Beranda blog Halaman 4

Usai Diperiksa 5 Jam, Pemilik Ponpes Tersangka Dugaan Pencabulan Santri di Jepara Langsung Ditahan

0

BETANEWS.ID, JEPARA – AJ, pemilik salah satu pondok pesantren (ponpes) yang diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap santrinya sendiri, kini resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polres Jepara.

AJ resmi ditetapkan menjadi tersangka pada Jumat (8/5/2026), setelah pihak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara menggelar perkara pada Kamis (7/5/2026).

Pada hari yang sama saat penetapan tersangka, penyidik Satreskrim Polres Jepara telah mengirimkan surat pemanggilan kepada AJ. Namun, AJ baru memenuhi panggilan pemeriksaan pada hari ini, Senin (11/5/2026).

Dari pantauan Betanews.id, AJ tiba di Mapolres Jepara sekitar pukul 10.00 WIB dengan didampingi kuasa hukum. AJ menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Satreskrim Polres Jepara selama kurang lebih lima jam.

Sekitar pukul 15.00 WIB, AJ yang duduk di atas kursi roda didorong oleh pihak penyidik menuju ruang sel tahanan.

Saat dibawa keluar, AJ belum mengenakan pakaian tahanan. Ia masih mengenakan baju koko berwarna abu-abu, sarung biru tua, dan peci hitam.

Baca juga : Polisi Tetapkan AJ sebagai Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan di Ponpes Jepara

Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Wildan Faizal Umar Rela, mengatakan, setelah dilakukan pengecekan kesehatan, kondisi AJ dinyatakan layak untuk ditahan.

“Dari hasil pengecekan dokter, kondisinya dinyatakan layak untuk ditahan, sehingga hari ini sudah langsung kami tahan,” ujar Wildan saat ditemui di Mapolres Jepara.

Sementara itu, kuasa hukum AJ, Nur Ali, mengatakan kondisi AJ saat ini sedang sakit. AJ disebut menderita diabetes, tekanan darah tinggi, serta gejala stroke.

“Kondisi klien kami saat ini sedang sakit, tetapi karena kami taat hukum dan kooperatif, kami tetap datang memenuhi panggilan,” katanya.

Nur Ali melanjutkan, terkait penahanan AJ, pihaknya akan berupaya mengajukan penangguhan penahanan.

“Kami tetap akan berusaha mengajukan penangguhan penahanan. Masalah dikabulkan atau tidak, itu kewenangan pihak terkait,” ujar Nur Ali.

Sebagai informasi, AJ diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap santrinya sendiri sebanyak 25 kali. Peristiwa itu terjadi pada 27 April hingga 24 Juli 2025.

Kasus tersebut terungkap saat adik korban, yang juga menjadi santri di ponpes milik AJ, tidak sengaja melihat isi percakapan korban dengan AJ. Adik korban kemudian melapor kepada orang tuanya.

Kasus tersebut baru dilaporkan kepada pihak kepolisian pada November 2025 dan naik ke tahap penyidikan pada Februari 2026.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Polisi Buru Sejumlah Remaja yang Diduga Bawa Sajam di Kawasan Perumahan di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Rekaman video yang memperlihatkan sekelompok remaja diduga membawa senjata tajam di kawasan perumahan wilayah Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, ramai beredar di media sosial. Aparat kepolisian kini turun tangan untuk menyelidiki kejadian tersebut.

Kapolsek Bae, Iptu Madiyono, membenarkan adanya laporan dari warga terkait aktivitas sekelompok remaja yang dianggap meresahkan. Peristiwa itu terjadi di salah satu perumahan di Desa Dersalam pada Minggu (10/5/2026) dini hari.

“Benar, kami menerima laporan masyarakat mengenai adanya sekelompok remaja yang membuat warga resah. Setelah menerima aduan, anggota langsung menuju lokasi untuk melakukan pengecekan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi,” ujarnya melalui siaran tertulis, Senin (11/5/2026).

Baca juga : Bupati Sam’ani Minta Pelaku Pembacokan Pelajar di Kudus Harus Diusut Tuntas

Berdasarkan informasi awal yang dihimpun polisi, lanjutnya, sejumlah remaja awalnya sedang berkumpul di area perumahan tersebut. Situasi kemudian memanas setelah muncul kelompok lain yang diduga melakukan provokasi.

“Meski sempat menimbulkan ketegangan, bentrokan berhasil dicegah karena warga segera melapor ke kepolisian. Kelompok remaja itu kemudian membubarkan diri sebelum petugas tiba di lokasi,” bebernya.

Saat ini, pihaknya masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Kudus untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga membawa senjata tajam.

“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk identifikasi melalui CCTV serta keterangan para saksi. Kami juga berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Kudus untuk mengejar kelompok yang diduga membawa sajam,” jelasnya.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Kudus, Eko Pujiyono, meminta masyarakat tidak mudah terpancing dengan video yang beredar di media sosial. Warga diminta tetap tenang dan menyerahkan penanganan kasus kepada pihak kepolisian.

Menurutnya, jajaran Polres Kudus bersama polsek setempat kini meningkatkan patroli di sejumlah titik rawan gangguan keamanan. Patroli dilakukan pada malam hingga dini hari dengan melibatkan personel berseragam maupun anggota nonseragam.

Polisi juga mengimbau masyarakat segera melapor apabila menemukan konvoi remaja atau indikasi tawuran di lingkungan sekitar. Langkah cepat dari warga dinilai penting untuk mencegah terjadinya aksi kriminal maupun bentrokan antarkelompok remaja.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Marak Tawuran Pelajar dan Aksi Gangster, 47 SMA/SMK Kudus Deklarasi Aksi Damai

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar deklarasi damai untuk mencegah maraknya aksi gangster dan tawuran antarpelajar yang belakangan meresahkan masyarakat. Kegiatan tersebut digelar di SMA 2 Kudus, Senin (11/5/2026), dan diikuti perwakilan dari 47 SMA/SMK se-Kabupaten Kudus.

Deklarasi damai dihadiri langsung Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama jajaran Forkopimda, Kapolres, Kodim 0722/Kudus, Kejaksaan, hingga DPRD Kudus. Para pelajar menyatakan komitmen untuk menjaga keamanan dan tidak terlibat tawuran maupun tindakan kriminal lainnya.

Bupati Sam’ani mengatakan deklarasi damai menjadi langkah bersama untuk menciptakan suasana Kudus yang aman dan tertib. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat menginginkan kondisi daerah tetap kondusif dan bebas dari kekerasan remaja.

“Hari ini sebagai upaya inisiatif kita bersama bagaimana Kabupaten Kudus ini tidak ada lagi tawuran, tidak ada lagi tindakan kriminal maupun perkelahian. Ini komitmen kita bersama,” ujar Sam’ani.

Ia juga berpesan kepada para pelajar agar mengisi waktu dengan kegiatan positif dan keagamaan, terlebih menjelang kelulusan sekolah. Sam’ani meminta pelajar tidak melakukan euforia berlebihan yang berpotensi memicu konflik.

Baca juga : Bupati Sam’ani Minta Pelaku Pembacokan Pelajar di Kudus Harus Diusut Tuntas

“Raihlah cita-cita sehingga menjadi kebanggaan orang tua, bangsa, dan negara,” katanya.

Selain itu, Sam’ani menegaskan peran orang tua sangat penting dalam pengawasan anak, terutama pada malam hari. Ia meminta orang tua memastikan anak tidak keluyuran hingga larut malam dan tidak terjerumus dalam pergaulan negatif.

“Setelah jam 21.00 dicek, jangan sampai keluyuran ke mana-mana. Jangan sampai mereka bergaul dengan geng-geng yang mengarah pada rencana negatif,” ungkapnya.

Pemkab Kudus juga akan memperkuat langkah pencegahan melalui surat edaran bupati yang didukung Forkopimda. Nantinya, patroli hingga deteksi dini akan dilakukan sampai tingkat Forkopimcam.

Menurut Sam’ani, keberadaan CCTV yang kini banyak dipasang masyarakat juga akan membantu pengawasan aktivitas remaja di lingkungan sekitar. Ia berharap setelah deklarasi damai ini tidak ada lagi tawuran maupun aksi gangster di Kabupaten Kudus.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Polisi Tetapkan AJ sebagai Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan di Ponpes Jepara

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Jepara resmi menetapkan AJ, pemilik salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Jepara, sebagai tersangka.

AJ diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap santrinya sendiri sebanyak 25 kali. Peristiwa itu terjadi pada 27 April hingga 24 Juli 2026. Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian pada November 2026.

Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Wildan Faizal Umar Rela, mengatakan, penetapan tersangka dilakukan setelah pihaknya menggelar perkara pada Kamis (7/5/2026).

“Setelah gelar perkara, Jumat (8/5), AJ sudah kami tetapkan menjadi tersangka,” ungkap Wildan saat ditemui di Kantor Satreskrim Polres Jepara, Senin (11/5/2026).

Wildan melanjutkan, penetapan AJ sebagai tersangka didasarkan pada barang bukti yang telah dikantongi penyidik.

Barang bukti tersebut berupa keterangan saksi, tangkapan layar percakapan antara AJ dan korban selama rentang waktu peristiwa, serta dua unit telepon genggam milik kakak dan ibu korban yang berisi file teks percakapan antara korban dan AJ.

“Pada Jumat kemarin, kami juga langsung membuat surat pemanggilan tersangka yang pertama,” lanjut Wildan.

Baca juga : AJ Klaim Tak Lagi Mengajar dan Terima Santri Baru Usai Rekomendasi Kemenag RI

Dari surat yang sudah dikirimkan, Wildan mengatakan AJ baru datang untuk memenuhi panggilan penyidik pada hari ini, Senin (11/5/2026).

AJ tiba di Mapolres Jepara sekitar pukul 10.00 WIB bersama kuasa hukumnya, Nur Ali. Ia datang menggunakan kursi roda.

Terkait langkah selanjutnya, Wildan mengatakan pihaknya akan melakukan tes kesehatan terhadap AJ. Tes kesehatan itu dilakukan untuk mengetahui kondisi AJ, apakah memungkinkan untuk ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) atau tidak.

“Kita lihat nanti, apabila memenuhi syarat akan kita lakukan penahanan,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Menteri Maruarar Puji Lompatan Perumahan Jateng, Rumah Subsidi Melejit

0

BETANEWS.ID, BREBES – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, memuji lonjakan program perumahan di Jawa Tengah yang dinilai mengalami lompatan signifikan pada 2026. Dari sebelumnya hanya 7.532 unit rumah subsidi pada tahun lalu, kini jumlahnya ditargetkan minimal mencapai 30 ribu unit.

“Kenaikannya sekitar 23 ribu unit. Ini membuktikan program tiga juta rumah arahan Presiden Prabowo Subianto berjalan dengan lompatan yang luar biasa,” kata Maruarar saat kunjungan di Brebes, kemarin.

Menurut Maruarar, Jawa Tengah saat ini menjadi provinsi dengan serapan KPP atau KUR perumahan terbesar di Indonesia. Ia juga mengapresiasi kinerja Bank Jateng yang disebut sebagai salah satu bank pembangunan daerah dengan penyaluran pembiayaan perumahan terbesar secara nasional.

“Saya dengar juga KUR Perumahan itu termasuk yang paling tinggi di Jawa Tengah. Terima kasih, Pak Gubernur,” ujar Maruarar sembari mengacungi jempol ke Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Ia bahkan sempat menyinggung komunikasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang terus meminta tambahan kuota program perumahan kepada pemerintah pusat.

“Ini sudah bagus Pak Gub. Sudah ada segini, minta nambah segini. Nanti kita kasih tambahan,” ucap Maruarar disambut tawa hadirin.

Tak hanya program rumah subsidi, capaian program bedah rumah di Kabupaten Brebes juga mengalami lonjakan tajam. Jika pada 2025 program tersebut hanya menyasar 20 unit rumah, maka pada 2026 meningkat menjadi 600 unit atau naik 30 kali lipat.

Baca juga : 30 Ribu Rumah di Jateng Akan Diperbaiki Melalui Program BSPS

“Dulu tahun 2025 bedah rumah di Brebes berapa? Dua puluh. Tahun ini 600. Jadi naiknya 30 kali lipat,” tegas Maruarar.

Peningkatan kuota rumah subsidi dan bedah rumah itu disebut menjadi bagian dari percepatan program nasional penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sekaligus memperkuat sektor ekonomi daerah melalui pembiayaan perumahan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dalam percepatan penanganan rumah tidak layak huni (RTLH) di Jawa Tengah. Menurutnya, program bedah rumah menjadi langkah strategis untuk menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ia menegaskan, penanganan RTLH harus terus diperkuat agar masyarakat berpenghasilan rendah memiliki hunian layak dan tidak kembali terjebak dalam lingkar kemiskinan.

“Pembangunan perumahan merupakan bagian dari pelayanan dasar yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa. Harus bareng-bareng,” ujar Luthfi.

Pemprov Jateng, lanjut dia, terus memperkuat program bedah rumah di 35 kabupaten/kota untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat, khususnya warga berpenghasilan rendah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Sepekan Digelar, Pameran Ukir TATAH Jepara Didatangi 2.639 Pengunjung

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Selama sepekan digelar sejak dibuka pada 30 April 2026, Pameran Ukir TATAH Jepara yang diadakan di Museum Nasional RI telah dikunjungi 2.639 pengunjung.

Direktur TATAH, Veronica Rompies, mengatakan sejak awal pihaknya meyakini bahwa TATAH 2026 akan mendapat perhatian masyarakat karena menghadirkan pendekatan yang berbeda.

Tidak hanya menampilkan keindahan karya ukir, pameran ini juga mengajak pengunjung memahami sejarah, proses kreatif, hingga nilai budaya yang melekat dalam seni ukir Jepara.

“Sejak awal kami percaya TATAH akan menjadi pameran yang menarik bagi masyarakat karena menghadirkan sesuatu yang berbeda, yakni menampilkan keindahan seni ukir Jepara sekaligus perjalanan sejarah, riset, dan nilai budaya di baliknya. Namun demikian, antusiasme masyarakat yang hadir tetap melampaui apa yang kami bayangkan. Dalam waktu sepekan, jumlah pengunjung telah mencapai 2.639 orang,” ujar Veronica pada Sabtu (9/5/2026).

Ia berharap pameran ini dapat menjadi ruang belajar budaya yang terbuka bagi masyarakat luas, sekaligus memperkenalkan seni ukir Jepara secara lebih utuh.

“Kami berharap melalui pameran ini publik dapat lebih mengenal, memahami, dan mempelajari seni ukir Jepara secara lebih menyeluruh. Tidak hanya menikmati karya secara visual, tetapi juga memahami sejarah, proses, serta pengetahuan budaya yang hidup di dalam seni ukir Jepara. Harapannya, masyarakat juga bisa semakin dekat dengan salah satu kekayaan budaya Nusantara ini,” lanjutnya.

Baca juga : Ketua DPRD Sebut Pameran Tatah Perkuat Posisi Jepara sebagai Pusat Ukir Dunia

Selama masa kunjungan, berbagai elemen masyarakat hadir ke museum, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Tidak hanya pengunjung dari Indonesia, pameran ini juga menarik perhatian warga negara asing yang datang ke Museum Nasional Indonesia.

Di dalam pameran, pengunjung dapat menyaksikan berbagai materi mengenai perjalanan budaya Jepara, mulai dari lini masa Jepara, era Kalinyamat, perempuan dan seni ukir, ekosistem ukir Jepara, hingga karya maestro dan seniman ukir Jepara.

Beberapa karya dan materi yang dihadirkan antara lain Prasasti Candi Angin, Arca Durga, panel ukiran Mantingan, Jung Jepara, Batik Kartini, alat tatah, hingga karya-karya kontemporer.

Pengunjung asal Jakarta, Yanli Rahmad, mengaku terpukau dengan karya berjudul “Mengurung Nafsu”. Menurutnya, pameran ini memberikan pengalaman menarik karena pengunjung dapat melihat perjalanan sejarah Jepara hingga perkembangan karya kontemporer saat ini.

“Bagusnya dari pameran ini, kita bisa melihat sejarah Jepara, bagaimana Jepara berkembang dari masa awal hingga sekarang dengan karya-karya yang bersifat kontemporer. Salah satu yang saya sukai adalah karya Mengurung Nafsu. Sangat luar biasa bagaimana sepotong kayu bisa menghadirkan bentuk seekor macan di dalamnya,” ujar Yanli.

Sementara itu, pengunjung asal Prancis, Reynalds Deforges, menilai pameran ini sebagai pengalaman menarik untuk mengenal budaya Indonesia lebih dekat.

“Saya menemukan pameran ini sangat indah. Ada banyak karya berbeda yang bisa dilihat di sini. Ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk mempelajari budaya Indonesia,” katanya.

Melalui TATAH 2026, seni ukir Jepara ditampilkan sebagai warisan budaya yang hidup, tidak hanya melalui keindahan bentuknya, tetapi juga lewat sejarah, pengetahuan, keterampilan, dan perjalanan panjang masyarakat Jepara dalam menjaga tradisi ukir hingga hari ini.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

“Gadis Pingitan” Hipnotis Ratusan Penonton, Angkat Nilai Luhur Perempuan Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan penonton tampak antusias menghadiri pemutaran film dokumenter “Gadis Pingitan” produksi Saka Karsa Picture. Pemutaran film dokumenter dan pementasan teater kolosal oleh keluarga besar MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus itu berlangsung di Auditorium UMK, Sabtu (9/5/2026) malam.

Agenda yang mengangkat esensi sastra dan budaya lokal Kudus tersebut merupakan perwujudan visi Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang juga menjadi penggagas ide awal film “Gadis Pingitan”.

Sam’ani menyampaikan bahwa pihaknya ingin mengangkat budaya lokal tentang martabat perempuan Kudus Kulon mengenai gadis pingitan yang saat ini mulai jarang ditemui. Oleh sebab itu, pihaknya ingin menjaga tradisi tersebut melalui film dokumenter yang menggambarkan perempuan menjaga sopan santun, moral, dan etika.

“Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan tentang identitas kita. Saya bangga melihat gagasan ini tumbuh menjadi karya luar biasa yang mampu menggerakkan ekosistem pendidikan dan seni secara bersamaan,” bebernya usai acara.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik pemain maupun sponsor yang mendukung terselenggaranya acara tersebut. Ia menilai, dalam menjaga kelestarian budaya, khususnya tradisi gadis pingitan, pemerintah akan terus berupaya melestarikannya tanpa memberikan tekanan kepada perempuan.

Baca juga : “Gadis Pingitan”, Film Dokumenter Inisiasi Bupati Sam’ani Bakal Pentas Bulan Depan

“Silakan para perempuan untuk terus berkarier dan belajar. Namun, harus tetap menjaga etika, sopan santun, dan marwah wanita,” ujarnya.

Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus, Arif Budiman, menjelaskan bahwa agenda tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Pemilihan tema gadis pingitan diangkat sebagai upaya menjaga kelestarian budaya lokal agar tidak tergerus zaman.

“Untuk risetnya kami membutuhkan waktu satu bulan. Intinya, pesan yang ingin disampaikan dalam film dokumenter ini adalah seorang bapak yang menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tetapi terkadang tidak sesuai dengan perkembangan zaman,” terangnya.

Kelancaran agenda ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pihak swasta. Asa Jatmiko, perwakilan dari Djarum Foundation, menyatakan komitmennya dalam menjaga nyala kreativitas di Kudus.

“Kami senantiasa mendukung inisiatif yang memperkuat akar budaya. ‘Gadis Pingitan’ adalah bukti bahwa kolaborasi multipihak dapat menghasilkan produk budaya yang kompetitif dan berkarakter,” ungkapnya.

Momen paling mengharukan terjadi saat tiga narasumber utama film, yakni Ibu Hj. Churyati, Ibu Rifah, dan Eyang Fariya, hadir di tengah audiens dan memberikan apresiasi langsung terhadap visualisasi cerita-cerita mereka. Hal itu membuat tim sutradara tak kuasa menahan kebahagiaan.

“Bagi kami, melihat para narasumber berkenan hadir dan tersenyum menyaksikan serpihan kisah hidup mereka diabadikan adalah penghargaan tertinggi yang melampaui piala apa pun,” tutur Elang Ade Iswara.

Pihaknya menambahkan, kehadiran lebih dari 500 penonton malam itu menjadi pesan bahwa masyarakat memiliki kerinduan yang sama untuk kembali pada akar tradisi.

“Kami hanyalah perantara. Semoga ke depannya, ekosistem perfilman di Kudus semakin tumbuh dengan sehat, masif, dan senantiasa berani menyuarakan kejujuran tradisi lokal melalui kemasan karya yang bermartabat,” tambahnya.

Film “Gadis Pingitan” hadir dengan pendekatan poetic documentary yang secara lembut membedah ruang kedaulatan batin perempuan di balik kekokohan tembok Omah Kilungan. Melalui kolaborasi bersama MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus, karya ini diniatkan menjadi pemantik literasi visual bagi generasi muda, sekaligus pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin bising, manusia tetap membutuhkan ruang untuk mengenal diri masing-masing.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Sudah Overload, Pemkab Kudus Siapkan Perluasan TPA Tanjungrejo

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mulai menyiapkan rencana perluasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tanjungrejo menyusul kondisi tempat pembuangan sampah tersebut yang kian penuh. Perluasan lahan ditargetkan pada 2027 sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah di Kota Kretek.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Ruang Terbuka Hijau Dinas PKPLH Kudus, Heri Muryanto mengatakan, perluasan TPA dipilih karena pembangunan lokasi baru dinilai sangat sulit dilakukan. Selain keterbatasan lahan, ada sejumlah aturan teknis yang harus dipenuhi dalam penentuan lokasi TPA.

Menurutnya, ketentuan dari Kementerian Pekerjaan Umum mengatur lokasi TPA minimal berjarak satu kilometer dari permukiman warga dan 200 meter dari sumber mata air. Selain itu, lokasi juga tidak boleh berada di kawasan konservasi maupun daerah rawan banjir.

“Kudus ini wilayahnya sempit. Kalau cari lahan sesuai kriteria itu susah sekali. Atas konservasi, bawah banjir, lalu harus jauh dari rumah warga,” ujar Heri di ruang kerjanya belum lama ini.

Ia menjelaskan, wilayah bagian atas Kabupaten Kudus sebagian besar masuk kawasan konservasi. Sementara kawasan bawah banyak yang rawan banjir sehingga menyulitkan pencarian lahan baru untuk TPA.

Baca juga : Penataan TPA Kudus Digenjot, Pemkab Atasi Bau dengan Rutin Semprot Eco Enzyme

“Di sisi lain, perkembangan permukiman warga juga terus bertambah setiap tahun. Kondisi itu membuat lahan kosong yang memenuhi syarat semakin sulit ditemukan,” bebernya.

Karena itu, lanjut Heri, Pemkab Kudus menilai memperluas TPA Tanjungrejo menjadi langkah paling realistis dibanding membuka TPA baru dari awal. Saat ini TPA Tanjungrejo memiliki luas sekitar 5,6 hektare dan terus menerima kiriman sampah setiap hari.

“Rencana perluasan lahan sudah mulai diusulkan. Area yang dibidik berada di sekitar TPA Tanjungrejo dan sebagian lahannya masih dimiliki warga,” ungkapnya.

Meski begitu, ia belum mengetahui pasti luasan lahan yang dibutuhkan untuk perluasan TPA Tanjungrejo. Proses pembelian lahan juga belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.

“Pemerintah daerah masih menunggu kesiapan anggaran serta tahapan administrasi pengadaan lahan,” sebutnya.

Sembari menunggu proses perluasan, kata dia, Pemkab Kudus berupaya menekan volume sampah yang masuk ke TPA Tanjungrejo. Di antaranya dengan mengurangi sampah dari sumbernya.

“Selain itu, di area TPA Tanjungrejo kami terus melakukan penataan agar bisa menampung semua sampah warga Kudus. Di antaranya tumpukan sampah dibuat terasering agar tidak longsor dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pantai Bayuran, Destinasi Wisata Jepara dengan Pemandangan PLTU

0
Pantai Bayuran, di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Foto: Rizka Ulima Qotrunida, Mahasiswa PPL IAIN Kudus

Jepara merupakan kota yang sangat mempesona akan keindahan pantainya. Jepara juga memiliki puluhan pantai yang cantik dan masih asri. Salah satunya adalah Pantai Bayuran yang terletak di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dengan jarak sekitar 30 kilometer dari Alun-alun Kota Jepara.

Suasana yang asri nan sejuk menjadi daya tarik para pengunjung. Ada beberapa pengunjung duduk di bawah pohon menikmati angin pantai. Salah satunya adalah Fina (19). Warga Welahan Jepara itu mengaku baru pertama kali ke Pantai Bayuran.

“Baru pertama kali kita ke Pantai Bayuran ini, kesini juga karena viral di media sosial. Pertama kesini jauh untuk perjalanannya, Kudus ke sini sekitar satu jam lebih sedikit,” ujarnya saat ditemui benerapa waktu lalu.

Baca juga: Brayo, Jualan Tradisional yang Ternyata Bisa Turunkan Gula Darah

Menurutnya, spot paling favorit yang ia pilih adalah latar belakang PLTU. Di Pantai Bayuran memiliki pemandangan yang unik, yaitu melihat kemegahan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.

“Kebetulan datang sama teman dari Kudus. Dia saya ajak ke sini lihat Pantai Bayuran. Pantai Bayuran ini bagus sekali pemandangannya, yang dikenal pemandangan PLTU-nya, bagus dibuat foto-foto. Tapi ada sampah banyak yang mengganggu pemandangan, mungkin bisa dibersihkan oleh warga atau pengelola yang mengelola pantai ini,” jelas Fina.

Ada yang spesial juga dari pantai ini. Pantai ini memiliki pasir yang hitam atau orang biasa menyebutnya pasir besi. Pasir besi ini adalah bahan baku utama pembuatan besi. Keindahannya yang masih sangat alami juga membuat orang yang datang turut menikmatinya.

Baca juga: Dari Coba-Coba, Sosis Ayam Solo Siti Ternyata Digandrungi Warga Kudus

Pantai berpasir hitam ini bersebelahan dengan rumah-rumah perkampungan warga. Jalan yang harus dilalui menuju pantai ini sudah lumayan baik karena sudah ada jalan aspal dan melewati banyak pematang sawah. Terdapat juga di Google Maps untuk mencari jalan menuju Pantai Bayuran.

Pantai Bayuran ramai pengunjung pada sore hari karena sunset dengan pemandangan PLTU menjadi objek unik yang dicari para pengunjung.

Penulis: Rizka Ulima Qotrunida, Mahasiswa PPL IAIN Kudus

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Pertama di Kudus, Tota Sukses Bisnis Kuliner Khas Thailand

0
Salah satu sajian khas Thailan di Somtam Ori, di Gang Mangga, Desa Krandon RT 2 RW 3, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Foto: Rizka Ulima Qotrunida, Mahasiswa PPL IAIN Kudus

Di kediamannya di Gang Mangga, Desa Krandon RT 2 RW 3, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, seorang pria tampak sibuk mempersiapkan adonan saus untuk bumbu somtamnya. Ia tak lain adalah Tota, pemilik Somtam Ori, makanan khas dari Thailand yang dijual di Kudus.

Usai mempersiapkan adonannya, Tota kemudian memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam blender, lalu merebusnya di dalam panci. Ia menjelaskan, bahwa bahan utama saus yang ia gunakan adalah asam. Namun, bukan berarti rasa sausnya hanya asam, melainkan perpaduan manis, pedas, dan asam.

“Sausnya ini bahan utamanya itu asam, tapi juga ada bahan yang lain, seperti bawang putih, kacang, gula merah, lalu cabai, jadi rasanya ada asam, manis, dan juga pedas,” katanya saat ditemui benerapa waktu lalu.

Baca juga: Brayo, Jualan Tradisional yang Ternyata Bisa Turunkan Gula Darah

Menurutnya, di Kudus belum ada yang menjual somtam, padahal somtam merupakan makanan sehat. Somtam adalah makanan seperti salad yang berisi buah, sayur, dan seafood.

Selain berisi sayur, buah, dan seafood, somtam juga dilengkapi dengan saus sebagai perasa.

“Untuk saus di kita memang ada beberapa yang minyaknya asli dari Thailand. Kebetulan saudara sering ke sana, jadi biasanya tinggal titip. Tapi untuk bumbunya kita juga kasih untuk lidah Indonesia,” ungkapnya.

Produk ini banyak diminati karena di Kudus belum ada yang menjualnya. Untuk harganya mulai dari Rp25.000 ukuran medium hingga Rp260.000 ukuran besar.

Baca juga: Dari Coba-Coba, Sosis Ayam Solo Siti Ternyata Digandrungi Warga Kudus

“Ada 4 harga, yang pertama agar dijangkau sama anak-anak dan remaja, size medium 750 ml, harganya 25 ribu. Ada yang 1000 ml, isian sayur sama buah aja itu harganya 35 ribu. Terus ada yang tambahan seafood 1000 ml, itu 55 ribu. Terus yang keempat full seafood itu 100 ribu,” terangnya siang itu.

Untuk pemesanannya bisa melalui WhatsApp 0813-2840-1247, bisa kuga sistem COD, dan ready setiap hari pukul 13.00–20.00 WIB.

Penulis: Rizka Ulima Qotrunida, Mahasiswa PPL IAIN Kudus

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Berkat Karomah Makam Al Habib Abubakar, Pesona Pulau Panjang Semakin Menarik Bagi Wisatawan

0
Makam Al Habib Abubakar di Pulau Panjang, Jepara. Foto: I'is Ri'ayati, Mahasiswa KPI, Unisnu Jepara

Warga Kabupaten Jepara tentu tidak asing dengan Pulau Panjang. Bahkan bagi warga di daerah sekitarnya seperti Kudus, Demak, Pati, dan Rembang, Pulau Panjang juga sangat mashur. Pulau yang diperkirakan memiliki luas sekitar 7 hektare itu secara administratif masuk wilayah Kelurahan Ujung Batu.

Sejak lama hingga akhir dekade 1990-an, Pulau Panjang hanya populer sebagai tempat wisata dengan pesona andalan hutan yang masih perawan, hamparan pasir putih, dan tempat habitat burung kunthul atau oleh masyarakat sekitar disebut burung blekok. Setiap pesta lomban yang digelar masyarakat Jepara pada hari ketujuh Lebaran Idul Fitri, Pulau Panjang ini ramai dikunjungi wisatawan.

Bahkan rasanya tidak afdal jika pada pesta lomban belum mengunjungi Pulau Panjang. Tapi lain dulu lain sekarang. Pulau Panjang kini tidak hanya menawarkan pesona eksotisme hutan yang masih perawan, hamparan pasir putih, maupun habitat burung kunthul saja.

Baca juga: Ramadan, Museum Jenang dan Gusjigang Jadi Favorit Ngabuburit Warga

Keberadaan makam Waliyullah Al Habib Abubakar bin Ahmad bin Syekh bin Yahya Ba’alawi menjadi magnet baru yang semakin kuat menyedot kedatangan ribuan wisatawan peziarah setiap tahunnya. Makam Al Habib Abubakar tersebut semakin ramai dikunjungi wisatawan peziarah semenjak digelar kegiatan haul yang diinisiasi Habib Lutfi Pekalongan pada tahun 2001.

Sejak itulah, Pulau Panjang semakin populer. Bukan hanya didatangi oleh wisatawan yang ingin menikmati pesona alamnya saja, tapi juga para peziarah dari berbagai daerah yang jauh-jauh datang dari berbagai daerah untuk ngalap berkah. Seperti dituturkan oleh Sutiyono, juru kunci makam Al Habib Abubakar, orang-orang yang datang ke Pulau Panjang saat ini bukan hanya wisatawan domestik dari Jepara saja.

Tapi ribuan orang setiap bulannya datang dari berbagai wilayah di nusantara yang ingin ziarah ke makam Al Habib Abubakar. Selama libur Lebaran Idul Fitri 2018 kemarin, ribuan orang setiap harinya datang khusus untuk berziarah. Kedatangan para zairin ini tidak lain untuk ngalap berkah dan tabarrukan kepada waliyullah pejuang dan penyebar Islam di Bumi Kartini.

Seperti yang dilakukan Yuliana yang jauh-jauh datang dari Kabupaten Purworejo. Dia bersama suami dan kedua anaknya mendengar adanya makam seorang wali di Pulau Panjang Jepara. Dia juga sering mendengar tentang keindahan Pulau Panjang.

- advertisement -

Didukung Tren Media Sosial, Camping di Pulau Panjang Jepara Kian Diminati

0
Sejumlah wisatawan melakukan camping di Pulau Panjang, Jepara. Foto: Rahayu Kiswara, Mahasiswa KPI, Unisnu Jepara

Wisata alam berbasis pengalaman seperti camping kini semakin diminati, terutama di kawasan Pulau Panjang, Jepara. Sejak sekitar tahun 2017, layanan penyewaan tenda di kawasan ini mulai berkembang dan menarik perhatian wisatawan, khususnya kalangan muda.

Ganung (35), salah satu penyedia jasa sewa tenda di Pulau Panjang, mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah pengunjung tidak lepas dari pengaruh media sosial, terutama platform seperti TikTok.

“Banyak yang datang karena lihat di TikTok, istilahnya korban TikTok,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Layanan yang ditawarkan cukup sederhana. Calon penyewa hanya perlu melakukan pemesanan melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp, memilih jenis tenda dari katalog, lalu melakukan pembayaran uang muka. Harga sewa tenda pun tergolong terjangkau, mulai dari Rp100.000 per malam.

Baca juga: Ramadan, Museum Jenang dan Gusjigang Jadi Favorit Ngabuburit Warga

Menariknya, tidak ada biaya tambahan untuk lahan camping. Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk kawasan sebesar Rp8.000 sesuai peraturan daerah. Hal ini membuat wisata camping di Pulau Panjang menjadi alternatif liburan yang ramah di kantong.

Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar hingga keluarga muda. Namun, akhir pekan, terutama malam Minggu, menjadi waktu paling ramai. Selain itu, lonjakan wisatawan juga terjadi saat libur panjang atau tanggal merah.

Meski terlihat menjanjikan, usaha ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah faktor cuaca yang sangat memengaruhi jumlah pengunjung. Saat musim angin barat dan ombak tinggi, aktivitas wisata cenderung menurun drastis.

Selain itu, risiko kerusakan peralatan juga menjadi perhatian. Aktivitas seperti barbeku kerap menyebabkan kerusakan pada perlengkapan camping. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak penyedia telah menetapkan aturan dan sanksi yang disepakati bersama penyewa sebelum penggunaan.

Baca juga: Selain Pesona Alamnya, Wisata Petik Jambu jadi Magnet Baru Desa Jrahi Pati

Dalam hal keuntungan, Ganung memperkirakan margin usaha rental berada di kisaran 20 hingga 30 persen setelah dikurangi biaya operasional, seperti tenaga bongkar pasang, pencahayaan berbasis aki, serta perawatan peralatan.

Dengan kombinasi keindahan alam dan kemudahan akses layanan, Pulau Panjang terus menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman bermalam di alam terbuka. Dukungan media sosial pun diyakini akan terus mendorong popularitas wisata ini di masa mendatang.

Penulis: Rahayu Kiswara, Mahasiswa KPI, Unisnu Jepara

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Wacana Fakultas Pendidikan Dihapus, Rektor UMK Minta Pemerintah Kaji Ulang

0
Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Darsono. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Prof Darsono menilai wacana penghapusan fakultas pendidikan maupun program studi kependidikan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, kebijakan pendidikan harus disusun dengan perencanaan matang serta memahami ekosistem pendidikan nasional secara utuh.

“Dalam tata kelola negara besar itu harus ada kedewasaan, kematangan, dan perencanaan yang matang baru kemudian dideklarasikan,” ujarnya.

Darsono mengatakan, apabila alasan penutupan program pendidikan dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan industri, maka pemerintah perlu lebih dahulu melihat struktur dan karakter pendidikan tinggi di Indonesia.

Ia menjelaskan, secara umum pendidikan tinggi terbagi dalam dua klaster besar, yakni akademik dan vokasi. Menurutnya, kebutuhan industri terhadap lulusan siap kerja sebenarnya lebih dekat dengan pendidikan vokasi.

“Kalau trigger-nya kebutuhan industri dan lulusan siap pakai, sebenarnya tipologi itu ada di vokasi,” katanya.

Baca juga : Konsep Satu Kampus Satu Dapur MBG, Rektor UMK Sebut Perguruan Tinggi Tak Harus Dirikan Dapur

Namun demikian, ia menilai penguatan pendidikan vokasi di Indonesia hingga kini belum dilakukan secara serius. Akibatnya, masyarakat masih lebih memilih jalur universitas akademik dibandingkan diploma atau vokasi.

“Sampai sekarang preferensi masyarakat masih menganggap universitas lebih utama. Vokasi masih dipandang kelas dua,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Darsono menilai langkah yang tepat bukan menghapus fakultas pendidikan atau program akademik, melainkan memperkuat sistem vokasi agar benar-benar terhubung dengan kebutuhan dunia industri.

“Narasinya harusnya jangan ditutup, tapi diperkuat sekuat-kuatnya dan seserius-seriusnya pendidikan vokasi,” tegasnya.

Ia menyebut, apabila pendidikan vokasi diperkuat dengan baik, maka secara alami masyarakat akan beralih memilih jalur tersebut karena menawarkan peluang kerja lebih cepat dan lebih relevan dengan kebutuhan industri.

“Nanti kalau vokasi sudah kuat, lulusannya cepat bekerja, kuliahnya cepat, hasilnya jelas, masyarakat otomatis akan bergeser sendiri,” jelasnya.

Darsono juga mendorong adanya keterlibatan langsung dunia industri dalam pendidikan vokasi melalui konsep kemitraan yang terintegrasi.

“Kalau perlu industri langsung terjun ke vokasi, sehingga benar-benar ada direct link antara kebutuhan industri dan pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan pendidikan di Indonesia saat ini masih cukup mendasar dan krusial, mulai dari kebijakan, tata kelola, hingga dukungan fiskal terhadap sektor pendidikan.

“Kita harus memahami dulu ekosistem pendidikan kita sebelum mengambil keputusan besar,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Program FLPP Sasar 17 Warga Jepara, Didominasi Buruh Pabrik

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Program 3 Juta Rumah yang digagas Presiden Prabowo melalui program KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) saat ini telah menjangkau 17 warga di Kabupaten Jepara.

Namun, jumlah tersebut baru sebagian penerima yang mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank BNI Jepara.

Hal tersebut diungkapkan Branch Manager BNI Jepara, Dolly Kusuma Dewi, usai mengikuti zoom meeting di Kantor BNI Jepara dalam rangka kunjungan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, di Kabupaten Brebes, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan zoom tersebut juga diikuti Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar, Sekretaris Daerah (Sekda) Jepara Ary Bachtiar, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Jepara Moh Ekko Uddyono, pengembang perumahan, pelaku UMKM, serta penerima program KPR FLPP.

Kunjungan Menteri Ara dilakukan dalam rangka sosialisasi Kredit Program Perumahan (KPP), FLPP, dan program PNM Melawan Rentenir.

Baca juga : Job Fair Jepara Dibanjiri Pencari Kerja, 2.145 Lowongan Masih Kurang

“Penerima program FLPP di Jepara masih belum begitu banyak. Pada tahun 2025-2026 ada 17 orang yang mengajukan kredit KPR lewat FLPP, itu khusus yang di kami (BNI),” ujar Dewi kepada Betanews.id.

Dewi melanjutkan, program KPR FLPP tersebut ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan gaji maksimal Rp8 juta per bulan.

Masyarakat nantinya bisa mencicil pembiayaan rumah subsidi tersebut dengan bunga tetap sebesar 5 persen selama jangka waktu kredit.

Masa pembayaran cicilan maksimal selama 20 tahun. Tipe rumah yang ditawarkan berukuran 30/60 dengan harga Rp166 juta.

Di Jepara, Dewi menyebut peminat rumah subsidi melalui program KPR FLPP didominasi anak muda yang belum memiliki rumah.

“Permintaan mayoritas didominasi MBR dengan penghasilan maksimal Rp8 juta per bulan. Rata-rata mereka buruh pabrik,” ungkap Dewi.

Berdasarkan data Disperkim Jepara, jumlah backlog perumahan di Jepara pada 2026 mencapai 34.347 rumah.

Untuk itu, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan akan mendukung pelaksanaan program KPR FLPP di Kabupaten Jepara.

“Kami akan mendukung program dari pemerintah pusat. Mudah-mudahan dengan adanya program KPR FLPP bisa bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Jepara,” katanya.

Dalam kegiatan zoom tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berpesan agar setiap pemerintah kabupaten/kota segera memetakan ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di masing-masing daerah guna memberikan perlindungan terhadap Lahan Sawah Dilindungi (LSD).

“Terkait itu, nanti akan kami kaji ulang. Pak Sekda dan dinas terkait akan mengkaji ulang apa yang menjadi instruksi dari Pak Gubernur,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

30 Ribu Rumah di Jateng Akan Diperbaiki Melalui Program BSPS

0

BETANEWS.ID, BREBES — Pemerintah pusat mengalokasikan perbaikan sebanyak 30 ribu Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Jawa Tengah melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2026.

“Tahun lalu di Jawa Tengah ada 7.532 unit, tahun ini minimal 30.000 unit. Naiknya sekitar 23.000 unit,” kata Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait saat peluncuran BSPS Jawa Tengah 2026 di Kabupaten Brebes, Sabtu (9/5/2026).

Dikatakan Maruarar, kenaikan target BSPS di Jawa Tengah menjadi bagian dari percepatan program tiga juta rumah yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto. Sebab, tahun ini pemerintah juga memperluas jangkauan BSPS secara nasional. Jika sebelumnya masih ada ratusan kabupaten/kota yang belum mendapatkan program, tahun ini seluruh kabupaten/kota di Indonesia memperoleh alokasi.

“Tahun lalu ada 222 kabupaten/kota yang tidak dapat. Tahun ini semua kabupaten/kota di Indonesia, lebih dari 500 daerah, mendapatkan program ini,” ujarnya.

Selain BSPS, Maruarar juga menyinggung program KUR Perumahan yang diarahkan untuk memberdayakan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil. Melalui program tersebut, masyarakat dapat mengakses pembiayaan dengan bunga rendah untuk memperbaiki rumah maupun mendukung usaha.

Maruarar juga meminta agar pelaksanaan program bedah rumah ikut menggerakkan ekonomi lokal. Material bangunan seperti bata dan genteng diharapkan dibeli dari pelaku usaha di daerah.

“Barang-barang yang dibeli, seperti bata dan genteng, usahakan dari Jawa Tengah supaya ekonomi rakyat bergerak,” ucapnya.

Baca juga : Pemprov Jateng-NTU Singapura Jajaki Kerja Sama Peningkatan Kapasitas ASN

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dalam mempercepat penanganan RTLH di Jawa Tengah.

“Kami mengucapkan terima kasih, ada Pak Ara yang telah memberikan bantuan terkait bedah rumah. Ini akan sangat membantu Jawa Tengah dalam mengentaskan kemiskinan,” kata Luthfi.

Menurutnya, penanganan RTLH perlu terus diperkuat karena masih banyak warga, khususnya kelompok desil 1 hingga desil 4, yang membutuhkan hunian layak. Dengan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, penanganan RTLH bisa semakin cepat.

Selain program BSPS, penanganan RTLH di Jawa Tengah juga didukung APBD Provinsi dengan target 5.000 unit pada 2026. Untuk Kabupaten Brebes, target dari sumber APBD Provinsi sebanyak 249 unit.

Dukungan lain berasal dari CSR perusahaan dan Baznas. Pada 2026, target penanganan RTLH dari sumber tersebut di Jawa Tengah sebanyak 1.550 unit, terdiri atas Baznas 750 unit, Djarum 500 unit, dan Bank Jateng 300 unit.

Dengan demikian, total target penanganan RTLH di Jawa Tengah pada 2026 dari tiga sumber utama mencapai 36.550 unit. Rinciannya, 30.000 unit dari APBN melalui BSPS, 5.000 unit dari APBD Provinsi, serta 1.550 unit dari CSR dan Baznas.

Sementara untuk Kabupaten Brebes, total target penanganan RTLH pada 2026 mencapai 514 unit, terdiri atas 215 unit dari APBN/BSPS, 249 unit dari APBD Provinsi, dan 50 unit dari CSR/Baznas.

Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana, menyatakan dukungannya terhadap program BSPS sebagai bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan hunian layak masyarakat.

Danang mengatakan, kehadirannya dalam peluncuran BSPS tersebut sekaligus untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Menurutnya, kebutuhan bedah rumah masih besar sehingga program tersebut perlu terus diperkuat.

“Ke depan, untuk 2027 dan selanjutnya, program bedah rumah ini bisa ditingkatkan lagi sehingga semuanya bisa terjangkau. Program ini juga bisa mendorong pemberdayaan UMKM, terutama toko bangunan di sekitar penerima manfaat,” ujarnya.

Salah satu penerima bantuan Program BSPS, Nunung mengaku senang lantaran rumahnya yang rusak dapat segera diperbaiki berkat bantuan tersebut.

“Alhamdulillah senang, rumah saya sudah bocor. Sudah rencana renovasi tapi uangnya tidak cukup. Jadi terima kasih atas bantuan ini,” kata ibu dua anak tersebut.

Adapun kriteria penerima BSPS antara lain warga berpenghasilan rendah, memiliki rumah tidak layak huni, belum pernah menerima bantuan sejenis, serta memiliki legalitas tanah atau rumah yang jelas.

Editor: Kholistiono

- advertisement -