BETANEWS.ID,KUDUS – Seorang pria mengenakan kaus berwarna hitam terlihat di depan monitor komputer sedang mendesain gambar. Sambil mendesain, sesekali dirinya membalas pesan WatsApp dari pelanggan-pelanggannya. Dia tak lain adalah Abdul Azis (25) warga Dukuh Pringsewu RT 03 RW 03, Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, pemilik usaha Jadux Stiker.
Jaduk, begitu dia akrab disapa, bercerita tentang perjalanan panjangnya hingga memiliki usaha Jadux Sticker. Pada 2012, dia putus sekolah, ketika masih duduk di bangku kelas satu SMA. Hal tersebut tak lain karena adanya konflik keluarga yang menimpa keluarga Jadux.
“Waktu itu saya mendapat beasiswa di SMAN 2 Bae, Kudus. Karena ada konflik keluarga, membuat orang tua saya bercerai. Bapak yang tinggal di Jakarta meminta saya sekolah di sana dan Ibu saya meminta untuk tetap di Kudus. Akhirnya saya memilih untuk tidak sekolah saja,” ungkapnya kepada betanews.id, Kamis (13/2/2020).
Keputusannya itu sempat ditentang keluarga, kemudian dia kabur ke Bangka Belitung ikut temannya. Jadux di sana kurang lebih satu bulan. Demi bertahan hidup, dia bekerja menjadi kuli bangunan di Bangka Belitung. Setelah kondisi keluarga sudah membaik, Jadux kembali ke Kudus dan kemudian ikut kerja di percetakan stiker sesuai hobinya mendesain dan modif motor.
Saat putus sekolah, dia sempat dipandang sebelah mata oleh teman-temannya, berbeda dengan kondisinya sekarang yang sudah bisa mandiri dan memiliki usaha sendiri. “Saat memutuskan berhenti sekolah, saya memang sudah bertekat untuk membuat usaha sendiri. Teman-teman lulus, saya harus sudah memiliki usaha sendiri,” terang anak ketiga dari empat bersaudara itu.
Doa Jadux akhirnya menjadi kenyataan, pada 15 Agustus 2014, usaha Jadux Sticker diresmikan. Pada hari itu pula, kelulusan teman-teman sekolahnya. Dia merasa senang, karena cita-citanya memiliki usaha sendiri terwujud dan bertepatan hari kelulusan teman-teman SMA nya.
Nama Jadux sendiri, berawal dari panggilan guru di SMP. Saat itu dia dimarahi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 4 Kudus. “Karena saya memiliki badan yang kecil dan nakal, guru itu marah dan berkata, “Apa kamu mau jadi jaduk?” Sejak saat itu saya dipanggil teman-teman Jadux. Meski saya terkenal nakal waktu SMP, tapi saya juga dikenal anak yang pandai,” pungkasnya sambil tersenyum.
Editor : Kholistiono

