BETANEWS.ID, KUDUS – Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) masih terlihat di kawasan Gunung Muria. Burung yang berstatus langka dan dilindungi tersebut terancam punah karena populasinya yang diperkirakan kurang dari 50 ekor.
Berdasarkan pemantauan terbaru yang dilakukan Komunitas Penggiat Konservasi Alam Muria (Peka), populasinya di kawasan Gunung Muria tercatat sekitar 20 ekor. Jumlah tersebut bertambah dibandingkan hasil pendataan sebelumnya yang mencatat 14 ekor.
Ketua Komunitas Peka, Teguh Budi Wiyono, menyampaikan bahwa beberapa hari terakhir pihaknya bersama tim melakukan pemantauan aktivitas satwa endemik, khususnya Elang Jawa yang kerap dijuluki Burung Garuda. Pemantauan dilakukan untuk mendeteksi jumlah burung yang masih bertahan hidup di kawasan Gunung Muria.
“Kegiatan pemantauan ini untuk mendeteksi aktivitas pergerakan, tempat tinggal, atau lokasi sarang burung. Pemantauan ini membutuhkan waktu lama hingga berjam-jam untuk melihat burung menampakkan diri di langit Pegunungan Muria,” tuturnya.
Ia mengaku satwa endemik Muria tersebut terancam punah. Meski demikian, hasil identifikasi di sejumlah titik baru menunjukkan aktivitas perkembangbiakan Elang Jawa masih terjaga.
“Awalnya kami mencatat ada sekitar 14 ekor, sekarang ada sekitar 20 ekor. Ada beberapa titik baru yang berhasil kami pantau keberadaannya,” ujarnya.
Menurutnya, perilaku Elang Jawa di Gunung Muria memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan Elang Jawa di daerah lain. Jika di kawasan lain Elang Jawa cenderung beraktivitas di dalam hutan, di Gunung Muria burung ini kerap terlihat mendekati area permukiman warga.
Baca juga : Kabupaten Kudus Percepat Program Kampung Iklim, Tiap Desa Ditarget Miliki Satu Lokasi
“Beberapa kali terlihat di tepi permukiman, padahal sarangnya berada di dalam hutan,” jelasnya.
Tak hanya itu, Peka Muria juga mencatat ada delapan jenis burung pemangsa di kawasan Muria. Di antaranya Elang Jawa, Elang Hitam, Elang Bido, Elang Brontok, Alap-alap Jambul, Alap-alap Sapi, Elang Sikep, dan Elang Laut.
“Seharusnya Elang Laut berada di daerah pesisir, tapi kami pernah menjumpainya. Barangkali karena ada mangsanya sehingga habitatnya sampai di Muria,” terangnya.
Pihaknya menuturkan, hingga saat ini upaya konservasi dan pemantauan terus dilakukan agar satwa endemik tersebut tidak punah. Melalui kolaborasi dengan Djarum Foundation dan Burung Indonesia, Peka Muria saat ini mencatat ada 118 jenis burung yang hidup di kawasan Muria.
Pada 2024, pihaknya fokus melakukan pemantauan seluruh jenis burung. Selanjutnya, pada 2025 pemantauan difokuskan pada jenis elang, sedangkan pada 2026 difokuskan pada pemantauan sarang burung elang.
“Untuk pemantauan sendiri kami sering melakukannya pada musim berkembang biak, yakni sekitar Mei hingga Oktober. Jadi hingga saat ini masih berlangsung,” ungkapnya.
Teguh mengatakan habitat Elang Jawa hampir tersebar di seluruh kawasan puncak Muria. Menurutnya, burung pemangsa tersebut membuat sarang di pohon-pohon besar, seperti jenis Ficus, pranak, maupun pohon hutan yang rimbun.
Ia mengungkapkan, secara nasional populasi Elang Jawa diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 hingga 500 ekor yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali. Oleh karena itu, ia menegaskan satwa yang berada di kawasan Muria perlu terus dijaga kelestariannya.
Gunung Muria saat ini masih menjadi habitat berbagai satwa liar langka, seperti macan tutul Jawa, rusa, babi hutan, monyet ekor panjang, pleci Muria, hingga kucing hutan.
Satwa macan tutul Jawa sebagai predator puncak di Gunung Muria tercatat berjumlah 14 ekor, terdiri atas sembilan betina dan lima jantan. Ia menyebut sebenarnya ada dua anak macan tutul yang terdeteksi. Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah kedua anak tersebut mampu bertahan hingga dewasa.
Sementara itu, keberadaan macan kumbang (macan tutul berwarna hitam) diduga masih ada di kawasan Muria, tetapi belum berhasil didokumentasikan.
“Biasanya indukan macan melepas anaknya setelah tiga bulan. Setelah itu dibiarkan berburu sendiri. Ada kemungkinan juga dimangsa macan lainnya,” terangnya.
Editor: Kholistiono

