31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Sembari Asuh Cucu, Sutiah Tetap Berkarya dengan Buat Kerajinan Besek

BETANEWS.ID, KUDUS – Tangan perempuan tua tampak begitu terampil membelah pecahan batang bambu, yang kemudian dibelah lagi menjadi tipis – tipis. Belahan batang bambu yang tipis itu kemudian dirapikan menggunakan pisau. Setelah dirapikan, puluhan belahan bambu tersebut dijemur agar kering untuk selanjutnya dianyam menjadi sebuah besek. Perempuan tua itu bernama Sutiah (59), perajin besek di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Sutiah dengan puluhan besek hasil buatannya. Foto : Rabu Sipan

Kepada betanews.id, Sutiah sudi berbagi kisah tentang kerajinan besek yang dibuatnya. Dia mengungkapkan, mulai menekuni membuat besek sekitar tahun 2016. Pada tahun tersebut, dirinya berhenti bekerja dari perusahaan rokok ternama di Kudus. Dari pada nganggur dan hanya mengasuh cucunya, dia berinisiatif membuat kerajinan besek untuk mengisi waktu luang.

“Mengasuh cucu itu kan banyak waktu luangnya. Kalau cucu saya lagi tidur atau sedang nonton tv, itu merupakan waktu luang. Dari pada waktu luang itu terbuang percuma, ya saya buat membuat kerajinan besek,” ungkap perempuan yang akrab disapa Tiah ini.

-Advertisement-

Perempuan yang tercatat sebagai warga RT 6 RW 1 Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sebenarnya di hari tuanya semua kebutuhan sudah ditanggung anak – anaknya. Tapi karena dari muda sudah terbiasa bekerja, jadi seolah sayang jika ada waktu luang yang terbuang.

“Kalau masalah makan dan lainnya saya itu ditanggung anak-anak. Tapi sebagai seorang orang tua dan nenek, itu akan merasa senang bila punya penghasilan sendiri dan sesekali waktu bisa membelikan jajan cucu,” ucap Tiah sambil tersenyum.

Perempuan yang mempunyai tiga cucu ini mengatakan, di sela – sela waktu mengasuh cucu, dirinya mampu membuat besek sekitar 40 buah sehari. Jumlah tersebut itu dihitung 20 pasang dan dihargai Rp 13 ribu untuk per 10 pasang. Harga tersebut dari para pengepul. Beda lagi kalau yang beli itu bukan pengepul, dirinya bisa menjual lebih mahal yakni harga Rp 15 ribu per 10 pasang besek.

Sedangkan untuk bambu yang merupakan bahan baku pembuatan besek, lanjutnya, didapatkan di pekarangan belakang rumahnya. Dia mengaku memotong sendiri bambu tanamannya tersebut. Tapi bila musim hujan, dirinya terkadang membeli bambu kering milik tetangga. Karena, jika memotong bambu sendiri dan tidak bisa menjemur belahan bambu,akhirnya tidak bisa membuat besek.

“Besek itu harus belahan bambu kering. Kalau nggak kering nanti beseknya berjamur dan tidak laku. Bambu beli saja masih untung kok. Apalagi saat ini permintaan besek dari pengepul lumayan banyak,” terangnya.

Terpisah, Jumiatun (49), pengepul aneka kerajinan dari bambu menyampaikan, jika sejak Pemerintah Kabupaten Kudus membuat kebijakan membatasi penggunakan plastik, kerajinan besek di tokonya penjualannya mengalami peningkatan.

“Sebenarnya yang mengalami peningkatan penjualan tidak hanya besek. Tapi juga aneka kerajinan dari bambu lainnya. Khusus untuk besek, pemasok di Desa Jepang kewalahan. Karena itu saya juga mengambil dari Jepara,” jelas perempuan yang akrab disapa Bu Tun tersebut.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER