Beranda blog Halaman 1880

Ada Sentuhan Cinta, Tanaman Hias Milik Giat Diburu Pembeli

0
Salah satu koleksi tanaman hias milik Giat. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan tanaman berbentuk tanda cinta tampak berjajar di tepi selatan Jalan Cut Nyak Dien. Tepatnya di sebelah timur lampu merah GOR Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di antara tanaman, terlihat seorang pria mengenakan topi bulat sedang memberi intruksi beberapa pekerja. Pria tersebut yakni bernama Giat, pemilik usaha tanaman hias, yang punya pandangan, jika sesuatu dilakukan dengan cinta akan menghasilkan sebuah keindahan.

Tanaman hias aneka bentuk di lahan milik Giat. Foto: Rabu Sipan

Giat mengaku memulai usaha di bidang tanaman hias di Kudus sejak tahun 1995. Sejak mulai usaha di tanaman hias, dirinya tetap memegang teguh pemikirannya. Apalagi usaha tanaman hias itu bisa diberi sentuhan cinta agar lebih indah. Saat keindahan sudah terwujud, maka pelanggan pun akan berdatangan.

“Jika pelanggan berdatangan, tentunya keuntungan pun bisa kita raup. Kita tidak usah repot – repot memasarkan aneka tanaman. Tapi karya kita yang indah dan penuh sentuhan cinta akan dihargai dengan sesuai oleh orang lain,” jelas Giat kepada betanews.id

Pria yang berasal dari Purwokerto itu mengaku sangat mencintai seni. Karena seni adalah hasil cipta, karya dan karsa manusia yang dituangkan pada lukisan, pahatan dan tanaman. Dan dirinya termasuk pekerja seni yang menuangkan idenya pada tanaman.

Dia menambahkan, membentuk aneka tanaman hiasnya dengan berbagai macam pola. Ada yang berbentuk tanda cinta yang dijual antara Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Ada juga yang berbentuk aneka hewan, di antaranya gajah, harimau, kuda hingga hewan purba dan mobil.

“Untuk tanaman berbentuk hewan dan mobil dijual mulai Rp 5 juta hingga Rp 9 juta. Kami juga membuat tanaman yang kami bentuk rumah Estimo suku Eglo yang kami tawarkan Rp 30 juta hingga Rp 40 juta,” urainya.

Giat menuturkan, tanaman yang dibentuk aneka hewan, mobil, tanda cinta serta rumah itu berjenis Hingkip Marten. Ada juga Mutiara Selok, Melati Kosta dan lainnya. Selain jenis tanaman tersebut dia juga menjual aneka bunga pada umumnya dan rumput gajah mini.

“Selain aneka bentuk yang tersedia, kami juga menerima pesanan tanaman dengan bentuk sesuai yang diinginkan. Misal berbentuk tulisan, lambang sebuah perusahaan dan lainnya. Pokoknya apapun pesanan pelanggan kami siap melayani,” ungkapnya.

Dia mengaku, sudah memiliki banyak pelanggan. Kebanyakan pelanggannya itu para pedagang tanaman hias. Selain dari Kudus, pelanggannya juga ada yang dari Jepara, Pati, Rembang serta semarang.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Cerai dan Punya Utang Ratusan Juta, Tina Bangkit Buka Toko Ikan Hias dan Akuarium

2

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa akuarium tampak tersusun rapi di dalam toko yang berada di tepi Jalan Kudus – Jepara, tepatnya di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Di dalam toko terlihat seorang pria sedang duduk sambil membuka puluhan tutup botol. Di ruangan lain tampak seorang perempuan mengenakan kaus oblong putih sedang melayani pelanggan. Perempuan tersebut yakni Tina Hernani (38) pemilik usaha ikan hias dan akuarium.

Tina sedang melayani pembeli ikan hias di toko miliknya. Foto: Rabu Sipan

Tina Hernani mengatakan, usahanya tersebut bernama Maja Aquarium, yang dirintisnya pada tahun 2008. Saat itu dia sudah menikah. Menurutnya, usahanya tersebut lumayan hasilnya dan bisa buat beli beberapa bidang tanah serta lainnya. Namun pada tahun 2017 dia mengalami musibah. Bahtera rumah tangganya karam dan harus menanggung utang sebesar Rp 250 juta.

“Pada tahun 2017 merupakan tahun yang berat. Usaha yang saya rintis sekian tahun selalu merugi. Puncaknya, saya harus menanggung utang Rp 250 juta. Serta di tahun itu pula, saya harus pisah sama suami dan utang dibebankan pada saya semua,” ungkap perempuan yang akrab disapa Tina kepada betanews.id

Dia mengungkapkan, setelah semua musibah yang menimpanya, sedikit demi sedikit dia mulai menata hidup serta usahanya. Dengan menjual barang dan ikan hias yang tersisa di toko, kemudian hasilnya dibelanjakan lagi. Beberapa koleganya juga tetap percaya sama dia, hingga diperbolehkan membawa barang terlebih dulu dan bayar bila sudah laku.

“Aku bersyukur dengan berjalannya waktu, utang – utangku bisa saya cicil. Sampai saat ini utang saya sudah berkurang Rp 100 juta. Semoga usahaku tetap lancer, sehingga bisa untuk melunasi utang – utangku secepatnya,” ungkapnya.

Baca juga:

Perempuan yang menjadikan rumah sekaligus tempat usahanya tersebut menuturkan, di tokonya tersebut menyediakan akuarium berbagai ukuran. Dimulai dari harga Rp 8 ribu sampai Rp 600 ribu per unit. Selain itu, ada juga aneka peralatan maupun hiasan untuk akuarium. Serta berbagai macam ikan hias.

Selain akuarium, dia juga menyediakan aneka ikan hias. Dari Cupang, Koi, hingga Arwana ada semua di toko miliknya. Dia juga menyediakan pakan, obat – obatan serta peralatan untuk menangkap ikan. Menurutnya tokonya tersebut terlengkap di Kudus untuk kategori ikan hias dan peralatan akuarium.

“Saat ini pelanggan Toko Maja Aquarium juga sudah lumayan banyak. Selain warga Kudus, juga ada yang datang dari Jepara, Pati, Demak dan sekitarnya. Karena toko saya itu selain paling lengkap juga paling murah di Kudus,” ungkap Tina.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Saran Ganjar Agar Anak Mau Konsumsi Buah dan Sayur

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur, menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, harus dimulai dari orang tua. Orang tua tidak cukup mengenalkan dan memberikan penjelasan kepada anak tentang manfaat buah dan sayur melainkan harus memberikan teladan yang baik.

“Tugas kita sekarang adalah mengajarkan kepada anak-anak kita untuk memakannya (buah dan sayur). Syukur-syukur kalau orangtua mau mengajari mereka seperti tadi ada anak-anak menanam. Jika anak-anak kita mengerti apa yang ditanam, kemudian mau makan (buah dan sayur) maka kebutuhan gizi bisa terpenuhi,” katanya saat membuka Festival Buah Jawa Tengah tahun 2020 di Alun-alun Bung Karno, Ungaran, Kabupaten Semarang, Sabtu (7/3/2020).

Hal itu menurutnya perlu dilakukan, sebab, dari data Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, tingkat konsumsi sayuran dan buah-buahan di Jawa Tengah tergolong masih rendah. Dari kebutuhan 400 gram per orang per hari, tingkat konsumsi masyarakat hanya 180 gram per orang per hari.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Suryo Banendro mengatakan, Festival Buah Jawa Tengah 2020 ini diselenggarakan untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur oleh masyarakat juga mengapresiasi buah lokal.

“Festival ini menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman apresiasi buah lokal terkait dengan konsumsi. Mengingat angka konsumsi buah kita masih belum sesuai dengan anjuran dari,” kata Suryo.

Suryo menambahkan, ada 29 jenis buah yang dipamerkan dalam festival yang digelar Sabtu-Minggu (7-8/3/2020). Yang menarik, dalam festival yang telah digelar untuk kali kelima ini, dipamerkan buah-buahan langka seperti buah Wuni dan Sawo Belanda.

- advertisement -

Asyiknya Belajar Olahan Kelor di Lokasi Wisata Edukasi Komunitas Pangan Sehat

0

BETANEWS.ID, PATI – Suara mesin penggiling mie terdengar bising di antara riuhnya puluhan mahasiswi yang sedang berkumpul di sebuah saung yang terbuat dari bambu di lokasi Wisata Edukasi Komunitas Pangan Sehat (WeKPS), yang berada di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Satu di antara mahasiswi tersebut, yakni Dina Ayu Septiani, terlihat sedang sibuk menggiling tepung yang sudah dicampur dengan daun kelor yang didapatkan dari lokasi setempat.

Dina, begitu sapaan akrabnya, merupakan mahasiswi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang sedang melaksanakan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Kedungbulus. Kali ini, mereka sedang mengikuti program cooking class yang digelar WeKPS. Di mana, kegiatan tersebut merupakan program rutin yang ada di WeKPS.

Program tersebut sejalan dari kegiatan mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN. Di mana, ada program kewirausahaan yang menjadi agenda mahasiswa UPGRIS saat melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Dalam kegiatan KKN ini, kami ada beberapa program yang menjadi agenda untuk kami laksanakan selama melakukan pengabdian di masyarakat ini. Yakni, ada bidang Pendidikan, kesehatan, lingkungan dan satunya lagi yaitu kewirausahaan. Nah untuk kegiatan cooking class merupakan bagian dari program kewirausahaan,” ujar perempuan berhijab tersebut.

WeKPS, katanya, menjadi lokasi yang menjadi salah satu jujugan belajar ketika dirinya bersama mahasiswa lain melaksanakan KKN tersebut. Setidaknya, sudah tiga kali pihaknya mengikuti program yang ada di WeKPS. Baik itu program cooking class, membuat kerajinan dari limbah plastik, budidaya tanaman dan lainnya.

Khusus untuk kelas memasak, dirinya mengaku sangat tertarik dengan program yang ada di tempat tersebut. Sebab, pihak pengelola wisata memaksimalkan tanaman kelor yang di Desa Kedungbulus, khususnya di lokasi wisata yang populasinya cukup banyak. Tanaman kaya akan manfaat untuk kesehatan ini, kemudian diolah menjadi ragam makanan oleh pengelola wisata.

“Saya baru tahu, ternyata kelor itu bias diolah menjadi berbagai makanan. Misalnya mie dan keripik. Dan ternyata rasanya enak, seperti makanan pada umumnya. Hal ini menjadi bekal bagi kami untuk nanti dikembangkan usai kegiatan KKN ini,” kesannya.

Sementara itu, Muryati, instruktur dari program cooking class menyampaikan, jika cooking class menjadi program rutin yang digelar setiap sepekan sekali. Dalam hal ini, pihaknya lebih fokus terhadap olahan dari sumber daya alam yang ada sekitar, khususnya kelor. Sebab, kelor menjadi tanaman unggulan yang ada di Desa Kedungbulus.

“Kelor ini menjadi produk utama dari WeKPS. Selain banyak tumbuh di pekarangan rumah, daun kelor juga mudah untuk dibudidayakan serta memiliki nilai gizi yang tinggi. Sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan,” kata perempuan yang juga ketua Komunitas Pangan Sehat ini.

Program cooking class ini sendiri, dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. Baik itu dari instansi pendidikan, komunitas, pelajar, mahasiswa ataupun masyarakat umum. Dirinya menegaskan, apa yang diolah ditempat tersebut merupakan makanan sehat, karena yang disajikan benar-benar alami. Artinya, tanaman yang tumbuh tidak menggunakan pupuk kimia, tetapi menggunakan pupuk kotoran binatang dan juga daur ulang sampah.

Ditambahkan Heri Purwaka, jika WeKPS tersebut merupakan wahana edukasi untuk masyarakat. Harapannya, keberadaan lokasi ini, pengunjung tidak hanya berwisata saja, namun bias belajar berbagai hal di tempat ini. Baik itu terkait dengan peternakan, olahan pangan, kerajinan dari sampah, bercocok tanam dan lain sebagainya.

“Keberadaan WeKPS ini sebenarnya baru ya, sekitar dua tahunan. Ide untuk membuat wahana ini berawal dari diskusi dengan teman-teman anggota KPS, sehingga muncul wacana untuk mengembangkan wahada wisata edukasi. Tentu tujuan kami, agar tempat ini tak hanya sekadar sebagai tempat wisata, tetapi juga bisa menjadi tempat edukasi bagi pengunjung. Baik itu pelajar ataupun masyarakat umum,” ujar Penasehat WeKPS tersebut.

Selain berwisata dan belajar, katanya, pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas yang dikembangkan KPS, yakni makanan berbahan dasar daun kelor. Di tempat ini, kelor diolah menjadi berbagai makanan atau minuman. Di antaranya, menjadi cendol, keripik, mie, teh, ataupun panganan tradisional.

- advertisement -

Penjahit Ganteng Ini Siap Ubah Tas Milikmu Jadi Baru Lagi

0
Denny sedang melakukan reparasi tas. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin jahit terdengar di sebuah ruko di samping sebuah rumah. Terlihat seorang pria berwajah ganteng sedang menjahit bagian dalam tas. Dia adalah Denny Darmawan (25) warga Desa Kajeksan RT 03 RW 02, Kecamatan Kudus, yang merupakan pemilik D & D Bag Repair dan Costum.

Denny sedang menjahit tas milik konsumen untuk direparasi. Foto : Ahmad Rosyidi

Sambil mereparasi tas, dia sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usaha yang dimulainya sejak 2016 itu. Sebelumnya, dia pernah bekerja di tempat produksi dan reparasi sepatu dan tas. Bekerja selama dua tahun, kemudian dia keluar dan berganti pekerjaan di Event Organizer (EO).

Sambil jadi (EO), pria yang akrab disapa Denny itu membuka jasa reparasi sepatu dan tas. Karena banyak pelanggan, akhirnya dia memilih fokus dengan usaha reparasinya itu.

“Pertama saya cuma bisa mengerjakan sepatu saja, kemudian tas dikerjakan teman saya. Tetapi 90 persen pelanggan reparasi tas, jadi saya belajar reparasi tas juga. Dulu satu tas butuh waktu tiga hari, sekarang sehari satu tas bisa,” ungkap anak kedua dari lima bersaudara itu, Rabu (26/2/2020).

Untuk harga reparasi ringan, dia mematok harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 100 ribu. Jika reparasi ganti total sekitar Rp 100 hingga Rp 200 ribu, menyesuaikan tingkat kerumitan. Saat ini, Denny mengaku bekerja sama dengan tiga temannya.

“Meski sudah kerja sama dengan tiga teman, saya masih merasa kekurangan tenaga. Pelanggan harus menunggu dua bulan jika ingin reparasi di sini. Saya juga punya lima reseler, dua orang Jepara, dua orang Pati dan satu orang Semarang,” terangnya.

Dia juga menambahkan, bahwa reparasi di tempatnya akan mendapat garansi kulit hingga satu tahun. Selain itu, juga ada garansi resleting dan jahitan hingga tiga bulan. Selain mengandalkan reseler, dia juga aktif memasarkan melalui media sosial dan komunitas-komunitas.

“Saya memang lebih suka berwirausaha, jadi kuliah saya tidak saya teruskan. Sebelum usaha ini sudah mencoba beberapa usaha, pernah jual beli motor, produksi dan jual beli pakaian, jual lele juga pernah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Permudah Laporan SPT Tahunan Secara Online, KPP Pratama Kudus Fasilitasi Kelas Pajak Gratis

0
Ilustrasi: Cara mudah lapor SPT Tahunan secara online. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu-lalang kendaraan terdengar di tepi Jalan Niti Semito, Sunggingan, Kudus. Puluhan orang tampak duduk menunggu antrean di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kudus, Jumat (6/3/2020). Seorang wanita mengenakan jilbab berwarna abu-abu terlihat sedang memberi penjelasan kepada salah satu wajib pajak yang sedang mengikuti Kelas Pajak.

Dia tak lain adalah Intan Kurnia Putri, dia sudi berbagi informasi kepada betanews.id tentang kebijakan KPP Pratama Kudus yang mulai tahun 2020 mewajibkan laporan pajak secara online. Demi mendorong lapor pajak secara online, KPP Pratama Kudus membuka kelas pajak untuk membantu warga yang masih kesulitan.

Salah satu wajib pajak sedang mengikuti Kelas Pajak yang diadakan KPP Pratam Kudus secara gratis. Foto: Ahmad Rosyidi

“Sejak 2015 sudah bisa online, tetapi mulai tahun 2020 diwajibkan secara online. Kelebihan laporan online bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, jadi tidak perlu antre. Untuk E-Filing pertama harus diaktivasi di Kantor Pajak terdekat. Setelah mendapat E-Filing, kemudian mengakses djponline.pajak.go.id dan melakukan registrasi,” jelas Intan sapaan akrabnya.

Syarat yang harus disiapkan, di antaranya bukti pemotongan 1721 A1 bagi wajib pajak pegawai swasta dan 1721 A2 bagi pegawai negeri sipil (PNS). Untuk pengusaha, harus menyiapkan rekapitulasi omzet selama satu tahun, selanjutnya menyiapkan harta dan kewajiban atau utang yang dimiliki, kemudian data susunan anggota keluarga sesuai Kartu Keluarga (KK).

“Bagi wajib pajak yang masih bingung bisa langsung datang ke KPP Pratama Kudus untuk mengikuti Kelas Pajak. Nanti akan diajarkan cara melaporkan SPT tahunan secara online. Kita buka mulai Januari hingga tanggal 31 maret 2020, gratis tanpa dipungut biaya. Jika terlambat melaporkan SPT Tahunan Pribadi akan dikenakan denda Rp 100 ribu,” jelas Pelaksana Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan di KPP Pratama Kudus itu.

Intan juga menambahkan, bahwa KPP Pratama Kudus memang tidak memungut biaya apapun dalam memberikan pelayanan. Pada tahun 2019, KKP Pratama Kudus telah mendapat piagam penghargaan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).

Sambil menunjukan aktivitas di Kelas Pajak, Intan terlihat membantu satu di antara sejumlah warga yang mengikuti kelas tersebut. Warga itu bernama Yuliyanto (30). Dia mengaku sedang melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pribadi. Yuliyanto juga menambahkan, jika tidak ada kesulitan setelah didampingi petugas.

“Sekarang saya sudah bisa, ternyata cukup mudah, jadi ke depan saya sudah bisa laporan pajak sendiri secara online. Selain gratis, saya juga dilayani dengan baik dan ramah,” tambah warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Peminat Kerajinan dari Bambu Hanya Moment Tertentu, Hadi Ikuti Permintaan Pasar

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan bambu terlihat di depan sebuah rumah di Jl Suryo Kusumo Gang 1, Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang memotong kayu di depan rumah itu. Dia tak lain adalah Hadi Saputro (29), pemilik Bambu Jepang Craft.

Pria yang akrab disapa Hadi itu sudi bercerita kepada betanews.id tentang usahanya. Dia membuat kerajinan dari bambu sejak tahun 2015. Biasanya, dia membuat saat ikut memeriahkan acara karnaval, kirab atau lomba antardesa.

Hadi Saputro sedang membuat kerajinan papan nama dari kayu jati Belanda. Foto : Ahmad Rosyidi

“Produk dari bambu hanya saya buat untuk acara tertentu saja. Karena orang tertentu yang mau membeli. Harganya mahal, selain itu juga tidak banyak orang yang suka dari bahan bambu,” terangnya, Selasa (18/2/2020).

Bambu Jepang Craft merupakan nama yang diberikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus kepada produknya. Saat itu digunakan untuk mengisi absensi di sebuah acara. Karena harus ada nama produknya, jadi diberi nama itu dan digunakan hingga sekarang.

“Nama itu sejak tahun 2018, meski menggunakan nama Bambu Jepang, tetapi saat ini produksi saya kebanyakan dari kayu jati Belanda. Saya mengikuti permintaan pasar, yang lagi ramai apa ya saya bikin,” terang anak pertama dari dua bersaudara itu.

Dari bahan kayu jati Belanda, Hadi membuat gantungan kunci, jam kayu, foto kayu dan papan nama. Harga mulai Rp 2.500 hingga Rp 150 ribu. Untuk produk dari bambu hanya dibuat jika ada pesanan atau acara tertentu, dengan harga mulai Rp 2.500 hingga Rp 1,5 juta.

Souvenir dari bahan kayu jati Belanda saat ini sudah dipasarkan secara online. Untuk konsumen sendiri hampir dari seluruh Indonesia. Menurutnya pesanan ramai saat musim pernikahan. Penghasilan bersih Hadi dalam sepekan minimal Rp 500 ribu. Untuk pemesanan saat ramai harus menunggu sekitar satu pekan.

“Kalau musim nikah, saya sampai kewalahan. Pernah ada yang membantu tetapi hasilnya kurang maksimal dan harus mengulang. Jadi saat ini saya kerjakan sendiri,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Boking Dulu Jika Ingin Kilapkan Mobil dan Motor di Scuto Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Pramuka, Desa Melati Lor, Kecamatan Kudus, tampak sebuah plang bertulis Scuto. Tampak sejumlah orang ada di bengkel perawatan mobil dan motor itu. Satu di antaranya sedang membersihkan interior dalam mobil. Dia yakni Dedi Iriyanto (28), pemilik Scuto Kudus. Sambil membersihkan mobil, dia sudi bercerita kepada betanews.id tentang usahanya.

Beberapa karyawan Scuto Kudus sedang melakukan perawatan mobil pelanggan. Foto : Ahmad Rosyidi

Pria yang akrab disapa Dedi itu mengungkapkan, jika saat ini sedang mengerjakan dua mobil. Di Scuto Kudus sendiri hingga beberapa hari kemarin masih ada antrean, sehingga pelanggan butuh boking dulu kalau ingin melakukan perawatan mobil di sana.

“Proses pengerjaan satu mobil di sini membutuhkan waktu selama 24 jam. Sedangkan untuk motor lebih cepat, hanya 6 hingga 8 jam. Dalam satu hari bisa mengerjakan maksimal dua mobil dan empat hingga lima motor. Harus boking terlebih dahulu, karena ada antrean yang harus dikerjakan,” terang pria asli Purbalingga itu.

Fungsi dari Scuto, katanya, melapisi cat mobil dan melindungi dari bercak dan jamur yang biasanya disebabkan kandungan kapur dari air. Dengan lapisan Scuto cat mobil akan lebih awet dan mengkilat. Scuto Kudus sendiri memberi garansi hingga dua tahun, dan garansi berlaku di bengkel Scuto seluruh Indonesia.

“Harga perawatan mobil di sini mulai Rp 3 juta hingga Rp 8 juta. Sedangkan motor mulai harga Rp 750 ribu hingga Rp 2,5 juta. Selain itu juga ada glasscoating yang fungsinya untuk melindungi kaca mobil, harganya mulai Rp 1,5 hingga Rp 1,750 ribu,” terangnya, Sabtu (29/2/2020).

Pilihan di Scuto Kudus sendiri ada jenis Gold dengan harga kisaran Rp 3 juta hingga Rp 6,5 juta. Dan jenis platinum mulai harga Rp 4,5 juta hingga Rp 8 juta. Omzet Scuto Kudus dalam satu bulan minimal Rp 50 juta, dan jika ramai pelanggan bisa hingga Rp 120 juta.

Satu di antara sejumlah pelanggan Dedi, yaitu Muhammad Kana (32), mengaku puas dengan hasil pekerjaan Scuto Kudus. Menurutnya, hal detailing tidak bisa dikerjakan sembarang bengkel dan dia merasa cocok dengan hasilnya. “Saya sudah membawa tiga motor saya ke sini, selain hasilnya memuaskan juga harganya terjangkau,” tambah warga Sunggingan, Kota, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lebarkan Bisnis Salon Kendaraan, Kudus Jadi Pilihan Scuto untuk Buka Gerai

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah ruko di Desa Melati Lor, Kecamatan Kudus, terlihat mobil berwarna abu-abu yang mengkilat. Seorang pria mengenakan baju hitam dengan tulisan Scuto di bagian dada kirinya tampak berdiri melihat dua orang sedang memoles mobil. Dia tak lain adalah Dedi Iriyanto (28), satu-satunya pemilik piagam master trainer Scuto.

Pemilik Scuto Kudus itu menjelaskan, awalnya ada dua pilihan antara Kudus dan Magelang untuk dibuka sebagai cabang. Kudus, menurutnya lebih strategis jika dibanding Magelang. Karena Magelang cukup dekat dengan Jogja yang sudah ada cabang Scuto di sana. Sedangkan Kudus dirasa lebih strategis dan bisa menarik pelanggan dari Pati dan Jepara.

“Scuto Kudus ini buka sejak September 2019. Karena melihat Kudus lebih strategis dibanding Magelang akhirnya saya memilih Kudus. Selain itu, saya juga melihat data pelanggan, permintaan dari daerah Kudus Pati dan Jepara cukup bagus,” terang bapak satu anak itu, Sabtu (29/2/2020).

Sebelumnya, dia juga pernah menjadi master trainer Scuto di Indonesia selama sembilan tahun. Pria yang akrab disapa Dedi itu juga mendapat piagam master trainer Scuto yang hanya satu di Indonesia.

“Saya ikut Scuto mulai dari nol, sembilan tahun bekerja di sana kemudian saya mulai membuka cabang sendiri di Kudus. Selain bisnis, saya juga memberi edukasi perawatan mobil untuk konsumen,” ungkapnya kepada betanews.id.

Menurutnya, kelebihan dari produk Scuto ini pada perawatan cat mobil menjadi lebih awet. Tidak hanya merawat cat, Scuto Kudus juga bisa melakukan perawatan interior mobil tanpa efek samping.

“Scuto sendiri adalah produk dari USA yang dikemas di Indonesia. Dan mendapat predikat Superbrans Indonesia dengan predikat salon mobil terbaik dan cabang terbanyak,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Siswa ke Ganjar, ‘Saya Pernah Ditendang dan Teman Juga Pernah Dipukul Guru’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berdialog dengan salah satu anak dalam acara Dialog Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak bersama Unicef, di Wisma Perdamaian, Semarang, Jumat (6/3). Foto : Ist

BETANEWS.COM, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai memiliki komitmen yang tinggi untuk menggarap perlindungan. Hal itu menjadi salah satu alasan Wakil Khusus Sekjen PBB Bidang Perlindungan Anak, Dr. Najat Maalla M’jid memilih Jateng sebagai wilayah untuk mengkampanyekan target maksimal penghapusan kekerasan terhadap anak pada tahun 2030.

Untuk mencapai target tahun 2030 kekerasan terhadap anak dihapuskan di dunia, Indonesia khususnya, PBB mengajak seluruh stakeholder menyiapkan segala program dan kebijakan yang ramah dengan anak. Di Indonesia, khususnya di Jateng menurut Dr Najat dalam beberapa tahun terakhir telah menyiapkan hal tersebut.

“Jawa Tengah sangat beruntung memiliki Gubernur yang bermental psikolog dan dia menjunjung keberagaman dan toleransi. Ini jadi modal utama mempermudah langkah kita, sehingga anak-anak bisa diterima di seluruh lapisan di sini,” kata Dr Najat dalam Dialog Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak bersama Unicef, di Wisma Perdamaian, Semarang, Jumat (6/3), yang juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan akademisi dari Universitas Diponegoro, Dr Amirudin.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerima cindera mata berupa kaos. Foto : Ist

Selama dua hari dia berkunjung ke Semarang, Dr. Najat mengekplorasi dunia anak setempat dengan keliling beberapa tempat di Semarang yang ramah anak serta berdialog dengan mereka. Hal tersebut dia lakukan untuk memastikan bahwa hak anak di Semarang dan Jawa Tengah hak-haknya benar-benar terpenuhi.

“Juga memastikan suara anak-anak di dengar di seluruh dunia. Tahun 2030 kekerasan terhadap anak harus dihapuskan. Tugas kita mengawal program dan kebijakan pemerintah agar itu benar-benar terealisasi,” katanya.

Kekerasan terhadap anak, aksesibilitas dan bullying jadi bahasan utama dalam dialog tersebut. Selain narasumber tadi, anak-anak peserta dialog juga blak-blakan menyampaikan keluh kesah maupun pendapatnya.

Bahkan, salah satu siswa SMP di Semarang mengaku pernah menjadi korban bullying. Bukan hanya kawannya, dia mengaku juga mendapat bullying dari gurunya, dari cemoohan sampai perlakuan kasar secara fisik.

“Pernah ditendang dan remehkan. Ada juga teman saya yang dipukul sama guru itu,” kata salah satu siswa.

Selain siswa tersebut, ada juga Melati dari komunitas Satu Harapan Semarang yang berharap seluruh sekolah di Jawa Tengah bisa menerapkan sistem inklusi. Bukan hanya di di lingkungan pendidikan, tapi menurutnya sistem inklusi juga mesti diterapkan di kantor-kantor pemerintah dan tempat-tempat ibadah.

Sementara itu, menurut Ganjar Pranowo, anak-anak peserta dialog sangat terbuka saat menyampaikan pendapat dan keluh kesahnya. Sebagaimana yang dialami salah satu siswa SMPN di Semarang dan Melati dari Komunitas Satu Harapan. Pengungkapan secara terbuka tersebut dianggap Ganjar lebih baik daripada kelak jadi bom waktu bagi anak.

“Anak-anak begitu terbuka mengekspresikan dan bercerita masalah mereka tentang bullying. Karena kalau ini akumulatif, akan menjadi beban psikologis bagi anak,” ungkapnya.

Ganjar mengatakan, dia telah mengutus seseorang untuk menyelesaikan persoalan tersebut dan memfasilitasi pertemuan antara anak, wali murid, guru dan kepala sekolah. Ganjar berharap dengan terbukanya ruang komunikasi akan lebih menghangatkan jalinan antara guru dan murid.

“Mudah-mudahan gurunya juga tahu dan berbagi pikiran, kenapa anak itu menjengkelkan bagi guru, dan kenapa sang guru bagi anak itu sangat menjengkelkan. Kalau hari ini mereka bisa menceritakan, mereka juga akan tahu apa yang mesti dicegah, kalimat apa yang tidak boleh keluar, tindakan apa yang tidak boleh dilakukan,” kata Ganjar.

Terkait target PBB untuk menghapus kekerasan terhadap anak pada tahun 2030, Ganjar mengatakan dalam beberapa tahun terakhir program itu telah mengarah ke sana. Namun untuk tahun depan, baik program maupun kebijakan yang berorientasi ramah anak akan lebih diintensifkan.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Ganjar menggandeng para akademisi untuk melahirkan formula yang tepat. Universitas Sebelas Maret salah satunya, lembaga yang sampai saat ini masih menyelenggarakan pendidikan guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ganjar pun menyinggung sampai saat ini sudah terlalu banyak program pemerintah maupun kebijakannya tentang ramah atau perlindungan terhadap anak hanya sebatas lipstik.

“Sekolah inklusi masih jauh. Itu yang layak anak, inklusi selama ini hanya statement, tidak boleh. Sekarang dengan banyaknya kasus maka inklusi harus benar-benar disiapkan termasuk anggaran. Mudah-mudahan provinsi bisa memberikan contoh dengan tahun ini belajar sambil mendesain untuk tahun depan,” pungkasnya.

- advertisement -

Harga Gula Pasir di Kudus Tak ‘Semanis’ Rasanya

0
Anifa, salah satu pedagang sembako di Pasar Bitingan Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANWEWS.ID, KUDUS – Di dalam satu kios yang terletak di lantai dasar pojok barat Pasar Bitingan, Kudus tampak seorang perempuan paruh baya sedang melayani pembeli. Di ruangan lain terlihat seorang pria sedang sibuk memasukkan gula pasir ke dalam kantong plastik. Tempat tersebut yakni Toko Anita, pengepul dan pengecer gula pasir.

Siti Anifa (59) selaku pemilik toko Anita mengungkapkan, tokonya itu menjual aneka kebutuhan dapur. Termasuk menjual gula pasir secara ecer maupun grosir. Tapi, lanjutnya harga gula pasir saat ini tak semanis rasanya. Karena dua pekan terakhir harganya mengalami kenaikan.

Pasar Bitingan Kudus. Di pasar ini, harga gula pasir mengalami kenaikan hingga Rp 16 ribu per kilogram. Foto: Rabu Sipan

“Indikasi kenaikan harga gula pasir itu sejak dua minggu lalu. Dari Rp 11 ribu per kilogram perlahan naik. Hingga hari ini harganya sudah Rp 16 ribu per kilonya,” jelas Anifa kepada Betanews.id, Jumat (6/3/2020).

Anifa mengatakan, karena kenaikan harga tersebut sangat berpengaruh penjualan gula di tokonya. Yang biasanya mampu menjual lima kwintal sehari, kini turun jadi tiga kwintal sehari. Dia mengaku tidak tahu pasti penyebab kenaikan harga gula pasir. Karena menurutnya, pengiriman gula pasir dari agen masih stabil.

“Kalau stok kayaknya masih aman. Soalnya pengiriman dari agen juga masih stabil. Yang beda itu harganya. Karena dari agen, harga gula pasir sudah naik. Kami pun terpaksa menaikan harga juga. Agar tidak merugi,” ungkapnya.

Senada dengan Toko Anita, Toko Hj Suyakmi yang juga berada di Pasar Bitingan Kudus juga menjual gula pasir dengan harga Rp 16 ribu per kilogram. Harga tersebut naik sekitar Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu dari harga normal.

“Kalau di toko saya, itu harga gula pasir naiknya sekitar sepekan yang lalu. Sebelum naik saya menjual gula pasir Rp 11 ribu sekilo untuk para bakul dan ecer Rp 12 ribu per kilo,” ujar Nining Suyakmi pemilik toko.

Perempuan yang akrab disapa Yakmi itu pun menuturkan, akibat kenaikan harga tersebut penjualan gula pasir di tokonya mengalami penurunan. Bila dulu saat harga normal bisa menghabiskan tiga kuwintal gula pasir sehari. Tapi sekarang paling bisa menjual dua kwintal.

Yakmi juga mengaku, tidak tahu pasti sebab kenaikan harga gula pasir. Dia hanya menduga mungkin ada daerah penghasil tebu yang gagal panen atau mungkin ada pabrik gula yang gagal giling, atau gagal produksi.

Dia berharap harga gula pasir segera stabil. Agar penjualannya juga ikut stabil. Apalagi dua bulan lagi puasa. Takutnya harga belum sempat turun malah naik lagi.

“Kasihan masayarakat kecil kalau harganya naik terus. Pengeluaran jadi bertambah. Pedagang juga harus mengeluarkan modal lebih banyak. Soalnya gula pasir tidak boleh utang oleh agennya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Virus Corona Bisa Jadi Momentum Bawang Nasional Berdaulat

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat diwawancarai wartawan usai mengecek kesiapan RSUD Prof Margono, Purwokerto mengantisipasi penangann virus Corona, Jumat (6/3). Foto: Ist

BETANEWS.ID, BANYUMAS – Imbas dari merebaknya virus corona sudah diperhitungkan matang-matang oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Tak hanya soal kesehatan, dampak lain seperti pariwisata ekonomi juga telah dipikirkan matang-matang.

Untuk sektor ekonomi misalnya, Ganjar menegaskan jika dampak corona akan sangat berpengaruh bagi Jateng. Sebab, negara terbesar tujuan ekspor Jateng adalah Amerika Serikat, kemudian Jepang dan China. Nah untuk ekspor ke China itu lanjut Ganjar pasti terpengaruh.

“Tidak hanya ekspor ke China, impor Jateng dari China juga pasti akan terganggu. Contoh tekstil di Jateng itu, kapasnya impor dari China,” ucapnya.

Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dan memberikan tips cuci tangan kepada warga saat mengecek kesiapan RSUD Prof Margono, Purwokerto mengantisipasi penangann virus Corona, Jumat (6/3). Foto : Ist

Maka untuk mengantisipasi itu, pihaknya sudah menyiapkan solusi ekspor atau impor ke negara lain. Selain itu, upaya mencari pengganti barang lain atau substitusi terus diupayakan.

“Misalnya kapas ini, kita sudah punya penggantinya yakni rayon. Pak Presiden juga sudah memerintahkan itu. Jadi sudah kita siapkan semuanya, dan semua sudah dalam kontrol sesuai fungsi masing-masing,” katanya kepada wartawan saat mengunjungi RSUD Margono Soekarjo Banyumas, Jumat (6/3).

Kemudian, substitusi bawang, lanjut Ganjar juga terus diupayakan. Mengingat selama ini, ketersediaan bawang di Indonesia mayoritas dari China.

“Indonesia itu hanya mampu memenuhi kebutuhan bawang dalam negeri 5 persen, selebihnya impor. Impornya dari China. Maka sekarang ini jadi momentum kita untuk nanam bawang sebanyak-banyaknya, biar kita daulat,” terangnya.

Pihaknya juga menegaskan jika sudah menggelar rapat untuk mengantisipasi dampak virus tersebut.”Sudah kami rapatkan dan mencari solusi atas dampak-dampak yang terjadi. Selain kesehatan, kami juga sudah bicara soal dampak ekonomi dan pariwisata dengan berbagai pihak terkait,” imbuhnya.

Dampak pariwisata lanjut dia, sudah dirasakan oleh Jawa Tengah. Kasus terbaru adalah batalnya kapal pesiar Viking Sun mendarat di Kota Semarang.

“Pariwisata mesti turun, kemarin kapal mau merapat saja harus diskusi panjang. Orang mau berkumpul takut dan sebagainya. Ini yang harus diantisipasi,” tambahnya.

Edukasi kepada masyarakat lanjut dia harus terus dilakukan agar tidak panik dan paranoid. Hidup sehat, olahraga, makan makanan bergizi serta cuci tangan teratur adalah cara mencegah tertularnya penyakit.

“Itu yang mesti kita lakukan, agar masyarakat tidak takut. Makanya setiap saya ketemu masyarakat, selalu saya ingatkan soal itu,” ungkapnya.

Ganjar juga meminta masyarakat tidak panik dan ketakutan soal virus corona. Sebab menurutnya, di Indonesia itu ada penyakit yang lebih mematikan yakni Demam Berdarah Dengue (DBD), Tuberculosis (TBC) dan lainnya.

“Di Indonesia ini ada 250 orang meninggal per hari karena TBC. Siapa yang peduli soal itu, siapa yang takut?. Makanya kami selalu menyampaikan pada masyarakat untuk tidak panik, tidak paranoid pada kasus corona ini. Pemerintah telah mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi ini, masyarakat tenang saja tapi tetap waspada dengan cara menjaga pola hidup sehat,” pungkasnya.

- advertisement -

Melalui Expo, Kerajinan dari Tegar Store Semakin Dikenal

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu lalalng kendaraan terdengar dari sebuah toko di tepi jalan Jl. Dawe-Cranggang, Desa Lau, RT 01 RW 06, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di ruang tamu terlihat seorang wanita berambut panjang mengenakan kaus merah sedang memotong pita. Dia adalah Ika Larasati (24) pemilik Tegar Store.

Beragam kerajinan yang diproduksi oleh Tegar Store. Foto : Ahmad Rosyidi

Ika begitu dia akrab disapa berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya itu. Sejak sekolah menengah pertama (SMP) kelas IX dia sudah membuka jasa service HP. Pada tahun 2017, Ika beralih ke produksi kerajinan, karena menurutnya service HP lebih rumit.

“Kadang juga ada yang udah jadi tapi tidak diambil-ambil. Sudah saya cek semua normal, ada yang dibawa pulang malah rusak lagi. Lebih rumit, enak membuat kerajinan seperti ini, jadi langsung dibayar,” terangnya, Jumat (21/2/2020).

Ika Larasati sedang memajang salah satu kerajinan buatannya. Foto: Ahmad Rosyidi

Harga buket paling murah adalah buket snack, harganya mulai Rp 10 ribu, paling mahal buket make up Rp 600 ribu. Selain itu dia juga membuat art work, untuk gambar satu orang Rp 65 ribu, dan jika lebih banyak orang di gambarnya bisa lebih mahal.

Anak pertama dari dua bersaudara itu juga merinci produk yang lain, seperti plan art mulai Rp 85 ribu hingga Rp 150 ribu. Explosion box mulai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, boneka profesi Rp 35 ribu hingga Rp 350 ribu. Undangan seribu rupiah hingga empat ribu, dan mahar Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu.

“Awalnya saya ikut pelatihan membuat prakarya, kemudian saya tekuni dan buka usaha ini. Saya promosi lewat expo, dan semenjak aktif ikut expo produk saya jadi lebih dikenal. Rata-rata omzet saya per bulan sekitar Rp 4,5 juta, dan pada momen wisuda biasanya lebih dari itu,” ungkapnya.

Menurutnya, kelebihan di Tegar Store pada kerapian dan bisa menyesuaikan dana pelanggan. Ika juga menambahkan, jika setiap hari minimal ada dua pelanggan. Selain membuka toko dia memasarkan secara online.

“Kalau sudah ada bahannya saya juga menerima jasa setting, biasanya mahar yang seperti itu. Saat ini reseller saya ada skitar 10 orang. Ada juga beberapa yang membantu produksi bagian memotong pita tapi dibawa pulang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Toko Eldorado Elektronik, Tak Hanya Termurah di Kudus Tapi Juga Terlengkap

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi selatan Jalan Kudus – Jepara tepatnya di sebelah barat lampu merah Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak sebuah rumah berteras galfalum. Terlihat aneka barang elektronik memenuhi ruangan dan teras rumah tersebut. Tempat itu yakni Toko Eldorado Elektronik yang diklaim paling murah se-Kudus, bahkan se-Indonesia.

Parlan, Mareketing Toko Eldorado Elektronik. Foto : Rabu Sipan

Parlan (40) selaku pemasaran toko Eldorado Elektronik menuturkan, toko di tempatnya bekerja itu menjual aneka barang elektronik cacat saat produksi. Karena cacat produksi itulah, aneka barang elektronik tidak dikirim ke distributor. Melainkan dilelang oleh perusahaannya untuk kalangan sendiri dengan harga yang lebih murah. Meskipun cacat produksi, aneka barang elektronik di toko Eldorado masih layak pakai.

Berbagai barang elektronik yang ada di Toko Eldorado Elektronik Kudus. Foto : Rabu Sipan

“Aneka barang elektronik di Toko Eldorado memang barang BS pabrik. Tapi BS nya itu karena cacat bodi bukan cacat mesin. Karena alasan cacat bodi itulah, toko Eldorado Elektronik berani memberi harga lebih murah dari toko lainnya,” ungkap Parlan kepada betanews.id

Pria warga Desa Prambatan, Kaliwungu itu mempersilakan bagi siapa saja untuk membandingkan harga elektronik di tokonya dengan toko tempat lain. Dia pun berani jamin, harga di tokonya yang paling murah. Selain harga, aneka barang elektronik di Eldorado Elektronik mesinnya juga masih orisinil dari pabrik. Bahkan tokonya tersebut berani memberi garansi.

“Biasanya kalau barang cacat produksi pabrik itu tidak bergaransi. Tapi di Eldorado elektronik semua barang bergaransi selama tiga bulan. Karena barang elektronik kami itu hanya cacat bodi bukan cacat mesin,” ungkapnya.

Parlan mengatakan, toko Eldorado elektronik itu buka sejak tahun 2017. Saat baru buka, lanjutnya seketika toko Eldorado booming dan terkenal karena harga yang murah. Hampir seluruh warga Kudus berdatangan ke toko di mana dia bekerja. Bahkan saat ini pelanggannya tidak orang Kudus saja melainkan juga ada yang dari daerah sekitar.

Dia menambahkan, toko Eldorado Elektronik menjual berbagai barang elektronik berbagai merek. Ada kulkas, mesin cuci, televisi, AC, home teatre, speaker aktif dan lain sebagainya. Menurutnya, dari semua barang tersebut hampir semuanya laris. Saat ramai sehari bisa menjual 20 unit barang elektronik.

“Sebenarnya Toko Eldorado Elektronik itu selain murah juga lumayan lengkap. Saat ramai, sehari bisa menjual 20 unit barang elektronik. Serta mampu meraup omzet kisaran Rp 700 juta sebulan,” beber Parlan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Virus Corona Merebak, Stok Masker di Kudus Kosong

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak keluar masuk ke dalam bangunan yang berada di tepi Jalan Dr Lukmono Hadi, tepatnya di seberang timur Rumah Sakit Umum Kudus. Terlihat dari mereka ada yang membeli obat. Tapi ada juga yang datang bertanya, kemudian pergi dengan gurat wajah kecewa. Tempat tersebut yakni Apotek Kimia Farma Kudus yang kehabisan stok masker sejak virus corona merebak.

Apotek Kimia Farma di Kudus juga kehabisan stok masker. Foto:Rabu Sipan

Mulyati Wahyuningsih (40) selaku kasir Apotek Kimia Farma Kudus menuturkan, tempat bekerjanya saat ini memang tidak punya stok masker. Dan keadaan itu terjadi sudah lumayan lama. Bahkan lanjutnya, dia tidak bisa mengingat kapan terakhir melayani penjual0an masker di Apotek Kimia Farma.

“Sejak wabah virus corona merebak memang penjualan masker laris manis. Dan sekarang di Apotek Kimia Farma tidak punya stok sama sekali. Kalau pun ada, hanya untuk para karyawan peracik obat,” jelas perempuan yang akrab disapa Ani kepada betanews.id.

Dia mengungkapkan, sebenarnya di Apotek Kimi Farma Kudus, tidak hanya masker saja yang kehabisan stok. Melainkan juga cairan untuk cuci tangan atau biasa disebut hand sanitizer, serta termometer tembak. Menurutnya, ketiga barang tersebut bisa dianggap sebagai pencegahan awal tertular dari virus corona.

“Saat ini, ketiga barang tersebut di Apotek Kimia Farma Kudus kosong. Kami juga sudah menghubungi distributor maupun pusat. Semoga secepatnya ketiga barang itu dikirim dan didrop dari pusat. Untuk harga kami menjualnya dengan harga sama,” ungkap Ani.

Setali tiga uang dengan Apotek Kimia Farma Kudus, Apotek 39 yang berada di tepi Jalan Sunan Kudus, Kelurahaan Demaan, Kudus juga tidak mempunyai stok masker. Menurut Noor Fiana (24) selaku admin alat kesehatan, masker di Apotek 39 sudah lama habis. Dan belum ada pengiriman dari suplaiyer sampai sekarang.

Baca juga

“Stok masker di Apotek 39 itu sudah habis sejak pertengahaan Februari. Dan belum ada pengiriman dari suplaiyer. Begitu juga termometer tembak stoknya kosong,” ungkap perempuan yang akrab disapa Ana.

Perempuan warga Desa Jurang, Kecamatan Gebog itu melanjutkan, berbeda dengan masker dan termometer tembak, di Apotek 39 masih punya stok hand sanitizer. Tapi jumlahnya juga tidak banyak. Sehingga pembeliannya dibatasi agar para pelanggan bisa kebagian semua.

“Di Apotek 39 masih ada stok hand sanitizer, tapi pembelian dibatasi. Setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli dua botol. Itu pun dengan ukuran yang sama,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -