Beranda blog Halaman 88

Baru Ditanam Sebulan Lalu, Ribuan Hektare Lahan Pertanian di Jepara Terendam Banjir 

0
Area persawahan di Kabupaten Jepara terendam banjir, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Hujan deras yang mengguyur hampir seluruh wilayah di Kabupaten Jepara sejak beberapa hari menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian terendam banjir. 

Rata-rata bibit tanaman padi yang ditanam di ribuan hektare lahan pertanian yang terendam itu baru berusia satu bulan di Masa Tanam (MT) ke-1. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mundhofir mengatakan data lahan pertanian yang terdampak banjir, saat ini terus mengalami perubahan. 

Baca juga: Terisolir Akibat Longsor, Pemkab Jepara Upayakan Jalur Alternatif Menuju Desa Tempur

Mengingat kondisi cuaca yang masih cukup ekstrem, dimana hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang masih melanda Kabupaten Jepara. 

“Data per hari Senin, (12/1/2026) pukul 13.25 ada 2.172 hektare lahan pertanian di 13 kecamatan yang terendam banjir,” kata Mundhofir pada Betanews.id saat ditemui di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara. 

Mundhofir merinci, lahan pertanian yang terendam banjir di 13 kecamatan yaitu Kecamatan Kalinyamatan 597 hektare, Kecamatan Donorojo 297 hektare, Kecamatan Welahan 268 hektare, Kecamatan Mayong 232 hektare, Kecamatan Kedung 239 hektare, Kecamatan Keling 158 hektare. 

Selanjutnya Kecamatan Pecangaan 108 hektare, Kecamatan Nalumsari 92 hektare, Kecamatan Mlonggo 65 hektare, Kecamatan Bangsri 60 hektare, Kecamatan Kembang 30 hektare, Kecamatan Jepara 25 hektare, dan Kecamatan Batealit 1 hektare. 

“Yang saat ini belum ada laporan di Kecamatan Nalumsari, Karimunjawa, dan Pakis Aji,” sebutnya. 

Mundhofir melanjutkan, lahan pertanian itu terendam banjir karena tingginya debit air yang masuk ke area persawahan. Air itu berasal dari limpasan saluran air dan sebagian dari tanggul yang jebol. 

Untuk saat ini, Mundhofir mengatakan lahan pertanian yang tergenang banjir akan ditunggu dulu selama tiga hari ke depan. Dengan harapan, air yang menggenangi area persawahan bisa segera surut. Sehingga tidak merusak tanaman padi yang baru ditanam. 

“Kita menunggu tiga hari harapannya air bisa susut. Sehingga nanti padinya masih bisa tumbuh. Selama tiga hari air bisa susut, tidak tergenang, tidak busuk. InsyaAllah (tanaman padi) aman,” katanya. 

Salah satu area lahan pertanian yang terendam air yaitu di Desa Kuanyar, Kecamatan Mayong. Kepala Desa Kuanyar, Khomsatun mengatakan di desanya lahan pertanian yang terendam banjir yaitu sekitar 100 hektare. 

Baca juga: 18 Titik Longsor Kepung Desa Tempur Jepara, Akses Jalan Masih Tertutup Total 

“Ini ada seratus hektare lebih yang terendam banjir. Usianya sekitar satu bulan, baru masuk MT pertama ini,” katanya. 

Khomsatun mengatakan lahan sawah di desanya terendam banjir akibat adanya tanggul jebol dan tingginya debit kiriman air dari wilayah utara. Yaitu dari Desa Sengonbugel, Pelang, dan Pendo Kecamatan Mayong. 

“Iya, daerah sini potensi banjir. Karena kawasan Pelang, Sengon, Pendo dan sekitarnya, itu kawasan industri. Air yang seharusnya menyerap ke tanah, jadi mengalir ke area permukiman dan sawah,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

DPRD Kudus Usulkan Skema Parkir Alternatif Usai Bus Peziarah Dilarang Naik Muria Akibat Longsor

0
Anggota DPRD Kabupaten Kudus, Muhammad Antono. Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Dampak longsor yang terjadi di jembatan Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berimbas pada pembatasan lalu lintas kendaraan besar menuju kawasan wisata religi Makam Sunan Muria. Bus dan truk kini tidak diperkenankan melintas di jalur tersebut demi alasan keselamatan.

Sebagai langkah pengalihan, kendaraan besar diarahkan untuk berhenti dan parkir di Terminal Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu. Dari lokasi tersebut, peziarah dan wisatawan nantinya akan diantar menggunakan angkutan khusus menuju kawasan Colo.

Sementara itu, kendaraan yang datang dari arah timur masih diperbolehkan melaju hingga Terminal Colo. Akses tersebut melalui portal timur yang berada di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, dengan pengaturan lalu lintas terbatas.

Baca juga: Jalan Kudus-Colo Longsor, Jalur Wisata Colo Dialihkan ke Jalur Timur

Kebijakan penutupan akses bagi bus dan truk tersebut mendapat sorotan dari Anggota DPRD Kabupaten Kudus, Muhammad Antono. Ia menilai langkah yang diambil aparat kepolisian terkesan terlalu kaku dan perlu dikaji ulang agar tidak menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Terlebih, spanduk larangan menuju kawasan Desa Colo telah dipasang di Perempatan Desa Panjang, Kecamatan Bae. Menurut Antono, kebijakan ini berpotensi merugikan pedagang kecil yang menggantungkan pendapatan dari arus peziarah menuju Muria.

“Saya mewakili dapil Dawe dan Jekulo meminta agar kebijakan ini dievaluasi. Ini sedang memasuki bulan ramai peziarah, seharusnya masih bisa dicari alternatif jalur atau skema pengaturan lain,” ujar Antono, Senin (11/1/2026).

Ia mengusulkan agar bus peziarah tetap diizinkan melintas dengan sistem pembatasan, salah satunya dengan menyediakan kantong parkir di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe. Dari titik tersebut, peziarah dapat diangkut menggunakan kendaraan kecil hingga ke Desa Colo.

Selain Kandangmas, Antono menyebut sejumlah lokasi lain yang telah disiapkan warga untuk parkir bus, di antaranya lapangan Masjid Desa Cendono, Balai Desa Kajar, Balai Desa Lau, serta Balai Desa Piji. Menurutnya, lokasi-lokasi tersebut cukup layak dan strategis.

“Kalau penutupan total diberlakukan, kasihan warga yang berjualan di sepanjang jalur Muria. Ini momen penting di Bulan Ruwah, ekonomi masyarakat sangat bergantung pada peziarah,” terangnya.

Antono juga menyampaikan bahwa lahan di sekitar Bendungan Logung, Desa Kandangmas, dinilai mampu menampung hingga sekitar 100 unit bus, sehingga cukup untuk mengakomodasi lonjakan kunjungan.

Baca juga: Dua Kendaraan yang Terbawa Longsor di Colo Berhasil Dievakuasi

Ia menambahkan, bagian jembatan Colo yang terdampak longsor merupakan struktur hasil pelebaran baru, sementara konstruksi lama masih terlihat kokoh. Menurutnya, dengan pengaturan yang tepat, jalur tersebut masih dapat dimanfaatkan secara terbatas.

“Intinya, saya berharap larangan total bus naik ke Colo bisa ditinjau kembali. Masih banyak opsi kebijakan yang lebih berpihak pada keselamatan sekaligus ekonomi warga,” tegasnya.

Editor: Suwoko

Sebagai informasi, longsor di Jembatan Desa Colo terjadi pada Jumat malam (9/1/2026) akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan tanah di sekitar jembatan menjadi labil. Saat ini, Polres Kudus telah mengamankan lokasi dengan pemasangan water barrier. Penanganan lanjutan masih menunggu tindak lanjut dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah karena status jalan berada di bawah kewenangan provinsi.

- advertisement -

Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

0
Bupati Kudus Sam'ani Intakoris meninjau lokasi longsor yang menewaskan satu warga di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Minggu (11/1/2025). Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris langsung meninjau lokasi longsor yang menewaskan satu warga di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Minggu (11/1/2025). Orang nomor satu di Kota Kretek tersebut juga turut bertakziah ke rumah almarhum yang tidak jauh dari lokasi bencana.

Bupati Sam’ani menyampaikan bela sungkawanya terhadap keluarga yang jadi korban longsor. Menurutnya, musibah ini dikarenakan hujan yang sangat ekstrem di wilayah Kudus dan sekitarnya.

“Akibat hujan lebat ini ada beberapa titik yang terjadi bencana, di antaranya di Dukuh Kambangan ini yang mengakibatkan satu warga meninggal dunia. Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Kudus mengucapkan turut berduka cita,” ujar Sam’ani.

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Longsor di Menawan Kudus, Pemilik Toko Tewas Tertimpa Tebing

Pada momen tersebut, Sam’ani mengucapkan terima kasih kepada para relawan, pihak kepolisian dan TNI yang bahu membahu, gotong-royong dan sigap untuk penanganan bencana. Ia pun berharap, keadaan segera membaik.

“Semoga Kabupaten Kudus segera pulih, aman, tak terjadi lagi bencana, apalagi hingga menelan korban jiwa,” tuturnya.

Tak lupa, ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa waspada dan berhati-hati. Pasalnya, saat ini cuaca masih cukup ekstrem.

“Cuacanya masih ekstrem. Seluruh masyarakat Kudus untuk selalu berhati-hati. Jika tidak ada sesuatu yang mendesak, mohon ditunda dulu aktifitas di luar. Berakitifitaslah seperti biasa, tetapi tetap waspada dan berhati-hati,” imbaunya.

Diberitakan sebelumnya, Hujan ekstrem di wilayah Kabupaten Kudus mengakibatkan bencana longsor di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan gebog, Minggu (11/1/2025). Akibat dari bencana tersebut, tiga rumah rusak dan satu korban meninggal dunia bernama Sriyatun.

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga Terdampak

Bencana terjadi sekira pukul 13:00 WIB. Pada saat itu cuaca ekstrem dengan curah hujan sangat tinggi. Akibatnya, tebing setinggi 10 meter di belakang toko Sriyatun longsor.

Bencana tersebut merenggut nyawa Sriyatun yang terhimpit longsoran dengan dinding toko bagian dalam. Selain itu, bencana longsor juga merobohkan dinding bagian belakang toko milik korban. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

0
Jalan Pantura Pati-Rembang tepatnya di Desa Widorokandang Pati terendam banjir pada Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Jalan Pantura Pati-Rembang tepatnya di Desa Widorokandang Pati terendam banjir pada Senin (12/1/2026). Arus lalu lintas di jalan tersebut pun tersendat akibat tergenang banjir.

Banjir menggenangi jalan Pantura ini dengan ketinggian 10 hingga 20 sentimeter sepanjang ratusan meter. Tepatnya mulai pertigaan Jalan Lingkar Selatan (JLS) ke arah timur.

Kanit Turjawali Satlantas Polresta Pati, Iptu Purwanto mengungkapkan, banjir yang menggenangi Pantura ini merupakan luapan dari Sungai Simo yang berada di sepanjang jalan tersebut. Ia menyebut, banjir di jalan tak sampai setinggi 10 sentimeter. Sementara di bahu jalan mencapai 25 sentimeter.

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

“Mulai tadi pagi menjelang subuh air mulai nutup jalan dari luapan sungai di jalan tersebut. Tepatnya di Desa Widorokandang mulai pertigaan lingkar,” katanya.

Akibat banjir ini, arus lalu lintas di jalan Pantura Pati-Rembang tersendat. Kepadatan dari arah Rembang menuju Pati mengular sepanjang 2 kilometer, sedangkan di jalan lingkar kepadatan kendaraan hingga 1 kilometer.

“Antrean dari arah timur kurang lebih 2 kilometer. Kalau dari arah selatan 1 kilometer,” ucapnya.

Meski demikian, Purwanto menyebut, jalan Pantura masih dapat dilalui kendaraan besar maupun sepeda motor. Namun arus lalu berjalan padat merayap karena terdapat genangan banjir.

“Sebenarnya arus lalu lintas masih tetap berjalan dari dua arah meskipun mengalami keterlambatan. Baik kendaraan sepeda motor atau kendaraan besar masih bisa melintas,” sebutnya.

Pihaknya juga melakukan skema arus lintas supaya tidak terjadi kemacetan. Kendaraan roda empat dilarang melintas dari pertigaan JLS ke arah Pati kota.

Baca juga: Banjir Susulan Terjang Semampir, Ratusan Kolam Ikan Tak Terselamatkan

“Dari Surabaya, Rembang terpaksa kita alihkan melalui lingkar yang menuju ke kota guna menghindari kuncian di pertigaan lingkar,” terangnya.

Sementara itu, warga setempat, Pujianto menyebut, banjir melanda desanya sejak Minggu (11/1/2026). Tak hanya menggenangi jalan Pantura, namun banjir juga merendam rumah warga.

“Kedatangan air mulai jam setengah lima sore. Semalam kondisinya seperti sampai saat ini belum surut. Ini luapan dari kali Simo dan sungai Silugonggo,” pungkasnya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

0
Sepasang pengantin menggelar pernikahan di tengah banjir, di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Senin (12/1/2025). Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Momen mengharukan terjadi di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Senin (12/1/2025). Di tengah bencana banjir yang merendam permukiman, sepasang pengantin tetap melangsungkan akad sekaligus pesta pernikahan.

