BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan bambu terlihat di depan sebuah rumah di Jl Suryo Kusumo Gang 1, Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Seorang pria terlihat sedang memotong kayu di depan rumah itu. Dia tak lain adalah Hadi Saputro (29), pemilik Bambu Jepang Craft.
Pria yang akrab disapa Hadi itu sudi bercerita kepada betanews.id tentang usahanya. Dia membuat kerajinan dari bambu sejak tahun 2015. Biasanya, dia membuat saat ikut memeriahkan acara karnaval, kirab atau lomba antardesa.

“Produk dari bambu hanya saya buat untuk acara tertentu saja. Karena orang tertentu yang mau membeli. Harganya mahal, selain itu juga tidak banyak orang yang suka dari bahan bambu,” terangnya, Selasa (18/2/2020).
Bambu Jepang Craft merupakan nama yang diberikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus kepada produknya. Saat itu digunakan untuk mengisi absensi di sebuah acara. Karena harus ada nama produknya, jadi diberi nama itu dan digunakan hingga sekarang.
“Nama itu sejak tahun 2018, meski menggunakan nama Bambu Jepang, tetapi saat ini produksi saya kebanyakan dari kayu jati Belanda. Saya mengikuti permintaan pasar, yang lagi ramai apa ya saya bikin,” terang anak pertama dari dua bersaudara itu.
Dari bahan kayu jati Belanda, Hadi membuat gantungan kunci, jam kayu, foto kayu dan papan nama. Harga mulai Rp 2.500 hingga Rp 150 ribu. Untuk produk dari bambu hanya dibuat jika ada pesanan atau acara tertentu, dengan harga mulai Rp 2.500 hingga Rp 1,5 juta.
Souvenir dari bahan kayu jati Belanda saat ini sudah dipasarkan secara online. Untuk konsumen sendiri hampir dari seluruh Indonesia. Menurutnya pesanan ramai saat musim pernikahan. Penghasilan bersih Hadi dalam sepekan minimal Rp 500 ribu. Untuk pemesanan saat ramai harus menunggu sekitar satu pekan.
“Kalau musim nikah, saya sampai kewalahan. Pernah ada yang membantu tetapi hasilnya kurang maksimal dan harus mengulang. Jadi saat ini saya kerjakan sendiri,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

