FFAB 2026 Jadi Ruang Sineas Muda, Hadirkan Cerita-Cerita yang Selama Ini Tak Terlihat

BETANEWS.ID, KUDUS – Festival Film Anak Bangsa (FFAB) kembali diselenggarakan pada tahun 2026. Setidaknya ada puluhan peserta yang mengikuti festival yang digelar sebagai ruang apresiasi dan pengembangan kreativitas generasi muda di bidang perfilman.

Mengusung tema “Scene The Unseen”, festival ini mendorong para pembuat film muda dan independen untuk mengangkat cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, pihak penyelenggara mencatat sebanyak 92 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti proses submisi film. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 film berhasil lolos kurasi dan akan menjadi bagian dari rangkaian Festival Film Anak Bangsa 2026.

-Advertisement-

Sebagai bentuk apresiasi dan upaya memperluas jangkauan penonton, 30 film yang lolos kurasi ditayangkan secara daring dan gratis melalui situs Sinea.id. Melalui platform tersebut, masyarakat dapat menikmati karya-karya terpilih tanpa biaya sekaligus ikut merayakan keberagaman cerita yang hadir dari berbagai sudut Indonesia.

Baca juga : Lewat Paskibraka, Airin Ingin Membalas Cinta Orang Tuanya

Panitia FFAB 2026, Elang Ade Iswara, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyelenggarakan program diskusi dan pemutaran film di enam titik, yakni Kudus, Jepara, dan Pati, sebelum memasuki rangkaian utama festival. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk tidak hanya menghadirkan film sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan, percakapan, dan pembelajaran bersama masyarakat.

Melalui program tersebut, kata dia, pihaknya juga berupaya mendekatkan film kepada komunitas lokal sekaligus menciptakan ruang dialog antara pembuat film, penonton, dan pelaku kreatif. Inisiasi tema tersebut dilatarbelakangi keinginan untuk memberi ruang bagi cerita-cerita di sekitar masyarakat yang jarang terdengar, tidak terlihat, atau tidak terdokumentasikan.

“Cerita tentang rumah, pertemanan, pekerjaan, keresahan, mimpi, dan kehidupan komunitas menjadi bagian dari realitas sehari-hari yang sering dianggap biasa, padahal memiliki nilai kemanusiaan dan kekuatan cerita yang besar,” ujarnya saat konferensi pers di RKBBR, Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2026).

Menariknya, pada penyelenggaraan yang kedua ini terdapat dua peserta dari Kudus yang ikut dalam festival tersebut. Sebelumnya, tidak ada satu pun peserta dari Kota Kretek yang berpartisipasi.

Menurut perwakilan GsT, Asa Jatmiko, hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri karena tujuan besar penyelenggaraan festival ini adalah menjadikan Kudus sebagai pusat kesenian yang mampu menggali potensi anak muda di bidang perfilman.

“Menjadikan Kudus sebagai wadah berkumpulnya insan seni muda. Supaya Kudus dapat dikenal memiliki potensi kesenian, terutama di bidang perfilman, hingga ke luar daerah,” jelas Asa.

Ia menegaskan bahwa festival ini merupakan ruang penting untuk mendukung tumbuhnya generasi muda dan komunitas film. Kehadiran GsT dalam festival ini menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan ruang-ruang kreatif yang memungkinkan anak muda bertemu, belajar, berdiskusi, dan berkarya melalui medium film.

Sementara itu, salah satu dewan juri FFAB 2026, Cornel Innos, menuturkan bahwa proses kurasi tidak hanya dilihat dari aspek teknis, tetapi juga kekuatan gagasan, cara bertutur, relevansi tema, serta kemampuan film dalam menghadirkan perspektif yang jujur dan segar.

Ia mengungkapkan bahwa tema yang diangkat dalam festival tersebut dapat menjadi pijakan dalam membaca karya-karya peserta, terutama dalam melihat bagaimana film mampu mengangkat pengalaman yang dekat dengan kehidupan, tetapi sering luput dari perhatian.

“Dalam proses kurasi, ternyata cukup sulit menentukan film yang lolos karena secara keseluruhan kualitas karya yang masuk sangat baik. Namun, yang perlu kami tekankan dan prioritaskan adalah karya yang sesuai dengan tema serta durasi film yang telah ditentukan panitia,” terangnya.

Sebagai informasi, dewan juri dalam penyelenggaraan festival tersebut terdiri atas sejumlah profesional di bidang perfilman. Mereka adalah Faradina Mufti, aktris nasional; Wahyu Agung Prasetyo, sutradara Ravacana Films; serta Cornel Innos, sutradara GsT.

Keterlibatan para juri ini diharapkan dapat menjaga kualitas penilaian sekaligus memberikan nilai edukatif bagi para peserta. Rangkaian kegiatan FFAB 2026 meliputi submisi film, penjurian, pemutaran film, diskusi film, dan malam penganugerahan. Melalui rangkaian tersebut, Festival Film Anak Bangsa berkomitmen membangun ekosistem perfilman yang inklusif, kreatif, dan berkelanjutan.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER