31 C
Kudus
Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaKUDUSKomunitas Gembel Necis...

Komunitas Gembel Necis Kudus, Tak Sekedar Penggemar Vespa

Sejumlah anggota komunitas Gembel Necis Kudus saat singgah di Pekalongan tahun 2011. 

KUDUS-Dilihat dari namanya, Gembel Necis mungkin
terjadi kontra antara kata satu dengan lainnya. Karena kata gemebel sering
identik dengan pakaian kumal, kumuh dan jarang mandi, namun komunitas penggemar
vespa di Kudus ini menggabungkan kedua kata tersebut untuk menciptakan imej
yang berbeda dari banyak anggapan masyarakat bahwa penggemar vespa sering
terlihat kumuh atau tak necis.

Komunitas yang beranggotakan lebih dari 200
penggemar vespa ini awalnya sekumpulan pemilik vespa yang sering nongkrong
bareng di pinggir-pinggir jalan di Kudus sejak tahun 2000, banyak yang
menganggap mereka sebagai gembel karena sering nongkrong tak jelas dan
berpakaian ala gembel yang apa adanya. Namun semenjak tahun 2003 silam mereka
mengkonsolidasi diri untuk menyatakan bahwa mereka mampu berbuat lebih untuk
masyarakat.
Salah satu anggota aktif Gembel Necis, Agus
Wahyu (25) mengungkapkan komunitasnya tersebut tidak sekedar penggemar vespa
yang hanya bisa kumpul bersama, namun dengan latar belakang kegemaran yang sama
akan kendaraan scooter asal Italy tersebut mereka menjalin kekeluargaan satu
sama lain dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. 

“Kami
bukanlah club motor, namun kami komunitas yang berkumpul bersama untuk menjalin
kekeluargaan, dengan ini juga kami berbuat sesuatu untuk anggota keluarga kami
di komunitas dan masyarakat” tutur Agus (21/7/2011) kemarin.
Kata necis sendiri menurut pria berambut
gondrong tersebut bukan untuk membuat imej eksklusif atau sok berlagak seperti
bangsawan atau priyayi, namun kata necis dipilih untuk menegaskan kepada
masyarakat tentang sikap anti kemapanan, yang berarti kepedulian terhadap
sesama harus tetap dijaga meski hidup dalam serba kecukupan. Kata Necis sendiri
juga dimaksudkan agar komunitas tersebut tidak dipandang sebelah mata, karena
setiap orang berhak untuk memilih identitasnya sendiri sebagai ekspresi dalam
kehidupan. 
“Pakaian, harta benda bukanlah tolok ukur dari kualitas
manusia, namun hati yang merasa bahwa sesama manusia satu saudara adalah yang
terpenting” tuturnya. Ia menambahkan untuk bisa menjadi anggota Gembel
Necis tidak tertutup, semua kalangan bisa bergabung ke komunitas tersebut. Tua,
muda, miskin, kaya, berpendidikan atau tidak semuanya boleh masuk menjadi
anggota, dan di komunitas tersebut tidak ada struktur formal, karena semua
mempunyai hak yang sama.
Hal positif yang pernah dilakukaan Gembel
Necil salah satunya adalah kegiatan Food is not Booms (FnB), dalam kegiatan itu
menurut Agus seluruh anggota komunitas berkumpul untuk membagi-bagikan nasi
bungkus secara cuma-cuma kepada anak jalanan, tukang becak dan pengemis di
berbagai titik keramaian yang sering dijumpai. Mereka tidak sekedar membagikan
nasi bungkus, dalam kegiatan tersebut juga dibagikan slebaran atau poster yang
berisi tulisan tentang kemandirian, serta kritik terhadap masyarakat dan
pemerintah bahwa makanan adalah hak setiap manusia yang terlahir, dari tumbuhan
makanan tersebut dibuat, dan tumbuhan bukanlah monopoli satu orang atau
golongan tertentu.
“Sikap anti kemapanan yang kami bangun
tidak terbatas pada slogan atau jargon semata, dalam komunitas kami saling
bertukar pengalaman dan pengetahuan untuk melangkah maju, baik dalam hal
ekonomi maupun ilmu pengetahuan” papar Agus. 

Ia menambahkan untuk
meningkatkan taraf perekonomian anggota, Gembel Necis sering membuat
pelatihan-pelatihan ekonomi, di antaranya pelatihan sablon, pembuatan kaos,
pelatihan tentang reparasi vespa, dan modifikasinya. Dari pelatihan tersebut diharapkan
tercipta jiwa kemandirian komunitas, karena dari skill yang diberikan anggota
dapat berkreasi dan mendatangkan income. “Saat ada event vespa di luar
kota kami sering membawa hasil karya anggota untuk dijual, baik kaos,
merchandise, atau sparepart buatan. Dari hasil tersebut kadang ada yang secara
suka rela untuk dibuat mendanai kegiatan-kegiatan sosial” katanya.
Salah satu anggota lain, Agus Purnomo (29)
menceritakan komunitas vespa memang tidak dapat dipisahkan dengan toor. Gembel
Necis sendiri pernal keliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk dapat
melihat keindahan negeri. 
“Kami pernah melakukan toor ke Aceh di tahun
2004, NTT, Bali, dan pulau Jawa hampir semuanya pernah kami kunjungi”
katanya. Tooring bagi Gembel Necis tidak sekedar untuk jalan-jalan, namun dari
kegiatan tersebut dapat menjalin persaudaraan dan komunikasi antar penggemar
vespa di seluruh Indonesia.
“Dari tooring tersebut kami juga bisa
bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang segala hal, dengan itu kami dapat
melihat bahwa Indonesia sangatlah luas, kaya dan unik. Kami sangat bangga
menjadi bagian dari negeri ini dan berharap semua rakyat di dalamnya dapat
memperoleh kemakmuran dan keadilan” pungkasnya. (Suwoko)

Redaksi
Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler