Beranda blog Halaman 1980

Nasi Jangkrik Simbol Kesejahteraan di Haul Sunan Kudus

0

KUDUS-Nasi yang dibagikan pada saat prosesi buka Luwur, atau sering disebut masyarakat Kudus sebagai nasi jangkrik, kemarin dibagikan kepada ribuan masyarakat. Panitia prosesi buka Luwur, Selasa (6/12) pagi kemarin, membagikan sekitar puluhan ribu bungkus nasi jangkrik. Nasi itu, dipercaya masyarakat sebagai simbol kesejahteraan.

Menurut Ketua Yayasan Masjid, Makam dan Menara Kudus (YM3SK), Najib Hasan, tradisi buka Luwur dengan membagi-bagikan nasi jangkrik tersebut sudah berlangsung ratusan tahun silam. Disimbolkan sebagai kesejahteraan masyarakat, menurut Najib, nasi disimbolkan sebagai pangan, dan daun jati yang digunakan sebagai pembungkus nasi, disimbolkan sebagai sandang.

“Simbolisasi ini merupakan kepercayaan masyarakat Kudus dan sekitarnya, yang sudah berlangsung sejak dulu. Jika nasi yang dibagikan cukup untuk dibagikan kepada masyarakat yang datang, dipercaya, dalam setahun kedepan, masyarakat tidak akan kekurangan bahan makanan. Dan, jika daun pembungkus jati pun cukup untuk dibuat pembungkus nasi, hal itu dipercaya, dalam satu tahun ke depan, masyarakat tidak akan kekurangan sandang atau pakaian,” kata Najib, saat ditemui usai prosesi kemarin.

Disebut nasi jangkrik, menurut Najib, nasi tersebut dibumbui dengan garam dan asam jawa, dan disajikan tanpa kuah, agar nasi tidak cepat basi. Masyarakat Kudus, lazim menyebut masakan seperti itu dengan nama nasi jangkrik. Sebagaimana tradisi masyarakat Kudus yang tidak menyembelih sapi, lauk nasi jangkrik disuguhkan dengan daging kerbau dan kambing.

Kerja Kolosal

Najib menjelaskan, pada tahun 2011 ini, pihaknya membagikan sebanyak 25 ribu lebih nasi jangkrik. Untuk membuat nasi tersebut, panitia menghabiskan 6,53 ton beras, 10 ekor kerbau, 81 ekor kambing. Proses mamasak, dilakukan empat angkatan. Masing-masing angkatan sebanyak beras yang dimasak 1.440 kilogram dan angkatan terakhir sebanyak 560 kg. Tiap angkatan melibatkan 16 buah dandhang yang masing-masing berkapasitas 80 kilogram hingga 100 kilogram  beras.

“Pada proses memasak naasi dan lauk saja, dapat dikatakan bahwa prosesi buka ini sebuah “kerja kolosal” dengan melibatkan orang dalam jumlah massal. Karena Mulai dari pencuci, penanak nasi, pengatur tungku api, pengangkat nasi, ngipasi nasi panas, sampai dengan para pembungkus nasi, dibutuhkan sekitar seribu orang,” kata Najib.

Sementara itu, Pembagian nasi kemarin dimulai sejak pukul 05.30 pagi, hingga pukul sebelum waktu sholat Dzuhur. Tempat pembagian antara perempuan dan laki-laki ditempatkan terpisah. Untuk laki-laki di sebelah timur gedung yayasan yang berjarak sekitar 30 meter dari Masjid Menara, dan untuk perempuan ditempatkan di sebelah barat gedung.

Kericuhan mewarnai pembagian nasi jangkrik tersebut. Di rute yang dilalui perempuan dan laki-laki, desak-desakan tak terelakkan. Bahkan, beberapa orang menyerobot antrean, karena tidak sabar untuk segera mendapatkan nasi jangkrik. Selain orang dewasa, tampak juga anak-anak yang ikut mengantre untuk mendapatkan nasi.

Masyarakat yang datang untuk mendapatkan nasi, tidak hanya datang dari Kudus saja, namun juga beberapa daerah di sekitar kudus, di antaranya Jepara, Pati, Grobogan dan Demak. Salah satu pengantre asal Demak, Nurhayati (40) mengatakan, dirinya rela mengantre sekitar dua jam, untuk mendapat nasi yang dipercaya dapat mendatangkan keberkahan.

“Saya sudah datang ke sini sejak sebelum subuh. Saya ingin mendapatkan nasi jangkrik karena dapat mendatangkan keberkahan. Jika memakan nasi ini, kita akan terhindar dari sakit. Dan jika sisa nasi disebar di sawah, maka akan mendatangkan kesuburan,” kata Nurhayati, kemarin.

Untuk melakukan pembagian nasi, panitia menerjunkan petugas keamanan dengan dibantu oleh pihak kepolisian dan anggota TNI. Selain itu, panitia juga menyediakan posko kesehatan, sebagai antisipasi jatuhnya korban. (Suwoko)

Gambar lainnya:


*Boleh mengambil foto dan tulisan, asal mencantunkan tautan dan kredit www.seputarkudus.blogspot.com

- advertisement -

Wong Djowo, Pusat Oleh-Oleh Kaus Khas di Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Gerai Wong Djowo di Jalan Sunan Muria, Kabupaten Kudus. 

SEPUTAR KUDUS – Bagi wisatawan yang datang ke Kota Kretek, tak lengkap rasanya jika tak mencicipi lezatnya soto Kudus, sate kerbau, atau membawa pulang oleh-oleh jenang Kudus. Namun, akan lebih lengkap, jika membawa cindera mata yang satu ini, kaus Wong Djowo.

Di pusat cindera mata yang terletak di Jalan Sunan Muria nomor 33 itu, berbagai kaus yang dengan bertuliskan tentang Kota Kudus, tersedia lengkap. Bebagai gambar dan tulisan, dengan desain yang sangat menarik, dapat menjadi pilihan alternatif oleh-oleh, selain kuliner dan jajanan yang sejak lama di kenal oleh masyarakat Indonesia.

Pengelola Wong Djowo, Erlis Junaedi mengatakan, terobosannya itu telah dimulai sejak tahun 2009. Dirinya melihat peluang yang besar dengan banyaknya wisatawan domestik yang melakukan wisata religi ke Kudus. Melihat peluang itu, dirinya membuat kaus bertema Kudus, yang selama ini belum tergarap siapapun.

“Di Kudus memang banyak terdapat distro yang menyajikan kaus dan jenis pakaian lainnya. Namun, untuk kaus yang bertemakan Kota Kretek, saya belum pernah menjumpai, dan ini merupakan peluang yang besar,” ujar Erlis, saat ditemui di pusat oleh-oleh Wong Djowo, beberapa waktu lalu.

Produk kaus yang dijual, menurut Erlis, merupakan hasil karyanya sendiri, bersama dengan tim kerjanya. Penentuan desain dan tulisan, mereka gali dari segala hal yang ada di Kudus. Termasuk, merestorasi bentuk Menara Kudus, ke dalam desain yang lebih menarik dan tidak kaku.

Ia menyediakan produk dalam berbagai ukuran. Mulai dari orang dewasa ukuran kecil, sedang dan besar. Selain itu, dirinya juga menyediakan produk kaus untuk ukuran anak-nak. Harga yang ditawarkan, cukup murah untuk ukuran kaus dengan kualitas yang bagus. Harga ditawarkan berkisar mulai dari Rp 35 ribu, hingga Rp 55 ribu.

“Sejak didirikan, perkembangan Wong Djowo cukup lumayan bagus. Saat ini, setiap bulan hampir mencapai angka penjualan 1.000 kaos. Kebanyakan, peminat yang datang adalah wisatawan domestik yang datang ke Kudus untuk berziayarah ke makam Sunan Kudus dan Sunan Muria. Biasanya, mereka datang secara berombongan,” ujar pengusaha muda itu.

Selain menyediakan produk di etalase toko, dirinya juga menerima pesanan dari luar daerah. Umumnya, pemesan adalah masyarakat Kudus yang tinggal di luar daerah. Kaus bertema Kudus yang ia produksi, kebanyakan dibuat sebagai identitas.

Ia berharap, usahanya itu akan terus menuai hasil yang signifikan. Sebagai langkah pengembangan dan percepatan kemajuan usaha, dirinya mulai merambah ke dunia maya, dengan membuat kios maya dan media sosial, untuk menarik pembeli dari luar daerah. (Suwoko)

- advertisement -

Mau Makan Kulener Burung Liar, Di Desa Kalirejo Tempatnya

0

KUDUS-Jenis kuliner burung goreng, memang sudah banyak, dan mudah ditemui. Namun, sajian kuliner burung yang satu ini, cukup beda. Di sebuah warung sederhana, di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupatem Kudus ini, menyajikan kuliner burung atau sering disebut masyarakat Kudus, iwak manuk, hasil tangkapan dari sawah.

Tak ada papan nama khusus di warung tersebut. Namun, bagi pecinta masakan burung goreng di Kudus, warung itu sangat dikenal dan khas. Karena masakan burung yang disajikan, merupakan burung liar, bukan burung hasil peternakan. Tak jarang, para pejabat tingkat kabupaten, kepolisian, anggota Dewan, menyempatkan singgah di warung tersebut, untuk merasakan lezatnya iwak manuk itu.

“Banyak pejabat daerah yang sering singgah di warung kami, untuk menikmati iwak manuk yang kami sajikan. Kadang mereka memborongnya, untuk dibuat oleh-oleh,” kata Muntiah (43), pemilik warung iwak manuk, Kamis (29/12) kemarin.

Muntiah mengatakan, warung miliknya itu memang hanya menjual sajian jenis masakan burung. Jenis masakan yang dibuat cukup beragam, di antaranya burung goreng, semur, dan lodeh. Namun, yang menjadi favorit adalah sajian burung goreng, dengan nasi panas dan sambal yang khas.

Menurut Muntiah, dirinya adalah generasi ketiga yang mengelola warung tersebut. Sebelum dirinya, warung itu dikelola ibu dan neneknya. Puluhan tahun, warung itu menjadi tujuan banyak masyarakat, tidak hanya di Kecamatan Undaan, namun juga di seluruh Kabupaten Kudus, bahkan dari luar kota.

“Awalnya, dulu di Undaan banyak masyarakat yang menjual burung hasil tangkapan dari sawah. Burung-burung itu merupakan hama pemakan padi milik petani. Oleh nenek saya, burung-burung itu kemudian dimasak dan dijual kepada masyarakat. Ternyata, respon dari masyarakat sagat bagus, sehingga warung  ini menjadi terkenal,” ujar Muntiah.

Muntiah menambahkan, jenis burung sawah yang disajikan ada beberapa macam. Yakni, burung belibis, peruk, blekek, dan bontot. Setiap porsi iwak manuk yang dijual, Muntiah hanya menghargai senilai Rp 11 ribu. Dalam setiap porsi itu, dilengkapi dengan nasi panas, sambal dan lalapan.

Di warungnya itu, Muntiah mempekerjakan lima orang pekerja. Mereka bekerja menyembelih burung, membersihkan bulu dan organ dalam, membuat bumbu dan memasak. Aktivitas para pekerjanya, dimulai pada sore hingga malam. Pada pukul 08.00 hingga pukul 16.00, masakan iwak manuk, siap untuk disajikan kepada para pelanggan.

Sulit Mendapatkan Burung Liar di Sawah

Menurut Muntiah, saat ini dirinya sulit medapatkan burung liar dari sawah. Haya di musim-musim tertentu saja, ketersediaan burung hasil tangkapan dari sawah, cukup mudah didapatkan. Biasanya, di bulan Februari dan Agustus, banyak pemburu burung yang datang untuk menjual hasil tangkapan.

“Saat ini untuk mendapatkan burung sawah sangat sulit, di luar Februari dan Agustus, kami harus rela pergi ke Sukolilo, Pati, untuk mendapatkan burung sawah,” ujarnya.

Untuk mengganti burung sawah yang saat ini sulit didapatkan, biasanya dirinya mengganti dengan jenis burung puyuh hasil ternak dari masayrakat di Kudus. Namun, kurang diminati, karena rasanya yang cukup berbeda dengan burung liar dari sawah.

“Kalaupun ada burung sawah yang dimasak, biasanya, sebelum waktu makan siang, masakannya selalu habis dibeli oleh para pelanggan. Dan yang tersisa hanya burung puyuh,” ujarnya. (suwoko)

- advertisement -

Ular Tangga Anti-Korupsi ala SMP Keluarga Kudus

0

KUDUS-Ada banyak cara untuk bisa menikmati masa liburan sekolah, yang dapat digunakan para siswa untuk melepas penat semasa bergelut dengan pelajaran. Namun, cara yang digunakan para siswa SMP Keluarga ini, cukup berbeda. Mereka mengisi liburan sekolah kali ini, dengan bermain ular tangga anti korupsi, di sekolah, Kamis (29/12). Selain dapat menjadi alternatif hiburan, permainan tersebut juga dapat memberikan pelajaran tentang kejujuran.

Permainan ini tidak berbeda dengan permainan ular tangga yang selama ini ada. Namun, para siswa di SMP yang beralamat di di Jalan Yos Sudarso, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu, menambah kotak-kotak ular tangga dengan tulisan anti korupsi. Salah satu siswi yang ikut dalam permainan, Maria Teresa Yunita mengatakan, tulisan tersebut mereka sendiri yang menambahkannya.

“Untuk tangga yang naik ke angka yang lebih tinggi, kami memberikan tulisan tentang hal-hal yang positif. Seperti contoh, di kotak bawah, kami memberikan tulisan rajin, siapa yang berhasil naik tangga, di kotak atas, kami memberikan tulisan pandai,” ujar Maria, saat ditemui di sela-sela permainan.

Sedangkan untuk ular sebagai tanda turun ke angka lebih rendah, tambah Maria, para siswa memberikan tulisan tentang hal-hal negatif. Seperti, di kotak atas, diberikan tulisan mencontek, di kotak bawah sebagaimana ditunjukkan tanda ular, diberikan tulisan bodoh.

Pagi itu, puluhan siswa terlihat asyik menikmati permainan yang telah ada sejak lama itu. Saking asyiknya, mereka bersorak ketika salah satu pemain gagal melewati kotak yang terdapat tanda ular. Setiap ular tangga yang mereka gunakan, mereka buat sendiri sesuai dengan kreativitas dan imajinasi mereka, namun tetap dibubuhi unsur pendidikan anti korupsi.

Salah satu siswa lain, Reiner Arivisian Wiryawan mengaku sangat senang dengan permainan tersebut. Selain dapat bermain bersama kawan-kawannya, permainan ular tangga itu, dapat memberikan pelajaran berharga yang akan memberi kesan positif, sebagai bekal kelak di kemudian hari.

“Untuk mengisi liburan, kami tidak usah jauh-jauh ke luar kota, cukup ke sekolahan, dan bermain ular tangga anti korupsi ini bersama dengan teman-teman. Selain rame dan mengasyikkan, permainan ini memberi pelajaran yang positif,” ujar siswa kelas VIII itu.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Keluarga, Basuki Sugitha mengatakan, permainan tersebut merupakan implementasi dari pelajaran anti korupsi yang selama ini diberikan. Permainan tersebut diikuti oleh kelas VIII dan IX. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, dan diberikan tugas untuk membuat ular tangga itu, sesuai dengan keinginan siswa, namun harus tetap diberikan unsur pendidikan anti korupsi.

Selain membuat inovasi permainan ular tangga itu, sekolahan dibawah yayasan Kanisius tersebut juga sering menyelenggarakan event-event yang berkaitan dengan pendidikan anti korupsi. Di antaranya, menyelenggarakan lomba membuat poster anti korupsi, membuat inovasi permainan gobak sodor mengejar Nazarudin, dan lainnya.

“Selain itu, di sekolah kami juga terdapat kantin kejujuran. Di kantin tersebut, para siswa mengambil barang sendiri, dan meninggalkan uang sesuai dengan daftar harga yang sudah kami tempel di kantin tersebut,” imbuh Basuki. (Suwoko)

- advertisement -

Komunitas Gembel Necis Kudus, Tak Sekedar Penggemar Vespa

0
Sejumlah anggota komunitas Gembel Necis Kudus saat singgah di Pekalongan tahun 2011. 

KUDUS-Dilihat dari namanya, Gembel Necis mungkin
terjadi kontra antara kata satu dengan lainnya. Karena kata gemebel sering
identik dengan pakaian kumal, kumuh dan jarang mandi, namun komunitas penggemar
vespa di Kudus ini menggabungkan kedua kata tersebut untuk menciptakan imej
yang berbeda dari banyak anggapan masyarakat bahwa penggemar vespa sering
terlihat kumuh atau tak necis.

Komunitas yang beranggotakan lebih dari 200
penggemar vespa ini awalnya sekumpulan pemilik vespa yang sering nongkrong
bareng di pinggir-pinggir jalan di Kudus sejak tahun 2000, banyak yang
menganggap mereka sebagai gembel karena sering nongkrong tak jelas dan
berpakaian ala gembel yang apa adanya. Namun semenjak tahun 2003 silam mereka
mengkonsolidasi diri untuk menyatakan bahwa mereka mampu berbuat lebih untuk
masyarakat.
Salah satu anggota aktif Gembel Necis, Agus
Wahyu (25) mengungkapkan komunitasnya tersebut tidak sekedar penggemar vespa
yang hanya bisa kumpul bersama, namun dengan latar belakang kegemaran yang sama
akan kendaraan scooter asal Italy tersebut mereka menjalin kekeluargaan satu
sama lain dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. 

“Kami
bukanlah club motor, namun kami komunitas yang berkumpul bersama untuk menjalin
kekeluargaan, dengan ini juga kami berbuat sesuatu untuk anggota keluarga kami
di komunitas dan masyarakat” tutur Agus (21/7/2011) kemarin.
Kata necis sendiri menurut pria berambut
gondrong tersebut bukan untuk membuat imej eksklusif atau sok berlagak seperti
bangsawan atau priyayi, namun kata necis dipilih untuk menegaskan kepada
masyarakat tentang sikap anti kemapanan, yang berarti kepedulian terhadap
sesama harus tetap dijaga meski hidup dalam serba kecukupan. Kata Necis sendiri
juga dimaksudkan agar komunitas tersebut tidak dipandang sebelah mata, karena
setiap orang berhak untuk memilih identitasnya sendiri sebagai ekspresi dalam
kehidupan. 
“Pakaian, harta benda bukanlah tolok ukur dari kualitas
manusia, namun hati yang merasa bahwa sesama manusia satu saudara adalah yang
terpenting” tuturnya. Ia menambahkan untuk bisa menjadi anggota Gembel
Necis tidak tertutup, semua kalangan bisa bergabung ke komunitas tersebut. Tua,
muda, miskin, kaya, berpendidikan atau tidak semuanya boleh masuk menjadi
anggota, dan di komunitas tersebut tidak ada struktur formal, karena semua
mempunyai hak yang sama.
Hal positif yang pernah dilakukaan Gembel
Necil salah satunya adalah kegiatan Food is not Booms (FnB), dalam kegiatan itu
menurut Agus seluruh anggota komunitas berkumpul untuk membagi-bagikan nasi
bungkus secara cuma-cuma kepada anak jalanan, tukang becak dan pengemis di
berbagai titik keramaian yang sering dijumpai. Mereka tidak sekedar membagikan
nasi bungkus, dalam kegiatan tersebut juga dibagikan slebaran atau poster yang
berisi tulisan tentang kemandirian, serta kritik terhadap masyarakat dan
pemerintah bahwa makanan adalah hak setiap manusia yang terlahir, dari tumbuhan
makanan tersebut dibuat, dan tumbuhan bukanlah monopoli satu orang atau
golongan tertentu.
“Sikap anti kemapanan yang kami bangun
tidak terbatas pada slogan atau jargon semata, dalam komunitas kami saling
bertukar pengalaman dan pengetahuan untuk melangkah maju, baik dalam hal
ekonomi maupun ilmu pengetahuan” papar Agus. 

Ia menambahkan untuk
meningkatkan taraf perekonomian anggota, Gembel Necis sering membuat
pelatihan-pelatihan ekonomi, di antaranya pelatihan sablon, pembuatan kaos,
pelatihan tentang reparasi vespa, dan modifikasinya. Dari pelatihan tersebut diharapkan
tercipta jiwa kemandirian komunitas, karena dari skill yang diberikan anggota
dapat berkreasi dan mendatangkan income. “Saat ada event vespa di luar
kota kami sering membawa hasil karya anggota untuk dijual, baik kaos,
merchandise, atau sparepart buatan. Dari hasil tersebut kadang ada yang secara
suka rela untuk dibuat mendanai kegiatan-kegiatan sosial” katanya.
Salah satu anggota lain, Agus Purnomo (29)
menceritakan komunitas vespa memang tidak dapat dipisahkan dengan toor. Gembel
Necis sendiri pernal keliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk dapat
melihat keindahan negeri. 
“Kami pernah melakukan toor ke Aceh di tahun
2004, NTT, Bali, dan pulau Jawa hampir semuanya pernah kami kunjungi”
katanya. Tooring bagi Gembel Necis tidak sekedar untuk jalan-jalan, namun dari
kegiatan tersebut dapat menjalin persaudaraan dan komunikasi antar penggemar
vespa di seluruh Indonesia.
“Dari tooring tersebut kami juga bisa
bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang segala hal, dengan itu kami dapat
melihat bahwa Indonesia sangatlah luas, kaya dan unik. Kami sangat bangga
menjadi bagian dari negeri ini dan berharap semua rakyat di dalamnya dapat
memperoleh kemakmuran dan keadilan” pungkasnya. (Suwoko)

- advertisement -

Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (3)

0

Istananya Kini Tak Terawat


KESUKSESAN Nitisemito sebagai pengusaha rokok kretek dengan merek Bal Tiga sebelum masa kemerdekaan, membuat sang maestro ini membangun megah “istananya-istananya”. Tak hanya satu, dia membangun Omah (rumah) Kembar, dan satu Omah Kapal. Namun, ketiga istananya tersebut, kini tampak tak terawat, bahkan, hampir roboh.


Di masanya, istana-istana Nitisemito sangat mentereng dibanding dengan bangunan lain di Kudus, khususnya rumah hunian. Omah Kembar dibangun di Jalan Sunan Kudus, Desa Demaan dan Janggalan, Kecamatan Kota. Sedangkan Omah Kapal, ia bangun di Jalan KHR Asnawi, Desa Damaran, Kecamatan Kota. 


Omah Kembar dibangun masa kolonial Belanda dengan mengapit Sungai Kaligelis. Jika dilihat dari arah utara, atau dari jembatan Kaligelis, terlihat seperti rumah yang terbelah sungai. Rumah di sebelah barat, secara administratif masuk ke Desa Demaan, sedangkan di sebelah timur, masuk ke Desa Janggalan. Di dalam ke dua rumah tersebut terdapat berbagai perabot rumah yang mewah, di antaranya bermacam piring dan guci. Dan yang membuat dua rumah itu sangat dikenal, karena lantai rumah terbuat dari susunan uang logam.


Berdasarkan pengamatan dari luar, rumah tersebut tampak tak berpenghuni. Cat tembok rumah tersebut tampak lusuh. Bahkan, di rumah sebelah barat sungai, pagar rumah tampak miring dan hampir roboh. Namun, dilihat dari kejauhan, di atas atap rumah masih terlihat simbol Bal Tiga, sebuah tanda bahwa rumah tersebut adalah “istana” milik sang Raja Rokok Kretek.


Sedangkan Omah Kapal, dibangun pada sekitar tahun 1930. Rumah yang dibangun dengan arsitektur modern tersebut, sangat mirip dengan sebuah kapal laut. Rumah itu sengaja dibangun mirip dengan kapal laut untuk mengenang perjalanan dirinya pada saat berangkat haji ke Mekah. Bangunan rumah itu dibuat sangat mirip dengan kapal laut yang membawa Nitisemito saat berangkat haji.


Namun, sayangnya, kondisi bangunan antik tersebut sudah tidak terawat lagi. Atap bangunan telah roboh, beberapa bagian dinding roboh, dan hampir tidak berbentuk lagi. Bahkan, sisa bangunan itu, kini dipenuhi dengan tumbuhan rumput dan ilalanga. Omah Kapal, kini tidak bisa dilihat lagi dari luar, karena tertutup tembok yang mengelilingi bangunan. Berdasarkan pengamatan, kini, tempat tersebut dibuat untuk gudang pengolahan kayu.

Masuk BCB

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Sancaka Dwi Supani menyatakan, tiga istana Nitisemito itu sebetulnya telah dinyatakan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB), pada tahun 1998. Nemun, kepemilikannya masih dipegang oleh perorangan, ahliwaris Nitisemito.


“Berdasarkan Undang-Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Bangunan Cagar Budaya, seharusnya pemilik merawat bangunan bersejarah tersebut. Kuudus sebagai kota industri, lebih spesifik sebagai Kota Kretek, ketiga bangunan tersebut mempunyai nilai historisitas yang sangat tinggi. Dan dapat menegaskan Kudus sebagai pelopor dan perintis industri rokok kretek di Indonesia,” kata Supani, kemarin.


Selain itu, menurut Supani, tempat itu sebetulnya dapat dijadikan salah satu destinasi wisata di Kudus. Selain Menara Kudus dan Museum Kretek, bangunan tersebut dapat menarik wisatawan untuk datang ke Kudus, menikmati bangunan-bangunan bersejarah yang mempunyai nilai edukasi.


Terkait dengan terbengkelainya istana-istana Nitisemito itu, pihaknya mengaku pernah memperingatkan pemilik bangunan, untuk menjaga dan merawatnya. Namun, pemilik mengaku terkendala biaya perawatan, karena banguanan yang ada sangat besar, sehingga membutuhkan dana yang besar pula. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (2)

0

Runtuh Karena Perselisihan Generasi


KEJAYAAN Nitisemito dengan rokok Bal Tiga, akhirnya sedikit demi sedikit mengalami keruntuhan. Berbagai faktor mempengaruhi usaha rokok yang menjadi perintis dan pelopor bagi usaha pembuatan dan industrialisasi rokok di Kudus dan daerah lain itu. Di antaranya, suasana politik pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, dan perselisihan keluarga pewaris Rokok Bal Tiga, serta munculnya para pesaing baru.


Sebelum mengalami surut dalam mempertahankan kejayaannya, Nitisemito adalah pengusaha rokok kretek pertama yang sangat sukses. Rokok Bal Tiga yang menjadi brand rokok yang sangat terkenal pada masa sebelum kemerdekaan itu, tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Rokok Bal Tiga, secara resmi berdiri pada tahun 1914, dengan peresmian pabrik baru di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, yang saat ini menjadi gedung Jamaah Haji Kudus (JHK). 


“Sekitar delapan tahun menjalankan usahanya, Nitisemito berhasil membangunn pabrik baru di atas lahan seluas 6 hektar. Di pabrik itu, Nitisemito mempekerjakan sekitar 10 ribu pekerja, dengan total produksi 10 juta batang setiap hari.” tutur Suyanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Rokok Kudus. Selain merekrut pekerja asal pribumi, dia juga merekrut tenaga pembukuan asal Belanda. Sedangkan karyawan pribumi, ditempatkan sebagai tenaga terampil dalam pembuatan rokok kretek dan pemasaran.


Suyanto menambahkan, pada masa kejayaannya, Rokok Bal Tiga merambah pasar di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya, di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan. Bahkan, Rokok Bal Tiga, juga merambah di luar negeri, ssalah satunya di Singapura dan Malaysia. 


Menjelang masa kemerdekaan, pabrik-pabrik rokok baru mulai muncul di Kudus. Menurut Suyanto, tercatat, sekitar ada 12 perusahaan rokok besar, 16 perusahaan menengah, dan tujuh pabrik rokok kecil (gurem). Di antara pabrik besar itu adalah Rokok Goenoeng Kedoe milik M Atmowidjojo , Rokok Delima milik M Muslich , Rokok Djangkar milik Ali Asikin , Rokok Trio milik Tjoa Khang Hay, dan Rokok Garbis & Manggis milik M Sirin.


“Selain pabrik-babrik tersebut, muncul pula pabrik pabrik baru yang saat ini tengah berjaya. Yakni PT Nojorono yang berdiri pada tahun1940, Djamboe Bol yang berdiri tahun 1937, PT Djarum yang berdiri pada 1950, dan PR Sukun. Pabrik-pabrik tersebut semakin mempersempit gerak Rokok Bal Tiga,” ujar Suyanto.


Selain munculnya pabrik baru, pecahnya perang dunia ke dua juga mempengaruhi keberadaan industri rokok di Kudus, tak terkecuali pada Rokok Bal Tiga. Masuknya tentara Jepang di Indonesia, membuat usaha Nitisemito semakin terpuruk, karena banyak aset perusahaannya disita oleh tentara Jepang. Jepang pada saat itu memberlakukan pajak yang sangat tinggi pada komoditas rokok. Akibatnya, banyak pabrik rokok yang kemudian bangkrut.


“Penyebab utama kebangkrutan Nitisemito, selain karena gejolak sosial politik pada saat pecah perang dunia ke dua di Asia Pasifik, juga disebabkan karena tidak ada generasi penerus Nitisemito yang dapat mempertahankan Rokok Bal Tiga. Bahkan, para ahli waris, justru berselisih memperebutkan aset,” kata Suyanto, menceritakan hal tersebut.


Akhirnya, pada tahun 1955, sisa aset kerajaan rokok kretek Bal Tiga dibagi rata kepada ahli waris. Tidak ada lagi generasi setelah Nitisemito yang melanjutkan perjuangan hebat Sang Raja Rokok Kretek tersebut. Bahkan, sisa peninggalan kejayaan Nitisemito berupa Omah Kapal dan Istana Kembar, saat ini terbengkelai dan tampak tak terawat. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Istananya Kini Tak Terawat
Seorang yang Buta Huruf, Tapi Jenius Berwirausaha  

- advertisement -

Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (1)

0

Buta Huruf, Jenius Berwirausaha


DARI sekian foto tokoh pengusaha rokok di Kudus yang terpampang di Museum Kretek, Kudus, gambar tokoh yang satu ini sangat mencolok. Sekian banyak bukti peninggalan kejayaan usaha rokoknya pun tertata rapi di salah satu sudut museum satu-satunya di dunia itu. Nama tokoh tersebut adalah Nitisemito, yang kini namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Kudus.


Perjalanan seorang buta huruf yang sangat sukses di zamannya kala itu, Nitisemito memulainya dengan kegagalan demi kegagalan. Tercatat, putra pasangan Sulaiman, seorang Kepala Desa Jagalan, Kecamatan Kota, dan Markanah ini, pernah menjalankan kewirausahaan di berbagai bidang usaha, namun belum menemukan hasil yang baik. Nitisemito yang lahir pada 1863 dengan nama Roesdi ini, sempat menjadi pengusaha konveksi pada usia 17 tahun. Usaha itu gagal, dan kemudian beralih usaha lain menjadi penjual minyak kelapa, berjualan kerbau, hingga menjadi kusir dokar.


Pada saat menjadi kusir dokar tersebut, Nitisemito juga nyambi berjualan tembakau. Di sinilah awal Nitisemito merambah dunia usaha pembuatan rokok kretek. Dia menikahi seorang penjual rokok kretek, Nasilah, yang sebelumnya menjadi pembuat rokok kretek. Bersama istrinya itulah, dia mengembangkan usaha rokok kretek tersebut, yang kemudian menjadi industri yang sangat besar, hingga mempunyai 10 ribu karyawan.


Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Kretek, Suyanto, rokok kretek berdasarkan catatan sejarah, ditemukan oleh Jamhari. Pada mulanya Jamhari meramu tembakau dan cengkeh untuk dijadikan obat, dengan menghisap asap racikan tersebut yang dilinting (dibungkus) dengan klobot (kulit jagung). Temuan tersebut, diperkirakan terjadi sekitar tahun 1890 an. 


“Sekitar 1906, temuan tersebut kemudian sangat populer di masyarakat Kudus sebagai obat untuk penyakit sesak dan gangguan tenggorokan. Popularistas rokok kretek kemudian dikembangkan oleh masyarakat Kudus, salah satunya Nitisemito,” tutur Suyanto, saat di temui di ruang kerjanya, di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, baru-baru ini.


Suyanto menambahkan, setelah memulai usahanya tersebut, Nitisemito kemudian mendaftarkan merek rokok buatannya dengan nama Bal Tiga pada tahun 1908. Saat itu, rokok Bal Tiga sangat popular, tidak hanya di Kudus, namun juga daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Selain itu, pada tahun-tahun berikutnya, dia juga melebarkan sayap penjualan rokok Bal Tiga ke luar Pulau Jawa, bahkan hingga ke Singapura.

Sosok yang Jenius

Suyanto menceritakan, Nitisemito adalah sosok yang sangat jenius, meski dia seorang yang buta huruf. Intuisi bisnisnya sangat kuat, hal itu terlihat pada manajemen pengembangan rokok kretek yang dijalankannya. Dia menerapkan administrasi dan marketing modern, yang tidak dilakukan oleh pengusaha lain, pada saat itu.


“Bahkan, dia penah menyewa pesawat foker untuk mempromosikan rokoknya tersebut, dengan harga sewa, 200 gulden. Pesawat itu dibuat untuk menyebarkan pamflet produk rokoknya, di daerah sekitar Jawa Barat dan Jakarta. Menurut saya, ia adalah sosok yang jenius, karena media promosi tersebut dilakukan pada masa yang serba terbatas,” kata Suyanto. 


Tidak hanya itu, Nitisemito juga aktif mengikusti pameran-pameran niaga diberbagai daerah. Dalam pameran tersebut, Nitisemito memberikan hadiah, yang diundi bagi siapa saja yang membeli rokok Bal Tiga. Hadiah yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung, dia rela menyediakan sepeda, yang pada saat itu tergolong kendaraan yang mewah. Untuk mendistribusikan produk rokok Bal Tiga ke daerah-daerah lain di Pulau Jawa, Nitisemito menyediakan beberapa armada mobil untuk membawa puluhan bal (kemasan besar) ke beberapa agen. 


Karena keberhasilannya itu, Nitisemito kemudian sangat terkenal sebagai pengusaha pribumi yang sangat sukses. Bahkan, diceritakan, sebelum menjadi presiden pertama, Sukarno sering menemui Nitisemito, pada masa-masa perjuangan kemerdekaan. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Perusahaannya Runtuh Karena Perselisihan Genarasi
Istananya Kini Tak Terawat

- advertisement -

Koleksi Puluhan Motor Antik, Sekaligus Ladang Bisnis (2)

3
SEPUTAR KUDUS-Selain sebagai hobi, kegemarannya tersebut ia jadikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Di show rom itulah, Saifullah menjajakan puluhan motor antik miliknya, yang dibanderol dengan harga selangit. Untuk dapat memiliki sepeda motor dengan merek BMW, ia memberi tarif paling murah seharga Rp 50 juta.
“Untuk jenis motor tua dengan ukuran besar, atau moge, para peminat harus menyiapkan uang tak sedikit. Itu karena orisinalitas dan keantikannya,” ujar Saifullah, sembari tersenyum.
Selain menjual motor dengan merek kenamaan, dirinya juga menjual koleksi motro tua jenis bebek dan skutik tua. Ia menjamin, para pembeli tinggal memakainya di jalan raya, karena semua motor miliknya masih memiliki surat-surat yang lengkap.
Para pelanggan, menurut Saifullah datang dari seantero negeri. Kesemuanya adalah para pecinta motor antik, dengan kondisi yang istimewa. Kebanyakan, para peminat datang dari pulau Jawa. Biasanya, mereka mendapatkan informasi dari mulut ke mulut. 
Tak Diekspor
Meskipun Saifullah menjual barang-barang kesayangannya itu, namun dirinya tidak melayani peminat dari luar negeri. Selama ini, banyak peminat asal luar negeri yang datang ke show room miliknya, untuk membeli motor-motor antik yang menjadi koleksinya.
“Untuk pembeli dari luar negeri, saya memang tidak melayaninya. Ini saya lakukan, agar motor-motor antik ini tidak hilang dari Indonesia, seperti yang terjadi pada motor buatan Italia, Vespa,” tutur Saifullah.
Kepada ekpatriat yang datang ke tempatnya untuk membeli koleksi motornya, dirinya mengaku tidak menjualnya, dan hanya mengoleksi motor sebagai hobi. Ini dilakukan agar turis yang datang bisa menerima alasan yang ia katakan.

Untuk menjaga agar motor-motor antik hilang ke luar negeri, dirinya hanya menjual motor-motor antik miliknya, hanya kepada para kolektor yang ia kenal. Hal itu, telah dilakukan sejak dirinya memulai bisnis jual beli motor antik, sejak 14 tahun silam. (suwoko)
- advertisement -

Koleksi Puluhan Motor Antik, Sekaligus Ladang Bisnis (1)

0

SEPUTAR KUDUS-Hobi yang satu ini memang sangat mahal. Bagaimana tidak, di sebuah show
room yang terletak di Jalan Kudus Pati, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae,
Kabupaten Kudus itu, Saifullah (43) memampang sekitar 70 motor antik berbagai
merek, yang bernilai miliaran rupiah. Selain sebagai hobi, dirinya menjadikan
kegemarannya itu sebagai ladang bisnis.

Saifullah telah mengoleksi motor antik sejak tahun 1988. Berbagai merek
motor terkenal ia koleksi di show room yang juga dilengkapi bengkel perawatan.
Di antaranya, BMW, BSA, Sun Beam, Royal Envielet, Honda, Yamaha, dan bermacam
merek lainnya.
“Koleksi motor tua yang saya miliki ini, keluaran tahun 1930 hingga
tahun 1970,” ujar Sifullah, saat ditemui di show room miliknya, Rabu (4/1)
kemarin.
Menurut Saifullah, koleksi terbanyak adalah motor dengan merek BMW dan
BSA. Dia mendapatkan motor tersebut, dari kolektor yang ada di Jawa, di
antaranya, Surabaya, Semarang, Jakarta dan lainnya. Selain di Jawa, dia juga
mendapatkan motor-motor antik lainnya di Sumatera.
Motor-motor antik koleksinya itu, menurut Saifullah, masih terjaga
keaslian komponen dan bagian-bagian motor lainnya, termasuk mesin dan
chasisnya. Untuk menjaga dan merawat puluhan motor tersebut, dia mempekerjakan
empat orang karyawan, yang setiap hari memanasi mesin motor, dan
membersihkannya.
“Ada beberapa motor lain yang sparepartnya sudah saya ganti. Itu
karena, ada beberapa motor yang saya dapatkan dalam kondisi rongsokan. Kami
merangkai kembali rongsokan motor tua itu, dan menambahkan sparepart yang telah
hilang, dengan membuat komponen sendiri, di bengkel yang saya miliki,”
ujar pria berkacamata tersebut. (Suwoko)
- advertisement -

Kopi Jetak Mbah Atun, Nikmatnya Hmm…

0

KALIWUNGU-Kudus memang terkenal dengan jenang dan sotonya, tapi bagi penikmat kopi pasti kenal dengan Kopi Jetak. Disebut Kopi Jetak karena kopi tersebut dibuat di Desa Jetak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Salah satu warung yang khusus menyediakan minuman berwarna hitam pekat tersebut adalah warung milik Mbah Atun.

Warung yang terletak di Desa Jetak RT 5, RW 4 tersebut tak tampak kesan mewah. Hanya terdapat tiga buah meja yang dan beberapa kursi panjang. Hidangan yang disediakannya pun tak tampak meriah, warung Mbah Atun sangat dikenal para penggila kopu. Hanya ada nasi kering berbungkus daun pisang dan pisang goreng sebagai pelengkap.

Warung Mabh Atun hanya buka pada pukul 07.30 hingga pukul 13.00, setiap harinya. Hari-hari warung itu penuh sesak oleh penikmat kopi yang datang. Tak hanya orang-orang sepuh yang datang, namun juga para remaja yang ketagihan akan nikmatnya kopi racikan tangat Mbah Atun.

Kopi yang dibuat Mbah Atun menurut pengunjung yang datang sangatlah nikmat. Di samping rasanya yang begitu “nendang”, Kopi Jetak tersebut juga sangat pas jika dinikmati dengan pisang goreng atau nasi kering.
Hal itu diungkapkan Charis (25) warga Jetak yang mengaku menjadi pelanggan sejak lama. Guru di sebuah sekolah MI di kampungnya itu mengungkapkan, hampir setiap pagi dirinya datang ke warung berukuran kecil milik Mbah Atun hanya untuk bisa menyeruput kopi panas buatan Mbah Atun.

“Kopi Jetak memang banyak, di desa ini puluhan warga memproduksi kopi. Namun buat saya kopi Warung Mbah Atun tetap beda dengan yng lain. Rasa kopinya mantab, komposisinya juga pas” paparnya.

Menurut Mbah Atun, warung miliknya telah ada sebelum dirinya lahir 80 tahun yang lalu. Warung tersebut merupakan warisan dari orang tuanya yang telah ada sejak puluhan tahun silam. Di warungnya itu, kopi disuguhkan melalui proses yang panjang. Mulai dari menjemur kopi yang sebelumnya dibeli dari Gembong, Pati, menggilingnya hingga beberapa kali, dan dimasak di atas bara api dari kayu bakar.

“Semua proses itu saya sendiri yang melakukan. Membuat sajian kopi tidak bisa sembarangan. Butuh kesabaran dan perasaan,” tuturnya.

Perempuan renta itu menjelaskan, kopi yang dibuat tidak mencampurkan bahan tambahan apapun, misalnya ampas kelapa atau jagung. Menurutnya kopi bisa nikmat rasanya jika prosesnya dilakukan secara teliti dan dengan bahan berkualitas tinggi. Dimasak dengan menggunakan kayu bakar dalam suhu yang terukur, dan menggunakan komposisi yang pas antara gula dan kopinya.

Dalam sehari warung tersebut menghabiskan 10 kilogram bubuk kopi dan 7 kilogram gula pasir. Untuk memasaknya, Mbah Atun membutuhkan 20 kilogram kayu bakar. Secangkir kopi kecil yang dibuat hanya dibanderol Rp 1.500. Sedangkan satu cangkir  berukuran sedang para penikmat kopi hanya cukup membayar seharga Rp 2.500.

Mbah Atun menjamin, kopinya tidak menyebabkan penyakit lambung bagi pelanggannya. Karena setiap kopi yang disuguhkan didampingi segelas air putih untuk menetralisir lambung sebelum minum kopi. Serta disediakan pisang goreng untuk menjaga lambung agar tidak terlalu asam. (Suwoko)

- advertisement -

Lucunya Sajadah Mini dari Klumpit Buatan Inada

0

SEPUTAR KUDUS – Sajadah mini.

SEPUTAR KUDUS –Dunia anak adalah dunia bermain. Tak jarang para orang tua sulit mengajak anak-anak untuk belar sholat. Justru kesulitan itu ditangkap  Inada sebagai peluang bisnis. Dia mendesain sajadah khusus anak-anak, agar mereka tertarik untuk sholat. Dengan warna-warna mencolok, dan motif yang menarik bagi anak-anak, Inada kini kebanjiran pesanan.

Dia mengemukakan, ide pembuatan sajadah mini memang bermula dari keinginan dirinya untuk mengenalkan anaknya tentang ibadah. Dia mendesain sajadah mini sengaja memilih warna-warna terang. Motif dibuatnya semenarik mungkin agar anaknya senang dengan sajadah yang dia buat.

“Ide awalnya memang seperti itu. Namun, karena saya memiliki usaha pembuatan baju Muslim, justru ide membuat sajadah mini itu saya kembangkan dan saya buat untuk dijual. Alhamdulillah, banyak orang yang suka dan memesan dalam jumlah banyak,” ujar Inada saat ditemui di rumah yang sekaligus tempat dia membuat sajadah mini dan pakaian Muslim lainnya, di di Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, bahan pembuatan sajadah mini mempergunakan kain catoon plat yang halus dan tidak kaku. Di dalamnya diberikan bahan pelapis yang agak tebal dan lembut, serta diberikan gambar-gambar kartun, misalnya Helo Kity, sehingga anak-tertarik untuk menggunakannya.

Menurut Inada, permintaan sajadah mini melonjak drastis saat memasuki bulan puasa, dan puncaknya menjelang Lebaran. Pada saat-saat itu, kata Inada, permintaan sajadah mini mencapai 400 persen.
“Saat ini kami mampu menjual sajadah mini hingga 200 buah ke berbagai kota di Jawa untuk sekali pengiriman. Sajah ini kami kirim ke Surabaya, Jakarta, Tasikmalaya, dan kota-kota lain di Jawa Tenah,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk harga satu sajadah mini Inada mematok harga Rp 60 ribu kepada reseller. Sedangkan untuk pembeli eceran dia membanderol harga Rp 85 ribu perbuah. Untuk bahan baku, Inada mengaku tidak terlalu susah mendapatkannya. Karena menurutnya di Kudus tersedia di toko-toko kain. Harga kain berukuran 1 yard untuk sajadah mini seharga Rp 18 ribu. Namun biasanya dia membeli kain langsung satu gulung.

Untuk melayani permintaan pasar yang semakin meningkat menjelang puasa dan lebaran, biasanya Inada dibantu empat orang karyawan. Satu Karyawan menjahit, dua karyawan memotong pola gambar dan menempelkan gambar-gambar tokoh-tokoh kartun dan bentuk masjid.

Dalam sebulan dirinya mampu memproduksi ribuan sajadah mini untuk dikirimkan ke pelanggan. “Untuk saat ini kami hanya membuat untuk pesanan dari pelanggan, untuk membuat stok kami belum mampu karena keterbatasan tenaga” katanya.

Selain sajadah mini dirinya juga membuat sarung mini untuk anak-anak dan juga baju gamis. Usaha yang dirintis sejak 5 tahun yang lalu tersebut memang khusus untuk membuat pakaian dan sarana ibadah untuk anak-anak. (Suwoko)

- advertisement -

Mengait Nafkah di Utas Tambang Perbatasan Kudus dengan Demak

0
Bagi masyarakat di perbatasan Kabupaten Demak dan Kudus yang terbelah sungai Wulan, Jasa penarik perahu dengan tambang sangatlah besar. Karena, dengan tambang itulah, masyarakat Kecamatan Karanganyar, Demak, di perbatasan bisa menyeberangi sungai ke Kecamatan Undaan, Kudus.
Tambang itu digunakan penyedia jasa penyeberangan untuk menarik perahu membelah sungai Wulan yang memiliki lebar sekitar 50 meter. Dengan perahu itu, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar dapat menyeberang sungai untuk bekerja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau ke sekolah di beberapa tempat di Kudus, khususnya di Kecamatan Undaan. Dengan tambang itu pula tukang perahu “mengait” nafkah dari upah yang diberikan oleh masyarakat yang menggunakan jasanya. 
Sujadi (53), seorang penarik perahu, setiap hari harus terus mengait tambang untuk menyeberangkan masyarakat di Dukuh Gandek, Desa Undaan Kidul, dan beberapa desa lain di Kecamatan Karanganyar, menuju ke Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Setiap orang yang menggunakan jasa Sujadi, membayar Rp 1.000, untuk pulang pergi. Tarif penyeberangan dihitung setiap orangnya, bukan termasuk barang bawaan atau sepeda motor yang dibawa.
Hal itu sudah dilakukan Sujadi sejak puluhan tahun silam. Setiap hari, ratusan penduduk dari Demak, menyeberangi sungi Wulan, untuk bekerja atau berbelanja kebutuhan, karena beberapa desa di perbatasan Demak itu cukup terpencil. Tidak ada jembatan di yang dapat dilalui, sehingga, bagi masyarakat di sana, Sujadi adalah orang yang sangat berjasa.
“Saat musim hujan seperti ini, jarak yang harus ditempuh untuk menyeberangi sungai menjadi lebih jauh. Karena permukaan air naik, dan lebar sungai menjadi bertambah. Harus butuh tenaga ekstra untuk dapat menarik perahu berpenumpang melalui tambang baja ini,” tutur Sujadi, beberapa waktu lalu.
Sujadi menambahkan, saat debit air sungai sangat besar, dan permukaan air sungai sangat tinggi dan tambang tenggelam, dirinya terpaksa menganggur, karena perhau tidak bisa melaju. Di saat itu pula, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar tersebut,tidak bisa menyeberang ke Kudus. Kalaupun bisa ke Kudus, harus menempuh jarak yang sangat jauh, melalui jalur darat dengan jarak puluhan kilometer. 
Sujadi bukanlah pemilik perahu yang setiap hari ia gunakan, melainkan milik juragannya. Ia diupah sesuai dengan uang yang terkumpul dari masyarakat yang menyeberangi sungai. Uang yang terkumpul kemudian dibagi dua, separuh untuk pemilik perahu, dan sisanya untuk dirinya. Namun, itupun masih dibagi dengan dengan seorang rekannya, sesama penarik perahu lain.
“Setiap hari saya bekerja dengan satu kawan lain. Biasanya kami bergantian, ketika sudah cepek, kawan sayalah yang menggantikan,” ujar pria yang juga nyambi menjadi buruh tani itu.
Seorang penyeberang, Wati (38) mengaku sangat bergantung dengan jasa para penarik perahu itu. Tanpa mereka, mungkin penduduk di Desanya dan sekitarnya, tidak bisa bekerja dan membeli kebutuhan sehari-hari, karena, di tempatnya, tidak ada pasar. Selain itu, anak-anak mereka juga bergantung jasa penyeberangan itu untuk bersekolah di Kudus, yang mempunyai kualitas lebih bagus. 
“Penyeberangan ini telah ada sejak puluhan tahun silam. Bahkan, menurut cerita orang-orang terdahulu, ini sudah ada sejak zaman Belanda,” tutur Wati, yang bekerja di salah satu pabrik rokok ternama di Kudus.
Wati berharap, pemerintah dapat membangun jembatan yang dapat menghubungkan daerah mereka dengan Kabuaten Kudus. Sehingga, masyarakat di sana dapat lebih mudah untuk pergi ke Kudus. (suwoko)
- advertisement -

Melihat Sentra Sangkar Burung Dukuh Wungu

0
Seorang perajin sangkar burung di Dukuh Wungu
tengah merakit sangkar burung beberapa waktu  lalu

JATI-Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, telah lama dikenal masyarakat Kudus sebagai sentra kerajinan berbahan bambu. Namun, Di salah satu pedukuhan di Megawon, yakni Dukuh Wungu, telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan sangkar burung. Di sana, terdapat puluhan perajin yang dapat menghasilkan ribuan sangkar burung tiap bulannya.

Seorang perajin di Dukuh Wungu, Noor Fais (23), mengaku telah menjalani usahanya tersebut sejak tiga tahun yang lalu. Awalnya, dia bekerja sebagai perakit sangkar burung milik tetangganya. Kini, Fais memiliki sepuluh karyawan. Setiap hari dirinya mampu memproduksi sangkar burung sebanyak 70 sangkar, dengan berbagai macam bentuk dan motif.

“Bentuk dan motif yang kami buat, mengikuti perkembangan pasar yang ada. Kami mendesain sendiri bentuk dan motif sangkar burung yang kami buat. Namun, terkadang juga meniru bentuk lain yang ada di pasaran. kami merubah sedikit di beberapa itemnya,” ujar Fais, saat ditemui di tempat kerjanya, Dukuh Wungu, Desa Megawon RT 1 RW 1, Kecamatan Jati, beberapa waktu lalu.

Setiap sangkar yang diproduksi, Fais menjualnya dengan harga bervarisasi. Untuk sangkar burung dengan ukuran yang besar, dan bermotif rumit, dia membanderol harga hingga Rp 110 ribu per-buah. Sedangkan untuk ukuran yang lebih kecil, dengan motif yang tidak terlalu rumit, Fais menjualnya seharga Rp 35 ribu.
Pasar yang menjadi jajahan sangkar burung buatan Fais, adalah pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Di Jawa, Fais hanya menjual sangkar burung yang ia produksi, hanya di Kudus saja, yakni di Pasar Johar.

“Awalnya, banyak para pembeli dari luar yang datang ke tempat ini. Namun, dari mulut ke mulut, akhirnya banyak masyarakat di luar pulau Jawa yang memesan sangkar burung buatan kami,” ujar Fais.

Sementara itu, perajin lain di Dukuh Wungu, Sukar (37) mengatakan, usaha pembuatan sangkar burung yang ia geluti belasan tahun itu, ia kerjakan hanya bersama anggota keluarga di rumahnya. Ia dibantu istri, anak, dan sepupunya. Usahanya itu, merupakan warisan dari orang tuanya, yang sejak puluhan tahun silam telah menggeluti kerajinan dari bambu tersebut.

Untuk mendapatkan bahan, Sukar mendapatkan bambu dari luar kota, yakni dari Magelang. Sedangkan kayu jati yang ia pakai, didapat dari Jepara. Setiap hari, Sukar bersama anggota keluarganya, dapat memproduksi sekitar 10 buah per-hari. Harga yang ditawarkan, relatif lebih murah. Yakni berkisar antara Rp 25 ribu, hingga Rp 35 ribu per buah.

“Kami hanya menjual sangkar burung yang kami buat, di Pasar Johar saja. Karena, usaha yang kami geluti ini masih terbilang kecil dibandingkan perajin lain. Namun, usaha ini, cukup untuk menghidupi keluarga, dan menyekolahkan anak-anak kami,” ujar Sukar, saat ditemui di rumah, sekaligus tempat kerjanya, di Dukuh Wungu, Desa megawon, RT 2 RW 1.

Sukar mengatakan, di Dukuh Wungu, satu kampung hampir semuanya bekerja sebagai perajin sangkar burung. Ada yang menjadi pengusahanya, dan lebih banyak menjadi buruh perajinnya. Sejak lama, Dukuh Wungu sangat dikenal sebagai sentra perajin sangkar burung. (suwoko)

- advertisement -

Berlibur Dengan Puluhan Rusa Timor di Gebog

0

GEBOG-Banyak cara untuk bisa menikmati hari libur di Kudus. Berbagai tempat wisata bisa dinikmati bersama keluarga. Mekipun tak mempunyai pantai, di Kudus ada beberapa tempat wisata yang tentu dapat menghilangkan penat, ada Museum kretek, Air Terjun Montel dan Wisata Religi ke makam Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Namun ada satu tempat wisata di Kudus menarik untuk dikunjungi. Selain berwisata, juga dapat memberikan nilai pendidikan bagi anak tentang satwa. Tempat wisata itu yakni penangkaran Rusa Timor atau Cervus Timorensis.

Tempat wisata itu terletak di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog. Berdiri di antara gedung pabrik rokok milik PT Sukun, dan pepohonan yang sangat rindang, tepatnya  penangkaran rusa itu memberi keteduhan dan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Tempat penangkaran rusa itu ramai dikunjungi wisatawan pada hari Minggu dan libur nasional.

Penangkaran satwa yang dilindungi ini terletak di atas sebidang tanah seluas 100 meter persegi dan dikelilingi besi kasa. Ada sebanyak 28 rusa timor di tempat penangkaran itu. Terdapat pula sebuah kolam berisi air di tengahnya untuk rusa-rusa minum dan berkubang.

Beberapa waktu lalu, seorang pengunjung Ronald Rio Alfi datang bersama putrinya yang masih berusia 4 tahun. Menurut Ronald, dia datang ke penangkaran itu untuk mengenalkan putrinya pada rusa-rusa di sana. “Kami sudah sering ke tempat wisata lain, namun menurut saya tempat ini lebih bagus untuk anak saya. Karena dia bisa berinteraksi dengan rusa secara langsung,” katanya.

Di tempat itu para pengunjung bisa leluasa memberikan makanan untuk rusa. Cukup merogoh kocek Rp 1.000, pengunjung dapat membeli seikat kangkung yang banyak dijual sekitar penangkaran. Dengan kangkung itu, pengunjung dapat menarik rusa untuk datang mendekat dan memberinya makan.

Selain Ronald, pengunjung lain Yahya Nur mengaku sangat sering datang ke penangkaran tersebut. “Setiap liburan anak-anak sering kami ajak kemari. Disamping jaraknya yang dekat dari rumah, berwisata di sini juga gratis,” katanya.

Dia merasa beruntung di Kudus ada penangkaran rusa itu, karena di kawasan pantura timur tidak ada kebun binatang yang bisa dikunjungi. “Kami harus ke Solo atau Jogja jika ingin memperlihatkan satwa langka pada anak. Tentu kami butuh waktu lama di perjalanan dan yang jelas menghabiskan banyak biaya,” katanya.

Penjaga penangkaran sekaligus yang merawat rusa, Noviyanto mengemukakan, penangkaran rusa tersebut sudah berumur lebih dari 10 tahun. Untuk memberi makanan rusa dia menyediakan 4 karung rumput yang diberikannya setiap pagi, siang dan malam hari.

“Rusa ini termasuk hewan yang tidak sulit soal makanan. Semua jenis rumput dan dedaunan rusa-rusa ini doyan melahapnya,” ujar Noviyanto. Namun dia mengatakan, ada beberapa tumbuhan yang dilarang untuk diberikan, antara lain daun tebu dan jerami.

Untuk kesehatan rusa, kata Noviyanto, ada tim medis dari Semarang yang setiap bulan datang untuk mengecek kesehatan rusa. Namun, jika sewaktu-waktu ada rusa yang sakit, dia meminta tim kesehatan untuk segera datang.

Dia menjelaskan, penangkaran tersebut milik PT. Sukun, salah satu perusahaan rokok terbesar di Kudus. Dia berharap masyarakat yang berwisata ke penangkaran tidak memberikan sesuatu yang membahayakan rusa. Agar rusa-rusa tersebut tetap sehat dan bisa memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat. (Suwoko)

- advertisement -