Beranda blog Halaman 1881

Ribuan Wisatawan Manca Kena ‘Getah’ Corona, Tertahan di Laut Dilarang Merapat ke Semarang

0
Ilustrasi Kapal Pesiar Viking Sun. Foto: IST

BETANEWS.ID, TEGAL – Isu Virus Corona COVID-19 memberi dampak cukup besar di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah. Tak terkecuali bagi para wisatawan asal mancanegara yang berada di Kapal pesiar Viking Sun. Kapal asal Darwin, Australia tersebut dilarang merapat ke Semarang.

Hingga Kamis (5/3/2020), kapal yang membawa sebanyak 1.600 wisatawan itu tersebut masih tertahan di perairan Semarang. Petugas medis masih memeriksa penumpang untuk mengetahui apakah di antara mereka ada yang suspect Corona COVID-19 atau tidak.

Terkait hal tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, pihak yang mengecek para penumpang Viking Sun dari Kantor Kesehatan Pelabuhan. Tidak hanya wisatawan saja yang dicek, tapi juga para awak kapal.

“Semoga hari ini ada hasilnya. Hasil pemeriksaan saya minta untuk segera diberikan kepada Wali Kota Semarang agar dirapatkan dan diambil keputusan,” kata Ganjar ditemui usai meninjau Gedung Balai Kesehatan Masyarakat di Tegal.

Sedianya kapal dari Darwin tersebut bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, setelah dari Labuan Bajo. Setelah dari Kota Lunpia, para wisatawan direncanakan ke Surabaya dan Bali. Namun, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menolak kedatangan kapal itu, karena diduga ada dua penumpang yang menjadi suspect Corona.

Ganjar menyatakan berharap, semua penumpang dinyatakan sehat dan tidak ada yang menjadi suspect. Namun, jika dari hasil pemeriksaan KKP dinyatakan ada yang menjadi suspect Corona, dirinya akan menerapkan SOP penanganan.

“Sesuai SOP, jika ada yang dinyatakan sebagai suspect Corona harus dikarantina 14 hari. Yang dikarantina tidak hanya suspect, tapi seluruh penumpang. Itu SOP-nya, kalau tidak mau dikarantina ya silakan berlayar pulang ke tempat asal,” ujar Ganjar.

Ganjar menambahkan, pengecekan terhadap penumpang kapal pesiar Viking Sun lanjut Ganjar adalah protokol keamanan di Jawa Tengah. Pihaknya meminta semua hati-hati, tapi tidak boleh paranoid dan ketakutan.

“Kalau hasil pengecekan menyatakan semua wisatawan di kapal pesiar itusehat, maka Pemkot Semarang saya minta agar mereka diguide dengan baik mau piknik kemana. Kalau mereka sehat, maka sya ingin agar pariwisata bisa tetap dikelola. Ndak usah takut,” katanya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Setelah Sepuluh Tahun Merantau, Cipto Kembali ke Kudus Rintis Usaha di Bidang Seni

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga orang pria tampak di depan sebuah rumah di Desa Jati Kulon, RT 04 RW 05, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dua orang terlihat sedang melakukan pengeleman huruf dari bahan aklirik dan satu orang melakukan pengecekan. Satu di antara tiga orang itu yakni Cipto Santo (52), seorang pegiat seni rupa di Kudus.

Sambil mengecek hasil pekerjaan karyawannya, bapak dua anak itu berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya di bidang seni rupa. Sejak sekolah, pria yang akrab disapa Cipto itu memang sudah menekuni seni rupa. Setelah lulus SMA dia mengadu nasib ke Jakarta, bekerja di bagian desain grafis selama 10 tahun di sana.

Pada 2001, dia kembali ke Kudus dan membuka usaha sendiri, menerima jasa lukis, airbrush figura. Tahun 2003, Cipto mulai menerima jasa artistik film, teater, event dan dekor pernikahan hingga sekarang. Cipto juga mengungkapkan, jika dirinya belum pernah bekerja selain di dunia kesenian.

“Serumit apapun pekerjaan seni bisa saya nikmati. Semua pesanan yang berkaitan dengan seni rupa kemungkinan saya bisa. Kalau istilah orang Jakarta itu Palu Ganda, apa lu mau gue ada,” ungkapnya sambil tertawa.

Saat ini Cipto lebih dikenal sebagai tukang dekor atau artiskik. Pelanggannya merasa senang karena dia bisa memberi arahan dengan memaksimalkan dana yang ada. Selain itu Cipto juga dikenal dengan dekor dari bahan bekas.

Untuk harga jasanya, dekorasi panggung kecil kisaran Rp 1 juta hingga 1,5 juta, panggung besar mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta, dan stand kisaran Rp 5 juta. Selain dekorasi, Cipto juga menerima pesanan papan nama atau papan petunjuk.

Rukin, satu di antara pelanggan, mengaku senang dan puas dengan hasil pekerjaan Cipto. Selain hasilnya rapi dan sesuai harapan, menurutnya Cipto bisa memberi arahan agar lebih efisien.

“Ini saya mau pesan banner untuk warung kopi. Saya sering pesan disini, paling sering pesan aklirik untuk sangkar burung,” tambahnya, Kamis (20/2/2020).

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Gazelle Seri 11, Sepeda Onta Langka Koleksi Toko Setia Kawan Putra yang Dibanderol Rp 32 Juta

1

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan sepeda onta kuno terlihat berjajar rapi di dalam toko yang berada ditepi Jalan Kudus – Jepara. Di antara puluhan sepeda onta tersebut terlihat sepeda onta yang begitu terawat. Rodanya warna putih, sadel terbuat kulit serta rangka tampak mengkilat dan ada logo bertuliskan Gazelle di beberapa bagian sepeda tersebut. Sepeda onta itu yakni sepeda merek Gazelle seri 11 koleksi toko Setia Kawan Putra yang dibanderol Rp 32 juta per unit.

Puluhan sepeda onthel antik berderet di toko Setia Kawan Putra. Foto : Rabu Sipan

Umar (52) selaku pemilik toko Setia Kawan Putra menuturkan, sepeda onta merek Gazelle itu buatan dari Belanda. Menurutnya, yang menjadikan sepeda tua itu harganya sepadan dengan motor NMAX, karena sepeda Gazelle merupakan barang berkualitas. Barangnya yang sudah langka. Dan tentunya juga onderdilnya yang masih original.

“Membicarakan sepeda antik itu tidak lepas dari kelangkaannya. Tentu juga onderdilnya juga masih aslinya. Asli itu maksudnya masih ori dari pabrik. Kalau sudah ada yg diganti itu akan memengaruhi harga. Khusus untuk Gazelle, konon katanya bahan kerangkanya itu ada campuran emas,” jelas Umar kepada betanews.id

Pria warga Desa Karang Ampel itu mengatakan, meski harganya mahal, tapi sepeda onta Gazelle seri 11 cepat lakunya. Bulan kemarin, lanjutnya di tokonya masih ada dua unit Gazelle seri 11. Tapi yang satu sudah laku terjual dengan harga sesuai harapannya yakni Rp 32 juta.

“Gazelle seri 11 yang tersisa juga sudah ditawar pembeli dengan harga Rp 25 juta, tapi saya enggan melepasnya. Harganya harus di atas Rp 30 juta. Kurang dari Rp 30 juta tidak saya lepas,” jelas pria yang punya dua anak itu.

Dia menambahkan, selain Gazelle seri 11 di tokonya juga ada Gazelle seri lainnya yang dijual dengan harga Rp 12 juta per unit. Selain Gazelle juga ada Bacavus yang dibanderol Rp 10 juta per unit. Sedang Simplex dilepas dengan harga Rp 7 juta perunit. Ada juga merek Fongres dan Holland.

“Merek sepeda onta yang saya sebut itu merupakan buatan Belanda semua. Selain itu kami juga punya sepeda onta buatan Inggris yakni merek Raleigh, Humber, dan BSA yang dibanderol antara Rp 7 juta hingga Rp 10 juta perunit,” ungkapnya.

Menurutnya, peminat sepeda onta masih lumayan banyak. Bahkan pembelinya banyak yang datang dari luar Kudus. Di antaranya, Pati, Rembang, Jepara, Semarang, Surabaya dan lainnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Setia Kawan Putra, Satu-Satunya Toko Sepeda Onthel Antik di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi selatan Jalan Kudus – Jepara, tepatnya di seberang Pasar Jember, Kudus, tampak sebuah bangunan beratap seng. Di dalamnya, terlihat sebuah rak berisi aneka onderdil sepeda. Di samping rak tersebut, tampak berjajar rapi puluhan sepeda ontel tua. Di antara sepeda tersebut ada seorang pria memakai jaket hitam sedang mengelap rangka satu sepeda tua tersebut. Pria itu yakni Umar (52) pedagang sepeda onta antik satu – satunya di Kudus.

Umar dengan beberapa koleksi sepeda onthel antik yang ada di tokonya. Foto : Rabu Sipan

Umar menuturkan, dirinya memang pedagang sepeda onta antik satu – satunya yang ada di Kudus. Bila tidak percaya, kata dia, mempersilakan untuk mengeceknya. Di seluruh Kudus tidak ada penjual sepeda onta antik selain Umar. Dia pun menuturkan, dengan pekerjaannya tersebut tak jarang teman – temanya meledeknya.

“Temen saya ngledeknya begini, ngapain kamu beli sepeda ontel mahal – mahal, bahkan ada yang puluhan juta. Sedangkan sepeda motormu masih motor butut yang harganya palingan dari Rp 2 juta,” ungkap Umar sambil menunjuk motor bututnya.

Umar mengatakan, tidak pernah merasa tersinggung dengan ledekan temannya tersebut. Dia mengakui sepeda dagangannya memang harganya jutaan rupiah. Bahkan ada yang puluhan juta. Karena harga dagangannya yang mahal, Umar lebih memilih menabung atau membelikan sepeda antik lagi jika ada banyak uang.

“Saya kan orang bisnis. Misal ada uang banyak, katakanlah Rp 20 juta. Dari pada saya belikan motor baru mendingan uangnya buat beli sepeda onta antik. Motor baru dijual harganya turun, sepeda antik dijual lagi harganya naik dan saya untung,” jelas pemilik toko sepeda antik bernama Setia Kawan Putra.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Karang Ampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu menuturkan, toko Setia Kawan Putra merupakan peninggalan orang tuanya. Tokonya tersebut hanya menjual sepeda kuno buatan Eropa. Selain itu, di tokonya tersebut juga menjual aneka onderdil sepeda antik.

“Di toko saya semuanya sepeda antik buatan Eropa. Di antaranya, Inggris, Belanda dan lainnya. Untuk harga, antara Rp 5 juta hingga Rp 32 juta per unit,” ungkap Umar.

Menurutnya, toko Setia Kawan Putra sudah lumayan dikenal. Pelanggannya tidak hanya dari Kudus saja, melainkan seluruh eks Karesidenan Pati, Demak, Semarang, Surabaya bahkan sampai Sulawesi.

“Orang Kudus yang punya sepeda onta bisa dipastikan belinya itu di toko saya. Sekarang yang datang kebanyakan orang luar daerah. Saat ramai, tiga unit sepeda onta antik bisa terjual,” ungkapnya sambil tersenyum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Usaha Kaligrafinya Sepi, Iwan Banting Setir Buat Sketsa Wajah di Atas Kayu

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin gergaji kayu terdengar di sebuah rumah di Desa Panjang, RT 02 RW 03, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seorang pria mengenakan kaus berwarna abu-abu sedang melubangi sketsa wajah di sebuah kayu. Dia yakni Widia Kurniawan (30) pemilik usaha Iwan Art, sambil memotong kayu dia bercerita kepada betanews.id tentang usahanya.

Iwan begitu dia akrab disapa mengungkapkan, sebelum membuat lukisan sketsa wajah dari kayu dia membuat kaligrafi. Karena persaingan pasar yang ketat dan dia mempersiapkan kelahiran anak pertamanya, akhirnya pada tahun 2017 ganti membuat sketsa kayu.

Iwan sedang mengerjakan lukisan sketsa wajah di atas kayu milik pemesan. Foto : Ahmad Rosyidi

“Pada tahun 2017 istri saya hamil, dan usaha kaligrafi saya mulai sepi karena banyak saingan. Kemudian saya cari-cari ide usaha lain dan lihat tutorial di Youtube. Saya coba buat sketsa kayu kemudian saya tawarkan ke teman-teman dan antusiasnya bagus,” ungkap bapak satu anak itu.

Koleksi foto hasil pesanan teman-teman Iwan mulai banyak, kemudian dia memasarkan sketsa kayunya secara online. Pesanan dari luar daerah juga mulai berdatangan, bahkan dari Sumatra, Bali, Timika Papua. Saat ini pelanggan Iwan mayoritas dari luar kota.

Saat awal memulai dia menggunakan kayu pinus. Karena kesulitan mencari bahan kayunya, kemudian dia ganti menggunakan kayu jati Belanda. Meski harganya lebih mahal, tetapi menurut Iwan seratnya lebih halus dan bagus.

“Saya pernah kesulitan mencari bahan bakunya kayu pinus, bahkan pernah pesan dari Jawa Timur juga. Tapi sekarang saya menggunakan kayu jati Belanda yang lebih mudah dicari,” jelasnya, Sabtu (15/2/2020).

Dalam satu pekan rata-rata Iwan mendapat 10 pesanan. Sebelum memesan, Iwan meminta uang muka minimal Rp 50 ribu sebagai bukti jadi. Karena sebelumnya pernah ada yang pesan dan tidak diambil.

Dia juga meminta waktu sekitar empat hingga tujuh hari untuk prosesnya. Harga satu sketsa kayunya mulai Rp 140 ribu untuk satu wajah, Rp 170 ribu dua wajah. Jika tambah tulisan, per kata dikenakan biaya Rp 5 ribu.

“Kalau kirim luar kota biasanya tanpa kaca demi menekan biaya ongkos kirim. Tapi untuk dalam kota sudah ada figura dan kaca,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Meski Sulit, Dian Pilih Putus Kuliah Demi Fokus Tekuni Usaha Bengkel Kustom Mobil Offroad

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan topi dan kaus oblong terlihat sedang duduk di sebuah bengkel di Desa Jepang, Mejobo, Kudus. Dia adalah Dian Kurniawan (25), pemilik Bengkel Sumber Rejeki (BSR) Fabrication. Sambil duduk bersantai, dia berbagi kisah awal memulai usahanya itu.

Bermula mengikuti hobi bapaknya offroad dengan mobil Jeep, kemudian dia juga mulai tertarik dan menekuni hobi tersebut. Nah, untuk mendukung hobinya itu, dirinya juga mencari cara agar hobinya itu bisa menghasilkan uang. Sejak tahun 2015, dia memulai usahanya jual beli spare part mobil offroad. Pada tahun itu, kebanyakan spare part mobil offroad dibeli dari Amerika.

Karyawan di BSR Fabrication milik Dian Kurniawan terlihat sedang mengerjakan kustom mobil offroad dari pelanggan. Foto Ahmad Rosyidi

Selain berbisnis, dia juga masih kuliah mengambil jurusan teknik mesin. Karena jam perkuliahan yang padat, membuatnya kesulitan membagi waktu untuk bisnis. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya.

“Pada tahun 2015 saya bingung membagi waktu, kuliah sambil usaha. Kemudian saya memilih untuk fokus dengan bisnis ini dan memilih tidak lanjut kuliah. Saya kumpulkan modal sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa buka bengkel sendiri,” terangnya kepada betanews.id, Rabu (19/2/2020).

Kemudian, pria yang akrab disapa Dian itu mencari cara agar bisa membuat spare part sendiri. Selain berjualan, dia juga mulai belajar modifikasi mobil offroad dari temannya orang Jogja. Hingga saat ini, jika ada kesulitan, Dian masih bertanya kepada temannya itu.

Menurutnya, paling susah memasang bagian interior, karena membutuhkan kerapian dan ketelitian yang cukup memakan waktu. Saat ini kendalanya pada tenaga karyawan, kebanyakan pelanggannya meminta diselesaikan lebih cepat. Karyawan tetap di sana ada sekitar enam orang, dan saat ini juga ada empat orang yang Praktik Kerja Lapangan (PKL).

“Dari dulu saya memasarkan secara online, tetapi mulai tahun 2017 spare part dari Cina mulai masuk ke Indonesia. Kalau bengkel di sini mulai ramai awal tahun 2019, keunggulan bengkelnya bisa membuat spere part sendiri sehingga menekan biaya,” pungkas anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Cek Kesiapan Penanganan Corona, Ganjar: ‘Jangan Panik, Kalau Masker Habis Pakai Masker Bengkoang’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan warga di RS Moewardi, Surakarta. Foto: IST

BETANEWS.ID, SURAKARTA – Suasana riuh rendah terdengar di ruang tunggu Rumah Sakit Moewardi Surakarta, Rabu (4/3/2020) pagi. Warga yang sedang menunggu antrean di rumah sakit tersebut terlihat sedikit terkejut tapi antusias saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berdiri di hadapan mereka. Pria berambut putih itu kemudian bertanya kepada warga.

“Ibu yang sekarang batuk siapa ngacung? Yang batuk, yang pilek pakai masker ya. Yang demam, yang batuk pilek segera periksa ke dokter. Tidak usah panik. Yang sehat tidak batuk dan pilek tidak apa-apa, tidak usah sibuk cari masker. Kalau maskernya habis pakai masker bengkoang,” ujar Ganjar yang disambut tawa warga di sana.

Ganjar berbincang dengan dokter di RS Moewardi Surakarta. Foto: IST

Kedatangan gubernur dua periode tersebut untuk mengecek kesiapan Rumah Sakit Moewardi terkait penanganan virus Corona Covid-19. Hal itu dilakukan untuk memastikan kesiapan jika terjadi kondisi yang memburuk di Jawa Tengah.

Kepada warga yang ada di rumah sakit tersebut, Ganjar meminta untuk tidak panik. Dia mengimbau masyarakat menjaga kesehatan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Hal itu bisa ditempuh dengan beristirahat cukup, tidur nyenyak dan makan enak.

Dalam pengecekan yang dilakukan di rumah sakit yang masuk dalam 10 rujukan penanganan virus Corona di Jawa Tengah itu, Ganjar melihat kesiapan sumberdaya medis, mulai dari Standard operating procedure (SOP) dokter, peralatan hingga ruang isolasi. Dari hasil pengecekan yang dilakukan, Ganjar menyatakan rumah sakit di Surakarta itu siap.

“Tadi sudah kami cek, untuk SOP, peralatan, tenaga medis dan ruang isolasi semuanya sudah siap jika terjadi sesuatu luar biasa terkait Virus Corona,” katanya.

Baca juga:

Jika ada warga yang mengalami batuk dan pilek disertai demam, terlebih pernah melakukan kontak dengan warga asing, politisi PDI Perjuangan tersebut meminta agar segera memeriksakan diri ke dokter. Jika malu datang ke rumah sakit, dia meminta agar warga menelepon rumah sakit agar nanti bisa dijemput.

“Kalau malu atau tidak bisa ke rumah sakit sendiri, tinggal telepon rumah sakit, nanti kita yang jemput. Semua SOP sudah siap. Kita tidak menginginkan (virus ini Corona menyebar), tapi menyiapkan untuk antisipasi,” katanya.

Ganjar menambahkan, hingga saat ini warga yang suspect virus Corona ada 26 di Jawa Tengah. Namun dari jumlah tersebut, 21 di antaranya sudah sembuh. Lima orang lainnya saat ini tengah menjalani perawatan di Banyumas dan RSUP Kariadi.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Menengok Bengkel Mobil Offroad BSR Fabrication yang Selalu Puaskan Pelanggan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara gerinda besi terdengar di sebuah bengkel mobil di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Seorang pria mengenakan topi terlihat sedang membenahi sebuah mobil. Pria itu tak lain adalah Dian Kurniawan (25), pemilik Bengkel Sumber Rejeki (BSR) Fabrication.Yakni, sebuah bengkel yang fokus untuk penggarapan kustom mobil-mobil offroad.

Dian, begitu dia akrab disapa, sudi bercerita kepada betanews.id tentang usahanya. Awal berkecimpung di modifikasi mobil offroad, Dian mengaku jika kebanyakan spare partnya berasal dari Amerika. Kemudian dia mencari cara agar bisa membuat sendiri.

Dian Kurniawan terlihat sedang melakukan pengerjaan kustom mobil pelanggan. Foto : Ahmad Rosyidi

Nah, keunggulan di bengkelnya sendiri adalah spare part mobil yang bisa diproduksi sendiri. Sehingga hal itu bisa menekan biaya. Pun demikian, kualitas spare part buatannya juga tidak kalah bersaing dari barang luar negeri.

“Keunggulan bengkel di sini ya harganya lebih terjangkau. Saya bisa menekan biaya dengan menggunakan spare part buatan sendiri. Misal di luar harganya hingga Rp 400 juta, di sini bisa Rp 250 juta,” jelasnya, Rabu (19/2/2020) pagi.

Harga spare part kaki-kaki mobil offroad di BSR kisaran Rp 1 juta hingga Rp 50 juta. Jika bahan membeli dari luar harganya hampir dua kali lipat lebih mahal. Untuk mesin, dia ambil dari daerah Jakarta.

Dia menyediakan spare part mobil offroad mulai dari nol hingga jadi. Harga mobil, jika pesan di sana sekitar Rp 150 juta hingga Rp 500 juta. Pelanggan Dian kebanyakan dari luar Jawa, seperti Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi.

Selain melalui media sosial, Dian juga aktif ikut lomba offroad untuk mengenalkan nama bengkelnya. Selain itu juga, agar tahu kekurangan mobilnya supaya bisa melakukan perbaikan. Mobilnya pernah menjadi juara tiga se Jawa Tengah.

Untuk proses pemesanan, membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Jika mengubah kaki-kaki, satu hingga dua bulan. Dalam mengerjakan, Dian mengaku bisa memproses enam mobil, lebih dari itu harus menunggu ada mobil yang jadi terlebih dahulu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Meski Sepi Permintaan saat Musim Hujan, Mbah Parwan Tetap Produksi Layangan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan rintik – rintik mengguyur Kota Kretek hampir setiap hari di Februari 2020 ini. Di dalam satu rumah yang berada di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak ratusan layangan berbentuk ikan petek tertata rapi dalam almari etalase. Di sampingnya, tampak pria renta sibuk memasang kertas pada rangka layangan. Pria tersebut adalah Parwan (79), perajin layangan yang memutuskan tetap membuat layangan meski di musim hujan.

Kepada betanews.id, Parwan sudi berbagi alasan tentang hal yang dilakukannya tersebut. Dia mengakui, pada musim hujan, permintaan layangan sangat sepi. Kalaupun ada palingan satu kodi, dua kodi saja. Tapi Parwan memutuskan tetap memproduksi layangan. Khususnya yang berbentuk ikan petek. Hal itu dilakukan untuk menyetok layangan. Soalnya, nanti saat kemarau Parwan mengaku kewalahan memenuhi permintaan layangan.

“Setok layangan yang sudah saya bikin itu belum ada ribuan. Tahun kemarin saja, saya punya setok layangan sekitar 7 ribu buah. Saat kemarau dating, semua ludes terjual dan saya masih kewalahan memenuhi permintaan para pelanggan,” ungkap pria yang rambutnya sudah penuh dengan uban tersebut.

Warga Desa Ploso itu mengungkapkan, saat musim kemarau dirinya mampu menjual puluhan ribu layangan berbentuk ikan petek. Layangan peteknya tersebut diambil para pengepul di Kudus dengan harga Rp 16 ribu sekodi. Dia mengaku, khusus layangan petek dirinya tidak melayani pengepul dari luar Kudus. Soalnya pengepul langganannya di Kudus sudah puluhan.

“Saya memenuhi permintaan bakul langganan saya pas kemarau saja sudah kewalahan kok. Jadi saya tidak menerima permintaan bakul dari luar Kudus. Pengerjannya juga saya kerjakan sendiri,” ungkapnya.

Parwan mengaku, memulai membuat layangan sepuluh tahun lalu. Tepatnya pada tahun 2010 setelah pensiun dari TNI. Menurutnya dari pada nganggur setelah pensiun, Parwan memutuskan membuat layangan. Karena pada saat itu di Kudus belum ada yang membuat layangan dalam jumlah banyak.

“Aku bersyukur layangan hasil karyaku diminati banyak orang. Selain berbentuk petek saya juga bisa membuat layangan dengan aneka bentuk hewan dengan ukuran besar. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan bisa bantu ngasih uang saku cucu yang sedang kuliah,” ungkap Parwan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mbah Parwan, Perajin Layangan Legendaris Asal Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi barat Jalan Tambak Lulang, tepatnya di RT 01 RW 04, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak rumah berwarna biru. Di halaman pelataran rumah tersebut, terlihat pria paruh renta sedang bersila memegangi pisau. Pisau tersebut digunakan untuk merapikan bambu yang akan dijadikan kerangka layangan. Pria tersebut bernama Parwan (79) satu – satunya perajin layangan berkarakter yang ada di Kudus.

Parwan mengakui sejak dahulu hanya dirinya di Kudus yang mampu membuat layangan kain menyerupai berbagai bentuk. Tidak hanya itu saja, layangan buatannya itu bisa dilipat jadi bisa dibawa kemana saja tanpa memakan tempat. Layangan hasil karyanya juga terbuat dari kain jadi tidak mudah rusak dan dijamin bisa terbang.

“Membuat layangan dari kain itu perencanaanya harus pas. Salah sedikit, layangan tidak bisa terbang. Karena itu, setiap layangan aneka bentuk karakter yang saya buat juga sudah digoci. Dijamin bisa terbang asal gocinyan nanti jangan diubah,” terang Parwan kepada betanews.id

Parwan menambahkan, selain goci, kerangka layangan yang terbuat dari bambu jangan terlalu berat. Besarnya disesusaikan, pembagian panjang sayap juga harus seimbang. Kain yang digunakan untuk pelapis juga kain yang ringan serta tidak mudah sobek. Soalnya layangan terbang itu, selain faktor angin juga keseimbangan berat dan ukuran layangan itu sendiri.

Pria yang memiliki tiga orang putra itu mengatakan, selain membuat layangan berbentuk ikan Petek. Dia juga bisa membuat layangan beraneka bentuk hewan. Di antaranya, bentuk burung, kelelawar, kupu – kupu dan lain sebagainya. Sedangkan lama pembuatan, Parwan mengaku membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikan satu layangan besar dengan bentuk yang disebut tadi.

“Pokoknya menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan. Pelanggan pingin layangan bentuk apa, saya pasti bisa membuatnya. Dijamin bisa terbang soalnya sebelum layangan sampai ke tangan pelanggan, terlebih dulu layangan itu saya uji coba. Setelah pasti bisa terbang, baru saya lepas ke pelanggan,” ujar Parwan.

Menurutnya, layangan beraneka bentuk karyanya itu tidak hanya diminati orang Kudus saja. Tapi sudah pernah dibeli orang Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya. Untuk harga, dirinya mematok harga bervariasi. Harga ditentukan ukuran layangan tersebut. Layangan aneka bentuk dengan ukuran kecil satunya dihargai Rp 30 ribu. Sedangkan yang besar dijual Rp 75 ribu per buah.

Menurutnya, berbeda dengan layangan bentuk ikan petek yang setiap hari produksi. Layangan besar aneka bentuk hewan itu dibikin pada bulan tertentu. Karena pesanan atau laku terjual biasanya pada Agustus. “Agustus itu biasanya pas musim kemarau, biasanya ada perlombaan layangan. Saat itulah layangan aneka bentuk miliku laris dan banyak pesanan,” ungkap Parwan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Penimbun Masker Terancam Pidana Lima Tahun Penjara

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyikapi secara serius terkait dengan kelangkaan masker akhir-akhir ini. Bahkan, untuk mengantisipasi adanya penimbunan dan permainan harga masker di tengah maraknya isu virus corona atau Covid-19, Pemprov Jateng telah melakukan kerja sama dengan kepolisian untuk melakukan tindakan intervensi.

Kelangkaan dan mahalnya harga masker diduga tidak hanya karena faktor ekonomi saja, namun ada pihak yang sengaja mencari keuntungan di balik musibah ini.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Jateng untuk memastikan tidak ada penimbunan dan permainan harga masker di Jawa Tengah. Kalau ada penimbunan atau permainan harga, pasti akan kami tindak secara hukum,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jateng, Muhammad Arif Sambodo, Selasa (03/03/2020).

Sesuai Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan,disebutkan, jika pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga dan atau hambatan lalu lintas perdagangan barang, dipidana penjara paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 50 miliar.

Katanya, pihaknya saat ini sudah bekerja melakukan pengawasan terhadap perusahaan, distributor hingga penjual kecil di Jateng. Inventarisir dan pengecekan jalur distribusi terus dipantau. Jika ada temuan, pihaknya akan menindak bersama jajaran kepolisian.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo menegaskan, jika stok masker di Jateng masih aman. Asalkan, masyarakat tidak panik dan melakukan pembelian masker secara besar-besaran.

Menurutnya, produksi masker memang terbatas, namun untuk Jateng stoknya aman jika digunakan sesuai kebutuhan. “Kami sampaikan bahwa yang wajib menggunakan masker adalah mereka yang sakit, para tenaga kesehatan yang berhubungan dengan pasien atau mereka yang tinggal di daerah rentan,” ujar Yulianto.

Dalam hal ini, masyarakat juga diimbau untuk tidak panik dan melakukan pembelian masker secara besar-besaran. Yulianto meminta agar masyarakat mengedepankan perilaku hidup sehat, makan teratur, olahraga dan sering cuci tangan.

Pihaknya juga menyarankan kepada masyarakat untuk membeli masker di tempat-tempat yang resmi seperti apotek, toko alat kesehatan dan lainnya. Sebab di tempat-tempat itu, harganya dipastikan masih wajar.

Yulianto juga menegaskan, jika sampai saat ini belum ada laporan pasien yang dinyatakan positif terjangkit virus corona di Jateng. Dari 26 pasien yang suspect Corona di Jateng, semuanya sudah dinyatakan negatif.

“Dari 26 pasien yang suspect itu, 21 pasien sudah dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Sampai saat ini yang masih dilakukan observasi masih ada lima pasien,” terangnya.

Di lain sisi, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan bahwa meski belum ada yang positif Corona di Jawa Tengah, pihaknya tetap melakukan sejumlah langkah antisipasi. Selain menyiapkan sejumlah rumah sakit sebagai rujukan penanganan apabila ada masyarakat yang terindikasi mengidap virus corona, penjagaan pintu masuk Jateng baik Bandara, Pelabuhan dan Stasiun juga dilakukan.

- advertisement -

Berawal dari Cibiran, Sekarang Sri Buktikan Hasil Usahanya dari Bank Sampah

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang wanita mengenakan jilbab terlihat sedang melilitkan tali di sebuah botol. Dia adalah Sri Setuni (39) pemilik Seruni Handmade. Sambil menunjukkan koleksi produk di sana, dia berbagi cerita tentang perjalanan usaha tersebut.

Warga Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengungkapkan, awal mula membuat bank sampah sejak 2012. Diawali dari lingkup RT terlebih dahulu, dengan tiga orang pengelola, kemudian dia mencari informasi tentang bank sampah di Perum Muria Indah dan belajar dari sana.

Sri Setuni bersama dengan salah satu karyawannya membuat kerajinan dari limbah plastik. Foto : Ahmad Rosyidi

“Karena melihat banyak sampah di lingkungan, kemudian hati saya tergugah untuk membuat bank sampah. Pernah memasang banner di sungai, “yen kaline resik uripe becik” tapi warga masih pada buang sampah di sana. Kebetulan suami saya Ketua RT, jadi saya bisa mengajak warga sekitar dulu,” ungkap Sri sapaan akrabnya.

Saat awal memulai, Sri mengaku mendapat banyak cibiran dari orang-orang. Tetapi saat ini Sri sudah membuktikan dan usahanya sudah membuahkan hasil. “Omongan-omongan yang tidak enak ya banyak pas mengawali dulu. Tapi suami saya terus mendukung, yang penting bisa membagi waktu untuk keluarga,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, anggota bank sampah yang dulunya aktif mulai tidak aktif satu per satu. Pada tahun 2017 bank sampah pernah dikelola karang taruna di desanya, tetapi hanya berjalan sekitar satu bulan. Akhirnya dia bertekat untuk berjalan sendiri hingga sekarang.

Dari dulu Sri memang sudah hobi membuat kerajinan, sehingga dia terus berinovasi. Omset Seruni Handmade saat ini sekitar delapan hingga 10 juta per bulan. Dalam satu bulan dia dapat mengolah lebih dari 50 kilo gram samapah plastik.

Selain mengelola limbah plastik, Sri juga mengolah sampah organik yang dimanfaatkan menjadi pupuk. Dengan cara dibuat biopori. Kemudian hasil olahan sampah organik itu dibagikan warga untuk pupuk menanam sayur.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kerajinan Limbah Plastik Seruni Handmade Tembus Pasar Dunia

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan produk kerajinan dari limbah plastik terlihat di sebuah ruang tamu di Desa Jati Kulon, RT 03 RW 02, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Produk-produk tersebut yakni koleksi dari Seruni Handmade milik Sri Setuni (39), satu diantara pegiat bank sampah di Kudus.

Sri begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahnya. Usaha tersebut berawal dari idenya membuat bank sampah di lingkup RT. Kemudian dia mencari informasi tempat pengolahan sampah di Perumahan Muria Indah Kudus dan belajar dari sana.

Sri Setuni bersama dengan aneka kerajinan yang berbahan dasar limbah plastik. Foto : Ahmad Rosyidi

“Awal mula membuat bank sampah sejak 2012. Mengawali dari lingkup RT terlebih dahulu, karena suami saya Ketua RT, jadi bisa mengajak warga sekitar,” ujar ibu tiga anak itu.

Saat ini, Seruni Handmade milik Sri menjual berbagai produk hasil olahan limbah sampah. Di antaranya ada bros, gantungan kunci, bunga, tempat pensil, tas laptop, vas bunga, tikar, sofa, bantal, kipas, celemek, sepatu dan tikar.

“Harganya mulai Rp 2.500 hingga Rp 2,5 juta. Karyawan tetap yang bekerja di sini ada 15 orang. Tiga dikerjakan di sini dan 12 orang mengerjakan di rumah masing-masing,” ungkapnya, Senin (17/2/2020).

Saat ini pemasaran Seruni Handmade hingga luar negeri, di antaranya ke Malaysia, Thailand dan Belanda. Selain ke luar negeri, produk Sri juga sudah pernah dikirim hampir seluruh wilayah Indonesia. Meski pemasaran lancar, namun Sri juga terkendala pada bahan jika ada pesanan yang meminta warna tertentu.

“Kami hanya mengandalkan bahan sampah, jadi masih terkendala bahan baku jika pesanan meminta warna. Biasanya saya ngomong apa adanya, dan saya beri pilihan warna seadanya,” terangnya.

Di Kudus saat ini ada banyak bank sampah, menurut Sri yang aktif ada sekitar 25 bank sampah. Jika kesulitan mencari bahan baku dia meminta bantuan teman-teman bank sampah yang lain.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

8 Ribu Masker Dikirim ke Lima Desa Terdampak Erupsi Gunung Merapi

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gunung Merapi mengalami erupsi pada 3 Maret 2020, pukul 05.22 WIB. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 450 detik. Tinggi kolom erupsi ± 6.000 meter dari puncak dan awan panas guguran ke arah hulu sungai Gendol dengan jarak maksimal 2 km dan arah angin saat erupsi bertiup ke Utara.

Dengan kondisi erupsi seperti itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan, jika daerah yang paling terdampak adalah Boyolali. Setidaknya ada lima desa yang terdampak, yakni empat desa di Kecamatan Tamansari dan satu desa di Kecamatan Selo.

Terkait kondisi tersebut, saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengirim 8 ribu masker ke lima desa terdampak erupsi Gunung Merapi tersebut. “Yang di Boyolali sudah dilakukan pembagian masker, karena cukup tebal abunya. Kebutuhan masker yang paling utama dan sudah dibagikan ke lima desa ada delapan ribu masker,” kata Ganjar.

Ganjar melanjutkan, sampai saat ini dirinya terus memantau perkembangan erupsi Gunung Merapi. Selain Boyolali, ada dua kabupaten di Jawa Tengah yang terdampak, yaitu Klaten dan Magelang. Saat ini, Ganjar sendiri masih menjalani tugas di Jakarta, namun dia menegaskan terus meminta laporan dari jajarannya.

“Sampai hari ini masih aman terkendali. Tadi pagi semua melaporkan khususnya di wilayah Boyolali. Kalau Klaten, Magelang masih terkendali. Semuanya masih aman dan bisa dihandle,” kata Ganjar.

Ganjar menyampaikan, saat ini seluruh anggota BPBD standby, ditambah seluruh perangkat desa, SAR, TNI dan Polri. Dirinya juga mengimbau agar masyarakat mengikuti instruksi dari pemerintah. Terlebih seluruh warga desa di sekitar Merapi telah terlatih untuk menghadapi segala situasi jika terjadi erupsi.

“Ikuti saja karena ketentuan yang ada di sekitar Merapi, masyarakat sudah punya pengalaman. Sekarang tinggal menunggu aba-aba dari pemerintah untuk mereka siaga,” katanya.

Sementara untuk pemerintah daerah yang terdampak, Gubernur juga menginstruksikan segera melakukan indentifikasi wilayah mana saja yang terdampak. Koordinasi dengan seluruh lapisan, terutama dengan tim kesehatan dan penyelamatan.

“Untuk daerah yang agak parah segera dibagi masker untuk antisipasi terhadap dampak lanjutan. Lakukan koordinasi dengan RS dan puskesmas daerah terdampak agar menyiapkan segala sesuatunya,” pungkasnya.

- advertisement -

Ada Virus Corona Jangan Panik, Inilah 6 Tips Agar Tak Tertular

0
Ilustrasi Corona COVID-19

BETANEWS.ID, SEMARANG – Senin (3/2/2020) kemarin masyarakat di Indonesia dikejutkan informasi ada dua orang asal Bogor yang dinyatakan positif terkena virus Corona Covid-9. Informasi yang dinyatakan Presiden Jokowi tersebut membuat dunia maya geger, bahkan sempat trending 1 di Twitter.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Ganjar Pranowo meminta masyarakat, khususnya di Jawa Tengah tak panik. Gubernur dua periode tersebut menyatakan telah mengambil langkah antisipatif untuk mencegah penyebaran virus yang menyebar pertama kali di Wuhan, Tiongkok tersebut.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: IST

“Kami memiliki jurus antisipatif untuk kewaspadaan (penyebaran Virus Corona). Ada yang bersifat personal dan ada langkah strategis,” ujar Ganjar, kemarin.

Dia menjelaskan, langkah personal bisa ditempuh untuk pertahanan secara pribadi. Langkah itu, kata Ganjar, antara lain:

  1. Selalu mencuci tangan
  2. Selalu membawa antiseptik
  3. Basuh tangan dengan antiseptik setiap menyentuh benda di area publik
  4. Menjaga kebersihan
  5. Lakukan olahraga
  6. Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran.

Terkait dengan langkah strategis, Ganjar menyatakan telah menyatakan akan memperketat akses masuk ke seluruh wilayah di Jawa Tengah. Langkah tersebut sebagai antisipasi dan kewaspadaan penyebaran virus yang telah memakan ratusan korban jiwa di seluruh dunia.

“Kami akan memperketat akses masuk baik melalui bandara maupun pelabuhan,” ujar suami Siti Atiqoh itu kepada wartawan.

Beberapa akses masuk ke Jawa Tengah dari mancanegara dan daerah terjangkit Virus Corona yang diperketat, Ganjar menyebutkan antara lain Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Soemarmo Boyolali dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang dilaksanakan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Kemenkes.

Baca juga:

Lebih lanjut Ganjar menyatakan, di titik-titik pintu masuk ke Jawa Tengah tersebut akan dipasangi alat pendeteksi suhu tubuh. Selain itu pihaknya juga akan memberikan Health Alert Card (HAC) bagi penumpang yang berasal dari negara atau daerah terjangkit. Jika setelah deteksi ditemukan orang diduga terjangkit virus Corona, akan segera dilakukan observasi, isolasi dan rujukan.

Selain langkah tersebut, Ganjar juga telah memerintahkan seluruh pemerintah daerah di Jawa Tengah untuk menyiapkan fasilitas kesehatan sebagai kesiapsiagaan. Pihaknya juga meminta masyarakat untuk turut aktif melaporkan kepada pemerintah terdekat, jika mengalami gejala terjangkit Virus Corona. Gejala awal terjangkit yakni batuk, pilek dan demam.

“Jika terdeteksi adanya suspect dan atau positif Covid-19, silakan merujuk ke Rumah Sakit yang sudah disiapkan yaitu RSUP dr. Karyadi Semarang, RSUD Tugurejo Semarang, RSUD dr. Moewardi Surakarta dan RSUD dr. Margono Soekarjo Purwokerto,” katanya.

Editor: Suwoko

- advertisement -