Beranda blog Halaman 90

Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

0
Petugas mengevakuasi truk tangki air yang terperosok di longsoran di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (9/1/2026). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Intensitas curah hujan tinggi dari sore hingga malam hari yang terjadi di wilayah Kabupaten Kudus pada Jumat (9/1//2026) mengakibatkan beberapa kejadian bencana. Salah satunya terjadi longsor di Jalan Kudus-Colo, tepatnya talud jembatan sebelum portal Wisata Colo.

Bahkan, dua kendaraan mobil pribadi Suzuki Ertiga dan truk tangki air ikut terbawa material longsor. Kedua kendaraan itu berhasil diekavuasi dengan menggunakan mobil krain usai kejadian. 

Beruntungnya, dalam kejadian itu tidak ada korban, dan semuanya dilaporkan selamat. Diketahui kejadian longsor tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, dengan panjang 50 meter dan lebar 10,5 meter.

Baca juga: Update Bencana di Kudus: 6 Desa Terdampak Longsor, 6 Desa Kebanjiran

Petugas Penjaga Portal Wisata Colo, Taufik Fendi menyampaikan, sebelum terjadi longsor sudah ada tanda-tanda yang terlihat, yakni adanya retakan di bagian jembatan yang memanjang. Mengetahui hal itu, pihaknya memasang rambu-rambu dan pintu portal ditutup.

“Kejadiannya antara Isya. Sebelum longsor ada retakan dulu dan memanjang. Rambu-rambu sudah saya pasang dan pintu (portal) sudah saya tutup. Saya masuk lagi karena angin begitu kencang baru terjadi longsor,” bebernya.

Ia menjelaskan, mobil Ertiga yang masuk sunagi akibat longsor itu sebelumnya sudah diperingatkan. Namun karena kemungkinan tidak mendengar akhirnya melintas jembatan dan ikut longsoran masuk ke sungai.

“Sedangkan untuk truk tangki air memang sudah berada di jembatan. Alhamdulillah semuanya selamat, di dalam mobil ada tiga orang,” ungkapnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menegaskan, dua kendaraan yang ikut terbawa material longsor itu langsung dilakukan evakuasi pada malam itu juga, Jumat (9/1/2026). Pihaknya saat ini tengah melakukan beberapa asesmen dan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dalam hal ini Bina Marga, mengingat jalan tersebut merupakan jalan Provinsi Jateng.

“Selanjutnya akan kita koordinasi dengan Bina Marga Cipta Karya Provinsi Jateng, untuk melakukan langkah berikutnya. Kita Juga lakukan beberapa asesmen,jangan sampai tanah ini jenuh, kita kasih terpal sehingga tidak terjadi longsor yang meluas,” ujarnya.

Ia menyebut, beberapa bencana yang terjadi Kabupaten Kudus diakibatkan curah hujan tinggi. Baik bencana longsor maupun banjir terjadi di beberapa daerah, di antaranya, Singocandi, Mejobo, Ngembal, Rahtawu, dan Colo.

Baca juga: Diguyur Hujan Lebat, Pohon Tumbang Hingga Longsor Landa Desa Colo Kudus

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Kudus, Emo Hari Djatmiko menuturkan, longsor di talud jembatan wisata Colo itu disebabkan karena curah hujan tinggi. Menurutnya, sebelumnya sudah ada laporan bahwa ada retakan di pinggir tanggul jembatan. 

“Kemudian kita laporkan ke Dinas PUPR Kabupaten Kudus Dan Bina Marga Pemerintah Provinsi Jateng, karena jalan ini kewenangan Pemprov,” sebutnya.

Saat ini pihaknya melakukan penutupan di bagian yang terjadi longsor, dengan terpal untuk meminimalisir agar longsor tidak semakin meluas. “Rencananya besok (Sabtu) dari PUPR akan melakukan asesmen ulang terkait dengan merehab agar segera ditata,” imbuhnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Faktor Kerja dan Pola Pikir Keluarga Disebut Jadi Penyebab Utama Kasus ATS di Kudus Tinggi

0
Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Frida Milya Utami. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus menilai tingginya kasus anak tidak sekolah (ATS) disebabkan banyak faktor. Namun yang paling banyak faktornya dikarenakan banyak dari mereka yang mencari uang sedari kecil atau bekerja dan pola pikir keluarga yang mengajak anak-anaknya mengamen di titik perempatan maupun bangjo.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Frida Milya Utami di ruang kerjanya, Kamis (8/1/2026) kemarin. Menurutnya, faktor itu yang menyebabkan anak malas belajar di saat usianya yang seharusnya masih melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. 

Baca Juga: Hampir 900 Anak di Kudus Tak Sekolah pada Tahun 2025

“Banyak dari mereka sudah mengerti uang dan sudah menikmatinya dari hasil yang mereka lakukan. Pernah saya ketemu mereka di salah satu titik dan saya ajak untuk ikut, tapi ditolak. Karena memang ia merasa sudah bisa mendapatkan uang sendiri,” bebernya.

Ditambah, pola pikir keluarga yang awalnya karena faktor ekonomi, mereka diajak untuk menghasilkan uang sendiri dengan turun di jalan sebagai pengamen dan lain sebagainya. Oleh karena itu masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dia selesaikan untuk menekan kasus itu menurun. 

“Data ATS ini kita ambil langsung dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) melalui laman ATS. Jadi yang terdata ATS mulai usia 7-18 tahun di usia sekolah mulai jenjang SD hingga SMA,” sebutnya. 

Tingginya kasus ATS di Kudus, kata dia, juga disebabkan karena data dari yang pindah domisili tidak terdeteksi. Apalagi anak yang melakukan pendidikan di luar negeri juga datanya tidak terdeteksi karena tidak ada Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN), sehingga tergolong sebagai ATS. 

Baca Juga: Ratusan Pedagang Sayur Pilih Tetap Bertahan di Pasar Bitingan Kudus

“Paling banyak tingginya ATS di Kudus, kisaran di usia 16-18 tahun atau seumuran SMA. Selain itu, penyebabnya karena sakit, disabilitas, memilih ke pondok pesantren sehingga tidak tercatat di satuan pendidikan,” terangnya. 

Sebagai informasi, kasus ATS di Kudus tiap tahun mengalami peningkatan selama dua tahun terakhir. Seperti di tahun 2025, kasus tersebut menyentuh angka hampir 900 kasus, walaupun jumlah pendataan itu belum sepenuhnya rampung dan kurang dua kecamatan lagi, yakni Kecamatan Undaan dan Kota.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

119 Penyuluh Pertanian Pati Mulai Tahun Ini Bernaung di Bawah Kementan RI

0
Mulai tahun 2026 ini, Penyuluh Pertanian Lapangan kabupaten atau kota, berada di bawah komando langsung Kementerian Pertanian. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Mulai tahun 2026 ini, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) kabupaten atau kota, berada di bawah komando langsung Kementerian Pertanian (Kementan), bukan lagi Pemerintah Daerah (Pemda). Sehingga PPL yang tersebar akan bertanggungjawab secara penuh kepada Kementan dalam upaya penyuluhan terhadap petani, termasuk penyuluh pertanian yang ada di kantor Dinas Pertanian (Dispertan).

Ketua Tim Kerja Administrasi dan Kinerja Penyuluh Kabupaten Pati atau disebut pula dengan istilah Tim Kerja Co Working Space (CWS) Kabupaten Pati, Sri Indah Budi Prakarti menyampaikan, sebanyak 119 penyuluh pertanian akan bekerja secara langsung di bawah intruksi Kementan. Namun, untuk kinerja yang dilakukan tetap berkoordinasi, untuk menyesuaikan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati melalui Dispertan Kabupaten Pati.

Baca Juga: Petani di Wukirsari Pati Ini Rogoh Kocek Sendiri Demi Jalan Desanya Mulus

“Penyuluh semua ditarik ke kementerian per 2026. Untuk jumlahnya di Pati sendiri ada 119 penyuluh, kalau sebelumnya 125 karena ada yang pensiun, meninggal, kini jadi 119. Untuk yang di CWS (kantor) ada 11, lainnya tersebar di seluruh BPP (Balai Penyuluh Pertanian) seluruh kecamatan,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).

Seluruh penyuluh ini, akan ditata menyebar ke BPP tiap kecamatan. Ada sebanyak 21 kantor BPP di Kabupaten Pati yang tugas pokok dan fungsinya memberi pendampingan, pemahaman, serta pelayanan kepada para petani di seluruh wilayah.

“Rata-rata PPL di setiap kecamatan ada 3 sampai 5 orang. Karena kan kalau penyuluh di kantor dinas, basic kerjanya pendampingan ke BPP. Namun, ini masih transisi, tinggal nunggu info pemetaan wilayah, kira-kira BPP mana yang butuh pendampingan dari kami, sehingga ketika BPP ketambahan PPL maka penyuluhan akan semakin maksimal,” ungkapnya.

Sejauh ini, penyuluh pertanian di Kabupaten Pati bekerja memberi penyuluhan kepada 2.667 kelompok tani, yang terdiri dari Kelompok Tani (Poktan), Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Kelompok Tani Ternak (KTT). Rata-rata tiap penyuluh pertanian bekerja pada 4 sampai 5 wilayah binaan.

Indah menjelaskan, ditariknya penyuluh pertanian ke wewenang pemerintah pusat untuk mengawal swasembada pangan tiap daerah. Kinerja para penyuluh pertanian ini tidak akan berubah, mereka akan tetap bersinggungan dengan petani di lapangan.

“Kita ditarik kementerian dalam rangka mengawal swasembada pangan. Tupoksi tidak akan berubah, intinya pendampingan petani atau kelompok tani. Apalagi di Kabupaten Pati dalam setahun sudah surplus produksi pertanian sehingga swasembada berhasil nyata, kita mengawal program itu bener-bener mendongkrak produksi pertanian,” ucapnya.

Selain itu, kinerja PPL juga harus tetap menyukseskan program Bupati Pati Sudewo yakni 1 Hektare 10 Ton Bisa. Jadi, PPL bekerja dengan berkoordinasi bersama Pemkab Pati.

“Program dinas (Dispertan Kabupaten Pati) selaras dengan Kementan. Karena output (goal)-nya, peningkatan produksi dan kesejahteraan petani, sehingga kita tidak akan lepas dari Pemda, tetep alur kerjanya sistem koordinasi karena penyuluh tegak lurus dengan kementerian. 1 Hektare 10 Ton Bisa seperti teknologi inovasinya ada Mikroba PA 63, pemilihan varietas M70, otomatis kan informasi diseminasi pertanian jadi tugas penyuluh sehingga tetap bisa jalan. Lalu ubinan, pendampingan petaninya kan melekat dengan penyuluh,” sebutnya.

Di samping itu, PPL juga sering mengadakan pertemuan rutin dengan petani demi tersampaikannya informasi, mulai dari informasi pupuk, Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Ada pun pertemuan rutin Sekolah Lapang (SL) di setiap kecamatan untuk membekali ilmu-ilmu pertanian secara teori maupun praktik.

“Pemahaman kepada petani melalui pertemuan secara rutin aktif dilakukan agar informasi tersampaikan dengan jelas seperti penyaluran pupuk subsidi melalui RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Ada program Sekolah Lapang yang memahamkan petani tentang berbagai materi seperti pengendalian hama, mekanisasi pertanian, dan lain sebagainya, informasi semuanya sudah nyampai,” jelasnya.

Baca Juga: PAD dari Sektor Pajak di Pati Tembus Rp320 M, BPKAD Sebut Surplus Rp30 M

PPL ini, kata Indah, mengerjakan penyuluhan di seluruh komoditas maupun seluruh bidang pertanian yang ada. Bahkan, PPL juga menangani persoalan peternakan dan pengendalian hama.

“Pertanian, perkebunan, peternakan juga penyuluh harus tahu. Komoditas mulai dari padi, palawija, ratoon (tebu), kopi, tembakau dan lain-lain juga harus tahu. Kemudian menerima dan menyikapi laporan hama di medsos,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sempat Diprotes Warga, Pabrik Tas Fuhua di Pati Lakukan Konsultasi Publik

0
PT Fuhua Travel Goods Indonesia menggelar konsultasi publik di aula kantor Kecamatan Margorejo.Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Setelah sempat dikomplain sejumlah kalangan, perusahaan tas dan koper PT Fuhua Travel Goods Indonesia menggelar konsultasi publik di aula kantor Kecamatan Margorejo. Kegiatan yang mengundang masyarakat yang berada di lingkungan perusahaan dan stake holder itu, sekaligus mengantisipasi potensi dampak.

Perwakilan PT Fuhua Travel Goods Indonesia, Susan mengemukakan, perusahaan tempatnya bekerja bergerak dalam bidang industri tas dan koper. Perusahaan tersebut telah beroperasi di China selama 20 tahun.

Baca Juga: Petani di Wukirsari Pati Ini Rogoh Kocek Sendiri Demi Jalan Desanya Mulus

“Pembangunan perusahaan di Pati merupakan pengembangan investasi. Ini industri ringan, ramah lingkungan, dan tak berpolusi,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Pihaknya, lanjut dia, juga tengah menyiapkan pengolahan air limbah dan pengelolaan bentuk limbah lain agar tak mencemari lingkungan. Selain itu, perusahaan yang berdiri di Desa Penambuhan, Kecamatan Margorejo, Pati itu, juga berkomitmen memberi dampak positif berupa penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

“Kami menyadari, sebagai perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) masih harus belajar adat istiadat, kearifan lokal, dan nilai yang ada di sini. Kalau ada kesalahan kami siap memperbaiki, dan jangan segan mengingatkan kami,” ucapnya.

Camat Margorejo Arif Fadillah menyambut baik masuknya investasi PT Fuhua Travel Goods Indonesia di wilayahnya. Menurutnya, perusahaan tas dan koper itu telah berpengalaman puluhan tahun di China sehingga dari segala sisi, termasuk limbah dan dampak lain dapat diantisipasi dengan baik.

Kendati demikian, dia mengingatkan agar dalam investasi tersebut memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah. Termasuk memastikan tidak berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Dalam investasi harus ada persyaratan yang dilalui, terutama izinnya diurus dulu. Perusahaan juga jangan hanya membangun pabrik secara fisik, tetapi juga membawa keharmonisan, serta menjaga kearifan lokal, aspek sosial budaya yang ada,” paparnya.

Dia pun mengajak masyarakat untuk berpikir positif. Mengingat, kehadiran PMA memberi dampak baik, terutama penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat melalui program CSR.

Baca Juga: PAD dari Sektor Pajak di Pati Tembus Rp320 M, BPKAD Sebut Surplus Rp30 M

Sementara, konsultasi publik kegiatan pembangunan dan operasional industri tas dan koper dikemas dalam komunikasi dua arah. Selain menyampaikan hasil kajian dampak lingkungan, tim penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang terdiri atas akademisi membuka peluang masyarakat untuk menyampaikan saran, pendapat, dan tanggapan (SPT).

Sebelumnya, sempat muncul isu operasional PT Fuhua Travel Goods Indonesia lebih mengutamakan tenaga kerja asing daripada tenaga kerja lokal. Pemkab sempat melakukan klarifikasi dengan mengecek langsung ke perusahaan.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Antisipasi Kendaraan Sayur Masuk, Pintu Pasar Bitingan Kudus Diblokade

0
Blokade sementara pintu Pasar Bitingan mulai diberlakukan hari ini, Jumat (9/1/2026) petang. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa akses pintu masuk Pasar Bitingan Kudus, ditutup sementara usai jam operasional pasar, yakni mulai pukul 6.00-18.00 WIB. Blokade sementara pintu Pasar Bitingan mulai diberlakukan hari ini, Jumat (9/1/2026) petang.

Penutupan tersebut, menyusul adanya penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pasar Rakyat yang dikelola Pemerintah Daerah.

Baca Juga: Hampir 900 Anak di Kudus Tak Sekolah pada Tahun 2025

Dalam perda tersebut, dijelaskan bahwa jam operasional pasar rakyat yang dikelola oleh pemerintah daerah dibatasi mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Hal ini juga berlaku untuk Pasar Bitingan yang berada di Jalan Mayor Basuno.

Kepala Pasar Bitingan Kudus, Muhammad Toha menyampaikan, bahwa akses pintu masuk ke Pasar Bitingan dilakukan penutupan. Menurutnya alasan penutupan untuk menghindari mobilitas kendaraan sayur masuk ke dalam pasar pada malam hari dan dilakukannya aktivitas jual beli pada malam hari.

“Ini kami lakukan usai rapat koordinasi dengan Sekda Kudus tadi. Sehingga kami mengikuti arahan dan melakukan penutupan akses untuk menjalankan sesuai Perda,” katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (9/1/2026) petang.

Sementara, kata dia, keberadaan Pasar Yaik Kudus masih bisa berjualan dan menurutnya penutupan tidak berdampak pada aktivitas pasar malam di sana. “Pasar Yaik masih bisa buka dan melakukan jual beli di sana,” ujarnya. 

Terkait adanya penutupan yang dilakukan dengan bambu, Toha menjelaskan, bahwa nantinya akan ada petugas keamanan yang berjaga agar blokade itu bisa berjalan mulus. Satpol-PP dan polisi dilibatkan dalam pengamanan untuk menegakan perda yang ada. 

Baca Juga: Ratusan Pedagang Sayur Pilih Tetap Bertahan di Pasar Bitingan Kudus

“Nanti di beberapa titik penutupan akan dijaga petugas keamanan, baik Satpol-PP maupun polisi. Harapannya agar tidak ada aktivitas jual beli sayur mayur di Pasar Bitingan saat malam hari,” jelasnya.

Ia meminta doa agar diberikan kelancaran dalam tugas penutupan di sana.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bupati Kudus Resmikan Pustu Colo, Faskes Baru untuk Warga Lereng Muria

0
Puskesmas Pembantu (Pustu) Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus diresmikan, Jum'at (9/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Puskesmas Pembantu (Pustu) Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus diresmikan, Jum’at (9/1/2025). Adanya fasilitas kesehatan (faskes) tersebut diharapkan mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat lereng Gunung Muria.

Persemian Pustu Colo dilakukan langsung oleh Bupati Kudus dengan didampingi Ketua Komisi D DPRD Kudus, serta Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan. Peresmian tersebut ditandai dengan penanaman pohon alpukat.

Baca Juga: Hampir 900 Anak di Kudus Tak Sekolah pada Tahun 2025

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, adanya Pustu ini dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada masyarakat. Pasalnya, selama ini Desa Colo dan sekitarnya memang agak jauh dari fasilistas kesehatan (Faskes).

“Kami ingin meningkatkan derajat kesehatan seluruh warga Kudus, termasuk yang di bagian utara. Oleh karena itu kita bangun Pustu Colo ini,” ujar Sam’ani kepada awak media, usai peresmian.

Tak hanya untuk warga sekitar, lanjutnya, Pustu Colo sangat memungkinkan melayani para wisatawan yang mengalami gangguan kesehatan. Sebab, lokasinya memang berada di wilayah padat pariwisata.

“Para wisatawan maupun peziarah yang merasa badannya tidak sehat, bisa berobat dulu di Pustu Colo. Faskes ini siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik,” bebernya.

Dia mengatakan, Pustu Colo dilengkapi berbagai fasilitas. Di antaranya dua unit mobil ambulance yang difungsikan untuk menjemput dan mengantar pasien.

“Selain itu, di Pustu Colo juga ada layanan SMECE (Screning Mediscan FaCe) serta Si Bunda,” imbuhnya.

Baca Juga: Ratusan Pedagang Sayur Pilih Tetap Bertahan di Pasar Bitingan Kudus

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Mustiko Wibowo mengatakan, Pustu Colo sudah diresmikan dan disiap beroperasi untuk melayani masyarakat. Pembangunannya menelan anggaran kurang lebih sebesar Rp 962,3 juta.

“Anggaran bersumber dari DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau). Sementara lama pengerjaan sekitar 105 hari kalender,” ujar Mustiko.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Petani di Wukirsari Pati Ini Rogoh Kocek Sendiri Demi Jalan Desanya Mulus

0
Petani Desa Wukirsari membangun jalan desa. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Aksi kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan seorang warga Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Dengan menggunakan uang pribadinya, ia membangun jalan desa sepanjang 100 meter demi kenyamanan warga sekitar.

Jalan yang dibangun berada di RT 1 RW 2 Dukuh Gayam, Desa Wukirsari. Jalan tersebut merupakan aset milik Desa Wukirsari yang selama ini belum tersentuh pembangunan secara menyeluruh.

Baca Juga: PAD dari Sektor Pajak di Pati Tembus Rp320 M, BPKAD Sebut Surplus Rp30 M

Pembangunan jalan dilakukan dengan cara dicor beton dengan lebar 3 meter dan panjang total 100 meter. Namun, hingga saat ini pengerjaan baru mencapai sekitar 50 meter.

Warga yang membangun jalan tersebut bernama Rustam (45). Sehari-hari ia bekerja sebagai petani dan juga merantau ke luar Jawa. Dari hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, Rustam menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun akses jalan di desanya.

Pembangunan jalan sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Hingga ini, pekerjaan pengecoran baru mencapai separuh dari target panjang jalan.

“Supaya lingkungan bersih, tetangga yang melewati itu senang, itu tujuan utama,” ujar Rustam saat dihubungi, Jumat (9/1/2026).

Ia menjelaskan, bahwa pembangunan jalan tersebut telah berjalan selama satu minggu terakhir dan direncanakan rampung sepanjang 100 meter dengan lebar 3 meter.

“Pembangunan sejak dimulai satu minggu. Itu rencana 100 meter, kurang lebih baru 50 meter yang sudah dikerjakan dengan lebar 3 meter,” jelasnya.

Rustam mengungkapkan, bahwa keterbatasan pembangunan dari pemerintah desa membuatnya tergerak untuk membangun jalan secara mandiri. Total biaya yang dikeluarkan dari kantong pribadinya mencapai Rp 40 juta.

“Itu sudah ada dana, tapi kurang sampai merata. Itu kurang lebih Rp 40 juta dari uang sendiri,” jelasnya.

Sebelum memulai pembangunan, Rustam mengaku telah berkoordinasi dan meminta izin kepada pihak pemerintah desa. Ia menyebut pemerintah desa memberikan dukungan penuh atas inisiatif tersebut.

“Kita sebelum kita bergerak itu lapor ke RT, dari pak RT agar lapor kepada kepala desa. Pak kades sangat mendukung,” imbuhnya.

Dana puluhan juta tersebut dikumpulkan Rustam selama beberapa tahun. Selain dari hasil bertani, ia juga bekerja merantau ke luar Jawa demi mewujudkan pembangunan jalan desa tersebut.

“Pekerjaan saya itu petani, menanam jagung, menanam ubi dan macam-macam. Kalau tambang tidak ada, itu di luar Jawa merantau,” ungkapnya.

Ia berharap keberadaan jalan beton ini dapat membantu aktivitas warga, khususnya mereka yang setiap hari melintasi jalan tersebut.

“Itu lama sekali, namanya juga petani supaya menciptakan desa yang kondusif dan dampaknya bisa dinikmati warga sekitar,” ucapnya.

Kepala Desa Wukirsari, Sulistiono membenarkan adanya warga yang secara swadaya membangun jalan desa. Ia menyebut keterbatasan anggaran dana desa menjadi salah satu kendala pembangunan infrastruktur secara merata.

“Ingin membantu di lingkungan rumahnya, karena itu di depan rumah sudah dibangun jalannya tapi tinggal sampai di jalan saja,” kata Sulis saat dihubungi.

“Itu masuknya jalan desa. Panjangnya itu 50 meter. Namanya anggaran kan tidak langsung semua,” lanjutnya.

Menurut Sulis, partisipasi warga seperti yang dilakukan Rustam sangat membantu pemerintah desa di tengah ketidakpastian pencairan dana desa tahun ini.

“Ya sangat membantu apalagi kedepan dana desa kedepan belum tahu. Setiap tahun Rp 800 juta kemarin, tahun ini belum tahu,” ungkapnya.

Sulis juga menjelaskan bahwa Rustam dikenal sebagai petani yang kerap merantau ke luar Jawa dan belakangan dinilai cukup berhasil dalam pekerjaannya.

“Sering merantau, namanya orang merantau sekarang berhasil dan ingin membagi masyarakat yang lain,” dia melanjutkan.

Baca Juga: Dapat Dispensasi Nikah Dini, Tapi 6 Bulan Setelahnya Dua Remaja di Pati Ini Malah Ajukan Cerai

Ia menegaskan bahwa sebelum pembangunan dilakukan, Rustam telah meminta izin dan pemerintah desa memberikan persetujuan.

“Kemarin juga sudah izin, ya sudah, katanya ingin membantu depan rumah sudah dibangun tinggal jalan itu, bilang ingin membantu masyarakat merasakan yang lewat di situ. Semoga yang lainnya mengikuti seperti itu,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

17.549 Guru di Jepara Bakal Terima Insentif Rp150 Ribu per Bulan 

0
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara, Ratib Zaini. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui program Kartu Guru Sejahtera akan memberikan bantuan sosial berupa insentif atau tambahan gaji bagi 17.549 guru. 

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara, Ratib Zaini mengatakan jumlah itu merupakan total alokasi untuk penerimaan di tahun 2026. 

Baca Juga: Tak Hanya Ngantor di Desa, Bupati Jepara Bakal Luncurkan Program Baru Ngopi Bareng

Pada tahun 2025, program insentif untuk guru di Kabupaten Jepara itu menurutnya sudah berjalan. Dengan jumlah penerima sebanyak 10.943 guru. Total anggarannya yaitu Rp11,2 miliar. 

“Tahun 2025 sudah tersalurkan semua. Tahun 2026 ada tambahan, jumlah gurunya 17.549, total anggarannya Rp25 miliar,” sebut Ratib pada Betanews.id, Jumat (9/1/2026). 

Dengan jumlah alokasi anggaran yang sudah ditentukan, masing-masing guru akan mendapatkan bantuan insentif senilai Rp150 ribu per bulan. 

“Dapatnya Rp1,8 juta per tahun (Rp150 ribu per bulan),” katanya. 

Bantuan insentif itu akan ditransfer atau dikirim langsung ke rekening masing-masing guru. Akan tetapi, Ratib mengatakan bahwa Disdikpora Jepara tidak bisa memastikan insentif itu akan diberikan setiap berapa bulan sekali. 

“Karena mekanisme keuangan kita kan tidak hanya untuk ini, ada yang lain juga. Pencairannya sesuai kemampuan kita melaksanakan pencairan,” ujarnya. 

Adapun guru yang menerima yaitu dikhususkan bagi guru di bidang keagamaan serta guru swasta. Rinciannya yaitu untuk guru TPQ, Madin, Pondok Pesantren (Ponpes), Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Sekolah Hindu, Sekolah Minggu Budha, Sekolah Minggu Kristen, Sekolah Minggu Katholik. 

Baca Juga: Dana Desa di Jepara Berkurang Rp149 Miliar, Tertinggi Desa Bangsri Capai 80,27%  

Kemudian, untuk guru sekolah formal yaitu Guru PAUD, TK, RA, KB, SPS, TPA, SD dan SMP Swasta. 

“Syaratnya tidak ber Serdik, KTP Jepara, Terdata di Dapodik, Masa kerja 1 tahun waktu diusulkan, dan tidak diusulkan lembaga lain baik formal maupun non formal,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hampir 900 Anak di Kudus Tak Sekolah pada Tahun 2025

0
Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Frida Milya Utami. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Kudus terus mengalami peningkatan tiap tahunnya selama dua tahun terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, anak tidak sekolah tercatat ada sebanyak hampir 900-an kasus sepanjang 2025. 

Diketahui, ATS di Kudus tahun 2023 ada sebanyak 700-an anak, dan pada tahun 2024, kasus ATS meningkat menjadi 800-an anak. Sedangkan di tahun 2025 jumlah itu meningkat kembali hingga sentuh angka hampir 900 kasus.

Baca Juga: Kades di Kudus Pasrah Dana Desa Turun Drastis, Sebut Tak Bisa Lakukan Pembangunan Lagi

Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Frida Milya Utami menyampaikan, dari total hampir 900 kasus itu rekapan data per 31 Desember 2025 belum sepenuhnya dirampungkan. Masih ada dua kecamatan yang saat ini masih dilakukan pendataan sesuai data dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin). 

“Saat ini masih dalam proses penyelesaian rekap data. Dua kecamtan yang belum kami masukan adalah Kecamatan Kota dan Undaan,” bebernya saat ditemui di ruangannya, Kamis (8/1/2026). 

Sejumlah penyebab disebut jadi faktor tingginya anak tidak sekolah di Kota Kretek. Faktor utamanya disebabkan kebanyakan anak sudah mengerti uang sedari kecil, sehingga mereka malas untuk melanjutkan pendidikan. 

“Kalau masalahnya ekonomi, masih bisa kami upayakan untuk melanjutkan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Karena di PKBM menggratiskan bagi mereka yang tidak sekolah. Tapi kalau mereka sudah mengenal uang sulit dibujuk, karena sudah bisa menikmati hasilnya,” sebutnya.

Faktor pola pikir dari lingkungan, terutama dari orang tua yang mengajak anak-anaknya mengamen dan lain sebagainya menjadi faktor pendukung, anak tidak mau sekolah lagi. Ta hanya itu, pernikahan dini juga ikut berkontribusi tingginya jumlah anak berhenti sekolah sebelum lulus. 

Meski tidak banyak, namun menurutnya alasan tersebut mendorong anak tak lagi mau melanjutkan sekolahnya. Mayoritas kasus ATS di Kudus tahun 2025 didominasi usia 16-18 tahun atau usia seumuran SMA. 

“Anak yang bersekolah di luar negeri atau pindah domisili sekeluarga tapi tidak terdeteksi, sehingga masuknya juga ke data ATS. Karena data ini diambil dan terpusat di Pusdatin melalui laman khusus ATS,” terangnya. 

Ia menyebut bahwa kasus ATS terhitung mulai usia 7-18 tahun. Frida mengakui tidak semua kecamatan jumlahnya sama. Jumlah bergerak secara fluktuatif dan bisa berbeda di masing-masing desa.

Baca Juga: Gedung Perpustakaan Baru di Kudus Siap Layani Masyarakat

Sebagai upaya untuk menekan angka kasus ATS yang tinggi, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan, melibatkan PKBM, Dinaas Sosial P3AP2KB, kelompok PKK hingga pemerintah desa. Sebab dia tahu yang mengetahui kondisi di lapangan adalah pemerintah desa. 

“Kami juga berupaya untuk melakukan pembinaan, jangan sampai kasus anak tidak sekolah di Kudus semakin bertambah,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Ratusan Pedagang Sayur Pilih Tetap Bertahan di Pasar Bitingan Kudus

0
Relokasi pedagang sayur malam Pasar Bitingan Kudus ke Pasar Saerah pada Kamis (8/1/2025) malam gagal. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Relokasi pedagang sayur malam Pasar Bitingan Kudus ke Pasar Saerah pada Kamis (8/1/2025) malam gagal. Hanya sebagian kecil yang pedagang yang bersedia pindah ke pasar milik swasta tersebut, sementara lainnya menolak.

Penolakan itu dilakukan oleh pedagang sayur yang ada di pelataran Pasar Bitingan. Hal tersebut yang memicu para pedagang yang ada di jalan turut enggan untuk pindah.

Baca Juga: Kades di Kudus Pasrah Dana Desa Turun Drastis, Sebut Tak Bisa Lakukan Pembangunan Lagi

Salah satu pedagang yakni Amman mengatakan, bahwa relokasi ke Pasar Saerah yang notabene milik swasta bukanlah yang diinginkan oleh para pedagang. Jika dilarang berjualan di trotoar atau di jalan, seharusnya pemerintah daerah membangun pasar yang layak.

“Pedagang yang diinginkan itu ada tempat yang layak untuk berjualan. Tempatnya strategis, pasar milik pemda, bukan milik swasta,” ujar Aman.

Setelah pemda bangun pasar, lanjutnya, baru ada relokasi pedagang secara serentak. Jika hal itu dilakukan, pasti pedagang bersedia pindah dengan senang hati.

“Bukan malah direlokasi ke pasar milik swasta. Kita tidak mau pindah ke Pasar Saerah. Kita inginnya dibangunkan pasar oleh penerintah daerah,” sebutnya.

Sementara ketua paguyuban pedagang sayur Pasar Bitingan Kudus, Kunarto menuturkan, pihaknya tetap menolak direlokasi ke Pasar Saerah. Menurutnya, sesuai Pasal 2 huruf g Perda Kudus Nomor 2 Tahun 2025 mendukung optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kalau kita pindah ke Pasar Saerah, tidak ada pemasukan ke kas daerah. Itu namanya korupsi,” ujar Kunarto.

Selain itu, ia juga mempertanyakan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Kudus dengan pihak Pasar Saerah. Menurutnya, pedagang berhak mengetahui kesepakatan tersebut.

“Hingga saat ini pedagang sayur yang diminta untuk pindah ke Pasar Saerah itu belum mendapatkan MoU tersebut,” bebernya.

Kunarto juga mempersilahkan pedagang sayur yang ada di Jalan Mayor Basuno dan Jalan dr Loekmono Hadi untuk pindah ke Pasar Saerah. Sebab, mereka melanggar Undang-Undang (UU) Lalu Lintas, serta Perda Kudus Nomor 11 Tahun 2017.

“Di situ merupakan kawasan merah bagi pedagang. Total ada sekitar 200 pedagang yang berjualan di dua ruas jalan tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga: Gedung Perpustakaan Baru di Kudus Siap Layani Masyarakat

Oleh karena itu, pihaknya tidak mau bernegoisasi dengan para pedagang sayur di jalan. Ia juga menegaskan bahwa pedagang sayur di pelataran Pasar Bitingan tetap bertahan dan menolak untuk direlokasi ke Pasar Saerah.

“Kami pedagang sayur di pelataran Pasar Bitingan totalnya ada 400 orang dan menolak untuk direlokasi,” tandasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tak Hanya Ngantor di Desa, Bupati Jepara Bakal Luncurkan Program Baru Ngopi Bareng

0
Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Selain program Bupati Ngantor di Desa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara akan melaunching program baru bernama “Ngopi Bareng” yang merupakan singkatan dari Ngolah Pikir Bareng Kepala Desa. 

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Muh Ali mengatakan dua program itu merupakan program khusus dari Bupati Jepara, Witiarso Utomo. 

Baca Juga: Siswa di Jepara yang Terpapar Ideologi Ekstrem Ternyata Korban Bullying dan Bukan Target Utama

Perbedaan utama dari kedua program itu yaitu pada pelaksanaan dan sasaran kegiatan. 

Jika program Bupati Ngantor di Desa dilaksanakan setiap satu minggu sekali pada hari Selasa, difokuskan di satu desa untuk menggali persoalan di satu kecamatan. Maka Program Ngopi Bareng dilaksanakan satu minggu sekali di hari Rabu dengan fokus langsung pada permasalahan di masing-masing desa. 

“Jadi kalau di Ngopi Bareng, itu nanti sasarannya satu hari di dua desa. Kalau Ngantor di Desa kan satu hari satu desa fokusnya persoalan di satu kecamatan,” kata Muh Ali saat ditemui di Kantor Dinsospermades Jepara, Jumat (9/1/2026). 

Muh Ali melanjutkan program baru itu rencananya akan dilaunching pada tanggal 22 Januari mendatang. 

Desa pertama yang dipilih yaitu Desa Papasan, Kecamatan Bangsri serta Desa Wedelan atau Guyangan, Kecamatan Bangsri.  

“Lokasinya di Balai Desa atau di tempat manapun bisa, menyesuaikan,” ujarnya.  

Adapun penentuan desa terpilih akan ditunjuk langsung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara. Dengan syarat kepala desa proaktif serta sudah melunasi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 

“Yang milih desanya dari kita (Pemkab), yang petingginya pro aktif dan lunas PBB,” katanya. 

Dalam pelaksanaan program itu, Muh Ali mengatakan nantinya juga akan dilakukan pembahasan terkait pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). 

Pihak desa nantinya akan diajak berdiskusi apakah penggunaan dana desanya selama ini sudah sesuai ketentuan atau tidak. 

Baca Juga: Kronologi Lengkap 11 Siswa SDN 2 Jatibarat Jepara Diduga Alami Keracunan Jajan 

Selain itu, melalui program tersebut, Bupati Jepara juga ingin menyelaraskan visi-misi dari program Jepara Mulus ke masing-masing desa. 

“Setiap desa APBDes-nya nanti akan kita buka, bener ngga cara penganggarannya. Serta harapannya pak bupati, dengan turunnya dana desa, desa ini bisa improvisasi untuk menaikkan pendapatan desa,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dana Desa di Jepara Berkurang Rp149 Miliar, Tertinggi Desa Bangsri Capai 80,27%  

0
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Muh Ali. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Alokasi pembagian dana desa di Kabupaten Jepara untuk anggaran tahun 2026 berkurang Rp149 miliar dari alokasi tahun sebelumnya mencapai Rp213 miliar. 

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Muh Ali mengatakan alokasi dana desa tahun 2026 baru dikeluarkan oleh pemerintah pusat pada tanggal 30 Desember 2025 lalu.  

Baca Juga: Siswa di Jepara yang Terpapar Ideologi Ekstrem Ternyata Korban Bullying dan Bukan Target Utama

Pada tahun anggaran 2026, Muh Ali menyebutkan alokasi jumlah dana yang diterima 184 desa di Kabupaten Jepara yaitu Rp64,6 miliar. Rata-rata pengurangannya yaitu 68,62 persen. 

“Alokasi dana desa untuk 184 desa di Kabupaten Jepara di tahun 2026 tinggal sekitar Rp64 miliar, berkurang Rp149 miliar,” kata Muh Ali saat ditemui di Kantor Dinsospermades Jepara, Jumat (9/1/2026).  

Dari 184 desa di Kabupaten Jepara, Muh Ali melanjutkan pengurangan alokasi dana desa tertinggi yaitu Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri. 

Pada tahun 2025, jumlah dana desa yang diterima Desa Bangsri mencapai Rp1,89 miliar. Di tahun 2026, dana desa yang diterima hanya Rp373,4 juta. Berkurang Rp1,51 miliar atau 80,27 persen. 

Saat ini, Muh Ali mengatakan petinggi atau kepala desa di Kabupaten Jepara sudah mengetahui hal tersebut. 

Untuk pelaksanaan program kegiatan di tahun 2026, Muh Ali melanjutkan akan tetap berpedoman pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang sebelumnya sudah ditetapkan. 

“Pelaksanaan kegiatan tetap pakai data lama yang sebelumnya sudah ditetapkan. Hanya saja pelaksanaanya mendahulukan yang jadi program prioritas,” jelasnya. 

Sesuai Peraturan Menteri Desa (Permendes) Nomor 16 Tahun 2025 tentang petunjuk operasional atas fokus penggunaan dana desa tahun 2026, terdapat delapan sektor yang menjadi fokus utama penggunaan dana desa.  

Yaitu penanganan kemiskinan ekstrem dengan penggunaan dana desa untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan target keluarga penerima manfaat menggunakan data pemerintah sebagai acuan. 

Penguatan desa berketahanan ikilm dan tangguh bencana, peningkatan promosi dan penyediaan layananan dasar kesehatan skala desa, program ketahanan atau lumbung pangan. 

Baca Juga: Kronologi Lengkap 11 Siswa SDN 2 Jatibarat Jepara Diduga Alami Keracunan Jajan 

Dukungan Koperasi Merah Putih, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur desa melalui program padat karya tunai desa, pembangunan infrastruktur digital dan teknologi desa, serta program sektor prioritas lainnya termasuk pengembangan potensi dan keunggulan desa. 

“Dengan berkurangnya alokasi, program yang sebelumnya sudah disusun memang tidak semua bisa dijalankan. Yang ngga boleh diantaranya rehab kantor balai desa dengan anggaran di atas Rp25 juta. Program Bansos masih, tapi alokasinya mungkin turun,” pungkas Muh Ali.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

PAD dari Sektor Pajak di Pati Tembus Rp320 M, BPKAD Sebut Surplus Rp30 M

0
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Pati, Febes Mulyono. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pati pada tahun 2025 dari sektor pajak disebut melebihi target atau surplus. Untuk capaian surplus PAD Pajak itu, mencapai Rp30 miliar.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Pati, Febes Mulyono menyebut, target PAD dari pajak sebesar Rp290 miliar. Sementara capaiannya tembus hingga Rp320 miliar.

Baca Juga: Dapat Dispensasi Nikah Dini, Tapi 6 Bulan Setelahnya Dua Remaja di Pati Ini Malah Ajukan Cerai

“Pajak itu surplus Rp30 miliar. (Target) Rp290 miliar jadi Rp320 miliar,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Febes menjelaskan, ratusan miliar tersebut bersumber dari sejumlah sektor pajak. Di antaranya yakni Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB).

Namun pihaknya belum bisa menjelaskan secara rinci terkait pendapatan pajak. Ia menyebut hal ini lantaran BPKAD Pati masih perlu melakukan rekonsiliasi.

“TNKB opsen paling banyak. Kemudian dari BPHTB paling banyak. Secara detail nanti setelah rekonsiliasi,” ucapnya.

Baca Juga: Selama Setahun Jumlah Janda di Pati Tembus 2.406 Orang

Febes menambahkan, pihaknya baru bisa mengeluarkan rincian pendapatan dari pajak setelah rekonsiliasi selesai.

“Nanti kalau sudah rekonsiliasi. Tapi yang pasti PAD khusus pajak naik Rp30 miliar. Itu perkiraan data yang masuk. Cuma kita belum rekonsiliasi,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kades di Kudus Pasrah Dana Desa Turun Drastis, Sebut Tak Bisa Lakukan Pembangunan Lagi

0
lustrasi Dana Desa. Foto: Betanews

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala desa di masing-masing daerah wilayah Kabupaten Kudus mengaku pasrah, dengan adanya penurunan drastis alokasi anggaran Dana Desa (DD) di tahun 2026 ini. Diketahui, Dana Desa untuk wilayah Kabupaten Kudus tahun 2025 sebesar Rp140.654.773.000, sedangkan tahun ini DD Kabupaten Kudus Rp44.002.864.000 atau hanya menerima 31 persen dari alokasi anggaran di tahun sebelumnya.

Seperti Desa Tanjungrejo misalnya, kini hanya menerima DD sebesar Rp373.456.000 di tahun ini. Padahal di tahun 2025 desa tersebut menerima DD sebesar Rp1,5 miliar.

Baca Juga: Lampui Target, Realisasi Pajak Kendaraan di Samsat Kudus Tahun 2025 Capai Rp133 M

Hal itu tentu sangat berpengaruh dan berdampak pada kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan desa. Kepala Desa Tanjungrejo, Christian Rahardiyanto menyebut bahwa dana desa yang menurun itu sangat berdampak pada kegiatan pemberdayaan.

“Sebagai contoh, pelayanan posyandu akan menurun. Dari yang sebelumnya setiap bulan bisa memberikan PMT untuk bayi sekitar 33-35 balita di masing-masing posyandu, sekarang menurun dibagikan setiap dua bulan sekali,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (7/1/2026).

Sehingga dengan dana desa yang akan diterima pada tahun ini pihaknya tak bisa melaksanakan pembangunan infrastruktur seperti biasanya. Berbeda ketika desa tersebut mendapatkan sumber alokasi anggaran lain, misalnya bantuan keuangan (Bankeu) dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun dari Pemerintah Kabupaten Kudus.

“Jadi saat ini kami tidak mikir bangun (infrastruktur). Bangunnya bisa dilakukan ketika ada sumber pendapatan lainnya,” ujarnya.

Saat disinggung terkait pendapatan asli daerah (PAD), pihaknya menjelaskan, bahwa itu tergantung kemampuan dari masing-masing desa. PAD Desa Tanjungrejo menurutnya termasuk kecil, dari lelang tanah desa dan pendapatan lainnya hanya mampu mengasilkan sebesar Rp225 juta per tahunnya.

“Mendongkrak PAD itu harus sepandai-pandainya kita ada inovasi untuk mengelola lahan desa, misalnya sekitar lapangan yang bisa dimanfaatkan sebagai spes lapak UMKM. Cuma kita harus menghormati proses perizinan, termasuk lahan itu masuk LP2B, masuk lahan pangan berkelanjutan atau tidak, merupakan lahan hijau tidak, itu harus kita kaji dulu,” terangnya.

Mau tidak mau, Chris hanya bisa pasrah untuk terus melaksanakan penganggaran sesuai dengan petunjuk teknis. Baik itu Peraturan Presiden (PP), Permendes, maupun Inpres (intruksi Presiden) yang dilakukan dengan prioritas dana desa.

“Memang berdampak pada kegiatan sosial pemberdayaan. Contohnya DD sudah diatur ada tujuh penggunaan, seperti ADD, ketahanan pangan, posyandu, proklim, dan bencana itu menjadi prioritas,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Desa Berugenjang, Kiswo. Menurutnya, adanya penurunan alokasi anggaran DD di tahun ini, beberapa kades di masing-masing daerah tak bisa banyak berbuat.

Baca Juga: BBWS Disebut Setujui Desain Dermaga Ponton di Kawasan Bendung Logung, Tapi…

“Dampaknya besar sekali, kita tak bisa mengingatkan ikat pinggang. Kami tidak bisa membangun infrastruktur desa, tentunya harus melakukan pengurangan pada kegiatan-kegiatan posyandu, serta BLT menurun banyak,” sebutnya.

Ia menambahkan, Desa Berugenjang tahun 2026 ini mendaptkan DD sebesar Rp282.750.000 atau turun 40 persen dari tahu sebelumnya yang mendapat DD sekitar Rp700 juta.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jaga Khasanah Keislaman Nusantara, Wagub Jateng Dorong Digitalisasi Berbasis AI

0
Tembayatan Punden dan Belik Kasunanan Kudus, dengan mengusung tema besar ”Menyebarkan Energi Peradaban Aulia” di Kompleks Masjid Al-Aqsha Menara Kudus pada Rabu (7/1/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Guna menjaga khasanah keislaman nusantara, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mendorong dokumentasi dan digitalisasi ajaran para wali dengan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hal itu disampaikan saat kegiatan Tembayatan Punden dan Belik Kasunanan Kudus, dengan mengusung tema besar ”Menyebarkan Energi Peradaban Aulia” di Kompleks Masjid Al-Aqsha Menara Kudus pada Rabu (7/1/2026).

Baca Juga: Lampui Target, Realisasi Pajak Kendaraan di Samsat Kudus Tahun 2025 Capai Rp133 M

Menurut dia, banyak wali di Indonesia yang mengajarkan mengenai budaya maupun dakwah Islam, sehingga ajarannya perlu terus dilestarikan.

“Sejarah para wali ini perlu kita modernisasikan, tidak hanya menjadi sebuah cerita. Kalau bisa, gambar-gambar wali dengan dawuh-dawuhnya itu, di-AI-kan,” kata sosok yang akrab disapa Gus Yasin ini.

Pemanfaatan AI, lanjut dia, sebagai alat bantu untuk memperluas jangkauan edukasi dan literasi sejarah kepada generasi muda.

“Jadi, anak-anak ketika buka short di YouTube, yang muncul adalah Sunan Kalijaga, Sunan Kudus. Muncul wajah para wali dengan dawuh-dawuhnya (ajaran-ajarannya), dengan cerita-ceritanya, itu akan menarik,” kata Gus Yasin.

Ia mengatakan, saat ini anak-anak dan generasi muda tidak lagi terlalu tertarik membaca sejarah atau menelusuri peradaban masa lalu. Mereka, lanjut Gus Yasin, lebih akrab menerima informasi dengan teknologi. Oleh karenenya, pemanfaatan teknologi perlu dimaksimalkan untuk memperluas khasanah keislaman tersebut.

Baca Juga: BBWS Disebut Setujui Desain Dermaga Ponton di Kawasan Bendung Logung, Tapi…

Gus Yasin menyebut, banyak kisah para wali yang kini tidak lagi populer di kalangan anak muda. Padahal, kisah-kisah itu bisa dijadikan suri teladan untuk generasi sekarang.

Dalam kesempatan itu, Taj Yasin juga memberikan penghargaan kepada para tokoh atas ketulusan Khidmah dalam merawat laku dan jejak peradaban leluhur Kudus.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -