BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kudus menyebabkan bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah kecamatan. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (9/1/2026) dan masih menyisakan dampak hingga Jumat dini hari.
Kepala BPBD Kudus melalui Kasi Kedaruratan, Ahmad Munaji, menjelaskan bahwa hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah Pegunungan Muria dan Kudus bagian bawah sejak semalam. Curah hujan ekstrem ini menyebabkan debit Sungai Gelis, Sungai Piji, Sungai Dawe, serta sungai-sungai anakan lainnya meningkat drastis.
“Intensitas hujan sangat tinggi, bahkan di wilayah hulu Pegunungan Muria tercatat lebih dari 500 milimeter. Kondisi ini membuat tanah menjadi labil dan tidak mampu menahan resapan air,” ujar Munaji melalui siaran tertulisnya, Jumat (10/1/2026).
Baca juga: Dinding Rumah Warga Purwosari Kudus Amblas Saat Air Sungai Meluap
Lebih lanjut ia menuturkan, BPBD Kudus mencatat, banjir dan limpasan sungai berdampak pada wilayah Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae. Sementara itu, tanah longsor terjadi di Kecamatan Dawe dan Gebog, terutama di wilayah perbukitan.
Di Kecamatan Mejobo, banjir masih menggenangi enam desa hingga pukul 05.00 WIB. Desa Mejobo menjadi wilayah terdampak terparah dengan 600 kepala keluarga (KK) atau 1.741 jiwa terdampak. Serta 30 rumah terendam air dengan ketinggian mencapai 40 sentimeter. Selain itu, ratusan hektare persawahan juga tergenang.
Sementara di Kecamatan Kota, banjir sempat merendam Desa Singocandi dan Demangan akibat limpasan Sungai Gelis. Talud sungai dilaporkan amblas dan sebagian jalan mengalami longsor. Kondisi banjir di wilayah ini berangsur surut sejak Kamis malam (9/1/2025).
Dampak banjir juga dirasakan warga Kecamatan Jekulo dan Bae. Di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, sebanyak 500 KK terdampak, dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter.
Sedangkan di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, banjir merendam permukiman warga dengan 650 KK terdampak.
Selain banjir, longsor terjadi cukup parah di Kecamatan Dawe. Di Desa Colo, longsoran jalan kabupaten menuju kawasan wisata ziarah Sunan Muria menyebabkan jembatan ambruk sepanjang 50 meter dengan kedalaman sekitar 20 meter. Dua mobil sempat terseret masuk sungai, namun tiga korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi
“Total sementara warga terdampak bencana banjir dan longsor mencapai 2.815 KK atau 8.834 jiwa. Kerugian materil masih dalam proses pendataan,” jelas Munaji.
Dia menuturkan, BPBD Kudus bersama Pemkab Kudus, TNI, Polri, BBWS Pemali Juana, relawan kebencanaan, dan pemerintah desa terus melakukan penanganan darurat. Upaya yang dilakukan meliputi penutupan tanggul dengan plastik, pembersihan material longsor, evakuasi warga, serta penyaluran logistik.
“Pemerintah Kabupaten Kudus saat ini masih menetapkan Status Siaga Darurat Bencana berdasarkan Keputusan Bupati Kudus hingga 31 Mei 2026. Masyarakat di wilayah rawan bencana diimbau tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dan pergerakan tanah,” sebutnya.
Editor: Suwoko

