Beranda blog Halaman 89

Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Pati, 9 Kecamatan Terdampak

0
Bencana longsor terjadi di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Sabtu (10/1/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Pati mengakibatkan sejumlah wilayah diterjang banjir hingga longsor. Setidaknya, ada sembilan kecamatan terdampak bencana tersebut.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penangguhan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya menyampaikan, sembilan kecamatan yang terdampak banjir dan tanah longsor tersebut tersebar di Pegunungan Muria hingga pesisir Pantura Pati.

”Kalau banjir  melanda sejumlah desa. mulai di Kecamatan Dukuhseti, Pati Kota, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Margorejo, Gembong (banjir). Sedangkan tanah longsor ada di Gunungwungkal, Gembong (Desa Klakahlasihan) dan Tlogowungu (Desa Gunungsari),” ujar Martinus, Sabtu (10/1/2026).

Baca juga: Longsor Tutup Jalan Pulingan–Pangonan Pati, Aktivitas Warga Lumpuh Total

Banjir dan tanah longsor ini terjadi pada Jumat (9/1/2026) malam. Sebelum bencana ini terjadi, wilayah Pegunungan Muria dan Kabupaten Pati diterjang hujan lebat sejak Jumat sore kemarin.

Hal ini memicu longsor dan sejumlah tanggul sungai jebol. Kebanyakan banjir ini merupakan banjir bandang dengan membawa lumpur dan puing-puing kayu. Saat ini banjir sudah surut. Tinggal menyisakan puing-puing. Sejumlah rumah mengalami kerusakan.

Ketika ditanya jumlah desa yang terdampak banjir dan tanah longsor ini, Martinus mengaku belum mengatahui secara persis. Namun setidaknya puluhan desa di sembilan kecamatan tersebut terdampak bencana.

”Kalau jumlah desanya puluhan desa. Di Pati kota saja itu mulai Sidokerto, Kalidoro, Pati Wetan, Sidoharjo, Dengkek, Widorokandang. Itu yang Pati Kota. Margorejo juga ada juga. Pati dn Margorejo saja sudah 10 desa lebih belum yang lain,” ungkapnya.

Baca juga: Tanah Bergetar Lalu Ambruk, Warga Ceritakan Detik-detik Tanggul Longsor di Metaraman Pati

Banjir bandang yang terparah di Desa Bulumanis Kidul dan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso. Ratusan rumah terdampak banjir bandang.

”Yang parah Bulumanis Kidul, Tunjungrejo, Ada sejumlah tanggul yang rusak,” kata dia.

Sementara salah satu desa yang terdampak tanah longsor yakni, Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu. Setidaknya 13 titik longsor terjadi di desa yang berada di lereng Pegunungan Muria ini. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Terisolir Akibat Longsor, Pemkab Jepara Upayakan Jalur Alternatif Menuju Desa Tempur

0
Petugas membersihkan tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Sabtu (10/1/2026). Foto: Umi Nurfaizah. 

BETANEWS.ID, JEPARA – Akses keluar masuk menuju Desa Tempur, Kecamatan Keliling, Kabupaten Jepara saat ini masih tertutup total karena tertutup material longsor. Akibatnya, desa yang berada di sebelah timur lereng Gunung Muria itu kini terisolir.

Peristiwa tanah longsor itu terjadi pada Jumat, (9/1/2026) malam akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Jepara sejak beberapa hari terakhir.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar mengatakan tidak hanya menutup akses jalan, tanah longsor di Desa Tempur juga membuat tiga rumah tertimpa langsung material longsor.

Baca juga: 18 Titik Longsor Kepung Desa Tempur Jepara, Akses Jalan Masih Tertutup Total 

“Saat ini Tempur terisolir, ada 18 titik ruas jalan yang saat ini terdampak material longsor. Prioritas utama kami adalah membuka akses agar bantuan dan evakuasi bisa dilakukan,” kata Ary saat meninjau lokasi tanah longsor di Desa Tempur, Sabtu (10/1/2026).

Menanggapi kondisi darurat itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menurutnya segera mengerahkan bantuan. Tim Tagana dari Dinas Sosial dan Dapur Umum dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) disiagakan untuk memastikan kebutuhan pokok warga.

Genset juga sedang diupayakan untuk dikirim guna mengatasi pemadaman listrik total dari PLN yang memperparah kondisi dan memutus komunikasi.

Bantuan kemanusiaan juga datang dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Jepara yang memberikan bantuan langsung berupa Gas 12 kg, 2 tabung, Mie instan 5 dus, Telur 2 krat, BBM 100 liter untuk operasional genset dan Air mineral Bantuan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan darurat wargaggu akses jalan pulih.

Pemkab menjalankan dua strategi paralel untuk segera mengatasi isolasi Desa Tempur. Pertama, melakukan perbaikan permanen pada jalan yang putus. Kedua, dan yang sedang diupayakan segera, adalah membuka jalur alternatif darurat.

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

“Kami sudah berkoordinasi dengan Perhutani untuk meminjam tanah guna membuka jalur alternatif sementara. Harapannya, dalam waktu dekat sudah ada akses darurat yang bisa digunakan warga,” jelasnya.

Langkah ini diambil karena perbaikan jalan yang putus diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama akibat kerusakan yang masif.

Ary juga mengimbau seluruh camat dan kepala desa di wilayah rawan untuk meningkatkan kewaspadaan. Bencana serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa titik lain seperti banjir di Desa Sumberjo, Kecamatan Donorojo dan longsor di Desa Bungu, Kecamatan Mayong menunjukkan tingginya potensi bencana di Kabupaten Jepara saat ini.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Desa Tempur Jepara Terisolir Akibat Dikepung Longsor, Jaringan Listrik Mati Total 

0
Petugas sedang menyingkirkan timbunan longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Sabtu (10/1/2026). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Desa Tempur, Kecamatan  Keling, Kabupaten Jepara sejak Jumat, (9/1/2025) malam terisolir akibat dikepung bencana tanah longsor yang terjadi di beberapa titik.  

Total terdapat 18 titik ruas jalan yang sampai saat ini masih tertutup material longsor yang mengakibatkan akses keluar masuk menuju desa yang berada di sebelah timur Lereng Gunung Muria itu tertutup total. 

Camat Keling, Lulut Andi Riyanto mengatakan material longsor tidak hanya menutup akses jalan, tetapi juga merobohkan tiang jaringan listrik. Sehingga membuat aliran listrik di Desa Tempur saat ini juga mati. 

Baca juga: 18 Titik Longsor Kepung Desa Tempur Jepara, Akses Jalan Masih Tertutup Total 

Dari pihak PLN, menurut Lulut sudah melakukan koordinasi. Hanya saja, karena kondisi cuaca di lapangan masih terjadi hujan deras disertai angin kencang, pihak PLN belum bisa melakukan perbaikan pada tiang jaringan listrik yang roboh. 

“PAL jaringan listrik PLN ini juga banyak yang roboh, tidak hanya satu dua. Semalam kami sudah berkoordinasi. Tapi mereka belum berani bergerak ketika kondisi masih seperti ini. Bawa kabel yang ada aliran listrik ini kan rawan, resikonya tinggi,” kata Lulut saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (10/1/2026). 

Untuk kebutuhan jaringan listrik, Lulut mengatakan warga Desa Tempur biasanya menggunakan genset berbahan bakar BBM. Namun, karena akses masih tertutup total, penyaluran logistik itu saat ini masih terkendala. 

“Logistik yang kemungkinan terkendala ini BBM untuk menyalakan genset, karena listriknya padam,” ujar Lulut. 

Lulut melanjutkan, upaya untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor saat ini masih terus dilakukan. 

Fokus utama saat ini yaitu mencari jalur alternatif agar bantuan logistik bagi warga bisa tersalurkan. Salah satunya dengan berkomunikasi dengan komunitas trail untuk mencoba apakah bisa melewati jalur yang bisanya mereka lewati. 

Baca juga: Banjir Bandang Terjang Bulumanis Kidul Pati, Belasan Rumah Rusak Parah

“Sudah kita lakukan beberapa cara untuk membuka jalur, termasuk komunikasi dengan komunitas trail, bisa ngga pakai jalur yang biasanya buat trabas, dipakai untuk nembus kesana. Minimal nanti bisa kita pakai untuk jalur distribusi,” jelas Lulut. 

Akibat kondisi cuaca yang belum membaik, Lulut mengatakan potensi terjadinya longsor susulan juga dikhawatirkan akan kembali terjadi. 

“Kondisi di lapangan memang tidak mudah. Ketika kita bersihkan bagian depan, saat mau ke jalur selanjutnya , ternyata yang belakang longsor lagi,” ungkap Lulut.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Jembatan Penghubung Antar-Dukuh di Klakahkasihan Pati Putus Diterjang Banjir

0
Jembatan yang menghubungkan Antar-Dukuh di Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong, Pati, putus usai diterjang banjir bandang pada Jumat (8/1/2026) malam. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Jembatan yang menghubungkan Antar-Dukuh di Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong, Pati, putus usai diterjang banjir bandang pada Jumat (8/1/2026) malam. Akibatnya, akses jalan yang menghubungkan beberapa dukuh di dua desa di Kecamatan Gembong, yakni Klakahkasihan dan Bageng juga terputus.

Dari pantauan di lapangan, tampak jembatan yang berada di sisi bagian barat ambruk ke tengah sungai. Hal ini karena penyangga bangunan jembatan di bagian ujung runtuh. Sedangkan sisi sungai atau tebing tampak longsor hingga memutus jalan cor menuju jembatan.

Dengan putusnya jembatan yang berada di Dukuh Domo tersebut, warga yang biasanya mengakses jalan melalui jembatan itu terpaksa harus memutar melalui jalan lain yang lebih jauh.

Baca juga: Longsor Tutup Jalan Pulingan–Pangonan Pati, Aktivitas Warga Lumpuh Total

Sartono, salah satu warga menyebutkan, peristiwa putusnya jembatan tersebut terjadi sekitar pukul 20..00 WIB saat debit air sungai meningkat drastis akibat hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan Muria sejak sore hari.

Menurutnya, jembatan tersebut merupakan akses vital bagi warga untuk beraktivitas sehari-hari, mulai dari berangkat ke sawah, ke pasar, hingga anak-anak yang bersekolah. Dengan putusnya jembatan, warga harus memutar sejauh beberapa kilometer melalui jalur lainnya.

“Harus memutar, ya lumayan jauh. Bisa lewat Kendil, Klakah. Tapi memang agak jauh, ” ungkapnya.

Sartono menyebut, jembatan yang berada di Domo tersebut, menjadi menjadi alternatif bagi warga yang terdapat di beberapa dukuh. Di antaranya, Klakahkasihan, Karang Panas, Pakis, Jimat, hingga Pondokan (Desa Bageng).

Pihaknya berharap ada penanganan darurat secepatnya, minimal pemasangan jembatan sementara agar aktivitas warga tidak terlalu terganggu.

Baca juga: Tanah Bergetar Lalu Ambruk, Warga Ceritakan Detik-detik Tanggul Longsor di Metaraman Pati

Sementara itu, Kepala Desa Klakahkasihan Handziq S.J mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah kecamatan dan BPBD Kabupaten Pati.

Untuk sementara, warga diimbau tidak mendekati lokasi jembatan karena dikhawatirkan masih terjadi longsor susulan.

“Kami telah melaporkan kejadian ini kepada pihak kecamatan maupun pemkab, ” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Harga Tenda Lebih Murah, Pendaftaran Stan Dandangan Kudus 2026 Mulai Dibuka Senin

0
Manajer Festival Dandangan Kudus 2026, Anjas Pramono. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pelaksanaan Festival Dandangan Kudus tahun 2026 dipastikan akan mengalami penyesuaian signifikan, terutama pada penurunan harga sewa tenda bagi pedagang lokal. Pendaftaran pedagang dijadwalkan dibuka mulai Senin (12/1/2026) hingga 15 Januari 2026, baik secara online maupun offline.

Manajer Festival Dandangan Kudus 2026, Anjas Pramono, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai stakeholder dan mendapat amanah sebagai koordinator pelaksanaan Dandangan tahun depan.

Alhamdulillah kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan saya diamanahi sebagai koordinator Dandangan 2026. Kami juga sudah memutuskan harga serta rundown pendaftaran,” ujarnya.

Baca juga: Bakal Ada 500 Stand di Dandangan 2026 Kudus, Harga Mulai Rp1,5 Juta

Anjas menjelaskan, sejak awal panitia memang berkeinginan menurunkan harga sewa tenda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan tersebut juga merupakan arahan langsung dari Bupati dan Wakil Bupati Kudus agar harga bisa ditekan, khususnya untuk pedagang lokal.

“Tahun ini kami tetapkan harga terendah mulai Rp1 juta khusus warga Kabupaten Kudus. Itu sudah termasuk tenda 3×3 meter, listrik selama 12 hari, biaya kebersihan, dan retribusi daerah,” jelasnya.

Sementara untuk pedagang dari luar Kabupaten Kudus, tidak mendapatkan subsidi sehingga dikenakan tarif lebih tinggi dengan selisih sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per blok. Meski demikian, fasilitas yang diperoleh tetap sama.

Untuk lokasi, kawasan Dandangan dibagi menjadi tujuh blok, yakni A, B, C, D, E, F, dan G. Rincian lokasi, jumlah tenda, serta harga tiap blok dapat diakses melalui tautan spreadsheet yang telah disediakan oleh panitia.

Pendaftaran online akan dibuka mulai pukul 09.00 WIB dengan nomor admin pemasaran yang diumumkan secara resmi. Selain itu, panitia juga membuka pendaftaran offline di Cafe Dekranasda, dekat Alun-alun Kudus, dengan syarat membawa KTP Kudus.

“Pendaftaran offline ini untuk memfilter pedagang lokal dan non-lokal sekaligus mencegah praktik percaloan,” tegas Anjas.

Terkait jadwal pelaksanaan, Festival Dandangan 2026 direncanakan berlangsung mulai 7 hingga 18 atau 19 Januari 2026, menyesuaikan dengan penetapan awal puasa. Durasi pelaksanaan diperpanjang dari sebelumnya 10 hari menjadi 12 hari, tanpa kenaikan harga.

“Pertimbangannya karena musim hujan dan arahan Pak Bupati, supaya pedagang punya waktu lebih panjang untuk mendapatkan hasil maksimal. Apalagi nanti ada dua akhir pekan yang biasanya menjadi puncak penjualan,” katanya.

Baca juga: Dandangan Kudus 2026 Dipastikan Bebas Calo, Pendaftaran Stand Berbasis Digital

Untuk komposisi pedagang, panitia menargetkan di blok E, F, dan G minimal 70 persen diisi warga Kudus. Sedangkan di blok A, B, C, dan D ditargetkan 50 hingga 60 persen pedagang lokal.

Meski harga sewa diturunkan, Anjas optimistis pendapatan retribusi daerah tetap bisa meningkat melalui sistem pendaftaran yang lebih transparan dan terbuka.

“Kami yakin dengan sistem yang lebih tertib, meskipun harga ditekan, retribusi tetap bisa meningkat dari tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Ia menambahkan, untuk harga sewa tenda bervariasi. Untuk di blok A-D harga dibandrol mulai Rp1-1,5 juta. Sedangkan untuk stand di blok E-G harga sewanya antara Rp3-3,5 juta.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga Terdampak

0
Sejumlah pengguna jalan menerobos banjir di Desa Mejobo, Kudus, Sabtu (10/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kudus menyebabkan bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah kecamatan. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (9/1/2026) dan masih menyisakan dampak hingga Jumat dini hari.

Kepala BPBD Kudus melalui Kasi Kedaruratan, Ahmad Munaji, menjelaskan bahwa hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah Pegunungan Muria dan Kudus bagian bawah sejak semalam. Curah hujan ekstrem ini menyebabkan debit Sungai Gelis, Sungai Piji, Sungai Dawe, serta sungai-sungai anakan lainnya meningkat drastis.

“Intensitas hujan sangat tinggi, bahkan di wilayah hulu Pegunungan Muria tercatat lebih dari 500 milimeter. Kondisi ini membuat tanah menjadi labil dan tidak mampu menahan resapan air,” ujar Munaji melalui siaran tertulisnya, Jumat (10/1/2026).

Baca juga: Dinding Rumah Warga Purwosari Kudus Amblas Saat Air Sungai Meluap

Lebih lanjut ia menuturkan, BPBD Kudus mencatat, banjir dan limpasan sungai berdampak pada wilayah Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae. Sementara itu, tanah longsor terjadi di Kecamatan Dawe dan Gebog, terutama di wilayah perbukitan.

Di Kecamatan Mejobo, banjir masih menggenangi enam desa hingga pukul 05.00 WIB. Desa Mejobo menjadi wilayah terdampak terparah dengan 600 kepala keluarga (KK) atau 1.741 jiwa terdampak. Serta 30 rumah terendam air dengan ketinggian mencapai 40 sentimeter. Selain itu, ratusan hektare persawahan juga tergenang.

Sementara di Kecamatan Kota, banjir sempat merendam Desa Singocandi dan Demangan akibat limpasan Sungai Gelis. Talud sungai dilaporkan amblas dan sebagian jalan mengalami longsor. Kondisi banjir di wilayah ini berangsur surut sejak Kamis malam (9/1/2025).

Dampak banjir juga dirasakan warga Kecamatan Jekulo dan Bae. Di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, sebanyak 500 KK terdampak, dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter.

Sedangkan di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, banjir merendam permukiman warga dengan 650 KK terdampak.

Selain banjir, longsor terjadi cukup parah di Kecamatan Dawe. Di Desa Colo, longsoran jalan kabupaten menuju kawasan wisata ziarah Sunan Muria menyebabkan jembatan ambruk sepanjang 50 meter dengan kedalaman sekitar 20 meter. Dua mobil sempat terseret masuk sungai, namun tiga korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

“Total sementara warga terdampak bencana banjir dan longsor mencapai 2.815 KK atau 8.834 jiwa. Kerugian materil masih dalam proses pendataan,” jelas Munaji.

Dia menuturkan, BPBD Kudus bersama Pemkab Kudus, TNI, Polri, BBWS Pemali Juana, relawan kebencanaan, dan pemerintah desa terus melakukan penanganan darurat. Upaya yang dilakukan meliputi penutupan tanggul dengan plastik, pembersihan material longsor, evakuasi warga, serta penyaluran logistik.

“Pemerintah Kabupaten Kudus saat ini masih menetapkan Status Siaga Darurat Bencana berdasarkan Keputusan Bupati Kudus hingga 31 Mei 2026. Masyarakat di wilayah rawan bencana diimbau tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dan pergerakan tanah,” sebutnya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Banjir Bandang Terjang Bulumanis Kidul Pati, Belasan Rumah Rusak Parah

0
Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, kembali diterjang banjir bandang. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, kembali diterjang banjir bandang. Peristiwa yang terjadi pada Jumat (9/1/2026) malam itu mengakibatkan belasan rumah rusak parah, sementara ratusan rumah lainnya terendam lumpur dan air bah.

Sedikitnya tujuh RT terdampak banjir bandang tersebut. Ratusan rumah dipenuhi lumpur setinggi 5 hingga 20 sentimeter. Tak hanya lumpur, puing-puing bangunan hingga potongan kayu berserakan dan menutup sejumlah akses di desa tersebut. Kendaraan warga, baik sepeda motor maupun mobil, ikut tertimbun material banjir.

Ketua RT 1 RW 2 Desa Bulumanis Kidul, Dwi Yuda Kartika mengungkapkan, banjir bandang bermula dari hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Pati sejak sore hari. Intensitas hujan terus meningkat hingga malam.

Baca juga: Longsor Tutup Jalan Pulingan–Pangonan Pati, Aktivitas Warga Lumpuh Total

Sekitar pukul 21.00 WIB, tanggul Sungai Suwatu mulai jebol. Kondisi itu memicu kepanikan warga. Teriakan histeris terdengar di sejumlah titik, sementara warga berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Setengah jam berselang, kerusakan tanggul kian parah. Air sungai meluap deras dan merendam ratusan rumah dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,2 meter. Meski kini banjir telah surut, sisa lumpur tebal masih menyelimuti permukiman warga.

”Semalam mungkin dari jam 6 sampai jam 8 malam hujan tambah deras. Terus jam 9 malam tanggul sudah mulai jebol. Terus puncaknya sekitar jam setengah 10 malam  semakin jebol dan rumah pada rusak,” ujar Yuda, Sabtu (10/1/2026).

Menurut Yuda, tanggul yang jebol memiliki panjang sekitar 20 meter. Tanggul tersebut sejatinya pernah mengalami kerusakan serupa pada 2022 dan telah diperbaiki. Namun, terjangan banjir bandang kali ini kembali merobohkannya.

”Tanggul lama yang kemarin tahun (2022 jebol, kini) jebol separo. Terus bertambah ke timur yang jebol. sekitar 20-an meter,” kata Yuda.

Hingga saat ini, besaran kerugian akibat bencana tersebut masih dalam pendataan. Kendati demikian, warga bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Baca juga: Tanah Bergetar Lalu Ambruk, Warga Ceritakan Detik-detik Tanggul Longsor di Metaraman Pati

”Dampak tidak separah dulu. Karena mungkin persiapan evaluasi sudah siap. Peringatan juga sudah ada duluan. Sempat panik dan teriak histeris. Ada sepuluhan rumah yang rusak yang terdampak 200 lebih,” ucapnya.

Hal senada disampaikan warga Desa Bulumanis Kidul lainnya, Slamet Sawo. Ia menilai banjir bandang dipicu oleh curah hujan yang sangat lebat di kawasan Pegunungan Muria, yang kemudian mengalir deras ke Sungai Suwatu.

Editor: Suwoko

- advertisement -

18 Titik Longsor Kepung Desa Tempur Jepara, Akses Jalan Masih Tertutup Total 

0
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Jepara sejak Jumat, (9/1/2026) malam mengakibatkan bencana tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling.  Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Jepara sejak Jumat, (9/1/2026) malam mengakibatkan bencana tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling. 

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, total terdapat 18 titik yang saat ini masih tertutup material longsor berupa tanah, batu besar, dan pohon tumbang. Akibatnya akses utama menuju Desa Tempur mulai dari Dukuh Kajang saat ini tertutup total. 

Camat Keling, Lulut Andi Ariyanto mengatakan upaya penanganan ruas jalan yang mengalami longsor terus dilakukan. Hanya saja kondisi cuaca yang masih terjadi hujan deras disertai angin kencang membuat potensi longsor susulan terus terjadi. 

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

“Sampai saat ini kita masih berupaya melakukan penanganan. Hanya saja kondisi di lapangan memang tidak mudah, cuaca cukup jadi kendala, karena sampai saat ini intensitas hujan masih cukup tinggi,” kata Lulut saat dihubungi melalui sambungan telepon, pada Sabtu, (10/1/2026). 

18 titik yang dilaporkan tertutup material longsor yaitu akses jalan di Basuno yang terdampak longsor dari tebing setinggi 20 meter dengan lebar 12 meter. 

Kemudian jalur leki dibagian atasnya juga terdapat beberapa titik yang mengalami longsor sehingga menutup akses jalan sepanjang 100 meter dengan ketebalan 1-1,5 meter. 

Lokasi Utara Dieng tertutup longsor sepanjang 13 meter dengan ketebalan satu meter dan sebagian badan jalan amblas. 

Kemudian masih di lokasi yang sama longsor menutup akses jalan sepanjang enam meter dengan ketebalan 0,5 meter. 

Di ‎Lokasi jembatan Dieng, material longsor dari tebing setinggi 100 metermenutup jalan sepanjang 60 meter dengan ketebalan 1-1,5 meter. Kondisi jembatan masih aman, hanya saja pagar jembatan Dieng hilang di sapu longsor.

Lokasi pertigaan samping spot foto selamat datang, badan jalan hilang total sepanjang 50 meter karena tergerus aliran sungai kali gelis. 

Kemudian di Lokasi kali longsor berasal dari sumber air sehingga menutup jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan 0,5 meter. 

Lokasi gorong-gorong kali bayi, longsor berasal dari sumber air, material batu dan pasir yang menutup jalan sepanjang 15 meter dengan  ketebalan 1 meter. 

Lokasi tebing kali bayi, longsor berasal dari tebing setinggi 200 meter. Akibatnya material longsor menutup jalan sepanjang 15 meter. 

Lokasi Tanjakan Gandu, longsor berasal dari tebing setinggi 20 mwter sehingga materialnya menutup lokasi tanjakan sepanjang 8 meter dengan tebal 1 – 1,5 m.

Lokasi gorong-gorong sebelah warung Kaliombo, longsor berasal dari sumber air, materialnya menutup jalan sepanjang 10 meter dengan tebal satu meter.

‎Lokasi sebelah selatan jembatan warna warni, longsor berasal dari sumber air yang membawa material batu menutup jalan sepanjang 20 meter dengan tebal 1-2 meter. 

Baca juga: Longsor Tutup Jalan Pulingan–Pangonan Pati, Aktivitas Warga Lumpuh Total

Lokasi tanjakan Pule, longsor berasal dari tebing setinggi 100 meter yang menerjang badan jalan sehingga pagar pengaman hilang total. Kemudian jurang di sampingnya setinggi 100 meter juga mengalami longsor.

‎Lokasi jembatan Pule, mengakibatkan badan jalan mengalami longsor sepanjang 50 meter. Sehingga untuk penanganannya diperlukan talud penguat jalan.

Lokasi jembatan mbah sujak, kondisi jembatan tertutup material longsoran batu besar, sehingga sungai pindah ke sampingnya, menggerus halaman rumah Mbah sujak dan  badan jalan sedalam 6 meter. 

‎Lokasi atas greenhouse mengalami longsor yang berasal dari sumber air yang menutup jalan sepanjang 20 meter dengan tebal material 0,5 meter.

terakhir, Lokasi Kali Unthok yang merupakan jalur ke Dukuh Duplak mengalami longsor dari tebing setinggi 20 m sehingga menutup badan jalan sepanjang 20 meter dengan tebal 1 meter.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Banjir Rendam Jalan Alternatif Kudus–Pati, Puluhan Motor Mogok di Mejobo

0
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Kudus mengakibatkan banjir di Desa Mejobo. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Kudus mengakibatkan banjir di beberapa titik. Salah satunya yang terdampak adalah Jalan Alternatif Kudus-Pati yang tergenang dan membuat puluhan motor mogok.

Dua dua titik di ruas Jalan Alternatif Kudus-Pati yang tergenang dan semuanya di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo. Satu titik berada di depan SD 3 Mejobo. Di lokasi tersebut jalan yang tergenang kurang lebih sepanjang 100 meter dengan ketinggian sekira 40 sentimeter.

Sedangkan yang satunya lagi di depan SMP 2 Mejobo ke timur dengan panjang kurang lebih 80 meter. Meski lebih pendek tapi genangannya lebih tinggi dan mencapai 50 sentimeter.

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

Akibat ruas jalan yang tergenang banjir tersebut, tampak terlihat banyak kendaraan roda dua yang melintas mogok. Mesin mati mendadak tak hanya terjadi pada motor tua saja, tetapi juga yang pengeluaran kurang dari lima tahun.

Salah satunya yakni Sheyla Syauqi motornya mogok ketika melintas digenangan air yang berada di depan SMP 2 Mejobo. Menurutnya, ketika melintas di genangan yang ada di depan SD 3 Mejobo aman.

“Tadi pas melintas genangan banjir di barat (depan SD 3 Mejobo) aman. Tapi pas di sini (depan SMP 2 Mejobo) malah mogok, di sini memang lebih dalam,” ujar Sheyla.

Nasib serupa dialami oleh Suparno. Motornya mogok ketika melintas di genangan yang ada di depan SMP 2 Mejobo.

“Tadinya aman, tapi setelah berpapasan dengan truk limpasan airnya mengenai mesin dan membasahi busi, jadi motorku langsung mati,” ujar Warga Kesambi tersebut.

Baca juga: Dinding Rumah Warga Purwosari Kudus Amblas Saat Air Sungai Meluap

Suparno mengaku, tiap hari memang melintas di Jalan Mejobo Kudus-Pati. Karena ini adalah akses terdekat dari tempat tinggalnya. Ia juga mengungkap, bahwa dua titik di ruas jalan tersebut sering tergenang cukup tinggi ketika hujan deras.

“Setiap musim hujan pasti kebanjiran. Oleh karena itu kami berharap ada langkah penanganan dari pemerintah, agar jalan tak ada lagi genangan. Kasihan masyarakat, banyak yang motornya mogok,” sebutnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Jalan Kudus-Colo Longsor, Jalur Wisata Colo Dialihkan ke Jalur Timur

0
Petugas mengevakuasi kendaraan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Jalur wisata kawasan Sunan Muria saat ini dialihkan ke jalur timur. Pengalihan jalur ini dilakukan karena akses jalur sebelah barat mengalami longsor pada, Jumat (9/1/2026) malam.  

Diketahui, jalur barat yang biasanya dilewati para pengunjung wisata religi itu sangat membahayakan. Bahkan kondisinya tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan roda empat hingga bus pariwisata. 

Terlebih, saat ini jalur tersebut dibatasi untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Sementara, untuk jalur timur atau akses jalan menuju kawasan Colo melewati portal wisata yang berada di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. 

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, bahwa jalur wisata kawasan Colo dialihkan ke jalur timur untuk menghindari bahaya. Hal itu juga sebagai langkah demi memastikan para pengunjung baik dari dalam maupun luar kota bisa melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, serta tanpa ada kendala. 

“Untuk bus pariwisata bisa lewat arah jalur timur. Melihat kondisi jalur barat yang mengalami longsor,” sebutnya. 

Pihaknya saat ini juga tengah melakukan asesmen baik dengan pihak kepolisian serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, antisipasi jalur longsor tersebut bisa dilewati atau tidaknya. Termasuk melaporkan adanya kendala itu kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Baca juga: Banjir Rendam Jalan Alternatif Kudus–Pati, Puluhan Motor Mogok di Mejobo

“Selanjutnya akan kita koordinasi dengan Bina Marga Cipta Karya Provinsi Jateng, untuk melakukan langkah berikutnya. Karena jalur ini merupakan kewenangan Pemprov Jateng, sehingga saat ini kami laporkan agar segera ditangani,” ujarnya. 

Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi longsor supaya tidak semakin meluas, kata Bupati, menutupi longsoran tersebut dengan menggunakan terpal. Mengingat saat ini kondisi cuaca masih dalam keadaan mengkhawatirkan.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Dinding Rumah Warga Purwosari Kudus Amblas Saat Air Sungai Meluap

0
Rumah warga Kelurahan Purwosari RT 1 RW 7, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus roboh terkena aliran air yang cukup deras, Jumat (10/1/2026) malam. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah warga Kelurahan Purwosari RT 1 RW 7, Kecamatan/Kabupaten Kudus roboh terkena aliran air yang cukup deras, Jumat (10/1/2026) malam. Hal ini terjadi karena rumah tepat berada di atas sungai yang sangat rawan terhadap bencana. 

Ahmad Kosim, pemilik rumah mengatakan, peristiwa robohnya dinding rumah terjadi Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB. Hal itu disebabkan karena hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Kudus sejak sore. 

Aliran air yang tinggi mengakibatkan sungai meluap hingga dinding akhirnya terjadi longsor atau ambas. Beruntungnya dalam kejadian itu tidak ada korban, semuanya dikabarkan selamat. 

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

“Awalnya karena hujan deras, kemudian air meluap hingga dinding amblas. Karena memang air meluap melebihi talud, sehingga dinding tergerus oleh air sungai,” jelasnya pria yang berusia 68 tahun tersebut. 

Ia mengaku, berada di dalam rumah dan sedang tidur saat kejadian berlangsung. Meski selamat, namun ada beberapa surat-surat yang ikut hanyut oleh aliran air, meliputi KK, KTP, Akta Kelahiran, KIS, dan pakaian. 

“Ini baru sekarang ini air meluap tinggi dan mengakibatkan terjadinya longsor. Waktu itu saya sedang tidur di kamar dan anak saya di ruang tamu ini, Alhamdulillah selamat,” ungkapnya.

Bagian dinding yang amblas, kata dia, sepanjang 5 meter, meliputi dinding kamar tidur dan ruang tamu. Ia berharap, agar secepatnya bisa mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten (Pemkab) Kudus.   

Mengetahui ada warganya yang terkena musibah, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris langsung meninjau lokasi kejadian. Bersama dengan beberapa OPD terkait, pihaknya membantu dengan memberikan bantuan beras dan bentuk material bangunan yang bisa untuk membangun kembali dinding yang roboh tersebut.

Baca juga: Update Bencana di Kudus: 6 Desa Terdampak Longsor, 6 Desa Kebanjiran

“Semoga korban diberikan ketabahan dan kuat. Untungnya dia tidak ikut aliran, karena waktu tidur Pak Kosim sedang tidur. Semoga kondisi Kudus segera aman,” terangnya. 

Ia menjelaskan, bahwa pihaknya memberi bantuan sosial berupa beras terhadap korban. Selain itu, warga sekitar diminta untuk membantu melakukan kerja bakti atas bantuan material yang diberikan oleh BPBD Kabupaten Kudus.

“Ini kami tinjau rumah Pak Kosim, tembok belakang roboh, kita hadir di sini biar dari teman-teman OPD bisa memberikan bantuan sosial dari BPBD maupun kecamatan kota bisa sengkuyung. Dan mohon warga bisa kerja bakti material yang diberikan oleh BPBD,” ujarnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Lengkap! Inilah Rincian Dana Desa di Kudus 2026, Kauman Paling Rendah

0
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus, Famny Dwi Arfana. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Alokasi Dana Desa (DD) Kabupaten Kudus pada tahun 2026 kurang lebih sebesar Rp 44 miliar. Nominal tersebut nantinya dibagi kepada 123 desa yang tersebar di sembilan kecamatan di Kota Kretek.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Kudus, Famny Dwi Arfana, mengatakan besaran Dana Desa yang diterima masing-masing desa ditentukan berdasarkan formula dari pemerintah pusat.

“Penentuan Dana Desa mempertimbangkan jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, luas wilayah, serta tingkat kesulitan geografis desa,” ujar Famny belum lama ini.

Baca juga: Kades di Kudus Pasrah Dana Desa Turun Drastis, Sebut Tak Bisa Lakukan Pembangunan Lagi

Famny pun kemudian merinci besaran Dana Desa yang diterima masing-masing desa pada tahun 2026. Berikut ini datanya:

Kecamatan Kaliwungu (Total Rp5.461.844.000)

  • Bakalankrapyak: Rp 373.456.000
  • Prambatan Kidul: Rp 373.456.000
  • Prambatan Lor: Rp 373.456.000
  • Garung Kidul: Rp 337.719.000
  • Setrokalangan: Rp 307.347.000
  • Banget: Rp 359.982.000
  • Blimbing Kidul: Rp 373.456.000
  • Sidorekso: Rp 373.456.000
  • Gamong: Rp 348.780.000
  • Kedungdowo: Rp 373.456.000
  • Garung Lor: Rp 373.456.000
  • Karangampel: Rp 373.456.000
  • Mijen: Rp 373.456.000
  • Kaliwungu: Rp 373.456.000
  • Papringan: Rp 373.456.000

Kecamatan Kota (Total Rp4.793.188.000)

  • Janggalan: Rp 272.663.000
  • Demangan: Rp 276.235.000
  • Mlati Lor: Rp 328.446.000
  • Nganguk: Rp 286.651.000
  • Kramat: Rp 317.003.000
  • Demaan: Rp 357.196.000
  • Langgardalem: Rp 281.149.000
  • Kauman: Rp 209.204.000
  • Damaran: Rp 241.494.000
  • Krandon: Rp 328.603.000
  • Singocandi: Rp 373.456.000
  • Glantengan: Rp 268.532.000
  • Kaliputu: Rp 310.132.000
  • Barongan: Rp 298.033.000
  • Burikan: Rp 310.630.000
  • Rendeng: Rp 333.761.000

Kecamatan Jati (Total Rp 5.572.737.000)

  • Jetiskapuan: Rp 337.956.000
  • Tanjungkarang: Rp 373.456.000
  • Jati Wetan: Rp 373.456.000
  • Pasuruhan Kidul: Rp 354.313.000
  • Pasuruhan Lor: Rp 373.456.000
  • Ploso: Rp 373.456.000
  • Jati Kulon: Rp 373.456.000
  • Getaspejaten: Rp 373.456.000
  • Loram Kulon: Rp 373.456.000
  • Loram Wetan: Rp 373.456.000
  • Jepangpakis: Rp 373.456.000
  • Megawon: Rp 373.456.000
  • Ngembal Kulon: Rp 373.456.000
  • Tumpangkrasak: Rp 373.456.000

Kecamatan Undaan (Total Rp 5.515.793.000)

  • Wonosoco: Rp 259.034.000
  • Lambangan: Rp 334.619.000
  • Kalirejo: Rp 373.456.000
  • Medini: Rp 373.456.000
  • Sambung: Rp 373.456.000
  • Glagahwaru: Rp 363.362.000
  • Kutuk: Rp 373.456.000
  • Undaan Kidul: Rp 373.456.000
  • Undaan Tengah: Rp 373.456.000
  • Karangrowo: Rp 373.456.000
  • Larikrejo: Rp 283.832.000
  • Undaan Lor: Rp 373.456.000
  • Wates: Rp 373.456.000
  • Ngemplak: Rp 341.758.000
  • Terangmas: Rp 289.334.000
  • Berugenjang: Rp 282.750.000

Kecamatan Mejobo (Total Rp 4.079.855.000)

  • Gulang: Rp 373.456.000
  • Jepang: Rp 373.456.000
  • Payaman: Rp 373.456.000
  • Kirig: Rp 345.906.000
  • Temulus: Rp 373.456.000
  • Kesambi: Rp 373.456.000
  • Jojo: Rp 352.301.000
  • Hadiwarno: Rp 373.456.000
  • Mejobo: Rp 373.456.000
  • Golantepus: Rp 373.456.000
  • Tenggeles: Rp 373.456.000

Kecamatan Jekulo (Total Rp 4.411.663.000)

  • Sadang: Rp 373.456.000
  • Bulungcangkring: Rp 373.456.000
  • Bulung Kulon: Rp 373.456.000
  • Sidomulyo: Rp 373.456.000
  • Gondoharum: Rp 373.456.000
  • Terban: Rp 303.647.000
  • Pladen: Rp 373.456.000
  • Klaling: Rp 373.456.000
  • Jekulo: Rp 373.456.000
  • Hadipolo: Rp 373.456.000
  • Honggosoco: Rp 373.456.000
  • Tanjungrejo: Rp 373.456.000

Kecamatan Bae (Total Rp 3.701.007.000)

  • Dersalam: Rp 373.456.000
  • Ngembalrejo: Rp 373.456.000
  • Karangbener: Rp 373.456.000
  • Gondangmanis: Rp 373.456.000
  • Pedawang: Rp 373.456.000
  • Bacin: Rp 346.476.000
  • Panjang: Rp 366.883.000
  • Peganjaran: Rp 373.456.000
  • Purworejo: Rp 373.456.000
  • Bae: Rp 373.456.000

Kecamatan Gebog (Total Rp 4.108.016.000)

  • Gribig: Rp 373.456.000
  • Klumpit: Rp 373.456.000
  • Getassrabi: Rp 373.456.000
  • Padurenan: Rp 373.456.000
  • Karangmalang: Rp 373.456.000
  • Besito: Rp 373.456.000
  • Jurang: Rp 373.456.000
  • Gondosari: Rp 373.456.000
  • Menawan: Rp 373.456.000
  • Rahtawu: Rp 373.456.000

Kecamatan Dawe (Total Rp 6.358.761.000)

  • Samirejo: Rp 338.204.000
  • Cendono: Rp 373.456.000
  • Margorejo: Rp 373.456.000
  • Rejosari: Rp 373.456.000
  • Kandangmas: Rp 373.456.000
  • Glagah Kulon: Rp 286.113.000
  • Tergo: Rp 355.769.000
  • Cranggang: Rp 373.456.000
  • Lau: Rp 373.456.000
  • Piji: Rp 373.456.000
  • Puyoh: Rp 373.456.000
  • Soco: Rp 373.456.000
  • Ternadi: Rp 338.222.000
  • Kajar: Rp 373.456.000
  • Kuwukan: Rp 295.225.000
  • Dukuhwaringin: Rp 292.431.000
  • Japan: Rp 373.456.000
  • Colo: Rp 344.781.000

Famny mengungkapkan, bahwa alokasi Dana Desa tahun ini memang turun signifikan dibanding tahun lalu. Pasalnya, pada tahun 2025 alokasi DD untuk Kudus kurang lebih sebesar Rp 140,65 miliar. Artinya ada penurunan kurang lebih sebesar Rp 96,65 miliar.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Padi Biosalin Jadi Tumpuan Harapan Petani di Pesisir Jepara 

0
Petani di Jepara menunjukkan padi biosalin. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Masuknya air laut ke area lahan persawahan menjadi salah satu tantangan serius bagi para petani di kawasan pesisir Kabupaten Jepara. 

Air laut yang masuk ke area sawah petani, seketika membuat batang tanaman padi jadi menguning. Padi terancam gagal tumbuh hingga akhirnya mati. 

Salah satu petani di kawasan pesisir Jepara, Ahmad Faris yang merupakan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sari Utomo Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, bercerita ancaman ganasnya air laut yang menyerang tanaman padi sudah lama dialami oleh para petani. 

“Pernah saya itu, dua minggu lagi mau panen, karena kena air laut, mati semua. Buahnya langsung putih semua, padinya ngga bisa dipanen,” kata Faris pada Betanews.id, Sabtu (10/1/2026). 

Baca juga: 22 Hektare Sawah di Pesisir Jepara Jadi Lahan Uji Coba Padi Biosalin 

Karena sudah sering terjadi, jika tanaman padi baru mulai masa penanaman, Faris melanjutkan biasanya petani akan mengganti bibit tanaman padi yang mati akibat terkena air laut. 

Namun, hal tersebut membuat biaya pengeluaran petani jadi bertambah. Sebab petani harus menyediakan stok bibit lebih sebagai antisipasi jika tanaman padi mati akibat terkena air laut. 

“Kalau baru ditanam, bibitnya di tanam ulang (kalau terkena air laut). Biasanya petani memang punya stok bibit lebih,” ujarnya. 

Ancaman ganasnya air laut, menurut Faris lebih sering terjadi pada saat Masa Tanam (MT) ke-II. Sebab di masa itu, kondisi cuaca biasanya mulai memasuki musim kemarau. Sehingga curah hujan mulai jarang. Air laut yang masuk ke area sawah petani lebih cepat membuat tanaman padi menjadi mati. 

Berbeda dengan MT I, dimana kondisi cuaca masih sering terjadi hujan sehingga bisa membantu menetralkan air laut yang masuk ke lahan sawah petani. 

“Kendalanya itu paling berat di MT II, karena mulai masuk masa kekeringan, uap air asin lebih mudah masuk ke sawah petani. Terutama yang dekat laut tantangannya paling berat,” ujarnya. 

Kini dengan adanya bantuan bibit padi berjenis Biosalin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Pertamina Gas Negara (PGN), Faris berharap bantuan itu bisa menjadi solusi permasalahan petani di kawasan pesisir. 

Jika uji coba penanaman Padi Biosalin yaitu jenis padi yang mampu tahan terhadap air laut bisa berhasil, nantinya bibit padi itu akan ditanam di seluruh lahan sawah di Desa Suwawal. 

“Karena dari namanya Biosalin, bisa tahan dengan lahan salin (air asin), jika memang terbukti tahan dan hasilnya memuaskan akan dikembangkan di seluruh area persawahan,” katanya. 

Baca juga: Puluhan Hektare Lahan Sawah di Jepara Siap Ditanami Padi Biosalin 

Hal serupa juga turut disampaikan oleh Rois, Ketua Kelompok Tani Jaya III, Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo yang juga menjadi lokasi uji coba penanaman padi Biosalin. 

Rois mengatakan air rob dan air laut menjadi salah satu ancaman bagi petani di daerahnya hingga mengakibatkan sering gagal panen. Pada tahun 2017 lalu, desanya memang pernah mendapat bantuan benih padi yang tahan terhadap air laut. Tapi itu hanya bertahan hingga tahun 2022. 

“Setelah itu padinya kalau ditanam udah jadi gersang, akhirnya petani ngga mau nanam lagi,” ujar Rois saat dihubungi melalui sambungan telepon. 

Rois berharap uji coba penanaman padi Biosalin itu bisa berhasil. Sehingga petani di desanya tidak lagi dibayangi air laut yang mengancam pertumbuhan tanaman padi.

Sebagai informasi, Kabupaten Jepara terpilih menjadi salah satu lokasi uji coba penanaman Padi Biosalin di lahan seluas 22 hektare. 

Terbagi di Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo dan Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo masing-masing 10 hektare. Sisanya di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa seluas 2 hektare. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Longsor Tutup Jalan Pulingan–Pangonan Pati, Aktivitas Warga Lumpuh Total

0
Dukuh Pulingan, Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jumat (9/12/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Aktivitas warga Dukuh Pulingan, Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, lumpuh total setelah jalan penghubung Pulingan–Pangonan tertutup longsor, Jumat (9/1/2026) malam. Akses utama yang biasa digunakan warga tidak dapat dilalui akibat material tanah yang menimbun badan jalan.

Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam. Intensitas hujan yang tinggi memicu runtuhnya tebing di sejumlah titik sepanjang jalur penghubung antardukuh tersebut.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (10/1/2025) menunjukkan kendaraan sama sekali tidak bisa melintas. Untuk sementara, warga berinisiatif memotong pohon dan membuka jalur darurat agar pejalan kaki tetap dapat melintas. Di Dukuh Pulingan, warga juga bergotong royong membantu membersihkan rumah-rumah yang terdampak longsor.

Baca juga: Tanah Bergetar Lalu Ambruk, Warga Ceritakan Detik-detik Tanggul Longsor di Metaraman Pati

Salah satu warga Dukuh Pulingan, Santoso mengungkapkan, hujan mulai turun pada Jumat kemarin sekitar pukul 17.00 WIB dan semakin deras pada malam hari. Kondisi tersebut memicu longsor di sejumlah titik.

“Perkiraan longsor terjadi sekitar jam sembilan malam. Ada lima titik longsor di sepanjang jalan Pulingan–Pangonan,” ujar Santoso.

Ia menjelaskan, longsor tersebut menutup total akses utama warga. Material tanah yang menimbun jalan membuat aktivitas sehari-hari warga terhenti, termasuk aktivitas pendidikan.

“Jalan tertutup total. Warga tidak bisa beraktivitas, bahkan anak-anak sekolah tidak bisa berangkat karena akses ke sekolah tidak bisa dilewati,” lanjutnya.

Warga berharap pemerintah segera menurunkan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan material longsor. Menurut Santoso, jika hanya mengandalkan kerja bakti warga, pembersihan akan berlangsung lama.

“Kalau tidak dibantu alat berat, warga tidak sanggup membersihkan tanah sebanyak ini,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Amin, warga Dukuh Pulingan lainnya. Ia menyebut jalur penghubung menuju Dukuh Pangonan benar-benar tidak bisa dilalui.

Baca juga: Sempat Diprotes Warga, Pabrik Tas Fuhua di Pati Lakukan Konsultasi Publik

“Jalan lumpuh total, talud jalan juga ambrol. Anak sekolah juga tidak bisa sekolah,” ucap Amin.

Sementara itu, Sekretaris Desa Gunungsari, Ngarjono mengatakan, Dukuh Pulingan dihuni sekitar 160 kepala keluarga yang tersebar di tiga RT. Pemerintah desa telah menyiapkan langkah penanganan darurat dengan mendatangkan alat berat ke lokasi longsor.

“Rencananya hari ini alat berat sampai di Desa Gunungsari. Kalau sudah ada alat berat, jalan penghubung antara Dukuh Pulingan dan Pangonan bisa digunakan kembali. Pengerjaannya diperkirakan satu hari selesai,” jelas Ngarjono.

Ia menambahkan, pihak desa telah berkoordinasi dengan Camat Tlogowungu dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bupati Pati, Sudewo, melalui surat resmi.

Selain di Dukuh Pulingan, longsor juga terjadi di Dukuh Pangonan. Secara keseluruhan, tercatat 13 titik longsor di wilayah Desa Gunungsari akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Terobosan Hukum, Sidang Tipiring Digelar di Mapolsek Kudus Kota, Pelaku Party Night Ilegal Didenda

0
Proses persidangan Tindak Pidana Ringan (Tipiring) digelar di Aula Wira Kresna Pratama, Mapolsek Kudus Kota, Jumat (9/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Proses persidangan Tindak Pidana Ringan (Tipiring) digelar di Aula Wira Kresna Pratama, Mapolsek Kudus Kota, Jumat (9/1/2026). Sidang tersebut tidak dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Kudus seperti biasanya, melainkan langsung di lingkungan kepolisian.

Sidang Tipiring ini menjadi perhatian karena merupakan penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023. Pelaksanaan sidang di luar gedung pengadilan dinilai sebagai upaya percepatan pelayanan hukum kepada masyarakat.

Baca Juga: Hampir 900 Anak di Kudus Tak Sekolah pada Tahun 2025

Kasus tersebut berawal dari laporan warga melalui layanan daring “Lapor Pak Kapolres Kudus” pada Sabtu malam (3/1/2026). Warga mengeluhkan adanya aktivitas minum minuman keras dan musik keras yang mengganggu ketertiban di Jalan Tanjung, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolsek Kudus Kota AKP Subkhan memimpin langsung personel piket siaga menuju lokasi. Petugas mendapati kegiatan bertajuk Party Night yang digelar di Hinode Coffee dengan menggunakan trotoar umum tanpa izin resmi.

Dalam kegiatan tersebut, dua pemuda berinisial VPA (22) dan MNY (18) diamankan karena kedapatan mengonsumsi minuman keras di tempat umum dengan iringan musik bervolume tinggi. Keduanya kemudian diproses hukum melalui mekanisme Tipiring.

Dalam persidangan bernomor perkara 01/Pid.C/2026/PN Kds, kedua terdakwa dijerat dengan sejumlah pasal dalam KUHP Nasional, di antaranya Pasal 316 tentang mabuk di tempat umum yang mengganggu ketertiban, Pasal 265 terkait gangguan ketenteraman lingkungan, serta Pasal 274 dan 275 mengenai penyelenggaraan keramaian tanpa izin.

Selain itu, keduanya juga dijerat Perda Kabupaten Kudus Nomor 12 Tahun 2004 tentang peredaran minuman keras.

Hakim tunggal yang memimpin persidangan menjatuhkan putusan denda sebesar Rp3 juta kepada masing-masing terdakwa. Apabila denda tersebut tidak dibayarkan, maka akan diganti dengan pidana penjara selama tiga hari.

Selain denda, majelis hakim juga memutuskan barang bukti berupa satu set perangkat sound system rakitan serta lima botol bekas minuman keras dirampas untuk dimusnahkan. Para terdakwa juga dibebankan biaya perkara.

Baca Juga: Ratusan Pedagang Sayur Pilih Tetap Bertahan di Pasar Bitingan Kudus

Kapolsek Kudus Kota AKP Subkhan menyampaikan bahwa pelaksanaan sidang Tipiring di Mapolsek merupakan bentuk sinergi antara kepolisian dan pengadilan dalam menjaga ketertiban umum. Langkah tersebut diharapkan memberikan efek jera sekaligus edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang mengganggu ketenteraman lingkungan.

“Sidang Tipiring di Mapolsek Kudus Kota ini menjadi yang pertama di Kabupaten Kudus dalam penerapan KUHP Nasional dengan mekanisme sidang di luar gedung Pengadilan Negeri,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -