Beranda blog Halaman 1863

Kota Tegal Tetapkan PSBB, Ganjar Instruksikan Pemkot Segera Beraksi

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kementrian Kesehatan telah menetapkan Kota Tegal berstatus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Kementerian Kesehatan Nomor HK.0 1.07lMENKES/2s8l2020 tentang PSBB Kota Tegal.

Dalam surat tersebut, penetapan PSBB Kota tegal dilakukan untuk percepatan penanganan COVID-19 di wilayah tersebut. Dalam surat itu disebut, terjadi lonjakan kasus yang cukup signifikan di Kota Tegal yang disertai transmisi lokal.

Baca juga: Ganjar Minta Walikota Tegal Kejar Anggaran Penanganan Covid-19

Menanggapi penetapan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta Walikota Tegal untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya. Dia juga meminta laporan terkait kesiapan logistik, transportasi, sosial ekonomi sampai keamanan.

“Saya sudah mendapat konfirmasi surat dari Kemenkes. Intinya, PSBB Kota Tegal sudah ditetapkan. Sudah dapat saya,” kata Ganjar, Jumat (17/4).

Baca juga: Geger Kota Tegal Lockdown, Ganjar: ‘Tidak, Hanya Isolasi Terbatas’

Ganjar menerangkat, sebelum surat tersebut dikeluarkan Kementrian Kesehatan, dua hari lalu pengajuan PSBB Kota Kota Tegal sempat ditolak. Hal itulah yang diwanti-wanti Ganjar agar pengajuan PSBB ke Pemerintah Pusat dipersiapkan dengan baik.

“Akhirnya dilengkapi datanya, ditindaklanjuti. Tadi juga ada lampiran (di surat) apa yang akan dilakukan. Maka saya minta rencana aksinya bagaimana,” tutur Ganjar.

Baca juga: Jateng Belum Ajukan Status PSBB, Ini Kata Ganjar

Dengan ditetapkannya PSBB Kota Tegal, maka pemerintah setempat akan
melaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan secara konsisten. Pemkot juga akan mendorong dan mensosialisasikan pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.

PSBB itu dilaksanakan selama masa inkubasi terpanjang dan dapat diperpanjang jika masih terdapat bukti penyebaran. Untuk pemberlakuan dimulai pada tanggal ditetapkan.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Hartopo: ‘Kelayapan saat Jam Malam, Siap-Siap Dikarantina di Polres’

0
Polisi membubarkan kerumunan di Alun-Alun SImpang Tujuh Kudus, Minggu (29/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengancam siapapun warga Kudus yang tidak mematuhi aturan jam malam, untuk siap-siap dikarantina di Mapolres Kudus.

Ancaman ini dikeluarkan Hartopo sebagai tindak lanjut kebijakan jam malam yang efektif diberlakukan mulai Sabtu, 18 April 2020 pada pukul 20.00 WIB sampai 06.00 WIB. Kawasan yang disasar yakni Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dan Balai Jagong.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat menerima bantuan dari HDCI, Jumat (17/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Kita sudah kasih imbauan. Jika nanti ditemukan masih ada yang kelayapan dan diperingatkan tidak mau, diantar tidak mau, ya sudah langsung karantina saja di Polres” tegasnya saat ditemui di Pendopo Kabupaten Kudus, Jumat (17/4/2020).

Baca juga: Pemkab Kudus Berlakukan Jam Malam Mulai Sabtu Besok

Aturan karantina bagi warga membandel ini sudah dikoordinasikan dengan Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi. Untuk itu, pihaknya akan menyiagakan petugas kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan dan Satpol PP untuk memantau berjalannya aturan jam malam.

“Aturan ini berlaku untuk semua masyarakat, sebagai langkah preventif penyebaran Virus Corona,” jelasnya.

Baca juga: Kudus Kini Punya Tujuh Rumah Sakit Rujukan Pasien Covid-19

Hartopo menambahkan, kebijakan jam malam ini diambil, lantaran saat pihaknya beberapa kali mengecek kondisi lapangan, masih banyak warga yang berkumpul di berbagai tempat. Padahal, ia sudah sering melakukan sosialisasi untuk tidak membuat kerumunan dan memberikan edukasi agar tidak tertular Covid-19.

“Saya sudah datangi warung dan cafe. Saya pernah juga menemukan, kelihatanya bukan orang Kudus dan kita minta mereka untuk pulang,” tutup Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Antisipasi Penolakan, Pemkab Kudus Siapkan Makam Khusus Jenazah Covid-19

0
Pemkab Kudus menyediakan lahan untuk pemakaman jenazah Covid-19. Ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada penolakan dari warga. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus sudah menyiapkan lahan untuk pemakaman pasien yang terjangkit corona atau Covid-19 yang meninggal dunia. Lokasi pemakaman khusus jenazah Corona itu berada di Desa Mlatinorowito, tepatnya di belakang Kantor Samsat Kudus.

Penyiapan lahan pemakaman ini, untuk mengantisipasi jika ada warga tempat pasien semula bermukim, menolak jenazah yang terjangkit Corona.

Menurut Plt Bupati Kudus HM Hartopo, pemerintah daerah harus mengantisipasi segala kemungkinan seperti fenomena penolakan jenazah Covid-19 yang belakangan terjadi. Seperti halnya yang terjadi di Semarang maupun Banyumas.

Baca juga : Ganjar: ‘Ketidakjujuaran Ini Membawa Petaka Bagi Dokter dan Perawat’

“Lahan pemakaman milik pemkab yang ada di Mlatinorowito itu luasnya 7.500 meter persegi. Dari luas tersebut, sudah digunakan untuk pemakaman umum seluas 1.500 meter persegi. Sehingga masih sisa 6.000 meter persegi yang nantinya bisa kita manfaatkan,” jelas Hartopo saat ditemui di Pendopo Kabupaten Kudus, Jumat (17/4).

Hartopo menyayangkan, jika masih ada oknum warga yang menolak jenazah Covid-19 dikebumikan di desanya. “Saya pikir di Kudus tidak ada. Orang Kudus itu orangnya bijak,” tuturnya.

Lanjutnya, jika warganya ada yang menolak jenazah Covid-19, tentu akan langsung berurusan dengan kepolisian.

Baca juga : Kudus Kini Punya Tujuh Rumah Sakit Rujukan Pasien Covid-19

Dicontohkan, seperti di Semarang. Tiga orang akhirnya ditangkap polisi, karena sudah menolak jenazah perawat positif Covid-19. Hal tersebut juga berlaku di seluruh Indonesia.”Polisi sekarang sudah banyak pasal. Jika ada yang menolak tentu langsung ditangkap,” jelasnya.

Hartopo berharap, dalam menghadapi pandemi ini masyarakat harus bersama-sama dan saling membantu. “Jaga kesehatan, lakukan physical distancing dan jika keluar rumah harus pakai masker,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar: ‘Ketidakjujuaran Ini Membawa Petaka Bagi Dokter dan Perawat’

0
Ganjar saat menerima bantuan dari dr Tirta hudi, relawan BNPB, Jumat (17/4/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan, puluhan tenaga medis RSUP dr Kariadi yang positif Covid-19 disebabkan ada pasien yang tidak jujur. Pasien tersebut tidak mengatakan baru saja bepergian dari wilayah zona merah.

“Ini kejadian yang serius dan luar biasa. Ketidakjujuran pasien membawa petaka bagi siapapun, termasuk para dokter, perawat dan tenaga kesehatan,” ujar Ganjar usai menerima bantuan alat kesehatan di Wisma Perdamaian, Jumat (17/4/2020).

Pasien yang tidak jujur memiliki riwayat perjalanan dari wilayah zona merah Covid-19, kata Ganjar, menjadi sebab 46 tenaga medis di RS Kariadi positif terkena corona. Mereka, para tenaga medis menjadi orang yang sangat rentan tertular, karena berada di garda terdepan memerangi corona.

“Ini sesuatu yang benar-benar serius, karena di jantung dan benteng pertahanan terakhir bisa tertular. Untuk itu kami minta seluruh rumah sakit untuk memperketat protokol kesehatan di tempat masing-masing demi melindungi para tenaga medis kita,” tegas Ganjar.

Dalam kesempatan itu, Pemprov Jateng menerima bantuan dari relawan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bantuan yang diterima berupa coverall Haxmat 1000 pcs, kacamata untuk medis 100 pcs, masker N95, masker kain, vitamin dan bantuan-bantuan lain. Hadir pula dalam penyerahan bantuan, dr Tirta Mandira Hudhi.

Baca juga: Jateng Belum Ajukan Status PSBB, Ini Kata Ganjar

Kepada wartawan, Tirta menyatakan, masyarakat harus berani jujur kepada para tenaga medis. Karena menurutnya, hal yang paling berbahaya dari Covid-19 adalah orang tanpa gejala (OTG).

“Mereka (OTG) tidak merasakan gejala, ini berbahaya karena tidak tahu apakah terpapar atau tidak. Oleh karena itu, kejujuran mengenai riwayat perjalanan menjadi sangat penting untuk disampaikan saat melakukan pemeriksaan medis,” ungkap Tirta, yang kini menjadi relawan BNPB.

Baca juga: Mahasiswa ke Ganjar, ‘Sekarang Lebih Sering Masak Telur Pak, Lebih Irit’

Dia meminta kepada masyarakat untuk tidak takut jika memang diduga terpapar Covid-19, apalagi menutupinya. Justru kalau tidak jujur akan membahayakan orang yang di sekitarnya, termasuk keluarga atau tenaga medis yang memeriksanya.

“Rasah wedhi (nggak usah takut), ra bakal dikapak-kapakke (tidak akan diapa-apakan). Malah enak dikei vitamin karo panganan (malah enak dikasih vitamin dan makanan,” tuturnya.

Baca juga: Memilukan, 46 Tenaga Medis RS Kariadi Semarang Positif Covid-19

Sebelumnya diberitakan, para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam memerangi Covid-19 di RSUP dr Kariadi Semarang menjadi korban. Sebanyak 46 tenaga medis terpapar virus tersebut, dan dinyatakan positif. Kini mereka menjalani isolasi di Hotel Kesambi Hijau, Semarang.

Mendengar hal tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan kabar tersebut sangat memilukan. Bagaimana tidak, mereka yang selama ini berjuang di garis terdepan membantu masyarakat melawan Covid-19 harus menjadi korban.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pemkab Kudus Berlakukan Jam Malam Mulai Sabtu Besok

0
Papan pengumuman pemberlakuan jam malam di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan menerapkan jam malam untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 mulai Sabtu, 18 April 2020. Dengan adanya kebijakan ini, warga dilarang keluar dari rumah dari pukul 20.00 hingga 06.00 WIB.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi mengatakan, kebijakan jam malam diputuskan pada rapat kordinasi tanggal 15 April 2020 di Markas Kepolisian Resort Kudus (Mapolres). Rapat tersebut dihadiri perwakilan Kodim 0722 Kudus, Dinas Perhubungan Kudus, Dinas Perdagangan Kudus dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Kebijakan tersebut permintaan tim gugus tugas,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Kamis (16/4/2020).

Baca juga: Kudus Kini Punya Tujuh Rumah Sakit Rujukan Pasien Covid-19

Saat ini, Pemkab Kudus masih melakukan sosialisasi dan simulasi dengan menutup akses jalan menuju kawasan ramai di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dan Balai Jagong Kudus.

“Sasaran sosialisai yakni warga dan pedagang yang berada di lokasi tersebut,” bebernya.

Lebih detailnya, penutupan akses menuju alun-alun dimulai dari perempatan BNI, PT Pura, utara Masjid Agung, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pemuda, Jalan Jendral Sudirman depan SMP 2 Kudus dan perempatan Sleko.

Baca juga: Pemkab Kudus Libatkan Lima Perguruan Tinggi untuk Bantu Tangani ODP

Selanjutnya untuk area Balai Jagong, penutupan dimulai dari pintu masuk depan kantor KONI Kudus, depan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta pintu masuk Balai Jagong dari sisi barat.

“Petugas yang terlibat dalam pemberlakuan jam malam ini adalah Polres, Kodim, Satpol PP, dan Dishub,” tutup Andini.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

DPC Gerindra Kudus Bantu APD untuk Tenaga Medis

0
Ketua DPC Gerindra Kabupaten Kudus Sulistyo Utomo menyerahkan bantuan APD untuk tenaga medis. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang dari Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kudus terlihat berjalan masuk menuju Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus. Mereka membawa pakaian hazmat atau alat pelindung diri, masker, hand sanitizer dan sarung tangan untuk nantinya diserahkan tim medis melalui DKK.

DPC Gerindra Kudus menyumbang APD untuk tenaga medis. Foto : Imam Arwindra

Ketua DPC Gerindra Kabupaten Kudus Sulistyo Utomo mengungkapkan, bantuan berupa kebutuhan medis tersebut, yakni sebagai bentuk kepedulian partai dalam menangani pandemi Covid-19. Menurutnya, semua elemen masyarakat harus bersama-sama dalam melawan wabah ini.

Baca juga : Kembali Bagi-Bagi Sembako, Polres Kudus Sasar Tukang Ojek Pangkalan dan Becak

“Untuk APD (hazmat) ada yang bisa dicuci dan sekali pakai,” jelasnya saat ditemui setelah memberikan bantuan Kamis, (16/4/2020).

Dia menjelaskan, kali ini pihaknya memberikan 30 hazmat, ratusan masker dan beberapa liter sanitizer. Menurutnya, bantuan ini dilakukan kedua kalinya selama pandemi Covid-19.

“Tahap pertama kami sudah lakukan ke rumah sakit. Kami berjanji akan lakukan tahap kedua. Alhamdulillah bisa terlaksana hari ini,” jelasnya yang mengenakan masker warna hitam itu.

Dalam tahap pertama, pihaknya membagikan APD ke RSUD dr Loekmono Hadi dan RS Aisyiah Kudus. Saat itu, penyerahan dipimpin Koordinator Dapil Jawa Tengah 3 Partai Gerindra, Ari Wahid.

Baca juga : Kudus Kini Punya Tujuh Rumah Sakit Rujukan Pasien Covid-19

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus (DKK) Joko Dwi Putranto menuturkan, bantuan dari DPC Gerindra akan disalurkan untuk tim medis yang bertugas di lapangan. Hal tersebut sangat membantu untuk penanganan Covid-19.

“Saya ucapkan terima kasih. Bantuan ini sangat membantu kami tim medis,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sosialisasi Minim, Ojol Kudus Bingung Manfaatkan Promo Cashback BBM 50 Persen

0
Beberapa pengemudi ojol tampak berkumpul sedang menunggu pelanggan. Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Empat orang pria yang mengenakan jaket warna hijau terlihat sedang duduk di area depan Taman Bojana Kudus, Rabu (15/4/2020). Sambil memegang ponsel masing-masing, para mitra pengemudi ojek online atau ojol itu tampak asyik bercakap-cakap.

Satu diantaranya adalah Ridho Nugroho (32). Dia mengaku sudah membaca berita terkait Pertamina memberi diskon 50 persen bagi Ojol. Meski sudah tahu, pria yang akrab disapa Ridho itu masih belum memahami cara mendapatkan pengembalian dana tersebut.

Beberapa kendaraan tampak mengantri di SPBU Jalan A Yani No 3, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi.

“Saya sudah baca beritanya, tetapi belum tahu cara mendapatkannya. Kemarin saya beli BBM, kok nggak dapat potongan, ya? Jadi ini saya belum mencobanya lagi,” terang warga Desa Ngembalrejo RT 05 RW 04, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu.

Pengemudi ojol lain, Edi Purwanto (46) malah sudah mengunduh aplikasi MyPertamina. Namun, dia tidak tahu cara menggunakannya untuk pembelian BBM non-subsidi seperti Pertamax, Pertalite, dan Pertamax Turbo.

“Saya sudah coba download aplikasi MyPertamina ini. Tapi saya masih bingung, jadi belum berhasil dapat diskonnya,” ungkap warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Di sisi lain, Admin SPBU Jalan A Yani No 3, Kudus Zakia membenarkan jika para ojol di Kota Kretek banyak yang belum tahu program tersebut. Menurutnya, sosialisasi yang dilakukan pihak Pertamina memang masih minim.

Baca juga: Ojol Dapat Cashback BBM 50 Persen, Tapi Pencairannya Tunggu Sepekan

“Promo ini baru mulai Selasa 14 April, kemarin. Jadi wajar jika masih banyak yang belum tahu,” ungkapnya.

Untuk membantu ojol memanfaatkan promo ini, pihaknya akan dengan senang hati membantu mereka, mulai dari cara mendaftar hingga cara transaksi di aplikasi MyPertamina dan LinkAja.

Baca juga: Grab Kudus Sumbang Wastafel Portabel dan Bagikan Masker

“Kami bersedia membantu driver ojol yang merasa kesulitan atau kurang paham dengan program ini. Jadi silahkan datang ke SPBU di jam kerja,” tandas Zakia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kembali Bagi-Bagi Sembako, Polres Kudus Sasar Tukang Ojek Pangkalan dan Becak

0
Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi saat memberikan sembako kepada pengemudi becak pangkalan di terminal Wisata Bakalankrapyak, Rabu (15/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, Terminal Wisata Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus diramaikan oleh tukang ojek pangkalan dan becak. Mereka tampak berjajar rapi menanti kedatangan Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi yang rencananya akan datang ke tempat tersebut.

Setelah menunggu beberapa saat, mereka mulai bersorak-sorak saat beberapa mobil memasuki kawasan terminal. Apalagi, setibanya di tempat tersebut, Kapolres segera membagikan 100 paket sembako. Dengan penuh semangat, para tukang ojek dan becak itu menanti giliran pembagian sembako.

Warga miskin penerima sembako dari Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi, Rabu (15/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

Ditemui seusai acara, AKBP Catur mengatakan, pemberian sembako ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya menyasar para perantau terdampak Virus Corona.

“Kita harus bersama-sama membantu saudara kita. Terutama yang terimbas Covid-19,” ajaknya saat berada di Terminal Bakalan Krapyak, Rabu (15/4/2020).

Menurutnya, masyarakat terimbas Covid-19 yang membutuhkan bantuan yakni para pemudik yang tidak bisa bekerja, pekerja yang terkena PHK, tukang ojek online, ojek pangkalan dan tukang becak.

“Kegiatan ini akan rutin kami lakukan. Seminggu dua kali, yakni hari Rabu dan Jumat,” jelasnya.

Baca juga: Toyo Semringah Dikasih Bingkisan Sembako dari Polisi

Sebelum ke Terminal Bakalan Krapyak, Kapolres Kudus juga membagi paket sembako ke tiga tempat, yaitu Desa Jepang, Desa Temulus, Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Warga yang mendapatkan bantuan adalah para orang tua miskin yang tinggal sendiri.

Sementara itu, pengemudi becak Jamaah mengungkapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Menurutnya, bantuan dari polisi sangat membantu dirinya dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Baca juga: Eks Napiter Sumbang Ribuan Masker, Harun : ‘Ini Jahit Sendiri Selama Sepekan’

“Sejak tidak ada peziarah datang karena Corona. Saya tidak bisa narik,” tuturnya yang tinggal di Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu.

Meski sepi, dia masih berusaha mencari orderan hingga menunggu wabah Covid-19 hilang.

“Ya paling ngangkut batu bata. Sedapatnya. Yang penting ada penghasilan,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Napi Asimiliasi Diminta Terus Dipantau, Jika Berulah Segera Tangkap

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah mengeluarkan kebijakan mengeluarkan sejumlah narapidana dari sel tahanan. Program asimilasi dan integrasi di tengah wabah Covid-19 ini diambil untuk mengurangi penyebaran virus.

Di Jawa Tengah sendiri, setidaknya ada 2.000 lebih narapindana yang menghuni sejumlah rumah tahanan dibebaskan. Mereka yang dibebaskan merupakan narapidana tindak pidana umum yang telah memenuhi persyaratan tertentu.

Namun, di balik adanya pembebasan sejumlah napi tersebut, dikabarkan banyak yang kembali berulah usai bebas dari tahanan. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan melaporkan, sedikitnya ada 12 narapidana yang kembali berulah setelah dibebaskan melalui program asimilasi ini.

Baca juga : Eks Napiter Sumbang Ribuan Masker, Harun : ‘Ini Jahit Sendiri Selama Sepekan’

Terkait hal ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menegaskan, siapapun napi asimilasi yang kembali melakukan kejahatan, aparat penegak hukum diminta tidak pernah ragu untuk menangkapnya lagi.

“Semua sekarang harus menjaga dan mengawasi. Setiap napi yang mendapatkan hak asimilasi di Jateng, kami minta dipantau terus,” kata Ganjar, Kamis (16/4/2020).

Para Babinsa, Babhinkamtibmas, BIN, lurah hingga RT/RW lanjut dia harus membantu melakukan pengawasan. Setiap napi program asimilasi yang ada di daerahnya, harus terdata dan dipastikan tidak melakukan tindakan kejahatan.

“Kalau berulah, ambil lagi saja. Jangan ragu dan jangan kelamaan,” tegasnya.

Baca juga : Usulan Pemakaman Nakes di Makam Pahlawan Disalahartikan, Ganjar: ‘Jangan Ada Provokasi’

Beberapa kepala desa di Jateng lanjut Ganjar, sudah ada yang melaporkan tentang maraknya aksi kriminalitas di daerahnya masing-masing. Ada ibu-ibu yang sedang jalan kemudian dijambret, serta aksi kejahatan lainnya muncul yang membuat resah masyarakat.

“Makanya saya minta daerah harus menyiapkan itu. Gerakan poskamling harus digiatkan lagi untuk saling menjaga keamanan. Kalau perlu, para napi asimilasi itu diawasi dan diminta melaporkan kegiatan mereka sehari-hari,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jandaku, Tawarkan Aneka Produk Mebel dari Jati Belanda

0
Salah satu pekerja di Jandaku sedang mengerjakan mebel pesanan pelanggan. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin serut kayu terdengar bising di tepi utara Jalan Suryo Kusumo, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Mesin yang dikendalikan pria berkaus putih itu terlihat mengupas serat kusam kayu jati Belanda. Dengan telaten, pria tersebut  menyerut kayu yang dipegangnya, meski serpihan debu kayu itu mengotori pakaian serta area tersebut. Di samping pria itu tampak seorang rekan merangkai meja yang tebuat dari jati Belanda. Itulah sekilas kegiatan di Jandaku, pusat Jati Belanda Kudus.

Aktivitas produksi mebel di Pusat Jati Belanda Kudus. Foto : Rabu Sipan

Surono (37) pekerja bagian produksi di Jandaku menuturkan, di tempatnya bekerja itu menjual kayu jati Belanda, triplek bekas serta produk mebel dari bahan jati Belanda. Menurutnya, saat ini produk mebel dari jati Belanda lebih diminati karena serta kayunya yang lebih kelihatan seninya. Apalagi kalau dibakar, seratnya akan lebih kelihatan dan kehitaman.

“Selain itu, seratnya juga lebih natural, harga kayu jati Belanda juga lebih murah dari jati Jawa. Teter dan rayap juga tidak doyan dengan kayu jati Belanda, jadi lebih aman,” ungkap Surono kepada betanews.id.

Baca juga : Kualitas dan Harga Murah, Kunci Noto Mebel Bisa Bertahan Lebih 20 Tahun

Diakuinya, meski serat lebih bagus dari jati Jawa, jati Belanda itu tidak tahan oleh air. Namun untuk menyiasati itu, Surono melapisi  kayu jati Belanda dengan clear agar lebih awet.

Dia mengatakan, Jandaku menerima orderan pembuatan aneka produk mebel dari jati Belanda. Di antaranya, meja yang dihargai Rp  300 ribu, kursi Rp 130 ribu, gerobak bakso kisaran Rp 1,8 juta. Serta pemasangan di distro.

“Berbeda dengan produk mebel lainnya yang dipatok harga per unit. Pemasangan kayu jati Londo di distro dipatok harga per meter, yakni Rp 500 ribu per meter. Pokoknya kami siap menerima orderan pembuatan produk mebel dari jati Londo,” ujarnya.

Di Jati Belanda Kudus juga menjual triplek bekas ukuran 122 cm × 244 cm serta tebal 8 mm dengan harga Rp 70 ribu per lembar. Ada juga yang seharga Rp 15 ribu serta Rp 20 ribu dengan ukuran yang lebih kecil. Dan tentunya jati Belanda itu sendiri yang dijual dengan harga Rp 8 ribu per keping.

Baca juga : Kualitas Oke, Mebel Spesialis Kayu Lawasan Pak Timin Diburu Konsumen

“Kami juga menjual palet jati Belanda dengan harga Rp 85 ribu. Itu harga ecer, kalau beli banyak harga bisa kurang,” paparnya.

Dia menuturkan, Jandaku itu buka sejak 2008 dan hingga sekarang sudah punya banyak pelanggan. Tidak hanya orang Kudus saja, tapi juga orang Demak, dan Jepara.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Memilukan, 46 Tenaga Medis RS Kariadi Semarang Positif Covid-19

0
Ganjar mengecek APD yang digunakan tenaga medis. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam memerangi Covid-19 di RSUP dr Kariadi Semarang menjadi korban. Sebanyak 46 tenaga medis terpapar virus tersebut, dan dinyatakan positif. Kini mereka menjalani isolasi di Hotel Kesambi Hijau, Semarang.

Mendengar hal tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan kabar tersebut sangat memilukan. Bagaimana tidak, mereka yang selama ini berjuang di garis terdepan membantu masyarakat melawan Covid-19 harus menjadi korban.

Baca juga: Laboratorium Tes Covid-19 di Jateng Ditambah, Hasil Swab Tak Perlu Nunggu Lama

“Mereka sudah berjuang luar biasa. Tapi saat dilakukan tes ternyata hasinya positif (Covid-19). Ini kabar yang memilukan. Kami akan memberikan suport penuh selama mereka menjalani isolasi,” ujar Ganjar, Kamis (16/4/2020).

Ganjar Pranowo memberikan dukungan pada tenaga medis RSUP dr Kairiadi yang dinyatakan positif Covid-19, di Semarang, Kamis (16/4/2020)

Ganjar menerangkan, kabar tersebut diterimanya dari Kadinkes Provinsi Jateng. Dia diminta untuk menyediakan tempat isolasi. Tempat tersebut diputuskan untuk menggunakan hotel milik Pemprov Jateng, yakni Kesambi Hijau. Gotel itu diubah fungsinya menjadi tempat khusus untuk isolasi tenaga medis yang terpapar corona.

Baca juga: Minta Kemenkes Segera Kirim Primer, Ganjar : ‘Kalau Tidak, Saya Minta Ditunjukkan Saja di Mana Belinya’

Di antara 46 tenaga medis yang terpapar virus, kata Ganjar, ada beberapa dokter spesialis. Kini mereka dalam kondisi yang baik. Bahkan, dirinya menyaksikan video para tenaga medis di tempat karantina tampak ceria.

“Di video yang beredar saya melihat mereka ceria dan semangat. Mereka dokter, pasti tahu kondisinya masing-masing seperti apa secara medis. Semoga mereka segera pulih dan sehat,” harap Ganjar.

Ganjar berharap semua rumah sakit di Jawa Tengah memperketat protokol kesehatan. Dia yakin, itu bisa dilakukan karena para tenaga medis paham apa yang harus dilakukan.

Baca juga: Kebutuhan APD di Jateng Masih Aman

“Yang penting disiplin. Semua rumah sakit harus bisa memperbaiki manajemennya. Antara yang sehat dan yang sakit harus di pisah di tempat yang berbeda agar tidak tertular,” tegas Ganjar.

Meski begitu, Ganjar menyatakan siap mendukung secara penuh untuk penyediaan sarana dan prasarana untuk tenaga medis di wilayahnya. Dia menyatakan ketersediaan kebutuhan APD di Jateng masih aman.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Mesin Pengolah Garam Ciptaan Pak Simin Siap Bersaing dengan Buatan Pabrik

0
Dua karyawan bengkel pembuat mesin pengolah garam milik Pak SImin, tampak sedang mengerjakan bagian mesin. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Debu sekitar jalan pantura Batangan-Pati berterbangan setiap kali berbagai kendaraan lewat, sore itu. Debu-debu itu kemudian melayang mengotori bangunan-bangunan yang berada di seberang jalan.  Tak terkecuali sebuah bengkel mesin yang terletak di utara jalan raya Desa Bumimulyo, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati.

Bengkel yang diapit oleh jalan besar dan area pertambakan tersebut terlihat sederhana. Bangunannya terbuat dari anyaman kayu dan rangka besi. Sehingga sejumlah aktivitas dan suara mesinnya bisa diintip sekaligus didengarkan oleh siapa saja yang mendekat.

Beberapa karyawan sedang mencoba Mesin Pengolah Garam di Bengkel Langgeng Karya. Foto: Titis Widjayanti.

Bengkel tersebut dimiliki Simin, warga Desa Gajahkumpul, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Ia merintis bengkel pembuatan mesin pengolah garam ciptaannya sendiri dengan merek ‘Karya Langgeng’ sejak 1995.

Saat ditemui, ia menjelaskan, sebelum membuka bengkel sendiri, ia terlebih dulu bekerja di bengkel pembuat mesin pengolah garam yang berada di Surabaya selama tiga bulan.

“Saat ini punya pelanggan tetap dari pabrik-pabrik garam di hampir seluruh pesisir utara Jawa dan Madura. Soal kualitas, saya jamin bisa bersaing dengan bikinan pabrik. Di rumah juga ada bengkelnya. Jadi ada dua,” ungkap Simin, Kamis (26/3/2020),

Selain memproduksi alat seperti mesin pengangkat garam, oven atau rotery dryer hingga alat pencetak garam kasar dan halus, pihaknya juga memiliki layanan spesial untuk pelanggan, yakni pengecekan dan pelatihan langsung perihal pengoperasian mesin selama kurang lebih satu bulan.

Baca juga: Bisnis Rebana Sunarwi Punya Pelanggan Hingga Luar Jawa

“Jika ada masalah yang mesinnya beli dari saya, ya saya bertanggungjawab buat kasih pelatihan penggunaannya. Jadi biasanya saya ke pabrik pelanggan bersama dua karyawan yang nanti saya tinggal selama seminggu buat ngelatih pengoperasian. Seperti itu terus setiap ada yang pesen dari sini,” papar Simin yang sekarang punya delapan karyawan ini.

Terkait harga, dia menjelaskan, mesin berbahan galvanis harganya mulai Rp 85 juta. Sedangkan yang berbahan baja anti karat atau stainless steel mulai Rp 100 juta.

Baca juga: Kualitas dan Harga Murah, Kunci Noto Mebel Bisa Bertahan Lebih 20 Tahun

“Sudah banyak yang tahu produk saya. Sekarang juga punya pelanggan dan masih lancar pesan. Untuk pesanan, kebanyakan dari bahan galvanis,” pungkas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Mahasiswa ke Ganjar, ‘Sekarang Lebih Sering Masak Telur Pak, Lebih Irit’

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat meninjau asrama mahasiswa luar daerah. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Ada satu tradisi yang mesti diikuti mahasiswa Aceh yang menempuh studi di Semarang. Satu minggu sekali, semuanya harus melingkar makan bersama. Jika biasanya mereka masak secara personal, pada satu hari yang ditentukan itu ada seorang yang dipilih sebagai juru masak dan Zulfadli lah orangnya.

Zulfadli (20) dengan gugup menjelaskan keahlian dadakan yang disematkan kawan-kawannya sebagai juru masak, saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi asrama mahasiswa Aceh di Semarang, Kamis (16/4). Olahan telur, kata Zulfadli, yang selama ini jadi masakan favorit rekan-rekannya, terlebih di masa wabah seperti ini.

“Sekarang lebih sering masak telur, Pak. Lebih irit. Apalagi stok sembako juga sudah menipis, Pak,” kata Zulfadli, sambil menunjukkan bumbu-bumbu dan peralatan dapur kepada Ganjar.

Baca juga : Jateng Belum Ajukan Status PSBB, Ini Kata Ganjar

Dapur asrama mahasiswa Aceh, bukan satu-satunya yang ditengok Ganjar. Sejak pukul 06.00 WIB, ganjar telah mengayuh sepeda keliling ke lima asrama mahasiswa luar daerah yang ada di Semarang. Dari asrama mahasiswa Makassar di daerah Bulusetalan, asrama mahasiswa Maluku di Lempongsari, asrama mahasiswa Aceh di Tembalang, asrama mahasiswa Lampung, Palembang dan Kalimantan Barat di Bendan Ngisor.

“Yang pertama saya cek adalah dapurnya. Saya memastikan saja mereka tidak repot untuk soal makanan, kebutuhan sehari-hari. Insya Allah jika itu tercukupi, aktivitas lain tinggal jalan saja. Ini anaknya mandiri-mandiri dan keren,” kata Ganjar.

Ganjar juga mengapresiasi atas pilihan mereka yang tetap bertahan di Jawa Tengah dan tidak memilih pulang kampung di saat wabah seperti ini. Meski terdapat mahasiswa yang masih bisa mencukupi kebutuhan kesehariannya, ada pula mahasiswa yang memerlukan bantuan.

“Insyaallah kita bantu sembakonya agar mereka tetap bisa belajar dengan nyaman, orangtua tenang keluarga tidak khawatir. Saya pastikan dapurnya mereka memang tetap ngepul,” kata Ganjar.

Ganjar mengatakan bantuan dikirim pegawai Pemprov Jateng ke asrama-asrama tersebut. Terdiri dari beras, minyak goreng, telur, mie instan, buah-buahan. Ada pula multivitamin, makanan siap saji, hand sanitizer, masker sampai peralatan olahraga. 

Selain ngecek dapur, Ganjar juga menanyakan aktivitas keseharian yang mereka jalani selama menjalani masa psycal distancing ini. Kebanyakan dari mereka memilih kegiatan tradisi daerah masing-masing. Kerena tidak bisa terlepas dari kopi, ngopi jadi pilihan utama mahasiswa asal Aceh. Sementara untuk mahasiswa Maluku lebih memilih menghabiskan waktu sambil bernyanyi.

Baca juga : Kebutuhan APD di Jateng Masih Aman

Ketika diminta Ganjar untuk nyanyi, mereka memilih lagu Sio Mama, tembang kerinduan anak kepada ibunya.

Sio mama e….beta rindu mau pulangeeee. Sio mama e….beta so lia…kurus lawange.”

Mendengar lagu kerinduan tersebut Ganjar pun langsung nyeletuk, rindu boleh tapi jangan ketemu, jangan pulang terlebih dahulu.

“Nanti akan kita bantu kirim sembako ya. Jangan pulang, telpon lah mama,” katanya.

Yanto bersama lima kawannya sesama mahasiswa asal Maluku pun mengiyakan. Meskipun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirasa sudah sangat mepet, terlebih di kampung halaman, orangtua Yanto hanya berprofesi sebagai petani cengkeh dan pala.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kudus Kini Punya Tujuh Rumah Sakit Rujukan Pasien Covid-19

0
RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Foto: Dok. Betanews.id

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menambah lima rumah sakit rujukan untuk menangani pasien Covid-19. Dengan tambahan itu, sudah ada tujuh rumah sakit yang siap menerima pasien dalam pengawasan (PDP) maupun pasien positif Virus Corona.

Juru bicara gugus tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menyampaikan, lima rumah sakit yang dimaksud yakni RSI Sunan Kudus, RS Kumala Siwi, RS Aisyiah, RS Nurus Syifa dan RS Kartika Husada.

Ruang isolasi yang disiapkan di RSUD dr Loekmono Hadi. Foto: Imam Arwindra.

“Sebelumnya sudah ada RSUD dr Loekmono Hadi dan Rumah Sakit Mardi Rahayu. Jadi Kudus ada tujuh rumah sakit yang bisa menjadi rujukan,” jelasnya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Kamis (16/4/2020).

Dengan tambahan ini, berarti ada 69 kamar isolasi yang disiapkan untuk menangani pasien. Rinciannya, RSUD dr Loekmono Hadi 38 kamar, RS Mardi Rahayu 14 kamar, RSI Sunan Kudus 5 kamar, RS Kumala Siwi 5 kamar, RS Aisyiah 3 kamar, RS Nurus Syifa 3 kamar dan RS Kartika Husada 1 kamar.

Baca juga: Pemkab Kudus Libatkan Lima Perguruan Tinggi untuk Bantu Tangani ODP

“Kudus menambah 17 kamar isolasi, sehingga jumlah total ruang yang tersedia sebanyak 69 kamar di tujuh rumah sakit,” beber Andini.

Andini menambahkan, data hingga Kamis 16 April 2020 pukul 15.00 WIB, tidak ada penambahan kasus positif Covid-19 di Kota Kretek. Sehingga, jumlah total pasien positif masih tetap delapan pasien, yaitu empat pasien masih dirawat, dua pasien meninggal dan dua pasien dinyatakan sembuh.

Baca juga: Bertambah Lagi, Satu Pasien Positif Covid-19 Asal Kudus Dirawat di Semarang

“Sebelumnya ada satu pasien sembuh yaitu warga Pati. Ini ada lagi satu sembuh yang merupakan warga Jekulo, Kudus. Kemarin (Selasa, 15/4/2020) sudah pulang,” ungkapnya.

Selanjutnya, untuk PDP di Kudus tercatat 84 orang. 50 orang dari dalam wilayah dan 34 orang dari luar wilayah.

Baca juga: 52 ODP yang Dikarantina Tidak Tunjukkan Gejala Covid-19, Satu Sakit

Dari 50 PDP dalam wilayah, 17 orang masih dirawat, satu PDP dirujuk, 21 PDP pulang karena sehat, dan 11 PDP meninggal.

“Sedangkan 34 PDP dari luar wilayah, 16 PDP dirawat, satu PDP dirujuk, 12 PDP pulang sehat dan lima PDP meninggal,” tutup Andini.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Minta Kemenkes Segera Kirim Primer, Ganjar : ‘Kalau Tidak, Saya Minta Ditunjukkan Saja di Mana Belinya’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Saat ini, Primer atau zat aktif penanda keberadaan virus laboratorium sangat dibutuhkan untuk mempercepat hasil tes PCR (polymerase chain reaction), yang biasanya keluar dalam jangka waktu 2-3 hari menjadi hanya beberapa jam.

Untuk itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendorong pemerintah pusat agar melakukan percepatan distribusi Primer tersebut. Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, Ganjar juga minta akses pembelian zat tersebut.

“Targetnya, kita mempermudah dan mempercepat pemeriksaan swab itu, jadi hasilnya cepat diketahui,” kata Ganjar, Kamis (16/4/2020).

Baca juga : Kebutuhan APD di Jateng Masih Aman

Untuk melakukan tes tersebut, di Jawa Tengah bisa dilakukan di enam laboratorium. Yakni di RSUP dr Kariadi, Rumah Sakit Nasional Diponegoro, Labkesda Semarang, Salatiga, di RS Moewardi dan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pada masa awal kasus Covid-19, hasil tes hanya dilakukan di Kementerian Kesehatan di Jakarta. Jadi untuk distribusi Primer hanya disesuaikan dengan jumlah laboratorium dan jumlah kasus.

“Kalau kurang sih enggak tapi perlu percepatan distribusi dari pusat. Karena dengan adanya penambahan laboratorium itu pasti ada peningkatan kuantitas,” katanya.

Untuk distribusi, Ganjar menjelaskan, Primer dikirim oleh Kementerian Kesehatan dan langsung ditujukan ke masing-masing laboratorium, tanpa melalui Gugus Tugas atau pemerintah daerah setempat. Ganjar berharap, ketika nantinya terjadi lonjakan kasus, ada akses pemerintah daerah untuk pengadaan zat tersebut.

Baca juga : Laboratorium Tes Covid-19 di Jateng Ditambah, Hasil Swab Tak Perlu Nunggu Lama

“Sekarang saya minta agar pusat segera mengirim itu. Kalau tidak, saya minta ditunjukkan saja itu belinya di mana agar kami beli sendiri. Itu yang akan kita penuhi,” tandasnya.

Sampai saat ini, kata Ganjar, untuk stok zat Primer di Jawa Tengah masih terkaver. Tapi jika situasinya terus naik, maka harus sudah ada persiapan. Bahkan Ganjar mengatakan, telah jauh-jauh hari menyampaikan ke Menteri Kesehatan terkait hal tersebut.

“Karena jauh-jauh hari ini sudah saya sampaikan ke Menteri Kesehatan. Dijawab karena untuk membeli alat ini hanya bergantung satu negara, maka kini sedang berusaha mencari negara lain,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -