BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit Mardi Rahayu melakukan tes swab kepada tenaga kesehatannya yang hasil RDTnya reaktif Covid-19, bukan seluruh karyawan di rumah sakit tersebut.
Informasi ini sekaligus sebagai ralat pemberitaan sebelumnya yang berjudul “Seluruh Tenaga Medis RS Mardi Rahayu Dites Swab” yang tayang Senin (5/5/2020) pukul 13.14 WIB.
Direktur Utama RS Mardi Rahayu dr Pujianto menjelaskan, sejak 20 April sampai 29 April 2020, pihaknya sudah melakukan skrining menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) ke seluruh tenaga kesehatannya. Dari total 1.423 orang, 15,8 persen hasil RDTnya reaktif Corona.
“Selanjutnya kami melakukan tes swab kepada 15,8 persen (tenaga kesehatan) yang reaktif Corona,” jelasnya saat ditemui selepas rapat dengan Plt Bupati Kudus, Senin (5/4/2020).
Dari 15,8 persen yang RDTnya reaktif tersebut, lanjutnya, terdapat 37 tenaga kesehatan dinyatakan negatif dan 13 dikonfirmasi positif Covid-19, setelah hasil swabnya turun.
“Sesuai instruksi dari Dinkes Kabupaten Kudus, tenaga kesehatan yang hasil swabnya positif isolasinya dilanjutkan di ruang perawatan di RS Mardi Rahayu,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan RDT kepada 763 orang yang kontak erat dengan tenaga kesehatan yang RDTnya reaktif. Proses skrining ini akan berakhir 5 Mei 2020.
Menyadari pentingnya skrining dengan RDT bagi masyarakat umum, RS Mardi Rahayu kemudian membuka layanan pemeriksaan RDT ini. Layanan yang menggunakan Drive Thru tersebut dimulai Selasa (5/5/2020). Untuk mengikuti rapid test ini, masyarakat akan dikenai biaya Rp 400 ribu. Sedangkan pendaftaran, jadwal pemeriksaan dan hasil tes nantinya akan dikirim secara daring.
“Layanan rapid test yang dilakukan menggunakan mesin Imunoserologi dari Korea. Sehingga hasilnya lebih sensitif dibandingkan metode RTD dengan stik,” bebernya.
Pujianto juga menjelaskan, RDT bukanlah tes untuk menentukan sesorang positif terinfeksi Corona atau tidak. Penentuan positif Covid-19 ditentukan dari hasil pemeriksaan swab melalui metode Polymerase Chain Reaction (PCR).
“Dari hasil RDT ini, masyarakat akan bisa lebih hati-hati. Masyarakat harus tetap melakukan social distancing, physical distancing dan bila hasilnya reaktif, wajib melakukan isolasi mandiri. Sekali lagi saya tegaskan, RDT bukan diagnosis positif Corona tetapi upaya skrining,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

