Beranda blog Halaman 1981

Di Tangan Hilmy, Jenang Kudus Mendunia

1
SEPUTAR KUDUS – Muhammad Hilmy, Dirut PT Mubarok Food Cipta Delicia

SEPUTAR KUDUS – Sebelumnya mungkin tak ada yang menyangka, jajanan tradisional khas Kudus, Jenang, dapat menembus pasar dunia. Keberhasilan ini tak lepas dari peran besar seorang pengusaha industri jenang, Muhammad Hilmy. Karena keuletan dan kerja kerasnya selama lebih kurang dua dekane terakhir, kini jenang Kudus mulai dikenal di beberapa negara di Asia, bahkan hingga ke Timur Tengah.

Jenang adalah makanan yang terbuat dari tepung beras dan campuran gula Jawa. Makanan ini telah menjadi jajanan khas masyarakat Kudus sejak lama. Di Kudus, banyak masyarakat yang menjalankan usaha pembuatan jenang, baik yang masih tradisional maupun modern. Dan Hilmy, menjadi salah seorang pengusaha dalam industri pembuatan jenang dengan memodernisasi perlatan dan manajemen usahanya. Salah satu merek produk jenang yang telah dikenal khalayak, adalah Jenang 33 dan Jenang Mubarok.

“Sebenarnya, usaha yang saya lakukan ini adalah peninggalan dari orang tua kami. Dan saya, adalah generasi ketiga, setelah ayah dan nenek saya,” kata Hilmy, saat ditemui di kantor PT Mubarok Food Cipta Delicia, Jalan Sunan Muria, beberapa waktu lalu.

Hilmy menceritakan, dirinya mulai mengelola usaha keluarganya itu sejak tahun 1992 silam. Namun, sarjana ekonomi di salah satu kampus di Yogyakarta itu, baru melakukan pembenahan manajemen dan alat-alat produksi, setelah enam tahun  berikutnya. Salah satu bagian yang menjadi perhatian dirinya, adalah bagian personalia, yang menjadi kunci utama masuknya seorang karyawan. Hal itu menurutnya menentukan hasil produksi yang akan disuguhkan ke tengah masyarakat.

“Saat awal memegang perusahaan ini, saya tidak lantas secara mudah merubah tatanan manajemen yang ada. Karena, usaha ini dijalankan oleh generasi sebelum saya sejak tahun 1920 silam, dengan manajemen seadanya dan lebih banyak diisi oleh kalangan keluarga dekat. Pada saat itu sebagian besar pengusaha jenang di Kudus, menjalankan usaha secara tradisional,” ujar Hilmy.

Setelah melakukan pembenahan manajemen dan alat produksi, baru di tahun 2001, Jenang Mubarok tidak hanya dapat menembus pasar lokal, bahkan dapat menembus pasar internasinal. Saat itu, salah satu maskapai penerbangan ternama, Garuda Air Ways menggunakan produk jenang milik Hilmy sebagai sajian bagi penumpang dari berbagai negara. Bahkan, dalam dua tahun terakhir ini, Jenang Mubarok juga digunakan oleh Saudi Air Land.

Saat ini, menurut Hilmy, Mubarok Food telah mempunyai cabang penjualan di sejumlah negara di Asia. Di antaranya, Uni Emirat Arab, Sudi Arabia, Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Dan pasar potensial yang menjadi unggulan penjualan Jenang Mubarok di luar negeri adalah Hongkong.


Berawal dari Mimpi

Bagi Hilmy, keberhasilan yang ia raih berawal dari sebuah mimpi besarnya untuk membesarkan usaha warisan keluarganya itu. Pada saat awal dipilih untuk mewarisi usaha, dirinya memiliki mimpi untuk mengenalkan jenang ke seluruh dunia. Awal mimpi itu, ia lakukan dengan pembenahan manajemen, penambahan dan modernisasi alat, serta perluasan pasar.

Selain itu, pembenahan juga dilakukan pada tampilan produk jenang yang dibuat. Kesan jajanan tradisional yang melekat erat pada jenang, dirubah menjadi makanan yang elegan. Kemasan yang ada, terbuat dari berbagai macam bahan dan desain. Ada kemasan dengan kertas dan plastik yang elegan, serta desain produk yang tampak seperti makanan berkelas.

“Setiap tahun kami telah membuat rencana inovasi produk. Termasuk kemasan yang membungkus produk jenang kami. Selain itu, inovasi juga kami lakukan pada jenis makanan yang kami buat, termasuk inovasi terakhir yang kami lakukan dengan mengkombinasikan jenang dengan cokelat dan kurma,” ujar Hilmy.

Prestasi yang berbuah penghargaan diraih Hilmy bersama Mubarok Food, di antaranya Upakarti dari Presiden RI tahun 2007, kategori Industri Kecil Menengah. Selain itu, Mubarok Food juga mendapatkan penghargaan UKM Pangan Award tahun 2008 dari Menteri Perdagangan,  Top 250 Indonesia Original Brand tahun 2009 oleh sebuah majalah bisnis nasional, dan Standar ISO 9001:2000 dari Sucofindo Internasional di tahun 2002. Serta banyak penghargaan-penghargaan lain dari pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi. (Suwoko)

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (5-Habis)

0
SEPUTAR KUDUS – Komplek makam RMP Sosrokartono

Persemayaman Terakhir di Makam Sido Mukti Kudus
SEPUTAR KUDUS – Pada tanggal 8 Februari 1952, Sosrokartono wafat di kediamannya, Jalan Pungkur Nomor 7, Bandung. Pada  keesokan harinya, jasad Sosrokartono diterbangkan ke Semarang, kemudian disemayamkan untuk terakhir kalinya di Kompleks makam Sido Mukti, Jalan Sosrokartono, Kaliputu, Kudus. 

Menurut Juru Kunci makam Sedo Mukti, Sunarto (53), makam yang dia jaga itu awalnya merupakan  tanah pemberian pemerintah Hindia Belanda kepada Aryo Condro Negoro, Bupati Kudus ke 3 yang juga kakek buyut  Sosrokartono. Tanah seluas dua hektar itu kemudian menjadi makam keluarga. 


Sunarto menambahkan, tanah tersebut diberikan karena jasa besar Aryo Condro Negoro yang telah berhasil memakmurkan masyarakat Kudus dan melepaskan masyarakat dari masa Pageblug atau krisis pangan. Semua keluarga, kerabat dan menantu Aryo Condro Negoro kemudian dimakamkan di kompleks makam tersebut, termasuk keluarga Sosrokartono. 


“Namun beberapa keluarga lain yang mempunyai suami di luar Kudus biasanya dimakamkan ikut dengan suaminya, seperti RA Kartini yang dimakamkan di Rembang. Bu Muryati Sudibyo (Pendidiri Mustika Ratu) yang memiliki garis keturunan Aryo Condro Negoro juga direncakan tidak dimakamkan disini, melainkan ikut suaminya di Jawa Barat,” ujar Sunarto.


Sunarto sangat menyayangkan masyarakat yang telah melupakan jasa besar Sosrokartono terhadap bangsa ini. Bahkan, masyarakat tidak pernah mau mencari tahu kenapa jalan di samping makam ini dinamakan Jalan Sosrokartono. Ia berharap sosok Sosrokartono diangkat kembali, khususnya bagi Pemerintah Daerah Kudus agar tidak melupakan jasa besar yang dilakukan oleh keluarga besar Condro Negoro. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (4)

0

Kembali ke Indonesia


SEPUTAR KUDUS – Pada tahun 1925, Sosrokartono pulang ke negeri di mana dia dilahirkan, Indonesia. Kepulangannya itu dilakukan setelah pengembaraannya yang panjang, di beberapa negara di Eropa, baik sebagai mahasiswa, maupun menjadi jurnalis di The New York Herald Tribune. 

Kegagalannya mencapai gelar doktor tidak mematikan spirit intelektual tokoh ini. Bahkan, dia mencoba mendaki puncak lain yang mencoba melakukan sintesis antara intelektualisme Barat dan spiritualisme Timur. 


Sosrokartono pulang untuk mengabdi kepada negeri dengan menjadi pemimpin Nationale Middlebare School di Bandung. Akan tetapi, pemerintah kolonial curiga dengan apa yang dia lakukan itu. Segala upaya dilakukan pemerintah kolonial pada waktu itu, bahkan melakukan upaya represi politik terhadap dirinya. 

Upaya pelemahan secara politik atas gerakan yang dilakukan Sosrokartono oleh pemerintah kolonial, membuat dirinya memilih jalan lain, yakni  mendalami spiritualisme Jawa. Untuk mengabdi dan tetap menjadi manusia yang merdeka dengan segala ide dan pemikirannya, Sosrokartono memutuskan membuka praktik pengobatan tradisional dan menempuh laku spiritual khas orang Jawa. Sebuah pilihan yang ganjil memang. Namun seganjil apa pun pilihan itu tak menutupi kontribusi Sosrokartono dalam usaha pembentukan negara Indonesia. 


Solichin Salam (1987) mencatat cukup banyak tokoh kunci dalam pergerakan politik nasionalis saat itu yang berinteraksi dengan Sosrokartono. Soekarno dan Ki Hajar Dewantoro, antara lain memberi penghormatan besar kepadanya, termasuk pada laku spiritual dalam menopang laku politik mereka. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (3)

0

Pejuang Kemerdekaan dan Simbol Kebangkitan Intelektual
SEPUTAR KUDUS – Meski dikenal dekat dengan para bangsawan Belanda dan beberapa ilmuan asal Negeri Kincir tersebut, Sosrokartono tidak pernah melupakan kampung halamannya. Diketahui bahwa salah satu pembimbing R.A Kartini dalam menuliskan surat keprihatinannya akan nasib pendidikan warga pribumi adalah dirinya. Pada 29 Agustus 1899 dalam Kongres ke-25 Bahasa dan Sastra Belanda di Gent, Belgia  Sosrokartono menyampaikan pidato yang menggemparkan. 


“Saya minta dengan sangat dan bersungguh-sungguh, hendaklah kepada insulinde ditumpahkan cinta kasih, cinta kasih yang wajib diberikan kepadanya sebagai hak miliknya. Hai, kamu bangsa penjajah, pada tangan kirimu kamu menggenggam lambang utusan/ajaran untuk damai di antara sesama manusia, dengan tangan kananmu kamu memegang tongkat lambang peradaban, maka dari itu hidupkanlah rasa persaudaraan antara bangsamu dan bangsa yang engkau jajah,” seru Sosrokartono agar Belanda mengajarkan bahasanya lebih luas bagi rakyat Jawa. Pernyataan kerasnya itu dimuat di majalah bulanan Neerlandia, sebulan kemudian.


Tak dapat dimungkiri bahwa Sosrokartonolah yang menginspirasi Kartini dalam memperjuangkan hak-hak pribumi. Mereka sering sekali berkirim surat dan menceritakan tentang keadaan mereka masing-masing di negeri yang saling berjauhan. Salah satu sahabat Kartini yang juga berhubungan baik dengan Sosrokartono adalah Abendanon. 


Pada tahun 14 Juli 1925 dalam surat Sosrokartono yang dikirimkan kepadanya menyebutkan rasa berangnya akan perilaku birokrat Hindia Belanda yang masih saja menganggap kaum pribumi sebagai kuli, meskipun mereka hidup bertahun-tahun di negeri jajahannya tersebut. 


Sosrokartono menemukan pengesahan intelektual pada tahun 1908 dengan penerimaan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra. Sebuah tanda yang turut menginisiasi kebangkitan intelektual-modern Indonesia. Satu hal yang dirasa menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial. Sosrokartono gagal secara akademik mencapai gelar doktor akibat kebencian dan dendam dari juru bicara kolonialisme dan orientalisme Prof Dr Snouck Hurgronye. 
  
Sosrokartono mendapat tuduhan sebagai simbol kebangkitan intelektual dan nasionalisme pribumi. Namun, Sosrokartono tetap mendapat nama, menjadi fenomena, juga problema di Eropa. Mohammad Hatta (1982) menjuluki Sosrokartono sebagai manusia genius. Hatta mengisahkan tentang perjamuan makan Sosrokartono dan kaum etis (Mr Abendanon, Mr Van Deventer, Prof Dr Snouck Hurgronye, dan Prof Hazeu). 


Sosrokartono hadir dalam perjamuan makan sebagai intelektual kosen yang disegani. Kaum etis itu ingin menanggung utang kolonial mereka dengan, antara lain, membantu Sosrokartono merampungkan disertasi doktoralnya. Namun, Sosrokartono menjawab tawaran itu dengan sebuah satir: 


“Maaf tuan-tuan yang terhormat, utang itu adalah satu-satunya harta saya. Harta saya satu-satunya itu apakah akan tuan ambil juga dari saya,” Satir itu merupakan hantaman keras bagi politik etis. 


Motif kolonial untuk mengembalikan utang sejarah mereka dengan mengembalikan kerugian budi dan materi tak mungkin dapat dipenuhi hanya dengan edukasi, irigasi, atau migrasi. Operasionalisasi politik etis justru mengandung dilema untuk mengantarkan pada pintu emansipasi atau westernisasi melalui sihir pemikiran intelektual. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

Daftar Pondok Pesantren di Kudus

0

SEPUTAR KUDUS – Kudus sejak dulu telah dikenal sebagai Kota Santri. Sebutan itu tak lepas dari banyaknya pondok pesantren yang ada di Kota Kretek. Tercatat, ada sebanyak 86 pondok pesantren di Kabupaten Kudus, yang tersebar di sembilan kecamatan.

Kudus sangat dikenal sebagai pencetak ahli Quran. Banyak pondok yang mengajarkan ilmu Al-Quran, namun ada satu pondok yang sangat terkenal dengan ilmu Al-Qurannya, yakni Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran, baik menganjar santri putra, putri maupun anak-anak. Pondok pesantren Warisan KH Arwani Amin, itu kini diasuh oleh KH Ulin Nuha Arwani. 
Sebagai dokumentasi atas mengemukanya Kudus sebagai Kota Santri, Seputar Kudus dalam postingan ini akan memuat daftar seluruh pondok pesantren yang ada di Kudus. (*)

Kecamatan
No
Nama Pesantren
Alamat
Tahun Berdiri
Pengasuh
Bae
1
1
Darul Ulum
Ngambalrejo Rt 5/IV
1960-an
K.H. Drs. Sa’ad Basyar
Mejobo
2
1
Nurul Furqon
Mejobo Rt 7/II
2001
K. M. Baha’uddin
3
2
Raudlatuth Tholibin
Golantepus Rt 2/III
1949
Ust. Kholis Warnaningsh, S.Ag
4
3
Assa’idiyyah (dan Pdepokan Telogo Kautsar)
JL. Jogo Rekso No. 2 b, Kirig Rt 1/III
K.H. Noor Asid Sa’id (dan K.H.M. Luqman al-Banjary)
Kaliwungu
5
1
Al-Furqon
Jerakah, Sidorekso
1992
K.H. Chusniddin
6
2
Hidayatullah, Yayasan Al-Aqsa
Grogol Loji, Bakalan, Krapyak Rt 4/V
2000
Ust. Imam dan Ust. Hanifullah
7
3
Ma’ahid
Jl. K.H.M. Arwani Amin, Bakalan, Krapyak
1937
K.H. Kusnin Basri, BA
8
4
Sabilul Rosyad
Pring Sewu, Bakalan, Krapyak
2000
K.H. Makin (Alm)
Jati
9
1
Darul Izzah
Jl. Masjid At-Taqwa, Loram Kulon
1995
K.H. Hamzah Asnawi (Alm)
10
2
Darusy-Syifa’ Al-Islami
Ploso, No. 165 Rt 1/II
2000
K.H. Abdullah Shonhaji
11
3
Al-Ghurobaa’
Tumpangkrasak Rt 1/VII
1995
K.H.M. Mustamir
12
4
Ittihath Tholibin
Jl. Masjid At-Taqwa No. 795, Loram Kulon
1955-an
K.H. Hamzah Asnawi (Alm)
13
5
As-Salam
Tanjung Karang
2002
K.H. Ma’ruf Shiddiq, Lc
Dawe
14
1
Al-Huda Al-Fathoniyyah
Gringging, Samirejo No. 20 Rt 2/I
1967
K.H. Fathoni
15
2
MAK Miftahul Falah
Cendono
1996
K.H. Hamdani, MA
16
3
Manba’ul Falah
Jl. Sunan Muria Piji Rt 1/VI
1991
K.H. Ahmad Shiddiq
17
4
Miftahul Huda
Gringging, Samirejo Rt 2/I
1997
K. Mahmud Junaidi
18
5
Nurul Ulum (Anak-anak)
Piji Rt 4/III
1999
K. Sofyan
19
6
Raudhatuth Tholibin
Lau Rt.5/III
1954
K.H. Abdul Mu’thi
Gebog
20
1
Darun Najah
Talun, Kedungsari, Rt 2/VIII
1986
K. Rosyiban
21
2
Darus Salam
Kuwaraan Getasrabi
2001
K.H. Ahmad Hadi (Alm)
22
3
Al-Furqon
Tulis, Gondosari No. 31 Rt 4/I
1992
K.H. Abdul Basyir, MA
23
4
Al-Hidayah
Srabi Kidul, Getasrabi
2000
K.H. Ibrohim Kholili
24
5
Manarul Huda
Kauman, Besito Rt 3/IV
1983
K.H. Khafidz
25
6
Nurus Salam
Jurang Rt  3/VI
1975
K.H. Hanafi
26
7
PARIS (Pendidikan Anak-Anak Rakyat Islam)
Padurenan Rt 4/I
1930-an
K.H. Ahmad Baqir
27
8
Al-Qudsiyyah
Srabi Lor, Getasrabi Rt 3/V
1992
K.H. Ahmad Muzayyin
28
9
Rahmatillah
Besito Rt 5/VII
1984
K.H. Abdul Manan
29
10
Yanabi’ul Qur’an Anak-anak Putri
2004
K.H. Ma’shum, AK
Undaan
30
1
Irsyaduth Tholibin
Medini, gang II, Rt 6/III
1977
K.H. Afifuddin Rifai
31
2
Ishlahusy Syubban
Undaan Kidul Gg. XI. Rt 7/III
1946
K. Chumaidi Haris
32
3
Al-Khoirot
Undaan Kidul Gg. VII. Rt 5/II
1967-an
K. Hajar Abdul Rodli
33
4
Manalul Huda As-Syafa’
Kalirejo, Rt 2/I
1965
K.H. Musyafa’
34
5
Mu’awanatuth Thullab
Madini Gg. IV Rt 8/I
1962
K.H. Achmad Husein
35
6
Nurus Siroj
Undaan Kidul Gg. XII. Rt 02/IV
1890
K.M. Sholih & K.H. Zaenal Arifin
36
7
Raudhatul Huffadh
Kalirejo
1987
K. Masyasyih
37
8
Rabtotul Huffadh
Undaan Kidul
K.H. Ali Ajwad
38
9
Subulussalam
Sambung Gg. XII, Rt 03/I
1940-an
K.H. Hasan Mas Umar
39
10
Tibbil Qulub
Jl. Prawoto, Kalirejo, Rt 05/IV
1999
K.H. Misbahul Munir
Jekulo
40
1
Bustanul Muhtadin
Bulung Kulon Rt.03/V
1950-an
K. Syafi’i
41
2
Darul Falah
Jl. Sewonegoro, No. 29 Rt.1/X, Kauman, Jekulo
1970
K.H. Ahmad Basyir
42
3
Darul Mubarok
Jl. Sewonegoro, No. 125 Rt.03/IX, Kauman, Jekulo
1983
K.H.A. Romli
43
4
Darul Muqomah
Bulung Kulon, Rt 04/III
1992
K. Muhammad Sholeh
44
5
Dzikrul Hikmah
Tlogo, Gondo Harum
1975
K.H. Khasnan
45
6
Al-Halim
Rt.01/II
1999
K.H. Ahmad Syaerozi
46
7
Hanafiyyah
Kerang Panas, Bulung Cangkring, Rt. 03/I
1977
K.H. Hanafi
47
8
Al-Husna
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo
1984
K.H. Rahman Ahmad
48
9
An-Nur
Jl. Sewonegoro No.1, Kauman, Jekulo
1993
K.H. Syafiq Nashan
49
10
Pendidikan Pedoman Islam (PPI)
Bulung Kulon
1965
K.H. Damansari
50
11
Al-Qoumaniyyah Bareng
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, No. 03 Rt. 01/X
1923
K.M. Mujib
51
12
Al-Qoumani-
yah (Huffadh)
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, No. 15 Rt. 01/X
1988
K.H. Hambali
52
13
Rohmatul Ummah Essalafy
Jl. Pandean No. 230
1989
K.H. Mahmudi Amam
53
14
Salafiyyah Asysyafi’iyah
Jl. Gondoharum, No. 08, Rt. 03/I
1979
K.H. Moch. Halimi
54
15
Sirajul Hannan
Jl. Sewonegoro II, No. 27, Kauman, Jekulo
1997
K.H. Ma’shum Rosyidie
55
16
Al-Yasir
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, Rt. 03/IX
1987
K.H. Ahmad Saiq
Kota
56
1
Dar al-Furqon
Kalugawen, Janggalan, No.267. Rt. 01/II
1984
1984
K.H. Abdul Qodir
57
2
Al-Fadlilah
Jl. Lambau. No. 05 Singocandi
2000
K. Nashihul Umam
58
3
Al-Jalil
Kauman Menara Rt.02/I
1957
K. Yasin Djalil
59
4
Ittihadul Falah
Bejen, Kajeksan No.60
2000
K. Habibullah Hambali
60
5
Jam’iyyatul Hidayah Ibu Fathihah
Damaran No.92
1963
Ust. Mutahifah & K. Jamaluddin
61
6
Jam’iyyah Roudlotul Mubarok
Bejen, Kajeksan No.60. Rt.03/III
1990
Ust. Nor Ulfah
62
7
Mafatihul Ulum al-Mathar
Sunggingan No.442-446
1992
K.H. Abdullah Zaeni Nadhirun
63
8
MAK TBS
Jl. K.H. Turaichan Adjhuri No.23, Rt.02/II
1994
K.H. Ahmad Abd. Fatah, MA
64
9
Manba’ul Qur’an (Huffadz)
Rendeng Utara No.14 a
1999
K.H. Shofwan Duri
65
10
Manba’ul Qur’an
Kelurahan, Kajeksan 22
1940-an
K. Zahir Ma’mun
66
11
Mazro’atul Ulum
Damaran No.78
1940-an
K.H. Noor Muttaqin (Alm)
67
12
Al-Mubarokah
Lemah Gunung, Krandon
1989
K.H. Sa’dullah Arrouyani
68
13
Muhammadiyah
Tepasan, Demangan No.180
1990
Ust. Endang Karyati, S.Ag, Ust. Ladun Hakim dan Ust.
Hasan Fauzi
69
14
Nahdlotut
Tholibin
Bejen, Kajeksan   60 Rt.02/III
K.H. Ahmad Chamdun
70
15
Najahuth
Tholabah
Bejen, Kajeksan 60 Rt.02/III
1936
Ust. Hanifah
71
16
Al-Qudsy
Jl. Pangeran Puger No.54 Demaan
2000
Ust. Siki Hariroh
72
17
Raudlatul
Jannah
Bejen, Kajeksan Rt.03/III
K.H. Abdul Azis Mulyono & Nyai Hj. Aminah
73
18
Ar-Raudlotul
Mardliyah
Janggalan No.57
1981
K.H. M. Munir Hisyam
74
19
Raudlatul
Muta’allimin
Jagalan, Langgardalem No.62
1880
K.H. Ma’ruf Irsyad (Alm)
75
20
Raudlatut
Tholibin
Jl.K.H.R. Asnawi No.44 Bendan, Kerjasan
1927
K.H. Moch. Hafidz Asnawi
76
21
Raudlatut
Muta’allimat
Kaligunting, Kajeksan No.115
1969
K.H. Ahmad Yahdi
77
22
Sadzaliyyah
Kyai Noor Hadi
Sunggingan Rt. 02/III
1996
K.H. Abdullah Zaini Nadhirun
78
23
TBS
(Tasywiquth Thullab Salafiyyah)
Jl. K.H. Turaichan Adjhuri No.237, Balaitengahan,
Langgardalem
1920-an
K.H. Taufiqur Rohman
79
24
Yanabi’ul
Ulum Warrohmah
Jl.K.H.M. Arwani Kajan, Krandon
1993
K.H. Maksum AK
80
25
Yanbu’ul
Qur’an – Putera (Pesantren Tahfidz)
Jl. K.H.M. Arwani No.24 Kajeksan Rt.01/III
1970
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
81
26
Yanbu’ul
Qur’an – Puteri (Pesantren Tahfidz)
Jl. K.H.M. Arwani No.24 Kajeksan Rt.01/III
1973
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
82
27
Yanbu’ul
Qur’an – Anak-Anak (Pesantren Tahfidz)
Kebon Agung, Krandon, No.12
1986
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
83
28
Yanbu’ul
Qur’an- Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banin
Kwanaran Kajeksan No. 139 a
1990
K.H. Arifin Fanani
84
29
Yanbu’ul
Qur’an- Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banat
Kerjasan No. 82
1993
K.H. Munfa’at A.Jalil, Lc
85
30
Yanbu’ul
Qur’an- Remaja (Pesantren Tahfidz)
Bejen, Kajeksan 3/III
1997
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
86
31
Yanbu’ul
Qur’an- Yatama Utsman bin Affan
Singopadan, Singocandi Rt.01/III
2002
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani

Artikelterkait lainnya:

- advertisement -

Penduduk Kudus 743 ribu, Jati Terbesar, Bae Terkecil

0

Jumlah penduduk Kudus saat ini tercatat 743.291 juta jiwa. Jumlah itu terdiri dari 379.289 penduduk laki-laki, dan sisanya, 364.002 juta adalah penduduk perempuan.

Demikian data yang dirilis oleh Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri, yang termuat dalam Data Agregat Kependudukan per Kecamatan (DAK2) yang diterima oleh KPU Kudus, Kamis (6/12).
 
Berdasarkan DAK2 itu, jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Jati, yakni 93.402 jiwa, dan angka penduduk terkecil tercatat di Kecamatan Bae, yaitu 62.040 jiwa.

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (2)

0

Seorang Jurnalis yang menguasai 27 Bahasa


SEPUTAR KUDUS – Pada tahun 1917, koran Amerika The New York Herald Tribune, di kota Wina, Ibukota Austria, membuka lowongan kerja untuk posisi reporter. Tenaga lapangan itu dibutuhkan untuk  meliput Perang Dunia I. RMP Sosrokartono ikut dalam rekruitmen tersebut.  

Tugas yang diujikan dalam tes penerimaan, yakni menyingkat-padatkan sebuah berita dalam bahasa Perancis yang panjangnya satu kolom. Berita itu harus diringkas menjadi sekitar 30 kata, dan harus ditulis dalam 4 bahasa, yakni Bahsa Inggris, Spanyol, Rusia dan Perancis. 


Sosrokartono, putra Bumiputra yang ikut melamar berhasil memeras berita itu menjadi 27 kata, sedangkan para pelamar lainnya lebih dari 30 kata. Persyaratan lainnya juga bisa dipenuhi oleh Sosrokartono, sehingga dirinya terpilih sebagai jurnalis perang pada surat kabar bergengsi di Amerika itu. Dia merupakan jurnalis asing pertama di The New York Herald Tribun. Di dalam buku “Memoir” yang ditulis Drs Muhammad Hatta, disebutkan, Sosrokartono mendapat gaji 1250 Dollar dari surat kabar Amerika. 

Dalam buku “Memoir” juga ditulis jika Sosrokartono juga menguasai bahasa Basque, menjadi penterjemah pasukan Sekutu kala melewati daerah suku Basque. Suku Basque adalah salah satu suku yang hidup di Spanyol. Ketika Perang Dunia I menjelang akhir, diadakan perundingan perdamaian rahasia antara pihak yang bertikai.

Ketika banyak wartawan yang mencium adanya perundingan perdamaian rahasia, dan sibuk mencari informasi, koran Amerika The New York Herald Tribune ternyata telah berhasil memuat hasil perundingan rahasia tersebut. Jurnalis yang membuat berita itu hanya menggunakan anonim dengan kode pengenal Bintang Tiga. Kode tersebut di kalangan jurnalis Perang Dunia ke I saat itu mengenal kode tersebut, yang merupakan kode Sosrokartono. Konon tulisan itu menggemparkan Amerika dan juga Eropa. 


Banyak kalangan saat itu mempertanyakan bagaimana Sosrokartono bisa mendapat hasil perundingan perdamaian yang amat dirahasiakan dan dijaga ketat itu. Apakah Sosrokartono menjadi penterjemah dalam perundingan rahasia tersebut. Jika dia menjadi penterjemah dalam perundingan rahasia itu, lalu bagaimana dirinya menyelundupkan beritanya keluar. Seandainya ia tidak menjadi penterjemah dalam perundingan perdamaian rahasia itu, sebagai jurnalis perang, bagaimana caranya Ia bisa mendapat hasil perundingan perdamaian rahasia tersebut. 


Sayangnya, dari berbagai buku Biografi Sosrokartono tidak ada informasi mengenai hal itu. Namun tak dapat dimungkiri, berita tulisan Sosrokartono di koran New York Herald Tribune mengenai hasil perdamaian rahasia Perang Dunia I itu merupakan salah satu prestasi luar biasa Sosrokartono sebagai jurnalis perang.


Sosrokartono Merupakan ahli bahasa. Ia menguasai 17 bahasa asing, diantaranya  Latin, Yunani, Rusia, Sansekerta, Cina, Jepang, Arab, Perancis, Belanda, Jerman, Spanyol, Slavia. Selain itu, dia juga menguasai 10 bahasa suku di Indonesia. Sebelum menjadi jurnalis The New York Herald Tribune, ia bekerja sebagai penterjemah di Wina, Austria. Di Wina, dia terkenal dengan sebutan sang Jenius dari Timur. Ia juga bekerja sebagai jurnalis di beberapa surat kabar dan majalah di Eropa. 


Sebelum Perang Dunia I berakhir, pada bulan November 1918, Sosrokartono terpilih menjadi penterjemah tunggal oleh Sekutu. Hal itu karena dia merupakan satu-satunya pelamar yang memenuhi persyaratan. Beberapa syarat itu, antara lain ahli bahasa dan budaya di Eropa, serta bukan kalangan orang Eropa. (Mase Adi Wibowo)



Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus


- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (1)

0

Mahasiswa Pertama Belajar di Luar Negeri

SEPUTAR KUDUS – Di kompleks Makam Sedo Mukti, Kaliputu, Kudus, terdapat sebuah makam  milik pejuang kemerdekaan, yakni Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono. Nama itu kini dijadikan sebuah nama jalan, yakni  Jalan Sosrokartono. Tak banyak memang yang mengenal sosoknya, meskipun jasanya begitu besar terhadap bangsa ini. 

Lahir di sebuah Jepara, tepatnya di Desa Mayong, Kecamatan Mayong, pada 10 April 1877 silam, Sosrokartono tumbuh sebagai seorang intelektul yang menurut Bung Hatta sebagai seorang yang jenius.


Sosro Kartono terlahir dari keluarga bangsawan, putra pasangan Raden Mas Adipati Ario (RMAA) Sosroningrat dan Mas Ayu Ngasirah. Ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara. Memiliki tujuh saudara, salah satunya adalah Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan emansipasi perempuan Indonesia. Hubungan Sosrokartono dan Kartini sendiri bisa dikatakan sangat dekat karena mereka saudara seibu dan sahabat dalam berbagi dalam banyak hal, termasuk bagaimana upaya keduanya melawan penindasan yang dilakukan Pemerintahan Hindia Belanda, saat itu.


Sosrokartono muda mengenyam pendidikan Eropesche Lagere School di Jepara. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang dan pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula Ia masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden. Namun, karena merasa tidak cocok Ia pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Sosrokartono merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang belajar  ke luar negeri. Setelah dia, banyak yang kemudian menyusul, di antaranya generasi Bung Hatta, dan sejumlah tokoh pergerakan kemerdekaan launnya. Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, Sosrokartono kemudian mengembara ke seluruh Eropa dan menjelajahi berbagai pekerjaan. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

Tiga Gua Eksotis Desa Wonosoco Kabupaten Kudus

5
SEPUTAR KUDUS – Sejumlah wisatawan mengunjungi gua di Wonosoco.

KUDUS-Masyarakat Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kini mempunyai tiga gua baru yang ditemukan di atas bukit, Pegunungan Kendeng. Gua tersebut ditemukan para pemburu landak desa setempat, 18 Juli 2011 yang lalu. Dengan tiga gua itu, semakin menambah kekayaan desa yang telah dicanangkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Kudus, tahun 2009, tersebut.


Desa Wonosoco yang secara geografis terletak di ujung selatan Kabupaten Kudus, berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat pemerintahan. Dengan potensi alam yang dimilikinya, Desa Wonosoco menjadi tujuan masyarakat untuk berwisata. Sebelum ditemukannya tiga gua tersebut, Wonosoco telah memiliki Sendang Dewot, Wayang Klitik dan taman hutan jati yang menjadi kekayaan desa.


Menurut Kepala Desa Wonosoco, Sudarmin, gua ditemukan oleh sejumlah orang pemburu landak asal Desa Wonosoco. Mereka secara tidak sengaja menemukan gua karena mengejar landak buruannya yang masuk ke dalam lorong. “Setelah lorong tersebut dibuka para pemburu, ternyata lorong tersebut adalah sebua gua. Saat itu juga mereka melapor kepada saya,” kata Sudarmin, saat ditemui di Gazebo Desa, Selasa (20/9) kemarin.


Dengan penuh semangat, Sudarmin menceritakan kondisi tiga gua yang ditemukan. Kemudian ia menunjukkan lokasi gua. Untuk ke lokasi gua, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer lebih dari Balai Desa Wonosoco. Kondisi jalan menuju ke lokasi gua belum beraspal, hanya berupa tanah berbatu, namun jalan tersebut dapat dilalui sepeda motor, bahkan mobil. Kondisi jalan sedikit landai, karena lokasi gua terletak di perbukitan. Sepanjang jalan, pengunjung dapat menikmati keindahan hutan jati dan pegunangan yang rindang.


Gua yang ditemukan berada di tiga tempat yang berbeda, namun berjarak relatif dekat satu dengan yang lain. Setelah dirembug dengan sesepuh desa, sudarmin mengatakan,  tiga gua tersebut akhirnya dinamakan, Gua Batu Canti, Gua Keraton dan Gua Surodipo. “Dinamakan Gua Batu Cantik, karena di dalam gua terdapat banyak bebatuan kapur yang terlihat sangat cantik. Gua kedua dinamakan Gua Keraton, karena di dalam gua terdapat susunan stataktit dan stalakmit yang menyerupai taman sebuah Keraton. Gua terakhir dinamakan Gua Surodipo karena berdekatan dengan Punden Mbah Surodipo,” tutur Sudarmin menjelaskan. 


Sudarmin menambahkan, di Gua Keraton terdapat bebatuan kapur yang menyerupai Naga. Di sana juga terdapat sumur sedalam 14 meter yang mengeluarkan air jernih. Air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.


Untuk pengelolaan gua, Pemerintah Desa Wonosoco telah membentuk paguyuban yang di dalamnya terdapat 55 orang. Mereka bertugas untuk berjaga, dan mendata pengunjung yang datang. Setiap hari secara bergiliran, mereka datang ke gua untuk mendata pengunjung yang datang, selain itu juga menemani setiap pengunjung atau menjadi tour gaet. Bagi pengunjung yang datang, pengelola telah menyiapkan senter sebagai penerangan di dalam gua.


“Hingga saat ini, ada ribuan pengunjung yang telah datang dan melihat ke tiga gua. Pengunjung yang datan, selain untuk melihat keindahan gua, juga mengambil air di Gua Keraton untuk penyembuhan penyakit,” kata Sudarmin. Menurut data yang dihimpun, pengunjung yang datang tidak hany dari Kudus, namun dari Jepara, Pati, Demak, Grobokan, bahkan dari Semarang, Jakarta dan Surabaya.


Sudarmin berharap, Pemerintah Kabupaten Kudus dapat membantu pengelolaan dan perawatan gua. Sarana jalan menuju lokasi gua menurutnya perlu diperbaiki, pengadaan tempat sampah dan perlengkapan lain juga sangat dibutuhkan. Selain itu, media sosialisasi wisata juga diharapkan dapat disediakan oleh Pemerintah Kabupaten. 


Salah satu pengunjung asal Semarang, Fauzan (24) mengaku terpukau dengan keindahan stalakmit dan stalaktit di dalam gua. Menurutnya, ke tida gua memiliki keindahan yang sama meski memiliki karakteristik yang berbeda. “Selain indah, ketiga gua ini tidak berbau seperti gua lain yang pernah saya kunjungi,” kata Fauzan. Ia menambahkan, pengelola harus mewaspadai tangan-tangan pengunjung yang jahil, dengan mencorat-coret gua, serta merusak stalakmit dan stalaktit. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Luas Lahan Pertanian Sawah di Kabupaten Kudus

1
Ilustrasi: Petani sedang menyemprot tanaman.
KUDUS-Berikut akan kami
tunjukkan data Luas Lahan Pertanian Sawah menurut jenis pengairan di Kabupaten
Kudus. Data berikut merupakan data yang dibuat Badan Pusat Statistik Kabupaten
Kudus tahun 2011/2012. Angka-angka yang terdapat dalam tabel merupakan jumlah
dalam hektare (Ha). Semoga ini bisa memberikan manfaat.
Kecamatan
Irigasi
Teknis
Irigasi
Teknis
Irigasi
non-teknis
Irigasi
sederhana
Irigasi
desa
tadah
hujan
Kaliwungu
321
178
130
0
1,320
1,949
K o t a
30
72
0
0
72
174
J a t i
275
299
0
0
464
1,038
Undaan
4,840
965
0
0
0
5,805
Mejobo
209
618
26
0
902
1,755
Jekulo
824
1,084
1,003
0
1,396
4,307
B a e
0
456
15
0
410
881
Gebog
0
976
885
0
191
2,052
D a w e
83
471
442
801
871
2,668
Jumlah:
6,582
5,119
2,501
801
5,626
20,629
Sumber: BPS Kudus
- advertisement -

Museum Daerah Mulai Direhab

0

Kudus-rintisan Museum Daerah yang diisi dengan benda purbakala yang ditemukan di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo yang menempati eks Kawedanan Tenggeles, Desa Jekulo kini mulai direhab. Tak seperti Museum Kretek yang terletak di Desa Geatas Pejaten, Kecamatan Jati, bangunan rintisan ini kondisinya telah memprihatinkan.

Menurut Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Sancaka Dwi Supani (24/6) kemarin mengungkapkan proses rehab dilakukan langsung oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Prambanan, pasalnya bangunan tersebut tergolong Benda Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi.

 “Proses rehab bangunan museum daerah tersebut akan mempercantik bangunan namun tidak merubah bentuk asli bangunan. Sebagaimana ketentuan undang-undang Nomor 5 tahun 1992, rehab bangunan BCB tidak boleh merusak atau merubah bentuk asli bangunan yang ada” papar Supani.

Ia menambahkan, secara keseluruhan proses rehab bangunan akan ditangani langsung oleh BP3, mulai dari desain gambar hingga tenaga kerja dikelola langsung oleh BP3. “Kami dari Disbudpar Kudus hanya bersifat koordinasi. Dan kami cukup bersyukur dengan adanya bantuan rehab ini,’’ tandasnya.

Disinggung mengenai biaya yang dialokasikan untuk proses rehab tersebut Supani mengaku tidak tahu pasti. Sebab, seluruh alokasi biaya yang berasal dari APBD Provinsi dikelola oleh BP3. Bangunan eks Kawedanan Tenggeles merupakan salah satu bangunan yang ditetapkan menjadi BCB oleh Pemkab Kudus. Bangunan tersebut didirikan sejak masa colonial Belanda sekitar tahun 1918.

Bangunan yang sempat mangkrak sebelum difungsikan menjadi museum daerah tersebut terdiri dari pendapa dan bangunan penunjang seluas 340 meter persegi dan didirikan di atas lahan seluas 4.450 meter persegi. Saat ini bangunan tersebut difungsikan sebagai rintisan museum daerah yang menyimpan beberapa peninggalan  bersejarah Kudus.

Sementara itu Ketua Tim Lapangan dan sekaligus juru gambar proses rehab bangunan dari BP3, Herwanto mengatakan rehab akan dilakukan dengan mengganti kayu-kayu atap yang sudah lapuk. Selain itu, bagian tembok depan akan diganti dengan gebyok sebagaimana bentuk bangunan pada awal mula berdiri.

Namun beberapa bagian utama dari bangunan sama sekali tidak akan disentuh, seperti pilar-pilar kayu jati dengan arsitektur kuno serta hiasan-hiasan pada tiang kayu. Keberadaan bagian tersebut akan tetap dipertahankan sesuai aslinya.

Proses rehab yang dikerjakan 12 pekerja terdiri dari tukang bangunan dan ahli gambar tersebut direncanakan selesai 3 bulan ke depan. Tak hanya difungsikan sebagai museum, bangunan tersebut juga akan difungsikan sebagai balai pertemuan dan pelatihan untuk para pelajar dan masyarakat di Kudus agar dapat mempelajari serta mengeksplorasi temuan dari situs purbakala yang dimiliki kota kretek tersebut. (*)

- advertisement -

Stok Pangan Di Kudus Masih Aman

0

Kudus-Memasuki musim kemarau panjang tahun ini, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Kabupaten Kudus, Hari Widyowati menyatakan stok pangan telah aman. Hal tersebut diungkapkannya dalam Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan di gedung pemerintahan lantai 4, Rabu (22/6) kemarin. Acara yang diikuti berbagai unsur pemerintahan mulai desa hingga kabupaten, serta Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) tersebut dilakukan dalam rangka menyusun strategi pengendalian pangan menghadapi bencana kekeringan.

Menurut widyowati secara makro Kabupaten Kudus telah mencapai kemandirian di bidang ketahanan pangan, hal ini dilihat dari surplus beras di Masa Tanam (MT) ke II  yang mencapai 35,021 ton. Adapun jumlah produsksi beras dari petani di berbagai lumbug pangan yang tersebar di 9 kecamatan mencapai 83,021 ton, sementara cadangan beras di bulog di Kudus mencapai 1.188,8 ton dari 80.000 ton total jumlah di wilayah Eks Karesidenan Pati. “Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk ketersediaan pangan untuk masyarakat Kudus, bahkan jumlah yang sekarang ada sudah dikurangi suplai beras ke berbagai wilayah di Jawa Tengah” paparnya.

Widyowati menjelaskan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) nomor 30 tahun 2008 tentang cadangan pangan pemerintah desa, perlu ada perencanaan yang matang untuk menghadapi musim kemarau. “Pemerintah desa harus siap sejak dini untuk menghadapi kondisi darurat, seperti kekeringan yang mungkin terjadi berkaitan dengan kebutuhan pangan di desanya masing-masing. Karena hal tersebut dapat mengancam kehidupan sosial masyarakat” paparnya.

Salah satu strategi perencanaan ketahanan pangan menurut Widyowati adalah dengan sistem resi gudang. “Resi gudang dilakuakan karena saat terjadinya kelebihan produksi saat panen menyebabkan harga komoditas menjadi lebih rendah dari harga semestinya, sehingga pendapatan petani tidak optimal. Oleh karenanya dibutuhkan lumbung desa agar hasil produksi dapat ditunda dan ketika harga sudah membaik petani dapat menjualnya dari gudang” paparnya.

Ia menambahkan bencana kekeringan mungkin saja terjadi di beberapa desa karena diperkirakan kekeringan akan terjadi hingga bulan oktober dan hal tersebut dapat memicu kurangnya ketersediaan pangan.

Berdasarkan peta wilayah kekeringan yang telah dirilis Dinas Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Kudus beberapa waktu lalu, ada 8 desa yang masuk dalam zona rawan kekeringan. 8 desa tersebut adalah Desa Gondoarum di Kecamatan Jekulo, Setrokalangan di Kecamatan Kaliwungu, Glagahwaru dan Terangmas di Kecamatan Undaan, Cranggang di Kecamatan Dawe, Jetiskapuan dan Tanjungkarang di Kecamatan Jati, serta Menawan di Kecamatan Gebog.

Sementara itu Asisten II Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus, Tri Mulyo Joko Purnomo mengungkapkan harga beras sebagai konsumsi pokok masyarakat kurun waktu tahun 2010 dan awal 2011 dinilai masih wajar. Namun strategi pengelolaan cadangan pangan tetap harus direncanakan bersama. Adapun pengelolaan cadangan pangan daerah menurutnya di bawah koordinasi institusi terkait dengan Tugas Pokok dan Fungsi (tupoksi) ketahanan pangan daerah.

“Bentuk pengelolaan tidak hanya terbatas pada beras, namun juga pangan yang lain ” katanya. Tri menambahkan pembentukannya dapat dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Unit Pelayanan Teknis Daerah(UPTD) Badan Layanan Umum (BLU) dan badan lain. (SK)

- advertisement -

Seratus Persen Siswa SD di Kudus Lulus UN

0

Kudus-Hari Senin (20/6) kemarin hasil Ujian Nasional (UN) untuk siswa sekolah tingkat dsar, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah (MI), negeri dan swasta di Kabupaten Kudus telah dimumkan, 13.240 siswa dinyatakan lulus ujian. Jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan siswa yang telah mengikuti Ujian Nasional beberapa waktu yang lalu atau bisa dikatakan seluruh siswa SD di Kudus 100 persen lulus ujian.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupten Kudus, Sudjatmiko saat ditemui di kantornya (20/6) pagi kemarin merinci di Kabupaten Kudus ada 594 Sekolahan yang tersebar di 9 kecamatan. Khusus untuk SDLB 13 siswa mengikuti UN dan 29 siswa hanya mengikuti ujian sekolah.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupten Kudus, Sudjatmiko saat ditemui di kantornya (20/6) pagi kemarin mengatakan hasil ini tidak boleh disikapi secara berlebihan. “Sekolah saya harap untuk tidak berpuas diri dengan hasil yang dicapai saat ini, karena hal ini tidak bisa dibuat ukuran bahwa semuanya berjalan sempurna” tuturnya.

Sudjatmiko juga mnyempaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh Kepala Sekolah, guru dan UPT se-Kabupaten Kudus. Ia berharap peningkatn mutu pelayanan kepada siswa tetap ditingkatkan agar hasil di tahun depan bisa lebih dibanding tahun ini. “Pencapaian ini menurut kami adalah hasil dari kerja keras semua pihak, oleh karenanya saya perlu mengapresiasi semua pihak yang terkait” katanya.

Saat ditanya tentang peluang siswa yang lulus untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2011 ini, Sudjatmiko tidak merasa khawatir. Karena daya tampung Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat mencukupi dengan jumlah lulusan yang ada. “Saya kira tidak ada alasan lagi untuk tidak melanjutkan sekolah bagi yang merasa kurang mampu, karena alokasi dana pendidikan 20 persen telah direalisasikan dengan banyak program yang diselenggarakan” tuturnya.

Sudjatmiko menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan konsultasi ke Disdikpora seandainya ada yang belum bisa tertampung di SMP atau sederajat. Hal ini menurutnya penting karena pihaknya memprioritaskan masyarakat Kudus. Ia pun menghimbau jika ada pihak sekolah yang membebankan biaya masuk sekolah yang terlalu tinggi untuk bisa mengkoordinasikan ke pihaknya. “Pendidikan adalah aset masa depan bangsa, jika ada yang menghambat seorang warga untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, baik itu kuota atau pun biaya hal tersebut merupakan upaya untuk menghambat kemajuan bangsa” pungkasnya. (*)

- advertisement -

Tanamkan Kejujuran Siswa Dengan “Wajur”

0

Kudus-Semua mungkin sepakat bahwa di Indonesia kejujuran mahal harganya. Berbagai kasus korupsi di lembaga pemerintahan, legislatif, hukum, dan juga pendidikan yang baru-baru ini muncul kasus dugaan mencontek masal saat ujian nasional di SD Gadel, Surabaya menunjukkan betapa kritisnya negeri ini. Namun tak bisa semua dianggap sama karena masih banyak yang optimistis untuk berupaya menanamkan kejujuran pada siswa di sekolahan.

Di Madrasah Islamiyah (MI) Nahdhatul Ulama (NU) Islamiyah yang terletak 20 kilometer dari pusat Kota Kudus, tepatnya di Desa Gamong, Kecamatan Kaliwungu ada sebuah inovasi yang dilakukan pihak sekolah untuk menanamkan kejujuran pada siswanya sejak dini. Upaya tersebut diwujudkannya dalam bentuk “Wajur” atau Warung Kejujuran.

Jika dilihat sekilas memang warung tersebut tidaklah besar, tampak hanya ada dua buah meja berukuran 2 x 1 meter yang di tutupi kain dan diletakkan di atasnya berbagai macam jajanan yang disukai anak-anak. Tak hanya jajanan di sana juga disediakan es teh, es sirup, dan berbagai macam es lainnya, serta nasi bungkus dan mie instan.

Wajur ini memang tak berbeda dengan kantin kejujuran yang banyak dibuat sekolah-sekolah lain, dimana pembeli adalah sekaligus penjual, dalam arti siswa yang membeli di warung kejujuran tersebut mengambil sendiri jajanan yang diinginkan, membayar dan mengambil kembalian dari dan oleh mereka sendiri sesuai daftar harga yang tercantum.

Namun yang menarik di Wajur ini menurut penggagasnya, Charis Rahman yang juga menjadi guru di sekolah tersebut saat ditemui Warta Jateng beberapa waktu yang lalu mengatakan siswa harus membuat mie dan minuman sendiri. “Di samping kami ajarkan kejujuran, mereka juga kami ajarkan kemandirian” tuturnya. Pria lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) tersebut menambahkan hasil dari Wajur disamping untuk dibelanjakan lagi, juga dibuat untuk kebutuhan siswa, diantaranya untuk membeli perlengkapan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka kelola sendiri dalam sebuah koperasi.

Charis menceritakan awalnya merasa prihatin dengan tekanan yang dialami siswanya ketika menghadapi ujian nasional tahun lalu. “Anak-anak sepertinya tertekan dengan ujian yang dihadapi. Tapi kami memberi pengertian kepada mereka jika sungguh-sungguh belajar pasti akan lulus. Kami sangat melarang mencontek dan berbuat tidak jujur” paparnya. Menurutnya gagasan Wajur pada awalnya terasa aneh menurut guru-guru yang laen, mereka khawatir jika anak-anak belum mampu untuk melaksanakannya. “Namun akhirnya tetap kami laksanakan dan hasilnya membuat kami bangga” katanya.

Menurut Kepala Sekolah MI NU Islamiyah, Noor Kholis Wajur yang dibuat sedikit banyak memberi dampak terhadap pembangunan karakter siswa. “Kepercayaan diri anak-anak sekarang lebih terlihat, mungkin karena mereka kami beri kepercayaan untuk mengelola Wajur. Sekarang intensitas belajar mereka juga meningkat terlihat dari nilai yang ada” katanya. Bahkan menurut Noor Kholis di tahun lalu anak-anak didiknya meraih nilai tertinggi se-Kecamatan Kaliwungu pada ujian nasional. “Kami tidak pernah membayangkan sekolah swasta ini yang menurut saya sendiri tertinggal, minim fasilitas, pelosok, dapat meraih prestasi sebesar itu” katanya haru.

Kedepan, pihaknya akan mengembangkan gagasan kreatif lain sebagai langkah pengembangan karakter siswa. “Kami merencanakan untuk membuat kelas-kelas kreatif di luar mata pelajaran untuk menampung bakat-bakat siswa sesuai dengan minat mereka. Hal ini menurut kami penting karena dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang sekaran ini ada belum sepenuhnya memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuan spesifik anak-anak” Pungkasnya. (*)

- advertisement -

Bermain Air di Water Boom Mulia Wisata

12
SEPUTAR KUDUS – Waterboom Mulia Wisata Kudus

SEPUTAR KUDUS – Saat libur sekolah di musim kemarau seperti sekarang ini tidak ada salahnya jika mencoba untuk bermain air sepuasnya di Water Boom Mulia Wisata.  Terletak di Jalan Kudus-Colo, kilometer 12, Desa Lau, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus wahana wisata air tebesar di Kudus tersebut bisa dikatakan sangat lengkap. Di sana trsedia water boom dengan ember tumpah, kolam arus, dan kolam renang standart nasional sepanjang 50 meter. Tak hanya itu bagi penggila mancing, di sana juga tersedia kolam pancing. Bagi yang suka wahana permainan lain, tersedia juga ATV jenis mobil dan motor untuk mngelilingi wahana seluas 15 hektar tersebut.

Untuk dapat masuk ke tempat tersebut, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp 15 ribu untuk bermain air sepuanya dari pagi hingga sore hari. Wahana yang buka dari pukul 08.00 samapai pukul 17.00 tersebut buka setiap hari, tak terkecuali hari Minggu dan libur nasional. Di sana juga menyediakan mini market, warung makan, kantin dan aneka buah dan jus. Jadi tidak usah khawatir dan repot membawa bekal dari rumah.

Menurut manajer Mulia Wisata, Samsul Muarif untuk menyambut libur sekolah wahana tersebut tidak ada program khusus, namun bagi rombongan yang berjumlah lebih dari 15 orang akan mendapat diskon khusus. Ia menambahkan ada hal-hal yang tidak diperkenankan bagi pengunjung berwisata di tempat tersebut, diantaranya makan dan minum di kolam air. Untuk fasilitas umum telah disediakan 9 kamar mandi, 15 tempat bilas, 5 gazebo besar dan 15 gazebo kecil.

Untuk bisa mencapai tempat tersebut pengunjung yang ingin menggunakan sepeda motor, sebelum berangkat harus meneliti kondisi motornya terlebih dahulu, pasalnya tempat tersebut melewati jalan menanjak cukup terjal. Namun yang ingin menggunakan transportasi umum bisa naik angkutan warna kuning arah Colo, dan dikenakan biaya sekitar Rp 5 ribu saja. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -