Beranda blog Halaman 1982

Puluhan Siswa SMK PGRI 2 Kudus Kesurupan

0

SEPUTAR KUDUS – Sejumlah  siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) PGRI 2 Kudus kemarin (14/6) kesurupan saat proses belajar-mengajar berlangsung. Siswa yang mengalami kesurupan berjumlah 8 siswa dan terjadi secara bergantian. Menurut salah seorang siswa, Dimas Haryanto yang menyaksikan kejadian tersebut mengungkapkan tingkah mereka bermacam-macam. “Ada sebagian yang menjerit dan ada juga yang bertingkah seperti anak kecil” katanya. Danar menceritakan sehari sebelumnya (13/6) ada tiga siswa yang juga mengalamu kesurupan. Hal tersebut terjadi setelah jam pelajaran usai.

Menurut salah seorang siswa yang mengalami kejadian tersbut siang kemarin, Ayu Bunga tidak menyadari hal yang telah terjadi. “Setelah sadar tau-tau banyak teman yang mngerumuni saya” jelasnya. Siswi yang duduk di kelas X tersebut menyatakan kekhawatirannya jika di hari berikutnya mengalami kesurupan kembali. “Setelah kesurupan saya merasa lemas dan seperti tidak bisa berkosentrasi, saya takut hal ini terulang lagi” papar siswi yang terlihat pucat setelah mengalami kesurupan tersebut.

Sementara itu Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Kudus, Basuki Rahmat mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari kegiatan kemah pramuka  yang dilakukan para siswanya di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus pada 10 hingga 12 Juni yang lalu. Ia menambahkan peserta kemah melakukan lintas alam di sebuah sungai yang menuju tebing yang diketahui warga setempat sebagai kawasan angker. “Warga di sana sebetulnya sudah memperingatkan untuk tidak melakukan kegiatan di tebing tersebut, namun anak-anak tetap melanjutkan rencana lintas alam karena sudah teragendakan” paparnya.

Hal yang dikhawatirkan warga akhirnya terbukti, Basuki menceritakan di hari pertama ada 20 siswa yang mengalami kesurupan. Hal tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 hingga tengah malam. “Hari berikutnya kesurupan berulang-ulang terjadi pada siswa lainnya. Hingga mereka pulang hari minggu yang lalu siswa masih ada yang kesurupan” paparnya.

Basuki mengungkapkan untuk menyadarkan siswa yang mengalami kesurupan dan menyadarkannya, pihaknya telah mengundang seorang tokoh spiritual untuk mengusir makhluk halus yang merasuki tubuh siswanya. “Kata tokoh spiritual mkhluk yang bersemayam di tubuh siswa memang berasal dari tempat angker yang diungkapkan warga Wonosoco, mereka masih mengikuti siswa hingga pulang ke sekolah dan tidak mau kembali ke asalnya” tuturnya.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa di hari-hari selanjutnya, pihaknya telah menyiapkan sebuah ritual untuk mengusir makhluk halus yang mengganggu. “Kami berencana akan membuat ruwatan seperti yang telah dianjurkan oleh tokoh spiritual esok hari” ujarnya. Ia mengharapkan para siswa untuk tidak melamun dan mempunyai pikiran yang kosong agar tidak mudah kerasukan. Ia juga berharap setelah ruwatan kejadian tersebut tidak terulang kembali karena telah mengganggu proses belajar. (*)

- advertisement -

Siwa SMP N 2 Kudus Mahir Memainkan Gamelan

0
SEPUTAR KUDUS – Siswa SMP 2 Kudus memainkan gamelan

KUDUS KUDUS – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kudus tidak hanya mempunyai prestasi akademik yang membanggakan, Namun sekolah yang telah berstatus Rintisan Sekolah Bertarap Internasional(RSBI) tersebut tidak meninggalkan aspek kebudayaan dan kesenian daerah dalam pengembangan kemampuan siswanya. Tercatat sejumlah kesenian daerah yang mereka miliki cukup beragam, di antaranya kesenian tari tradisional, wayang kulit dan karawitan.

Namun dari sejumlah kesenian yang diprogramkan SMP N 2 Kudus tersebut kesenian karawitanlah yang paling mencolok. Kesenian yang digawangi 30 siswa yang diikuti kelas 1 hingga kelas 3 tersebut menjadi kebanggaan sekolah dan kerap mewakili Kudus dalam beberapa acara di luar kota. Saat acara kunjungan siswa dari Pasir Ris Secondary School (PRSS) hari Senin (6/6) kemarin mereka didaulat untuk menampilkan kemampuannya, mereka terlihat begitu terampil memainkan alat gamelan tersebut dan memukau puluhan siswa asal Singapura.

 Menurut pembimbing kesenian karawitan, Suparni (42) saat ditemui di ruang guru hari Rabu (8/6) mengnungkapkan kesenian karawitan sendiri masuk dalam program ekstra kurikuler (Ekskul) dan sudah ada sejak tahun 2001. “Sebelum mempunyai gamelan sendiri pada tahun 2004, anak-anak latihan dengan alat yang dimiliki pak Sudarsono, mantan Bupati Kudus” katanya. Ia menjelaskan latihan yang dilakukan siswa tersebut tidak tentu, namun intensitasnya bisa dikatakan cukup tinggi.

“Tergantung kesepakatan dengan siswa, kalau saat tidak ada ujian mereka rutin latihan seminggu  dua kali di hari minggu dan satu hari lagi disesuaikan dengan kesepakatan. Dan untuk event tertentu biasanya mereka setiap hari berlatih” paparnya. Ia menambahkan watu latihan dimulai pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB, di hari Minggu dimulai pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB.

Menurut Suparni yang juga menjadi guru Bahasa Jawa di sekolah tersebut mengungkapkan lagu-lagu yang diajarkan pelatih disesuaikan dengan usia mereka. “Lagu seperti Cucak Rowo tidak diajarkan di sini” katanya. Adapun lagu yang diajarkan adalah yang memiliki tema pendidikan dan kedaerahan, seperti Kudus Asri, Lenthog Tanjung, Prahu Layar dan sebagainya.

Adapun prestasi yang pernah diraih kelompok karawitan tersebut diantaranya Juara I tingkat SMP Kabupaten Kudus, Juara I tingkat Karesidenan Pati, Juara Harapan di Tingkat Jawa Tengah. Bahkan mereka akan mewakili Kudus untuk tampil di Jateng Famili Fair pada 31 Juni mendatang. “Lomba karawitan tingkat SMP memang jarang digelar, hal inilah yang menjadi kendala untuk aktualisasi. Namun kami berusaha untuk mengupayakan ruang bagi mereka untuk bisa tampil, seperti saat perpisahan, Masa Orientasi Siswa (MOS) dan acara khusus seperti saat kunjungan siswa dari Singapura kemarin” jelasnya.

Sementara itu salah seorang guru pembimbing kesenian lainnya, Ety Dwi Aprilianti mengungkapkan ekskul karawitan dikombinasikan dengan keterampilan seni tari yang juga diajarkan. Menurut guru tari tersebut anak-anak tidak hanya mahir memainkan gamelan dan nyinden, namun mereka juga mahir melakukan tari yang diajarkan. “Kombinasi tari, nyinden dan gamelan memang tidak bisa dipisahkan, bahkan mereka juga ada yang dilatih untuk ndalang” tuturnya.

Ety menambahkan dukungan dari sekolah memang sangat besar. Dari pembelian alat, kebutuhan siswa dan biaya operasional ditanggung sepenuhnya oleh pihak sekolah. “Hal ini dilakukan karena SMP N 2 Kudus mempunyai visi tidak hanya mengembangkan sekolah ke arah akademik, namun juga mempertahankan warisan budaya sebagai penegasan jati diri bangsa” pungkasnya. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Satpol PP Kudus Razia Kendaraan Penunggak Pajak

0

SEPUTAR KDUUS – Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah nomor 2 tahun 2011 tentang Pajak Provisnsi Daerah Jawa Tengah, Satpol PP Kabupaten Kudus beserta jajaran Satpol PP Provinsi Jawa tengah menggelar razia di sub terminal Bae, Jalan Kudus-Colo hari Rabu (15/6) kemarin. Razia yang di mulai pukul 10.00 tersebut tak hanya dilakukan oleh Satpol, namun juga melibatkan Polres Kudus dan Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus. Menurut Kepala Bidang Penegakan Perda Provinsi Jawa Tengah, Petrus Suharto mengungkapkan operasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah.

“Pendapatan pajak dari sektor kendaraan sejauh ini belum maksimal, karena itu kami dengan menggunakan dasar perda Jateng akan melakukan penindakan kepada pengguna kendaraan yang menunggak pembayaran” paparnya. Ia menambahkan sejauh ini pihaknya telah melakukan operasi diberbagai daerah dibantu penegak perda setempat. Beberapa daerah yang telah dilakukan operasi serupa adalah Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga dan Kudus. “Esok hari (16/6) kami akan melakukan operasi penegakan perda di Kabupaten Blora, dan kabupaten-kabupaten lain kami rencanakan menyusul” katanya.

Keterlibatan beberapa elemen dalam operasi tersebut menurut Petrus dilakukan dengan tujuan sinergitas antar lembaga penegakan hukun dan instansi terkait. “Pihak kami menindak pengendara yang menunggak pajak kendaraan motor dan mobil, untuk KIR ditangani Dishub dan Polres menangani pelanggaran lalulintas, seperti tidak membawa SIM atau STNK” jelas petrus di sela-sela operasi.

Petrus menjelaskan dalam operasi tersebut, bagi para pengendara yang melakukan pelanggaran sementara tidak dikenakan sanksi. “Ini baru tahap sosialisasi, mereka yang melanggar akan diminta membuat surat pernyataan agar segera melakukan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)” paparnya. Untuk pelanggaran yang ditangani Dishub dan Polres, penindakan sepenuhnya diserahkan kepada petugas terkait.

Sementara itu Kepala Bidang Penegakan Perda Kabupaten Kudus, Jhoni Dwi Haryono mengungkapkan operasi tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan di Kudus. Pasalnya perda yang ditegakkan juga masih dalam tahap sosialisasi. “Kami belum mempunyai rencana untuk menggelar operasi serupa, tinggal nanti bagaimana tindak lanjut dari pemerintah Kabupaten terkait perda provinsi tersebut” katanya. Namun Ia beserta jajarannya senantiasa mendukung pemberlakuan perda tersebut mengingat operasi yang digelar bisa meningkatkan pendapatan daerah. “Kami sejauh ini telah melakukan penegakan perda di bidang cukai rokok dan perda lain seperti PKL liar, tempat hiburan malam. Jika kami harus melakukan penegakan perda satu lagi, kami pun siap” ujarnya.

Dalam operasi yang digelar selama satu jam tersebut, sebanyak 32 pelanggar telah ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku, denagn rincian 9 pengendara melanggar PKB, 3 kendaraan melanggar KIR dan 5 pengendara tidak dapat menunjukkan STNK, serta 18 pengendara tidak dapat menunjukkan SIM. (*)

- advertisement -

BEM FKIP UMK Resahkan Mahasiswa yang Tak Kritis

0

SEPUTAR KUDUS – Kurangnya kepedulian mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menyikapi kebijakan pemerintah disesalkan oleh Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK Muhammad Faisol. Hal tersebutlah yang menjadi inspirasi digelarnya Bincang Sore di Auditorium UMK hari Selasa (7/6). Acara tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dan beberapa narasumber di antaranya  Amir Faisol, M Jazuli dan M Ghofar.

“Kami cukup prihatin dengan keadaan mahasiswa sekarang, kurangnya kritisme dalam diri mereka saya khawatirkan kedepan bangsa ini akan minim mencetak pemimpin” kata faisol saat ditemui sebelum acara berlangsung. Ia menambahkan sengaja dihadirkan tokoh mahasiswa seperti Amir Faiso yang sedang menjabat Ketua Umum Pergrakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus agar Dia bisa menginspirasi mahasiswa yang lain.

“Sejak dulu mahasiswa mendapat gelar agen perubahan sosial, seharusnya kawan-kawan di UMK sadar akan itu dan segera bangkit merespon kebijakan yang ada” tandasnya. Ia mengungkapkan sangat iri ketika di awal Ia masuk kuliyah dulu, dan menurutnya sekarang mahsiswa malas untuk melakukan kajian-kajian. “Dulu setiap sudut kampus ada kelompok-kelompok kecil melakukan diskusi dan kajian, kampus begitu bergairah dengan semangat mengkaji tentang banyak hal. Namun sekarang kampus trlihat lebih sepi dari aktifitas mahasiswa” keluhnya.

Amir Faisol melihat hal ini terjadi adanya faktor internal dari mahasiswa itu sendiri yang menganggap gerakan mahasiswa sebagai sesuatu yang menakutkan. “Padahal sadar atau tidak mahasiswa kedepan menjadi pemimpin bagi masyarakatnya” katanya. Ia menambahkan kurangnya minat baca dan pengamatan peristiwa yang terjadi di masyarakat adalah faktor internal yang lain. “Kritisme mahasiswa dapat dibangun dengan ketajaman analisa ketika melihat sebuah peristiwa. Dan ketajaman tersebut dapat diasah dengan keilmuan, informasi, dan data yang mereka rekam” paparnya.

Sementara itu M Jazuli juga menyesalkan mahasiswa di Kudus yang sekarang kurang greget. Berbagai peristiwa sosial dan efek kebijakan pemerintah kurang mendapat respon dari mahasiswa. “Dibangunnya hypermart di kawasan Tugu Identitas Kudus seharusnya direspon oleh mahasiswa, namun saya belum melihat itu” kata tokoh masyarakat tersebut.

Menurutnya mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyiapi kebijakan pemerintah, karena mahasiswa sejak dulu dikenal kritis dan tidak mempunyai muatan kepentingan apapun selain membela kepentingan rakyat. Lebih lanjut Ia menjelaskan sejarah mahasiswa sebelum dan paska kemerdekaan memegang peran kunci. “Dari rezim Sukarno hingga Suharto, mahasiswalah yang selalu menjadi yang terdepan. Bahkan di tahun 1998 mahasiswa menjadi korban keganasan tentara saat mengawal isu Reformasi.

M Ghofar, salah seorang narasumber lainnya mengungkapkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) butuh dukungan dari ekstra parlementer yang sejak dulu diperankan oleh mahasiswa. Salah satu anggota DPRD Kabupaten Kudus tersebut mahasiswa sekarang terlihat pasif. “Jika ada kebijakan dari pemerintah, baik nasional maupun daerah suara Anggota Dewan saja tidak cukup. Perlu ada dorongan lebih dari kawan-kawan mahasiswa dan masyarakat agar suara kami lebih kuat” tuturnya.

Dalam acara tersebut terjadi dialog antara narasumber dan mahasiswa yang antusias mengikutinya. Salah seorang mahasiswa saat sesi dialog menyatakan alasan mahasiswa UMK yang kurang kritis diakibatkan semakin padatnya tugas mata kuliyah yang harus dikerjakan. “Apakah hal ini sebuah langkah untuk mengekang kami?” Ungkapnya.

- advertisement -

Yuli Astuti, Angkat Kembali Kapal Kandas Batik Kudus

1
SEPUTAR KUDUS – Yuli Astuti
SEPUTAR KUDUS – Perempuan yang satu ini memang luar biasa, bukan karena kuat
mengangkat kapal sungguhan, namun perempuan bernama lengkap Yuli Astuti ini
berhasil mengembalikan kejayaan batik Kudus menjadi kekeayaan budaya nasional
dan salah satu motif yang paling khas dibanding batik di daerah lain adalah
Kapal Kandas.
Perempuan yang lahir pada 15 Desember 1980 ini awalnya
mengikuti pertemuan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Rembang untuk pelatihan membatik bersama 9 orang lainnya, namun hanya dirinya
yang bertahan untuk mengembangkan batik. Dari acara tersebut ia akhirnya
mengetahui bahwa Kudus pernah berjaya dalam pembuatan batik, kemudian ia sangat
tertarik dan termotifasi untuk mengangkat kembali batik yang sempat tenggelam
di kota kretek tersebut, Yuli akhirnya memutuskan untuk menggali lebih dalam
tentang batik Kudus.
“Pertamanya sangat sulit untuk menggali literatur batik
Kudus, tapi saya tidak menyerah,” paparnya (26/6) di galerinya yang beralamat di
Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu.
“Bisa dikatakan harus berdarah-darah awalnya, saya sama
sekali tak paham tentang batik, teknik pembuatannya, apalagi tentang sejarah
batik Kudus. Saya harus ke Jogja, Solo dan Pekalongan dengan bersepeda motor
hanya untuk belajar dan menggali tentang batik Kudus,” paparnya. Dalam
perburuannya selama kurang lebih dua tahun, ia harus rela merogoh kocek hingga
Rp 60 juta, diantaranya untuk membeli batik Kudus dari seorang kolektor.
Perempuan berkulit kuning langsat tersebut menambahkan
dirinya harus menapak tilas kejayaan batik Kudus dari berbagai sumber. Setelah
lama mencari akhirnya ia menemukan sosok wanita yang hingga sekarang masih
membatik dengan motif  khas Kudus di
daerah Kaliwungu.
“Bu Niamah adalah satu-satunya orang Kudus yang masih
membatik di usianya yang telah renta, beliau lah yang mengajari saya tentang
dasar dan teknik membatik serta menunjukkan motif Kapal Kandas yang terkenal
itu” paparnya.
Yuli menceritakan, dinamakan Kapal Kandas karena ribuan
tahun silam kapal Sam Po Kong yang berlayar melewati pesisir Muria kandas
karena rusak, para penumpang asal negeri tirai bambu tersebut akhirnya banyak
yang bermukim di lereng Muria, cerita tersebut akhirnya diabadikan dalam motif
batik oleh masyarakat Kudus.
Lebih lanjut Yuli menceritakan batik Kudus mengalami
kejayaannya di tahun 1930an dengan berbagi motif yang didominasi corak pesisir
yang berwarna-warni dan akulturasi kebudayaan china. Tak hanya itu motif
kaligrafi dan kebudayaan Islam juga mengilhai pembuatan batik karena pengaruh
para wali yang menyebarkan agama di Kudus.
Menurut Yuli sebelum Pekalongan dikenal sebagai kota batik,
Kudus lebih dulu dikenal sebagai pelopor di Jawa Tengah selain Solo. Bahkan
para perajin di Pekalongan dulu banyak memuat motif Kudus untuk diproduksi.
Baru di akhir tahun 1970an batik Kudus mengalami penurunan karena banyak
masyarakat Kudus yang memilih untuk menjadi pengusaha rokok kretek, bahkan di
tahun 1990an hingga tahun 2000an batik sama sekali tak dikenal.
Kembali Mendunia

Kerja kerasnya selama kurun waktu 6 tahun ini akhirnya batik
Kudus kembali dikenal, tidak hanya di kancah nasional namun juga banyak diburu
oleh kolektor luar negeri. Usaha kerasnya yang harus menggali sendiri literasi
dan sejarah tentang batik Kudus sekarang membuahkan hasil.
Dalam membuat batik Kudus ia tak melupakan Kapal Kandas,
namun ia juga mengeksplorasi berbagai macam motif lain yang ia ciptakan sendiri
dengan mengambil inspirasi dari hasil alam di Kudus, seperti Pari Jotho, Beras
Kecer dan Pakis Haji. Karyanya tersebut ia perlihatkan di galerinya yang ia
beri nama “Muria Batik Kudus” dan telah terdaftar di HAKI dengan nomor registrasi
IDM000197060.
Dalam memproduksi batik, Yuli dibantu 14 karyawan yang ia
bina dari nol. 7 karyawan bekerja di galerinya dan 7 lainnya memproduksi di
rumah mereka masing-masing. “Mereka ini yang sebetulnya memberi semangat kepada
saya, bersama mereka saya belajar dari nol. Saya sadar betul bahwa untuk
membatik dibutuhkan keterampilan khusus, makanya mereka ini saya gondeli”
tuturnya.
Berbagai pameran tingkat nasional ia ikuti demi mengenalkan
kembali batik Kudus. berbagai galeri di ibu kota pun memajang karya batiknya,
di antaranya di tebet dan menteng. “Sambutan masyarakat pun lur biasa, tak
hanya masyarakat umum, namun juga pejabat dan para artis pun mengoleksi batik
yang saya buat, bahkan orang luar negeri seperti Malaysia, Inggris, Jerman,
Jepang juga tertarik untuk mengkoleksi” katanya.
“Bahkan sekarang saya ramai diundang untuk menjadi
narasumber dan memberi pelatihan membatik di mana-mana. Dalam waktu dekat ini
saya diundang untuk menjadi narasumber di Museum Batik Nasioal di Jakarta dalam
sebuah seminar” katanya.
Untuk menjaga agar tidak dilupakan lagi, Yuli menggandeng
berbagai unsure masyarakat di Kudus, diantaranya pemerintah, perusahaan dan
juga para siswa. Targetnya tidak muluk-muluk hingga menjadikan batik Kudus
untuk masuk dalam muatan lokal mata pelajaran di sekolah, hanya mendapat
apresiasi dari masyarakat pun ia sudah merasa senang. “Di galeri ini (Muria
Batik Kudus) saya telah menyediakan tempat untuk anak-anak untuk belajar batik,
mereka tidak kami bebankan biaya, hanya sekedar untuk mengganti ongkos
produksi” paparnya. (Mase Adi Wibowo)
- advertisement -

Pasar Bantaran Kaligelis, Bursanya Barang Bekas

1
SEPUTAR KUDUS – Pasar Bantaran Sungai Kaligelis
SEPUTAR KUDUS – Pasar ini memang bukan pasar biasa di Kudus. Berada di jantung kota terletak 1 kilometer dari alun-alun simpang tujuh dan berdiri di antara mall dan swalayan modern, pasar ini tetap tak kalah ramai. Mungnkin karena letaknya yang berada tepat di pinggiran Kaligelis, orang-orang kemudian menyebutnya Pasar Bantaran Kaligelis. Namun ada pula sebagian masyarakat yang menyebutnya Pasar Barito dan Pasar Loak. Pasar ini buka setiap hari jam 08.00 sampai jam 13.00 dan ramai oleh orang-orang yang berburu barang bekas. Mulai dari onderdil motor, barang elektronik, pakaian, hand phone, batu akik hingga uang kuno zaman VOC semuanya ada di sana.
Pasar yang hanya beratap seng ini awalnya adalah para Pedagang Kali Lima (PKL) yang menggelar dagangannya di sekitar Jl. Sunan Kudus tempat makam Sunan Kudus. Pada tahun 2001 mereka dipindahkan ke bantaran Kailgelis yang tak jauh dari makam dengan alasan mengganggu lalu lintas dan peziarah. Namun pemindahan tersebut justru memberikan keuntungan bagi para pedagang karena mereka mendapat tempat yang tetap dan tak harus membawa pulang dagangan, dan yang lebih penting lagi pembeli semakin ramai.
Tak hanya dari Kudus saja, para pembeli juga datang dari Jepara, Pati, Demak, bahkan Semarang. Salah satu pedagang Aris (27) mengungkapkan para pembeli biasanya mencari barang original yang sulit ditemukan di toko. “Banyak orang yang sudah kemana-mana tidak menemukan onderdil yang dicari, mereka menemukannya di tempat ini” kata Pria yang membuka lapak onderdil bekas sepeda motor tersebut. Di lapak yang berukuran 1 x 1,5 meter tersebut Aris menunjukkan beberapa mur dan baut yang sudah terlihat usang. “Ini barang istimewa mas, kalau beruntung saya bisa dapat untung besar” ungkapnya sambil tertawa.
Tak jauh dari lapak Aris, Agus Wahyu (25) seorang pembeli terlihat memilah-milah komponen otomotif. “Saya sedang mencari barang saja mas, siapa tahu bisa menemukan barang bagus” katanya. Menurutnya banyak yang datang ke pasar ini untuk mencari barang kemudian dijualnya lagi. Pria berambut gondrong tersebut sering mencari komponen dan aksesoris Vespa untuk dijual jika ada pameran Vespa di luar kota. Menurutnya pembeli harus memahami dan jeli mana yang bagus, jika pedagangnya tidak tahu biasanya dilepas dengan harga murah. “Yang penting harus pandai menawar” Pungkasnya.
Pasar Bantaran Kaligelis terbagi menjadi dua blok , sebelah utara masuk Desa Langgar Dalem dan di sebelah selatan masuk Desa Demaan. Jumlah pedagang di masing-masing blok ada sekitar 100 pedagang yang dipimpin oleh seorang Ketua Paguyuban dan masa jabatan tersebut berlaku selama empat tahun. Saat Warta Jateng menemui Ali Nur Fais (50) di lapak dagangannya beberapa waktu lalu Ia menuturkan pasar ini merupakan berkah bagi para pedagang kecil seperti mereka. “Kami bersyukur dikasih tempat disini, kami tidak kehujanan lagi seperti tujuh tahun yang lalu” ujar pria yang punya dagangan dompet dan ikat pinggang tersebut. Saat ditanya dari mana para pedagang mendapat stok dagangan, Ia menjawab rata-rata ada yang menyediakan. “Onderdil bekas dapat dari bengkel-bengkel besar, kalau pakaian itu import mas” ungkapnya.
Ali mengatakan para pedagang sangat tertib, baik masalah retribusi maupun koordinasi. Paguyuban yang Ia pimpin biasanya melakukan pertemuan setengah tahun sekali dan saat ada masalah muncul. Ia menceritakan “dulu pernah ada persoalan kemacetan di depan pasar, setelah paguyuban berkumpul didapat solusi untuk membentuk petugas parkir”. Dia mengatas namakan pedagang berharap agar pasar ini dapat terus eksis, agar mereka dapat terus mencari nafkah di sana. Saat selesai liputan dari jauh terdengar suara “Jangan digusur ya mas”. 
- advertisement -

Iwan Fals Ajak Masyarakat Kudus Tanam Pohon

0

SEPUTAR KUDUS – Legenda musik Indonesia Iwan Fals akhir-akhir ini giat mengajak masyarakat menanam pohon. Baginya pohon adalah salah satu unsur keseimbangan alam yang patut dijaga agar alam tak mencari keseimbangannya sendiri. “Jangan menyalahkan alam jika terjadi banyak bencana di negeri ini seperti banjir dan tanah longsor, itu murni kesalahan kita yang tak pandai menjaga keseimbangan alam” katanyanya. Hal tersebut diungkapkannya dalam sebuah dialog dengan santri dan masyarakat yang memadati halaman Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Bareng, Kecamatan Jekulo pada hari Sabtu (28/5).
Dalam acara yang juga hadir Zastrouw Ngatawi dan Enthus Susmono sebagai narasumber tersebut Iwan Fals menyatakan hal yang dilakukannya itu juga sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kerusakan hutan di Indonesia. “Saya, dan kita semua harus ikut bertanggung jawab atas keberlangsungan hutan untuk generasi yang akan datang,” tutur pelantun tembang “Tanam Siram Tanam” tersebut. Ia menambahkan Indonesia seharusnya bisa kaya dengan hasil hutan. “Buktinya negeri penjajah dulu pernah menjadi kaya raya dengan hasil hutan Nusantara, kenapa sekarang miskin? Karena kita tidak merawatnya” keluhnya.
Acara yang selesai pukul 13.30 WIB tersebut dilanjutkan penyerahan pohon oleh Iwan Fals kepada pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Ahmad Badawi dan penanaman pohon secara simbolik di halaman pondok.
Konser Religi
Selain melakukan penanaman pohon, Muhammad Alamul Yaqin ketua panitia lokal mengatakan Iwan Fals akan menggelar Konser Religi bertajuk Extraligi bersama dengan Ki Ageng Ganjur grup musik pimpinan Zastrouw Ngatawi dan Penampilan wayang golek dari dalang kondang Enthus Suswono di Lapangan Tambak Desa Bareng. “Mereka akan kolaborasi dalam nuansa religi sekaligus memberi hiburan gratis kepada masyarakat” paparnya. Ia menambahkan acara konser adalah bagian dari rangkaian perjalanan spiritual Iwan Fals bersama Ki Ageng Ganjur ke 99 pesantren di Jawa. “Setelah yang pertama sukses, bang Iwan dan Ki Ageng Ganjur akan melanjutkan tournya ke 16 kota di Jawa Tenagh dan Jawa Timur” paparnya.
 Acara yang diawali dengan istoghosah dan penampilan rebana tersebut di penuhi oleh ribuan penonton yang terdiri dari penggemar Iwan Fals OI (Orang Indonesia), Slanker, santri dan masyarakat yang tak hanya remaja namun juga ibu-ibu. Iwan Fals dalam konser tersebut menyanyikan 6 lagu, salah dua diantaranya Tanam Siram Tanam dan Proyek 13 yang mengkritisi rencana pembangunan PLTN “Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir”. “Nuklir bukanlah solusi, negeri ini mempunyai sumber daya energi yang melimpah ruah” teriaknya kemudia disahut penonton dengan teriakan “Tolak PLTN”.
Disela-sela lagu yang Iwan Fals nyanyikan, Zastrouw memberikan pengajian tentang prinsip keseimbangan. Ia menjelaskan manusia haruslah seimbang antara akal, etika dan estitika agar kehidupan bangsa ini damai dan terhindar dari bencana yang bertubi-tubi. Tak hanya Zastrouw, penampilan wayang golek dari Enthus juga sangat menghibur para penonton dengan banyolan-banyolannya. 
Acara konser di Kudus siang itu berbeda dengan waktu di Brebes yang berlangsung ricuh. Para penonton bisa tertib dan damai sesuai dengan apa yang diharapkan. Setelah selesai Iwan meminta pasukan semut –Sebutan Iwan Fals pada penggemarnya- untuk memungkut sampah yang tercecer di lokasi. 
- advertisement -

Pesan Hotel Murah di Kudus

0

SEPUTAR KUDUS – Demikian ini kami akan menunjukkan daftar hotel yang ada di Kudus. Baik hotel kelas berbintang maupun hotel kelas melati. Terkait dengan harga dan fasilitas yang ada di hotel berikut ini, silakan saja kontak langsung ke nomor, atau email jika tercamntum.

Hotel Berbintang
HOTEL NOTOSARI PERMAI
Jl. Kepodang No. 8 Kudus Telp. (0219) 437245
KENARI ASRI
Jl. Kenari No.2 Kudus Telp. (0291) 436493
CENTRAL HOTEL
Jln. Kepodang No.17, Kudus 59317 Telp. 430488 (hunting)
Fax : (62-291) 430477
GRIPTHA HOTEL ( Hotel Bintang 4)
Jl. Agil Kumumadya Kudus. Telp. (0291) 438787 atau (0291) 438449
web: www.griptha.com
Hotel King’s Kudus
Jl. Agilkusumadya Lingkar Barat, kav 1, Kudus, Jawa Tengah
Phone: 0291 425 2008
Email: info@hotelkingskudus.com
HOTEL SALAM ASRI
Jl. Jend. Sudirman Km. 2, Kudus. Telepon (0291) 4246523
Hotel Melati
HOTEL AIR MANCUR
JL. Pemuda No. 70 Kudus Telp. (0291) 432514
PRIMAGRAHA
Jl. Agil Kusumadya Gang 1 No.8 Kudus Tel. (0291) 43780
DUTA WISATA
Jl. Barongan II/94 Kudus Telp. (0291) 438694
JATI ASRI
Alamat : Jl. Lingkar, Jati Kudus Telp. (0291) 441293
PESANGGRAHAN COLO
Kec. Dawe Telp Kudus Telp. (0291)435157
WISMA KARINA
Jl. Museum Kretek No.3 Kudus Telp. (0291) 431172
WISMA SALIMNA
Jl. HM.Subechan ZE No.36 Kudus Telp. (0291) 430159
NUANSA ASRI
Jl. AKBP Agil Kusumadya No. 139 Kudus Telp. (0291) 3308802
AMINA
Alamat: Jl. Menur No. 448 Kudus Telp. (0291) 438301
KEPODANG ASRI
Alamat: jl. Kepodang No17 Kudus Telp. (0291) 433795
POROLIMAN
Jl. Bhakti No.5 Kudus Telp. (0291) 431501
SLAMET
Jl. Jend. Sudirman No.63 Kudus. Telp. (0291) 438534
MAJESTY HOTEL
Jl. Lingkar Jetak KM 1 kaliwungu Kudus
MAHKOTA
Jl. Sentot Prawiro Dirjo Getas Pejaten Kudus Telp. 081325152853
KUDUS INDAH
Jl. Lingkar Jati Kudus Telp. (0291) 436493
GRAND TANJUNG
Jl. Lingkar Tanjung Kudus Telp. (0291) 3312005
SURYA KENCANA
Jl. Lingkar Selatan Kudus Telp. 081325125853

- advertisement -

Profil Geografis Kabupaten Kudus

0
SEPUTAR KUDUS

1. Letak Geografi
Kabupaten Kudus sebagai salah satu Kabupaten di Jawa Tengah, terletak diantara 4 (empat) Kabupaten yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati, sebelah selatan dengan Kabupaten Grobogan dan Pati serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Demak dan Jepara. Letak Kabupaten Kudus antara 110o36’ dan 110o50’ Bujur Timur dan antara 6o51’ dan 7o16’ Lintang Selatan. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 16 km dan dari utara ke selatan 22 km. 
2. Luas Penggunaan Lahan 
Secara administratif Kabupaten Kudus terbagi menjadi 9 Kecamatan dan 123 Desa serta 9 Kelurahan. Luas wilayah Kabupaten Kudus tecatat sebesar 42.516 hektar atau sekitar 1,31 persen dari luas Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Dawe yaitu 8.584 Ha (20,19 persen), sedangkan yang paling kecil adalah Kecamatan Kota seluas 1.047 Ha (2,46 persen) dari luas Kabupaten Kudus.
Luas wilayah tersebut terdiri dari 20.629 Ha (48,52 persen) merupakan lahan pertanian sawah dan 7.637 Ha (17,96 persen) adalah lahan pertanian bukan sawah. Sedangkan sisanya adalah lahan bukan pertanian sebesar 14.250 Ha (33,52 persen).
Jika dilihat menurut penggunaannya, lahan pertanian sawah yang menggunakan irigasi teknis seluas 6.582 Ha (31,91 persen), irigasi ½ teknis 5.119 Ha (24.81 persen) dan sisanya berpengairan sederhana, Irigasidesa/Non PU serta tadah hujan dan
lainnya.
Untuk lahan pertanian bukan sawah, sebagian besar digunakan untuk tegal/kebun sebesar 77,32 persen, untuk ladang/huma sebesar 3,52 persen dan sisanya untuk perkebunan, hutan rakyat, tambak, kolam dan lainnya.Sedangkan untuk lahan bukan pertanian, sebagian besar digunakan untuk rumah/bangunan sebesar 77,41 persen, hutan negara sebesar 13,21 persen sedangkan sisanya adalah rawa rawa yang tidak ditanami serta lahan lainnya.
3. Jenis Tanah
Sebagian besar jenis tanah di kabupaten Kudus adalah alluvial coklat tua sebesar 32,12 persen dari luas tanah di kab. Kudus. Dimana sebagian besar tanahnya memiliki kemiringan 0-2 derajat dan kedalaman efektif lebih dari 90 cm. Berdasarkan data dari BPN, sertifikat tanah yang diterbitkan sampai tahun 2011 ini ada sebanyak 7.699 buah. Sebagian besar merupakan sertifikat hak milik (95,32 persen) lalu sertifikat hak guna bangunan (4,05 persen) dan sisanya sertifikat hak pakai, hak guna usaha, sarusun dan HPL.
4. Iklim
Berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi Pertanian Kudus, Jumlah hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari dan Februari 2011 yaitu 21 hari dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 432 mm. Suhu udara rata-rata di Kabupaten Kudus tahun 2011 berkisar antara 20,1oC sampai dengan 28,8oC.Dibandingkan dengan tahun 2010, dari data terlihat rata-rata suhu udara baik yang minimun maupun
maksimum mengalami peningkatan suhu udara. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi dari 73,9 persen sampai dengan 83,8 persen selama tahun 2011 ini.
Sumber: BPS Kudus
- advertisement -