Wacana Fakultas Pendidikan Dihapus, Rektor UMK Minta Pemerintah Kaji Ulang

BETANEWS.ID, KUDUS – Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Prof Darsono menilai wacana penghapusan fakultas pendidikan maupun program studi kependidikan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, kebijakan pendidikan harus disusun dengan perencanaan matang serta memahami ekosistem pendidikan nasional secara utuh.

“Dalam tata kelola negara besar itu harus ada kedewasaan, kematangan, dan perencanaan yang matang baru kemudian dideklarasikan,” ujarnya.

Darsono mengatakan, apabila alasan penutupan program pendidikan dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan industri, maka pemerintah perlu lebih dahulu melihat struktur dan karakter pendidikan tinggi di Indonesia.

-Advertisement-

Ia menjelaskan, secara umum pendidikan tinggi terbagi dalam dua klaster besar, yakni akademik dan vokasi. Menurutnya, kebutuhan industri terhadap lulusan siap kerja sebenarnya lebih dekat dengan pendidikan vokasi.

“Kalau trigger-nya kebutuhan industri dan lulusan siap pakai, sebenarnya tipologi itu ada di vokasi,” katanya.

Baca juga : Konsep Satu Kampus Satu Dapur MBG, Rektor UMK Sebut Perguruan Tinggi Tak Harus Dirikan Dapur

Namun demikian, ia menilai penguatan pendidikan vokasi di Indonesia hingga kini belum dilakukan secara serius. Akibatnya, masyarakat masih lebih memilih jalur universitas akademik dibandingkan diploma atau vokasi.

“Sampai sekarang preferensi masyarakat masih menganggap universitas lebih utama. Vokasi masih dipandang kelas dua,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Darsono menilai langkah yang tepat bukan menghapus fakultas pendidikan atau program akademik, melainkan memperkuat sistem vokasi agar benar-benar terhubung dengan kebutuhan dunia industri.

“Narasinya harusnya jangan ditutup, tapi diperkuat sekuat-kuatnya dan seserius-seriusnya pendidikan vokasi,” tegasnya.

Ia menyebut, apabila pendidikan vokasi diperkuat dengan baik, maka secara alami masyarakat akan beralih memilih jalur tersebut karena menawarkan peluang kerja lebih cepat dan lebih relevan dengan kebutuhan industri.

“Nanti kalau vokasi sudah kuat, lulusannya cepat bekerja, kuliahnya cepat, hasilnya jelas, masyarakat otomatis akan bergeser sendiri,” jelasnya.

Darsono juga mendorong adanya keterlibatan langsung dunia industri dalam pendidikan vokasi melalui konsep kemitraan yang terintegrasi.

“Kalau perlu industri langsung terjun ke vokasi, sehingga benar-benar ada direct link antara kebutuhan industri dan pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan pendidikan di Indonesia saat ini masih cukup mendasar dan krusial, mulai dari kebijakan, tata kelola, hingga dukungan fiskal terhadap sektor pendidikan.

“Kita harus memahami dulu ekosistem pendidikan kita sebelum mengambil keputusan besar,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER