Wali Murid Keluhkan Antrean SPMB di SMA 1 Kudus, Verifikasi Berkas Bisa Berhari-hari

BETANEWS.ID, KUDUS – Antrean panjang pengajuan verifikasi berkas dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMA 1 Kudus dikeluhkan sejumlah wali murid. Mereka berharap ada sistem pengaturan antrean yang lebih jelas agar calon siswa dan orang tua tidak perlu bolak-balik ke sekolah.

Salah satu keluhan disampaikan oleh wali murid, Dhini Rama Dhani, yang mengantarkan anaknya melakukan verifikasi berkas. Ia mengaku sudah datang selama dua hari berturut-turut untuk menyelesaikan proses pengajuan verifikasi berkas anaknya yang mendaftar SPMB melalui jalur prestasi.

Pada hari pertama, ia hanya sempat mengikuti pemeriksaan berkas awal karena kuota pelayanan sudah penuh. Akhirnya, keesokan harinya ia diminta kembali datang untuk melanjutkan proses pengajuan verifikasi ke dalam sistem.

-Advertisement-

“Ini hari kedua saya datang. Kemarin baru pemeriksaan berkas di depan. Mau antre ternyata sudah penuh dan hari Jumat kemarin merupakan hari pelayanan yang lebih singkat. Jadi saya datang lagi hari ini mulai pukul 08.00 WIB, sampai sekarang (sekitar pukul 11.25 WIB) belum dipanggil,” ujarnya saat ditemui di SMA 1 Kudus, Sabtu (6/6/2026).

Ia menyampaikan bahwa anaknya telah melakukan pendaftaran akun SPMB secara mandiri dari rumah melalui sistem daring. Namun, proses verifikasi dokumen harus dilakukan di sekolah sehingga menimbulkan antrean panjang.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pihak penyelenggara agar wali murid memperoleh kepastian pelayanan yang lebih jelas.

“Kalau memang sehari hanya bisa melayani jumlah tertentu, seharusnya ada pembatasan kuota yang jelas. Jadi orang tua yang datang sudah pasti terlayani dan tidak perlu repot bolak-balik,” katanya.

Baca juga : Disdikpora Kudus Pastikan SPMB 2026 Minim Celah Kecurangan, Pelaksanaan Dimulai 22 Juni Mendatang

Ia mengusulkan penerapan sistem antrean secara daring sehingga calon peserta didik dapat memperoleh nomor antrean dari rumah dan datang sesuai jadwal yang telah ditentukan. Menurutnya, sistem tersebut lebih efektif dibanding harus datang lebih pagi tanpa kepastian waktu pelayanan.

“Kalau bisa malah antre secara online, jadi kami tahu kapan harus datang. Tidak perlu menunggu berjam-jam di sekolah,” jelasnya.

Setidaknya, kata dia, ada sekitar 200 calon peserta didik yang mengurus pengajuan verifikasi setiap hari di SMA 1 Kudus. Hal tersebut membuat sebagian calon peserta didik harus mengantre hingga sore hari untuk mendapatkan giliran verifikasi.

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMA 1 Kudus, Nur Afifuddin, menjelaskan bahwa lamanya antrean bukan disebabkan lambatnya proses verifikasi, melainkan tingginya jumlah pendaftar dan banyaknya berkas yang belum sesuai ketentuan.

Menurutnya, satu verifikator sebenarnya hanya membutuhkan sekitar lima menit untuk menyelesaikan satu berkas apabila seluruh dokumen lengkap dan data yang diinput sudah benar.

“Kalau berkas lengkap, paling lima menit selesai. Tetapi sering ditemukan dokumen yang belum lengkap. Ada yang tidak membawa berkas asli, ada yang salah alamat, bahkan titik koordinat rumah tidak sesuai sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu,” terangnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Ia menerangkan, kesalahan data saat pembuatan akun menjadi salah satu kendala yang paling sering ditemui. Dalam beberapa kasus, calon peserta didik bahkan harus membatalkan akun dan membuat akun baru karena data yang dimasukkan tidak sesuai.

Afif mengatakan setiap pendaftar yang datang ke sekolah telah memperoleh nomor antrean sehingga sebenarnya dapat memperkirakan waktu pelayanan berdasarkan urutan antrean yang didapat. Pelayanan verifikasi dibuka mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

“Kalau dapat nomor antrean 150 misalnya, bisa dihitung perkiraannya. Dengan delapan verifikator, pelayanan bisa mencapai sekitar 200 peserta dalam sehari jika sistem lancar,” jelasnya.

Meski demikian, proses verifikasi juga dipengaruhi kondisi jaringan internet dan server aplikasi yang digunakan secara bersamaan oleh sekolah-sekolah di Jawa Tengah.

“Kadang ada kendala server atau internet yang membuat proses menjadi lebih lambat. Kalau sistem lancar, pelayanan bisa berjalan lebih cepat,” katanya.

Ia mengimbau calon peserta didik dan orang tua untuk mempelajari petunjuk pendaftaran secara teliti sebelum datang ke sekolah. Seluruh dokumen yang dipersyaratkan juga diminta dipastikan lengkap agar proses verifikasi tidak terkendala.

“Yang paling penting, data saat membuat akun harus benar dan berkas harus lengkap. Kalau semua sesuai, proses verifikasi bisa lebih cepat dan antrean juga lebih lancar,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada SPMB 2026 SMA 1 Kudus menyediakan kuota sebanyak 432 siswa yang terbagi dalam 12 rombongan belajar (rombel), dengan masing-masing rombel berisi 36 siswa.

Menurutnya, SPMB jenjang SMA dibagi menjadi empat jalur, yakni jalur domisili (minimal 33 persen), prestasi (maksimal 30 persen), afirmasi (maksimal 32 persen), dan mutasi (5 persen).

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER