Beranda blog Halaman 147

Gubernur Ahmad Luthfi Tunggu Gerak Nyata GP Ansor Jateng dalam Sinergi Pembangunan

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghadiri pengukuhan pengurus Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah masa khidmat 2025-2029 di Pondok Pesantren Asshodiqiyah, Kota Semarang, Minggu (2/11/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghadiri pengukuhan pengurus Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah masa khidmat 2025-2029 di Pondok Pesantren Asshodiqiyah, Kota Semarang, Minggu (2/11/2025).

Setelah pelantikan itu, Luthfi menyatakan, menantikan gerak nyata dari GP Ansor Jawa Tengah untuk bersinergi dengan pemerintah, dalam pembangunan provinsi ini.

Baca Juga: Dukung Digitalisasi Transaksi Keuangan, Pemprov Jateng Perkuat Infrastruktur Internet pada Blankspot Area

“Ansor bukan sekadar organisasi kader, mulai saat ini kita harus tunjukkan suatu bentuk pengabdian, dengan dasar hubbul waton minal iman (Cinta tanah air bagian dari iman). Itu kita tunggu,” kata Ahmad Luthfi dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, dalam membangun Jawa Tengah tidak bisa dilakukan sendiri dan parsial, tapi harus dilakukan secara bersama-sama dan bergotong royong oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk di dalamnya GP Ansor.

Ahmad Luthfi percaya PW GP Ansor Jateng di bawah kepemimpinan Muchammad Shidqon Prabowo dapat bersinergi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Setali tiga uang, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan, sejauh ini GP Ansor di berbagai tingkatan memiliki kontribusi penting bagi negeri ini. Mulai dari komitmennya dalam menjaga persatuan dan nilai kebangsaan, serta bagaimana menjadi penggerak generasi muda dalam menghadapi tantangan global seperti resesi, perang dagang, perang tarif, dan perubahan iklim.

Baca Juga: Berkat Instruksi Cepat Gubernur Ahmad Luthfi, Banjir di Semarang Surut 15 Cm Kurang dari Sehari

“Pemerintah dalam menjalankan program tidak bisa berjalan sendiri, butuh mitra kuat yang mengakar di masyarakat, mitra yang mau terjun langsung ke masyarakat, butuh anak muda yang punya semangat kemajuan. Di sini lah peran GP Ansor,” jelasnya.

Selain Wakil Presiden dan Gubernur Jawa Tengah, acara pengukuhan pengurus PW GP Ansor Jateng juga dihadiri oleh Ketua PWNU Jateng, Ketua Umum PP GP Ansor, sejumlah pejabat publik, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, termasuk ketua GP Ansor Jateng dari periode sebelum-sebelumnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pentol Kuplik, Jajanan Pedas Nampol dari Nalumsari Jepara

0
Lapak Pentol Kuplik di Nalumsari, Jepara. Foto: Luthfia Himma Soraya

BETANEWS.ID, JEPARA – Di depan gerbang MTs Ismailiyah Nalumsari, tampak sebuah gerobak merah mencolok bertuliskan “Pentol Kuplik Pedasnya namPOL!” yang sedang dikerumuni pembeli. Makanan pedas ini menjadi favorit para siswa, santri pondok, hingga warga sekitar.

Pemiliknya adalah Sofawati (43) atau yang akrab disapa Kuplik. Ia mengaku sudab 15 tahun berjualan pentol. Dan nama Pentol Kuplik diambil dari panggilan akrabnya. Selain itu, kata “kuplik” juga menggambarkan bentuk pentolnya yang kecil-kecil.

Baca Juga: 5.026 Anak di Jepara Tidak Sekolah, 26,5 Persen Karena Bekerja 

“Dulu saya jualan keliling, muter dari kampung ke kampung. Tapi karena di depan MTs ini ramai dan dekat dengan pondok, akhirnya saya coba buka outlet tetap di sini,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Di outlet ini, Kuplik menawarkan tiga varian pentol andalan. Di antaranya pentol isi sosis, pentol beranak, dan pentol isi daging. Varian isi inilah yang paling digemari pelanggan.

“Kalau yang jadi favorit itu pentol isi. Biasanya anak-anak pondok yang paling sering beli,” bebernya.

Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong pelajar. Yaitu mulai dari Rp2.000 untuk pentol biasa, hingga Rp6.000 untuk dua biji pentol isi daging atau sosis. Selain pentol, Kuplik juga menyediakan es serbuk berbagai rasa sebagai pelepas dahaga.

Baca Juga: Bocah SD di Jepara yang Diduga Jadi Korban Penganiayaan Tak Mendapat Perawatan Layak

Setiap hari, Kuplik membuka outletnya sejak pukul 08.30 WIB hingga dagangannya habis. Ia sendiri yang berjaga di outlet, sementara sang suami masih berjualan keliling seperti dulu.

Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Roti Bakar Kukus Super, Inovasi Kuliner Malam yang Naik Daun di Kudus

0
Lapak Roti Bakar Kukus di tepi Jalan KH. Turaichan Adjhuri, Pejaten, Kajeksan, Kota Kudus. Foto: Melly Andila Putri

BETANEWS.ID, KUDUS – Malam itu, harum roti bakar yang menggugah selera tercium dari tepi Jalan KH. Turaichan Adjhuri, Pejaten, Kajeksan, Kota Kudus. Di sebuah outlet perpaduan warna kuning dan merah, tepatnya di sebelah Raja Vapor, seorang perempuan muda berbaju hitam tengah sibuk melayani pembeli dengan senyum ramah. Dia adalah Yulia Maulida (26), sosok di balik kesuksesan Roti Bakar Kukus Super yang diburu para pecinta kuliner malam di Kudus.

Yuli mengatakan, sebelum memulai usaha dia memang sudah memiliki pengalaman jualan franchise rokupang. Menurutnya, pengalaman berharga yang ia dapatkan saat bekerja di franchise tersebut menjadi bekal yang sangat bermanfaat untuk membangun usahanya.

Baca Juga: Inovasi Manis Kopitiam AMA, “Roti Bakar Siram” Jadi Buruan Pecinta Kuliner Kudus

“Kalau untuk idenya udah mulai kepikiran dari 2 tahun yang lalu sebelum lulus kuliah. Karena dulu udah pernah ikut kerja di franchise, jadi pengen buka usaha sendiri,” ungkap Yulia.

Mimpi itu akhirnya terwujud pada 1 Agustus 2025, Yulia resmi membuka Roti Bakar Kukus Super yang kini sudah memiliki banyak pelanggan. Keunikannyalah yang menjadi daya tarik utama Roti Bakar Kukus Super. Berbeda dengan gerai roti bakar pada umumnya yang hanya menyajikan roti panggang, Yulia berinovasi dengan menambahkan varian kukus.

“Kalau untuk keunikannya bedanya dari yang lain varian kukusnya. Kalau yang lain paling kan roti bakar aja, kalau disini ada yang dikukus, disini ada roti bakar dan roti kukus,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Konsep dua pilihan tekstur ini memberikan pengalaman berbeda bagi pelanggannya. Ia menawarkan sensasi renyah dari hasil bakar, dan tekstur yang lembut dari proses pengukusan.

Dari segi menu, Roti Bakar Kukus Super tidak hanya menawarkan varian manis seperti roti bakar pada umumnya. Yulia juga menyediakan pilihan rasa asin yang jarang ditemui di kompetitor lainnya.

“Variannya juga ada yang beda dari roti bakar kukus pada umumnya, disini kita ada varian asinnya, ada juga rasa sosis telur. Jadi kita menyediakan menu asin dan manisnya,” ujarnya.

Kombinasi menu manis dan asin ini membuat pelanggan memiliki lebih banyak pilihan sesuai selera masing-masing. Selain itu, harga yang ditawarkan pun cukup bersahabat. Yulia menjual dengan harga mulai dari Rp5.500 hingga Rp25.000.

Baca Juga: Viral di Tiktok, Es Teler Amanda dan Odang Odeng Diserbu Pemuda Kelet

Harga terjangkau ini membuat Roti Bakar Kukus Super dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga pekerja.

“Di sini menyediakan berbagai ukuran. Jadi harganya bisa menyesuaikan kantong pelanggan. Kalau bukanya mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WIB,” tambahnya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Awalnya Coba-Coba, Sholikah Malah Sukses Bisnis Martabak Manis Mini

0
Sholikah saat melayani pembeli. Foto: Wulan Divatia Dewi

BETANEWS.ID, PATI – Setiap sore di kawasan Kajen, Margoyoso, Pati, tepatnya di samping Toserba Pantes, aroma martabak manis yang baru matang kerap menggoda para pejalan kaki. Di balik meja kecil berwarna oranye bertuliskan “martabak manis mini” itu, tampak seorang perempuan dengan wajah ramah tengah sibuk menuang adonan ke cetakan. Ia adalah Sholikah (31), pemilik lapak tersebut.

Sholikah bercerita, sebelum menjalankan usaha, dirinya hanyalah ibu rumah tangga bisa. Karena bosan di rumah, ia memutuskan untuk mencoba sebuah usaha yang baru ia mulai Agustus 2025 lalu.

Baca Juga: Mengenal Laeli, Sarjana Psikologi yang Tak Gengsi Bantu Jualan Bumbu di Pasar KlIwon Kudus

“Awalnya saya hanya coba-coba mau jualan martabak manis ini. Karena saya memang ibu rumah tangga saja, daripada nggak ada kerjaan ya saya mencoba mempelajari resep membuat martabak manis versi mini,” ungkap sholikah saat di temui beberapa waktu lalu.

Waktu pertama jualan, Sholikah berjualan setiap pagi di depan MI Salafyah Kajen mulai pukul 06.00 WIB. Namun, karena banyak pelanggan yang meminta agar ia buka juga di sore hari, akhirnya Sholikah menambah jam dan lokasi jualannya.

“Banyak yang bilang pengen beli waktu sore, dan respon pembeli juga bagus. Jadi sekarang saya buka lagi mulai pukul 16.00 WIB di sebelah timur Toserba Pantes,” terang Sholikah.

Menu martabak mini yang dijual cukup beragam. Dia menawarkan tiga kategori topping, yaitu toping glaze, toping lain-lain, dan toping selai. Untuk toping glaze, tersedia varian choco crunch, tiramisu, dan cokelat. Sementara toping selai meliputi strawberry, blueberry, nanas, melon, dan berbagai rasa lainnya.

“Kalau harga per item martabak manis mini ini saya jual mulai Rp3.000 hingga Rp4.000. Menyesuaikan topongnya,” bebernya.

Baca Juga: Kholik, Pengusaha Ronde yang Sukses Buka Tiga Cabang di Pati

Dalam menjalankan usahanya, Sholikah tak berkerja sendiri. Ia dibantu oleh suami dan juga saudaranya.

“Alhamdulillah ramai terus. Kalau tidak ada yang bantu ya kualahan. Saya butuh dibantu menyiapkan adonan dan melayani pelanggan,” tambahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dukung Digitalisasi Transaksi Keuangan, Pemprov Jateng Perkuat Infrastruktur Internet pada Blankspot Area

0
Sekretaris Daerah Sumarno, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam kegiatan bertemakan “Rupiah Tresno Budoyo, Rayakan Digitalisasi, Berbudaya untuk Negeri”, di Rajawali Culture Kota Semarang, Sabtu (1/11/2025) malam. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan apresiasi kepada meayarakat di wilayahnya yang semakin banyak menggunakan teknologi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam transaksi keuangan.

Untuk mendukung penggunaan teknologi tersebut, Pemprov Jateng terus memperluas jaringan internet ke wilayah-wilayah desa dan blank spot area. Sehingga, seluruh lapisan masyarakat bisa terjangkau layanan transformasi keuangan digital.

Baca Juga: Berkat Instruksi Cepat Gubernur Ahmad Luthfi, Banjir di Semarang Surut 15 Cm Kurang dari Sehari

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Sumarno, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam kegiatan bertemakan “Rupiah Tresno Budoyo, Rayakan Digitalisasi, Berbudaya untuk Negeri”, di Rajawali Culture Kota Semarang, Sabtu (1/11/2025) malam.

“Ini sudah kita mulai sejak masa Covid-19 dulu, awalnya untuk mendukung administrasi di desa, dan selanjutnya akan mendukung layanan digitalisasi termasuk dalam transaksi keuangan di tengah masyarakat,” kata Sumarno.

Sumarno mengatakan, digitalisasi keuangan memaksa pembukuan lebih tertib, dan membentuk budaya kejujuran dalam tarnsaksi keuangan. Dengan menggunakan teknologi QRIS, penggunaan uang palsu juga bisa terhindarkan.

Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Tengah, hingga kini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memfasilitasi jaringan internet di 866 titik desa blankspot.

Sepanjang 2025, pemerintah provinsi telah memfasilitasi jaringan internet gratis di 327 desa, terdiri dari 195 desa blankspot, 50 desa wisata, 50 desa miskin ekstrem, dan 32 desa rawan banjir. Gubernur Ahmad Luthfi menargetkan, seluruh wilayah blankspot di Jawa Tengah dapat terhubung internet pada 2029.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Rahmat Dwisaputra mengatakan, Jateng menjadi salah satu provinsi dengan adopsi QRIS tertinggi, dan sudah menerapkan tap QRIS untuk layanan transportasi, pembelian gas elpiji, hingga akses tempat wisata.

“Melalui digitalisasi transaksi keuangan, lalu lintas UMKM akan terlihat, moral hazard (perilaku tidak jujur) pengelolaan keuangan akan berkurang, sehingga menjamin tata kelola pemerintahan daerah,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, dilaksankaan simbolisasi penyerahan nota kesepakatan penggunaan QRIS dengan empat kabupaten, yaitu Grobogan, Rembang, Jepara, dan Blora.

Baca Juga: Kisah Petugas Pompa Air Jateng, 24 Jam Berjaga Ditemani Nyamuk dan Logistik Terbatas

Sementara itu, dalam kegiatan Rupiah Tresno Budoyo ini, merupakan rangkaian festival dalam rangka memperingati 200 tahun Perang Diponegoro. Melalui penampilan pertunjukan Opera Orchestra Diponegoro bersama Eko Dance Company, disampaikan pesan keadilan yang menjadi bagian penting dari perjuangan melawan VOC.

“Ekonomi tidak bisa lepas dari budaya. Tanpa budaya, ekonomi menjadi eksploitatif terhadap alam dan manusia,” kata Rahmat.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Lolos dari Pemakzulan, Bupati Pati Sudewo Ajak Semua Pihak Kembali Bersatu

0
Bupati Pati, Sudewo. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Bupati Pati, Sudewo lolos dari pemakzulan usai mayoritas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati sepakat untuk memberikan rekomendasi perbaikan kinerja kepada Sudewo dalam sidang paripurna pada Jumat (31/10/2025) kemarin.

Sudewo pun angkat bicara usai dirinya selamat dari pemakzulan. Dirinya menyampaikan pesan kepada masyarakat, baik yang mendukung dirinya maupun kontra.

Baca Juga: Lima Sosok Inspiratif Raih Penghargaan Tokoh Santri Pati 2025

Sudewo mengaku bakal memperbaiki kinerja. Sejumlah rekomendasi dari DPRD Kabupaten Pati bakal ditindaklanjuti.

”Kami akan komitmen bersama wakil bupati Pati untuk peningkatan kinerja. Maka segala sesuatu yang menjadi materi pansus sebagai koreksi atau intropeksi bagi pemerintah,” ujar Sudewo, Sabtu (1/11/2025).

Ia pun mengimbau kepada pendukungnya agar tidak terlalu bereuforia atas keputusan DPRD Kabupaten Pati yang tak memakzulkan dirinya. Baik melakukan konvoi atau menggelar syukuran dengan menanggap hiburan.

”Saya mengimbau kepada pendukung kami untuk selalu bersyukur dengan cara mengajak semua orang bersatu dan bergandengan tangan membangun Kabupaten Pati. Tidak boleh euforia, hiburan-hiburan, konvoi. Tidak usah. Biasa saja. Mengalir membangun Kabupaten Pati,” ungkapnya.

Sudewo juga menyampaikan pesan kepada masyarakat yang kontra dengan dirinya. Ia mengajak masyarakat yang kontra menerima dan ikut membangun Kabupaten Pati.

Baca Juga: Polresta Pati Tangkap 4 Pentolan Masyarakat Pati Bersatu

”Yang kontra pun slemaa ini saya harap untuk bersama kami membangun Kabupaten Pati, (Digandeng ya), ya,” tandas dia.

Diberitakan sebelumnya, DPRD Kabupaten Pati tak menyepakati pemakzulan Bupati Pati Sudewo usai menerima hasil pansus hak angket pemakzulan. Dari sejumlah fraksi, hanya PDIP yang sepakat pemakzulan. Sementara sisanya sepakat Bupati Pati Sudewo masih menjabat dengan catatan memperbaiki kinerjanya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

DPRD: ‘Data TKA yang Valid Bisa Jadi Potensi PAD Jepara’ 

0
Agus Sutisna, Ketua Sementara DPRD Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara, Agus Sutisna menyoroti belum sinkronnya data Tenaga Kerja Asing (TKA) di Kota Ukir yang dimiliki Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dengan realita di lapangan. 

Padahal dengan data dan pelaporan TKA di daerah yang valid, bisa menjadi potensi untuk memperjuangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar bisa dimanfaatkan kembali untuk mendukung pembangunan lokal. 

Baca Juga: 5.026 Anak di Jepara Tidak Sekolah, 26,5 Persen Karena Bekerja 

“DPKK (Dana Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing) itu sebenarnya potensi besar. Kalau datanya valid, Jepara bisa mendapat bagian untuk dikembalikan ke masyarakat entah berupa infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, atau fasilitas pendukung perusahaan,” jelasnya pada Betanews.id, Sabtu (1/11/2025). 

Sebab Agus menjelaskan, setiap tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia wajib tercatat dan memiliki izin kerja resmi sebagaimana diatur dalam Perpres No. 34 Tahun 2021 dan Permenaker No. 8 Tahun 2021.

Tidak hanya itu, DPKK menurutnya juga bisa menjadi instrumen keadilan fiskal antara pusat dan daerah. 

“TKA bekerja di Jepara, perusahaan tumbuh di Jepara, maka hasilnya pun harus kembali ke Jepara. Kita sering sibuk bicara regulasi, tapi lupa membenahi datanya. Padahal data adalah napas kebijakan. Tanpa data yang benar, semua keputusan hanya akan jadi tebakan,” katanya. 

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) Kabupaten Jepara jumlah TKA di Jepara yang tercatat pada tahun 2025 sebanyak 419 orang. 

Agus menilai angka itu belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Data resmi menunjukkan ada 419 tenaga kerja asing di Jepara. Tapi saya yakin jumlah riilnya lebih besar dari itu. Artinya, masih ada TKA yang bekerja tanpa terdata atau tidak melaporkan pembaruan izin,” katanya. 

Baca Juga: Bocah SD di Jepara yang Diduga Jadi Korban Penganiayaan Tak Mendapat Perawatan Layak 

Selain berdampak pada hilangnya potensi PAD, data TKA yang tidak valid membuat pengawasan pemerintah daerah menjadi tidak optimal. 

“Tanpa data yang akurat, kita juga kehilangan kendali kebijakan. Kita tidak tahu siapa yang bekerja, di mana, dan berapa kontribusinya bagi daerah,” tambahnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Botok dan Teguh Masih Ditahan, Tiga Pendemo Lainnya Sudah Dilepas

0
Koordinator Lapangan AMPB, Supriyono alias Botok. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Kuasa hukum dari Masyarakat Pati Bersatu (MPB) Nimerodin Gulo menyebut, bahwa Supriyono alis Botok dan Teguh Istiyanto masih ditahan pihak kepolisian aksi demo pada Jumat (31/10/2025). Sementara, tiga pendemo lainnya, sudah dilepaskan.

Gulo menyebut, total ada enam orang yang ditahan dalam demo pengawalan paripurna pemakzulan pada Jumat (31/10/2025) kemarin. Mereka ditangkap di lokasi yang berbeda-beda.

Baca Juga: Lima Sosok Inspiratif Raih Penghargaan Tokoh Santri Pati 2025

Disebutkan, dua orang ditangkap saat hendak mendatangi lokasi demo. Keduanya yakni Paijan dan Apro. Lalu, salah satu orang juga ditangkap lantaran diduga membawa barang yang berbahaya. Ketiganya sudah dilepaskan pada Sabtu (1/11/2025) malam.

”Tadi malam yang ditangkap ada enam orang, ada yang bawa mercon dan ketapel itu tiga orang sudah dilepas. sekitar kurang lebih pukul 01.00 WIB,” ungkap Gulo, Sabtu (1/11/2025).

Ia mengaku saat ini tiga anggota MPB masih ditahan. Mereka yakni, Botok, Teguh Istiyanto dan seorang yang ikut memblokir Jalan Pantura Pati-Rembang usai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati mayoritas sepakat untuk tidak memakzulkan Bupati Pati Sudewo.

”Yang masih belum dilepas itu, istilah mereka (polisi) mengamankan itu Teguh, Botok sama satu orang lagi yang tetangganya Mas Botok itu. Justru dia (tetangga Botok) dianiaya. Hidungnya (luka), dan benjol kepalanya. dia tidak paham di aniaya siapa. (Saat) di pantura, karena itu malam (tak terlihat),” kata Gulo.

Ia pun mengaku bakal melakukan pendampingan hukum kepada Botok cs agar hak-hak mereka dapat terpenuhi dan segera dilepaskan pihak kepolisian.

”Kita akan melakukan pembelaan lah secara profesional,” tandas dia.

Ketika dikonfirmasi, pihak kepolisian belum memberikan keterangan hingga berita ini ditulis.

Baca Juga: Polresta Pati Tangkap 4 Pentolan Masyarakat Pati Bersatu

”Kami konfirmasikan dulu, mas,” ujar Kasi Humas Polresta Pati Ipda Hafid Amin.

Diketahui, massa pengawalan paripurna pemakzulan Bupati Pati Sudewo tadi malam sempat memblokir Jalan Pantura Pati-Rembang usai Bupati Pati Sudewo gagal dimakzulkan. Mereka kecewa dengan keputusan DPRD Kabupaten Pati. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hanya Dilakukan Kalangan Tertentu, Ini Makna Tradisi Prasah di Sidigede Jepara 

0
Tradisi Prasah Warga Desa Sidigede, Kecamatan Welahan pada saat melangsungkan pernikahan. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Di Kabupaten Jepara, terdapat sebuah tradisi unik bernama Prasah. Yaitu sebuah seserahan dari pengantin laki-laki berupa seekor hewan kerbau jantan yang diberikan kepada pengantin perempuan. 

Tradisi itu hanya ada di Desa Sidigede, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara dan masih dilestarikan sampai saat ini. Namun, tidak semua warga Desa Sidigede yang menikah melakukan tradisi tersebut. 

Baca Juga: Mengenal Tradisi Prasah, Arak-Arakan Kerbau dalam Adat Pernikahan di Sidigede Jepara

Modin Desa Sidigede, Nurrofi’i bercerita tradisi itu bersifat tidak wajib dan biasanya hanya dilakukan oleh kalangan tertentu. 

“Hanya kalangan tertentu, menengah ke atas yang dari generasi ke generasi melakukan prasah, karena biayanya juga tak sedikit,” katanya pada Sabtu, (1/11/2025). 

Rofi’i menyebutkan biaya yang dibutuhkan untuk melangsungkan tradisi tersebut menurutnya tidak sedikit. Dibutuhkan biaya sekitar Rp100 juta untuk melaksanakan tradisi itu. Sebab, harga kerbau untuk prasah sendiri rata-rata berkisar antara Rp50-60 juta. 

“Biaya untuk tukang bracut atau yang ngarak juga ada sendiri, belum barongan, penari dan hiburan lainnya,” tambahnya. 

Rofi’i melanjutkan tradisi itu tadinya terinspirasi dari kisah Jaka Tingkir saat meminang kekasihnya. Saat itu, Jaka Tingkir harus menaklukkan kerbau sakti sebagai syarat mendapat restu untuk menikahi putri Kerajaan Demak saat itu.

Hal itu kemudian menjadi inspirasi bagi sosok yang pertama kali memunculkan tradisi ini. tokoh itu bernama Simin bin Radin, warga Sidigede RT 8 RW 2.

Tradisi itu menurut Rofi’i pertama kali terjadi sekitar tahun 1900-an setelah zaman kemerdekaan Republik Indonesia.

Suatu ketika, Mbah Simin melihat seseorang yang sedang memotong rumput dan merasa kasihan karena orang tersebut kurang mampu.

Untuk membantu orang tersebut, Mbah Simin kemudian menawarkan diri untuk menikahi putri orang tidak mampu itu dan memberikan hadiah kerbau.

Lelaki tersebut kemudian pasrah dan bersedia menikahkan putrinya dengan Mbah Simin.

“Karena orang Jawa kesulitan mengucapkan kata pasrah, sehingga sampai sekarang dikenal dengan istilah prasah,” ujar Rofi’i. 

Hingga sekarang, lanjut Rofi’i, tradisi ini masih dilestarikan warga Sidigede. Setiap lelaki asli Sidigede yang mendapatkan calon istri satu desa atau tetangga desa, akan mengadakan prasah sebagai seserahan atau mas kawinnya.

Tradisi ini kemudian menjadi budaya sebagai bukti kebanggaan terhadap anaknya karena sudah menikah.

Disinggung terkait filosofinya, prasah menurut Rofi’i merupakan sedekah kepada besan atau keluarga mempelai putri. Kerbau yang diberikan juga tidak wajib dikembalikan.

“Sudah menjadi ciri khas di Sidigede, menunjung tinggi harga diri anak lelaki, karena kalau tanpa prasah dirasa kurang meriah,” bebernya.

Baca Juga: Meriahnya Peringatan Hari Jadi ke-20 Desa Berugenjang Kudus

Rofi’i berpesan agar tradisi prasah ini terus dilestarikan masyarakat Desa Sidigede. Selain itu, Rofi’i turut mengingatkan agar warga yang ikut mengarak kerbau tetap berhati-hati dan tidak menyakiti hewan yang diarak.

“Tidak menyimpang karena ikut nguri-nguri tradisi Jawa, hanya kadang panitia susah mengingatkan, kondisi ramai banyak orang yang ingin memukul atau ngantem kerbau, aslinya tidak boleh,” pesannya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Muhammadiyah Kudus Ajak Warga Siapkan Diri Sambut Ramadan Lebih Awal

0
Salah satu kegiatan PP Muhammadiyah Kudus. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Meski bulan Ramadan 1447 Hijriah masih beberapa bulan lagi, semangat menyambut bulan suci sudah mulai terasa di kalangan warga Muhammadiyah Kudus. Pasalnya, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus mulai menyosialisasikan penetapan awal Ramadan dan Idulfitri yang telah diumumkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025, awal Ramadan ditetapkan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sedangkan Idulfitri akan dirayakan pada Jumat, 20 Maret 2026.

Baca Juga: Pinjaman Bank Himbara Jadi Opsi Terakhir Permodalan Kopdes Merah Putih di Kudus

Maklumat tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dan Sekretaris Umum, Ahmad Sayuti, di Yogyakarta pada 22 September 2025.

Sekretaris PDM Kudus, Zulfa Kurniawan, membenarkan bahwa pihaknya sudah menerima dan mulai menyebarluaskan informasi resmi tersebut kepada jemaah. Sosialisasi dilakukan baik melalui kegiatan pengajian maupun media sosial organisasi.

“Benar, sudah ada maklumat dari PP Muhammadiyah dan kami sudah sampaikan ke seluruh jemaah. Penetapan ini berdasarkan metode hisab yang menjadi pedoman Muhammadiyah,” katanya.

Tak sekadar memberi kabar, Zulfa juga mengingatkan agar umat mulai menyiapkan diri menyambut bulan penuh berkah dengan berbagai kegiatan positif.

“Dengan adanya maklumat ini, kami harap jemaah bisa mulai merencanakan kegiatan Ramadan, seperti tadarus, persiapan zakat, dan agenda ibadah lainnya,” tambahnya.

Ia menegaskan, sosialisasi ini tidak bersifat eksklusif. Masyarakat di luar Muhammadiyah yang ingin mengikuti penetapan tersebut dipersilakan dengan terbuka.

“Bagi masyarakat yang sepakat atau ingin mengikuti ketetapan hisab dari Muhammadiyah, kami persilakan. Yang terpenting, semua bisa menyambut Ramadan dengan gembira,” tuturnya.

Baca Juga: Warga Jepang Pakis Nyaris Geruduk PLN Kudus, Ada Apa?

Untuk itu, Zulfa mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan diri menuju kebaikan.

“Mari kita sambut Ramadan dengan hati bersih, semangat baru, dan niat memperbaiki diri. Ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi kesempatan memperkuat iman,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

KFW 2025 Bakal Hadir, Tampilkan Brand Baru Hingga Festival Kopi Muria 

0
Poster Kudus Fashion Week. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Kudus Fashion Week (KFW) 2025 kembali bakal digelar dengan nuansa berbeda. Tahun ini, acara bergengsi tersebut mengangkat tema “Gaya Raya”, menampilkan berbagai koleksi busana bernuansa hari raya yang elegan dan kekinian.

Sebagai informasi, acara tersebut bakal digelar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, mulai 6-9 November 2025. Untuk memeriahkan acara, Festival Kopi dari Komunitas ekonomi Kreatif (KEK) Kudus dihadirkan.

Baca Juga: Pinjaman Bank Himbara Jadi Opsi Terakhir Permodalan Kopdes Merah Putih di Kudus

Penyelenggara KWF 2025 sekaligus owner Magenta, Aris Yuni Astuti mengatakan, pemilihan tema “Gaya Raya” dimaksudkan untuk menghadirkan suasana perayaan yang hangat dan penuh warna. Hal itu diambil, mengingat beberapa ke depan mendekati perayaan hari raya agama Islam, yakni Hari Raya Idulfitri.

“Kali ini KFW ingin memperlihatkan koleksi busana yang bisa dipakai untuk momen hari raya. Jadi nuansanya sarat dengan gaya keluarga, sarimbit, dan pasangan,” bebernya.

Menurut Aris, para desainer dan brand lokal tengah gencar mempersiapkan koleksi mereka yang didominasi busana keluarga. 

“karena bulan ini para peserta sedang fokus produksi, banyak yang mengeluarkan koleksi sarimbit untuk anak, pasangan, dan keluarga. Mereka sudah prepare untuk hari raya nanti,” tambahnya.

Tahun ini, sekitar 35 hingga 39 brand fashion ikut berpartisipasi dalam KFW 2025. Dari jumlah tersebut, 10 brand terpilih akan tampil dalam fashion show utama yang digelar bersamaan dengan grand fashion event.

Menariknya, KFW 2025 juga menjadi ajang debut bagi banyak brand baru dari Kudus. 

“Istimewanya tahun ini, banyak sekali brand baru yang ikut bergabung. Mereka mengikuti jejak brand-brand yang sudah dikenal seperti Zameera dan Alifia. Jadi sekaligus momen ‘mremo lebaran’, menyiapkan koleksi untuk Idulfitri mendatang,” tuturnya.

Baca Juga: Warga Jepang Pakis Nyaris Geruduk PLN Kudus, Ada Apa?

Tak hanya fesyen, kata Aris, kegiatan itu juga akan dimeriahkan Festival Kopi Muria, perform musik, fashion show KFW dan tampilan berbagai brand Kudus di sejumlah stand yang ada. Dia berharap, agar semakin banyak brand baru lahir di Kabupaten Kudus.

“Karena selain untuk mempertontonkan hasil karya, kegiatan itu juga sebagai salah satu wadah promosi bagi brand baru untuk dikenal lebih luas,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

5.026 Anak di Jepara Tidak Sekolah, 26,5 Persen Karena Bekerja 

0
Kegiatan belajar mengajar di Jepara. Foto Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), hingga Bulan Oktober 2025 jumlah ATS mencapai 5.026 anak. 

Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Disdikpora Kabupaten Jepara, Aries Nurwiyantoko mengatakan data itu berasal dari tiga sumber. 

Baca Juga: Bocah SD di Jepara yang Diduga Jadi Korban Penganiayaan Tak Mendapat Perawatan Layak

Yaitu Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri), Education Management Information System (EMIS) Kementrian Agama (Kemenag), dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).  

“Per tanggal 06 Oktober 2025, jumlah ATS di Jepara ada 5.026 anak, terdiri dari belum pernah sekolah 1.052, DO 1.661, dan Lulus Tidak Melanjutkan 2.313,” katanya saat ditemui di Kantor  Disdikpora Kabupaten Jepara, Jumat (31/10/2025). 

Jumlah tersebut tersebar dalam rentang usia 7-18 tahun. Dari hasil validasi, Aries mengatakan terdapat delapan faktor yang menjadi penyebab anak tidak sekolah di Kabupaten Jepara.  

Rinciannya Sebanyak 1.330 anak atau 26,5 persen diakibatkan karena sudah bekerja. Kemudian 265 anak atau 5,3 persen karena keterbatasan biaya, 119 anak atau 2,4 persen karena penyandang disabilitas, 61 anak atau 1,2 persen karena tidak mau sekolah. 

Selanjutnya 39 anak atau 0,8 persen karena sudah menikah, 32 anak atau 0,6 persen karena menjadi anak punk, 23 anak atau 0,5 persen karena korban bullying, dan 5 anak atau 0,1 persen karena diadopsi orang.

“Jadi terbanyak ini karena sudah bekerja, sesuai dengan arahan Pak Kepala Dinas, kemarin kami sudah mengumpulkan OPD terkait, pihak kecamatan dan desa, serta Satkordikcam, ini nanti penanganannya akan kita lakukan bersama-sama,” ujarnya. 

Data hasil validasi itu, Aries mengatakan akan diverifikasi oleh pihak kecamatan dan desa. Proses verifikasi saat ini sedang berjalan dan hasilnya akan dilaporkan pada tanggal 6 November 2025 mendatang. 

“Saat verifikasi anak ini juga akan kita dekati, kita data ulang faktornya karena apa. Bagi yang mau sekolah, kita masukkan di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), gratis tidak ada biaya,” katanya. 

Baca Juga: 11 Narapidana Perempuan Rutan Jepara Dipindah ke Lapas Semarang 

Sedangkan bagi anak yang tidak mau melanjutkan, Aris mengatakan nantinya data itu akan dilaporkan terlebih dahulu kepada Bupati Jepara. 

“Penanganannya seperti apa (yang tidak mau lanjut sekolah), ini nanti kita menunggu hasil koordinasi dulu dengan Pak Bupati,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Lima Sosok Inspiratif Raih Penghargaan Tokoh Santri Pati 2025

0
Lima tokoh dari kalangan santri yang memiliki kiprah dan jasa besar bagi umat dan bangsa menerima penganugerahan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, Kamis (31/10/2025) malam. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Lima tokoh dari kalangan santri yang memiliki kiprah dan jasa besar bagi umat dan bangsa menerima penganugerahan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, Kamis (31/10/2025) malam.

Penganugerahan sebagai tokoh santri tersebut dilakukan dalam acara Malam Tasyakuran Hari Santri 2025 di halaman kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pati.

Baca Juga: Polresta Pati Tangkap 4 Pentolan Masyarakat Pati Bersatu

Kelima tokoh tersebut, yakni Mbah Abbas, H Saryani, KH Hasbullah, Nyai Hj Dra Nafisah Sahal, dan Drs H Achamd. Secara berurutan mereka menerima anugerah sebagai Tokoh Santri untuk kategori santri pejuang, santri pengusaha, santri pendidik, santri pemberdaya perempuan, dan santri birokrat.

Mbah Abbas merupakan sosok santri sekaligus pejuang dari Desa Talun, Kecamatan Kayen. Semasa penjajahan Belanda dia menjabat sebagai kepala desa. Namun, Mbah Abbas memiliki jalan perlawanan dan enggan tunduk kepada penjajah.

Bersama santri pejuang lainnya, seperti Mbah Mahfudh dan Gus Hasyim Kajen, Mbah Abbas membentuk jaringan perlawanan untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda di wilayah Pati. Namun, setelah Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada 19 Maret 1949 Mbah Abbas gugur dengan penuh heroik, setelah mengalami siksaan fisik sangat berat karena diyakini memiliki ilmu kebal terhadap berbagai senjata.

Adapun H Saryani adalah sosok santri pengusaha yang lahir, hidup, dan wafat di kampung nelayan Desa Bendar, Kecamatan Juwana. Dia lahir pada 15 Nopember 1933 dan wafat 22 Juni 2021.

Sejak muda,  beliau dikenal sebagai pekerja keras, merintis usaha dari nol hingga memiliki banyak kapal dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Di balik kesuksesannya, Saryani dikenal dermawan dan peduli. Jejak kebaikannya masih terasa hingga kini, di antaranya melalui RSI Pati dan berbagai amal jariyah lainnya.

Sedangkan KH Hasbullah merupakan ulama asal Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, yang lahir sekitar tahun 1888 dan wafat pada 1972. Di masa ketika masyarakat masih kuat dengan tradisi kejawen, dia berjuang menyalakan cahaya ilmu dan agama Islam di ujung utara Pati.

Setelah menimba ilmu dari pesantren ke pesantren di Jawa hingga Madura KH Hasbullah kembali ke tanah kelahirannya dan mendirikan surau, madrasah, pondok pesantren, serta Masjid Sabilal Huda yang menjadi pusat pendidikan Islam bagi masyarakat sekitar.

Tokoh selanjutnya, Nyai Nafisah merupakan perempuan pesantren yang melampuai zamannya. Lahir di Jombang pada 8 Feb 1946. Dia merupakan putri dari pasangan KH Abdul Fatah Hasyim dan Nyai Hj Musyarofah Bisri.

Masa ketika akses Pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas beliau menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai pendiri Pesantren Putri Al Badi’iyyah Kajen, Nyai Nafiash mendedikasikan hidupnya bagi Pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Kemudian H Achmad merupakan putra kelahiran Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati. Dia lahir pada 17 Agustus 1935 dan wafat 23 Mei 2023. H Achmad adalah seorang santri intelektual yang menapaki jalan panjang birokrasi tanpa pernah meninggalkan nilai-nilai kesantrian dan pengabdian kepada masyarakat.

Selepas menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, dia turut mendirikan Fakultas Ekonomi di Purwokerto yang kini menjadi Universitas Jenderal Soedirman. Dalam usia muda, beliau dipercaya menjadi Bupati Magelang selama dua periode, kemudian berkiprah di pemerintahan pusat dan provinsi hingga menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah. Di NU, Drs H Achmad menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah selama dua periode berturut-turut.

Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim mengemukakan, penganugerahan tokoh santri menjadi tradisi pihaknya setiap peringatan Hari Santri. Itu sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian tokoh tersebut kepada umat, bangsa, dan negara.

Baca Juga: Mayoritas Anggota Dewan Tidak Setuju Sudewo Dimakzulkan, Ali Badrudin : ‘Tak Perlu ke MA’

“Kabupaten Pati menyimpan banyak tokoh santri yang layak dan patut dihargai serta diteladani perjuangannya. Tidak hanya pejuang lokal, tetapi juga nasional. Itu membuktikan jika santri berperan besar dalam perjuangan bangsa sejak penjajahan hingga saat ini,” ujarnya.

Dalam Malam Tasyakuran Hari Santri, Bupati Pati Sudewo yang juga hadir menyampaikan pihaknya telah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Pati tentang Pesantren. Puncak acara tersebut dirangkai lantunan salawat.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pinjaman Bank Himbara Jadi Opsi Terakhir Permodalan Kopdes Merah Putih di Kudus

0
Sekretaris Paguyuban Persaudaraan Kepala Desa Kudus, Moch Khanafi. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sekretaris Paguyuban Persaudaraan Kepala Desa Kabupaten Kudus, Moh Khanafi, menegaskan bahwa pinjaman modal ke bank Himpunan Bank Negara (Himbara) menjadi opsi terakhir bagi pengurus Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Kudus. Ia menilai, langkah itu baru bisa dilakukan apabila lini usaha koperasi benar-benar sudah berjalan stabil dan memiliki prospek ekonomi yang layak.

“Terkait pinjaman modal ke Bank Negara, itu menjadi opsi yang terakhir. Karena kalau sudah ambil modal ke bank, maka koperasi harus siap dengan tanggung jawab angsuran,” ujar Khanafi di Pendopo Kudus belum lama ini.

Baca Juga: Warga Jepang Pakis Nyaris Geruduk PLN Kudus, Ada Apa?

Menurut pria yang juga kepala desa (Kades) Desa Ngembal Kulon tersebut, keputusan mengambil kredit perbankan tidak bisa diambil secara tergesa-gesa. Pengurus Kopdes perlu melakukan perhitungan yang matang agar tidak membebani operasional di kemudian hari.

“Kita harus berpikir realistis dan penuh analisis. Ketika memutuskan mengambil pinjaman, usaha Kopdes itu mau tidak mau harus jalan dan menghasilkan,” tegasnya.

Khanafi menambahkan, sejumlah Kopdes Merah Putih di beberapa desa di Kabupaten Kudus dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan November 2025. Ia berharap pada tahun 2026 nanti, eksistensi koperasi tersebut sudah benar-benar terlihat melalui kegiatan ekonomi yang nyata.

“Insyaallah pertengahan November sudah ada yang beroperasi. Tahun 2026 nanti harus ada hasil konkret dari pembentukan Kopdes ini, karena secara administrasi semua sudah siap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan Kopdes Merah Putih merupakan bagian dari amanat kebijakan pemerintah pusat yang tertuang dalam Peraturan Presiden. Dalam aturan itu disebutkan bahwa 30 persen Dana Desa dapat digunakan sebagai pendorong aktivitas ekonomi melalui Kopdes.

“Dana desa sebesar 30 persen itu diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi. Kami di desa siap menjalankan perintah itu sebagai modal awal bagi Kopdes, bukan untuk memanjakan perangkat desa, tapi agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” paparnya.

Khanafi mengingatkan agar penggunaan Dana Desa tersebut tidak membuat pengurus atau anggota koperasi terlena. Justru, ia berharap seluruh pihak menyamakan persepsi untuk menggerakkan ekonomi desa secara mandiri.

“Jangan sampai 30 persen Dana Desa ini malah membuat kita lengah. Kopdes harus jadi ruang gotong royong ekonomi masyarakat desa,” tegasnya.

Dari sisi kesiapan, Khanafi menyebut 123 desa di Kabupaten Kudus telah menyiapkan struktur dan administrasi Kopdes Merah Putih. Saat ini, sebagian besar masih dalam tahap penyusunan lini usaha dan perizinan operasional.

“Kalau dari sisi administrasi, semua sudah siap. Tapi kalau secara usaha, Insyaallah akhir November mulai jalan,” ujarnya.

Salah satu lini usaha yang akan digarap Kopdes Merah Putih yakni penyediaan gas elpiji 3 kilogram dan pupuk bersubsidi. Beberapa desa bahkan sudah menyiapkan diri menjadi pengecer elpiji berskala kecil.

“Di desa saya, kami mulai dengan 25 tabung gas dulu. Operasionalnya diperkirakan jalan pada pekan kedua November,” jelasnya.

Baca Juga: DPRD Kudus Desak Perbaikan LPJU, Banyak Ruas Gelap Rawan Kejahatan

Ia memastikan keberadaan Kopdes sebagai pengecer gas tidak akan mengganggu pangkalan yang sudah ada. Sebab, seluruh data agen dan pengecer resmi akan disinergikan agar tidak menimbulkan persaingan tidak sehat.

“Setiap pangkalan punya data sendiri, nanti akan disinkronkan supaya tidak tumpang tindih,” tutupnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Mengenal Laeli, Sarjana Psikologi yang Tak Gengsi Bantu Jualan Bumbu di Pasar KlIwon Kudus

0
Laeli Praditasari, pedagang pasar tradisional di Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di antara suara pedagang yang saling bersahutan di Pasar Kliwon Kudus pagi itu, tampak gadis muda sedang sibuk melayani para pembeli. Gadis tersebut bernama Laeli Praditasari lulusan Sarjana Psikologi yang tak gengsi jualan bumbu di pasar tradisional.

Setiap pagi, mulai pukul 6:00 hingga 8:00 WIB Laeli sibuk melayani pembeli yang datang membeli aneka rempah, bumbu dapur hingga bumbu racik. Setelah itu, gadis berusia 22 tahun itu melanjutkan kerja ke Balai Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo untuk membantu pekerjaan administrasi.

Baca Juga: Kholik, Pengusaha Ronde yang Sukses Buka Tiga Cabang di Pati

“Saya bantu berjualan ketika pagi, karena jam delapan sudah ada kerjaan di desa. Lalu, sore sampai malam ada jadwal ngajar bimbel,” ujar Laeli belum lama ini.

Kios milik neneknya itu sudah berdiri sejak 12 tahun. Sejak masuk perguruan tinggi pada 2021, Laeli mulai rutin membantu berjualan di sela-sela jadwal kuliahnya. Kini, setelah lulus, ia masih melanjutkan kebiasaan tersebut.

“Awalnya cuma ingin bantu nenek. Tapi lama-lama jadi kebiasaan. Sekalian menambah pemasukan dan pengalaman,” kata warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo tersebut.

Meski lulusan perguruan tinggi, Laeli mengaku, sama sekali tidak merasa gengsi berdagang di pasar. Ia justru banyak belajar soal interaksi sosial dan tanggung jawab dari pengalaman itu.

“Saya belajar langsung menghadapi orang, melayani, dan mengatur waktu. Itu juga bagian dari ilmu psikologi sosial, kan?” tuturnya sambil tertawa kecil.

Selain berjualan di pasar, Laeli juga memiliki usaha kecil di rumah. Ia menjual berbagai camilan kering seperti keripik buatan sendiri dan titipan dari produsen lokal, dipasarkan secara daring melalui media sosial.

“Saya memang suka jualan, mungkin sudah turun-temurun dari keluarga,” katanya.

Perempuan berwajah ceria ini juga aktif berkegiatan di desa dan tengah menunggu hasil seleksi kerja yang telah ia lamar. Meski sibuk, Laeli tetap meluangkan waktu untuk hobinya seperti badminton, jurnaling, dan traveling.

“Dulu sempat ke Wonosobo dan Bandungan, tapi sekarang jarang karena lebih fokus kerja dan jualan,” ungkapnya.

Baca Juga: Bonsai Santigi Milik Wayan Ternyata Pernah Ditawar Rp200 Juta

Memiliki cita-cita menjadi psikolog, Laeli terus berusaha menyeimbangkan antara mengejar karier sesuai jurusan dan meneruskan semangat jiwa kewirausahaan keluarganya.

“Bagi saya, bekerja dan membantu orang tua bukan soal gengsi. Justru di situ letak nilai hidup yang sesungguhnya,” imbuh Laeli.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -