Beranda blog Halaman 1878

Maslihat, Sang Dokter Permak Levis yang Siap Kustom Celana Jeans Milikmu

0
Maslihat sedang menyusun beberapa celana jeans yang milik pelanggan yang mau dipermak. Foto: Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara bising kendaraan bermotor lalu lalang di sepanjang Jl. Kudus-Colo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Tepat di depan SDN 1 Bae tampak beberapa deret kios semi permanen dari papan yang berjajar. Beberapa petaknya diisi oleh usaha seperti pedagang kaki lima dan permak jeans yang di bagian depan kiosnya tertulis ‘Dokter Permak Levis’.

Salah satunya adalah permak jeans Penjahit Remaja Indah milik Maslihat (55). Pria tambun berambut ikal keputihan tersebut nampak sibuk melayani pelanggan sambil tetap menjahit beberapa potong celana berbahan jeans yang sudah dipotongnya. Sementara itu, puluhan baju yang telah selesai dikerjakan tertumpuk rapi di pojok kiri depan.

Maslihat sedang melakukan permak celana jeans milik salah satu pelanggan. Foto : Titis Widjayanti

“Kalau usaha ini sudah lama, sejak tahun 1987. Karena sebenarnya tidak hanya servis di sini, di tahun itu pertama kali saya buka usaha jahit di rumah. Lalu sekalian buka di sini juga. Sampai sekarang,” ungkap Maslihat kepada betanews.id, Senin (9/3/2020).

Pria asli Pasuruan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut, awalnya mendapat bekal menjahit dari salah satu pabrik konveksi di Kota Semarang. Pada waktu itu, ia menyebutkan masih bujang dan akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

“Dulu ya berawal dari keterampilan dari bekerja di Semarang saat masih bujang. Lalu memutuskan buat usaha sendiri waktu tahun 87 itu. Dulu sempat punya beberapa karyawan juga. Sekarang sudah bekerja sendiri kalau ada pesanan. Ya kalau pagi di rumah, kalau mulai siang sampai sore di sini,” papar dia.

Diakui Maslihat, meskipun hanya di pinggir jalan, usahanya lumayan rame bahkan hingga sekarang. Beberapa hal yang membuatnya bertahan salah satunya karena kepercayaan pelanggan yang memang sudah menjadi langgannanya setiap waktu. Bahkan omzet seharinya ia mengatakan antara Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu.

“Sampai sekarang sih masih rame. Belum ada kendala besar. Jadi ya, dibilang masih lancar-lancar saja. Tapi ya itu, sesuai dengan pelanggan yang menaruh. Mulai dari motong, mengecilkan, membesarkan sampai ganti resleting dan pasang aksesoris baju apapun saya kerjakan di sini. Harga bervariasi sesuai servis yang dibutuhkan,” kata dia.

Sementara itu, Ansori, salah satu pelanggan yang tampak mengambil celana di sana, menuturkan, bahwa sudah dua kali menaruh baju untuk diservis. Lelaki berkaus biru itu mengatakan jika merasa puas dengan hasil dan waktu pengerjaan yang cepat serta harga yang terjangkau.

“Sudah dua kali di sini. Kenapa memilih nyervis di sini, ya karena pengerjaannya cepat, murah, hasilnya rapi dan jahitannya kuat. Jadi sebagai pelanggan lebih percaya untuk menaruh baju kayak ini celana ganti resleting sama mengecilkan bagian pinggulnya,” pungkas dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Biar Cepat Sampai Tempat Kerja, Noviatun Pilih Seberangi Sungai Wulan dengan Perahu Eretan

0
Beberapa warga naik perahu eretan untuk menyeberangi Sungai Wulan. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS. ID, KUDUS – Seorang perempuan mengenakan jaket merah dan masker tampak mengendarai motor. Dengan hati – hati, motor yang dikendarainya menaiki perahu penyeberangan di Sungai Wulan. Perempuan tersebut yakni Eko Noviatun, satu di antara pengguna jasa penyeberangan perahu eretan.

Dia mengungkapkan, hampir setiap hari menyeberangi Sungai Wulan menggunakan perahu eretan. Hal itu dilakukakan selama hampir enam tahun. Karena tempat tinggalnya di Kecamatan Undaan, Kudus dan tempat dia bekerja yang berada di Desa Sambung, Kecamatan Karanganyar, Demak dipisahkan oleh Sungai Wulan.

Warga bersiap untuk menyeberangi Sungai Wulan menggunakan perahu Eretan. Foto : Rabu Sipan

“Saya itu sudah pelanggan tetap perahu eretan. Karena kalau saya berangkat kerja lewat jalur darat jarak tempuhnya memutar dan kejahuan. Jadi naik perahu eretan bisa lebih cepat dan hemat bahan bakar,” ungkap Eko Noviatun kepada betanews.id.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu menuturkan, keberadaan perahu eretan di Sungai Wulan itu sangat membantunya. Apalagi ongkos penyeberangannya juga tidak mahal yakni Rp 3 ribu pulang – pergi (PP).

Senada dengan Eko Noviatun, Sukaenah warga Dukuh Gandek, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, mengaku sering menggunakan jasa perahu eretan untuk menyeberang. Setiap pergi ke Pasar Wage yang berada di Desa Undaan Kidul, Kudus, dia atau pun tetangganya pasti naik perahu eretan.

“Saya dari kecil sampai tua ini setiap pergi ke Pasar Wage Undaan Kidul, Kudus, pasti naik perahu eretan. Soalnya kalau lewat jalan darat harus lewat Bendungan Wilalung. Jauhnya minta ampun. Apalagi saya ini kalau ke pasar jalan kaki,” ungkap Sukainah yang berharap dibangun jembatan penyeberangan oleh pemerintah.

Sumakno, pemilik perahu eretan mengungkapkan, keberadaan perahu eretan bisa dianggap sebagai penunjang aktivitas masyarakat sekitar. Khususnya enam desa di Kecamatan Karanganyar, Demak dan warga Desa di Kecamatan Undaan.

Dia mengaku demi bisa menyeberangkan warga sekitar, dirinya harus beli perahu seharga Rp 45 juta. Dan jalan dari kedua kecamatan menuju Sungai Wulan dibuat cor beton. Agar saat musim hujan bisa dilalui dan warga bisa menjangkau perahunya.

“Untuk membuat penyeberangan ini saya harus modal banyak. Beli perahu dulu itu sudah Rp 45 juta dan sekarang harganya sudah naik jadi Rp 80 juta,” ujar Sumakno.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Belasan Tahun Zuri Mengais Rezeki di Atas Perahu Eretan

0
Zuri sedang menarik perahu eretan untuk menyeberangkan penumpang. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak berjajar di pinggir Sungai Wulan menanti sebuah perahu. Setelah perahu merapat ke tepi, mereka dengan hati – hati naik ke perahu. Kemudian dengan cekatan pria paruh baya mengenakan kemeja putih menggerakkan tangan keriputnya untuk menarik perahu menyeberangkan para penumpang. Pria tersebut yakni Zuri (55) yang belasan tahun mengais rezeki sebagai penarik perahu eretan di Sungai Wulan.

Beberapa warga menggunakan jasa perahu eretan untuk seberangi Sungai Wulan. Foto: Rabu Sipan

Zuri menuturkan, sudah 15 tahun bekerja sebagai penarik perahu eretan di Sungai Wulan. Di sela dirinya menjadi petani, Zuri mengaku bekerja jadi penarik perahu eretan untuk menambah penghasilan serta untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Biasanya hasil setiap dari menarik perahu eretan itu sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu sehari. Tapi hasil itu dibagi tiga, dua orang tenaga penarik perahu sama pemiliknya” jelas Zuri kepada Betanews.id

Sumakno (60) selaku pemilik Perahu menambahkan, perahu eretan tersebut berfungsi sebagai jalur alternatif atau jalan pintas yang menyeberangkan warga desa di Kecamatan Karanganyar, Demak, yang ingin menyeberang ke Undaan, Kabupaten Kudus, maupun sebaliknya.

“Biasanya yang menyeberang itu berbagai keperluan. Ada yang ke sawah, kerja, sekolah maupun ke pasar. Lha saat ini kan pas Pasar Wage jadi banyak ibu – ibu di desa wilayah Kecamatan Karang Anyar yang belanja di Pasar Wage, Undaan Kidul, Kudus,” ungkapnya.

Dia menuturkan, untuk tarif penyeberangan dipatok Rp 2000. Sedangkan untuk yang bawa motor ongkosnya Rp 3000. Menurutnya ongkos tersebut untuk pulang – pergi (PP) dan pembayarannya itu pas pulang. Karena bayarnya belakangan, pernah beberapa kali ada penumpang yang tidak bayar.

“Berangkat nyeberang naik perahu, pas pulang gak naik perahu. Jadinya saya gak kebayar,” ungkapnya.

Dia mengatakan, perahu eretan miliknya itu merupakan satu – satunya alat penyeberangan di Sungai Wulan wilayah Undaan. Perahunya tersebut beroperasi setiap hari, mulai Subuh sampai pukul 20:00 WIB. Kecuali saat debit air Sungai Wulan meluap, dia terpaksa tidak beroperasi.

“Saat air sungai meluap kami berhenti operasi. Sedangkan saat kemarau perahu saya naikan dan dilakukan perawatan. Tapi aktifitas penyeberangan tetap lanjut, karena saya bangun jembatan kayu,” ujar Sumakno

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Satu Pasien RS Moewardi Meninggal Positif Corona, Ganjar : ’Kita Langsung Tracking Pergerakan Pasien’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan keterangan kepada awak media terkait pasien di RS Moewardi Surakarta yang meninggal positif virus corona, Jum'at (13/3). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung bergerak cepat dengan melakukan tracking pergerakan pasien RS Moewardi yang meninggal karena positif COVID-19. Ganjar mengatakan, tracking dia lakukan sejak pasien mengikuti seminar di Bogor sampai dikebumikan. Tracking ini dilakukan Ganjar dengan menggandeng Pemerintah Provinsi Jabar, Jatim dan Pemkot Surakarta.

“Kita minta pengecekan di Bogor. Juga koordinasi dengan Jawa Timur, karena dimakamkan di sana, keluarganya juga di sana. Gubernur Jatim belum bisa dihubungi, tapi dengan dinas kesehatan kita intens,” kata Ganjar dalam jumpa pers yang dia gelar di Puri Gedeh, Jumat (13/3/2020).

Selain itu, Ganjar juga terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Surakarta untuk melakukan tracking, dengan siapa saja pasien tersebut pernah kontak. Terlebih, lanjut Ganjar, pasien juga pernah periksa di dua rumah sakit di Surakarta.

Ganjar Pranowo saat memberikan keterangan pers terkait pasien di RS Moewardi Surakarta yang meninggal positif virus corona, Jum’at (13/3). Foto: Ist

“Kita langsung tracking dan isolasi tempat tinggal, kemudian diperiksa. Kita harap masyarakat koordinasi siapa tahu ada yang berhubungan, segera lapor ke rumah sakit atau puskesmas,” ungkapnya.

Baca juga : Ada Virus Corona Jangan Panik, Inilah 6 Tips Agar Tak Tertular

Ganjar mengatakan, koordinasi lintas pemerintahan tersebut dilakukan, selain karena riwayat perjalanan pasien yang meninggal tersebut berada di tiga wilayah, COVID-19 juga telah ditetapkan WHO sebagai Pandemi.

“Ini kan bukan hanya soal Jawa Tengah, tapi berhubungan dengan Jabar dan Jatim. Apalagi sudah ditetapkan Pandemi. Maka kita perlu gotong royong,” pungkasnya.

- advertisement -

Tak Harus Nunggu Ketika Rajab, Kuliner Sego Iriban Bakal Bisa Dinikmati Setiap Hari

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sedang menikmati Sego Iriban, yaitu kuliner khas Desa Lerep. Foto : Ist

BETANEWS.ID, UNGARAN – Ada sebuah tradisi unik yang digelar setiap bulan Rajab menjelang puasa do Desa Wisata Lerep, Kabupaten Semarang. Warga biasanya bergotong-royong membersihkan sendang dan sumber mata air yang ada di desa, kemudian menggelar acara makan bersama. Makanan yang disajikan dalam tradisi itu sangat unik. Sego Iriban namanya.

Nasi dengan lauk sayur-mayur, ikan asin, tempe dan jeroan ayam ini dahulu hanya boleh disajikan saat acara tradisi itu itu saja. Bentuknya hampir sama dengan Nasi Gudangan yang biasa ditemukan. Namun bedanya, sayuran yang digunakan di Sego Iriban ini tidak direbus, melainkan dibakar menggunakan bumbung bambu muda.

“Kami ingin menghidupkan kembali tradisi itu. Tidak hanya setahun sekali, namun kami ingin menjadikan itu sebagai daya tarik wisatawan,” kata Camat Ungaran Barat, Eko Purwanto.

Ke depan lanjut dia, Sego Iriban akan disajikan di pasar tradisional Desa Wisata Lerep. Para wisatawan dapat menikmati menu langka itu, tanpa harus menunggu prosesi Rajab tiba.”Selain itu, ada banyak kuliner khas lain yang kami jajakan di desa wisata ini. Dengan membuat desa wisata ini, kami harap ekonomi masyarakat dapat terangkat,” imbuhnya.

Ganjar Pranowo menabuh lesung bersama ibu-ibu ketika mengunjungi Desa Wisata Lerep. Foto : Ist

Penasaran dengan Sego Iriban, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tertarik untuk mencobanya. Usai mengecek kesiapan RSUD Tugurejo dalam kesiapan penanganan virus corona, Ganjar langsung mengunjungi Festival Sego Iriban di Desa Wisata Lerep.

Sesampainya di sana, Ganjar disuguhkan dengan pemandangan pedesaan yang asri. Warung-warung yang menjajakan Sego Iriban dan menu tradisional lain, berjajar rapi dengan bangunan dari bambu dan beratap daun kelapa. Di tengah warung-warung itu, terdapat sendang cukup besar yang dimanfaatkan untuk wisata air.

“Saya tertarik karena katanya ada makanan unik. Ternyata ini, namanya Sego Iriban. Ini makanan unik, karena sayurannya tidak direbus, melainkan dibakar pakai bambu,” kata Ganjar.

Usai mencicipi Sego Iriban, Ganjar mengacungkan jempolnya. Tak hanya itu, ia juga menjajal menu lain seperti oblok-oblok, sambel pete dan lainnya. “Ini menarik dan tentu laku dijual untuk menarik wisatawan. Kuliner khas yang melegenda semacam ini, banyak dicari wisatawan,” ucapnya.

Ia berharap, masyarakat terus aktif dalam mengeluarkan inovasi. Potensi desa yang selama ini belum mendapat perhatian, harus digali agar mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.

Kata Ganjar, dana desa yang ada dapat dipergunakan untuk pengembangan potensi-potensi seperti itu. Pemerintah, sebutnya, akan memberikan dorongan. Bahkan, pihaknya sudah membuat peraturan daerah mengenai desa wisata dan siap memberikan hadiah Rp1 miliar kepada desa wisata yang terbaik.

- advertisement -

K-Plug, Alat Perekam Canggih Buatan Warga Kudus Diminati Musisi Mancanegara

0

BETANEWS. ID, KUDUS – Sore itu di depan salah satu rumah berpagar besi warna hitam sebelah kiri jalan Gang 8 Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, terlihat beberapa orang sedang menunduk, sibuk di meja masing-masing. Mereka sedang fokus terhadap beberapa piranti elektronik yang memenuhi hampir sederet meja kayu tersebut.

Setelah didekati, beberapa orang sedang menyolder kabel-kabel kecil yang dipasang pada sebuah pelat berwarna coklat. Sedangkan seorang lagi di sudut sebelah kiri yang duduk sendirian, nampak sibuk menyablon papan ukuran persegi panjang berwarna hitam.

Pengecekan quality control K-Plug sebelum dikemas dan dijual ke pasaran. Foto : Titis Widjayanti

Ialah Agus Utomo (34), yang merupakan penggagas sekaligus pemilik dari perakitan alat rekam musik elektronik pengganti amplifier. Agus, sapaan akrabnya bercerita kepada betanews.id, tentang awal mula idenya yang kini menghasilkan produk elektro praktis dengan merek K-Plug.

“Ini sebutannya alat perekam, bisa buat jamming juga, istilahnya pengganti amplifier. Utamanya untuk para musisi dan orang-orang yang ingin bermain dan merekam musik mereka nanti bisa pakai alat ini dengan cara dihubungkan ke gitar, headset/ earphone dan handphone. Jadi orang luar tidak mendengar kebisingan, dan orang yang merekam mendapatkan hasil rekaman yang jernih tanpa suara dari luar. Kalau awalnya ya karena kebutuhan pribadi. Sampai sekarang profesi sayakan musisi wedding, tepatnya gitaris. Awalnya karena kebutuhan itu. Karena dulu lulusan elektro, terus saya coba buat alat yang bisa menggantikan amplifier yang praktis semenjak punya anak. Biar nggak bising juga,” papar Agus kepada betanews.id, Jumat (6/3/2020).

Setelah itu, Agus mengatakan, usahanya kemudian mulai dirintis ketika teman-temannya tertarik untuk menggunakan alat tersebut. Dari sana Agus mulai memproduksi K-Plug yang kini telah banyak dipesan dan digunakan oleh para musisi Nusantara, bahkan hingga luar negeri.

“Pemasaran awalnya ya dari mulut ke mulut. Ketertarikan dan kebutuhan teman-teman dekat sendiri, utamanya para musisi. Lalu mulai dikenal melalui media sosial juga. Sekarang banyak musisi terkenal Indonesia sudah memakai produk kami. Bahkan luar negeri. Tetapi juga tidak hanya musisi, semisal anak-anak sekolah yang ingin jamming musik dan merekam karya mereka, juga menjadi target pasar,” papar dia.

Usaha yang digeluti dari sekitar satu tahun yang lalu itu kini membuahkan hasil. Agus berkata, tidak hanya inovasi dari segi kepraktisan yang ia utamakan dari produknya, akan tetapi juga kualitas dan harga yang terjangkau. Yakni dibanderol sekitar Rp 180 ribu tiap pcs nya.

“Keunggulannya ya praktis, kualitasnya kami berani jamin, karena sebelum kami pasarkan tiap alat kami cek quality controlnya, dan tentu harganya yang ekonomis. Jadi semua kalangan bisa menjangkau. Dari tipe 1A, 1B, 1C, memang beda, tapi kami banderol sekitar Rp 180 ribu tiap buah,” jelas dia.

Lelaki nyentrik tersebut, kemudian menuturkan, jika untuk segi pemasaran memang fluktuatif. Dikatakannya, bahwa musim pernikahan adalah musim paling laris pesanan. Akan tetapi, sejauh ini untuk produksi tiap minggu mulai stabil. Agus mengatakan, K-Plug tiap seminggu bisa diproduksi sekitar 100-150 pcs. Baik itu ada pesanan maupun untuk stok.

Sementara hingga saat ini, sedang mengembangkan produknya ke tipe selanjutnya yang memiliki keunggulan bisa audio dan visual. Akan tetapi, untuk saat ini masih dalam proses pengembangan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Akan Segara Punya Destinasi Wisata yang Keren, Nilai Investasi Rp 1 Triliun

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat penandatanganan kerjasama proyek Jateng Valley. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Jawa Tengah akan segera memiliki destinasi wisata yang keren. Wisata yang akan dibangun di wilayah Penggaron, Semarang ini bernama Jateng Valley. Nilai investasi yang akan digelontorkan mencapai Rp 1 triliun.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan, ground breaking pembangunan Jateng Valley akan dimulai 15 Agustus tahun ini. Kejelasan akan dimulainya pembangunan setelah ada penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) pengembangan Wana Wisata Penggaron.

Penandatanganan proyek Jateng Valley di Kantor Gubernur Jateng. Foto: Ist

“Tentu kami sangat mengapresiasi langkah ini. Pak Wahyu Kuncoro (Dirut Perhutani) datang merespon dengan baik dan kita akan gas pol,” ujar Ganjar usai penandatangan kerjasama di Gedung A Lantai 2 Kantor Gubernur Jateng, Kamis (12/3/2020).

Penandatanganan Proyek Jateng Valley tersebut dilakukan antara Perum Perhutani dengan PT Penggaron Sarana Semesta, dan PT Taman Wisaya Jateng dengan PT Penggaron Sarana Semesta. Jateng Valley sejatinya adalah proyek Jateng Park yang sudah direncanakan sejak 2012 tapi mandek. Nilai investasi Jateng Valley ini sebesar Rp 1 triliun dengan konsesi selama 35 tahun.

Baca juga: New PRPP Jateng Akan Disiapkan untuk Kedatangan Metallica

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, Jateng Valley memilih tagline “When Nature Meet Dream”. Konsep desain yang dipilih futuristik, karena mengawinkan konsep alam dan teknologi yang menyatu.

“Sehingga nanti di Jateng Valley ini akan ada wahana edukasinya, green ekosistemnya juga ada,” ujar Gubernur dua periode tersebut.

Jateng Valley ini tutur Ganjar, akan menjadi wisata alternatif yang menjanjikan. Berdasarkan master plan yang telah disusun, rencana Jateng Valley akan dibuat dengan tujuh zona, yakni Plaza Park, Theme Park, Water Park, Cultural Park, Eco Safari, Eco Lodge, Retention Lake, restoran dan suvenir.

“Kami minta proses pembangunannya tidak korup, tidak ada biaya ekstra, sehingga nanti kualitasnya akan bagus. Desain final akan saya sampaikan ke Pak Presiden. Pak Jokowi khan cita-citanya bukan presiden, tapi jadi pegawai perhutani,” kata Ganjar.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Meski Salah Ikuti Kelas Inspirasi, Abila Senang Dapat Pengetahuan Baru di MARFEST 2020

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara riuh tepuk tangan terdengar di sebuah ruang kelas di SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus. Tak lama setelah itu, tampak puluhan orang keluar dari ruangan tersebut. Satu di antaranya adalah Abila Cattleya Alnakila (17), satu di antara peserta di kelas inpirasi dengan tema “Menciptakan Karakter Dalam Cerita” pada ajang Maret Festival (MARFEST) 2020.

Puluhan siswa SMK RUS Kudus sedang mengikuti kelas inspirasi. Foto : Ahmad Rosyidi

Abila begitu dia akrab disapa, berbagi cerita kepada betanews.id tentang kelas inspirasi tersebut. Dia mengaku salah dalam memahami tema kelasnya. Abila mengira jika kelas tersebut berkaitan dengan karakter gambar. Meski tidak sesuai yang diinginkan, dia tetap merasa senamg karena mendapat pengetahuan baru mengenai seni peran.

“Sebenarnya saya kira ada pembahasan yang berkaitan dengan gambar dan animasi, ternyata bukan. Tetapi yang saya dapat ini, bisa diaplikasikan di gambar, seperti menambahkan ekspresi mimik muka, cara mengkonsep dan mengembangkan cerita sendiri,” terang warga Jakarta yang sekolah di SMK RUS Kudus itu.

Anak pertama dari dua bersaudara itu juga menambahkan, bahwa dirinya sejak kecil memang suka menggambar. Dia tahu SMK RUS Kudus dari website, dan orang tuanya juga mendukung dirinya untuk sekolah di sana. Abila merasa senang karena di sekolah merasa memiliki banyak teman dengan minat yang sama.

Baca juga : SMK RUS Kudus Menuju Revolusi Industri 4.0, Ita : ’Keterampilan Saja Belum Cukup’

“Saya memang kurang suka pelajaran akademis. Kalau di sini kan kumpul dengan teman yang passionnya sama satu kelas, jadi enak, interaksinya nyambung. Kadang saya juga pulang hingga 22.00 WIB. Kalau lagi gambar lima jam nggak kerasa, masih asyik,” jelasnya.

Sementara itu, Galuh Paskamagma menyampaikan, para siswa diberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan yang dimiliki dengan mengikuti kelas inspiratif. Melalui kelas inspiratif siswa tidak hanya dibekali teori tetapi juga praktik yang langsung diberikan oleh pemateri yang ahli di bidangnya.

“Kelas inspiratif bebas diikuti dan dipilih oleh siswa sesuai dengan minat dan ketertarikannya. Hal ini selaras konsep merdeka belajar yang sudah diterapkan di SMK Raden Umar Said Kudus. Jadi para siswa bebas menentukan materi belajar sesuai dengan ketertarikan masing-masing,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Televisi LED Paling Diburu Pembeli di Toko Barang Bekas Putra Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Toko barang bekas Putra Kudus yang berada di tepi Jalan Cut Nyak Dien, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak penuh sesak dengan barang. Dari perabot rumah tangga hingga barang elektronik ada di tempat tersebut. Namun dari aneka barang tersebut tak tampak satu pun televisi Light Emitting Diode (LED) yang diklaim paling dicari, sehingga sering kehabisan stok.

Chafi, selaku pemilik toko barang bekas Putra Kudus mengakui, jika televisi LED memang paling dicari di tokonya. Saking larisnya, dirinya sering kehabisan stok. Biasanya, baru datang televisi LED itu, pasti ada yang laku dan langsung ludes di hari berikutnya.

Salah satu pengunjung terlihat sedang melihat beberapa barang yang dijual di toko barang bekas Putra Kudus. Foto: Rabu Sipan

“Lihat sendiri kan, di sini tidak terlihat televisi LED, soalnya itu barang sangat diminati. Saya juga berharap dapat kiriman televisi LED biar bisa saya jual lagi. Soalnya, lagi banyak yang nyari ini,” ungkap Chafi kepada betanews.id

Pria warga Kelurahan Wergu Kulon itu mengungkapkan, untuk mendapatkan televisi LED, dirinya kerja sama dengan temannya. Menurutnya, temannya tersebut sering ikut lelang di sebuah perusahaan untuk mendapatkan puluhan televisi LED. Dari temannya itulah kemudian membeli beberapa unit untuk dijual di tokonya.

Dia mengaku, menjual televisi LED mulai Rp 600 ribu sampai Rp 1,5 juta per unit, harga tergantung inchi nya. Selain televisi, lanjutnya, banyak barang elektronik lainnya yang diminati, misalnya, kulkas, mesin cuci, air conditioner (AC) serta pompa air. Menurutnya, barang – barang elektronik bekas di tokonya itu sangat murah. Harganya paling sekitar seperempat dari harga baru.

“Ada lagi barang yang laris di toko saya yaitu, etalase, lemari pakaian, meja kursi kantor dan sofa bekas,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, toko barang bekas Putra Kudus itu bisa dibilang paling lengkap se-Kota Kretek. Karena semua tersedia di tokonya, dari pakaian, perabotan rumah tangga, perabotan kantor, barang elektronik, barang bangunan, onderdil kendaraan, dan lainnya.

Bahkan sekarang, lanjutnya, dia harus menyewa lahan lagi untuk menampung aneka barang bekas dagangannya. Karena menurutnya, lahan yang ada sudah tidak muat menampung barang bekas yang baru datang.

“Di tempat baru itu, sekarang juga sudah penuh dengan aneka barang bekas. Pokoknya toko saya ini tempat barang bekas paling lengkap di Kudus,” ungkapnya.

Menurutnya, saking lengkapnya, tokonya tersebut sudah dikenal banyak orang. Pelanggan tidak datang dari Kudus saja, melainkan juga ada yang dari Jepara, Demak, Purwodadi hingga Blora.

“Aku bersyukur toko barang bekas Putra Kudus sudah dikenal banyak orang. Setiap hari ada saja yang datang untuk jual dan beli barang bekas. Dari transaksi itu, saya bisa meraup omzet sekitar Rp 15 juta sebulan,” kata Chafi.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

SMK RUS Kudus Menuju Revolusi Industri 4.0, Ita : ’Keterampilan Saja Belum Cukup’

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tampak sebuah tenda besar dengan puluhan kursi di lapangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said Kudus, pada Kamis (12/03/2020). Tenda tersebut merupakan satu di antara sejumlah kelas inspirasi dalam kegiatan Maret Festival (MARFEST) 2020. Di dalam tenda itu terlihat seorang perempuan sedang memberi arahan untuk foto bersama. Dia yakni Ita Sembiring, penggagas MARFEST 2020 dengan tema ‘Bersiap Menuju Revolusi Industri 4.0’.

Butet Kertaredjasa foto bersama dengan siswa SMK RUS Kudus pada acara MARFEST 2020. Foto : Ahmad Rosyidi

Setelah foto bersama, Ita sapaan akrabnya menjelaskan kepada betanews.id tentang acara tersebut. MARFEST 2020 digagas untuk menyerukan merdeka belajar. Yakni, sebuah paradigma baru yang mendorong kebebasan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Otonomi ini diyakini mampu menghasilkan inovasi dan memberdayakan peserta didik agar cepat adaptasi dengan dunia kerja.

“Dengan ilmu tambahan yang kita lakukan ini, harapannya setelah anak-anak lulus nanti memiliki keterampilan. Karena dengan bekal keterampilan mereka tidak kaget memasuki revolusi industri. Jadi selain belajar akademik, dengan acara seperti ini, anak-anak akan mendapat pelajaran ilmu hidup dan siap saat terjun berhadapan dengan masyarakat nanti,” terangnya, Kamis (12/3/2020).

Dia mengungkapkan, bahwa memiliki keterampilan saja masih belum cukup, jika tidak siap memasuki industri. Maka, acara tersebut diharapkan dapat membekali wawasan yang luas terhadap siswa, agar menjadi lulusan yang kompeten dan paham harus berbuat apa ketika sudah menyelesaikan studinya.

Ita juga menambahkan, SMK Raden Umar said Kudus yang dikenal sebagai sekolah animasi menggelar MARFEST sebagai ajang multi event yang menyuarakan semangat merdeka belajar untuk dunia pendidikan Indonesia.


Acara tersebut mengundang 12 tokoh lintas ilmu dan profesi, diantaranya Aulia Marinto (VP Marketing Management IndoHome), Naya Anindhita (Sutradara Film), Butet Kartaredjasa (Pekerja Seni), Bene Dion (Penulis Script), Daryl Wilson (CEO Kumata Studio), Chandra Endroputro (CEO Temotion Tempo Animation), Aghi Narottama (Komposer Musik Film), Tommy Tjokro (CEO Sepikul Institute), Mahesa Desaga (Sutradara Film), Mia Utari (Owner of Amithya.mia), Muhammad Misrod (Komikus), dan Eka Adrianie (Founder dots Indonesia).

“Selain kelas inspiratif juga ada pameran karya, peragaan busana dan musik. Maret Festival berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 12 hingga 14 Maret 2020, dan diselenggarakan di SMK Raden Umar said Kudus yang merupakan salah satu SMK binaan Djarum foundation,” tambah praktisi pendidikan itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Masih Bersih dari Corona, Beberapa Pasien Sudah Pulang ke Rumah

0
Petugas medis RS RSUD Tuguharjo Semarang simulasi penanganan Virus Corona. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menegaskan di wilayahnya belum ada yang positif dinyatakan Virus Corona COVID-19. Bahkan, beberapa pasien yang sebelumnya diduga sebagai suspect telah dinyatakan sembuh dan dibolehkan pulang ke rumah.

“Saya terus memantau perkembangannya (Virus Corona). Setiap hari saya juga mendapat laporan dari Kadinkes terkait ini. Hingga kini belum ada yang dinyatakan positif terjangkit Virus Corona,” ujar Ganjar saat mengecek kesiapan RSUD Tuguharjo Semarang, Kamis (12/3/2020).

Ganjar Pranowo mengecek perlengkapan penanganan Virus Corona. Foto: Ist

Ganjar mengatakan, bahkan sejumlah pasien yang sebelumnya diduga sebagai suspect Virus Corona telah dibolehkan pulang karena sembuh. Satu di antara pasien yang telah dibolehkan pulang yakni pasien yang dirawat di RSUP Kariadi, Semarang. Namun dirinya mendapat laporan, hari ini ada satu pasien masuk ke rumah sakit tersebut karena mengalami batuk dan pilek.

Untuk mengantisipasi terjadinya wabah Corona di Jateng, Ganjar menyatakan telah menyiapkan sebanyak 13 rumah sakit rujukan di sejumlah daerah. Rumah sakit tersebut dinyatakan siap untuk menangani pasien yang diduga sebagai suspect virus yang telah merenggut ratusan nyawa di seluruh dunia itu.

Rumah sakit yang telah ditunjuk sebagai rujukan penanganan pasien suspect Virus Corona itu antara lain:

  1. RSUP Dr. Kariadi Semarang (024) 8413476
  2. RSUD Dr. H Suwondo Kendal (0294) 381433
  3. RSUD Dr. Muwardi Solo (0271) 634634
  4. RSUD Loekmonohadi Kudus (0291) 431831
  5. RSUD Dr. H. RM. Soeselo Tegal (0283) 491016
  6. RSUD Kraton Pekalaongan (0285) 421621
  7. RSUD Tidar Kota Magelang (0293) 362260
  8. RSUD Prof. Dr. Margono Banyumas (0281) 632708
  9. RSUD dr. Suraji Tirtonegoro Klaten (0272) 321041
  10. RSUD Kardinah Tegal (0283) 350377
  11. RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang (024) 6711500
  12. RS Paru Dr. Ario Wirawan (0298) 326130
  13. Hotline Dinkes Prov. Jateng (08122511937)

Rumah sakit yang telah ditunjuk sebagai rujukan tersebut, menurut Ganjar telah memenuhi standar. Semua fasilitas penunjuang penanganan, baik ruang isolasi, peralatan hingga tenaga medis dinyatakan siap. Rumah sakit-rumah sakit tersebut juga telah melakukan simulasi penanganan pasien Virus Corona.

Baca juga:

Selain memastikan ketersediaan ruang isolasi, tenaga medis dan lainnya, Ganjar juga memastikan ketersediaan perlengkapan pendukung. Pihaknya sudah berupaya mencari pabrik masker dan pabrik Alat Pelindung Diri (APD) bagi perawat untuk memastikan ketersediaannya di Jateng.

“Kami sudah mencari dimana pabriknya, agar ketersediaan sarana penunjang itu aman di Jateng. BPBD juga kami siagakan untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Abas Kaligrafi Sasar Pasar Malam Sebagai Lapak Penjualan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kaligrafi terlihat di depan sebuah rumah di Desa Golantepus, RT 06 RW 04, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Seorang pria mengenakan jaket dan sarung tampak sedang memasang potongan aluminium. Dia adalah As’ad Zarkasi Lutfi Hakim (22) pemilik Abas Kaligrafi.

Usai memotong kemudian dia menempel potongan tersebut di media yang sudah disiapkan. As’ad sapaan akrabnya, berbagi cerita kepada betanews.id tentang usaha yang dimulainya sejak tahun 2014. Berawal dari melihat peluang di daerahnya belum ada yang memproduksi kaligrafi.

As’ad sedang mengerjakan pesanan kaligrafi dari pelanggan. Foto : Ahmad Rosyidi

“Kemudian saya belajar membuat kaligrafi dari saudara saya orang Demak. Saat itu, saya masih kelas tiga Aliyah. Pertama saya buat dari bahan styrofoam, saya jual di rumah tapi tidak laku,” ungkapnya, Sabtu (22/2/2020).

Kemudian As’ad berpindah tempat menjual di tepi Jalan Raya Mejobo selama dua tahun. Karena masih kurang laku, kemudian dia memiliki inisiatif untuk menjual di pasar malam. Selain pasar malam, dia juga menawarkan di sekolah-sekolah untuk hiasan dinding.

“Penjualan saya di daerah eks Karesidenan Pati. Saya juga menerima pesanan kaligrafi nama anak dan hiasan mahar dari uang mainan. Kalau penghasilan bersih, lebih kurang paling sekitar Rp 2 juta,” terang anak terakhir dari tiga bersaudara itu.

Kaligrafi buatannya dijual dengan harga mulai dari Rp 20 ribu ukuran 30 x 20 cm hingga Rp 1,8 juta ukuran 2 x 1 meter. Harga menyesuaikan ukuran, tingkat kesulitan dan jenis bahan. Untuk mahar dari uang mainan harganya kisaran Rp 325 ribu hingga Rp 350 ribu.

Bahan kaligrafinya yang digunakan saat ini dari silikon, fiber dan aluminium. Abas Kaligrafi sendiri dari paduan nama bapak dan dirinya. “Bapak saya bernama Abdul dan saya As’ad, jadi saya beri nama Abas Kaligrafi,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Di Kudus, KIA Bakal Jadi Syarat Pendaftaran PPDB

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara riuh di kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kudus tiba-tiba hening saat dua pria dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kudus datang, Senin (9/3/2020). Satu di antaranya yakni Agus Sumarsono, Kabid Pelayanan Pendaftaran Penduduk. Usai membagikan Kartu Identitas Anak (KIA), dia sudi berbagi informasi kepada betanews.id tentang program Jemput Bola Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Jempol Dukcapil).

Agus begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, bahwa sejak 2019 sudah membuka pembuatan KIA. Karena antusias untuk membuat KIA dirasa masih kurang, pada tahun 2020, Dukcapil Kudus membuat program jemput bola agar pelajar terdorong membuat KIA.

Petugas dari Dukcapil Kudus menyerahkan KIA kepada salah satu siswi SMPN 1 Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

“Mungkin karena merasa belum perlu, jadi masih banyak yang belum membuat. Tahun 2020 ini kami jemput bola ke sekolah agar pelajar segera memiliki KIA. Kedepan mungkin KIA akan menjadi syarat pendaftaran sekolah atau penerimaan peserta didik baru, karena beberapa kabupaten/kota lain sudah ada yang seperti itu,” terangnya saat ditemui di ruangan.

Saat ini Dukcapil Kudus baru merekam sekitar 62 ribu anak. Sedangkan jumlah pelajar di Kudus ada 239.699 orang. Untuk membuat KIA sebenarnya bisa datang ke kecamatan masing-masing, tidak harus menunggu Dukcapil jemput bola. Karena setiap kecamatan di Kudus sudah siap melayani pembuatan KIA.

Sebelum ke sekolah, Dukcapil membuat surat edaran terlebih dahulu, kemudian setelah satu pekan Dukcapil akan mengambil berkas siswa yang ingin membuat KIA. Menurut Agus, proses pembuatan KIA membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Dan proses distribusinya menyesuaikan jadwal petugas.

Baca juga : Permudah Laporan SPT Tahunan Secara Online, KPP Pratama Kudus Fasilitasi Kelas Pajak Gratis

“Saat ini, baru berjalan dua kecamatan yaitu Kecamatan Kota dan Kaliwungu. Syarat untuk membuat KIA adalah fotocopy akta, KK, KTP orang tua, untuk usia di bawah 5 tahun. Sedangkan di atas lima tahun tambah foto ukuran 4×6 dua lembar. Pembuatan KIA harus sesuai tempat domisili,” jelasnya.

Masa aktif KIA usia di bawah 5 tahun berlaku hingga usia anak 5 tahun. Sedangkan usia anak 5 tahun ke atas akan berlaku hingga usia 17 tahun. Jika KIA hilang untuk membuat lagi harus mendapat surat kehilangan dari kepolisian.

Akhsan Noor (58) selaku Kepala SMPN 1 Kudus sangat mendukung adanya program Jempol Dukcapil. Dengan program ini, anak-anak merasa dimudahkan dalam membuat KIA. “Di SMPN 1 Kudus ada 128 anak yang membuat KIA. Saya berharap anak-anak yang sudah mendapat KIA bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wujudkan Toleransi Antarumat Beragama, Jemaat Gereja Katolik Ikuti Kirab Banyu Penguripan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa perempuan mengenakan batik tampak berswafoto dekat miniatur Menara Kudus. Setelah berswafoto mereka tampak mengambil bibit pohon di atas becak yang terparkir di pojo Alun – alun Kudus. Terlihat perempuan tersebut membagikan pohon tersebut kepada rekannya. Mereka adalah Jemaat Gereja Katolik Kudus yang ikut berpartisipasi dalam acara Kirab Banyu Penguripan, Rabu (11/3/2020).

Arip Gunawan, Koordinator Jemaat Gereja Katolik Kudus menuturkan, keikutsertaan dirinya dan jemaat Gereja Katolik lainnya tidak hanya berpartisipasi saja. Melainkan juga sebagai wujud toleransi antarumat beragama. Agar bersama mengangkat budaya Kota Kudus agar semakin maju.

Jemaat Gereja Katolik ikut berpartisipasi dalam Kirab Banyu Penguripan. Foto : Rabu Sipan

“Kami berharap dengan ikut serta dalam perayaan Kirab Banyu Penguripan toleransi umat beragama bisa selalu terjaga. Hidup rukun, berdampingan dan maju bersama,” ungkap Arip Gunawan kepada betanews.id.

Dia menuturkan, dalam Kirab Banyu Penguripan, dirinya beserta rekannya membawa bibit pohon. Rencanya bibit pohon tersebut akan ditanam agar Kota Kretek tidak kehabisan air.

Baca juga : Berharap Berkah, Warga Berebut Air di Kirab Banyu Penguripan Kudus

“Ini temanya kan Kirab Banyu Penguripan. Keberadaan air itu sangat bergantung sama pohon. Karena kami 20 orang, maka kami pun membawa 20 bibit pohon. Dengan menanam pohon, air di Kudus akan selalu terjaga keberadaannya,” ungkapnya.

KH EM Nadjib Hasan, Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makan Sunan Kudus (YM3SK) mengungkapkan, Kirab Banyu Penguripan merupakan bagian serangkaian acara peringatan Ta’sis Masjid Al – Aqsa Kudus. Menurutnya, pada tahun ini merupakan peringatan yang ke-485.

Dia menambahkan, mengajak semua masayarakat Kudus untuk menengok ke belakang. Bahwa Sunan Kudus membangun menara sebagai simbol kearifan menuju kedamaian.

“Oleh karena itu, tahun ini dalam Perayaan Ta’sis Masjid Al – Aqsa Menara Kudus mengangkat tema, Menara: Kearifan untuk Kedamaian,” ujarnya.

Kirab Banyu Penguripan ini sendiri, menyatukan air keramat dari 53 belik. Ke 53 air keramat belik dari berbagai desa di Kudus diiring dan disatukan dengan banyu penguripan dari sumur Sunan Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berharap Berkah, Warga Berebut Air di Kirab Banyu Penguripan Kudus

0
Ratusan orang ikut menyaksikan Kirab Banyu Penguripan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS. ID, KUDUS – Puluhan orang tampak berkerumun di Jalan Menara Kudus. MerEka sambil memegang botol mengelilingi gentong yang berada di atas gerobak. Satu di antara mereka, tampak seorang perempuan yang sedang mengandung memegangi botol yang terisi separuh. Perempuan tersebut yakni Mukti yang minta air penguripan agar dapat berkah dari Sunan Kudus.

Warga berebut air penguripan untuk ngalap berkah dari Sunan Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai minta air, Mukti menuturkan, jika dirinya minta air penguripan agar dapat berkah dari Sunan Kudus. Dia berharap, dirinya mendapatkan berkah sehat serta keselamatan dari Allah. Apalagi saat ini dirinya juga sedang hamil.

“Semoga saya dapat berkah Sunan Kudus, diberi sama Tuhan sehat dan selamat. Kandungan saya juga sehat, serta anaknya sehat tidak kurang satu apapun. Kalau bayinya cowok semoga ganteng, dan kalau cewek cantik,” harap Mukti di hadapan betanews.id.

Dia mengungkapkan, karena sedang hamil, untuk mendapatkan air penguripan dibantu oleh temannya. Dia mengaku akan minta air penguripan sampai botolnya penuh. “Ini kan gratis, botolnya mau tak penuhin,” kelakar Mukti.

Senada dengan Mukti, Elyn juga berharap berkah dari Sunan Kudus lewat air penguripan yang didapatnya. Dia mengaku mendapatkan air penguripan dengan berinfak agar tidak usah berdesak – desakan.

“Yang berinfak itu mendapatkan air penguripan dengan wadah kendi, miniatur menara. Dan yang saya dapatkan ini yang miniatur menara dan di dalamnya ada air penguripan,” ujarnya.

Menurutnya, air penguripan yang ada di dalam miniatur menara itu diambil dari tiga sumber. Yaitu dari sumur Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Muria dan Sunan Kudus.

“Saya berharap dengan mendapatkan air penguripan, saya bisa mendapatkan berkah dari Sunan Kudus. Saya berharap dapat berkah selamat dunia dan akhirat,” ungkap Elyn yang mengaku dari Demak.

Editor : Kholistiono

- advertisement -