Beranda blog Halaman 1865

Bertambah Lagi, Satu Pasien Positif Covid-19 Asal Kudus Dirawat di Semarang

0
Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus, Andiri Aridewi. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pasien positif Covid-19 di Kudus bertambah lagi. Data sebelumnya tercatat ada enam orang yang dinyatakan positif. Data terbaru hari ini (14/4/2020) pukul 18.26 WIB, pasien positif asal Kudus bertambah satu orang.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menyatakan, satu orang yang dinyatakan positif kini dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro, Semarang. Satu pasien itu asal Kecamatan Kota, Kudus.

“Pasien positif bertambah satu, dirawat di luar Kudus. Info ini dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus yang baru mendapat notifikasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 13 April 2020,” kata Andini, Selasa (14/4) malam.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 di Kudus Sembuh Pertama, Sukarsih: ‘Kuncinya Selalu Gembira’

Andini mengungkapkan, pasien positif itu memiliki riwayat perjalanan dari Semarang. Menurut informasi, pasien memiliki toko di Kecamatan Kota, Kudus. Kini Tim Surveillance Puskesmas Rendeng tengah melakukan penelusuran ke keluarga pasien.

Dari total tujuh pasien yang hingga saat ini terkonfirmasi positif Covid-19, tiga di antaranya dirawat di rumah sakit di Kudus, dan satu pasien positif baru, dirawat di Semarang. Sedangkan dua pasien lainnya dinyatakan meninggal, dan satu pasien dinyatakan sembuh.

Baca juga: Pemkab Kudus Libatkan Lima Perguruan Tinggi untuk Bantu Tangani ODP

“Tiga pasien yang sedang dirawat di Kudus, dua di antaranya di RSUD dr Loekmono Hadi dan satunya lagi di Rumah Sakit Mardi Rahayu,” tuturnya.

Berdsarkan data yang tercantum di situs resmi corona.kuduskab.go.id, hingga malam ini tercatat pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 149 orang. Dari jumlah tersebut, 62 pasien telah dinyatakan negatif. Sebanyak 32 pasien telah sehat dan pulang, dalam perawatan 31 orang, dirujuk 2 orang dan meninggal 15 orang.

Baca juga: 17 PDP Meninggal di Kudus Punya Penyakit Penyerta

Namun, data sebelumnya di situs resmi itu tercatat ada sebanyak 17 orang PDP yang dinyatakan meninggal. Terkait perubahan data itu, Andini menerangkan, dua orang yang telah meninggal dinyatakan negatif berdasarkan hasil swab. Oleh karena itu dua orang itu dinyatakan bukan PDP.

“Swab dari dua PDP yang meninggal keluar hasil negatif. Berarti yang bersangkutan kematian murni karena penyakit lain,” jelasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Sejuta TKI Akan Pulang, Pemprov Jateng Siapkan Tempat Karantina Khusus

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kemungkinan banyaknya warga Indonesia yang pulang dari luar negeri, termasuk asal warga Jawa Tengah, telah diantisipasi Pemprov. Beberapa tempat telah disipakan secara khusus untuk mengkarantina para tenaga kerja dari luar tersebut.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, berdasarkan kabar yang dia terima, akan ada sekitar satu juta orang TKI yang pulang kampung. Melihat potensi banyaknya orang dari luar negeri yang akan pulang ke Indonesia, pemerintah telah mempersiapkan segala sesuatunya.

“Kalau tidak salah ada sekitar satu juta orang yang akan pulang. Pemerintah Pusat sudah menyiapkan tempat khusus untuk karantina,” ujar Ganjar, Selasa (14/4/2020).

Terkait kesiapan Pemprov Jateng menyiapkan kedatangan TKI asal wilayahnya, Ganjar mengaku siap jika diminta untuk menyiapkan tempat. Ada beberapa tempat yang telah disiapkan khusus untuk karantina.

Baca juga: Ganjar Telepon Anies Gegara Banyak Warga Jateng Belum Terima Bantuan

“Kami juga mengantisipasi hal itu. Jika skenario paling buruk pemerintah daerah juga diminta untuk menyiapkan, kami sudah siap. Sudah ada beberapa tempat yang disiapkan khusus,” tegas Ganjar.

Ganjar menambahkan, pihaknya diberi kabar dari Pemerintah Provinsi Sumatra Utara bahwa ada 10 warga Jateng yang kini dikarantina di sana. Mereka adalah TKI yang datang dari Malaysia.

Baca juga: Usulan Pemakaman Nakes di Makam Pahlawan Disalahartikan, Ganjar: ‘Jangan Ada Provokasi’

“Kemarin ada laporan dari Wagub Sumut, kalau ada 10 TKI Jateng asal Malaysia dikarantina di sana. Ini mesti dipulangkan, dan kami sudah menyiapkan tempatnya,” kata Ganjar.

Tempat yang telah disiapkan untuk menerima kedatangan 10 TKI tersebut, kata Ganjar, yakni di Gedung eks Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bank Jateng. Tempat tersebut disiapkan khusus untuk mengkarantina mereka.

Baca juga: Eks Napiter Sumbang Ribuan Masker, Harun : ‘Ini Jahit Sendiri Selama Sepekan’

Penyiapan tempat karantina tersebut, kata Ganjar, sebagai wujud penanganan dilakkukan secara maksimal. Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan pengecekan kesehatan agar para TKI terpantau dengan baik. Meski begitu, dia berharap 10 TKI tersebut nantinya dinyatakan negatif dan kondisinya sehat.

“Sudah kami siapkan, hari ini saya minta dikebut pengerjaannya agar lebih cepat. Informasi dari Sumut, kemungkinan dalam waktu dua atau tiga hari sudah sampai di Jateng,” tegasnya.

Edit: Suwoko

- advertisement -

Faruq Kini Harus Door to Door Tawarkan Jasa Angkut Barang

0
Faruq ketika akan berangkat menawarkan jasa angkut barang. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa lembar kardus terlihat ditata rapi di bak belakang kendaraan roda tiga milik Faruq Hidayat (25). Kardus tersebut digunakan untuk alas supaya tetap bersih ketika diberi muatan nantinya. Kendaraan ini sendiri, rencananya akan digunakan untuk mengangkut barang dari pelanggan, meski belum ada kepastian mendapat muatan atau tidak.

Faruq mengaku, sejak ada wabah virus Corona, jasa angkut barang yang dilakoninya sepi,bahkan nyaris tidak ada yang memesan. Untuk itu, dia harus door to door untuk mendapatkan pelanggan.

Faruq berkemas untuk menawarkan jasa angkut barang. Foto : Imam Arwindra

“Karena ada virus Corona, pelanggan jadi sepi. Namun saya tetap semangat untuk jemput bola,” ungkap warga yang tinggal di Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus, Sabtu (4/4/2020).

Baca juga : Legend’s Barbershop Layani Pelanggan yang Ingin Pangkas Rambut di Rumah

Menurutnya sebelum ada virus Corona omzet dalam sehari bisa mencapai Rp 200 ribu. Namun, kali ini dirinya hanya mampu mendapatkan Rp 50 ribu per pekannya.
Dia mengaku, setiap hari sudah menghubungi semua pelanggan. Dari pengusaha katering, petani, hingga membagikan kartu nama di sejumlah pasar.

“Jasa saya tergolong murah dari harga Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu. Harga tersebut tergantung jarak dan muatan,” jelasnya sambil bersiap menjemput bola mencari pelanggan.

Reporter betanews.id berkesempatan menemani Faruq untuk mencari pelanggan. Kali ini, dirinya akan menghampiri seorang pengusaha katering yang masih satu desa.

Dalam perjalanan dia bercerita, pelanggan paling banyak yakni berasal dari Desa Pasuruan Lor dan Pasuruan Kidul. Menurutnya, Faruq sering mendapatkan pesanan untuk mengantar makanan untuk hajatan. Namun, kadang juga dia mengantar gabah dari petani dan material bangunan.

“Saya biasa kirim sampai Demak. Namun yang paling banyak memang Kudus sendiri,” jelas Faruq.

Faruq menuturkan, dia memulai usaha jasa angkutan barang sekitar pertengahan bulan Juni 2019. Menurutnya, peluang tersebut didapat ketika melihat sejumlah pengusaha katering kebingungan saat mengirimkan barang. Akhirnya, dirinya membeli kendaraan bekas dan peluang tersebut diambil.

Selain itu, Faruq juga berjualan madu dan beberapa obat herbal berbagai merk. Hal tersebut untuk menambah penghasilan.”Hanya reseller. Jadi obat herbal yang saya jual itu di antaranya Tombak Pusaka Bali,” jelasnya.

Setelah beberapa lama bercerita, sampailah kendaraan merk Viar di rumah Munaris. Rumah dengan tema rumah adat Kudus tersebut digunakan untuk memproduksi makanan ringan dan katering.

Baca juga : Manjakan Konsumen, A’betta Elektronik Gratiskan Ongkir Barang Reparasian

Setelah bertemu dengan Munaris dan bertanya apakah ada barang yang bisa diantar. Munaris hanya tersenyum dan menuturkan tidak ada.Dia menjelaskan, usaha kateringnya saat ini sedang sepi akibat virus Corona. Akibatnya order tidak ada dan tidak bisa menggunakan jasa Faruq.”Haduh mas. Pesanan sepi,” ungkap Munaris.

Setelah itu, Faruq mencoba mendatangi beberapa pelanggan lainnya. Namun hasilnya sama. Pelanggan tidak ada permintaan dan tidak bisa menggunakan jasa Faruq.
Faruq berharap wabah Corona cepat selesai dan dirinya bisa berkerja seperti hari biasanya.
“Semoga wabah virus Corona cepat hilang dan usaha kembali lancar,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Libatkan Lima Perguruan Tinggi untuk Bantu Tangani ODP

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan melibatkan lima perguruan tinggi jurusan kesehatan untuk membantu penanganan orang dalam pemantauan (ODP) Covid-19 yang dikarantina di Rusunawa Bakalankrapyak, Balai Diklat Menawan dan Hotel Graha Muria.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, pihaknya sedang memproses kerja sama pengiriman relawan medis dengan Akbid Muslimat NU, Stikes Cendekia Utama, Universitas Muhammadiyah Kudus, Akper Krida Husada, dan Politeknik Kudus.

Rusunawa Bakalankrapyak yang digunakan Pemkab Kudus untuk karantina pemudik. Foto: Imam Arwindra.

“Saat ini kami kekurangan 48 tenaga medis. Dengan adanya bantuan tenaga medis dari mahasiswa, pasti akan sangat membantu,” tuturnya saat ditemui di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (14/4/2020).

Dia melanjutkan, pihaknya akan menjamin semua kesehatan dan kebutuhan para mahasiswa selama bertugas. Kebutuhan itu meliputi alat pelindung diri (APD), makanan bernutrisi, dan vitamin. Nantinya, mereka akan bertugas melaksanakan screening dan mendampingi dokter.

“Mahasiswa yang dipilih harus izin orang tua terlebih dahulu. Setelah boleh, baru boleh ikut,” jelasnya.

Di sisi lain, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) Anny Rosiana menambahkan, pihak kampus sudah menyiapkan 40 sampai 50 mahasiswa untuk jadi relawan. Untuk tahap pertama, pihaknya mengirim 15 orang dulu. Selanjutnya akan dikirimkan lagi sesuai permintaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus.

“Keseluruhan mahasiswa dari jurusan kesehatan. Sampai sekarang yang sudah mengembalikan surat izin orang tua ada 25 mahasiswa,” jelasnya saat ditemui di UMKU.

Sebelum diterjunkan, Anny menjelaskan, mahasiswa akan diberi pembekalan tentang keperawatan dan penempatan. Termasuk juga pembekalan dari DKK Kudus terkait tugas dan protokol penanganan ODP.

Baca juga: Pemkab Kudus Karantina 28 Pemudik di Rusun dan Menawan

“Kami akan terus mendampingi para mahasiswa. Jadi orang tua tidak usah khawatir. Kami pastikan mahasiswa akan mengikuti protokol yang berlaku,” tambahnya.

Atas jasa yang dilakukan mahasiswanya, kampus akan memberikan penghargaan berupa Surat Keputusan Rektor dan mendapatkan nilai A untuk mata kuliah tertentu. “Seperti mata kuliah komunitas enam SKS,” ungkap Anny.

Baca juga: 17 PDP Meninggal di Kudus Punya Penyakit Penyerta

Salah seorang mahasiswa yang akan jadi relawan Novia Setyaning Putri (23), mengaku cukup deg-degan dengan penugasan ini. Namun, panggilan hati untuk ikut membantu penanganan ODP membuatnya yakin untuk menyumbangkan tenaganya.

“Sebelumnya tidak boleh ikut sama bapak. Namun setelah diyakinkan, akhirnya diperbolehkan dan saya bisa ikut,” tukas mahasiswa semester akhir Program Studi Profesi Ners itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Roastbean Coffee, Varian Baru dari Kopi Itheng

0
Abdul Rohman sedang memasukkan bubuk kopi ke dalam kemasan. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma kopi tercium di sebuah rumah di Desa Colo, RT 02 RW 01, Kecamatan Dawe,Kabupaten Kudus. Seorang pria mengenakan topi terlihat sedang menimbang biji kopi. Setelah ditimbang, biji kopi tersebut dimasukan ke dalam kemasan yang berbentuk lingkaran seperti botol dengan ditutup stiker.

Sambil memegang biji kopi yang sudah dikemas di tangan kanannya, pria bernama Abdul Rohman itu berbagi cerita tentang inovasi barunya. Selama menghindari aktivitas di luar rumah (stay at home), dia mengisi kesibukan dengan menginovasi produknya.

Abdul Rohman sedang memindah biji kopi ke tampah. Foto : Ahmad Rosyidi

“Karena ada imbauan untuk menghindari aktivitas di luar rumah, jadi saya memanfaatkan waktu untuk membuat inovasi produk. Ini membuat inovasi terbaru saya beri nama Roastbean Coffee. Jadi biji kopi yang belum digiling, saya buat kemasan yang beda juga,” terang pebisnis kopi dengan merk Kopi Itheng itu kepada betanews.id, Sabtu (4/4/2020).

Baca juga : Miris dengan Nasib Kopi Muria, Hikma Munculkan Brand Kopi Muria Wilhelmina

Produk terbarunya itu rencana akan dijual dengan harga Rp 35 ribu untuk kemasan 250 gram. Sedangkan, kemasan 150 gram akan dijual dengan harga Rp 28 ribu. Pria yang akrab disapa Abdul itu juga membeberkan, dirinya berencana memasarkan produknya ke tempat-tempat wisata yang ada di Kudus.

“Sementara penjualan saya masih sekitar kawasan wisata Sunan Muria. Selain itu juga mulut ke mulut, saya jual ke teman-teman. Rencana akan saya kembangkan ke pusat oleh-oleh yang ada di Kudus,” paparnya sambil memotong stiker.

Dia juga menambahkan, jika sudah mulai memasarkan produk secara online. Tetapi masih belum banyak yang membeli. Produk yang dijual di pasaran saat ini adalah kopi robusta asli dari lereng Muria.

Baca juga : DAV Coffee, Kopi Asal Pati dengan Cita Rasa Tiada Dua

“Karena ketinggian daerah sini sekitar 800 hingga 1000 dari permukaan laut, jadi jenisnya robusta. Saat ini saya menjual kopi yang sudah digiling dengan varian kemasan mulai 75 gram dengan harga Rp 12 ribu, 150 gram, Rp 23 ribu, dan 250 gram dengan harga Rp 32 ribu. Itu harga di pasaran,” tambahnya.

Penghasilan Abdul pada hari-hari biasa sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan saat ini, adanya wabah Virus Covid-19 penghasilannya menjadi tidak menentu. “Sekarang penjualan tidak pasti, jika ada teman yang pesan ya bisa ada pemasukan untuk belanja,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Legend’s Barbershop Layani Pelanggan yang Ingin Pangkas Rambut di Rumah

0
Aktivitas di Legend's Barbershop Kudus. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS. ID, KUDUS -Suara musik beberapa band kenamaan Indonesia masih terdengar pelan memenuhi ruangan barbershop berdinding warna cokelat. Ialah Legend’s Barbershop, salah satu tempat potong rambut dengan aneka servis beragam. Beberapa pilot atau kapster yang bekerja di sana beberapa masih duduk-duduk di sekitar meja kasir, tetapi seorang lagi nampak sibuk memangkas rambut salah seorang pelanggan.

Seorang lelaki yang merupakan Asisten Manajer Legend’s Barbershop bercerita tentang bisnis potong rambut yang menurutnya perlu inovasi dan pengembangan ide untuk tetap bertahan di tengah persaingan bisnis yang ketat. Seperti halnya di Legend’s Barbershop yang punya program untuk melayani potong rambut pelanggan di rumah.

“Seiring berkembangnya zaman, kami harus terus berinovasi karena persaingan semakin ketat. Salah satunya masalah servis dan harga. Kami menyediakan berbagai servis dan treatment yang berbeda dengan harga yang masih terjangkau. Seperti creambath, barber-go dan yang terbaru masker wajah,” papar dia, Senin (23/3/2020).

Baca juga : Omzet Barbershop Anjlok Hingga 50 Persen

Ditanya mengenai salah satu fasilitas barber-go yang ia sebutkan, Unggul mengatakan, jika menyediakan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pelayanan memanggil pilot pangkas rambut mereka ke rumah pelanggan. Hal tersebut dikatakannya cukup efektif, apalagi melihat kondisi saat ini yang orang-orang diimbau untuk lebih sering berada di rumah terkait dengan wabah Covid-19. Tak hanya itu, beberapa pejabat setempat yang memang menjadi salah satu langganannya juga sering memakai fasilitas tersebut jika ingin potong rambut.

“Sejauh ini, barber-go lumayan banyak yang memakai. Jadi kalau ada yang tidak bisa ke sini langsung, kami menyediakan nomor telepon atau langsung menghubungi saya untuk memesan barber-go. Nanti saya menyampaikan terus mengirim pilot ke rumah pelanggan,” papar dia.

Sementara ini, ia katakan pula bahwa untuk harga memang masih sangat terjangkau. Misalnya untuk potong rambut di Legend’s Barbershop, pelanggan hanya diharuskan merogoh kocek Rp 25 ribu saja. Padahal, ia melanjutkan bahwa pangkas rambut di sana sudah meliputi cuci rambut dan pelanggan bisa request model potongan sesuai dengan keinginan mereka. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kapster atau pilot yang mereka punya sudah dibekali dengan kursus terlebih dahulu sebelum akhirnya diterjunkan untuk bekerja.

“Kalau harga kami sesuaikan dengan UMK per kota/kabupaten. Seperti di Kudus ini, tahun lalu masih Rp 20 ribu untuk pangkas rambut, tapi tahun ini jadi Rp 25 ribu. Masih sangat terjangkaulah. Itu sudah sama cuci rambut juga. Nah, misal ada pelanggan yang minta model potong yang tidak kami sediakan, biasanya mereka membawa contoh gambar. Untungnya kapster di sini memang sudah kami bekali semacam sekolah barbershop, sekitar satu bulan,” terang dia.

Baca juga : Khayra, Model Cilik Asal Kudus Bakal Wakili Indonesia di Ajang

Sementara itu, seusai berbincang dengan unggul, kami menyempatkan bertanya-tanya langsung dengan salah seorang pelanggan yang kebetulan selesai memangkas rambut. Lelaki berkaus biru itu bernama Robi Darwis (24). Ia katakan, bahwa tak sengaja mampir dan baru pertama kali ke Legend’s.

“Saya asli Demak, Mbak. Sehari-hari biasanya bekerja. Ke sini buat anter jemput tuan putri. Jadi tadi nggak sengaja aja, tadi lewat terus mampir buat potong rambut. Kalau model sih yang penting rapi aja. Soalnya saya suka kerapian. Merasa agak kepanjangan dan minta dirapiin aja. Ini pun hasilnya memuaskan. Tadi sama tambah vitamin bayar Rp 30 ribu. Dan servisnya bagus. Enak, dipijitin Masnya sama cuci rambut juga,” papar Robi sambil tertawa.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Omzet Barbershop Anjlok Hingga 50 Persen

0
Salah satu pelanggan Barbershop Legend's sedang pangkas rambut. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Jalanan di sekitar bangunan ruko bercat abu-abu tua dipadu hijau masih tampak ramai siang itu. Tampak ada seorang pria di dalam bangunan tersebut duduk di sebuah kursi sedang dicukur. Tempat ini adalah Legend’s Barbershop, yang berlokasi di Jl Jenderal Sudirman No 37 B, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus. Pangkas rambut yang biasanya ini ramai oleh pelangga, kini tampak cukup sepi dibandingkan sebelum adanya wabah corona.

Unggul Yanuardi (30), yang dimanahi sebagai Assistant Manajer Legend’s Barbershop di seluruh cabang bercerita mengenai bisnis yang dimiliki oleh sahabatnya itu, sekarang juga ikut terdampak adanya wabah corona.

Baca juga : Ada Sentuhan Cinta, Tanaman Hias Milik Giat Diburu Pembeli

Ia mengatakan, biasanya menjelang Lebaran merupakan musim paling banyak bisnis jasa potong rambut tersebut dibutuhkan. Akan tetapi, untuk tahun ini ia mengira akan sedikit berbeda. Hal itu, setelah melihat kondisi lapangan yang beberapa hari terakhir lebih sepi dari pada bulan-bulan menjelang Idul Fitri biasanya.

“Nah biasanya kalo barbershop gini, kayak Legend’s memang ada musim-musimnya. Maksudnya, ramai di waktu-waktu tertentu. Seperti musim masuk sekolah, sama menjelang Idul Fitri. Itu bisa ramai sekali permintaan potong rambut sama treatment yang disediakan. Tapi ini semenjak tanggal 16 Maret kemarin malah sepi dari biasanya. Bahkan dibanding hari-hari normal atau waktu musim hujan. Ya karena virus Covid-19 itu. Banyak orang yang lebih memilih di rumah sepertinya,” ungkap dia, Senin (23/3/2020).

Pernyataan Unggul itu memang terlihat dari kunjungan tak seberapa pelanggan yang siang itu mampir ke tempat potong rambut itu. Hanya ada satu-dua orang yang masuk dan memangkas rambut. Padahal, menurut keterangannya, di hari normal sebelumnya para pegawai atau kapster bisa melayani 25 pelanggan.

Baca juga : Rexsove, Brand Tas Lokal Berkualitas Buatan Loram Wetan

“Padahal hari-hari biasa, sebelum ada wabah virus itu setiap per jam 4 sore, pilot kita bisa megang 20-25 kepala. Ini baru 9-10 kepala. Itu ngaruh ke omzet tentunya. Biasanya rata-rata per bulan bisa sampai Rp 35 juta, sampai per tanggal 22 ini baru masuk Rp 18 jutaan,” pungkas dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Manjakan Konsumen, A’betta Elektronik Gratiskan Ongkir Barang Reparasian

0
Anton Hermansyah sedang mengecek alat elektronik yang diperbaiki di A'betta Elektronik. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sepeda motor roda tiga terlihat memasuki pelataran A’betta Elektronik saat beberapa karyawan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Motor berisi alat-alat elektronik itu seketika menjeda pekerjaan beberapa orang yang kemudian secara bergantian menurunkannya. Barang-barang tersebut ternyata alat elektronik yang diambil dari rumah pelanggan untuk diperbaiki.

Aktivitas antar jemput barang ini memang sudah menjadi kegiatan harian di tempat reparasi yang didirikan Anton Hermansyah (24). Bahkan, sejak berdiri pada 2016, ia menggratiskan biaya antar jemput alat elektronik.

“Pelanggan tinggal telepon, kemudian santai di rumah. Barang elektronik yang hendak diperbaiki akan dijemput dan kalau jadi diantar kembali. Sudah antar jemput gratis, ada juga garansi tiga bulan,” kata warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu.

Menurutnya, pengiriman gratis untuk barang elektronik tidak hanya berlaku bagi pelanggan dari Kudus saja. Namun juga pelanggan dari daerah lain, seperti Pati, Demak, dan Jepara.

“Kami punya sepeda motor termasuk roda tiga dan mobil untuk operasional antar jemput ini,” bebernya.

Baca juga: Toko Eldorado Elektronik, Tak Hanya Termurah di Kudus Tapi Juga Terlengkap

Saat ini, pihaknya mulai melebarkan usaha dengan melayani jual beli elektronik bekas maupun baru berupa barang sortiran (BS). Barang elektronik bekas yang dijual antara lain kipas angin, setrika, magic com, freezer boks, dispenser, mesin cuci, dan kulkas.

“Mesin cuci dan kulkas bekas kami banderol sama yakni antara Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu per unit. Sedang barang BS kami hanya menyediakan tiga jenis, yakni kulkas, AC, dan mesin cuci,” ungkapnya.

Baca juga: A’betta Elektronik, Jasa Reparasi untuk Kenang Mendiang Ayah

Untuk barang BS, lanjut Anton, AC ia bandrol Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta tergantung merek. Kemudian Kulkas mulai Rp 1 juta hingga Rp 1,6 juta. Sedangkan mesin cuci dilepas mulai Rp 1 juta sampai Rp 2 juta.

“Sama dengan servis, barang elektronik yang dibeli di A’betta Elektronik juga bergaransi tiga bulan. Tentunya juga bebas ongkos kirim,” tutup Anton.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Grab Kudus Sumbang Wastafel Portabel dan Bagikan Masker

0
Grab menyumbangkan wastafel dan masker untuk warga Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan driver ojek online Grab terlihat berkumpul di depan Pendopo Kabupaten Kudus. Mereka membawa dua wastafel portabel warna hijau untuk diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Kudus, Senin (13/4/2020).

Menurut Ardian Guritno (32) City Lead Kudus Raya Grab Indonesia, dua wastafel portabel tersebut diberikan managemen Grab Indonesia untuk membantu penanganan Covid-19 di Kudus.

Pembagian masker gratis untuk pengendara. Foto : Imam Arwindra

“Kami ada progam CSR. Ini bentuk kepedulian kita kepada masyarakat terutama dalam pandemi ini,” ungkapnya yang mengenakan masker warna hijau.

Baca juga : Eks Napiter Sumbang Ribuan Masker, Harun : ‘Ini Jahit Sendiri Selama Sepekan’

Selain memberikan wastafel portabel, pihaknya juga membagikan 200 masker untuk diberikan ke pengguna jalan. Hal tersebut penting, supaya masyarakat di Kudus bisa terhidar dari Virus Corona.

Ardian menambahkan, kegiatan serupa akan dilakukan secara rutin hingga pandemi Covid-19 berakhir.

Kegiatan pembagian masker juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Kudus. Bersama Grab dan Karang Taruna Kabupaten Kudus membagi 3 ribu masker.

Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kholid Seif, pihaknya akan terus melakukan kampanye agar selalu menggunakan masker saat keluar dari rumah.

Selain itu, masyarakat harus melakukan social distancing dan phisycal distancing agar terhindar dari virus Corona.

Baca juga : Pedagang yang Tidak Kenakan Masker Dilarang Berjualan

Dalam melakukan edukasi kepada pengguna jalan, pihaknya juga membuat poster yang bertuliskan imbauan untuk mengenakan masker. Menurutnya edukasi tersebut penting, agar bisa tersampaikan ke keluarga besar di rumah.

“Selalu pakai masker saat keluar rumah. Memakai masker tidak akan mengurangi kegantengan dan kecantikan. Mari kita saling menjaga dan mengurangi penyebaran virus Corona,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Karantina 28 Pemudik di Rusun dan Menawan

0
Kepala Dinas PKPLH Kudus Agung Karyanto saat meninjau kondisi pemudik yang di karantina di Rusunawa Bakalankrapyak, Senin (13/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah daftar orang dalam pengawasan (ODP) terpampang di papan pengumuman dekat ruang pendaftaran rumah rusun sederhana sewa (Rusunawa) twin blok (TB 4), Senin (13/4/2020). Mereka yakni pemudik asal Jakarta yang harus dikarantina terlebih dahulu selama 14 hari di tempat tersebut.

Di tempat pendaftaran tersebut, terlihat Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Agung Karyanto, sedang berbincang-bincang dengan petugas jaga. Hari itu, ia datang untuk mengecek petugas piket dan menanyakan kondisi 21 pemudik yang dikarantina.

Beberapa petugas tampak berjaga-jaga di depan Rusunawa Bakalankrapyak, Senin (13/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

Ditemui di sela-sela kunjungan, Agung menjelaskan, 21 orang pemudik ditempatkan di lantai lima. Secara teknis, lantai paling atas akan ditempati dahulu, setelah itu berlanjut ke lantai di bawahnya.

“Dini hari tadi, ada tambahan enam pemudik asal Kecamatan Undaan yang datang dari Jakarta. Saat turun di terminal Jati, langsung dilakukan proses screening oleh petugas dan kemudian dibawa ke rusunawa,” bebernya.

Dia menambahkan, setiap kamar seharusnya bisa dihuni empat orang. Namun jika beda keluarga satu orang akan menempati satu kamar.

“Mereka akan dipantau tim medis. Makanannya pun kita akan penuhi tiga kali sehari, termasuk kebutuhaan mandi dan bersih-bersih. Semua sudah siap. Ada pemudik datang langsung bisa masuk,” jelas Agung.

Baca juga: Meski Sempat Ada Penolakan, Rusunawa Tetap Jadi Tempat Karantina Pemudik

Di sisi lain, juru bicara gugus tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menambahkan, data per Senin (13/4/2020) pukul 16.29 WIB, sudah ada 28 pemudik yang dikarantina. 21 orang di Rusunawa Bakalankrapyak dan sisanya di Balai Diklat Sonya Warih Menawan.

“Selama masa karantina 14 hari, ODP akan dipantau oleh tim medis 24 jam. Setelah 14 hari menjalani karantina dan dinyatakan negatif Covid-19, mereka boleh pulang,” tutup Andini.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Usulan Pemakaman Nakes di Makam Pahlawan Disalahartikan, Ganjar: ‘Jangan Ada Provokasi’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Upaya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk memberi tempat bagi tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal melawan Covid-19 di Makam Taman Pahlawan dianggap ada yang menyalahartikan. Masyarakat diminta untuk tidak menyebar informasi yang tidak benar dan bersifat provikasi.

Ganjar menjelaskan, usulan untuk memakamkan tenaga kesehatan atau tenaga medis di Taman Makam Pahlawan sebagai penghormatan. Menurutnya para garda terdepan yang berperang melawan Covid-19 layak diberikan penghargaan tertinggi.

“Ini upaya kami memberikan penghargaan tertinggi kepada mereka para pejuang kemanusiaan di Jateng,” tegas Ganjarusai memimpin rapat koordinasi penanganan Covid-19 di Gradhika Bhakti Praja, Senin (13/4).

Baca juga: Makam Pahlawan Disiapkan Bagi Garda Terdepan yang Gugur Melawan Corona

Namun, kata Ganjar, niat baiknya tersebut ada yang salah mengartikannya. Ada seorang dokter yang mengkritiknya di media sosial terkait usulannya tersebut.

“Itu kan karena sebelumnya ada penolakan (jenazah tenaga medis). Kalau seperti ini terus kan tidak boleh. Oleh karena itu kami mengusulkan mereka tenaga medis yang gugur karena berjuang melawan Covid-19 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,” ungkapnya.

Dia meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak menyebarkan berita yang tidak benar dan bersifat provokasi. Jika ada hal yang tidak berkenan bisa melakukan klarifikasi untuk mendapat maksud sebenarnya.

Baca juga: Ganjar Telepon Anies Gegara Banyak Warga Jateng Belum Terima Bantuan

“Tidak setuju dengan saya tidak apa-apa, tapi jangan provokasi warga. Saya menghormati beliau karena beliau sudah bekerja dengan baik sebagai tenaga kesehatan,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan, ada seorang tenaga medis yang meninggal akibat Covid-19 dan jenazahnya ditolak warga Kabupaten Semarang. Merespon hal tersebut, Ganjar mengusulkan tenaga medis yang meninggal dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Sementara itu, pagi ini jagad Twitter diramaikan nama Ganjar Pranowo yang sempat menjadi trending 1. Banyak pengguna Twitter yang merespon cuitan akun @berlianidris yang menganggap usulan tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan.

Baca juga: Ganjar Minta Jakarta Segera Diisolasi, ‘Kami Siap Openi Warga Jateng di Sana’

“Ini sungguh menyakitkan. Kami ingin selamat pak @ganjarpranowo, tidak ada yang ingin dimakamkan di taman makam pahlawan. Tolong lindungi tenaga kesehatan secara maksimal, jangan dulu bicarakan di mana kami akan dimakamkan,” tulis akun tersebut yang disertai link berita tentang usulan Ganjar.

Tulisan akun tersebut telah retwit ribuan kali oleh warganet. Seperti biasanya, Ganjar yang cukup aktif bermedia sosial itu, melalui akun resminya membalas cuitan tersebut. Dia meminta akun tersebut untuk DM dan nanti akan ditelepon.

Edit: Suwoko

- advertisement -

17 PDP Meninggal di Kudus Punya Penyakit Penyerta

0
Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus, Andiri Aridewi. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Update data Covid-19 di Kabupaten Kudus per 13 April 2020, pada pukul 10.00 WIB, dilaporkan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) secara kumulatif yang meninggal dunia sebanyak 17 orang.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, dr Andiri Aridewi, 17 pasien yang meninggal dunia itu karena ada penyakit penyerta. Di antaranya, pasien memiliki penyakit kencing manis, jantung, kanker dan penyakit berat lainnya.

“Jadi sebagian besar PDP yang meninggal karena ada penyakit penyerta,” jelasnya saat ditemui di sela-sela rapat dengan Komisi D DPRD Kabupaten Kudus, Senin (13/4/2020).

Dia melanjutkan, dari total 17 PDP yang meninggal itu ada yang belum tes swab sebanyak sembilan orang. Sedangkan empat PDB yang sudah diswab kini masih menunggu hasilnya. Kemudian, untuk dua lagi yang sudah diswab hasilnya positif dan dua lagi negatif.

Baca juga : Ganjar Telepon Anies Gegara Banyak Warga Jateng Belum Terima Bantuan

Saat ditanya kapan hasil swab untuk empat pasien keluar, dia menuturkan harus menunggu konfirmasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, BTKL/B2P2VRP.

“Untuk hasil tergantung labnya. Karena mereka juga harus periksa spesimen kiriman dari berbagai daerah,” jelasnya.

Selanjutnya, untuk tiga pasien PDP yang terkonfirmasi positif Covid-19 menurutnya masih dirawat. Dua dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus dan satu dirawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu. “Satu orang yang dirawat di Mardi Rahayu yakni warga Jepara,” ungkapnya.

Berdasarkan data https://corona.kuduskab.go.id/, total PDP update per 13 April 2020 pukul 10.00 WIB yakni 147 orang. 63 dinyatakan negatif, 32 pulang sehat, 33 dalam perawatan, dua dirujuk, 17 meninggal dan 32 negatif.

Baca juga : Meski Sempat Ada Penolakan, Rusunawa Tetap Jadi Tempat Karantina Pemudik

“Pulang sehat yakni kondisi baik bisa pulang, hasil swab belum keluar atau belum swab. Dan masih dalam pemantauan,” jelas dr Andini.

Selanjutnya, orang dalam pengawasan (ODP) yakni 261 orang. 155 masih dipantau dan 106 selesai dipantau.

Untuk yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 yakni tiga masih dirawat, satu sembuh dan dua meninggal.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Eks Napiter Sumbang Ribuan Masker, Harun : ‘Ini Jahit Sendiri Selama Sepekan’

0
Perwakilan eks napiter menyumbang ribuan masker untuk masyarakat di Jateng. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Mantan narapidana teroris menyumbangkan 1.350 masker untuk masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Ribuan masker tersebut merupakan hasil produksi dari para napiter yang tergabung dalam Yayasan Gema Salam.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menerima langsung bantuan yang diserahkan oleh perwakilan eks napiter tersebut di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Senin (13/4/2020).

Bantuan berupa 1.350 masker kain tersebut, merupakan bentuk inisiatif Yayasan Gema Salam terkait wabah Covid-19 yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Yayasan Gema Salam sendiri, merupakan wadah bagi mantan napiter di Jawa Tengah yang didukung oleh Bapas Surakarta dan Yayasan Prasasti Perdamaian.

Baca juga : Unik, KJ Phone Bagi-Bagi Masker dan Hand Sanitizer Gunakan Kostum Super Hero

“Ini bentuk kepedulian kami kepada pemerintah dan masyarakat Jawa Tengah di tengah wabah Corona. Kami ingin membantu meskipun dalam bentuk yang kecil. Harapannya ini bisa membantu masyarakat agar tetap menaati peraturan pemerintah untuk mengenakan masker,” ujar Joko Tri Harmanto alias Jack Harun.

Guburnur dan Wakil Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen menerima bantuan masker dari perwakilan eks napiter. Foto : Ist

Harun menjelaskan, 1.350 masker itu terdiri atas 1.000 masker dari kain kaos dan 350 dari kain batik. Ribuan masker tersebut dibuat sendiri oleh kawan-kawan di Yayasan Gema Salam.

“Ini jahit sendiri, untuk yang ikut menjahit ada dua orang, yang lain bantu kaos dan alat lainnya. Bahan kami ambil dari sisa jahitan kaos dan baju batik untuk kemudian kami jahit menjadi masker. 1.000 masker itu satu pekan, sehari bisa 100 masker,” jelasnya.

Sementara itu, Ganjar Pranowo berterima kasih atas bantuan yang diberikan tersebut. Gerakan masker itu ternyata tidak berhenti tetapi masuk dan mengusik pikiran orang-orang untuk selalu menjaga dan menyehatkan.

Baca juga : Pedagang yang Tidak Kenakan Masker Dilarang Berjualan

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh kawan-kawan di Yayasan Gema Salam sangat luar biasa. Di tengah masyarakat harus menjaga diri dan sehat, serta kekurangan peralatan sederhana seperti masker maka kontribusi Yayasan Gema Salam memberi kontribusi berupa bantuan masker.

“Saya tidak pernah menghitung jumlahnya, satu pun kalau itu diberikan dengan ikhlas dan ingin disumbangkan untuk kemanusiaan, buat saya itu seperti sejuta masker yang diberikan bahkan lebih. Terpenting adalah ketulusan hati, niat yang baik, dan ini bagian dari sakitnya bangsa, sakitnya negara, deritanya rakyat, kita semua menanggung bersama,” katanya.

Baca juga : Makam Pahlawan Disiapkan Bagi Garda Terdepan yang Gugur Melawan Corona

Selain 1.350 masker kain dari Yayasan Gema Salam, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menerima bantuan dari grup Cimory, United Bike, dan PT Pesona Wisata Jateng yang memberikan 1.500 APD dan 5.000 botol susu untuk tenaga medis. Ada juga bantuan 2.000 hand sanitizer dari PT Kosmetika Tama Super Indah.

“Bantuan ini pasti sangat membantu, khususnya bagi tenaga medis yang berada di benteng terakhir, mereka harus berjuang, nyawa dipertaruhkan, dan tidak bisa menemui orang yang disayang,” pungkas Ganjar.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

A’betta Elektronik, Jasa Reparasi untuk Kenang Mendiang Ayah

0
Dua karyawan A'betta Elektronik sedang memperbaiki alat elektronik, Selasa (31/3/2020). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan barang elektronik tampak berjajar di sebuah bangunan di tepi timur Jalan Budi Utomo, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (31/3/2020). Di antara berbagai macam alat itu, ada beberapa pria mengenakan kemeja warna merah, sibuk memperbaiki barang-barang yang rusak. Salah satunya adalah Anton Hermansyah (24) pemilik A’betta Elektronik.

Di sela-sela aktivitasnya, Anton membagikan cerita awal mula berkecimpung di dunia reparasi elektronik, termasuk pemberian nama pada usahanya.

Salah seorang karyawan A’betta Elektronik sedang memperbaiki alat elektronik, Selasa (31/3/2020). Foto: Rabu Sipan

Pria yang tak lulus SMK itu mengatakan, pemilihan nama A’betta Elektronik ini untuk mengenang mendiang ayahnya. Menurutnya, A’betta adalah panggilan sayang ayahnya dari adik-adik almarhum.

“Sebenarnya nama ayah saya itu Subkhan, tapi adik-adiknya memanggil beliau A’betta. Oleh karena itu, untuk mengenang kasih sayang ayah, usaha saya beri nama A’betta,” ungkap Anton yang ditinggal ayahnya 2008 lalu itu.

Anton menjelaskan, usaha servis ini dirintis sejak 2016 di emperan rumahnya. Sebelum itu, ia pernah ikut kerja saudaranya selama tujuh tahun.

“Saya dulu sekolah SMK jurusan elektronik, tapi tidak sampai lulus. Kemudian saya kerja ikut paman. Setelah tujuh tahun, saya mantab buka usaha sendiri,” ujar anak terakhir dari lima bersaudara itu.

Tempat servisnya ini bisa menerima perbaikan kulkas, mesin cuci, dispenser, kipas angin, freezer, air conditioner (AC) dan lain sebagainya. Berbagai elektonik yang diperbaiki di A’betta Elektronik bergaransi tiga bulan.

Baca juga: Toko Eldorado Elektronik, Tak Hanya Termurah di Kudus Tapi Juga Terlengkap

Anton kemudian merinci beberapa harga reparasi aneka elektronik di tempatnya. Untuk kulkas mulai harga Rp 250 ribu, mesin cuci Rp 50 ribu, dispenser Rp 200 ribu, dan freezer boks Rp 300 ribu. Sedangkan untuk kipas angin, setrika, magic com dihargai sama yakni mulai Rp 20 ribu.

“Selain bergaransi tiga bulan, harga reparasi juga bisa dibilang murah dan bersaing. Itulah kunci agar para pelanggan percaya dengan layanan kami,” ujar Anton.

Baca juga: Mif Jahit dan Servis Terpal Punya Omzet Capai Rp 1 Juta per Hari

Menurutnya, A’betta Elektronik sekarang sudah lumayan dikenal. Ini bisa dilihat dari para pelanggannya yang tidak hanya orang Kudus saja, melainkan ada yang dari Demak, Pati serta Jepara.

“Saya bersukur usaha yang aku rintis dari emperan rumah kini sudah terlihat hasilnya. Pelanggan banyak yang percaya. Sekarang juga sudah ada motor, Viar serta mobil untuk operasional. Kedepan semoga bisa buka cabang,” tutup Anton.

Editor : Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Telepon Anies Gegara Banyak Warga Jateng Belum Terima Bantuan

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemprov DKI Jakarta telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun banyak warga Jateng yang tertahan di sana belum mendapat bantuan dari Pemprov setempat. Mengetahui hal ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menelepon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Ganjar mengatakan, dirinya mendapat banyak laporan terkait belum diterimanya bantuan sosial. Padahal, warga yang ber-KTP di daerah sekitar Jakarta telah menerima bantuan. Dirinya menghubungi Anies untuk menanyakan bantuan untuk warga Jateng yang berada di Jakarta.

Baca juga: Ganjar Minta Jakarta Segera Diisolasi, ‘Kami Siap Openi Warga Jateng di Sana’

“Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Anies. Ternyata masalahnya mereka (warga Jateng) banyak yang belum terdaftar. Lalu saya tawarkan bantuan pendataan agar ini bisa segera ditangani,” ujar Ganjar usai memimpin rapat koordinasi penanganan Covid-19, Senin (13/4).

Berdasarkan data yang dimiliki, Ganjar menyebut ada sekitar 7 juta warga Jateng yang berada di Jabodetabek. Sedangkan yang terdaftar baru sebanyak 1.033 orang. Mereka menunggu uluran tangan dari pemerintah untuk mendapat bantuan.

Baca juga: Teruntuk Perantau, Ganjar : ‘Tolong Jangan Mudik Dulu’

“Saya juga sudah meminta paguyuban perantau untuk membantu melakukan pendataan. Kami meminta agar ini menjadi perhatian serius. Mereka sudah memutuskan untuk tidak mudik, jadi harus dibantu,” ungkapnya.

Selain berkomunikasi dengan paguyuban perantau, Ganjar mengatakan pihaknya juga telah memerintahkan Badan Penghubung Jawa Tengah di Jakarta untuk mendata. Selain itu pihaknya juga telah memerintahkan Biro Pemerintahan Jateng untuk berkoordinasi dengan Jakarta terkait hal ini.

“Saya mendapat info pendataan di sana dilakukan di kantor kelurahan. Oleh karena itu saya ingin memastikan semua kantor kelurahan di sana bisa memberikan pelayanan dengan baik. Kami siang bantu kok. Kami ingin pendataan dilakukan secara cepat,” ungkapnya.

Baca juga: 1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

Kesuksesan PSBB di Jakarta dan sekitarnya menjadi faktor penting untuk menkan penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah. Karena, warga Jateng yang memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halaman bisa memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Ganjar menyebut, Pemprov Jateng telah menyiapkan dana untuk memberikan bantuan sosial untuk warganya di daerah luar. Namun, itu disiapkan sebagai plan B dan hal-hal aksidental jika dibutuhkan.

“Oleh karena itu, kami ingin memastikan warga Jateng mendapat perhatian di tanah perantauan. Kami siap membantu. Tapi kami juga siapkan skenario lain dengan menyiapkan dana jika itu dibutuhkan,” ungkapnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -