BETANEWS.ID, KUDUS – Musim kemarau membuat ketersediaan air menjadi salah satu persoalan bagi petani. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas pertanian di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.
Sejumlah petani masih bisa mengairi lahan mereka dengan memanfaatkan sumur dangkal. Keberadaan sumber air tersebut membuat lahan tetap dapat ditanami meski pasokan air hujan mulai tidak tersedia.
Salah seorang petani Desa Gulang, Selamet Utomo, mengatakan dirinya sudah sekitar lima tahun menggeluti dunia pertanian. Menurutnya, saat musim kemarau tiba, sumur dangkal menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertaniannya.
“Kalau musim kering ini kita mengandalkan air dari sumur dangkal. Kita airi supaya tetap ada hasilnya,” ujar Selamet.
Menurutnya, keberadaan sumur dangkal justru membuat hasil pertaniannya lebih baik dibandingkan sebelum sumber air tersebut tersedia. Pengairan yang tetap berjalan memungkinkan dirinya mempertahankan aktivitas bercocok tanam meski memasuki musim kering.
“Hasilnya lumayan bagus daripada sebelum ada sumur dangkal ini. Pemasukan juga alhamdulillah ada kemajuan, ada pemasukan yang lebih,” katanya.
Baca juga : Kolam Renang Kudus Bakal Ditawarkan ke Investor, Nilai Sewa Ditaksir Rp200 Juta per Tahun
Di musim kemarau seperti ini, petani Desa Gulang menanam berbagai komoditas yang sesuai dengan kondisi. Beberapa di antaranya yakni melon, cabai, jagung, hingga tembakau.
Saat musim kemarau, Selamet menyebut pengairan lahannya sepenuhnya mengandalkan air dari sumur dangkal. Air tersebut digunakan untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan pasokan air yang dibutuhkan.
“Kalau yang ditanami, ya mengambil dari sumur dangkal ini. Tapi kalau yang tidak ditanami, dibiarkan saja dan nanti menunggu musim penghujan,” jelasnya.
Menurut Selamet, kondisi tersebut membuat pilihan petani pada musim kemarau sangat bergantung pada ketersediaan sumber air. Petani yang memiliki akses terhadap sumur dangkal masih memiliki peluang untuk mengolah lahannya, sedangkan sebagian lainnya memilih tidak menanam dan menunggu datangnya musim hujan.
Ia menambahkan, pasokan air dari sumur dangkal sejauh ini masih cukup lancar. Bahkan ketika musim kemarau berlangsung, sumber air tersebut belum mengalami kondisi yang membuat pengairan terhenti.
“Alhamdulillah bagus. Sumbernya tidak putus, lancar kalau pengambilan air dari sumur dangkal ini,” ungkapnya.
Meski harus membayar setiap kali memakai air sumber untuk pertanian, dirinya mengaku tidak masalah. Sebab, menurutnya, setidaknya para petani masih bisa bertanam di kala musim kemarau.
“Untuk biaya pemakaian air ini tergantung penggunaan. Sekali pakai bayar Rp80 ribu untuk mengaliri sawah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Gulang, Aris Subkhan, menyampaikan bahwa keberadaan sumur dangkal memang ditujukan untuk kebutuhan pengairan persawahan. Menurutnya, pembangunan sumur tersebut dilakukan menggunakan dana desa.
“Jadi hasil dari aliran sumber ini bisa menjadi pendapatan asli desa (PADes),” imbuhnya.
Editor: Kholistiono

