BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam sebuah bangunan tampak beberapa potongan drum berisi adonan bakal kerupuk. Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling. Di sampingnya terlihat beberapa orang mengoperasionalkan mesin pencetak krecek bakal kerupuk. Di tempat tersebut, yakni pembuatan kerupuk Bandung yang serba mesin hasil karya pemiliknya.
Lilik (50) selaku pemilik usaha tersebut mengungkapkan, produksi kerupuk Bandung di tempatnya sudah serba mesin. Dari mengaduk adonan, hingga cetakan serta oven semua sudah menggunakan mesin. Menurutnya mesin – mesin tersebut hasil karyanya sendiri.
“Mesin – mesin itu kalau beli kan mahal. Makanya dari pada keluar duit banyak untuk membeli mesin jadi. Maka saya inisiatif membuat mesin sendiri agar lebih hemat dan tentunya bisa mempercepat kerja pembuatan kerupuk,” ujar Lilik kepada betanews.id.
Pria yang mempunyai tiga anak itu mengatakan, merintis usaha pembuatan kerupuk pada tahun 1985. Namun saat itu semua masih serba manual. Hingga pada tahun 1990, dirinya berinisiatif membuat sendiri mesin pencetak kerecek bakal kerupuk. Hal itu dilakukan agar bisa meningkatkan jumlah hasil produksi kerupuk.
“Alhamdulillah mesin yang saya bikin bisa beroperasi dengan sempurna. Dan tak dinyana, mesin buatanku itu diminati pengusaha kerupuk lainnya. Hingga saya memutuskan, selain memproduksi kerupuk juga menerima pesanan pembuatan mesin pencetak kerecek bakak kerupuk,” ungkapnya.
Lilik mengungkapkan, mesin pencetak kerecek bakal kerupuk hasil karyanya pernah dipesan oleh orang Madiun, Cirebon, Jepara dan beberapa pengusaha kerupuk di Kudus. Untuk harga mesin itu sendiri dahulu berkisar antar Rp 40 juta hingga Rp 100 juta per unit. Selain itu, lanjutnya pada tahun 2007 Lilik juga membuat mesin oven sendiri.Dengan tujuan saat musim hujan dia tetap bisa mengeringkan puluhan ribu kerecek yang dicetak.
“Saat musim hujan jika tidak punya oven, para pengusaha kerupuk termasuk saya itu pusing. Karena tidak bisa mengeringkan puluhan ribu bahkan ratusan ribu kerecek yang tercetak. Karena itu saya berinisiatif membuat oven sendiri, yang bisa mengeringkan 50 ribu kerecek bakal kerupuk dalam tiga jam saja,” jelas Lilik.
Pria bersarung itu menuturkan, tidak merinci secara jelas total biaya pembuatan oven. Tapi dia yakin pasti lebih murah dari pada beli mesin oven. Menurutnya di ruang produksi pembuatan kerupuknya itu ada delapan mesin cetak. Satu mesin pembuat adonan, mesin penggiling serta satu oven.
Dari semua mesin itu, lanjutanya, bisa memproduksi 60 ball kerupuk sehari. Setiap ball nya berisi 500 keping kerupuk. Jadi sehari bisa memproduksi 30 ribu kerupuk.
“Meski sudah serba mesin saya tetap mempekerjakan sekitar 12 orang. Untuk operator mesin dan penjemuran. Mereka kebanyakan tetangga saya dan saudara dari Tasikmalaya,” ujar Lilik.
Editor : Kholistiono

