Beranda blog Halaman 1879

Siswa di Pati Ini Keheranan Lihat Mesin Ketik

0

BETANEWS.ID, PATI – Deretan mesin ketik berbagai merek dan tahun pembuatan berada di atas meja di depan sebuah ruang Perpustakaan Wiyata Pustaka SMP Negeri 4 Pati. Pun demikian, di dalam ruangan perpustakaan terpajang belasan foto-foto mesin ketik dengan berbagai warna dan tipe. Tampak pula, beberapa anak berseragam putih biru sedang asyik menekan tuts yang berisi tanda baca yang ada di alat tersebut. Mereka terlihat keheranan dan penasaran ketika mencoba menggunakan alat untuk surat menyurat dan menulis yang pernah populer pada zamannya tersebut.

Beberapa siswa SMPN 4 Pati tampak mendengarkan penjelasan dari salah satu guru tentang mesin ketik. Foto: Kholistiono

Di antara kerumunan siswa tersebut, tampak salah seorang guru mengarahkan dan menjelaskan serta memberi gambaran bagaimana cara kerja alat tersebut.Bahkan, dia juga menerangkan bagaimana sebelum munculnya komputer, semua pekerjaan menulis dan surat menyurat menggunakan mesin ketik.

“Dulu itu, kita kalau menulis surat, skripsi atau membuat tugas sekolah dan kuliah pakai mesin ketik ini. Nah kalau salah pencet tuts, tidak bisa diulang lagi, karena sudah langsung tercetak. Jadi ya harus dihapus,” ujar Sofia Bardina, Guru SMP Negeri 4 Pati.

Peserta didik SMPN 4 Pati sedang membaca buku di ruang perpustakaan sekolah. Hal ini dilakukan ketika kegiatan Pameran Perpustakaan Wiyata Pustaka. Foto : Kholistiono

Beberapa siswa yang menjajal mesin ketik tersebut juga mengaku baru kali ini bisa menjajal alat tersebut. “Nggak bisa caranya. Karena biasanya sudah pakai komputer. Tapi rasanya seru-seru, asyik,” sahut siswa.

Baca juga : Pelajar MAN 1 Kudus Buat Plastik Bisa Dimakan, Raih Medali Emas di Malaysia

Keberadaan beberapa mesin ketik yang dipajang di luar ruangan tersebut, merupakan bagian dari kegiatan Pameran Perpustakaan Wiyata Pustaka SMPN 4 Pati. Kegiatan ini sendiri digelar selama sepekan, yang dimulai pada Senin (9/3/2020).

Kepala SMPN 4 Pati Mulyono mengatakan, jika pameran mesin ketik ini merupakan bagian dari upaya untuk mengenalkan kembali kepada peserta didik. Hal ini, agar mereka bisa melihat perkembangan teknologi, khususnya zaman dulu.

“Anak-anak sekarang ini kan asing dengan alat mesin ketik ini, karena ketika mereka lahir , eranya sudah gadget. Jadi ya tentu tidak tahu bagaimana menggunakan alat ini. Nah, kesempatan ini saya harapkan bisa memperkenalkan kepada mereka, dan setidaknya bisa mencoba menggunakannya,” ujar Mulyono.

Lanjutnya, selain mengenalkan mesin ketik kepada siswa, dalam Pameran Wiyata Pustaka tersebut juga diadakan beragam kegiatan. Di antaranya lomba sinopsis, lomba resensi, dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah penting menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan bisa memberikan motivasi agar anak-anak mau meningkatkan literasi. Sebab, katanya, membaca menjadi jantungnya pendidikan. Sehingga, jika peserta didik malas untuk membaca, pengetahuannya juga stagnan.

“Tidak hanya siswa saja yang kami dorong untuk meningkatkan literasi. Tetapi, guru maupun karyawan juga harus mau memaksimalkan koleksi buku yang ada di sekolah untuk membaca. Untuk mendorong tingkat literasi, saya juga membuat terobosan, yakni, bagaimana anak-anak ketika jam istirahat kami arahkan untuk ke perpustakaan. Jajannya waktunya sebentar saja, kemudian setelah itu langsung ke perpustakaan untuk membaca. Jadi tidak terbalik, jajannya yang lama, di perpustakaannya sebentar. Polanya kita balik,” ungkapnya.

- advertisement -

Pembangunan Pabrik Marak di Jateng, Adin Hysteria: ‘Jangan Hanya Bangun Pabrik Melulu’

0
Adin saat berbicara dalam Musrenbangwil Kedungsepur, di Semarang, Rabu (11/3/2020). Foto: Ist

BETANWS.ID, SEMARANG – Ketua Ekonomi Kreatif (KEK) Jawa Tengah Akhmad Khoridin mengkritik pembangunan di Jawa Tengah yang jomplang. Pemerintah dianggap terlalu fokus pada pembangunan industri manufaktur, namun mengesampingkan pembangunan industri kreatif yang banyak digarap anak muda.

“Pemerintah hanya fokus membangun pabrik dan industri manufaktur. Padahal, ekonomi kreatif yang sekarang banyak digeluti anak muda juga memberikan kontribusi yang besar,” ujar pria yang akrab disapa Adin itu dalam Musrenbangwil Kedungsepur, Kota Lama Semarang, Rabu (11/3/2020).

Gubernur Jateng Ganjar Pranbowo dalam acara Musrenbangwil, Rabu (11/3/2020). Foto: Ist

Dalam acara yang dihadiri kepala-kepala daerah di Jawa Tengah tersebut, Adin juga mengatakan, berdasarkan data dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenkeraf), industri kreatif sejauh ini menyumbang sebesar 7,44 persen dari total perekonomian di Indonesia. Dia menjabarkan, tiga besar inustri kreatif tersebut yakni kuliner, fashion dan kriva.

“Seharusnya Jateng bisa mendorong peningkatan industri kreatif ini. Jateng memiliki potensi besar baik secara geogrfis maupun sumber daya manusianya. Saya yakin banyak anak muda di Jateng yang mampu mengembangkan,” ujar Adin.

Menurut Ketua Komunitas Hysteria tersebut, kreatifitas anak muda di Jateng sudah banyak muncul berkat meluasnya akses informasi. Banyak yang mengembangkan startup-startup yang muncul, namun hingga kini belum bisa dirasakan dampaknya bagi peningkatan ekonomi.

Dia berharap, seluruh kepala-kepala daerah di Jateng bisa memberikan perhatian lebih pada pengembangan industri kreatif, khususnya yang dikembangkan anak muda. Mereka, menurut Adin, butuh diarahkan. Agar kreativitas dan inovasi yang diciptakan bisa berkembang dan memberikan dampak yang nyata di masyarakat.

Berikan Akses Luas Pada Anak Muda

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku sengaja mengundang banyak dari kalangan anak muda di Jateng dalam Musrenbangwil. Dirinya ingin kepala-kepala daerah di Jateng yang hadir dalam Musrenbangwil, bisa menyerap ide-ide segar dari anak-anak muda.

“Saya sengaja mengundang anak-anak muda dalam gelaran Musrenbang ini untuk mendengarkan ide segar mereka. Tadi itu ada usulan bagus, mereka memberikan gambaran yang baru soal industri kreatif. Ini bisa memberikan inspirasi, bahwa ada banyak hal yang bisa dikerjakan untuk meningkatkan ekonomi,” kata Ganjar usai acara.

Selain langkah tersebut, upayanya untuk memberikan ruang yang besar kepada anak muda di Jateng, pihaknya telah membuka coworking space untuk digunakan sebagai tempat berlatih para startup muda. Upaya tersebut sebagai bentuk keseriusan Pemprov Jateng dalam mendongkrak potensi ekonomi kreatif melalui anak-anak muda.

Baca juga: Siswa SMP Karimunjawa Sambat Tak Punya Gedung Lab Komputer, Ganjar: ‘Ya Nanti Kami Bangun’

Tak hanya di wilayah perkotaan, pihaknya juga membuka akses pengembangan industri kreatif di wilayah perdesaan. “Akses tidak hanya diberikan hanya di perkotaan, di Kota Lama Semarang misalnya, namun juga di perdesaan, sebagai contoh di Lasem Rembang,” tutur Ganjar.

Dia meminta kepada seluruh bupati dan wali kota di Jateng untuk peduli terhadap pengembangan ekonomi kreatif anak muda. Mereka diminta untuk melihat potensi anak-anak muda di daerahnya masing-masing.

“Entah seni, film, kriya dan lainnya itu bisa dibuat. Saya minta kawan-kawan muda ini aktif dan tidak hanya menunggu. Nanti kami dorong seluruh Kabupaten/Kota memberikan ruang pada kawan-kawan ini agar eksis. Tidak hanya pada tataran konsep, tapi aksi nyata di lapangan,” tutupnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Kualitas Oke, Mebel Spesialis Kayu Lawasan Pak Timin Diburu Konsumen

0
Suratmin atau akrab disapa Pak Timin pemilik mebel kayu bekas. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah mebel di tepi jalan Budi Utomo Nomor 13, Desa Jepang RT 4 RW 5, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tampak sejumlah orang sedang beraktivitas. Satu di antara mereka terlihat sedang membongkar tumpukan kayu. Dia yakni Muhammad Abdul Wahid (23), anak dari bapak Suratmin, pemilik mebel spesialis kayu lawasan.

Wahid sapaan akrabnya, sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usaha yang dirintis bapaknya sejak tahun 2005 itu. Menurut Wahid, orang tuanya pernah mengalami saat-saat sulit. Berawal ikut orang terlebih dahulu selama enam tahun, dengan bayaran seadanya.

Salah satu pekerja di Mebel Pak Timin sedang mengerjakan kusen pesanan pelanggan. Foto: Ahmad Rosyidi

“Ikut kerja tapi bayarannya sedikit, karena bapak masih belajar. Setelah ikut orang selama enam tahun, bapak kemudian merantau ke sejumlah daerah di Jawa. Karena jarang berkumpul dengan keluarga, akhirnya ibu meminta bapak untuk di rumah saja, membuka usaha sendiri,” papar anak terakhir dari dua bersaudara itu.

Setelah sepakat membuka usaha, mereka meminjam uang untuk membuka usaha mebel di rumah. Awal pemasaran melayani pesanan dari tetangga dan teman-teman kerja istrinya. Saat ini, pemasaran sudah meluas hingga daerah eks Karesidenan Pati.

“Awalnya bapak menggunakan kayu baru, tetapi sejak lima tahun yang lalu mayoritas menggunakan kayu bekas. Harganya lebih murah hampir separuh harga dari kayu baru, selain itu juga peminat dan keuntungan kayu bekas lebih banyak,” ungkapnya, Senin (2/3/2020).

Wahid juga mengungkapkan, jika membeli kayu bekas di daerah sekitar Jawa Tengah. Dia mengambil jenis kayu kalimantan, sedangkan kayu jati hanya untuk pelanggan-pelanggan tertentu, karena harganya lebih mahal.

Mebel Timin selain melayani pesanan juga menjual bahan kayu bekas, seperti usuk mulai harga Rp 3 ribu hingga Rp 60 ribu, reng per 25 batang harganya mulai Rp 50 ribu hingga Rp 350 ribu. “Menyesuaikan ukiran, kayunya juga bisa memilih sendiri,” terangnya.

Untuk pemesanan di Mebel Pak Timin minimal memberi uang muka 10 persen sebagai tanda jadi. Dia juga bisa melayani pesanan segala macam jenis barang yang terbuat dari bahan kayu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Gunakan Trik Pemasaran Warisan Orang Tua, Produk Sinta Shoes Tetap Digemari Konsumen

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah rumah yang berada di RT 01 RW 02, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, terlihat beberapa pria sedang sibuk. Mereka tampak berbagi tugas. Ada yang membuat pola pada kulit bahan sepatu, untuk kemudian dipotong dan dijahit. Selanjutnya ada satu orang lagi yang tampak memasang bagian sol sepatu. Di sela – sela itu, seorang pria datang untuk mengambil sepatu pesanannya. Tempat tersebut yakni home industri pembuatan sepatu kulit yang sudah puluhan tahun ada hingga sampai sekarang.

Arief Budiman, pemilik Sinta Shoes menunjukkan sepatu produksinya. Foto: Rabu Sipan

Arief Budiman (42) selaku pemilik usaha tersebut mengungkapkan, usaha pembuatan sepatu dan sandal berbahan kulit sapi itu dirintis mendiang ayahnya pada tahun 1976, dan diberi nama Sinta Shoes. Hingga pada 2005, dia ikut terjun mengikuti jejak sang ayah menjadi perajin sepatu kulit, sekaligus menjadi penerusnya hingga sekarang. Menurutnya, sejak awal dirintis ayahnya, sepatu dan sandal produk Sinta Shoes dipasarkan dari mulut ke mulut dan satu toko.

“Saya memang masih mengandalkan pemasaran warisan orang tua yakni dari mulut ke mulut dan satu toko. Saya percaya aneka produk Sinta Shoes tetap laris. Karena kami itu menawarkan kualitas produk. Keunggulan produk buatan kami itu lebih kuat dan awet,” jelas pria yang akrab disapa Arief kepada betanews.id

Dia mengatakan, selama ini belum pernah memasarkan sepatu dan sandal hasil karyanya lewat media sosial. Menurutnya, kalau dari mulut ke mulut para calon pembeli itu setidaknya sudah mendapat informasi tentang produk Sinta Shoes. Sedangkan kalau calon pembeli datang ke toko, mereka bisa lihat langsung model dan bisa cek bahannya. Untuk kenyamanan, lanjutnya, calon pembeli juga boleh mencoba dulu aneka produk dari Sinta Shoes.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, bahan yang digunakan untuk membuat sepatu dan sandal, yakni kulit sapi kualitas terbaik yang didatangkan dari Magetan. Sedangkan solnya dikirim dari Semarang. selama ini aneka produk Sinta Shoes diminati banyak orang. Tidak hanya warga Kudus saja melainkan luar daerah juga. Antara lain, Grobogan, Jepara, Demak, Pemalang, hingga luar Jawa yakni beberapa kota di Pulau Sumatera.

“Kebanyakan yang kami produksi itu sudah pesanan para pelanggan. Dalam sebulan, saya bersama sebelas pekerja bisa memproduksi 250 pasang sepatu dan 200 pasang sandal. Dari jumlah tersebut, saya bisa mendapatkan omzet Rp 60 juta sebulan saat ramai, dan Rp 40 juta sebulan, saat sepi,” urai Arief.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Melani Bernostalgia dengan Jajanan Lawas di Pasar Kuliner Jadul

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tawa tiga perempuan begitu terdengar membahagiakan di satu tenda Pasar Kuliner Jadul. Sambil bergurau ketiga perempuan itu memilih aneka jajanan yang tersedia. Terlihat mereka memilih jajan dibungkus daun pisang, serta nasi dibungkus daun jati. Satu di antara ketiga perempuan tersebut yakni Melani yang datang ke Pasar Kuliner Jadul karena ingin bernostalgia dengan makanan zaman dulu.

Melani mengungkapkan, datang ke Pasar Kuliner Jadul bersama kedua temannya. Kedatangannya karena ingin mencicipi aneka makanan zaman dulu. Sebagai obat rasa kangen dan bernostalgia, karena sudah cukup lama tidak mencicipi aneka makanan jadul.

Salah satu kuliner jadu khas Kudus. Foto: Rabu Sipan

“Kami bertiga pergi ke Pasar Kuliner Jadul untuk membeli beberapa makanan jadul. Yang sudah kami beli, ada bugis, nasi uyah asam, kue jongkong, onde-onde dan lain-lain,” urai Melani kepada betanews.id

Warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sudah tidak ingat kapan terakhir menikmati aneka makanan zaman dulu yang dibelinya. Karena saat ini ada beberapa makanan yang dibelinya di Pasar Kuliner Jadul itu tidak dijual di pasar umum.

Hal berbeda diungkapkan, Deby asal Salatiga yang datang ke Pasar Kuliner Jadul karena ingin mencicipi makanan khas Kudus. Dia mengaku sudah membeli nasi tewel bungkus daun jati. Menurutnya rasanya enak, dan sangat khas karena ada daun jatinya.

“Saya itu penasaran sama makanan khas Kudus, jadi tadi membeli nasi tewel bungkus daun jati. Rasanya enak dan khas makanan zaman dulu,” ujarnya.

Baca juga: Sambal Ontong Penyet Ida Laris Manis di Pasar Kuliner Jadul, Satu Jam 240 Porsi Terjual

Arinal Haq Selaku koordinator Pasar Kuliner Jadul menuturkan, Pasar Kuliner Jadul menyediakan 52 tenda, dan semua tenda sudah terisi semua. Beberapa penyewa tenda memang mendaftarakan menu zaman dulu untuk dijual.

“Menu zaman dulu itu antara lain, ada nasi jangkrik, nasi uyah asem, nasi sego tewel bungkus daun jati, ada onde – onde, bugis, nasi aking. Minumannya ada wedang ronde, dawet dan lain sebagainya,” urai Arinal Haq.

Dia pun tak lupa mengajak bagi siapa saja khususnya warga Kudus yang ingin bernostalgia dengan makanan zaman dulu bisa datang ke Pasar Kuliner Jadul, yang dimulai pada Selasa (10/ 3/ 2020) dan berakhir Jumat (13/ 3/ 2020).

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sri Rejeki Embroidery Bertahan Puluhan Tahun dengan Bordir Manual

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, di sebuh rumah yang berada di Desa Karang Malang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus terdengar sayup-sayup mesin jahit menderu dari luar pagar. Rumah tinggal semi usaha itu terpampang tulisan Sri Rejeki Embroidery.

Ialah Sri Amini (63), seorang perempuan berhijab yang nampak sibuk mengenakan salah satu kebaya berwarna biru muda di manekin toko yang satu bangunan dengan rumah pribadinya. Amini pula merupakan pemilik sekaligus perintis usaha bordir Sri Rejeki tersebut.

Salah satu pekerja di Sri Rejeki Embroidery sedang menyulam kain pesanan pelanggan. Foto : Titis Widjayanti

Di dalam toko tersebut, nampak banyak etalase kaca berisi kerajinan bordir. Mulai dari kebaya, mukena, tas, kerudung, rompi, gamis, hingga kaligrafi beraneka warna dan motif. Katanya, usaha tersebut telah dirintis semenjak tahun 1982.

“Ini usaha pribadi. Kebetulan saya sendiri yang merintis dari tahun 1982. Awalnya sih karena memang saya suka, lalu masa itu ada kursus bordir di sekitar sini. Lalu saya ikut. Sebelum berani mendirikan usaha sendiri, sebenarnya sehabis lulus kursus saya sempat kerja bordir ikut orang. Tapi setelah itu, karena sudah berkeluarga dan punya dua anak, apalagi suami punya usaha kerupuk dan sedang berkembang, suami mengusulkan agar saya di rumah saja. Akhirnya saya sekalian mulai merintis usaha ini karena bisa dikerjakan di rumah,” papar Amini kepada betanews.id, Jumat (6/3/2020).

Amini kemudian meneguk air putih di depannya dan kembali bercerita. Latar belakang semangatnya tersebut tidak lain karena ia juga menganggap karajinan bordir adalah salah satu seni. Bagaimana cara memilih bahan, menggambar pola, hingga perpaduan warna antara kain dan benang.

“Selain ketelitian dan kesabaran, kalau bordir itu perihal seni ya Mbak. Mulai dari proses menggambar pola, memilih bahan, sampai mencocokkan warna kain dengan benang yang dipakai. Bahkan sampai sekarang, saya itu kalau ada pesanan atau membuat untuk dijual, saya buat dulu contohnya, untuk sample. Nanti baru saya lihat, kalau nggak cocok dan kurang bagus ya bikin yang baru,” papar dia.

Sambil mengambil beberapa contoh bordiran seperti mukena, rompi, dan kebaya ciri khas beberapa daerah, Amini mengaku sampai sekarang belum pernah meliburkan hingga memecat karyawannya. Bahkan ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 dahulu, atau jika tidak ada pesanan sekalipun.

“Saya itu dari awal merintis, sampai sekarang belum pernah memecat atau meliburkan karyawan. Dari yang sepi pesanan sampai krisis moneter tahun 1998 dulu. Kalau misal diliburkan, kasihankan. Mereka (karyawan) juga butuh mencari nafkah,” ungkap dia.

Memiliki usaha rumahan yang mengandalkan penjualan secara konvensional melalui beberapa kali pameran UMKM, Amini belum berani membuka toko online. Dia mengatakan, bahwa produknya dipromosikan lewat pameran dan setelah itu person to person yang dikenal melalui pameran tersebut. Selanjutnya ,dari pemasaran mulut ke mulut dan beberapa butik di Semarang, Jakarta hingga Bali.

Melalui bordir manual dengan pengerjaan yang cukup memakan waktu, produknya dijual dari ratusan hingga jutaan. Hal tersebut dijelaskan Amini berdasarkan bahan, model dan kerumitan pengerjaan. Akan tetapi, menurutnya pula, bordir manual masih menjadi primadona karena keunikan dan kehalusan hasilnya.

Amini menambahkan, sejauh ini kesulitan dari usahanya adalah mencari pekerja atau karyawan, karena banyak yang sudah tidak tertarik lagi menekuni bordir manual. Terutama para pemuda dan pemudi yang dikatanya lebih tertarik bekerja di pabrik konveksi dengan mesin-mesin besar.

“Kalau kesulitan ya SDM nya. Cari karyawannya. Sekarang yang masih mau (menjadi perajin dan penjahit bordir manual) sedikit dan sudah berumur. Kalau yang muda-muda kebanyakan memilih bekerja di pabrik dengan mesin-mesin besar. Yang berangkat pagi pulang sore. Padahal kalau misal di tempat saya, nanti ada pelatihan khusus. Mulai dari menggambar pola, membordir sampai memilih bahan dan mencocokkan warna kain dan benang. Nanti kalau sudah 4-5 tahun bisa dibawa terus dikerjakan di rumah,” tambah dia.

Hal tersebut ia lakukan karena menurutnya bordir adalah salah satu seni yang membutuhkan keterampilan. Sehingga setiap karyawannya dibekali pelatihan ketrampilan supaya ke depan bisa terus berkreasi dan berinovasi menekuni bordir manual dengan hasil yang lebih halus, rapi dan indah.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sambal Ontong Penyet Ida Laris Manis di Pasar Kuliner Jadul, Satu Jam 240 Porsi Terjual

0
Sambal penyet ontong pisang. Foto:Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di satu tenda yang berada di Jalan Menara Kudus tampak dua perempuan berjilbab. Mereka terlihat sibuk melayani beberapa pembeli. Satu perempuan yang lebih tua tampak cekatan mengambil ontong pisang rebus kemudian dipenyet di atas cobek. Perempuan tersebut yakni Ida, penjual sambal ontong penyet di Pasar Kuliner Jadul.

Ida menuturkan, di hari pertama jualan di Pasar Kuliner Jadul, Selasa (10/03/2020), sambal ontong penyetnya laris manis. Dalam tempo waktu sekitar satu jam, sambal ontong penyetnya sudah habis terjual. Menurutnya, saat buka dasar membawa sekitar 30 ontong pisang yang sudah direbus.

Beberapa warga tampak antusias membeli makanan tradisional di Pasar Kuliner Jadul. Foto : Rabu Sipan

“Saya buka dasar sekitar pukul 9.30 WIB dan masih pagi sudah habis. Padahal satu ontong pisang itu bisa jadi delapan porsi. Kalau 30 x 8, berarti saya sudah menjual sekitar 240 porsi,” ungkap Ida kepada betanews.id.

Warga Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu itu mengungkapkan, sangat bersyukur dengan antusias masyarakat. Meski sudah habis, dirinya mengaku masih menunggu kiriman ontong rebus dari rumah agar bisa berjualan lagi.

“Ini saya lagi santai soalnya sudah pada habis. Dan lagi menunggu kiriman ontong dari rumah agar bisa berjualan sampai malam,” ungkap Ida yang mengaku menjual sambal ontong penyetnya Rp 10 ribu seporsi.

Ida mengaku, ikut berjualan di Pasar Kuliner Jadul yang diadakan Yayasan Menara itu untuk berpartisipasi. Karena dia membuat sambal ontong penyet kalau ada pesanan saja. “Ya selain ikut berpatisipasi ya mengais rezeki,” ungkapnya.

Senada dengan Ida, penjual lainnya yakni Eny menuturkan, ikut berjualan di Pasar Kuliner Jadul karena ingin berpartisipasi, sekaligus memperkenalkan makanan jadul miliknya.

“Saat ini saya membawa beberapa makanan jadul, di antaranya, golok – golok mentok, bongko roti, monyos, getuk pero bakar dan lainnya,” ungkapnya.

Baca juga:

Warga Kelurahan Kajeksan itu menuturkan, makanan jadul yang dijualnya lumayan diminati pelanggan. Menurutnya tadi sempat banyak yang antre untuk mendapatkan makan jadul yang dijualnya.

“Kalau sudah menjual berapa porsi belum tahu ya, karena memang belum saya hitung. Tapi beberapa tadi sempat kehabisan dan minta dikirim dari toko Syafa Ice miliknya,” ungkap Eny yang juga pemilik Syafa Ice.

Arinal Haq selaku panitia dari Pasar Kuliner Jadul menambahkan, Pasar Kuliner Jadul merupakan bagian dari perayaan ta’sis untuk memperingati pembangunan Masjid Al – Aqsa Menara Kudus. Dengan adanya Pasar Kuliner Jadul diharapkan bisa mempromosikan makanan zaman dulu.

“Dengan mengangkat makanan jadul, kami mengajak para pengunjung untuk bernostalgia dengan aneka makanan jadul. Selain aneka makanan jadul bisa makin dikenal dan diminati para anak milenial,” ungkap Arinal Haq.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Siswa SMP Karimunjawa Sambat Tak Punya Gedung Lab Komputer, Ganjar: ‘Ya Nanti Kami Bangun’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berdialog dengan warga dalam Musrenbangwil, Selasa (10/3/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, JEPARA – Siswa SMPN 2 Karimunjawa, Jepara, berkeluh kesah kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (10/3/2020). Siswa bernama Andi Wahyu Saputra itu sambat karena sekolahnya tak memiliki gedung laboratorium komputer.

Dalam dialog antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan warga Desa Parang, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara itu, Andi juga mengeluhkan minimnya tenaga pengajar di sekolah.

“Di sekolah kami hanya ada enam guru. Kami juga tidak memiliki gedung laboratorium komputer. Lab komputer hanya ada di gedung perpustakaan,” keluh Andi kepada Ganjar saat berdialog melalui teleconference.

Menanggapi keluhan tersebut, Ganjar menyatakan akan segera membangunkan gedung laboratorium untuk SMPN 2 Karimunjawa. Terkait dengan minimnya tenaga pengajar di sekolah itu, dirinya menyerahkan pada Pemerintah Kabupaten Jepara.

“Gedung nanti kita yang bangun. Untuk guru, biar nanti Pak Bupatinya karena SMP dibawah kabupaten,” ujar Ganjar.

Dialog tersebut digelar dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah (Musrenbangwil) Jawa Tengah. Musrenbangwil Wanarakuti-Banglor meliputi Juwana, Jepara, Kudus, Pati dan Rembang, Blora dilaksanakan di Pendapa Kabupaten Jepara. Dialog dilakukan untuk menyerap aspirasi hingga di daerah terpencil.

Selain Andi, dalam dialog tersebut Ganjar juga mendengar sejumlah usulan dari masyarakat lain di Desa Parang. Satu di antara warga yang menyampaikan usulan yakni Susniwati. Dirinya meminta untuk pengadaan kapal ambulans sebagai sarana pelayanan kesehatan di desanya.

Baca juga: Pembangunan Pabrik Marak di Jateng, Adin Hysteria: ‘Jangan Hanya Bangun Pabrik Melulu’

“Pak Gubernur, kami butuh ambulans laut (kapal ambulans). Kapal itu untuk rujukan jika harus dibawa ke luar Pulau Parang, Pak,” pinta Susniwati kepada Ganjar.

Dia menceritakan, selama ini warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan kapal ambulans terpaksa harus menggunakan kapal nelayan. “Selama ini pakai kapal kayu, kapal nelayan. Bahkan pernah kita menangani ibu hamil, dan melahirkan di atas kapal,” katanya.

Butuh Anggaran yang Tinggi

Sementara itu, Kepala Desa Parang, Muh Zaenal Arifin menyampaikan bahwa pembangunan di desanya membutuhkan anggaran yang tinggi. Pihaknya ingin ada pembangunan dermaga, pembangunan embung tadah hujan, fasilitas internet dan penambahan kapasitas listrik.

“Usulan-usulan ini nanti akan bisa menunjang pengembangan sektor ekonomi, wisata dan pengembangan sumberdaya manusia. Di sini ada wisata seperti wisata batu merah, makanan khas pohong brosok, dan juga hasil kebun kedondong,” paparnya.

Terkait usulan tersebut, Ganjar menyatakan untuk pembangunan dermaga dan pengadaan ambulans, nanti akan dikoordinasikan berkait besaran anggaran dan lainnya. “Untuk dermaga nanti kita koordinasikan,” pungkas Ganjar.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Serba Mesin, Sehari Lilik Bisa Produksi Ribuan Kerupuk Bandung

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam sebuah bangunan tampak beberapa potongan drum berisi adonan bakal kerupuk. Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling. Di sampingnya terlihat beberapa orang mengoperasionalkan mesin pencetak krecek bakal kerupuk. Di tempat tersebut, yakni pembuatan kerupuk Bandung yang serba mesin hasil karya pemiliknya.

Lilik (50) selaku pemilik usaha tersebut mengungkapkan, produksi kerupuk Bandung di tempatnya sudah serba mesin. Dari mengaduk adonan, hingga cetakan serta oven semua sudah menggunakan mesin. Menurutnya mesin – mesin tersebut hasil karyanya sendiri.

“Mesin – mesin itu kalau beli kan mahal. Makanya dari pada keluar duit banyak untuk membeli mesin jadi. Maka saya inisiatif membuat mesin sendiri agar lebih hemat dan tentunya bisa mempercepat kerja pembuatan kerupuk,” ujar Lilik kepada betanews.id.

Pria yang mempunyai tiga anak itu mengatakan, merintis usaha pembuatan kerupuk pada tahun 1985. Namun saat itu semua masih serba manual. Hingga pada tahun 1990, dirinya berinisiatif membuat sendiri mesin pencetak kerecek bakal kerupuk. Hal itu dilakukan agar bisa meningkatkan jumlah hasil produksi kerupuk.

“Alhamdulillah mesin yang saya bikin bisa beroperasi dengan sempurna. Dan tak dinyana, mesin buatanku itu diminati pengusaha kerupuk lainnya. Hingga saya memutuskan, selain memproduksi kerupuk juga menerima pesanan pembuatan mesin pencetak kerecek bakak kerupuk,” ungkapnya.

Lilik mengungkapkan, mesin pencetak kerecek bakal kerupuk hasil karyanya pernah dipesan oleh orang Madiun, Cirebon, Jepara dan beberapa pengusaha kerupuk di Kudus. Untuk harga mesin itu sendiri dahulu berkisar antar Rp 40 juta hingga Rp 100 juta per unit. Selain itu, lanjutnya pada tahun 2007 Lilik juga membuat mesin oven sendiri.Dengan tujuan saat musim hujan dia tetap bisa mengeringkan puluhan ribu kerecek yang dicetak.

“Saat musim hujan jika tidak punya oven, para pengusaha kerupuk termasuk saya itu pusing. Karena tidak bisa mengeringkan puluhan ribu bahkan ratusan ribu kerecek yang tercetak. Karena itu saya berinisiatif membuat oven sendiri, yang bisa mengeringkan 50 ribu kerecek bakal kerupuk dalam tiga jam saja,” jelas Lilik.

Pria bersarung itu menuturkan, tidak merinci secara jelas total biaya pembuatan oven. Tapi dia yakin pasti lebih murah dari pada beli mesin oven. Menurutnya di ruang produksi pembuatan kerupuknya itu ada delapan mesin cetak. Satu mesin pembuat adonan, mesin penggiling serta satu oven.

Dari semua mesin itu, lanjutanya, bisa memproduksi 60 ball kerupuk sehari. Setiap ball nya berisi 500 keping kerupuk. Jadi sehari bisa memproduksi 30 ribu kerupuk.

“Meski sudah serba mesin saya tetap mempekerjakan sekitar 12 orang. Untuk operator mesin dan penjemuran. Mereka kebanyakan tetangga saya dan saudara dari Tasikmalaya,” ujar Lilik.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kisah Mengerikan 300 Hari Eks ISIS di Suriah, Febri : ‘Suara Bom Terdengar Ratusan Kali Sehari’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berbincang dengan Febri, eks anggota ISIS. Foto:Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Febri Ramdani, warga Depok, Jawa Barat, seorang mantan anggota ISIS menceritakan kisahnya selama 300 hari di Suriah. Kisah itu ia tulis dalam buku berjudul 300 Hari di Bumi Syam; Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS itu berisi tentang pengalamannya selama di Suriah.

Kisah suramnya itu diceritakan kembali kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di rumah dinasnya, Senin (9/3/2020). Febri mengatakan, jika ia berangkat ke Suriah untuk menyusul keluarga besarnya yang terpengaruh propaganda ISIS. Dengan menjual seluruh aset di Indonesia, keluarga besarnya berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Ketika tiba di Suriah, Febri menyaksikan bagaimana kengerian yang terjadi akibat perang saudara di negara itu. Semuanya berbeda dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya.

“Saya lihat negara itu hancur. Suara bom bisa terdengar ratusan kali dalam sehari. Saya juga pernah ditangkap dan ditahan selama satu bulan oleh salah satu faksi di sana,” katanya.

Selama lima bulan Febri mencari keluarganya di Suriah. Saat ketemu, ada beberapa saudaranya yang sudah meninggal karena dipaksa berperang.

Febri pun melihat kondisi Suriah yang ternyata jauh dari propaganda yang ditawarkan ISIS. Saat propaganda berlangsung, ISIS memberikan janji bahwa semua yang mau hijrah ke daerah itu akan mendapat fasilitas termasuk gaji, tunjangan dan lainnya. Namun faktanya itu tidak ada sama sekali. Orang-orang yang ada di sana dipaksa mengikuti kegiatan militer dan berperang, sementara yang perempuan dipaksa menikah.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menerima tamunya yaitu Febri, eks anggota ISIS dan Nur alias Hariyanto dan Badawi Rahman alias Yusril, eks napi terorisme. Foto : Ist

“Kondisi itulah yang membuat saya sadar, bahwa langkah saya salah. Saya catat semua pengalaman saya itu dalam buku ini, agar saya bisa sharing pengalaman dan mengedukasi kepada masyarakat, bahwa propaganda ISIS itu semuanya tidak benar,” tegasnya.

Kepada Ganjar, Febri ingin membantu program deradikalisasi yang digalakkan Pemprov Jateng.Febri melihat bahwa Ganjar selama ini sangat konsen terhadap upaya deradikalisasi. Upaya-upaya pencegahan paham radikal sangat kuat dilakukan di Jawa Tengah. Untuk itu, dirinya ingin berbagi pengalaman dan membantu Ganjar dalam upaya deradikalisasi agar lebih efektif.

“Saya harap bisa membantu deradikalisasi yang dilakukan pak Ganjar. Mudah-mudahan bisa menebus kesalahan saya selama ini,” tegas Febri ditemani oleh dua orang eks narapidana terorisme (napiter) yakni Nur alias Hariyanto dan Badawi Rahman alias Yusril. Keduanya adalah warga Semarang yang pernah terlibat dalam kegiatan terorisme di Indonesia.

Sementara itu, Nur dan Badawi menambahkan tentang bagaimana bahayanya gerakan radikalisme yang ditanamkan oleh kelompok-kelompok tertentu di Indonesia. Nur yang dipenjara karena kasus Poso dan Badawi Rahman alias Yusril, pembuat senjata untuk para teroris di Indonesia itu mengatakan, keduanya terpikat dengan propaganda yang dilakukan melalui kajian-kajian di masjid oleh kelompok-kelompok itu.

“Mereka sering menggelar pengajian di masjid, kemudian semakin intim menyambangi rumah untuk menanamkan paham radikal. Ini yang harus diwaspadai, karena mereka sangat terorganisir. Kami juga ingin membantu pemerintah untuk melakukan edukasi,” jelas Badawi.

Bak gayung bersambut, Ganjar langsung menyetujui tawaran Febri, Nur dan Badawi. Ganjar akan melibatkan ketiganya dalam upaya kampanye deradikalisasi yang akan dilakukan pemerintah.

“Nanti saya undang untuk berkeliling ke sekolah-sekolah yang ada di Jawa Tengah. Untuk mengedukasi masyarakat khususnya anak muda tentang bahaya radikalisme,” ucap Ganjar.

Cerita dan pengalaman orang-orang yang pernah terlibat gerakan radikalisme lanjut dia sangat penting. Hal itu dapat berguna sebagai benteng untuk mencegah masyarakat terjerumus dalam gerakan itu.

“Saya memang butuh banyak cerita, pengalaman dari orang-orang yang pernah terlibat. Dari cerita dan pengalaman itu, saya bisa mengerti metode yang mereka gunakan, cara mempengaruhi hingga apa yang harus dilakukan untuk menangkal,” kata Ganjar.

Selama ini lanjut dia, dirinya memang selalu menggandeng para kombatan yang pernah terlibat gerakan radikalisme untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu menurutnya, masyarakat dapat paham bahwa apa yang dilakukan itu adalah salah.

- advertisement -

Sempat Bangkrut dan Terlilit Utang, Lilik Bangkit Kembali Produksi Kerupuk Bandung

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi selatan Jalan Kebunsawah RT 01 RW 03, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak rumah bercat krem. Di samping rumah, beberapa orang keluar masuk bangunan membawa lori berisikan ratusan krecek beralas kepang. Di dalam bangunan tersebut beberapa pria sibuk mengoperasikan mesin pencetak krecek bakal kerupuk. Sedangkan di garasi rumah terlihat ribuan kerupuk dalam kantong plastik besar. Di samping kerupuk terparkir mobil Pajero Sport. Rumah tersebut yakni milik Lilik (58) pengusaha pembuatan kerupuk Bandung.

Lilik mengisahkan, datang ke Kudus saat usia 15 tahun, tepatnya pada tahun 1977 dan bekerja di tempat pembuatan kerupuk. Hingga pada tahun 1980, Lilik memutuskan menikah dan hidup mengontrak. Setelah menikah, dia mencoba usaha membuat kerupuk sendiri kecil – kecilan. Tapi sayang, ketika itu usahanya tersebut malah bangkrut.

“Bangkrutnya itu karena bahan pokok melambung tinggi. Padahal harga kerupuk masih tetap, kalau dinaikkan malah tidak laku. Jadi selain berhenti produksi, saya juga harus menanggung utang yang lumayan besar saat itu,” jelas Lilik kepada betanews.id

Dia mengatakan, setelah bangkrut, dirinya kemudian bekerja lagi. Hasil dari bekerja selain untuk kebutuhan keluarga, nyicil utang dan sebagian disisihkan untuk rencana usaha ke depan. Hingga pada tahun 1985 dirinya memutuskan merintis usaha pembuatan kerupuk kembali.

“Di usahaku yang ke dua itu, saya benar – benar memperhitungkan sesuatunya secara detail. Termasuk jika harga bahan pokoknya melambung tinggi, saya pun sudah punya antisipasinya. Dan alhamdulillah semua kendala bisa teratasi dan bisa bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengungkapkan, memproduksi kerupuk Bandung dengan dua jenis ukuran dan harga. Untuk harga ecer Rp 500 per biji, diameternya agak besar dan yang kecil dijual Rp 250 per biji. Menurutnya, kerupuknya juga lumayan diminati, sehari sekitar 40 bakul datang membeli kerupuk Bandung hasil produksinya.

Lilik bersyukur, usaha yang dirintis puluhan tahun sudah terlihat hasilnya. Dulu yang masih tinggal mengontrak, kini sudah punya rumah sendiri, serta bisa menguliahkan anak – anaknya. Dari kerupuk, juga dia mengaku beberapa kali ganti mobil. Dari mobil Suzuki Carry, kemudian ganti Toyota Kijang Inova, dan dua kali ganti Mitsubishi Pajero.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Iuran BPJS Tak Jadi Naik, Inilah Besaran Iuran yang Akan Berlaku

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Mahkamah Agung (MA) telah membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada hari ini, Senin (9/3/2020). Dengan putusan tersebut kenaikan iuran yang telah ditetapkan pemerintah pada 1 Januari 2020 lalu tidak berlaku. Iuran setiap kelas akan kembali pada besaran sebelumnya.

Berdasarkan putusan MA itu, iuran BPJS untuk kelas 3 tetap Rp 25.500. Sedangkan besaran untuk iuran kelas 2 Rp 51 ribu, dan iuran untuk kelas 1 tetap sebesar Rp 80 ribu.

Menanggapi putusan MA dibatalkannya kenaikan iuran BPJS, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan, ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola BPJS. Dia meminta BPJS memiliki semangat untuk melayani masyarakat.

“Dengan putusan (MA) ini, BPJS memiliki kesempatan untuk melakukan perbaikan sistem pengelolaan. Masyarakat pasti senang mendengar keputusan MA ini,” ujar Ganjar kepada wartawan, hari ini.

Saat ada wacana kenaikan iuran, kata Ganjar, dirinya telah meminta BPJS untuk memperbaiki manajemen pengelolaan. Dirinya juga meminta agar ada perbaikan sistem agar masyarakat benar-benar dilayani dengan baik.

“Pelayanan yang harus diutamakan antara lain pembenahan spirit. BPJS adalah bentuk pelayanan kesehatan masyarakat. Jadi (pelayanan masyarakat) harus dipermudah, bukan justru mempersulit,” tutur Ganjar.

Lebih lanjut, Gubernur dua periode tersebut agar tidak ada lagi diskriminasi layanan kesehatan. Dia meminta antara yang berobat menggunakan BPJS dan yang membayar secara mandiri tidak dibedakan.

“Permudah masyarakat dalam berobat, soal antrean bagaimana, dan jangan sampai masyarakat merasa ada diskriminasi antara yang pakai BPJS dan bayar sendiri, karena yang pakai BPJS itu kan juga bayar sendiri, mandiri,” katanya.

Terkait pembatalan kenaikan iuran BPJS, menurut MA, Pasal 34 ayat 1 dan 2 bertentangan dengan Pasal 23 A, Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945. Selain itu juga bertentangan dengan Pasal 2, Pasal 4, Pasal 17 ayat 3 UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Karena Pasal 34 ayat 1 dan 2 bertentangan dengan Pasal 23 A, Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945. Selain itu juga bertentangan dengan Pasal 2, Pasal 4, Pasal 17 ayat 3 UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Kisah Jitun Olah Minuman Sari Rempah, Awalnya Tak Laku Sampai Berhenti Produksi

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma rempah terasa menusuk hidung saat berada di teras rumah bercat putih. Di dalam rumah yang berada di RT 04 RW 08, Dukuh Sintru, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe,
Kabupaten Kudus itu terlihat seorang perempuan sedang mengaduk adonan penuh aroma. Perempuan tersebut yakni Khosiatun (37) memproduksi sari rempah.

Khosiatun mengatakan, merintis usaha produksi sari olahan rempah sejak 2016. Menurutnya, pada tahun yang sama, dirinya diajak oleh teman untuk ikut pelatihan mengolah rempah menjadi serbuk. Karena sadar desanya merupakan penghasil rempah, dirinya pun menyetujuinya.

“Saya ikut pelatihan selama tiga hari. Setelah ikut latihan, saya bersama empat orang teman berinisiatif memproduksi sari olahan aneka rempah di desaku,” ungkap perempuan yang akrab disapa Jitun kepada betanews.id.

Untuk pemasaran lanjutnya, sari olahan rempah itu dititipkannya di warung – warung. Serta dirinya pun keluar masuk kantor maupun instansi pemerintah untuk menawarkan produknya.

“Tapi sayang saat itu sari produk olahan rempah kami kurang diminati. Teman – teman saya pun akhirnya nyerah dan tidak ingin melanjutkan kerja sama memproduksi sari olahan rempah,” kenang Jitun.

Dia mengungkapkan, berhenti membuat sari olahan rempah hampir selama setahun. Hinga ada seorang kolega pesan sari rempah dari kencur se pak . Tapi saat dapat tawaran itu, dirinya pun protes karena dianggap tidak sesuai dengan ongkos produksi.

“Tapi saat itu kolega saya meyakinkanku agar mau membuat pesanannya. Kolega saya juga menjanjikan akan membantu menawarkan produk saya ke teman – temannya,” ungkapnya.

Dia mengaku, pesanan tersebut akhirnya diterimanya dan dikerjakan sendiri, karena semua temannya sudah tidak ada yang bersedia gabung. Sejak saat itu, tuturnya pesanan sari olahan rempah selalu berdatangan. Bahkan pesanan datang dari berbagai strata lapisan masyarakat.

Dari para tetangga hingga para pejabat. Di antaranya, beberapa anggota DPRD, para kepala dinas di pemerintahan Kudus, Dinas Sosial, Direktur RSU Loekmono Hadi dan lainnya.

“Saya pun selalu minta saran kepada pelanggan setiap dapat order. Agar bisa memperbaiki mutu dan kualitas produk,” ungkapnya.

Dia mengaku memproduksi sari olahan rempah dari jahe merah, jahe putih, kunyit, kencur, dan temulawak. Sari olahan rempahnya itu dijual dengan harga Rp 20 ribu dan Rp 25 ribu per paknya.

“Harga tersebut dengan perbandingan satu kilogram rempah dan tiga kilo gula pasir. Sedangkan, untuk campuran satu kilogram berbanding dua kilogram gula dibanderol Rp 32 ribu perpak,” urainya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jitun Tak Berniat Naikkan Harga Meski Peminat Olahan Rempahnya Makin Diburu Saat Virus Corona Merebak

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan mengenakan pakaian merah tampak mengaduk adonan di dalam ruangan rumah. Di samping perempuan tersebut terlihat ada beberapa kantong berisi aneka rempah. Rumah tersebut yakni tempat produksi sari olahan rempah bernama Gemah Ripah yang saat ini permintaannya sedang meningkat sejak virus corona merebak.

Khosiatun (37) selaku pemilik Gemah Ripah mengatakan, selama dua pekan permintaan sari olahan rempah meningkat. Bahkan meningkatnya bisa dibilang dua kali lipat. Menurutnya, jika sebelum wabah corona merebak penjualannya berkisar 40 pak untuk sepekan, tapi sekarang bisa menjual 40 pak hanya sehari.

“Yang paling banyak permintaan itu itu sari olahan jahe merah. Jika sehari saya bisa menjual 40 pak, maka yang 20 pak itu sari olahan jahe merah,” ungkap perempuan yang akrab disapa Jitun kepada betanews.id.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus menuturkan, memproduksi sari olahan rempah dari jahe merah, jahe emprit, kencur, temulawak, dan kunyit. Menurutnya, kandungan zat yang ada di rempah tersebutlah yang konon bisa menangkal virus corona.

“Kelima rempah yang saya produksi itu memang terkenal mengandung zat yang bisa menjaga ketahanan tubuh. Jadi bisa menangkal aneka virus, termasuk corona,” ujar Jitun sambil lanjut mengaduk adonan rempah.

Dia mengaku meski saat ini permintaan meningkat, dirinya tidak berniat menaikkan harga. Karena dia tidak ingin berlaku culas, atau pun mencari keuntungan dari kesusahan orang lain.

“Sebenarnya aneka rempah dari petani harganya sudah naik. Untuk jahe merah saja sekarang dari petani per kilogram Rp 55 ribu. Padahal dulunya hanya Rp 45 ribu sekilo. Tapi karena saya masih ada untung, saya pun tidak menaikan harga,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, peminat sari olahan rempahnya tidak datang Kudus saja, melainkan juga dari luar daerah. Di antaranya, Boyolali, Semarang, Jakarta hingga Sumatra.

“Saya berharap produksi sari olahan rempah milikku makin diminati. Syukur – syukur kelak bisa tembus pasar luar Negeri. Soalnya orang sana kan suka dengan rempah,” harap Jitun sembari tersenyum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Komunitas Bus Mania: ‘Bus Sekarang Bagus-Bagus, Tapi Toiletnya Masih Ada yang Kotor’

0
20200308_BETA_BUS_MANIA
Anggota Bus Mania Community berfoto bareng Ganjar. Foto: IST

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejumlah pecinta bus atau sering disebut bus mania dari berbagai daerah di Indonesia datang dan berkumpul di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Komunitas yang sudah terbentuk 12 tahun itu melakukan kopi darat (kopdar) untuk merayakan ulang tahun. Baca cerita hingga kritik yang muncul untuk pengelola bus, di antaranya toilet bus yang kotor.

Komunitas tersebut dinamai Bus Mania Community. Zainal Arifin, Ketua Pusat Bus Mania Community menceritakan, komunitasnya terbentuk berawal dari obrolan di media sosial. Pengalaman naik bus yang dibagi di media sosial tersebut mengundang banyak pecinta bus lain yang kemudian berbagung.

Anggota Bus Mania Community meminta swafoto bersama Ganjar Pranowo. Foto: IST

“Selain membagi kisah suka duka naik bus, kami juga saling berbagi tentang keunikan bus. Keunikannya mulai dari desain interior, lampu sampai klakson. Intinya kami dari berbagai daerah ini disatukan karena sama-sama suka naik bus,” ujar Zainal, di sela perayaan ulang tahun komunitas, Minggu (8/3/2020).

Baca juga:

Dalam pertemuan untuk merayakan ulang tahun komunitas ke-12 tersebut, hadir anggota dari sejumlah daerah di Indonesia. Di antaranya datang dari Sumatera Selatan, Bali, Jawa Tengah, Jakarta, Banten, Kalimantan hingga Ternate.

Di komunitasnya itu, kata Zainal, dia dan anggota lain sering berdiskusi tentang banyak hal, termasuk tentang kelaikan fasilitas bus. Menurutnya, saat ini banyak perusahaan otobus yang memiliki kendaraan yang bagus. Bahkan bus ekonomi sekarang sudah menggunakan AC. Namun tak jarang toilet bus masih kotor.

“Kami juga sering mengupas kebijakan-kebijakan pemerintah tentang perhubungan daran. Kami selalu berdiskusi dengan dinas-dinas perhubungan dan juga pengusaha agar bus-bus dirawat dengan baik, terminal juga dikelola dengan baik. Karena ini untuk kemajuan transportasi di Indonesia,” katanya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang mendengar ada perayaan ulang tahun Bus Mania Community tertarik untuk datang. Apalagi, perayaan tersebut dihadiri anggota dari berbagai daerah. Ganjar mengkhususkan datang, bahkan rela terbang dari Bandung untuk bisa bertemu dengan para anggota komunitas.

“Menarik banget. Ternyata dihadiri seluruh orang dari Indonesia. Dan mereka adalah orang-orang yang peduli pada transportasi umum,” kata Ganjar.

Ganjar menambahkan, ide-ide yang dilontarkan para pecinta bus tersebut sangat brilian. Dengan rajin naik bus, mereka bisa ngecek jalan, sistem transportasi sampai mengawal kebijakan pemerintah. Apa yang dilakukan oleh anggota Bus Mania Community itu, menurut Ganjar sederhana, tapi mampu mendorong secara optimal agar layanan publik transportasi menuju ke arah yang lebih baik.

“Tentu kritikannya sangat bagus, mereka mengakui toiletnya kotor, maka pengelola, penumpang semuanya harus menjaga. Mereka juga punya catatan, sopir busnya jangan ugal-ugalan. Tapi juga punya catatan bus sekarang sudah bagus-bagus, ekonomi saja sudah pakai AC. Ini kemajuan yang bagus banget,” kata Ganjar.

Ganjar berpesan agar kebersihannya juga diperhatikan. Terlebih menyikapi perkembangan situasi saat ini yang masih diresahkan persebaran virus Corona. Ganjar mendorong agar pecinta dan pengusaha bus mulai saat ini lebih peduli terhadap kebersihan handle bus, tempat duduk maupun seluruh pelayanannya.

Editor: Suwoko

- advertisement -