Beranda blog Halaman 146

Belajar dari Penglipuran, Bupati Kudus Siap Adopsi Pengembangan Wisata Budaya Berbasis Rakyat

0
Bupati Kudus saat berada di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, melakukan kunjungan kerja ke Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Salah satu dari tiga desa terbersih di dunia yang dikenal karena keindahan tata ruang, kelestarian budaya, serta keharmonisan warganya.

Dalam kunjungan tersebut, Sam’ani menilai konsep desa adat seperti Penglipuran layak dijadikan inspirasi untuk mengembangkan wisata berbasis budaya dan kearifan lokal di Kudus.

Baca Juga: Bongkar Fakta Gelap LGBT, MUI Kudus Ajak Dokter dan Polisi Perangi Krisis Moral Generasi Muda

“Desa ini memberi contoh nyata bagaimana budaya, tradisi, dan ekonomi masyarakat bisa tumbuh berdampingan. Warganya menjaga lingkungan, adat tetap lestari, dan wisata pun hidup,” ujar Sam’ani, Minggu (2/11/2025).

Ia menambahkan, konsep serupa bisa diterapkan di kawasan Kota Tua Kompleks Menara Kudus yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi. Jika dikelola dengan baik, kawasan tersebut berpotensi menjadi destinasi unggulan di Jawa Tengah.

“Kalau semangat Penglipuran kita terapkan di Menara Kudus, pasti lebih menarik. Bahkan bisa dikemas dalam paket wisata lintas daerah bersama Jepara dan Karimunjawa,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Sam’ani bersama rombongan juga mencicipi kuliner khas setempat yang disajikan oleh warga, Bu Rumi.

“Masakannya luar biasa, terasa dibuat dengan sepenuh hati,” ujarnya sambil tersenyum.

Salah satu hidangan yang mencuri perhatian adalah pecel pakis, kuliner tradisional Bali yang mirip dengan pecel khas Kudus.

“Nanti kita angkat juga kuliner lokal seperti ini, biar makin menguatkan identitas daerah,” tambahnya santai.

Menariknya, di area Desa Penglipuran juga tumbuh tanaman parijoto dan pohon dewandaru, dua jenis tanaman yang identik dengan Kudus dan memiliki makna religius bagi masyarakat setempat.

“Wah, ternyata di sini juga ada parijoto dan dewandaru. Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri,” ungkapnya kagum.

Baca Juga: Padukan AR dan Budaya Nusantara, Dua Siswi MAN 2 Kudus Raih Juara 2 FIKSI 2025

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kudus untuk memperkuat arah pembangunan wisata berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.

“Kalau di sini budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan, saya yakin Kudus pun mampu. Kita punya potensi besar, tinggal bagaimana mengelolanya agar tetap lestari,” imbuh Sam’ani.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Investasi Pabrik di Jepara Tembus Rp1,2 Triliun, Serap 14 Ribu Tenaga Kerja

0
Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, JEPARA – Pertumbuhan investasi di Kabupaten Jepara sepanjang tahun 2025 diklaim mencatatkan nilai yang positif. Pada triwulan kedua, total nilai investasi yang masuk ke Jepara mencapai Rp1,2 triliun.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyebutkan angka tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp1,1 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp99,7 miliar.

Baca Juga: Segera Berpindah Fungsi Jadi Museum, Pendopo Kabupaten Jepara Mulai Ditata Ulang 

Diperkirakan hingga triwulan keempat tahun ini, capaian nominal investasi maupun serapan tenaga kerja bisa terus bertambah.

“Investasi ini (hingga triwulan kedua) berhasil menyerap 14.178 tenaga kerja, terdiri dari 11.442 orang di sektor PMA dan 2.736 orang di sektor PMDN. Data ini menunjukkan bahwa iklim investasi di Jepara tumbuh positif dan menciptakan peluang kerja besar bagi masyarakat lokal,” katanya pada Senin, (3/11/2025). 

Selain pertumbuhan investasi, Jepara juga menjadi salah satu daerah dengan aktivitas penempatan tenaga kerja asing (TKA) yang cukup aktif di Jawa Tengah. 

Hingga 30 September 2025, tercatat 2.065 TKA dengan lokasi lintas kabupaten/provinsi, sementara TKA yang ditempatkan di Kabupaten Jepara berjumlah 414 orang.

Dari sisi pendapatan daerah, target Dana Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing (DKPTKA) tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp4,6 miliar. Hingga akhir September, realisasi telah mencapai Rp4,11 miliar atau 89,36%.

“Capaian ini menunjukkan kinerja yang baik, namun tetap perlu kita dorong agar bisa optimal 100% di akhir tahun,” tegasnya. 

Ia menambahkan, proyeksi tahun 2026 menunjukkan sebanyak 266 TKA akan mengajukan perpanjangan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), dengan potensi pendapatan daerah sekitar Rp5,22 miliar.

Baca Juga: DPRD: ‘Data TKA yang Valid Bisa Jadi Potensi PAD Jepara’ 

Untuk itu, ia berharap perusahaan pengguna TKA dapat semakin tertib administrasi, patuh regulasi, dan berkontribusi positif terhadap perekonomian daerah.

“Pemerintah daerah berkomitmen menjaga keseimbangan antara masuknya investasi asing dengan perlindungan tenaga kerja lokal. Keduanya harus berjalan selaras untuk kemajuan Jepara,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dongkrak Ekonomi Lokal, Bupati Kudus Imbau SPPG Belanja Bahan Pokok di Warga Sekitar dan Pasar Tradisional

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mulai berjalan di Kabupaten Kudus. Program unggulan dari Presiden Prabowo Subianto tersebut, selain memperbaiki gizi anak juga diharapkan bakal mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, saat ini ada 21 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Kota Kretek yang sudah beroperasi. Masing-masing SPPG menyuplai MBG kurang lebih kepada 3 ribu siswa.

Baca Juga: Bongkar Fakta Gelap LGBT, MUI Kudus Ajak Dokter dan Polisi Perangi Krisis Moral Generasi Muda

“Kami juga akan mengecek langsung ke lapangan, terkait dampak program MBG kepada ekonomi masyarakat. Hal itu untuk memastikan, selain gizi anak terpenuhi, program MBG ini juga berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat,” ujar Sam’ani kepada awak media, belum lama ini.

Sam’ani mengungkapkan, ingin melihat langsung setiap SPPG tersebut belanja kebutuhannya dimana?. Di antaranya, belanja beras, telur, daging ayam, sayur-mayur dan bumbu masakan.

“Jangan sampai aneka kebutuhan tersebut didatangkan dari lain daerah. Sehingga masyarakat Kudus hanya jadi penonton saja, dan Kudus tak terdampak perputaran ekonominya,” bebernya.

Nantinya, lanjut Bupati Sam’ani, berkeinginan agar pelbagai kebutuhan pokok MBG dibeli di Kudus sendiri. Baik, di warung sekitar SPPG maupun di pasar tradisional di Kabupaten Kudus.

“Apalagi beberapa tahun terakhir pasar tradisional di Kudus ini sepi. Dengan adanya SPPG berbelanja kebutuhan MBG tentu akan mampu meramaikan pasar dan mendongkrak ekonomi kerakyatan,” tuturnya.

Untuk percepatan program MBG di Kudus, Sam’ani mengatakan, Pemkab Kudus berencana ke Jakarta guna berkonsultaai dengan Badan Gizi Nasional. Tujuannya agar program MBG di Kudus berjalan dengan baik dan lancar, sesuai Aswa Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Pemkab Kudus mendukung penuh program MBG. Semoga program ini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, serta meningkatkan gizi dan prestasi anak-anak di Kudus guna menyongsong Indonesia emas,” imbuh Sam’ani.

Baca Juga: Padukan AR dan Budaya Nusantara, Dua Siswi MAN 2 Kudus Raih Juara 2 FIKSI 2025

Pihaknya juga sudah bertemu dengan semua pengurus SPPG di Kota Kretek, pasalnya, Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) MBG di Kudus adalah wakil bupati Bellinda Putri Sabrina Birton. Dari pertemuan tersebut disepakati bahwa semua SPPG harus dilengkapi dengan kamera Closed-Circuit Television (CCTV).

“Kamera CCTV di masing-masing SPPG nantinya terkonektifitas dengan Pemkab Kudus, Kodim 0722 serta Polres Kudus. Sehingga setiap hari kita bisa memantau, apabila terjadi sesuatu bisa dilakukan langkah konkrit untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

RSUD Loekmono Hadi Kudus Tanggapi Video Viral Perawat Kasar, Janji Perbaiki Pelayanan

0
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus buka suara terkait video viral di media sosial TikTok yang memperlihatkan dugaan tindakan kasar perawat terhadap pasien, Senin (3/11/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus buka suara terkait video viral di media sosial TikTok yang memperlihatkan dugaan tindakan kasar perawat terhadap pasien, Senin (3/11/2025). Video tersebut sempat ramai diperbincangkan warganet, sebelum akhirnya dihapus oleh pengunggah dengan akun @NailiNely yang merupakan keluarga pasien.

Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus, dr. Abdul Hakam, memastikan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara baik. Pihak pengunggah video juga bersedia menghapus kontennya setelah dilakukan klarifikasi.

Baca Juga: Bongkar Fakta Gelap LGBT, MUI Kudus Ajak Dokter dan Polisi Perangi Krisis Moral Generasi Muda

“Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit, pihak luar tidak diperbolehkan mengambil video proses penanganan pasien karena menyangkut privasi,” jelas Hakam kepada awak media saat ditemui di RSUD Loekmono Hadi.

Meski kasus sudah selesai, Hakam menegaskan bahwa keluhan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihak rumah sakit, terutama dalam pelayanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

“Kami berkomitmen berbenah agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, RSUD Loekmono Hadi secara rutin melakukan evaluasi kinerja tenaga kesehatan setiap tiga bulan. Dalam apel pagi, seluruh petugas juga diingatkan untuk bekerja dengan hati dan menjaga etika pelayanan.

“Perawat yang bersangkutan sudah meminta maaf, dan kami tetap melakukan pembinaan serta perbaikan di sisi pelayanan dan penanganan pasien. Pelayanan adalah prioritas utama kami,” ujarnya.

Terkait langkah lanjutan, Hakam menyebut pihak rumah sakit tengah melakukan audit internal untuk menentukan tingkat pelanggaran yang terjadi. Jika ditemukan pelanggaran berat, tenaga kesehatan yang bersangkutan akan dikenai sanksi.

“Bentuk sanksinya bisa berupa teguran hingga Surat Peringatan (SP). Bila mendapat SP, akan ada pemotongan insentif hingga 20 persen,” ungkapnya.

Baca Juga: Padukan AR dan Budaya Nusantara, Dua Siswi MAN 2 Kudus Raih Juara 2 FIKSI 2025

Hakam juga menambahkan, pihaknya memahami beratnya beban kerja tenaga kesehatan. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan.

“Kami tahu teman-teman bisa kelelahan, tapi pelayanan maksimal adalah yang utama,” tandasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pentolan MPB Merasa Dikriminalisasi, Sampaikan Pesan Perjuangan untuk Warga Pati

0
Dua tokoh Masyarakat Pati Bersatu (MPB), Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto, mengaku merasa dikriminalisasi setelah aksi demonstrasi pengawalan paripurna pemakzulan Bupati Pati, Sudewo. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Dua tokoh Masyarakat Pati Bersatu (MPB), Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto, mengaku merasa dikriminalisasi setelah aksi demonstrasi pengawalan paripurna pemakzulan Bupati Pati, Sudewo.

Keduanya kini tengah ditahan di Polda Jawa Tengah. Melalui surat yang disampaikan kepada kuasa hukum mereka, keduanya menitipkan pesan kepada masyarakat Kabupaten Pati serta rakyat Indonesia untuk terus melanjutkan perjuangan.

Baca Juga: Pendaki 15 Tahun Asal Pati yang Dilaporkan Hilang di Puncak 29 Ditemukan Selamat

Kuasa Hukum MPB, Nimerodin Gulo membenarkan, bahwa surat tersebut berasal dari Botok dan Teguh. Surat itu diterima pihaknya saat mendampingi keduanya di Polda Jateng pada Minggu (2/11/2025).

”Surat Mas Botok diserahkan ke kita. kita menyerahkan ke istri. Aliansi tetap berjalan tetap memperjuangkan dan solidaritas Mas Botok,” ujar Gulo, Senin (3/11/2025).

Dalam surat itu, Botok dan Teguh menyatakan merasa telah dikriminalisasi atas peristiwa yang terjadi seusai aksi di Alun-alun Pati. Mereka juga memberikan empat imbauan kepada anggota MPB serta masyarakat Pati.

”Pertama, untuk jangan patah semangat dalam berjuang. Kedua, tetap perkuat persaudaraan, persatuan dan tetap solid untuk sama-sama berjuang,” tulis Botok dan Teguh.

Selanjutnya, mereka berpesan agar anggota MPB tetap menjaga sikap dan tidak melakukan perlawanan fisik terhadap aparat kepolisian.

”Empat, jangan melakukan tindakan-tindakan yang tanpa koordinasi. Demikian himbauan ini sampai kepada teman-teman AMPB, warga Pati dan seluruh rakyat Indonesia. Perjuangan tidak akan pernah mati. Tapi dia terus hidup sampai kapan pun,” katanya.

Baca Juga: Lolos dari Pemakzulan, Bupati Pati Sudewo Ajak Semua Pihak Kembali Bersatu

Diketahui, Botok dan Teguh ditahan setelah aksi pengawalan paripurna di DPRD Kabupaten Pati yang membahas pemakzulan Bupati Sudewo. Keduanya dinilai melanggar hukum karena melakukan pemblokiran jalan saat unjuk rasa berlangsung.

Aksi tersebut bermula di Alun-alun Pati. Massa MPB dikabarkan kecewa atas sikap DPRD Kabupaten Pati yang tidak menyetujui pemakzulan Bupati Sudewo, sehingga suasana aksi sempat memanas.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

BNPB Tangani Tanggul Jebol di Batangan Pati, Perbaikan Mulai Dilakukan

0
Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem), Sri Wulan, meninjau Sungai Widodaren, Senin (3/11/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS. ID, PATI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai bergerak cepat membangun tanggul darurat di titik Sungai Widodaren yang jebol, Jumat (24/10/2025) lalu. Pekerjaan itu meliputi pemasangan cerucuk bambu dan karung berisi tanah.

Terdapat delapan titik tanggul kritis di sepanjang Sungai Widodaren yang berpotensi jebol. Tiga di antaranya telah ambrol dan menyebabkan banjir di Desa Ketitangwetan.

Baca Juga: Kuasa Hukum MPB Sebut, Botok Cs Diduga Sudah Jadi Target Sebelum Demo

Proyek perbaikan ini ditinjau langsung oleh anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem), Sri Wulan, Senin (3/11/2025). Dalam agenda itu, dia melihat langsung kondisi perkampungan dan sungai yang berada di samping Jalan Pantura Pati-Rembang.

Sri Wulan berharap, penanganan darurat ini dapat menjadi solusi sementara untuk melindungi warga dari ancaman banjir susulan. Mengingat, beberapa titik tanggul Sungai Widodaren sudah kritis.

“Ada beberapa progres yang sudah dilakukan, baik itu pemasangan cerucuk bambu dan sebagainya untuk penahan sementara. Ada alat berat datang juga. Nanti siang malam kita kerjakan supaya nanti mengantisipasi apabila hujan datang,” ujarnya.

Sri Wulan juga menyoroti sampah yang menumpuk di sungai yang dibawa oleh banjir. Dia lantas meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk melakukan pembersihan atau pemeliharaan sungai setiap tahunnya. Karena tumpukkan sampah ini juga menyebabkan bencana banjir.

“Kita lihat ada timbunan-timbunan (sampah) yang harus dibersihkan, yang di mana itu adalah merupakan tanggung jawab dari BWWS untuk pembersihan aliran sungai. Sehingga, air yang mengalir itu tidak sempat tergenang dan bisa lancar,” katanya.

Di sisi lain, Tenaga Ahli BNPB, Bambang Eko Pratolo, menjelaskan, pihaknya sudah tiba di Kecamatan Batangan, sejak Selasa (28/10/2025) dan segera merencanakan pembangunan tanggul darurat. Itu merupakan langkah tercepat untuk menanggulangi jebolnya tanggul.

“Nah ini menjadi prioritas kita tangani dengan penanganan darurat, yaitu berupa pemasangan sandbag. Kemudian juga pemasangan cerucuk yang diperkuat oleh bambu, kemudian pagar bambu dengan tumpukan sandbag dan tanah uruk,” bebernya.

Baca Juga: Pendaki 15 Tahun Asal Pati yang Dilaporkan Hilang di Puncak 29 Ditemukan Selamat

Menurut dia, hari ini material untuk pembuatan tanggul darurat sudah mulai berdatangan dan besok akan segera dikebut perbaikannya. Material itu berupa bambu, pagar bambu, karung tanah, dan tanah uruk.

“Bambu kemungkinan nanti malam akan tiba. Besok akan ditindaklanjuti dengan pemasangan cerucuk di titik-titik tanggul kritis yang sudah ditentukan,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kopdes Merah Putih Pati Protes, Minta Kejelasan Modal ke Presiden Prabowo

0
Kopdes Fest #1 di Halaman Eks Bakorwil Jateng, Pati, Minggu (2/11/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Forum Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Kabupaten Pati menyuarakan protes kepada Presiden Prabowo Subianto. Mereka menuntut kejelasan terkait modal pengembangan program dari pemerintah pusat yang hingga kini belum terealisasi.

Aksi tersebut diwujudkan dengan pemasangan sejumlah baliho bernada protes dalam kegiatan Kopdes Fest #1 di Halaman Eks Bakorwil Jateng, Pati, Minggu (2/11/2025) kemarin.

Baca Juga: Pendaki 15 Tahun Asal Pati yang Dilaporkan Hilang di Puncak 29 Ditemukan Selamat

Dalam baliho itu tertulis antara lain “Beri Kejelasan Kopdes Merah Putih Kami Pak Prabowo,” “Bagaimana Kelanjutan Kopdes Merah Putih Pak Prabowo?” hingga “Mohon dipercepat permodalan, Pak Prabowo.”

Langkah ini dilakukan agar suara dan keluh kesah para pengurus Kopdes Merah Putih (KDMP), khususnya di Kabupaten Pati, dapat terdengar langsung oleh Presiden.

Koordinator Kopdes Fest #1, Gigih Suwarsono, mengatakan aksi ini muncul karena kejenuhan terhadap regulasi yang dibuat pemerintah, namun belum memberikan dampak nyata.

“Kopdes Merah Putih Pati sebenarnya ini sudah berjalan tetapi mati suri, tidak ada dukungan infrastruktur yang memadai dan kejelasan. Kami meminta pemerintah pusat, Pak Prabowo bisa melihat kami dan memberikan solusi nyata misalkan akses permodalan bisa dipermudah mulai dari tingkat desa hingga pusat,” ujarnya.

Menurutnya, Kopdes Merah Putih di Pati telah berjalan lebih dari enam bulan dan telah sah secara hukum, namun belum mendapatkan dukungan permodalan yang memadai.

Gigih menambahkan, para pengurus kini merasa kebingungan karena hanya dihadapkan pada regulasi yang tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.

“Saat ini kami kebingungan, kami ini bingung mau ngapain permodalan tidak ada, potensi kita padahal luar biasa. Sekalinya ada solusi, kita hanya diminta berjualan produk dari BUMN, dan kami harus bersaing dengan pedagang kecil di desa, ini semestinya bukan sesuatu yang terjadi,” jelasnya.

Baca Juga: Lolos dari Pemakzulan, Bupati Pati Sudewo Ajak Semua Pihak Kembali Bersatu

Festival yang digelar selama dua hari tersebut diakui Gigih tidak terafiliasi dengan pemerintah daerah. Seluruh kegiatan dilakukan secara mandiri melalui swadaya para pengurus Kopdes.

“Tidak, kami tidak terafiliasi oleh pihak Pemerintah Daerah. Festival desa yang megah ini kita laksanakan secara mandiri dan swadaya dari para pengurus,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Segera Berpindah Fungsi Jadi Museum, Pendopo Kabupaten Jepara Mulai Ditata Ulang 

0
Pendopo Kabupaten Jepara yang saat ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan difungsikan sebagai Rumah Dinas Bupati Jepara akan dijadikan sebagai Museum RA. Kartini. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pendopo Kabupaten Jepara yang saat ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan difungsikan sebagai Rumah Dinas Bupati Jepara akan dijadikan sebagai Museum RA. Kartini. 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan sebagai langkah awal, pada Sabtu (1/11/2025) lalu pihaknya mengadakan doa bersama dan manaqib untuk mengawali dibukanya Pendopo Kabupaten Jepara sebagai Museum RA. Kartini. 

Baca Juga: DPRD: ‘Data TKA yang Valid Bisa Jadi Potensi PAD Jepara’ 

“Hari Sabtu, (1/11/2025) kemarin sudah kita niatkan, hari yang baik, untuk dimana pendopo kabupaten Jepara kita kembalikan lagi kepada yang punya, Ibu kita Kartini, kita niatkan sebagai pondasi yang baik. Mudah-mudahan ke depannya, berjalan lancar segala persiapannya,” katanya saat ditemui di Depan Gedung Shima, Kompleks Kantor Bupati Jepara, Senin (3/11/2025). 

Selanjutnya, sebagai persiapan saat ini Pendopo Kabupaten Jepara sedang ditata ulang. Beberapa pegawai mulai membersihkan wallpaper yang dulunya terpasang di dinding bagian dalam pringgitan. 

Penataan ulang itu dilakukan sebagai persiapan untuk menyambut Menteri Kebudayaan RI, yang rencananya akan datang ke Jepara untuk meresmikan Museum RA Kartini di Pendopo Jepara pada Sabtu, (15/11/2025) mendatang. 

“Persiapan ini kita dibantu, Bu Rerie, beliau membantu persiapan karena pertengahan bulan ini ada Pak Menteri Kebudayaan kesini,” katanya. 

Terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Kabupaten Jepara, Mohamad Adjib Ghufron mengatakan penataan ulang itu juga dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi Pendopo Kabupaten Jepara sebagai Cagar Budaya. 

Sebagai persiapan untuk menyambut Menteri Kebudayaan RI yang rencananya akan datang untuk meresmikan Museum RA Kartini, Ruangan Pringgitan nantinya akan dilayout oleh konsultan yang sudah ditunjuk. 

“Hanya saja layout nya nanti seperti apa, kita masih koordinasi terus dengan pihak konsultan, untuk persiapan tanggal 15 November 2025 nanti,” jelasnya. 

Baca Juga: 5.026 Anak di Jepara Tidak Sekolah, 26,5 Persen Karena Bekerja 

Terkait apakah nantinya, barang-barang koleksi peninggalan RA. Kartini yang saat ini tersimpan di Museum RA Kartini akan dipindah ke Pendopo, Adjib mengatakan barang-barang koleksi tersebut akan tetap berada di museum yang lama. 

“Sehingga Museum yang di Pendopo ini sifatnya mendukung Museum Kartini yang sudah ada. Barang-barang koleksi masih akan tetap disana,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kuasa Hukum MPB Sebut, Botok Cs Diduga Sudah Jadi Target Sebelum Demo

0
Koordinator MPB Teguh Istiyanto dan Supriyono saat wawancara beberapa waktu lalu. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Kuasa hukum Masyarakat Pati Bersatu (MPB), Nimerodin Gulo, menilai penangkapan terhadap Supriyono alias Botok dan kawan-kawan tidak dilakukan secara spontan. Ia menduga, para aktivis MPB itu sudah menjadi target sebelum aksi demo pengawalan paripurna pemakzulan Bupati Pati, Sudewo, berlangsung.

Kini, dua pentolan MPB masih ditahan di Mapolda Jawa Tengah, yakni Botok dan Teguh Istiyanto usai memblokir Jalan Pantura Pati-Rembang pada Jumat (31/10/2025) malam.

Baca Juga: Pendaki 15 Tahun Asal Pati yang Dilaporkan Hilang di Puncak 29 Ditemukan Selamat

Gulo menilai, Botok cs sudah menjadi target sebelum demo pengawalan paripurna pemakzulan Bupati Pati Sudewo. Sebab, seharusnya Botok dan Teguh sudah bisa dibebaskan. Namun kini, keduanya masih ditahan.

”Ini sudah pakai target-target ini. Sebelum kejadian kemungkinan sudah ditarget itu. Saya dengar begitu. Kita akan melakukan pembelaan lah secara profesional,” ujar Gulo.

Ia menyebut, pasal yang dikenakan kepada Botok cs terlalu diada-ada. Pihak kepolisian menggunakan pasal 192 KUHP yang ancaman hukumannya mencapai 9 tahun penjara.

”Informasi yang kita lihat model a yang melaporkan Mas Botok itu mereka pakai pasal 192 KUHP yang merintangi jalan umum itu,” imbuh Gulo.

Padahal katanya, ada undang-undang khusus yang seharusnya digunakan. Yakni UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas. Dalam peraturan tersebut, ancaman hukuman Botok cs seharusnya tidak  sampai 2 tahun.

”Menurut saya ini agak aneh polisi. dalam ketentuan hukum, kalau mereka mempersoalkan tindakan teman-teman itu yang memblokir jalan itu ada UU Lalu Lintas. Dalam ketentuan hukum itu. Hukum yang khusus menghapus keberlakuan hukum yang umum. Ini mereka tidak memakai UU lalulintas tapi memakai UU yang ancaman hukumannya 9 tahun,” ungkapnya.

Baca Juga: Lolos dari Pemakzulan, Bupati Pati Sudewo Ajak Semua Pihak Kembali Bersatu

Ia pun menduga hal ini dilakukan agar Botok cs bisa ditahan oleh pihak kepolisian. Dirinya pun menyayangkan sikap kepolisian ini yang dinilai tidak profesional dalam menjalankan tugasnya.

”Mungkin ini agar mereka bisa tahan. Inikan aneh-aneh polisi. Polisi menunjukkan kebodohannya di depan publik. Kalau pakai (UU lalulintas) sangat ringan ancaman hukumannya. kurang lebih satu tahun lebih. Ini terlihat sekali permainan di luar aspek hukum. Jadi sudah ada. orang yang kuliah di fakultas Hukum pasti paham dengan itu,” ucapnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bongkar Fakta Gelap LGBT, MUI Kudus Ajak Dokter dan Polisi Perangi Krisis Moral Generasi Muda

0
Halaqoh bertema “LGBT: Krisis Moral dan Solusi Islam” yang digelar di Aula Masjid Agung Kudus, Minggu (2/11/2025). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Fenomena LGBT yang kian marak di kalangan remaja menjadi perhatian serius Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kota Kabupaten Kudus. Melalui kegiatan Halaqoh bertema “LGBT: Krisis Moral dan Solusi Islam” yang digelar di Aula Masjid Agung Kudus, Minggu (2/11/2025), MUI menghadirkan sinergi lintas sektor, agama, kesehatan, dan kepolisian untuk mencari solusi bersama menghadapi persoalan ini.

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 25 perwakilan pondok pesantren (ponpes) se-Kabupaten Kudus dengan dua narasumber utama, yakni dr. Henky Yoga Prasetya dari RSUD Lukmonohadi Kudus, dan AKP Subkhan, Kapolsek Kudus Kota.

Baca Juga: IJTI Muria Raya Tanamkan Nilai Kepedulian Masyarakat dengan Tabur Benih Ikan 

Ketua MUI Kecamatan Kota Kudus, Drs. H. Ali Muqoddas menyampaikan, persoalan LGBT bukan sekadar urusan perilaku, namun telah menjadi persoalan sosial yang kompleks dan perlu ditangani bersama. Ia menekankan pentingnya peran pesantren dalam pendidikan moral dan karakter generasi muda.

“Penyimpangan seksual tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga aspek hukum dan sosial. Pondok pesantren memiliki peran penting dalam membimbing dan mengurai persoalan moral di tengah masyarakat,” katanya.

Halaqoh ini, lanjutnya, menjadi salah satu program rutin MUI Kecamatan Kota yang didukung pendanaan dari Pemkab Kudus untuk memperkuat pemahaman dan peran lembaga keagamaan dalam menjaga moral umat.

Melalui forum ini, MUI Kudus mengajak seluruh elemen, khususnya pondok pesantren, untuk menjadi benteng moral masyarakat. Peserta juga diingatkan agar lebih waspada terhadap penyebaran ide dan konten yang menormalisasi perilaku LGBT di media sosial.

“Menjaga fitrah manusia berarti menjaga martabat bangsa. Semoga pesantren bisa menjadi pelopor peradaban yang tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan kemanusiaan,” tuturnya.

Sementara itu, AKP Subkhan menyoroti fenomena LGBT dari sisi hukum dan keamanan. Berdasarkan data Satgas Penanggulangan HIV/AIDS Kudus, pada 2023 tercatat 187 titik rawan atau hotspot LGBT di wilayah Kudus. 

Fenomena tersebut, katanya, berkontribusi pada peningkatan kasus baru HIV/AIDS pada semester pertama 2025 dengan 81 kasus baru, terdiri atas 61 pria dan 20 perempuan.

Selain itu, ia juga menyoroti maraknya penyewaan kos per tiga jam yang kerap disalahgunakan untuk tindakan asusila. Data Unit PPA Satreskrim Polres Kudus mencatat 24 kasus asusila sepanjang tahun 2025, dengan 18 di antaranya melibatkan anak di bawah umur.

“Pendekatan hukum harus diimbangi edukasi dan kontrol sosial. Patroli siber terus kami lakukan untuk mencegah penyebaran konten atau komunitas menyimpang di dunia maya,” tegasnya.

Dari sisi kesehatan, dr. Henky Yoga Prasetya menjelaskan, bahwa perilaku LGBT menjadi salah satu faktor risiko utama penularan penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Namun, ia menilai akar permasalahannya jauh lebih dalam daripada sekadar aspek biologis.

Baca Juga: Muhammadiyah Kudus Ajak Warga Siapkan Diri Sambut Ramadan Lebih Awal

“LGBT adalah refleksi krisis moral dan spiritual di masyarakat modern. Sekulerisme dan liberalisme membuat perilaku ini dianggap normal dan bahkan diklaim sebagai hak asasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, upaya pencegahan harus diarahkan pada penguatan moral, pendidikan agama, dan kesadaran tentang bahaya perilaku menyimpang, bukan hanya lewat kampanye kesehatan semata.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Padukan AR dan Budaya Nusantara, Dua Siswi MAN 2 Kudus Raih Juara 2 FIKSI 2025

0
Dua siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kudus, Naila Kirania Maulidia (XII 7) dan Kitana Aisya Az-Zahra (XII 1) menorehkan prestasi di kancah nasional. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kudus, Naila Kirania Maulidia (XII 7) dan Kitana Aisya Az-Zahra (XII 1) menorehkan prestasi di kancah nasional. Keduanya berhasil meraih juara 2 katagori Seni Rupa dan Desain dalam ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2025. 

FIKSI merupakan kompetisi nasional tahunan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah (Dikmen), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Ajang tersebut bertujuan menumbuhkan jiwa inovatif, kreatif, dan wirausaha di kalangan pelajar SMA sederajat di seluruh Indonesia.

Baca Juga: IJTI Muria Raya Tanamkan Nilai Kepedulian Masyarakat dengan Tabur Benih Ikan 

Kompetisi tingkat nasional yang digelar di Jakarta mulai 26-31 Oktober 2025 tersebut, para peserta diminta membuat produk yang memiliki aspek edukatif, komersial, hingga keberlanjutan terhadap lingkungan. Dengan mengusung tema “Talenta Wirausaha, Majukan Bangsa” ajang itu menghadirkan berbagai katagori, seperti teknologi, makanan, kriya, seni rupa dan desain, serta kewirausahaan sosial.

Karya Naila dan Kitana merupakan produk berupa booknook DIY (hiasan sekat buku miniatur) yang memadukan teknologi Augmented Reality (AR) dan nilai budaya lokal Yogyakarta dengan karya desain bertema seni rupa kreatif dan ramah lingkungan yang menggabungkan nilai estetika dan fungsi praktis. 

Dengan karya berjudul “Rupakala: Rakit Ulang Kisah Nusantara Melalui Kreasi Booknook Interaktif dan Edukatif” tersebut dibuat untuk solusi menumbuhkan minat baca generasi muda. Produk itu sekaligus melestarikan budaya Nusantara di tengah derasnya arus globalisasi. 

Di mana karya dibuat dari limbah kayu lapis daur ulang, menjadikannya produk ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain berfungsi sebagai hiasan estetik, Rupakala juga memiliki lampu tidur, alarm digital, serta fitur AR yang memungkinkan pengguna memindai barcode marker AR untuk mengakses cerita dan informasi budaya secara interaktif.

Melalui inovasi ini, Naila dan Kitana ingin mengajak generasi muda untuk “membaca dan mengenal kembali kisah Nusantara” dengan cara yang menarik dan sesuai perkembangan zaman. 

Kepala MAN 2 Kudus, Ali Musyafak, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas capaian anak didiknya di ajang kompetisi tingkat nasional tersebut. Sebab, tahun kemarin tim dari MAN 2 Kudus belum berhasil membawa gelar dan dibayar tuntas di tahun ini. 

“Alhamdulillah, prestasi siswa MAN 2 Kudus semakin menunjukan keberkahannya. Jika tahun kemarin karya anak-anak di ajang Fiksi belum membuahkan hasil, namun tahun ini satu tim inovasi dan kreasi dari dua yang maju final ke tingkat nasional telah menorehkan sejarah baru, sebagai peraih medali perak,” ungkapnya. 

Ia menyebut, bahwa prestasi itu menunjukan siswa MAN 2 Kudus tak hanya unggul di bidang akademik, tapi bidang kreatifitas dan inovatif. Terlebih hal itu sebagai bukti nyata semangat madrasah mandiri berprestasi dan siap mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para siswa.

Baca Juga: Muhammadiyah Kudus Ajak Warga Siapkan Diri Sambut Ramadan Lebih Awal

“Keberhasilan ini tidak lepas dari peran para pembimbing, Stafendi Handoko dan Ardian Awaluddin, yang mendampingi siswa dalam proses perancangan hingga presentasi karya. Siswa MAN 2 memang luar biasa, mereka sudah terbiasa menjadi pejuang prestasi, mereka tangguh dan sungguh sungguh dalam berkompetisi, dan akhirnya nikmat yang diraih,” jelasnya.

Ia berharap, prestasi ini menjadi penyemangat dan inspirasi bagi siswa lain, agar MAN 2 Kudus tetap istikomah dalam menorehkan prestasi dan melayani. Pihaknya juga berkomitmen untuk mencetak generasi muda berdaya saing nasional, sejalan dengan visi madrasah.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Peringati Anniversary, Komunitas Pecinta Mobil Campervan Gelar Aksi Sadar Lingkungan

0
Komunitas pecinta mobil Campervan Muria Raya menyelenggarakan aksi penanaman pohon di kawasan lereng Pegunungan Muria, Minggu (2/11/2025). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Komunitas pecinta mobil Campervan Muria Raya menyelenggarakan aksi penanaman pohon di kawasan lereng Pegunungan Muria, Minggu (2/11/2025). Kegiatan dilakukan sebagai bentuk menjaga alam Muria itu, karena beberapa titik pegunungan dinilai mulai tidak hijau. 

Fasilitator Campervan Muria Raya, Vanhas mengatakan, pihaknya telah menyediakan ribuan bibit pohon untuk ditanam oleh 200-an anggota Campervan Muria Raya. Di mana mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Pati, Kudus, Jepara, Rembang, dan Blora.

Baca Juga: IJTI Muria Raya Tanamkan Nilai Kepedulian Masyarakat dengan Tabur Benih Ikan 

‘’Jenis bibit pohon yang kami tanam di Blok Tengah lereng Muria hari ini, jambu air jenis Citra dan pinus. Aksi penghijauan lereng Muria ini, hasil kolaborasi dengan Wana Wisata Pijar Park,’’ ungkapnya. 

Ia menjelaskan, anniversary Campervan Muria Raya yang jatuh pada 1 November itu, rangkaian acara sebelumnya sudah digelar berbagai kegiatan. Seperti acara khitanan massal yang telah dilaksanakan 25 Oktober 2025 lalu. 

‘’Dari donasi itu juga, kami memberikan santunan kepada anak yatim dan duafa. Jadi, setiap ada donasi langsung dihabiskan tanpa sisa,’’ jelasnya. 

Aksi tersebut, katanya, diharapkan area lereng Pegunungan Muria kembali hijau. Supaya kesejukan kawasan Pegunungan Muria dapat berdampak pada kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Kudus, khusunya.

‘’Saat ini wilayah Kota Kudus panas dan kering karena saya menilai hutan mulai gundul. Jadi kami berharap, reboisasi akan memberikan dampak positif atas cuaca di wilayah Kudus,’’ ujarnya.

Baca Juga: Muhammadiyah Kudus Ajak Warga Siapkan Diri Sambut Ramadan Lebih Awal

Sementara Direktur Wana Wisata Pijar Park, Yusuf mengapresiasi niat baik dari anggota Campervan Muria, yang peduli terhadap kondisi Pegunungan Muria. Sebagai warga Colo, pihaknya pun berharap kegiatan itu menjadi contoh bagi komunitas lain. 

‘’Memang kondisi hutan Muria saat ini mulai gundul, karena adanya aksi yang tidak bertanggungjawab. Kami harapkan selanjutnya ada komunitas-komunitas seperti ini yang peduli terhadap Pegunungan Muria,’’ terangnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pendaki 15 Tahun Asal Pati yang Dilaporkan Hilang di Puncak 29 Ditemukan Selamat

0
Puncak 29 Gunung Muria. Foto: Ist

BETANEWS.ID, PATI – Seorang pendaki berusia 15 tahun asal Kabupaten Pati, yang sebelumnya dilaporkan hilang di kawasan Puncak 29 Gunung Muria, akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat. Korban diketahui berinisial RS, warga Desa Grogolan, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, berhasil dievakuasi Senin (3/11/2025) sekitar pukul 05.56 WIB oleh tim gabungan dari BPBD dan relawan.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko membenarkan, bahwa saat ini korban sudah ditemukan selamat. Kejadian tersebut bermula ketika korban bersama tiga temannya melakukan pendakian ke Puncak 29 via jalur Tempur, Jepara, pada Minggu (2/11/2025). 

Baca Juga: Lolos dari Pemakzulan, Bupati Pati Sudewo Ajak Semua Pihak Kembali Bersatu

“Setibanya di puncak sekitar pukul 16.00 WIB, korban turun terlebih dahulu. Namun ketika rekannya tiba di bacecamp pukul 17.00 WIB, korban belum turun dari gunung,” bebernya melalui laporan tertulisnya, Senin (3/11/2025).

Lantas petugas basecamp kemudian melaporkan insiden itu kepada BPBD Jepara pada 19.00 WIB, yang langsung melakukan pencarian hingga pukul 01.00 WIB. Karena belum ditemukan juga, pencarian sempat dihentikan sementara akibat cuaca yang kurang mendukung. 

Untuk memperluas area pencarian, BPBD Jepara berkoordinasi dengan BPBD Kudus, mengingat kemungkinan korban tersesat ke jalur pendakian via Rahtawu, Kabupaten Kudus. BPBD Kudus kemudian menerjunkan tim dari Destana Rahtawu untuk membantu penyisiran sejak pukul 02.00 WIB bersama unsur relawan lain.

Setelah upaya pencarian intensif, pada pukul 05.52 WIB, keberadaan korban terdeteksi di sekitar Pos 4 Jalur Pendakian Puncak 29. Empat menit kemudian, korban berhasil dievakuasi dalam keadaan sehat dan selamat melalui jalur Tempur.

“Karena korban sudah ditemukan dengan selamat, operasi pencarian dihentikan pukul 06.00 WIB. Tim gabungan dari berbagai instansi telah ditarik kembali untuk bertugas ke pos masing-masing,” terangnya.

Dalam operasi pencarian itu, kata Eko, melibatkan sejumlah unsur, antara lain dari BPBD Kudus, BPBD Jepara, BPBD Pati, Basarnas, SARDA Jateng, Destana Rahtawu, Destana Tempur, petugas basecamp Gunung Muria, serta Pemdes Rahtawu.

Ia mengimbau, terkait pentingnya edukasi bagi para pendaki, terutama untuk kalangan muda. Agar tidak mengutamakan konten media sosial dibandingkan keselamatan diri. 

Baca Juga: Botok dan Teguh Masih Ditahan, Tiga Pendemo Lainnya Sudah Dilepas

Sebab, aktivitas pendakian yang dilakukan demi konten atau tren media sosial (Fomo/TikTok) dinilai dapat meningkatkan risiko keselamatan di medan pendakian yang berpotensi berbahaya.

“Koordinasi lintas wilayah dilakukan secara cepat dan komprehensif sehingga korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat,” jelasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

IJTI Muria Raya Tanamkan Nilai Kepedulian Masyarakat dengan Tabur Benih Ikan 

0
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya melaksanakan kegiatan bersih sungai dan tabur benih ikan endemik di Sungai Siwayut, Gebog, Minggu (2/11/2025). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya melaksanakan kegiatan bersih sungai dan tabur benih ikan endemik di Sungai Siwayut, Gebog, Minggu (2/11/2025). Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri dan Sumpah Pemuda, demi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitar. 

Ketua IJTI Korda (Koordinator Daerah) Muria Raya, Iwan Miftahudin menyampaikan, sebanyak 50 ribu bibit berbagai jenis ikan endemik ditebar di Sungai Siwayut. Di antaranya ikan jenis nilem, tawes, grass carp, dan karper, ditebar di 16 titik perairan di sana. 

Baca Juga: Muhammadiyah Kudus Ajak Warga Siapkan Diri Sambut Ramadan Lebih Awal

“Kegiatan ini kita gelar bersama UPZIS NU Kedungsari, pemuda, elemen masyarakat serta 500 siswa dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah ( MI) hingga Madrasah Aliyah ( MA). Harapanya, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan lingkungan dan sumber daya alam,” bebernya. 

Tak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, kegiatan itu dinilai dapat melestarikan alam serta menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan kepada generasi muda. Terlebih adanya acara itu, banyak siswa yang antusias membersihkan sampah di sekitar sungai serta menabur benih ikan.

Sementara itu, Ketua UPZIS NU Kedungsari, M Karim mengharapkan, kegiatan itu dapat berdampak positif bagi ekosistem sungai. Dengan adanya penaburan benih ikan, populasi ikan endemik di sana bisa meningkat di wilayah tersebut.

“Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperingati hari besar nasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan. Sehingga keseimbangan alam akan terjaga,” tuturnya. 

Baca Juga: KFW 2025 Bakal Hadir, Tampilkan Brand Baru Hingga Festival Kopi Muria 

Secara garis besar, kata dia, kegiatan bersih sungai dan tabur ikan dapat menanamkan nilai-nilai kepedulian dan kerjasama antarsiswa. Sehingga siswa atau generasi muda ini diharapkan mulai peduli dengan lingkungan sekitar.

“Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan siswa-siswa dapat menjadi agen perubahan yang peduli dengan lingkungan dan masyarakat,” terangnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rica-Rica Pentol Mr. Bean, Nama Main-Main Tapi Larisnya Bukan Main

0
Lapak keliling “Rica-Rica Pentol Mr. Bean”. Foto: Muhammad Amaruddin

BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang sore, di tepi jalan di Desa Bae, Kudus, tampak sebuah gerobak kecil yang unik. Di depannya, terbentang banner besar bertuliskan “Rica-Rica Pentol Mr. Bean” dengan warna merah mencolok yang cukup untuk membuat siapa pun yang lewat menoleh melihatnya.

Di balik gerobak itu, Susanto (48) tampak sibuk. Tangannya cekatan, kanan mengaduk panci berisi pentol yang mendidih, kiri meracik sambal rica yang menjadi rahasia rasa dagangannya. Asap panas bercampur bumbu cabai membuat ornag yang ada di sekitar bisa mencium aromanya.

Baca Juga: Inovasi Manis Kopitiam AMA, “Roti Bakar Siram” Jadi Buruan Pecinta Kuliner Kudus

Sebelum jualan keliling, ia mengaku pernah membuka kedai bakso. Karena harga sewa kontrakan yang semakin mahal, akhirnya Susanto memilih untuk jualan keliling.

“Dulu saya jualan bakso mangkal. Tapi biaya kontrakan tempatnya makin mahal. Akhirnya saya pikir, kenapa nggak jualan keliling aja, modalnya kecil, dan usaha bisa tetap jalan,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Keputusan itu diambil Susanto sekitar satu setengah tahun lalu. Ia memulai usaha kecilnya dengan motor bekas yang dimodifikasi menjadi gerobak dorong. Di sanalah ia menulis nama yang kini melekat di ingatan pelanggannya, yaitu Rica-Rica Pentol Mr. Bean.

“Waktu itu lagi viral nama tempat makan tongseng yang lucu-lucu, jadi saya ikut kepikiran bikin yang unik. Nah, Mr. Bean itu dulu panggilan dari bos saya pas kerja ikut jualan marneng. Ya udah, saya pakai sekalian,” ujarnya sambil tertawa.

Setiap hari, selepas salat dzuhur hingga sekitar pukul tujuh malam, motor gerobak Susanto berkeliling menyusuri jalanan Kudus. Kadang ia berhenti di depan sekolah, kadang di perempatan yang ramai.

Baca Juga: Viral di Tiktok, Es Teler Amanda dan Odang Odeng Diserbu Pemuda Kelet

Rica-Rica Pentol Mr. Bean dijual dengan harga yang ramah di kantong anak sekolah maupun orang dewasa. Seporsi pentolnya, ia dijual dengan harga Rp5.000.

“Anak SD, SMP banyak yang beli. Kalau mereka kurang uangnya, ya tetap saya layani. Namanya juga rezeki, nggak harus banyak tapi berkah,” tambahnya.

Penulis: Muhammad Amaruddin, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -