Beranda blog Halaman 1979

Sensasi Segar Di Terminal Es di Kabupaten Kudus

0
Sajian es campur di Terminal Es, Jalan Lingkar Utara Panjang, kilometer 1, Kabupaten Kudus.

KUDUS-Terminal Es, warung sederhana yang terletak di kilometer 1 Jalan Lingkar Utara
Panjang, Kudus, menyediakan berbagai macam minuman es untuk
melepas penat dan menikmati sensasi segar dan dinginnya. Di warung yang buka
mulai pukul 10.00 hingga pukul 21.00 tersebut tampak ramai dan belasan meja
terlihat penuh setiap harinya, terlebih saat akhir pekan.

Tak hanya remaja, namun juga kalangan dewasa
yang sering datang bersama keluarga. Di sana pengunjung
dimanjakan dengan puluhan menu es yang menyegargan, di antaranya es campur, es
teller, es klamud, sub buah dan berbagai macam es jus yang dapat dipesan
beberapa menit saja.
Pengunjung tinggal menunjuk menu yang telah
disediakan dan tampak dalam sebuah lemari kaca yang berjajar berbagai buah
segar, serta dapat melihat secara langsung pembuatannya, mulai dari proses pengupasan
buah hingga proses penyajiannya.
Menurut pengelola Teminal Es, Agus setiawan
(30) menu favorit yang sering diminta pengunjung adalah es campur dan sub buah.
Ia tidak mematok harga yang mahal pada kedua menu favorit tersebut, pengunjung
hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp 3.000 saja untuk dapat
menikmati segarnya kedua menu tersebut. Untuk menu lain, pengunjung hanya cukup
menyiapkan uang dari Rp 1.500 hingga Rp 4.000 saja untuk
berbagai sajian es jus yang beraneka macam rasa buah dan yang mix dengan susu
dan krim.
Agus mengungkapkan di warung sederhananya
tersebut dalam satu hari dapat menghabiskan 5 balok es saat ramai dan saat sepi
ia menghabiskan sekitar 3 balok es. Jika dihitung jumlah gelas dalam sajian
aneka ragam es yang terjual warung tersebut dapat menyajikan ratusan gelas
dalam satu hari.

“Kami tidak bisa menghitung berapa gelas
setiap harinya, tapi yang jelas ada ratusan” katanya. Warung tersebut
sangat ramai oelh pengunjung tidak hanya siang hari saat cuaca terasa panas,
namun juga malam hari yang juga dipadati pengunjung.
Terminal Es yang telah ada sejak tahun 1971
tersebut merupakan nama warung es yang cukup dikenal masyarakat Kudus, tak
hanya dapat ditemui di Jalan Lingkar Utara, namun juga di tempat lain. Menurut
Agus Terminal Es mempunyai 6 cabang yang tersebar di seluruh Kudus, di
antaranya di Kompleks Gedung Olahraga (Gor) Wergu Wetan Kudus yang juga ramai
dikunjungi pelanggan setia. Agus menambahkan di Jalan Lingkar Utara saja,
Terminal Es mempunyai 20 karyawan, yang terdiri dari pembuat sajian puluhan
menu es, penyaji hingga petugas kebersihan.
“Setiap hari mereka bekerja selama 11
jam, namun karena semua pekerjaan dilakukan bersama dengan penuh semangat dan
kekeluargaan hal tersebut tidak menjadi masalah” tuturnya.
Demi untuk melayani pelanggan setianya, Agus
menjelaskan Terminal Es tidak mengenal libur. Pasalnya warungnya tersebut
selalu ramai didatangi pelanggan baik hari libur maupun hari-hari biasa. Namun
menghilangkan penat karyawan pihaknya meberikan libur untuk seluruh karyawan
dua minggu sekali di hari Rabu.
“Hari Rabu kami pilih dengan alasan di
hari tersebut pelanggan tidak pegitu banyak dibanding dengan akhir pekan”
ujarnya.

Selain
berbagai menu es, Terminal Es juga menyediakan menu makanan untuk bisa dipesan.
Diantaranya mie ayam, bakso, mie jamur, sup jamur, nasi goreng dan nasi rawut.
Harga yang ditetapkan cukup murah, yakni Rp 4.000
hingga Rp 9.000. (Suwoko)

- advertisement -

Warna-warni Tas Cantik untuk Wanita di Rumah Warna Kudus

0
Dua orang pengnjung tampak mengamati produk tas yang dijual di Rumah Warna Kudus.

KUDUS-Bagi sebagian orang, tas tidak hanya memiliki fungsi tempat barang bawaan. Ada di antara masyarakat yang menjadikan tas sebagai salah satu gaya hidup. Tak heran, jika Rumah Warna, salah satu toko tas di Kudus, menyediakan tas dengan berbagai macam bentuk dan aksesoris, dengan warna-warna pilihan yang sangat menarik.

Toko yang terletak di Jalan Sunan Muria itu, telah didesain sedemikian rupa dan mencerminkan warna-warni produk tas yang dijual. Di etalase toko, berjajar berbagai macam dan bentuk tas yang menarik, dengan warna-warni yang cukup mencolok.

Menurut salah satu penjaga toko Rumah Warna, Naliyal Hikmah (19), toko itu telah ada sejak tahun 2010 yang lalu. Bidikan pasar yang menjadi target, adalah para remaja perempuan dan anak-anak. Target itu dipilih, karena keduanya memiliki kecenderungan untuk menjadikan tas sebagai gaya hidup.

“Perempuan remaja, biasanya memiliki banyak tas. Mereka cenderung menyesuaikan tempat, acara dan waktu, untuk menggunakan tas yang sesuai dengan hal tersebut. Khusus untuk anak-anak, biasanya, mereka akan berganti-ganti tas, jika ada model baru yang lebih menarik,” ujar Naliyal, saat ditemui di Rumah Warna, Senin (9/1) kemarin.

Produk yang ditawarkan di Rumah Warna, menurut Naliyal ada beberapa ragam dan corak, serta aksesoris sebegai pelengkap. Sebagian besar, produk yang ditawarkan berwarna cerah. Itu disesuaikan dengan selera remaja dan anak-anak. Jenis produk meliputi, tas santai, tas kuliyah, tas kerja, dan tas sekolah.

“Kisaran harga yang kami tawarkan bervariasi, yakni berkisar antara Rp 75.000, hingga Rp 225.000. Tergantung kualitas bahan dan aksesoris yang menjadi ciri khasnya,” ujar Naliyal.

Ia menjelaskan, setiap hari rata-rata omzet yang didapat bisa mencapai Rp 2 juta. Kebanyakan produk yang diminati adalah tas remaja, dengan penjualan rata-rata 20 tas setiap hari. Untuk produk tas anak-anak, ramai terjual saat libur sekolah dan kenaikan kelas.

Selain menyediakan tas yang berukuran besar, Rumah Warna juga menyediakan tas berukuran kecil. Menurut Naliyal, produk tas tersebut berupa tas ponsel, tas peralatan kecantikan, dan tas peralatan tulis bagi anak-anak. Produk tas mini ini, didesain dengan sangat simpel, namun sangat menarik, karena dilengkapi dengan aksesoris sebagai hiasan.

“Harga yang kami tawarkan untuk produk tas mini ini, berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000,” kata perempuan berjilbab itu.

Ready Stok

Meski produk tas yang dibuat memiliki keunikan, namun Rumah Warna tidak memproduksinya secara limit. Dari sekian banyak bentuk, corak dan aksesoris yang ada, pihak Rumah Warna mengaku memiliki stok tas cukup banyaka, atau ready stok.

“Hal ini sebagai strategi kami, untuk mengantisipasi pembeli yang menginginkan tas, dengan bentuk dan warna yang sama. Karena, tas bukanlah produk yang sama seperti pakaian, yang dipergunakan secara primer,” ungkap Naliyal. (Suwoko)

- advertisement -

Koleksi Sajadah Batik di Muria Batik Kudus

0
Sajdah batik dan batik kaligrafi sedang diproduksi di galery Muria Batik Kudus, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. 

KUDUS-Perajin batik Kudus, Yuli Astuti melakukan terobosan baru untuk menyambut datangnya bulan puasa dan lebaran mendatang. Perajin yang mengangkat Batik Kudus setelah mati suri puluhan tahun lamanya tersebut membuat sajadah dari kain batik dengan motif yang beraneka macam. “Yang jelas ada gambar masjid yang kami kombinasikan dengan motif Batik Kudus, seperti pari jotho dan gebyok Kudus” paparnya saat ditemui di Galery Muria Batik Kuds, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten kudus (1/8) kemarin.

Yuli tetap menggunakan kain catoon primisima sebagaimana dipergunakannya untuk bahan baju, menurutnya sajadah batik selain dapat dipergunakan untuk ibadah juga dapat dipergunakan untuk syal atau ridak. Batik yang dibuat menggunakan batik tulis sehingga warna dan motif terlihat eksklusif dan istimewa. Para pembeli hanya diberi tarif Rp 50 ribu hingga Rp 65 ribu setiap sajadah yang dibuat.

“Untuk yang menginginkan harga miring, kami rencana juga membuat sajadah batik dengan menggunakan batik cap yang proses produksinya tidak terlalu rumit sehingga harga tidak terlalu mahal” paparnya. Untuk sajadah batik kelas dua tersebut ia beri harga Rp 25 ribu hingga 40 ribu, harga tersebut menurutnya terbilang sangat murah mengingat batik yang selama ia produksi berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 4 juta.

Ide pembuatan sajadah batik muncul saat saudaranya pulang dari haji beberapa waktu lalu, dirinya ingin membantu dengan memberikan sovenir atau merchandise batik kepada saudara dan tetangga yang datang, namun karena umumnya oleh-oleh yang diberikan adalah sajadah dirinya kemudian berinisiatif untuk membuatnya.

Pembuatan sajadah batik Yuli buat baru di tahun ini, khusus untuk menyambut bulan Ramadhan dan Lebaran. Karena belum begitu popoler ia hanya membuatnya berdasarkan pesanan dari koleganya di beberapa kota, seperti Kudus dan Jakarta. Untuk stok ia hanya membuat beberapa puluh saja sebagai persiapan jika tiba-tiba ada yang ingin memborong sajadah unik tersebut.

Disamping membuat sajadah dari batik, di galerynya tersebut ia juga membuat batik kaligrafi huruf arab. Batik kaligrafi tersebut tidak dipergunakan untuk sajadah, baju atau pakaian lain. “Batik kaligrafi ini hanya untuk hiasan dinding, bukan untuk pakaian. Karena kaligrafi yang dibuat memuat ayat-ayat Al-Quran, sehingga tidak diperbolehkan untuk bahan pakaian atau sajadah untuk menghormati ayat-ayat yang terkandung didalamnya” tuturnya. (Suwoko)

- advertisement -

Agus Bidik Pasar Kaus untuk Muda-mudi di Kudus

1
Agus tengah menyelesaikan pesanan kaus couple
di tempat kerjanya.

KUDUS-Kaus atau t-sirth bagi kalangan remaja tidak hanya sekedar pakaian, namun juga sebuah identitas. Selain nyaman digunakan, kesan santai dan jauh dari formalistik adalah alasan untuk memakainya. Hal inilah yang ditangkap sebagai peluang beberapa produsen t-sirth untuk memproduksi tema couple atau pasangan.

Agus Wahyu (24) adalah salah satu produsen yang menangkap peluang itu. Pria asal Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus ini, telah memproduksi t-sirth dengan tema couple, setelah melihat dua orang muda mudi memakai kaos dengan gambar yang sama. Namun bukan, dari bahan sablon, melainkan hasil printing.

“Saya berpikir, cetakan sablon lebih dinamis dibanding dengan hasil printing. Selain bisa tahan lama, bahan cetakan sablon juga tidak kaku saat dipakai, tidak seperti hasil printing mesin,” kata Agus, saat ditemui di rumah produksinya, Desa Keramat Besar, Kecamatan kota, Kudus, kemarin.

Terobosan yang dilakukan itu telah dijalankannya sejak sebulan terakhir. Karena membidik tema couple, dirinya tidak bisa memproduksi t-sirht sebelum ada pembeli yang memesan. “Saya harus menunggu terlebih dahulu order dari pembeli,” katanya. Ia menambahkan, untuk pemesan, dia bisa meminta desain gambar yang diinginkan. Termasuk bahan kaos, warna dan kemasannya. Pemesan tinggal terima bersih.

Agus menjamin, kaos yang akan dipakai oleh pemesan tidak akan pernak dijumpai dilain tempat. Pasalnya, kaos hanya diproduksi terbatas, sepasang kaos. Menurut pria lulusan Sekolah Menengah Kejuruan di Kudus itu, kaos ini sangat cocok untuk pasanganmuda-mudi yang ingin mengabadikan hubungan. Meski begitu, dia juga menerima pesanan untuk komunitas tertentu dengan jumlah maksimal 10 picis.

Untuk sepasang kaos couple dengan bahan catoon combet 39S, dirinya mematok harga Rp 150 ribu. Harga itu termasuk bonus pesanan berupa sepasang gelas dengan desain tulisan yang diinginkan oleh pemesan. Untuk komunitas, dirinya mematok harga Rp 60 ribu perpicis, tanpa bonus gelas seperti tema couple.

Agus mengungkapkan, saat ini omzetnya bisa dikatakan lumayan. Setiap seminggu sekali, dirinya mendapatkan order paling sedikit dua pesanan tema couple. Untuk promo, dia memanfaatkan media jejaring sosial dan blog. Dia juga membagi info kepada pelanggannya, yang sering melakukan order terhadap Agus, yang telah menjalankan produksi t-sirth sekitar tujuh tahun.

Hal serupa juga dilakukan oleh Mahfudz (32). Pria warga Desa Pasuruan, Kecamatan Jati, Kudus itu juga membidik pasar yang sama, para remaja. Namun dirinya tidak mengkhususkan tema couple seperti yang dilakukan Agus.

“Para remaja sangat gemar dengan t-sirth. Terkadang pakaian itu digunakan sebagai identitas,” katanya. Pria yang mahir nyablon itu, menganggap, pangsa pasar t-sirth masih sangat tinggi di kalangan remaja. Dia tidak hanya melayani order dari pemesan. Namun juga memproduksi untuk stok barang.

Pemesan terbesar yang ia dapat adalah remaja yang tergabung dalam sebuah komunitas tertentu. Mahfudz memanfaatkan isu-isu remaja yang tengah menjadi trend, sebagai bahan desain untuk kaos yang ia produksi.

Untuk pemasaran produk, mahfudz memanfaatkan event yang diselenggarakan oleh komunitas, atau event yang menarik minat para remaja. Di event tersebut dirinya menggelar hasil produk yang telah ia buat. Dia juga menerima pemesan yang ingin dibuatkan t-sirt dengan desain tertentu di tempat ia menjajakan dagangannya. Pemesan cukup menunggu sekitar 1 jam, pesanan bisa langsung diambil di tempat. (Suwoko)

- advertisement -

Kerbau Simbol Toleransi Umat Beragama di Kudus

0

KUDUS-Hari raya kurban tinggal menghitung hari lagi. Aktivitas pedagang di pasar hewan, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus sudah semakin ramai transaksi jual beli hewan kurban. Namun, di blok hewan kerbau terlihat lebih ramai dibanding dengan blok hewan sapi. Hal ini tidak lepas dari tradisi masyarakat Kudus yang lebih memilih menyembelih kerbau, karena toleransi yang diwariskan Sunan Kudus.

Hiruk pikuk para pedagang dan pembeli tampak sangat ramai di pasar hewan satu-satunya di Kudus itu. Ratusan pedagang dan pembeli itu tidak hanya memadati lokasi pasar di tengah sawah itu, namun juga di sepanjang Jalan Sempalan, yang melintasi pasar. Para penjual tampak menjajakan hewan dagangan untuk ditawarkan kepada para pembeli.

Salah satu pembeli, Karno (50) yang ditemui di pasar hewan kemarin mengatakan, dirinya sedang mencari hewan kerbau yang akan dibuat hewan sembelihan saat hari raya kurban nanti. Meski harga kerbau relatif lebih tinggi dibanding sapi, namun ia lebih memilih kerbau karena tradisi yang diwariskan Sunan Kudus.

“Dulu Sunan Kudus pernah melarang masyarakat muslim untuk menyembelih sapi. Larangan itu, semata karena ingin menghormati masyarakat Hindu di Kudus, yang mengagungkan sapi sebagai sembahan. Ajaran Mbah Sunan, berupa toleransi itu kemudian dipertahankan oleh masyarakat muslim Kudus, hingga sekarang,” tutur Karno.

Maskur (46), Salah satu pedagang hewan kerbau, mengaku penjualan kerbau miliknya bisa mencapai dua sampai empat ekor setiap hari, menjelang hari raya kurban. Dia memperkirakan peningkatan penjualan hewan kurban miliknya mencapai sekitar 20 persen. Setiap kerbau yang ia jual, seharga Rp 10 juta hingga 13 juta.

“Masyrakat Kudus memang lebih memilih kerbau untuk hewan sembelihan. Hal ini sudah terjadi turun-temurun,” kata Maskur, saat ditemui di pasar hewan, Kamis (3/11) kemarin. Menjelang hari raya, menurut warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu, kebanyakan pembeli adalah mereka yang akan melakukan kurban.

Maskur mendapatkan hewan kerbau dari beberapa peternak di Kudus, Grobogan, Blora, dan Tuban. Menjelang hari raya kurban, dirinya tidak hanya menjajakan hewan dagangannya di pasar khusus hewan tersebut, namun juga menerima pesanan dari beberapa panitia penyembelihan hewan kurban. Kenaikan harga menjelang hari raya tidak begitu tinggi, hanya sekitar 10 persen saja.

Sementara itu, di panitia penyembelihan hewan kurban Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), sama sekali tidak menyembelih sapi dalam dalam perayaan hari raya kurban yang akan datang. Tradisi tersebut, sudah berjalan dari ratusan tahun silam.

“Meski kondisi saat ini sudah berubah dibanding dengan masa Sunan Kudus yang lampau, namun tradisi ini masih tetap kami jaga sebagai warisan ajaran toleransi yang patut dipertahankan,” kata Koordinator penyembelihan hewan kurban, YM3SK, saat ditemui di kompleks Masjid Menara Kudus, siang kemarin.

Di tahun lalu, pihak YM3SK menerima 11 kerbau dan 28 kambing dari masyarakat untuk disembelih. Untuk tahun 2011 ini, pihaknya belum bisa menyebutkan berapa kerbau yang akan disembelih. Sebagai tradisi, biasanya pihak YM3SK menyembelih hewan kurban di hari Tasyrik yang terakhir, yakni tanggal 11 Dzulhijah. Setelah disembelih, daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat di sembilan kecamatan, di Kudus. (Suwoko)

- advertisement -

Bogo, Jejak Perlawanan Etnis China terhadap VOC di Kudus

2
Kelenteng Hok Tio Bio di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. 

Oleh:
Edy Supratno, peminat bidang sejarah.

Pada 21 Juli 1947 pasukan Belanda membombardir Kudus melalui udara. Yang menjadi sasaran antara lain pabrik Muria Textil, rumah paseban kabupaten, dan Stasiun Wergu. Di stasiun yang sekarang dimanfaatkan menjadi pasar itu terdapat bekas tembakan senapan mesin. Jauh sebelum peristiwa tersebut, di Kudus pernah terjadi perlawanan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang juga disebut kompeni.

Sejarah perlawanan terhadap VOC itu terkait erat dengan peristiwa pengepungan orang-orang China terhadap Batavia. Hal ini membuat Gubernur Jenderal Andriaan Valckenier panik dan membantai ribuan orang China dalam kota pada 9-10 Oktober 1740. Kondisi ini memaksa orang-orang China yang lolos dari maut mencari selamat dengan melarikan diri ke Jawa. Antara lain ke Semarang, Juwana, Lasem, Rembang, Kudus, dan sekitarnya dengan menggunakan kapal.

Pelarian yang ke Kudus menyusuri sungai melewati Tanggulangin dan berhenti di sebuah tempat yang bernama Bogo, Desa Tanjung. Di tempat ini kemudian mereka bermukim dan mendirikan sebuah tempat ibadah (kelenteng) sekaligus yang berfungsi sebagai ‘benteng’. Lokasinya berada di tepi sungai yang memudahkan akses transportasi perahu menuju ke Semarang melalui Welahan dan menuju ke Juwana dengan menyusuri Sungai Juwana.

Pembantaian di Batavia menyulut pemberontakan oleh orang-orang China di berbagai tempat. Mereka sangat dendam karena banyak orang yang tak berdosa menjadi korban. Que Panjang adalah salah satu pimpinan orang China yang cukup disegani.

Pada tanggal 30 Januari 1741 tiga orang China dari Batavia dan Semarang datang ke Bogo, Tanjung, Kudus. Kedatangan itu disambut 37 orang China yang sudah siap perang. Mereka merencanakan sesuatu untuk melakukan pembalasan.

Pertemuan ini bocor dan diketahui Letnan Semarang Que Yonko dan melaporkannya kepada Bartholomeus Visscher, penguasa VOC wilayah Timur Laut Jawa di Semarang. Laporan itu ditanggapi dingin oleh Visscher karena dia menganggap para pelarian China sudah tidak membahayakan. Apalagi sebelumnya, saat mengetahui di Batavia ada pemberontakan, Letnan Que Yonko dan Kapten Que Anko meyakinkan Visscher bahwa China di Semarang dan sekitarnya tidak seperti di Batavia.

Di luar dugaan Visscher, 1 Februari 1741 pagi, 37 orang yang sudah siap perang dengan senjata pedang, tombak, garpu, dan bedil itu menyerang rumah Kopral Claas Lutten di Pati. Tentara kompeni itu mati mengenaskan dan hartanya dijarah habis-habisan. Aksi ini dibalas oleh orang-orang bawahan Bupati Kudus Arya Jayasentika dengan cara mengejarnya setelah diberitahu oleh kompeni. Tapi orang-orang China lebih cepat melarikan diri melalui sungai. Sampai di Semarang kepala Lutten ditancapkan di sebuah tonggak. Peristiwa ini kemudian memicu kericuhan di Jawa (Willem G.J. Remmelink: 2002).

Kelompok China terus melakukan konsolidasi di Tanjung. Pada bulan April 1741 mereka melakukan perebutan sejumlah pabrik gula. Orang-orang China yang berada di pabrik itu diminta mengikuti aksinya, jika menolak maka akan dihukum. Selanjutnya, pada 23 Mei 1741 orang-orang China merebut Juwana dan membunuh dengan sadis sembilan orang yang tertangkap. Residennya selamat. Pada 27 Juli residen Rembang berhasil dibunuh dan Rembang dapat dikuasai.

Mengetahui aksi yang semakin membahayakan Visscher sampai stres dalam menghadapinya. Dia pun meminta bantuan kepada empat bupati, Kudus, Pati, Jepara, dan Cengkalsewu yang kemudian terkumpul 540 orang untuk menyerbu Tanjung. Tapi serangan itu setengah hati sehingga kelompok China di Tanjung tetap kuat. Visscher kemudian memaksa Mataram untuk mengerahkan kekuatannya membantu kompeni. Belanda merasa punya hak meminta bantuan karena sudah berjasa mendudukkan Prabayasa menjadi penguasa Mataram dengan gelar Sunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrachman Sayyidin Panatagama.

Eksistensi gerombolan China di Tanjung baru bisa dipadamkan tahun berikutnya oleh Kapten Gerrit Mom yang didatangkan dari Sulawesi. Pada 24 Oktober 1742 pemimpin China yang ada di Tanjung, Sutawangsa berhasil dibunuh dan 28 Oktober Kudus dikuasai tanpa pertempuran.

Bogo kini
Bogo dan kelentengnya masuk dalam wilayah Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati. Bersamaan dengan pembangunan jalan Kudus-Grobogan pada 1782 oleh Belanda, kelenteng itu dipindah persis di pinggir jalan atau sekitar 500 meter di utara lokasi semula. Karena itu kelentengnya diberi nama Hok Tio Bio Tanjungkarang.

Bagaimanakah kondisi Bogo kini? Bogo sekarang tak lebih sekadar sawah biasa. Walau pernah dikeruk, sungai yang dulu menjadi jantungnya tranportasi itu mengalami pendangkalan. Enceng gondok menutupi semua permukaannya. Lebarnya pun tak lebih dari lima meter. Bahkan masyarakat setempat sudah menyebutnya sebagai kali mati. (*)

Sumber: Koran Muria

- advertisement -

Info dan Nomor Penting Kepolisian di Kudus

0
Demikian kami tunjukkan beberapa nomor kontak yang bisa dihubungi terkait kepolisian di Kabupaten Kudus. Tidak hanya informasi terkait Polres Kudus, namun kami juga mencantumkan sejumlah alamat dan nomor kontak Polsek di seluruh kecamatan yang ada di Kudus. Berikut ini daftarnya. 
POLRES KUDUS
Alamat: Jalan jenderal Sudirman, Kudus
Telepon: (0291) 430555   

POLSEK:

POLSEK BAE   
Alamat : JALAN KUDUS – DAWE KM 5   
Telp : ( 0291 ) 437568  
  
POLSEK DAWE   
Alamat : JALAN KUDUS – COLO KM 12   
Telp : ( 0291 ) 431201      
POLSEK GEBOG   
Alamat : JALAN KUDUS – RAHTAWU KM 8   
Telp : ( 0291 ) 434774   
 
POLSEK JATI   
Alamat : JALAN KUDUS – PURWODADI KM 5   
Telp : ( 0291 ) 437566      
POLSEK JEKULO   
Alamat : JALAN KUDUS PATI KM 14   
Telp : ( 0291 ) 435929      
POLSEK KALIWUNGU   
Alamat : JALAN KUDUS – JEPARA KM 5   
Telp : ( 0291 ) 435862      
POLSEK KUDUS KOTA   
Alamat : JALAN LINGKAR SINGOCANDI   
Telp : ( 0291 ) 4250450      
POLSEK MEJOBO   
Alamat : JALAN PASAR BRAYUNG NO 1 MEJOBO   
Telp : ( 0291 ) 431350      
POLSEK UNDAAN   
Alamat : JALAN KUDUS – PURWODADI KM 12   

Telp : ( 0291) 434776
- advertisement -

Fans Koes Ploes Kudus Ingin Jadikan Kudus Seperti Jogja

0

Buat Kampung Koes Plus di Kudus

KUDUS-Bagi sebagian masyarakat di Indonesia, Koes Plus adalah grup band musik yang tak ada duanya. Meski tak eksis di panggung lagi, grup band yang terkenal dengan lagu Kolam Susu, menggambarkan tentang kekayaan alam Indonesia ini tetap eksis di hati penggemarnya. Tak terkecuali di Kudus. Fans Koes Plus Kudus (FKPK), salah satu klup pecinta lagu-lagu Koes bersaudara di Kudus, bahkan berobsesi untuk membuat Kampung Koes Plus, seperti yang telah ada di Jogjakarta.

Saat ini, lagu-lagu legendaris Koes Plus masih diputar dua radio di Kudus, yakni Radio Suara Kudus dengan jaringan 88 FM, dan Radio Muria Kudus di jaringan 88,9 FM. Para pecinta band legendaris ini dimanjakan Radio Suara Kudus setiap hari Kamis, pukul 21.00 hingga 24.00, sedangkan Di Radio Muria Kudus, para penggemar dapat menikmati lagu-lagu Koes bersaudara selam tiga jam di hari Senin, mulai pukul 21.00 hingga 24.00.

Salah satu penggemar holic band Koes Plus di Kudus, Roy Kusuma menceritakan, awal berdirinya FKPK berawal dari banyaknya penggemar yang request lagu-lagu Koes Plus di Radio Gelora, Kudus. “Di tahun 2002 saya menjadi penyiar dalam sebuah program yang memutar lagu-lagu Koes Plus. Setiap kali siaran di program itu, banyak sekali masyarakat yang request lagu, bahkan yang menelpon untuk meminta lagu harus antri,” papar Roy, yang juga menjabat sebagai Humas FKPK itu.

“Setelah diketahui banyak fans Koes Plus di Kudus, tahun 2004 kemudian digagas untuk membuat sebuah klub yang mewadahi fans,” kata Roy. Ia menambahkan, ide awal pembentukan klub dipelopori Ida Bagus Priyono. Dia adalah salah satu fans Koes Plus dari luar Kudus, yang menetap dan bekerja di Kudus. Di tahun itu, dia mendatangkan Koes bersaudara ke Kudus untuk manggung.

Lebih lanjut Roy menjelaskan, setelah acara konser selesai, para fans yang ikut menonton kemudian berkumpul. Gagasan pembentukan klub akhirnya disetujui semua yang hadir. Dan bersepakat untuk menamakan klub dengan nama FKPK.

Ketua FKPK saat ini, Sugeng Prasetyo mengatakan, anggota resmi FKPK hingga saat ini ada sekitar 300 orang. Sedangkan penggemar lagu-lagu Koes Plus di Kudus ia perkirakan mencapai 1000 orang lebih. Setiap dua bulan sekali, anggota FKPK melakukan pertemuan rutin di Desa Getas Pejaten. Di pertemuan itu, anggota yang datang mendiskusikan tentang program, eksistensi klub, bahkan bertukar koleksi lagu-lagu Koes Plus.

Obsesi Kampung Koes Plus
Banyaknya fans lagu-lagu band yang sempat dicekal di era Pemerintahan Orde Baru itu, membuat pengurus FKPK untuk menggagas Kampung Koes Plus di Kudus. Menurut Sugeng, rencananya gagasan itu akan ditempatkan di Desa Getas Pejaten, dimana ia memimpin masyarakat sebagai Kepala Desa. “Di Getas Pejaten, banyak sekali terdapat fans. Bahkan di balai desa sering diadakan latihan beberapa klub musik yang khusus membawakan lagu-lagu Koes Plus. Tidak mustahil Kampung Koes Plus bisa terwujud seperti di Jogja,” ujar Sugeng.

Berdasarkan data FKPK, di Kudus sendiri terdapat tujuh grup musik yang khusus membawakan lagu-lagu Koes Plus, yakni, W Plus, G’Nius, M Plus, Ploso Plus, Ecco Roso, Koed Plus, dan Rip Plus. Tak hanya bernyanyi untuk fans, mereka juga sering ditanggap masyarakat pada sebuah resepsi pernikahan.

Diharapkan, Kampung Koes Plus yang menjadi cita-cita FKPK akan menjadi tujuan utama masyarakat yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu Koes Plus. Nantinya, masyarakat bisa belajar tentang sejarah, dan mencari lagu-lagu Koes Plus. (suwoko)

- advertisement -

Kaskuser RKP Kudus, Tak Sekedar Ajang Jual Beli

0

KUDUS-Mendengar kata Kaskus, pasti yang terlintas di benak kita adalah online shop atau pasar online. Website dengan jumlah member terbesar di Indonesia ini, lebih dikenal masyarakat sebagai ajang jualan bagi membernya, meski lebih dari empat juta member, lebih banyak memposting hal-hal yang bersifat informatif dan sharing pengetahuan.

Layaknya sebuah negara, Kaskus memiliki beberapa ruang regional yang memiliki ruang khusus untuk berbagi dan bersilaturahmi via online. Di ruang tersebut para member berbagi hal tentang daerahnya masing-masing, di antaranya tentang sejarah kota setempat, tempat wisata, tempat nongkrong anggota kaskus regional, dan tempat membagi informasi dan dokumentasi  kegiatan copy darat para member. Salah satu regional Kaskus yang sangat aktif melakukan copy darat adalah Regional Karesidenan Pati (RKP).

Anggota RKP sendiri masih terbagi menjadi beberapa daerah di kabupaten. Regional Kudus, Regional Pati, Regional Rembang, Regional Jepara, dan Regional Purwodadi. Di ruang trhead RKP yang dapat diakses melalui keyword kaskuser regional/karesidenan pati tersebut, para anggota Kaskus membagi sejumlah dokumentasi kegiatan di msing-masing kabupaten. Dokumentasi berupa foto dan keterangan kegiatan.

Salah satu aktivis Kaskus RKP Kabupaten Kudus, Arif Setiawan (42) mengaku tidak bisa lepas dari Kaskus. Menurutnya, setiap hari dia mengakses Kaskus sekitar 3 jam. Bahkankan, di sela-sela waktu luang pekerjaannya, dia tidak mengalihkan konsentrasi ke hal lain, melainkan Kaskus tujuan utamanya. “Di Kaskus, saya lebih suka membuka thread yang bersifat informatif. Terkadang juga membuka thread jual beli, siapa tahu ada barang bagus dan cocok harganya,” ujar Arif, saat ditemui acara copy darat, di angkringan Cekli, Kudus, Sabtu (1/3) kemarin.

Menurut Arif, dari data yang masuk dan tercatat di ruang RKP, terdapat 120 anggota Kaskus asal Kudus. Diperkirakan, jumlah tersebut lebih banyak lagi, karena tidak semua Kaskuser terdata di ruang tersebut. Kaskuser Kudus yang aktif mengikuti copy darat ada sekitar 20 anggota. Pertemuan rutin dilakukan setiap satu minggu sekali, yakni di hari Sabtu, di angkringan Cekli, sebelah timur GOR Kudus.

“Dalam pertemuan itu, kami berbagi segala macam hal. Dari isu yang berkembang di Kaskus, hingga hal lain yang tidak berhubungan dengan Kaskus,” ujar pria yang beralamat di Jalan Tit Sudarmo, Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu. Arif, yang gemar berorganisasi tersebut menambahkan, Kaskus memberikan banyak kawan dan relasi. Kaskus juga memberinya banyak pengetahuan tentang segala hal.

Aktivitas Sosial
Salah satu aktivis Kaskus lain asal Kudus, Erik (22) mengatakan, selain memanfaatkan Kaskus untuk menambah penghasilannya dari forum jual beli, komunitas Kaskus juga mengajaknya berkegiatan positif. Salah satu kegiatan yang pernah dilaksanakan Kaskuser RKP Kudus adalah melaksanakan bakti sosial di panti asuhan Darul Hadonah Kudus.

“Kegiatan itu telah dilaksanakan bulan Ramadhan lalu. Kami beserta kawan Kaskuse Kudus lain, menyisihkan sebagian dana untuk dibelikan peralatan solat bagi anak-anak panti. Selain itu juga kami berbuka pusas bersama dengan mereka,” kata Erik, yang masih menempuh pendidikan tinggi tersebut.

Selain itu, menurut Erik, Kaskuser RKP Kudus juga pernah membagikan takjil kepada tukang becak dan anak jalanan di sekitar Masjid Menara Kudus. Kegiatan itu dilaksanakan pada tahun 2010 yang lalu. “Jika ada kesempatan untuk berbagi, kami akan melaksanakan lebih banyak kegiatan sosial. Sayangnya, masing-masing dari kami memiliki kesibukan. Namun intensitas pertemuan rutin akan tetap diupayakan, agar rencana kegiatan positif tetap dapat diwacanaka,” katanya.

Selain melaksanakan kegiatan bersama dengan Kaskuser RKP Kudus, mereka juga sering mengadakan copy darat bersama dengan Kaskuser RKP dari kabupaten lain. Salah satu kegiatan yang dilakukan Kaskuser RKP dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Purwodadi, adalah kegiatan membersihkan lingkungan pantai Bandengan Jepara, yang dilaksanakan pada 10 Oktober 2010. (Suwoko)

- advertisement -

Matokan, Chef Tradisional Kudus

1
Sahrin seorang matokan atau juru masak asal Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

KUDUS-Maraknya usaha jasa penyedia katering makanan dan minuman pada acara penikahan dan hajatan besar lain, ternyata tidak menggeser peran Matokan. Penyedia jasa tukang masak tradisional ini, hingga kini masih banyak dibutuhkan, khususnya bagi masyarakat di pedesaan.

Matokan, atau koki atau chef tradisional telah ada jauh sebelum penyedia jasa katering marak. Peran mereka sangat penting bagi masyarakat yang ingin menggelar hajatan pernikahan, sunatan atau mantu haji, untuk menyediakan hidangan kepada para tamu. Matokan tidak hanya dibutuhkan untuk memasak nasi dan lauk bagi tamu yang datang, namun juga membuat minuman teh, yang lazim disuguhkan bagi tamu.

Sahrin (52), seorang matokan asal Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang telah menggeluti profesinya sejak puluhan tahun itu, mengaku sangat cinta terhadap pekerjaan yang telah menghidupi keluarga dan anak-anaknya, meski harus bergelut dengan suhu panas dapur yang cukup menyengat. Selain profesi utama sebagai petani, yang umum digeluti oleh Masyarakat Undaan.

Sahrin adalah matokan spesialis pemasak nasi. Dalam bekerja sebagai motokan, ia dibantu oleh istrinya, Istianah (50). Keahlian memasak nasi dalam jumlah besar, dipelajarinya dari orangtuanya dahulu. Dalam sehari, dirinya mampu memasak beras beratus kilogram, saat tenaganya diminta untuk menyediakan nasi pada acara hajatan besar.

“Tidak ada cara khusus untuk memasak nasi dalam jumlah besar. Cara memasak nasi yang saya lakukan, sama dengan cara yang dilakukan oleh orang lain. Namun, memang butuh kesabaran, agar nasinya bisa pulen dan enak dimakan,” kata Sahrin, saat ditemui waktu memasak nasi di hajatan mantu haji, di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (22/10) kemarin.

Dalam memasak nasi, Sahrin biasanya menggunakan dua panci besar yang mampu memuat 25 kilogram dan 30 kilogram beras. Untuk memasak 30 kilogram beras hingga menjadi nasi yang siap disajikan, dibutuhkan waktu kurang lebih dua hingga dua setengah jam, sedangkan untuk 25 kilogram beras, dibutuhkan waktu lebih kurang dua jam.

“Bagi masyarakat yang ingin menggunakan jasa saya, mereka tidak perlu menyediakan peralatan memasak. Cukup sediakan bahan bakar kayu dan dapur tradisional,” ujar Sahrin. Ia menambahkan, Harga yang dikenakan ditentukan berdasarkan waktu yang dipergunakan untuk memasak. Dalam sehari semalam, ia hanya mematok harga Rp 150 ribu saja. Harga tersebut berlaku kelipatan, setiap waktu yang diminta oleh orang yang membutuhkan jasanya.

Sahrin mengaku tidak mempunyai kendala yang berarti saat memasak nasi dalam jumlah besar, pasalnya, kegiatan memasak nasi dalam jumlah besar telah ia lakukan berpuluh tahun lamanya. Ia mengaku kewalahan untuk melayani permintaan masyarakat pada saat rmai orang menggelar hajatan nikah, sunatan dan di bulan Dzulhijjah atau saat musim haji tiba.

Jasa matokan tidak hanya pemasak nasi, namun juga pemasak lauk Salah satu matokan pemasak lauk adalah Masdi (50). Pria asal Desa Berugenjang tersebut telah melakoni profesi tersebut belasan tahun. Dia biasa memasak daging kerbau atau kambing menjadi masakan pindang. “Untuk bumbu saya sendiri yang meraciknya. Bumbu tersebut juga saya bawa dari rumah. Untuk banyaknya bumbu, saya sesuaikan dengan daging kerbau atau kambing yang disediakan,” ujar Masdi, saat memasak bersama Sahrin, kemarin.

Dalam memasak, Masdi juga dibantu oleh istrinya, Ngatonah (46). Masdi memasak daging dalam kuali besar, dan Ngatonah membantunya memotong-motong daging untuk disajikan. Dalam sehari-semalam, Masdi diupah Rp 150 ribu. Profesinya sebagai koki tradisional itu, cukup membantunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, selain juga berprofesi sebagai merbot Mmasjid dan buruh tani. (suwoko)

- advertisement -

Tiga Sumur Kuno di Komplek Masjid Menara Kudus

0
Rubiman sedang menunjukkan sumur kuno yang ditemukan di kompleks Masjid Menara Kudus.

KUDUS-Beberapa pekerja dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang merenovasi Pawestren Masjid Menara, Kudus, menemukan tiga sumur kuno di area pawestren yang telah terbenam pondasi. Dugaan sementara, tiga sumur tersebut adalah pembuangan air wudlu masjid.

Koordinator renovasi pawestren atau tempat sholat khusus perempuan Masjid Al-Aqsha, di kompleks Menara Kudus, Rabiman mengatakan, tiga sumur itu ditemukan Kamis (3/11) kemarin. Awalnya, beberapa pekerja sedang menggali pondasi masjid, namun, secara tidak sengaja menemukan sumur itu.

“Salah seorang pekerja awalnya membongkar pondasi masjid untuk dilakukan perbaruan. Secara tidak sengaja, ditemukan susunan batu bata yang tersusun melingkar, menyerupai sumur,” kata Rubiman, saat ditemui di kompleks Masjid Menara Kudus, siang kemarin. Ia menambahkan, sumur tersebut mempunyai diameter sepanjang 120 centimeter, dengan kedalaman sekitar 2 meter ke dalam tanah. Susunan batu bata yang tersusun, terdiri dari 28 pasang batu bata.

Rubiman, yang juga menjadi ahli penyusun batu bata pada bangunan-bangunan purbakala itu, menduga, sumur yang ditemukan dahulu difungsikan sebagai tempat buangan air wudlu dan air dari kamar mandi masjid. Karena, saat ditemukan, ada sebuah benda yang menyerupai peralon terbuat dari tanah liat, yang menghubungkan sumur satu dengan lainnya.

Menurut Rubiman, sumur tersebut telah berumur ratusan tahun. Karena, dilihat dari batu bata yang tersusun, memiliki kemiripan dengan batu bata yang ada di bangunan lain, seperti pagar masjid dan juga menara Kudus. Dengan penemuan itu, pihaknya belum tahu akan melakukan langkah selanjutnya. Apakah akan dipertahankan, atau justru akan ditimpa banguanan pondasi.

Sementara itu, salah satu staf Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Deny Nur Hakim mengatakan, kemungkinan sumur yang telah ditemukan memang untuk tempat buangan air. Namun, bisa juga, sumur tersebut sebagai sumur resapan yang difungsikan sebagai filter pada sumur utama. Karena, jarak antara tiga sumur tersebut dan sumur utama yang hingga sekarang masih difungsikan berjarak relatif berdekatan, yakni sekitar 3 meter.

“Temuan ini, menunjukkan, bahwa arsitek pembangun Masjid Menara Kudus dan semua bagiannya, dirancang dengan sangat baik. Tidak hanya berpikir tentang arsitektur dan gaya banguanan, namun juga berpikir hingga hal kecil, seperti saluran drainase pada masjid,” katanya. (Suwoko)

- advertisement -

Mbah Kasmani, Mantan Pejuang yang Tak Dihargai

0
Mbah Kasmani

Mantan Anggota Haiho Ikut Bertempur di Surabaya

KUDUS-Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya merupakan peristiwa bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Salah satu mantan pejuang yang ikut mengangkat senjata dalam pertempuran berdarah itu adalah Kasmani. Namun, pria yang saat ini telah berusia 86 tahun itu, merasa tidak dihargai.

Kasmani yang pernah masuk dalam keanggotaan Heiho (tentara bentukan kolonial Jepang) pada tahun 1944 itu, mengaku selama ini tidak ada penghargaan dari pemerintah. Meski begitu, dirinya tidak menuntut apa-apa. Dirinya hanya meminta, pemerintah sekarang menghargai jasa-jasa para pahlawan, dengan membangun bangsa ini dengan sebaik-baiknya.

Saat ditemui di rumah sederhananya, di Desa Mlati Kidul RT 5 RW 2, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Kasmani menceritakan, pada pertempuran di Surabaya itu, dirinya menjadi pejuang yang tergabung dalam tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang sebelumnya bernama Heiho (tentara bentukan Jepang). Pada saat itu, dirinya berjuang mengangkat senjata beserta dengan pasukan lain dari berbagai laskar yang ada di Surabaya. Di antranya Laskar Persindo, Laskar Hisbullah, dan relawan lainnya.

“Saat itu, semua rakyat Surabaya mendukung penuh pertempuran itu. Tidak hanya para laskar yang bersenjata, namun juga para relawan yang mengangkat bambu runcing,” kata Kasmani, yang saat ini hanya tinggal bersama sang istri yang masih giat berbisnis katering makanan di rumah sederhananya, saat menceritakan peristiwa tersebut. Ia menambahkan, salah satu tokoh laskar yang turut bertempur bersamanya, adalah Bung Tomo. Namun, Dirinya mengaku terpisah dengan pahlawan yang terkenal dengan pidatonya yang mengobarkan semangat perjuangan itu. Dirinya hanya sempat bertemu sekali.

Dia menambahkan, pada saat itu, heroisme pejuang untuk mengusir pasukan Belanda dan Sekutu sangat besar. Para pejuang tidak takut meski dengan persenjataan seadanya. Taktik gerilya di perkotaan yang dipilih sebagai strategi bertempur, sangat efektif dilakuakan dan berhasil meluluh-lantakkan para imperialis. Namun, korban dari rakyat Indonesia pada saat itu juga sangat banya. Dia masih terngiang, banyaknya jenazah para pejuang yang bergelatakan di tempat pertempuran.

Lebih lanjut, pria yang sempat menjadi Pasukan Istimewa pengawal Presiden Sukarno selama tiga bulan di Jogjakarta itu mengatakan, saat itu, semua pejuang bertempur dengan keikhlasan. Mereka berjuang hanya karena ingin Indonesia merdeka seutuhnya. Meski dengan persenjataan seadanya, pasukan akhirnya dapat mengusir tentara Belanda yang didukung Inggris dan Amerika Serikat dari bumi Surabaya.

“Jangankan bayaran, untuk makan saja, kami harus mencari sendiri. Karena pada saat itu, pemerintah belum begitu kuat. Namun, dengan keikhlasan, keberhasilan dapat diraih. Bahkan, kami berhasil membunuh Jendral Malabi, pemimpin pasukan Belanda,” kata pria yang gemar menonton berita di televisi itu.

Dituduh Antek PKI
Meski telah berhasil mengusir pasukan Belanda dan Sekutu, penghargaan terhadap dirinya tidak ia dapat dari pemerintah. Bahkan, dirinya mengaku dipenjara oleh Pemerintah Suharto, karena dituduh sebagai komunis. “Tidak hanya penghargaan yang tidak saya dapat, justru pemerintahan Orde Baru sempat memenjara saya di Nusa Kambangan selama 5 tahun. Hal itu karena saya dituduh sebagai antek Komunis,” kata Kasmani.

Menurut Kasmani, dirinya hanya menjadi korban plotik Orde Baru. Dirinya dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), hanya karena dirinya pernah menjadi ketua serikat buruh di PT Kereta Api. Dirinya dijebloskan ke dalam penjara pada tahun 1965, tanpa pengadilan yang jelas.

Upaya untuk merehabilitasi namanya dari tuduhan pemerintahan Suharto itu, hingga saat ini masih dilakukan. Bahkan, dirinya pernah menulis surat kepada tiga Presiden, pasca tumbangnya Rezim Orde Baru. “Saya pernah mengadukan nasib ke Presiden Megawati, Gusdur dan SBY. Namun, hingga sekarang belum ada tanggapan,” keluhnya. Dia menambahkan, surat yang dikirimkan itu, telah dilakukannya sebanyak sembilan kali. Respon positif sebenarnya ia dapat dari mendiang Gusdur saat masih menjadi Presiden, namun sebelum namanya direhabilitasi, presiden ke empat itu keburu dilengserkan.

Dirinya rajin berkirim surat kepada para presiden, tidak hanya menuntut rehabilitasi, namun juga melontarkan kritik terhadap pemerintah yang sering tidak perpihak terhadap rakyat. Dirinya tidak berharap materi dan apapun dari pemerintah, dia hanya berharap penguasa sekarang tidak melupakan sejarah bangsa ini yang meraih kemerdekaat dengan nyawa dan darah.

Sementara itu, salah seorang sejarawan di Kudus, Edy Supratno menyatakan, pemerintah harus mengakui eksistensi para pahlawan. Keberadaan mereka adalah bagian dari mata rantai bangsa ini yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah. “Mengakui dan menghargainya, sama dengan menjunjung tinggi bangsa ini,” kata Edy, lulusan Magister Sejarah Universitas Diponegoro, Semarang, saat ditemui di kediamannya, Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, kemarin. (suwoko)

- advertisement -

PMII Kudus Adukan Nasib Bangsa Kepada Pahlawan

0
Aksi damai dan doa bersama dilakukan oleh Mahasiswa yang tergabung dalam PMII Cabang Kudus dan BEM STAIN Kudus kemarin. Selain melakukan doa dan tabur bunga mereka juga mengadukan nasib bangsa kepada para pahlawan.

Kudus-Puluhan mahasiswa mengadukan nasib bangsa ke Taman Makam Pahlawan Kaliputu, Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Kamis (10/11) kemarin. Dengan kondisi bangsa yang carut marut, mahasiswa menganggap tidak ada lagi tempat untuk mengadu, selain kepada para pahlawan yang telah wafat.

Puluhan mahasiswa itu adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Isalam Indonesia (PMII) Cabang Kudus dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Mereka datang ke taman makam pahlawan sekitar pukul 10.00, dengan membawa karangan bunga dan sebuah mega phone untuk melakukan orasi.

Menurut Ketua Umum PMII Cabang Kudus, Amir Faisol, keprihatinan para mahasiswa akan nasib bangsa ini dilakukan dengan hal yang berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya. Selain dilakukan dalam momen Hari Pahlawan, juga karena tidak tahu lagi harus berbuat apa selain mengadukan nasib bangsa terhadap para pahlawan.

“Kami sadar bahwa pahlawan dalam mendirikan bangsa ini dengan keikhlasan meski harus bersimbah darah. Hal ini semestinya menjadi contoh para penguasa dan wakil rakyat saat ini,” ujar Faisol, ditemui usai aksi, kemarin.

Menurut Faisol, carut-marutnya bangsa ini tampak pada penegakan hukum di Indonesia yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Penindakan hukum hanya dilakukan kepada rakyat kecil yang butuh penghidupan, sedangkan kepada mafioso di atas, hukum seakan tidak berwibawa. Selain itu, dirinya prihatin dengan maraknya korupsi yang dilakukan tidak hanya di Pemerintah Pusat, namun juga Pemerintah Daerah.

Faisol menambahkan, selain melakukan tabur bunga ke makam pahlawan, mahasiswa juga melakukan orasi di tengah makam. Orasi yang disampaikan beberapa mahasiswa tidak seperti biasanya. Orasi disampaikan lebih kalem dan cenderung seperti perenungan. Selain itu, mahasiswa juga melakukan do’a bersama untuk mendoakan para pahlawan.

Aksi yang dilakukan tanpa penjagaan aparat keamanan itu, berlangsung dengan damai dan tertib. Tidak tampak sepanduk dan poster sebagaimana aksi-aksi yang biasa mereka lakukan di jalanan. Aksi tersebut, sempat menyita perhatian beberapa pengendara yang melintas di makam tersebut. (Suwoko)

- advertisement -

Teater Tiga Koma Aktif Tanpa Mengesampingkan Akademis

0

KUDUS-Bagi mahasiswa, menjadi aktif dan berprestasi dalam hal akademis terkdang mejadi sebuah pilihan yang dilematis. Di satu sisi, mahasiswa dituntut untuk berprestasi dalam akademis perkuliahan, di sisi lain mahasiswa juga dituntut untuk aktif dalam berkegiatan di kampus dan di luar kampus. Bagi Teater Tiga Koma, dua-duanya menjadi hal yang sama penting.

Teater di bawah naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK) ini, menegaskan keduanya dalam nama teater mereka. Menurut Ketua di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Fakultas terfavorit ini, Yulian Atmaja (21) mengungkapkan, nama Tiga Koma dipilih agar anggota teater tidak hanya sibuk berkegiatan saja, namun juga berprestasi dalam akademis.

“Tiga Koma adalah Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang diidam-idamkan semua mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan akademis dalam perkuliahan. Kami yang suka berteater dengan segudang kegiatan latihan dan pentas, tidak ingin memiliki IPK dibawah itu,” tutur Yulian, saat ditemui di UMK, beberapa waktu lalu.

Yulian yang juga sering dipanggil Penceng, menceritakan, Teater Tiga Koma berdiri sejak tahun 2007 yang lalu. Sekitar Empat tahun bergelut dengan naskah dan pementasan, hingga saat ini mayoritas anggota ber-IPK 3 ke atas. Meski sebagian kecil di antaranya ada yang di bawah 3. “Untuk bergabung di UKM ini, tidak harus mempunyai IPK 3 ke atas, nama Tiga Koma hanya menjadi komitmen kami untuk tidak mengesampingkan prestasi akademis,” tuturnya.

Sejauh ini, kelompok teater yang punya divisi puisi dan penulisan sastra, telah mementaskan empat naskah dengan mengangkat tema pendidikan. Pentas pertama mengangkat naskah berjudul Anak-Anak Buku-Buku dan Satu Televisi, karya Agus Kriwil, mahasiswa FKIP, yang juga menjadi pelatih di Teater Tiga Koma. Pentas kedua mengangkat naskah berjudul Tembok, karya Hasyim As’ari, mantan Ketua Teater Tiga Koma.

“Di pentas ke tiga, kami membawakan naskah berjudul Lena Tak Pulang, karya Muram Batubara. Sedangkan pentas terakhir kali, membawakan naskah karya salah satu anggota teater, Atik Wulandari, berjudul Boneka Tali” papar mahasiswa semester 6, pada Program Studi Bahasa Inggris itu. Ia menambahkan, selain pementasan yang dilakukan tersebut, pentas regular juga dilakukan setahun sekali, di depan mahasiswa baru pada saat Ospek.

Konsisten dengan Isu Pendidikan
Teater Tiga Koma yang saat ini mempunyai anggota 35 orang itu, konsisten untuk mengangkat tema-tema yang mengangkat isu pendidikan. Hal ini dilakukan, karena disesuaikan dengan fakultas dimana mereka bernaung. Selain itu, tema pendidikan juga masih dianggap mempunyai isu yang seksi untuk terus diangkat.

“Dunia pendidikan di Indonesia saat ini masih terjadi banyak permasalahan. Seperti isu pendidikan mahal, fasilitas dan infrastruktur sekolah yang minim, dan kalah heboh isu perguruan tinggi, Badan Hukum Perguruan Tinggi (BHP),” tutur salah satu penguruh Teater Tiga Koma, Raden Beny.

Untuk membekali anggota baru dan seluruh anggota, Teater Tiga Koma meyelenggarakan workshop pada devisi pementasan dan penulisan karya sastra. Dalam workshop yang diselenggarakan, pengurus menggandeng tokoh-tokoh teater yang ada di Kudus, dan di luar Kudus. (Suwoko)

- advertisement -

Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus Berlangsung Sejak Ratusan Tahun yang Lampau

0

KUDUS-Kain penutup makam Sunan Kudus, atau sering disebut luwur, Minggu (27/11) pagi kemarin, dibuka untuk diganti dengan yang baru. Tradisi itu, sering disebut masyarakat sebagai tradisi Buka Luwur, yang dilakukan setiap satu tahun sekali, pada tanggal 1 Muharam, atau satu Sura. Tradisi ini, bukan saja gawe atau hajat pengurus yayasan saja, namun masyarakat Kudus secara keseluruhan.

Tradisi yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lampau itu, menurut salah satu staf di Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Deny Nur Hakim, awalnya tidak semeriah seperti sekarang ini. Dulu, Buka Luwur hanya dirayakan masyarakat Desa Kauman, Kecamatan Kota, yang ada di sekitar Masjid Menara saja. Namun, setelah sekitar seratus tahun yang lampau, tradisi ini menjadi hajat oleh seluruh masyarakat Kudus.

“Hal ini tidak terlepas dari rasa memiliki masyarakat Kudus, akan ajaran dan peninggalan Sunan Kudus. Masyarakat ikut bersuka cita dalam tradisi yang menjadi salah satu rangkaian acara haul mbah Sunan ini,” kata Deny, saat ditemui di sela-sela persiapan Haul, di Kompleks Masjid Menara Kudus, siang kemarin.

Deny menambahkan, setiap Buka Luwur, masyarakat datang dengan membawa kain dan beras, serta hewan sembelihan. Kain tersebut akan digunakan untuk menggantikan luwur yang telah dilepas. Sedangkan beras dan hewan akan digunakan untuk membuat nasi jangkrik, yang akan dibagikan kepada seluruh masyarakat yang datang, saat haul Sunan Kudus pada 10 Muharam yang akan datang.

“Tidak hanya beras dan kain saja, ada banyak masyarakat yang datang dengan menyumbang sejumlah uang. Uang tersebut akan dipergunakan untuk penyelenggaraan hajatan besar, yang akan diikuti oleh seluruh masyarakat Kudus yang datang. Para penyumbang tidak hanya dari masyarakat yang tinggal di Kudus saja, namun juga masyarakat Kudus yang kini tinggal di luar Kudus,” ungkap Deny.

Menurut Deny, total luwur yang telah dilepas kemarin sejumlah 1.678,8 meter. Luwur yang terdapat di kompleks pesarean Sunan Kudus tersebut, ada bermacam-macam bentuk. Ada yang berbentuk kelambu penutup pesarean, wiru, kompol dan kuthuk. Luwur yang telah dilepas, nantinya akan dibagikan kepada mereka yang selama ini membantu pemeliharaan masjid dan makam Sunan Kudus. Kain tersebut, menurut banyak orang dapat mendatangkan keberkahan.

“Untuk total ukuran luwur tahun ini, kami belum bisa menyebutkan. Karena kami menunggu kain yang terkumpul dari sumbangan masyarakat. Jika sudah terkumpun, nantinya akan kami pasang semuanya,” ujar Deny.

Pembagian Nasi Jangkrik

Pada rangkaian tradisi ini, akan dipasang dilakukan pemasangan luwur baru di kompleks pesarean Sunan Kudus, yang tepat pada hari diselenggarakannya haul, 10 Muharam, tau tepat pada 6 Desember mendatang. Di hari tersebut juga akan dibagikan nasi jangkrik, sebanyak 27 ribu bungkus, kepada masyarakat yang datang ke makam.

Menurut Deny, nasi jangkrik adalah nasi yang di dalamnya terdapat lauk daging kerbau yang dibungkus dengan daun jati. Nasi tersebut akan dibagikan kepada ribuan masyarakat yang datang,” katanya.

Untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan pada saat pembagian nasi jangkrik, pihaknya telah membuat mekanisme atau pengaturan. Selain itu, pihaknya juga mengerahkan petugas sejumlah 700 an orang, dalam pembagian nasi jangkrik.

“Tempat pembagian nasi jangkrik akan di pusatkan di sejumlah titik di komplek masjid. Di sebelah barat, kami akan bagikan kepada perempuan, dan sebelah timur untuk laki-laki,” ujar Deny.

Menurut Deny, bagi banyak masyarakat di Kudus, nasi tersebut memberikan berkah tersendiri bagi keghidupan mereka. Seperti tradisi Suranan di sejumlah daerah, tradisi Buka Luwur menjadi bagian tak terpisahkan bagi masyarakat di Kudus. (Suwoko)

- advertisement -