Beranda blog Halaman 1882

Akuarium Termurah di Kudus Ini Berani Beri Garansi

1

BETANEWS.ID, KUDUS – Lembaran kaca terlihat di sebuah halaman rumah, di Desa Getas Pejaten RT 09 RW 04, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tampak seorang pria sedang memotong kaca. Pria itu, yakni Budi Santoso (34) sambil memotong kaca dia bercerita tentang usahanya, yakni pembuatan akuarium kaca.

Budi sapaan akrabnya, memulai usaha produksi akuarium sejak 2016 lalu. Sebelumnya dia memproduksi tas untuk souvenir ulang tahun. Karena kalah bersaing, akhirnya ganti membuat akuarium. Saat awal mempruduksi akuarium, dia mengaku produknya tidak laku di pasaran dan sempat kembali produksi tas souvenir.

Budi Santoso sedang menyelesaikan pembuatan akuarium. Foto : Ahmad Rosyidi

Bapak tiga anak itu mengungkapkan, awalnya dia ditawari temannya kaca sisa pabrik. “Saya ambil saja karena harganya cukup murah. Saya jual lembaran selama satu tahun, tetapi tidak laku. Akhirnya saya bertanya kepada teman cara membuat akuarium,” ujarnya kepada betanews.id, Jum’at (14/2/2020).

Pada awal usahanya, akuariumnya kurang diminati pasar. Kemudian dia mendapat masukan dari teman, jika memulai usaha jangan mengutamakan hasil terlebih dahulu. “Kata teman saya, yang penting fokus dan terus berusaha. Kemudian di tahun 2017, saya pinjaman uang teman buat modal produksi akuarium lagi,” jelasnya.

Saat itu, Budi pinjam uang temannya sebanyak Rp 2 juta untuk kembali produksi akuarium. Buah dari kesabaran Budi akhirnya didapat.Akuariumnya perlahan mulai laku. Dia berani menjual dengan harga grosir agar pembeli mau membayar secara tunai.

Selain menjual akuarium, Budi juga menjual aksesoris akuarium. Seperti kapas, harganya Rp 5 ribu, tanaman Rp 10 ribu, batu Rp 10 ribu, pompa air mulai harga Rp 30 ribu hingga Rp 1 juta, lampu Rp 30 ribu hingga Rp 200 ribu, aerator Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu.

“Akuariumnya mulai harga Rp 10 ribu hingga Rp 1,2 juta. Saya juga jual ikan gupy harga Rp 10 ribu dapat dua. Omzet per hari skitar Rp 300 ribu, kalau ramai ya bisa mencapai Rp 1,5 juta. Selain termurah di Kudus, akuarium saya juga ada garansi bocor selama 30 hari,” terang Budi.

Akuariumnya saat ini dipasarkan sekitar wilayah eks Karesidenan Pati, Demak dan Semarang. Selain penjualan dilakukan secara online, juga ada pengepul dari Jepara dan Kudus. Dalam sehari, Budi bisa memproduksi tiga akuarium untuk ukuran besar dan minimal 10 untuk ukuran kecil.

“Yang susah itu untuk menjual dan mendapan uang tunai. Saya tidak mau modal berhenti, karena modal saya masih sedikit. Biasanya yang akuarium kecil diambil pengepul dari Jepara, dan yang ukuran besar diambil pengepul Kudus,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lewat Mimpi, Alvis Temukan Cara Buat Kedipan Barongsai

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kepala barongsai tampak di ruang samping sebuah rumah di Desa Loram Kulon, RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang melakukan proses pelukisan kepala barongsai. Dia adalah Alvis Rezando (22), pria yang akarab disapa Alvis itu berbagi cerita kepada betanews.id tentang pengalaman membuat barongsai.

Alvis sedang menyelesaikan proses pembuatan barongsai. Foto : Ahmad Rosyidi

Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kelas dua, dia sudah mulai belajar membuat barongsai. Dari kecil, Alvis memang suka dengan pertunjukan barongsai, hingga akhirnya dia penasaran untuk membuatnya. Dia belajar secara atodidak dari melihat tutorial di Youtube.

Awalnya dia masih kesulitan karena tutorial yang dilihat tidak lengkap. Selama tiga tahun Alvis membuat hasilnya belum maksimal dan belum layak untuk dijual. Untuk bagian kedipan mata barongsai dia mengaku bisa tahu melalui mimpi.

“Waktu dulu kan masih kecil, dan saya sangat penasaran. Saya coba-coba terus dan gagal, mungkin karena saya kepikiran jadi terbawa mimpi. Di mimpi itu saya seperti ditunjukkan cara membuat kedipan mata barongsai, saya praktikkan dan ternyata bisa,” terangnya, Senin (24/2/2020) pagi.

Alvis bisa membuat barongsai yang siap dijual mulai sekolah menengah atas (SMA). Menurutnya, bagian paling sulit adalah membuat rangka. Selain rumit, rangka juga berpengaruh pada ekspresi barongsai. Ekspresi harus menyesuaikan cerita yang akan dibawakan, bisa terlihat senang atau sedih.

“Karena saya membuat barongsai yang biasa digunakan untuk lomba, jadi sangat penting untuk menunjukkan ekspresinya. Saya bisa membuat rangka, karena waktu itu saya disuruh memperbaiki barongsai yang rusak. Kemudian saya cari tahu bentuk rangkanya dan saya praktikkan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Virus Corona Hambat Produksi Barongsai di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah ruangan tampak seorang pria sedang merangkai kerangka barongsai. Pria itu tak lain adalah Alvis Rezando (22) seorang perajin barongsai. Alvis sapaan akrabnya, sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya itu.

Dia mengaku jika saat ini kesulitan membeli bahan baku karena adanya virus Corona. Bahan yang dia gunakan sebagian besar masih impor dari Cina. Seperti bulu domba, bulu kelinci, mata jenggot dan bagian tutup jidat.

Alviz sedang membuat rangka barongsai. Foto : Ahmad Rosyidi

“Adanya virus Corona saat ini saya belum bisa mengambil barang dari Cina hingga waktu yang tidak ditentukan. Untuk sementara, saya menggunakan bahan yang masih ada dengan warna yang terbatas,” ungkap warga Desa Loram Kulon, RT 01 RW 02, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu.

Baraongsai buatan Alvis menggunakan ukuran standar tanding. Rangka barongsai Alvis menggunakan bahan rotan, setelah rangkanya jadi kemudian dia melapisi dengan kain kasa dan kertas roti. Untuk corak barongsai dia lukis menggunakan tangan dengan cat mobil, selain warnanya cerah, menurutnya juga lebih awet.

“Proses pembuatan barongsai membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua pekan. Pemasaran saya sudah ke seluruh Indonesia. Pemesanan harus memberi uang muka 50 persen terlebih dahulu sebagai tanda jadi,” jelasnya, Senin (24/2/2020) pagi.

Dia hanya membuat barongsai ukuran standar tanding dengan kualitas yang bagus. Sekarang dia sudah tidak menggunakan bulu sintetis demi menjaga kualitas produknya dan semua menggunakan bulu domba. Alvis menjual barongsainya dengan harga Rp 5,5 juta.

Dia juga menjelaskan, jika ada dua jenis motif wajah barongsai, yaitu hoksan dan futsan. Membuat rangka agar ekspresi wajah barongsai lebih hidup, menurutnya cukup sulit. “Kalau digunakan untuk lomba ekspresi, wajah barongsai juga menjadi bagian penilaian,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

New PRPP Jateng Akan Disiapkan untuk Kedatangan Metallica

0

SEMARANG, BETANEWS.ID – Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah akan segera berubah. Pusat rekreasi bagi masyarakat tersebut akan segera direvitalisasi dan berubah nama menjadi New PRPP. Revitaslisasi tersebut di antaranya akan meliputi pembangunan exhibition hall berukuran 10 ribu meter persegi.

“Revitalisasi akan meliputi pembangunan hotel tujuh lantai yang memiliki 300 kamar, exhibition hall berukuran 10 ribu meter persegi dan convention hall seluas 5 ribu meter persegi,” ujar Direktur Utama New PRPP Titah Listiorini, sebagaimana dikutip dari Humas Pemprov Jateng.

Untuk konsep convention hall seperti yang akan dibangun di New PRPP, di Indonesia sudah ada yang di BSD. Di sana punya 5 ribu meter persegi sebanyak 10 unit. Namun, di BSD tersebut memiliki hotel. Dan di New PRPP antara hotel dan convention hall berada di satu kawasan.

Titah menambahkan, New PRPP juga akan dibangun ruang pamer industri, pusat oleh-oleh, restoran, bangunan penunjang bandara dan pengembangan obyek wisata.

Konser Metallica di Jateng

Dengan dibangunnya PRPP, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjajaki kemungkinan mendatangkan Metallica untuk konser di Jawa Tengah. Ia ingin Jawa Tengah semakin sering menjadi tempat digelarnya konser musik bertaraf internasional.

Beberapa band papan atas tercatat pernah menggelar konser di Jawa Tengah, yaitu Europe di Boyolali dan Westlife di Semarang. Namun Ganjar tak puas. Dia ingin band sekelas Deep Purple dan Metallica bisa konser di Semarang.

“Waktu Westlife manggung di Borobudur itu bagus. Di Sam Poo Kong juga bagus. Itu sebenarnya ujicoba dan animonya bagus. Kami harapkan band nasional maupun internasional yang bagus juga tertarik manggung di Jawa Tengah,” kata Ganjar, di sela menonton konser Whitesnake dan Scorpion di Stadion Kridosono Jogja, Minggu (1/3/2020).

Ganjar pun mengutarakan keinginannya kepada Anas Syahrul Alimi, promotor Rajawali Indonesia yang pernah mendatangkan band-band rock dunia ke Tanah Air, di antaranya Dream Theater, Megadeth, Whitesnake hingga Scorpion.

“Tadi dibilang yang sudah kontrak dengan Deep Purple. Itu oke tapi saya inginnya Metallica. Tolong bilang ke Mas Metallica, jangan mahal-mahal ya,” seloroh Ganjar pada Anas.

Untuk mendukung rencana itu, pihaknya tengah mempersiapkan infrastruktur yang bisa menunjang konser skala internasional di Jawa Tengah, baik gedung, transportasi maupun fasilitas pendukung lainnya.

Dengan lokasinya yang strategis di antara Bandara Internasional Ahmad Yani dan Pelabuhan Tanjung Emas, Ganjar yakin New PRPP siap menjadi venue konser internasional kebanggaan Jawa Tengah.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Selain Motor Antik, Rajawali Bursa Motor Juga Punya Koleksi Meja Kursi Batu Giok Seharga Rp 30 M

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Kudus – Pati KM 5 Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, tampak bangunan bercat putih. Di dalam bangunan tersebut, terlihat puluhan motor antik dan mobil terparkir rapi. Beberapa orang juga terlihat sedang beraktivitas bongkar mesin mobil. Di ruangan lain tampak sebuah dua kursi dan meja warna hijau lumut. Meja kursi tersebut dihiasi ornamen – ornamen berbentuk burung dan ikan. Meja kursi tersebut terbuat dari giok, satu di antara koleksi Rajawali Bursa Motor, yang selain menjual aneka motor antik juga punya koleksi meja kursi langka yang dijual seharga Rp 30 miliar.

Saifullah, dengan koleksi meja dari batu giok. Foto : Rabu Sipan

Kepada betanews.id, Saifullah (55) selaku yang diamanahi mengelola show room tersebut mengatakan, selain motor – motor antik dari Jerman dan Asia, Rajawali Bursa Motor saat ini punya koleksi meja kursi yang terbuat dari batu giok. Meja Kursi yang terbuat dari batu giok itu sangat langka dan umurnya mungkin sudah berabad – abad.

“Koleksi kursi giok kami ada dua dan mejanya satu. Jadi keseluruhannya itu terbuat dari batu giok. Batu gioknya tidak hanya buat lapisan saja, tapi kayaknya batu giok itu dulu dipahat jadi meja kursi. Meja kursi itu kami jual dengan harga Rp 30 miliar,” ungkap pria yang akrab disapa Saiful.

Dia mengatakan, meja kursi dari batu giok itu di datangkan ke Rajawali Bursa Motor sekitar dua tahun lalu. Tentang asalnya dia mengaku tidak mengetahui persis dan hanya menjawab peninggalan para leluhur masa lampau. Tapi Saiful menduga, meja kursi terbuat dari batu giok itu merupakan tempat duduk para raja zaman dulu. Karena kelangkaan dan nilai historisnya itulah meja kursi dari giok harganya selangit.

Selain itu, lanjutnya di Rajawali Bursa Motor juga ada gebyok, jam antik, lampu katrol tentunya motor antik dan mobil antik. Di Rajawali Bursa Motor biasanya punya koleksi mobil -mobil klasik. Tapi saat ini yang tersedia mobil berjenis Jeep saja. Terlihat memang di toko terparkir mobil jenis Jeep ada tiga unit dan yang di belakang toko masih ada beberapa unit sedang diretorasi.

“Sebulan kemarin ya ada satu unit sedan klasik merk Mercedes. Tapi sudah laku dibeli sama orang Bandung. Yang ada sekarang, mobil Jeep semua dan kami jual kisaran harga Rp 250 juta,” ungkap Saiful sambil menunjukan foto mobil Mercedes yang laku terjual.

Dia mengatakan, peminat barang antik di Rajawali Bursa Motor tidak hanya orang Kudus, Pati dan sekitarnya saja. Tapi juga sudah mencakup seluruh kota di Pulau Jawa, Bali, Sumatra, dan Kalimantan. Untuk pemasaran Saiful mengaku mengandalkan komunitas pecinta barang antik.

“Kami para pelaku usaha dan pecinta barang antik itu tergabung dalam komunitas. Setiap setahun sekali kita mengadakan jambore nasional. Di situ kita bisa sharing sekaligus menawarkan barang antik yang kita miliki. Semoga saja kami bisa melestarikan barang antik termasuk motor antik,” ujar Saiful.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

BMW R2, Motor Langka Koleksi Sekaligus Maskot Rajawali Bursa Motor, Tidak Dijual Meski Ditawar Rp 1 Miliar

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa mobil dan puluhan motor tua tampak terparkir memenuhi ruangan. Di antara sepeda motor terlihat sebuah motor tua warna hitam. Motor tersebut menggunakan mesin BMW. Kenalpotnya tampak unik, karena ujungnya pipih. Kedua joknya masih menggunakan per pegas. Begitu juga persenelingnya masih menggunakan handle tangan. Motor tersebut yakni BMW R2. Motor langka koleksi Toko Rajawali Bursa Motor yang tidak dijual meski ditawar dengan harga selangit.

Saifullah, dengan berbagai koleksi motor antik di showroomnya, yakni Rajawali Bursa Motor. Foto : Rabu Sipan

Saifullah (55), selaku pengelola showroom yang berada di tepi Jalan Kudus – Pati KM 5 itu menuturkan, BMW R2 yang dimiliki tokonya itu merupakan produk Jerman dan buatan tahun 1936. Motor tersebut masih bisa dinyalakan serta bisa jalan. Selain itu, sparepartnya masih original semua. Dan pernah memenangkan kontes kategori motor klasik kategori langka dan original tingkat Internasional, yang diadakan di Jogjakarta.

“Motor BMW R2 sudah sangat langka dan yang di Rajawali Bursa Motor ini satu – satunya di dunia. Karena alasan itu motor BMW R2 kami jadikan maskot di Toko Rajawali Bursa Motor. Walaupun beberapa kali ditawar para kolektor Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar motor itu tidak dilepas,” ungkap pria yang akrab disapa Saiful kepada betanews.id.

Pria warga Desa Ngemabalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu mengungkapkan, Rajawali Bursa Motor menjual berbagai macam motor dan mobil antik beserta spare partnya. Motor – motor yang dijual dan tersedia di toko tersebut didominasi produk Benua Eropa dan Asia. Di antaranya, skuter Lambreta dari Italia, BMW dan DKW dari Jerman serta produk Inggris yakni Northon, Ays, Avril, Royal Envil dan JAP.

“Untuk motor – motor produk Eropa kami jual kisaran harga Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per unit. Harga tergantung kelangkaan dan CC nya. Kalau koleksi motor antik kami dari Asia ya Honda dan Yamaha buatan kisaran tahun 1966,” urai pria berkaca mata tersebut.

Saiful mengaku mendapatkan berbagai jenis motor antik tersebut dari wilayah Pulau Jawa saja. Sedangkan peminat motor koleksi Rajawali Bursa Motor tidak hanya orang dari wilayah Jawa saja melainkan juga orang seberang. Di antaranya Bali, Sumatera, Kalimantan dan lainnya. Biasanya pembeli itu para kolektor atau para penghobi.

“Ini kan barang antic, jadi mayoritas pembeli itu para penghobi dan kolektor. Karena kalau orang hobi sudah suka, mereka tidak mempermasahkan harga. Dan di Rajawali Bursa Motor itu ada saja yang beli. Hari ini saja kami akan mengirim satu unit motor antik BMW ke Jakarta,” ungkap Saiful.

Dia menambahkan, Rajawali Bursa Motor selain menjual aneka motor antik juga menyediakan spare partnya. Jadi para pelanggan tidak usah khawatir kelangkaan onderdil motor antik yang dibeli. “Biasanya orang beli motor antik itu takut akan kelangkaan onderdilnya. Karena alasan itu kami menyediakannya. Bisa dibilang di Rajawali Bursa Motor itu lengkap,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jok Mobil Berkualitas dan Bergaransi, JP Leather Car Punya Banyak Pelanggan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi barat jalan di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak sebuah bangunan beratap galvalum. Di dalam bangunan terlihat puluhan busa jok tergantung pada sebuah besi holo. Di bawahnya tampak beberapa material menanti sentuhan.Di antara material terlihat beberapa pria sedang sibuk melapisi busa jok mobil dengan material semi kulit. Tempat tersebut yakni Jati Patuh Leather Car, yakni tempat pembuatan dan servis jok mobil bargaransi.

Muchtar (61) selaku pemilik Jati Patuh Leather Car membenarkan, bahwa pembuatan dan servis jok di tempat usahanya tersebut bergaransi selama enam bulan. Garansi tersebut mencakup kerusakan kecil maupun besar. Garansi tersebut diberikan untuk menjaga kepercayaan para pelanggannya. Selain itu dirinya juga memberi layanan cepat, tepat waktu sesuai perjanjian dan tentu hasilnya bagus dan keren.

“Pembuatan jok di JP Leather Car itu ada garansinya selama enam bulan. Sobek sedikit saja bawa kemari, langsung saya ganti baru. Selain itu hasilnya bagus, rapi, dan cepat. Bahkan kami berani beri jaminan untuk pembuatan semua jok satu mobil tipe mini bus bisa selesai satu hari,” ungkap Muchtar kepada betanews.id.

Dia mengatakan, selain jaminan yang diungkapnya tersebut, harga jasa pembuatan jok mobil di Jati Patuh Leather Car juga sangat terjangkau. Untuk harga, lanjutnya bervariasi terbagi menjadi tiga kelas. Dari harga termurah yakni Rp 550 ribu per baris. Kelas menengah atau kualitas sedang harganya Rp 950 ribu per baris dan yang paling mahal harganya Rp 1, 5 juta perbaris.

“Untuk yang termurah itu, mereknya Cavero, Innova, Eklus dan lain – lain. Yang kualitas menengah merk MBtech dan lainnya. Sedangkan yang paling mahal itu mereknya Morano. Pokoknya di tempat kami itu lengkap. Pelanggan pingin yang murah ada, sedang ada, mahal pun ada. Kami siap menyesuaikan bujet para pelanggan kami,” jelas Muchtar sambil tersenyum.

Pria yang dikaruniai lima orang putra itu mengungkapkan, hasil karya jasa pembuatan jok mobil miliknya kini sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya dari Kudus saja, tapi ada beberapa pelanggan dari luar Kota Kretek. Di antaranya, Demak, Pati, Jepara, Grobogan, Rembang bahkan ada juga beberapa pelanggan dari Tuban.

“Selain pelanggan perorangan dan kerja sama dengan bengkel mobil di Kudus. Saya  juga punya pelanggan perusahaan – perusahan besar di Kudus. Perusahan tersebut mempercayakan pembuatan atau servis jok mobil operasional mereka pada kami. Dan itu masih berlangsung hingga sekarang. Dan semoga selamanya,” harap Muchtar.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bosan Jadi Buruh Terus-Terusan, Muchtar Nekat Rintis Usaha Jok Mobil di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa jok mobil tampak berjajar di dalam bangunan tak berpintu. Di samping jok tersebut terlihat beberapa orang pemuda begitu sibuk beraktivitas. Tampak tangan seorang pemuda begitu terampil membuat pola pada kain. Setelah pola terbentuk kemudian kain dipotong dan kemudian dijahit. Selama proses menjahit, telihat pria paruh baya menghampiri dan memperhatikan serta sesekali memberi instruksi. Pria paruh baya tersebut yakni Muchtar (61) pemilik usaha pembuatan dan servis jok mobil yang bernama Jati Patuh Leather Car.

Salah satu pekerja di JP Leather Car sedang mengerjakan servis jok. Foto : Rabu Sipan

Kepada betanews.id, Muchtar sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Menurutnya, JP Leather Car dirintisnya pada tahun 1986. Setelah sebelumnya dia bekerja di bengkel karoseri yang berada di Magelang selama lebih kurang sembilan tahun. Hingga dirinya menikah pada tahun yang sama saat dia memutuskan mengakhiri masa lajangnya. Bedanya, menikah itu awal tahun dan buka usaha pembuatan jok itu akhir tahun.

“Saya menikah itu awal tahun 1986. Saat itu saya masih bekerja di bengkel karoseri di Magelang. Saya merantau di Magelang, istri saya di Kudus. Jadi saya pengantin baru malah jauh dari istri. Karena saya tidak ingin lama – lama jauh sama istri. Pada tahun yang sama kemudian saya memutuskan keluar kerja, dan buka usaha pembuatan jok mobil sendiri di Kudus. Yang penting kumpul istri, rezeki bisa dicari,” ungkap Muchtar sambil tersenyum.

Selain tidak ingin jauh dari istri, lanjut Muchtar juga tidak ingin selamanya jadi buruh terus. “Kalau jadi buruh itu hasilnya tidak bisa berkembang dan pasti juga diperintah – perintah orang yang mempekerjakan kita,” imbuhnya.

Meskipun, saat itu bosnya tidak mengizinkan dia keluar dengan diberi iming – iming kenaikan gaji, Muchtar tetap pada keinginannya untuk keluar kerja dan memulai usahanya di Kudus.

Pria yang merupakan warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengungkapkan, awal – awal merintis usaha pembuatan jok mobil di Kudus lumayan berat. Dirinya harus rela mendatangi bengkel mobil satu ke bengkel mobil lainnya untuk mencari orderan. Kemudian meyakinkan para pemilik bengkel mobil bahwa dia itu bisa membuat jok baru maupun memperbaiki jok lawas. Tak jarang juga kemampuannya diragukan oleh pemilik bengkel maupun pemilik mobilnya langsung.

“Saking nggak percayanya, pernah ada pemilik bengkel yang menyuruh saya untuk praktik membuat jok di bengkelnya. Karena ingin membuktikan dan agar mendapatkan orderan, hal itu pun aku lakukan. Karena untuk mendapatkan orderan pembuatan jok mobil ya kebanyakan lewat bengkel mobil,” ujarnya.

Setelah para pemilik bengkel melihat jok mobil hasil karyanya yang bagus. Lambat laun dari mulut ke mulut pelanggan Muchtar mulai banyak. Hingga pada tahun 1991 dia dipercaya perusahaan – perusahaan besar di Kudus untuk memperbaiki semua jok kendaraan operasional perusahaan tersebut. Perusahaan besar tersebut antara lain, Djarum, Pura, Polytron, dan lainnya.

“Semua tahu kan berapa banyak mobil operasional perusahaan – perusahaan itu. Dari mobil kantor dan ekspedisi semua dipercayakan kepada saya untuk pembuatan dan perbaikan joknya,” ungkap pria yang dikaruniai lima anak itu.

Muchtar mengaku, selain membuat jok mobil dirinya sekarang juga menerima pembuatan sofa. Beberapa kali bebernya, dirinya mendapat orderan dari beberapa instansi pemerintah dan bank di Kudus untuk membuat sofa. Sedangkan untuk pengerjaan, dia dibantu anak – anaknya. Dirinya bersyukur dengan mempunyai keahlian membuat jok, dan keahlian itu bisa diwariskan kepada anak – anaknya.

“Kalau masalah hasil dari usaha saya ya sudah lumayan banyak ya. Tapi yang paling saya banggakan untuk diwariskan kepada anak saya ya keahlian saya membuat jok mobil. Dengan harapan, anak – anak saya kelak punya usaha sendiri dan tidak jadi buruh orang lain,” tutur Muchtar tersenyum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Trauma dengan Kecelakaan yang Dialami, Suratman Putuskan Jadi Perajin Ban

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Puluhan ban truk tampak bertumpuk dan berjajar rapi di tepi selatan jalan RT 01 RW 05, Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di seberang jalan terlihat sebuah gang. Tak jauh dari mulut gang tampak rumah yang halamannya dipenuhi ban yang sudah terbelah. Di antara ban terbelah tersebut, dua orang terlihat sibuk dengan pisau di tangannya. Satu di antara pria tersebut yakni Suratman (76) seorang perajin ban.

Suratman mengatakan, mulai menekuni menjadi perajin ban pada mulai 1978. Namun sebelumnya, dirinya dulunya bekerja sebagai sopir truk selama lima tahun. Namun nahas, saat mengemudikan truk dirinya malah mengalami kecelakaan. Truk yang dikendarainya tabrakan dengan bus, dan Suratman mengalami patah tulang parah di beberapa bagian tubuhnya.

Suratman sedang membuat tempat sampah dari bahan ban bekas. Foto :Rabu Sipan

“Saat itu kaki dan tangan saya mengalami patah tulang parah. Walau tidak sampai cacat, tapi saya kayak trauma untuk menjadi sopir. Karena alasan itulah, setelah sehat saya belajar membuat aneka kerajinan dari ban ke tetangga saya. Karena saat itu, desa tempat tinggal saya merupakan sentra pembuatan kerajinan dari ban,” jelas pria yang akrab disapa Ratman kepada betanews.id

Dia mengatakan, setelah belajar dan bisa membuat aneka kerajinan dari ban, dirinya pun menekuninya hingga sekarang. Hal itu dipilihnya karena kerajinan dari ban pasarnya jelas. Kemudian, dengan membuka usaha sendiri tidak ada yang perintah, dan tidak ada risiko kecelakaan.

Menurutnya, saat ini di Desa Tumpangkrasak hanya keluarganya lah yang masih bertahan membuat aneka kerajinan dari ban. Sedang yang lainnya sudah tidak ada penerusnya.

“Keluarga yang lain setelah orang tuanya meninggal, biasanya anak-anak mereka tidak bersedia melanjutkan. Kalau yang masih hidup juga sudah tua kayak saya, tenaganya sudah berkurang. Tapi syukurnya anak saya ada yang sudi melanjutkan membuat aneka kerajinan dari ban,” ungkap pria yang punya 10 anak tersebut.

Dia menuturkan, ban bekas oleh tangannya bisa dijadikan beberapa kerajinan. Di antaranya, sandal dengan berbagai model, tempat sampah, timba, tali, pot bunga dan lain sebagainya. Menurutnya, permintaan aneka kerajinan dari ban selalu setabil dan cenderung meningkat. Peminat tidak hanya dari Kudus saja melainkan juga dari daerah sekitar, antara lain Semarang, Blora, Pati, Grobogan, Demak maupun Jepara.

Untuk hasilnya, lanjutnya, dari aneka kerajinan dari ban itu bisa untuk menyukupi kebutuhan keluarga. Serta mampu menyekolahkan 10 anaknya hingga sekolah menengah atas. Dia pun bersyukur, karena satu di antara anaknya ada yang mau melanjutkan usahanya tersebut. Dirinya berharap, nantinya bisa membeli mesin, agar anaknya kelak bisa memproduksi lebih banyak aneka kerajinan dari ban.

“Sebenarnya permintaan dari pelanggan itu banyak, tapi karena terbatasnya tenaga kami tak mampu melayani semuanya. Semoga saja secepatnya bisa beli mesin agar bisa produksi lebih banyak dan memenuhi permintaan pelanggan,” harapnya sambil tersenyum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

‘Beras Palsu’ Buatan Pelajar Kudus Ini Raih Medali Emas

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di ruangan Labotarorium Biologi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus, terlihat dua remaja mengenakan seragam olah raga berwarna orange dengan jilbab biru dongker. Mereka adalah Indra Faizatun Nisa’ dan Novilla Dwi Candra, peraih medali emas pada ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) yang berlangsung 21-23 Februari 2020 lalu di Tangerang. Prestasi membanggakan tersebut berkat inovasi mereka dalam membuat beras analog sebagai pengganti makanan alternatif untuk beras.

Indra Faizatun Nisa’ dan Novilla Dwi Candra,siswi MAN 1 Kudus peraih medali emas dalam ajang ISPO atas karyanya menciptakan beras analog. Foto : Ahmad Rosyidi

Mereka mengungkapkan, bahwa beras yang dibuat dengan menggunakan bahan tepung biji lamun, tepung rumput laut latoh, dan tepung mocaf itu bagus dikonsumsi untuk penderita diabetes. Karena, beras analog tersebut selain mengandung protein dan karbohidrat juga kaya antioksidan dan rendah glukosa.

“Sebelumnya kami sudah pernah ikut Lomba Karya Ilmiyah Remaja (LKIR) pada 2019 lalu, yakni membuat bubur instan dari bahan yang sama. Mungkin karena kurang menarik, jadi belum mendapat juara. Dan beras ini menggunakan bahan yang sama hasil inovasi bubur instan,” terang perempuan yang akrab disapa Indra, Kamis (27/2/2020).

Menurut Indra, proses yang membutuhkan waktu cukup lama adalah menemukan formula yang pas. Mereka membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk menemukan komposisi takaran yang pas. Saat ini, berasnya sudah diuji dan dibagikan ke sejumlah teman-temannya untuk dikonsumsi dan hasilnya aman.

Mereka berencana mematenkan beras analog buatannya untuk dijual. “Karena saat expo kemarin, banyak yang minat beli, tetapi ini belum kita jual karena belum dipatenkan. Ke depan, saya ingin kuliah ekonomi saja dan menjadi penjual beras,” ungkapnya sambil tertawa.

Sementara, Novilla juga menambahkan, kemungkinan mereka akan menjual beras analog dengan harga Rp 20 ribu per 800 gram. Jika nanti bisa diproduksi secara massal, mungkin harganya akan lebih murah, karena biaya produksinya bisa ditekan. Untuk cara memasak, menurutnya sama saja dengan memasak beras biasa.

“Perbedaannya pada hasilnya saja, setelah dimasak beras analog lebih pekat dan lebih padat. Rasanya juga lebih gurih karena ada campuran rumput laut latoh,” jelasnya kepada betanews.id.

Sementara itu, Agus Siswanto (38) selaku Kepala Tata Usaha MAN 1 Kudus menyampaikan, bahwa harapan ke depan bisa diakui dan mendapat hak paten agar bisa diproduksi secara masal. Selain itu, peroleh medali emas di ajang ISPO juga mendapat rekomendasi untuk maju ke Ajang Genius Olympiad di USA pada bulan Juni 2020 mendatang.

“Karena untuk mengikuti ajang di USA tersebut juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, kami hitung membutuhkan biaya sekitar Rp 100 juta. Jadi kami dari pihak sekolah juga membutuhkan dukungan dari pemerintah dan stake holder yang ada,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Selain Pelayanan Cepat, Jadux Stiker Juga Beri Garansi

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Di depan sebuah rumah di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak papan nama tertulis Jadux Sticker. Rumah tersebut adalah milik Abdul Azis (25) pemilik usaha yang melayani pemesanan cutting sticker, sticker printing, topi dan kaus. Pria yang akrab disapa Jadux itu sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya.

Berawal dari suka modif motor, Jadux kemudian tertarik ikut kerja di percetakan stiker. Pada Tahun 2013, dia ikut orang terlebih dahulu, kemudian pada tahun 2014 membuka udaha sendiri. Dia memasarkan jasa pembuatan stiker lewat mulut ke mulut dan media sosial.

“Awalnya saya izin cuti dua pekan untuk ke Jakarta tempat bapak. Kemudian pas saya kembali sudah ada pegawai baru yang mengganti posisi saya. Dari pada menganggur, akhirnya saya membuka usaha sendiri. Saya juga sudah komunikasi meminta izin kepada bos saya yang dulu,” terangnya, Kamis (13/2/2020).

Pelanggan Jadux kebanyakan di wilayah eks Karesidenan Pati. Selain itu dia juga memasarkan secara online hingga ke Sulawesi dan Kalimantan. Harga Jadux Stiker ukuran 10 x 3 cm Rp 1.000, dengan jumlah pesan minimal 100 biji. Stiker motor mulai harga Rp 70 ribu hingga Rp 650 ribu, dan mobil mulai harga Rp 650 ribu hingga Rp 2 juta.

Harga tersebut sudah termasuk jasa pemasangan dan garansi tiga hari. Selain melayani jasa pembuatan stiker, dia juga melayani pesanan kaus, topi dan banner. Jadux bekerja sama dengan sejumlah teman untuk produksi, karena sebagian produk tidak bisa dikerjakan sendiri.

“Seperti sablon manual, cetak banner dan bordir saya kerja sama dengan teman. Harga kaus polos mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. Kaus sablon Rp 60 ribu hingga Rp 85 ribu, topi Rp 35 ribu hingga Rp 55 ribu. Dalam satu bulan, penghasilan saya lebih kurang sekitar Rp 6 juta,” ungkapnya.

Menurut Suhilmi (25) satu di antara sejumlah pelanggan Jadux, pelayanan di Jadux Stiker lebih cepat dari tempat lain. “Selain cepat karena langsung diproses, hasilnya juga sesuai pesanan. Ini saya pesan yang ke dua kalinya di sini,” tambah warga Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Di Tengah Keputusan Sulitnya Berhenti Sekolah, Aziz Mencoba Bangkit Hingga Bisa Dirikan Usaha Cutting Stiker

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Seorang pria mengenakan kaus berwarna hitam terlihat di depan monitor komputer sedang mendesain gambar. Sambil mendesain, sesekali dirinya membalas pesan WatsApp dari pelanggan-pelanggannya. Dia tak lain adalah Abdul Azis (25) warga Dukuh Pringsewu RT 03 RW 03, Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, pemilik usaha Jadux Stiker.

Jaduk, begitu dia akrab disapa, bercerita tentang perjalanan panjangnya hingga memiliki usaha Jadux Sticker. Pada 2012, dia putus sekolah, ketika masih duduk di bangku kelas satu SMA. Hal tersebut tak lain karena adanya konflik keluarga yang menimpa keluarga Jadux.

“Waktu itu saya mendapat beasiswa di SMAN 2 Bae, Kudus. Karena ada konflik keluarga, membuat orang tua saya bercerai. Bapak yang tinggal di Jakarta meminta saya sekolah di sana dan Ibu saya meminta untuk tetap di Kudus. Akhirnya saya memilih untuk tidak sekolah saja,” ungkapnya kepada betanews.id, Kamis (13/2/2020).

Keputusannya itu sempat ditentang keluarga, kemudian dia kabur ke Bangka Belitung ikut temannya. Jadux di sana kurang lebih satu bulan. Demi bertahan hidup, dia bekerja menjadi kuli bangunan di Bangka Belitung. Setelah kondisi keluarga sudah membaik, Jadux kembali ke Kudus dan kemudian ikut kerja di percetakan stiker sesuai hobinya mendesain dan modif motor.

Saat putus sekolah, dia sempat dipandang sebelah mata oleh teman-temannya, berbeda dengan kondisinya sekarang yang sudah bisa mandiri dan memiliki usaha sendiri. “Saat memutuskan berhenti sekolah, saya memang sudah bertekat untuk membuat usaha sendiri. Teman-teman lulus, saya harus sudah memiliki usaha sendiri,” terang anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Doa Jadux akhirnya menjadi kenyataan, pada 15 Agustus 2014, usaha Jadux Sticker diresmikan. Pada hari itu pula, kelulusan teman-teman sekolahnya. Dia merasa senang, karena cita-citanya memiliki usaha sendiri terwujud dan bertepatan hari kelulusan teman-teman SMA nya.

Nama Jadux sendiri, berawal dari panggilan guru di SMP. Saat itu dia dimarahi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 4 Kudus. “Karena saya memiliki badan yang kecil dan nakal, guru itu marah dan berkata, “Apa kamu mau jadi jaduk?” Sejak saat itu saya dipanggil teman-teman Jadux. Meski saya terkenal nakal waktu SMP, tapi saya juga dikenal anak yang pandai,” pungkasnya sambil tersenyum.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar ke Kepsek, ‘Yang Tidak Setuju Pancasila Angkat Tangan dan Silakan Hari Ini Langsung Mengundurkan Diri’

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Saat melantik 170 Kepala SMA/SMK/SLB Negeri Jawa Tengah di Gradhika Bhakti Praja, Jumat (28/2), Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo secara tegas tidak akan mentolelir kepala sekolah yang terpapar paham radikalisme. Dirinya akan langsung mencopot kepala sekolah yang terpapar paham itu.

Sebelum melantik, Ganjar langsung menanyakan komitmen para kepala sekolah terkait kesetiaannya pada NKRI. Mereka yang tidak setuju dengan pancasila, UUD 1945 diminta untuk langsung mengundurkan diri.

“Silahkan angkat tangan dan mulai hari ini langsung mengundurkan diri. Karena kami tidak akan mentolelir paham-paham seperti itu di Jateng,” kata Ganjar.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melakukan pelantikan terhadap Kepala SMA/SMK/SLB Negeri Jawa Tengah di Gradhika Bhakti Praja, Jumat (28/2). Foto : Ist

Tidak satupun dari kepala sekolah yang baru dilantik itu mengangkat tangan. Mereka dengan tegas sepakat dengan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Meski begitu, Ganjar tetap akan melakukan pengawasan dengan ketat ke seluruh sekolah yang ada di bawah kewenangannya.

“Kalau nanti saya keliling dan menemukan ada yang seperti itu (menganut paham radikal), pasti akan langsung saya copot,” tegasnya.

Soal radikalisme, lanjut Ganjar memang selalu menjadi perhatiannya saat melantik kepala sekolah. Sebab ia meyakini, sampai saat ini masih banyak paham radikalisme yang disebarkan di sekolah-sekolah Jawa Tengah. Beberapa contoh sudah terjadi, seperti di Sragen beberapa waktu lalu.

“Ada siswa yang mengibarkan bendera yang bukan merah putih, serta ada perundungan terhadap siswa yang tidak berjilbab. Ini sudah terjadi, jadi kepala sekolah harus melakukan proteksi,” ucapnya.

Apalagi lanjut Ganjar, menurut keterangan orang-orang yang pernah terlibat radikalisme, mereka mengatakan bahwa pendidikan adalah cara paling ampuh untuk melakukan perekrutan. Dan untuk merubah pemikiran anak-anak sekolah, menurut pengakuan mereka hanya terjadi dalam hitungan jam.

“Mantan pelaku bom Bali pernah cerita ke saya, kalau sasaran mereka menyebarkan paham radikal adalah pendidikan. Ini hati-hati, kalau tidak dibentengi dengan kuat, anda semua akan masuk ke jaringan itu,” terangnya.

Selain bahaya radikalisme, Ganjar juga meminta kepala sekolah yang baru dilantik untuk selalu menjaga integritas. Berbagai cara salah yang dilakukan selama ini, harus dihentikan.

“Tidak boleh ada korupsi, suap, ngasih contekan ke anak-anak demi kelulusan 100 persen. Ini integritas, harus dijaga betul demi masa depan bangsa ini,” pungkasnya.

- advertisement -

Sembari Asuh Cucu, Sutiah Tetap Berkarya dengan Buat Kerajinan Besek

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tangan perempuan tua tampak begitu terampil membelah pecahan batang bambu, yang kemudian dibelah lagi menjadi tipis – tipis. Belahan batang bambu yang tipis itu kemudian dirapikan menggunakan pisau. Setelah dirapikan, puluhan belahan bambu tersebut dijemur agar kering untuk selanjutnya dianyam menjadi sebuah besek. Perempuan tua itu bernama Sutiah (59), perajin besek di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Sutiah dengan puluhan besek hasil buatannya. Foto : Rabu Sipan

Kepada betanews.id, Sutiah sudi berbagi kisah tentang kerajinan besek yang dibuatnya. Dia mengungkapkan, mulai menekuni membuat besek sekitar tahun 2016. Pada tahun tersebut, dirinya berhenti bekerja dari perusahaan rokok ternama di Kudus. Dari pada nganggur dan hanya mengasuh cucunya, dia berinisiatif membuat kerajinan besek untuk mengisi waktu luang.

“Mengasuh cucu itu kan banyak waktu luangnya. Kalau cucu saya lagi tidur atau sedang nonton tv, itu merupakan waktu luang. Dari pada waktu luang itu terbuang percuma, ya saya buat membuat kerajinan besek,” ungkap perempuan yang akrab disapa Tiah ini.

Perempuan yang tercatat sebagai warga RT 6 RW 1 Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sebenarnya di hari tuanya semua kebutuhan sudah ditanggung anak – anaknya. Tapi karena dari muda sudah terbiasa bekerja, jadi seolah sayang jika ada waktu luang yang terbuang.

“Kalau masalah makan dan lainnya saya itu ditanggung anak-anak. Tapi sebagai seorang orang tua dan nenek, itu akan merasa senang bila punya penghasilan sendiri dan sesekali waktu bisa membelikan jajan cucu,” ucap Tiah sambil tersenyum.

Perempuan yang mempunyai tiga cucu ini mengatakan, di sela – sela waktu mengasuh cucu, dirinya mampu membuat besek sekitar 40 buah sehari. Jumlah tersebut itu dihitung 20 pasang dan dihargai Rp 13 ribu untuk per 10 pasang. Harga tersebut dari para pengepul. Beda lagi kalau yang beli itu bukan pengepul, dirinya bisa menjual lebih mahal yakni harga Rp 15 ribu per 10 pasang besek.

Sedangkan untuk bambu yang merupakan bahan baku pembuatan besek, lanjutnya, didapatkan di pekarangan belakang rumahnya. Dia mengaku memotong sendiri bambu tanamannya tersebut. Tapi bila musim hujan, dirinya terkadang membeli bambu kering milik tetangga. Karena, jika memotong bambu sendiri dan tidak bisa menjemur belahan bambu,akhirnya tidak bisa membuat besek.

“Besek itu harus belahan bambu kering. Kalau nggak kering nanti beseknya berjamur dan tidak laku. Bambu beli saja masih untung kok. Apalagi saat ini permintaan besek dari pengepul lumayan banyak,” terangnya.

Terpisah, Jumiatun (49), pengepul aneka kerajinan dari bambu menyampaikan, jika sejak Pemerintah Kabupaten Kudus membuat kebijakan membatasi penggunakan plastik, kerajinan besek di tokonya penjualannya mengalami peningkatan.

“Sebenarnya yang mengalami peningkatan penjualan tidak hanya besek. Tapi juga aneka kerajinan dari bambu lainnya. Khusus untuk besek, pemasok di Desa Jepang kewalahan. Karena itu saya juga mengambil dari Jepara,” jelas perempuan yang akrab disapa Bu Tun tersebut.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kemenag Kudus Tak Kantongi Data Jumlah Calon Jemaah Umrah yang Gagal Berangkat ke Tanah Suci

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua pria tampak sedang berkomunikasi di ruang Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus, Jumat (28/2/2020). Satu diantara mereka yakni Su’udi (57), Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah pada Kemenag Kudus. Terkait dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi yang menghentikan sementara penerbitan visa umrah terkait dengan virus Corona, dia mengaku belum mendapat informasi secara resmi dari pusat. Dirinya baru mendengar informasi tersebut dari media.

Dalam hal ini, Su’udi akan menghormati kebijakan pemerintah Arab Saudi demi pencegahan virus Corona. Saat ini, dia masih menunggu informasi secara resmi dari pusat terkait kebijakan yang harus dilakukan. Dengan adanya kebijakan pemberhentian jemaah umrah, dia akan berkomunikasi dengan biro jasa umrah yang ada di Kudus.

“Saya akan mengkomunikasikan dengan biro umrah dan memberi pengertian, agar hal ini bisa diselesaikan dengan baik terhadap calon jemaah umrah. Saya juga berharap calon jemaah umrah bisa memahami,” ungkap Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah pada Kemenag Kudus itu kepada betanews.id.

Dirinya juga menyebut, untuk perizinan, biro-biro di Kudus langsung mengurus perizinan ke Jakarta. Sehingga dirinya belum tahu secara detail data jemaah umrah dari Kudus yang belum bisa diberangkatkan akibat kebijakan ini.

Dia juga menjelaskan, jika di Kudus sendiri kantor biro yang resmi baru ada lima, sedangkan yang lain tidak memiliki kantor cabang di Kudus. Meski tidak memiliki kantor di Kudus, jika biro tersebut memiliki surat izin dan data lengkap, Kemenag tetap akan mengizinkan untuk memberangkatkan jemaah umrah.

Sedangkan Akhmad Mundakir (55), Kepala Kemenag Kudus menambahkan, jika dirinya juga menghargai kebijakan pemerintah Arab Saudi yang bertujuan melakukan pencegahan masuknya virus Corona. Menurutnya, hal tersebut sangat wajar dilakukan demi menjaga keselamatan banyak orang.

“Meski mayoritas orang Indonesia beragama muslim, khususnya warga Kudus yang antusias umrahnya cukup tinggi, saya berharap warga tetap bersabar dan bisa memahami. Saat ini kami belum ada komunikasi dan intruksi dari pusat terkait pemberhentian jemaah umrah. Hanya ada pers rilis pemberitahuan saja,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -