Trauma dengan Kecelakaan yang Dialami, Suratman Putuskan Jadi Perajin Ban

BETANEWS.ID,KUDUS – Puluhan ban truk tampak bertumpuk dan berjajar rapi di tepi selatan jalan RT 01 RW 05, Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di seberang jalan terlihat sebuah gang. Tak jauh dari mulut gang tampak rumah yang halamannya dipenuhi ban yang sudah terbelah. Di antara ban terbelah tersebut, dua orang terlihat sibuk dengan pisau di tangannya. Satu di antara pria tersebut yakni Suratman (76) seorang perajin ban.

Suratman mengatakan, mulai menekuni menjadi perajin ban pada mulai 1978. Namun sebelumnya, dirinya dulunya bekerja sebagai sopir truk selama lima tahun. Namun nahas, saat mengemudikan truk dirinya malah mengalami kecelakaan. Truk yang dikendarainya tabrakan dengan bus, dan Suratman mengalami patah tulang parah di beberapa bagian tubuhnya.

Suratman sedang membuat tempat sampah dari bahan ban bekas. Foto :Rabu Sipan

“Saat itu kaki dan tangan saya mengalami patah tulang parah. Walau tidak sampai cacat, tapi saya kayak trauma untuk menjadi sopir. Karena alasan itulah, setelah sehat saya belajar membuat aneka kerajinan dari ban ke tetangga saya. Karena saat itu, desa tempat tinggal saya merupakan sentra pembuatan kerajinan dari ban,” jelas pria yang akrab disapa Ratman kepada betanews.id

-Advertisement-

Dia mengatakan, setelah belajar dan bisa membuat aneka kerajinan dari ban, dirinya pun menekuninya hingga sekarang. Hal itu dipilihnya karena kerajinan dari ban pasarnya jelas. Kemudian, dengan membuka usaha sendiri tidak ada yang perintah, dan tidak ada risiko kecelakaan.

Menurutnya, saat ini di Desa Tumpangkrasak hanya keluarganya lah yang masih bertahan membuat aneka kerajinan dari ban. Sedang yang lainnya sudah tidak ada penerusnya.

“Keluarga yang lain setelah orang tuanya meninggal, biasanya anak-anak mereka tidak bersedia melanjutkan. Kalau yang masih hidup juga sudah tua kayak saya, tenaganya sudah berkurang. Tapi syukurnya anak saya ada yang sudi melanjutkan membuat aneka kerajinan dari ban,” ungkap pria yang punya 10 anak tersebut.

Dia menuturkan, ban bekas oleh tangannya bisa dijadikan beberapa kerajinan. Di antaranya, sandal dengan berbagai model, tempat sampah, timba, tali, pot bunga dan lain sebagainya. Menurutnya, permintaan aneka kerajinan dari ban selalu setabil dan cenderung meningkat. Peminat tidak hanya dari Kudus saja melainkan juga dari daerah sekitar, antara lain Semarang, Blora, Pati, Grobogan, Demak maupun Jepara.

Untuk hasilnya, lanjutnya, dari aneka kerajinan dari ban itu bisa untuk menyukupi kebutuhan keluarga. Serta mampu menyekolahkan 10 anaknya hingga sekolah menengah atas. Dia pun bersyukur, karena satu di antara anaknya ada yang mau melanjutkan usahanya tersebut. Dirinya berharap, nantinya bisa membeli mesin, agar anaknya kelak bisa memproduksi lebih banyak aneka kerajinan dari ban.

“Sebenarnya permintaan dari pelanggan itu banyak, tapi karena terbatasnya tenaga kami tak mampu melayani semuanya. Semoga saja secepatnya bisa beli mesin agar bisa produksi lebih banyak dan memenuhi permintaan pelanggan,” harapnya sambil tersenyum.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER