulama di Gowa. Meski acara dibatalkan, namun mereka sudah terlanjur sampai di lokasi itu.

“Itu (1500 orang) akan kami cari satu persatu termasuk tracking kontak selama ini. Saya mohon kepada siapapun panjenengan yang kemarin ikut ke Gowa, tolong bantu kami dengan lapor dan mengkarantina diri. Sebab kalau tidak, ini bisa menjadi outbreaks baru di Jateng,” tegasnya.

Baca juga : Lagi-Lagi Bertambah, 13 Tenaga Medis di Kudus Positif Covid-19

Ganjar mengatakan, akan bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk menyelesaikan ini. Pihaknya juga akan membentuk tim khusus untuk mencari mereka yang mengikuti acara ijtima ulama Gowa.

“Termasuk kami memanfaatkan program Jogo Tonggo untuk bisa membantu memberikan informasi apakah di desanya masing-masing ada orang-orang itu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Minta Tes PCR Diprioritaskan pada Tenaga Kesehatan RS Mardi Rahayu

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta laboratorium di Jawa Tengah memprioritaskan tes PCR terhadap tenaga kesehatan Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Ini disampaikan setelah ada 13 tenaga medis di rumah sakit tersebut dikonfirmasi positif Covid-19.

Ganjar mengatakan, prioritas ini penting  agar hasil tes segera didapat dan dilakukan penanganan intensif terhadap para tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut.

“Mereka semua sudah dirawat, kemarin kami bantu rapid test dan beberapa sudah masuk PCR test. Tapi karena PCR di beberapa laboratorium banyak, itu belum sempat diterima di beberapa lab. Sudah kami rapatkan dan kami minta diprioritaskan. Sekarang sudah berproses,” kata dia, Rabu (6/5/2020).

Baca juga: Lagi-Lagi Bertambah, 13 Tenaga Medis di Kudus Positif Covid-19

Selain itu, Ganjar juga sudah berkomunikasi dengan Dirut Rumah Sakit Mardi Rahayu dr Pujianto untuk memperketat protokol kesehatan. Termasuk pelacakan secara ketat terhadap tenaga kesehatan yang dinyatakan positif, agar diketahui siapa saja yang telah berhubungan dengannya.

“Beberapa dokter yang diisolasi juga sudah komunikasi dengan saya, kemarin kita bantu rapid test dan sekarang masuk PCR. Kami berharap mudah-mudahan di Kudus ini bisa segera terdeteksi positif negatifnya, sehingga penanganannya bisa lebih pas,” tegasnya.

Baca juga: Tidak Semua Nakes RS Mardi Rahayu Dites Swab, Hanya yang Reaktif Covid-19

Terkait penanganan masa isolasi, Ganjar akan menyediakan tempat khusus seperti yang dilakukan kepada tenaga medis di RSUP Kariadi Semarang, beberapa waktu lalu.

“Kemarin dari luar Kariadi sudah ada yang komunikasi ke kita untuk meminta beberapa tempat, ada dokter dari luar Kariadi juga sudah menempati fasilitas di hotel kami Kesambi Hijau. Nanti kami siapkan kalau memang perlu, kami punya tempat banyak seperti balai diklat dan tempat lain yang bisa digunakan,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Gandeng Banom NU, Anggota DPRD Jateng Bagikan Sembako

0
Seorang relawan sedang menata sembako bantuan dari Anggota DPRD Jateng yang hendak dibagikan kepada warga terdampak Covid-19, Selasa (5/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Anggota DPRD Jawa Tengah Mawahib menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak Covid-19. Dalam prosesnya, dirinya menggandeng Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU), seperti GP Ansor, Fatayat NU, dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BPKRMI) Kabupaten Kudus.

Menurut Mawahib, dengan mengikutsertakan banom NU tersebut, pihaknya dapat menghindari kerumunan warga di masa pandemi Covid-19.

“Jadi memang sengaja kami menggandeng banom NU agar pembagiannya memperhatikan physical distancing,” ungkapnya saat ditemui di SMK Assaidiyah 2 Kudus, Selasa (5/5/2020).

Anggota GP Ansor menerima bantuan sembako dari Anggota DPRD Jateng yang hendak dibagikan kepada warga terdampak Covid-19, Selasa (5/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

Wakil rakyat dari Partai Golkar ini melanjutkan, selain memperhatikan jaga jarak fisik, menggandeng banom NU juga dirasa tepat. Karena menurutnya, penyaluran bantuan ini akan dibantu pengurus di setiap desa, sehingga penerima sembako tepat sasaran.

“Di setiap desa pasti mengenal betul mana tetangganya yang membutuhkan. Terutama yang terdampak Covid-19,” tuturnya.

Baca juga: Hindari Pro Kontra, Ganjar Ingatkan Bantuan Pemda Jangan Diberi Stiker Kepala Daerah

Target penerima sembako adalah masyarakat terdampak Covid-19, khususnya yang belum menerima bantuan sosial seperti BLT dan PKH.

“Jumlahnya 3.500 paket sembako. Untuk yang siap hari ini seribuan,” jelasnya.

Isi dari paket sembako tersebut yaitu beras, gula dan minyak goreng. Selain itu, pihaknya juga membagikan 15 ribu masker kepada masyarakat.

“Kalau masker di sini ready terus. Jumlahnya ribuan. Jadi stok aman,” tambahnya.

Mawahib melanjutkan, dia juga mendonasikan alat pelindung diri (APD) kepada tenaga medis di Kudus. Menurutnya, tim medis yang berada di garda depan harus didukung penuh keamanannya.

Baca juga: Satpol PP Kudus Terjun ke Pasar untuk Putus Penyebaran Covid-19

Sebagai anggota Komisi E DPRD Jateng, dia mengimbau agar masyarakat mematuhi arahan dari pemerintah. Pihaknya masih menemukan masyarakat yang tidak melakukan physical distancing dan mengenakan masker.

“Jika terpaksa keluar rumah. Harus terapkan sosial distancing, physical distancing dan pakai masker,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Saptaria Fashion, Produksi Hijab Premium Harga Miring

0
Maesah Anggni sedang mengecek produk hijab di Saptaria Fashion, Senin (4/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Langit mulai gelap ketika dua pegawai perempuan sedang sibuk merapikan tumpukan hijab di toko Saptaria Fashion yang berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Ruangan cukup luas itu terlihat begitu berwarna dengan berbagai produk fashion perempuan muslim yang dipajang memenuhi hampir seluruh sudut.

Rak-rak kayu coklat di samping kanan dan kiri dipenuhi dengan produk kerudung berbagai warna dan bentuk. Tepat di tengah toko, seorang pria tampak mengecek puluhan produk baju muslim dengan model beragam. Sementara itu, maneken-maneken berbaju panjang lengkap dengan jilbab di pajang di depan dinding kaca menghadap ke depan toko.

Toko Saptaria Fashion tampak depan. Foto: Titis Widjayanti.

Pria tersebut adalah Manajer Saptaria Fashion Maesah Anggni (40). Saat ditemui, ia menjelaskan, merek yang dirintis sejak tiga tahun lalu itu mengunggulkan hijab premium yang dibuat dengan desain elegan.

“Kalau di sini memang produk unggulannya kerudung, meskipun fashion lain juga kami buat. Seperti gamis dan baju muslim dari atasan sampai bawahannya juga ada,” kata Maesah, Senin (4/4/2020).

Baca juga: Tampil Beda dengan Gamis Eksklusif Produksi Aneka Griya Muslim

Menurutnya, yang membuat produk Saptaria spesial adalah penggunaan bahan jersey twist, ceruty, dan lain-lain dengan kualitas grade premium.

“Tapi dari jenis-jenis itu, kan, memang gradenya juga berbeda-beda di pasaran. Nah, kami memakai grade premium. Jadi secara kualitas memang kami pastikan bagus. Karena sasaran kami adalah kelas menengah ke atas,” ungkap dia.

Meski kualitas bahannya grade premium, menurut Maesah, harga kerudung di Saptaria masih cukup terjangkau. Yakni dibanderol dari harga Rp 70 ribu hingga Rp 140 ribu. Sedangkan untuk agen dan reseller harganya tentu ada di bawah itu.

“Untuk kerudung sendiri produk paling mahal dan unggulan yang berbahan jersey twist. Hal ini karena bahan tidak panas dan seperti bahan kaos yang mampu dengan mudah menyerap keringat,” jelasnya.

Baca juga: Libur Sekolah Akibat Corona, Essa Manfaatkan Waktu Luang untuk Berjualan Kaus

Sejauh ini, produk-produk Saptaria bisa didapatkan di toko, media sosial Instagram galeri.saptaria, dan melalui agen atau reseller di berbagai kota Jawa Tengah.

“Untuk memenuhi pesanan pembeli, setiap harinya kami memproduksi sebanyak 3.000 potong kerudung,” tutup Maesah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Lebih Menjanjikan dan Tak Ada Matinya, Usman Sukses Budi Daya Lele

0
Usman Assegaf sedang memberi makan lele di tempat budi daya miliknya, Sabtu (2/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Bangunan beratap fiber berdinding seng di sebuah persawahaan Dukuh Kadilangon, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, sore itu tampak sepi aktivitas. Hanya ada seorang pria yang sedang menakar pakan sambil berbincang-bincang dengan calon pembeli.

Setelah dirasa cukup, pakan yang ditakar itu kemudian dibawa dan ditaburkan ke belasan kolam berbentuk bulat yang berisi lele. Sontak, ikan berpatil tersebut kemudian berebut mendapatkan pakan. Seusai memberi makan, pria yang diketahui bernama Usman Assegaf (42) itu lantas menceritakan usaha yang ditekuinnya itu.

Usman Assegaf sedang menjelaskan kondisi lele kepada calon pembeli di tempat budi daya miliknya, Sabtu (2/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

Pria yang akrab disapa Usman itu mengatakan, sudah sembilan bulan menekuni usaha budi daya lele. Ia memilih bisnis pendederan, yaitu menyediakan bibit lele ukuran tujuh hingga sembilan sentimeter. Menurutnya, perputaran uang di penjualan lele ukuran itu bisa lebih cepat.

“Pendederan itu kita beli bibit lele ukuran tiga sampai lima sentimeter. Dipelihara satu bulan sudah bisa panen dan sudah bisa dijual,” ujar Usman, Sabtu (2/5/2020).

Baca juga: Harga Sentuh Rp 5 juta per Ekor, Suyatno Bagikan Tips Sukses Ternak Ayam Kalkun

Selain itu, kata dia, pendederan juga lebih irit pakan daripada proses pembesaran lele. Dalam masa satu panen, biasanya menghabiskan sekitar 13 kilogram pelet pur. Selain itu juga tidak terlalu ribet kayak proses pemijahan ikan berpatil tersebut.

“Bibit lele dari proses budi daya pendederan juga lebih diminati para peternak lele pembesaran. Sebab bisa mempersingkat waktu panen,” jelas Warga Desa Glantengan, Kecamatan Kota, kabupaten Kudus itu.

Dalam penjualannya, ia menyediakan bibit lele ukuran tujuh sampai sembilan sentimeter, sampling satu kilogram berisi 125 ekor dengan harga Rp 250 ribu per seribu ekor. Ukuran delapan dan dua belas sentimeter, sampling satu kilogram berisi 70 ekor dihargai Rp 350 ribu per seribu ekor.

“Sedangkan untuk lele baru gede (LBG), sampling 40 ekor per kilogram kami jual dengan harga Rp 25 ribu,” jelas pria yang saat itu mengenakan celana loreng tersebut.

Dia menuturkan, merintis usaha budi daya ikan lele karena menurutnya sektor agribisnis lebih menjanjikan. Sebab, setiap manusia itu pasti membutuhkan protein hewani. Satu di antaranya dari ikan, termasuk ikan lele.

“Jadi usaha budi daya lele itu selain menjanjikan juga gak ada matinya. Karena setiap orang pasti butuh ikan sebagai pelengkap atau lauk makan,” jelas pria berjenggot tersebut.

Baca juga: Melihat Proses Pengasapan Ikan di Doropayung Pati

Usman bersyukur, meski baru sembilan bulan terjun di usaha budi daya lele, pelanggan sudah lumayan banyak. Selain dari Kudus ada juga pembeli dari Jepara dan Demak. Saat ini, per bulan dia mampu menjual 30 ribu ekor bibit lele.

“Sudah lumayan sih penjualannya. Namun masih jauh dari target. Karena target saya, sebulan harus bisa menjual 100 ribu ekor bibit lele,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Berawal dari Hobi, Kini Seni Patung jadi Jalan Hidup Bagi Baruno

0
Salah satu patung yang diproduksi di Studio Patung Baruno Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Pati. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, seorang lelaki berkumis dan berkaus hitam sedang sibuk bergulat dengan tanah liat di sebuah studio patung pinggir sawah. Bersama seorang pria berambut gondrong, lelaki bernama Baruno Sidi (48) itu sedang mengerjakan sebuah patung Budha ukuran besar. Bentuk setengah jadi dari cetakan yang ia buat terlihat mulai mengering. Oleh karena itu, sesekali ia sengaja menyemprotnya dengan air supaya tidak retak.

Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta tahun 1993 tersebut, merupakan seniman patung sekaligus pemilik Studio Baruno yang sberada di Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati.

Baruno Sidi sedang menyelesaikan proses pembuatan patung. Foto : Titis Widjayanti

Baruno bercerita, jika sebelum mendirikan studio sendiri pada tiga tahun lalu, dirinya sudah bekerja di studio-studio terkenal di Yogyakarta berpuluh tahun lamanya. Ia juga menceritakan awal mula menerjuni seni rupa hingga sekarang menjadi mata pencaharian bapak dari dua anak tersebut.

Baca juga : Intip Proses Pembuatan Patung di Desa Tamansari Pati

“Sebenarnya dari dulu, saya sudah suka membuat patung. Saya kan asli Purwodadi, terus ada tetangga saya yang kuliah Seni Tari di Jogja. Dia memberitahu kalau di sana ada sekolah menengah yang mempunyai jurusan seni rupa. Dari sana saya sekolah dan mendapatkan banyak ilmu sampai kenal beberapa seniman patung terkenal,” ungkap Baruno, Sabtu (2/4/2020).

Katanya, usai lulus sekolah, ia ikut beberapa studio milik salah satu dosen ISI Jogja, Ichwan Noor dalam ajang perlombaan membuat patung. Pada saat itu, berhasil menyabet juara satu. Hingga akhirnya, beberapa kali ia ikut mengerjakan pesanan dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan.

Sambil masih menumpuk lempung, ia meneruskan cerita. Dikatakan Baruno, studionya sendiri baru mulai dibuka tiga tahun yang lalu. Akan tetapi memang ia belum bisa banyak bergerak. Karena selain terkendala modal, ia mengakui belum punya koneksi serta sumber daya manusia yang mumpuni.

Baruno mengatakan, bahwa seni patung masih banyak diperlukan, utamanya untuk membuat ikon-ikon daerah atau usaha seperti waterboom dan sebagainya. Akan tetapi perupa patung yang ada sudah mulai berkurang.

Baca juga : Panggilan Mertua Pembuka Jalan Takdir Gimbal Jadi Seniman Bambu

“Membuat patung kan nggak sembarangan. Ada ilmunya, ada pengalamannya. Jadi untuk saat ini, masih susah mencari perupa patung yang benar-benar bisa membuat patung. Padahal secara pasar, masih terbuka lebar. Dari sana, saya mencoba berani membuat studio sendiri mengandalkan koneksi lama. Sampai saat ini memang rata-rata per bulan ada pesanan dua sampai 3 patung. Itu kadang dari sekitar Pati sendiri, Semarang sama Bali,” kata dia.

Hal tersebut yang membuat Baruno ingin terus melanjutkan hobinya menjadi sebuah kisah inspiratif bagi para pemuda. Ia berharap, nantinya seni rupa, khususnya patung masih ada penerus. Untuk saat ini, ia masih merintis Showroom Patung Baruno untuk memamerkan dan meletakkan patung-patung buatannya. Selain itu, dia juga akan merambah patung gerabah dan keramik di waktu dekat.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pertigaan Bacin dan Perempatan Besito Kini Sudah Terpasang Traffic Light

0
Pertigaan Bacin kini sudah dilengkapi dengan traffic light. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pertigaan yang mempertemukan antara Jalan Sostrokartono dengan Jalan Kapten Ali Mahmudi tampak ramai. Dengan sigap Pak Ogah bertopi orange yang berada di Pertigaan Bacin terlihat sibuk menyeberangkan pengendara. Dia seorang diri mengatur pengendara dari arah utara, selatan dan timur.

Sebenarnya di pertigaan jalan tersebut baru saja terpasang traffic light atau lampu lalulintas. Namun, saat ini masih belum difungsikan.

Menurut Rustam (36), salah seorang pengendara yang lewat, baru menyadari jika Pertigaan Bacin sudah dipasang traffic light. Hal itu dinilainya baik, karena pertigaan tersebut jalan utama dan kondisinya ramai.

“Eh iya ya. Saya baru tahu jika sudah terpasang lampu lalu lintas. Sini soalnya ramai,” ungkapnya saat ditemui usai belanja di toko modern sekitar Pertigaan Bacin, Selasa (5/5/2020).

Baca juga : Pertamina Promo Pertamax Cashback 30 Persen, Banyak Warga Kudus Belum Tahu

Dia menjelaskan, saat jam berangkat dan pulang kerja kondisi di tempat tersebut ramai. Kadang karena terlalu ramai, sampai ada Pak Ogah dua hingga tiga orang.

“Saya pernah naik motor hampir saja tabrakan dengan pengendara timur. Saat itu saya mau ke arah kota,” ungkap warga yang tinggal di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Menurutnya dengan adanya traffic light tersebut, dia lebih tenang dan nyaman saat melintas. Selain itu, pengendara pun lebih tertib dan menghindari adanya kecelakaan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil mengungkapkan, jika pemasangan traffic light di Pertigaan Bacin baru dilakukan. Selain di tempat itu juga di Perempatan Besito.

Pemasangan traffic light di kedua tempat tersebut, menurutnya memang perlu dilakukan, karena daerah itu tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Selain itu, juga jalur utama yang ramai.

“Akhir bulan ini sudah bisa digunakan. Sekarang tinggal menunggu aliran listrik dari PLN dan izin pemasangannya sudah kami kirimkan,” ungkapnya.

Halil menuturkan, traffic light yang dipasang masih di Pertigaan Bacin maupun Perempatan Besito masih menggunakan sistem lama atau manual. Tidak seperti di Perempatan Jember yang sudah menggunakan sistem Intelligent Transport System Area Traffic Control System ( ITS ATCS).

Baca juga : Satpol PP Kudus Terjun ke Pasar untuk Putus Penyebaran Covid-19

Dia mengakui, kalau untuk ITS ATCS, sistemnya sudah canggih. Sistem bisa mendeteksi kepadatan lalu lintas. Jadi lamanya waktu lampu merah, kuning dan hijau akan lebih fleksibel sesuai dengan kepadatan kendaraan.Sedangkan, harganya menurutnya juga cukup mahal.

“Kalau untuk pemasangan traffic light sebanyak dua tempat yang baru ini (Bacin dan Besito), kami anggarkan Rp 900 juta dari APBD 2020,” tambahnya.

Kemudian, apakah masih perlu adanya penambahan traffic light atau tidak untuk di Kudus, menurutnya saat ini sudah cukup.Namun, yang perlu diubah adalah sistemnya. Yakni dari manual ke ITS ATCS,

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hindari Pro Kontra, Ganjar Ingatkan Bantuan Pemda Jangan Diberi Stiker Kepala Daerah

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta seluruh bantuan sosial yang diberikan kepada warga terdampak Covid-19 menggunakan label atau logo pemerintah daerah. Ini dilakukan Ganjar demi menghindari pro kontra di masyarakat, soal penempelan stiker bergambar kepala daerah dalam penyaluran bantuan tersebut.

“Kalau bantuan itu dari pemerintah, ya, pakai label pemerintah saja,” terangnya, Selasa (5/5/2020).

Baca juga: Rawan Masalah, Ganjar Minta Penyaluran Bansos Tidak Kaku

Menurut Ganjar, masyarakat akan menilai negatif penempelan gambar kepala daerah, lantaran terkesan sedang berkampanye. Apalagi, beberapa kepala daerah di Jateng menjadi inkumben di Pilkada mendatang.

“Sebenarnya tidak keliru amat karena memang faktanya mereka yang inkumben itu dia yang saat ini memimpin. Tapi tidak pas saja,” terangnya.

Baca juga: Pemuda di Sejumlah Desa di Jepara Bergerak Aplikasikan Program Jogo Tonggo

Ganjar mempersilahkan jika label yang digunakan dalam bansos untuk menunjukkan jabatan. Namun, kalau itu ada ajakannya, itu yang akan menjadi masalah.

“Maka yang paling enak, tidak usah menggunakan label, itu sensi (sensitif),” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tiga Skenario Disiapkan Ganjar untuk Amankan Stok Pangan di Jateng saat Pandemi

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Di tengah pandemi Covid-19, ketahanan pangan di Jawa Tengah dipastikan masih aman. Dari semua kebutuhan pokok, hanya gula dan bawang putih yang stoknya menipis. Persoalan gula dan bawang putih sudah bisa diselesaikan dengan masuknya komoditi impor oleh pemerintah pusat.

“Sekarang sudah aman, bahkan akibat bawang putih impor sudah masuk, ada 6.000 ton bawang putih milik petani di Temanggung tidak terbeli karena tidak bisa bersaing. Kami dari Pemprov dan Pemkab Temanggung sudah membuat gerakan membeli dan sekarang sudah teratasi,” ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Baca juga : Rawan Masalah, Ganjar Minta Penyaluran Bansos Tidak Kaku

Secara keseluruhan, lanjut Ganjar, stok pangan di Jateng masih sangat aman. Bahkan meski di tengah pandemi yang membuat masyarakat terdampak serta bertambahnya penduduk akibat masuknya pemudik, stok pangan di Jateng masih relatif aman.

“Kami sudah menyiapkan skenario dan mekanismenya, termasuk memenuhi seandainya yang masuk ke Jateng lebih banyak. Entah mereka yang lolos dari PSBB dan masuk ke Jateng atau masyarakat yang kena PHK dan terdampak Covid-19. Kita semua sudah menyiapkan,” katanya.

Setidaknya, lanjut Ganjar, pihaknya memiliki tiga skenario untuk mengamankan stok pangan Jateng di tengah pandemi. Ketiga skenario itu dihitung dengan jumlah penduduk, penambahan pemudik dan kemampuan ketahanan pangan.

Skenario pertama, jika jumlah penduduk Jateng masih tetap di angka 34,5 juta jiwa, maka ketahanan stok pangan di Jateng lanjut dia bisa bertahan 13 bulan ke depan. Kondisi beras aman dan untuk kekurangan gula pasir dan bawang putih bisa dicukupi dari impor.

Baca juga : Ganjar Minta Perusahaan Ikut Bantu Buruh yang Kena PHK dan Dirumahkan

“Kalau penduduk saat ini ketambahan pemudik kira-kira 500.000 an, maka stok pangan kita bisa bertahan 11,5 bulan. Namun kalau penduduk sekarang ketambah pemudik sejuta, kalau ini terjadi maka ketahanan pangan kita stoknya jadi 11 bulan,” terangnya.

Untuk itu, Ganjar tidak khawatir dengan stok pangan di Jateng. Apalagi, saat ini sudah masuk musim panen.

Editor : Kholistiono

- advertisement -