Pasangan tersebut adalah Muhammad Firdaus Bagas Pratama (24) dan Rohmatul Umma Fitria (28). Meski air banjir menggenangi halaman rumah mempelai perempuan, prosesi sakral pernikahan tetap berlangsung khidmat.

Genangan air terlihat setinggi lutut orang dewasa. Kondisi ini membuat sebagian tamu memilih menyantap hidangan sambil berdiri agar pakaian tidak basah.

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Longsor di Menawan Kudus, Pemilik Toko Tewas Tertimpa Tebing

Sementara itu, sejumlah tamu lainnya memilih duduk di teras rumah tetangga yang tidak terdampak banjir. Dari sana, mereka tetap bisa menikmati hidangan dengan lebih nyaman.

Para rewang dan pramusaji tetap tampak tersenyum meski kaki mereka terendam air. Mereka dengan sigap lalu-lalang mengantarkan makanan kepada para tamu di tengah genangan banjir.

Beruntung, panggung rias pengantin tidak ikut terendam. Momen pemotretan hingga sungkeman kepada orang tua kedua mempelai pun dapat berlangsung lancar tanpa kendala berarti.

Mempelai perempuan, Rohmatul Umma Fitria, mengaku bersyukur pernikahannya tetap bisa terlaksana meski di tengah bencana. Ia memastikan prosesi akad nikah berjalan sesuai harapan.

Alhamdulillah akad nikah berjalan lancar dan sah,” ujar perempuan yang akrab disapa Umma dengan senyum haru.

Umma menuturkan, tanggal pernikahan tersebut telah ditetapkan sejak enam bulan sebelum hari H. Ia pun tak menyangka banjir akan datang tepat menjelang acara pernikahannya.

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga Terdampak

“Banjir terjadi sejak semalam. Karena waktunya sudah mepet, tidak memungkinkan untuk pindah lokasi. Jadi pernikahan tetap kami laksanakan,” katanya.

Meski digelar di tengah banjir, prosesi pernikahan tetap berjalan lancar. Bagi pasangan ini, yang terpenting adalah sah dan penuh makna.

“Semoga momen sakral ini menjadi kenangan seumur hidup dan penguat hubungan kami agar selalu langgeng,” harap Umma.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pantura Kudus–Pati Terendam Banjir, Lalu Lintas Lumpuh

0
Jalan Raya Pantura Kudus–Pati terendam banjir, Senin (12/1/2025). Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan ekstrem yang mengguyur Kabupaten Kudus sejak semalam mengakibatkan Jalan Raya Pantura Kudus–Pati terendam banjir, Senin (12/1/2025). Dampaknya, arus lalu lintas di jalur utama penghubung Pantura tersebut lumpuh dan memicu kemacetan panjang dari dua arah.

Pantauan di lapangan, genangan banjir terjadi di Jalan Pantura Kudus–Pati tepatnya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Air menutup badan jalan sepanjang kurang lebih 100 meter, membuat kendaraan harus berjalan pelan bahkan banyak yang terpaksa berhenti.

Kemacetan dari arah barat terpantau mengular sejak Pemerempatan Jepang, Kecamatan Mejobo. Sementara dari arah timur, antrean kendaraan mengular mulai dari lampu merah Krawang, Kecamatan Jekulo.

Baca juga: Akses Jalan Terputus Banjir, Dukuh Karangturi Terisolir

Sejumlah personel Polres Kudus terlihat siaga di lokasi untuk mengatur arus lalu lintas. Tak hanya mengurai kemacetan, petugas juga membantu mendorong sepeda motor warga yang mogok setelah nekat menerobos genangan banjir.

Kasatlantas Polres Kudus, AKP Royke Darean, mengatakan banjir yang menggenangi jalur Pantura tersebut disebabkan oleh luapan Sungai Dawe akibat hujan dengan intensitas tinggi.

“Genangan air di jalur Pantura Kudus–Pati sudah terjadi sejak semalam. Ketinggian air sekitar selutut orang dewasa,” ujar AKP Royke saat ditemui di lokasi, Senin (12/1/2025).

Ia menyebut, kondisi tersebut menyebabkan lalu lintas hanya bisa bergerak padat merayap. Selain itu, banyak kendaraan roda dua yang mengalami mogok karena mesin terendam air.

“Untuk pengaturan lalu lintas dan membantu pengendara yang motornya mogok, kami menerjunkan sekitar 15 personel di lokasi,” jelasnya.

AKP Royke menambahkan, Jalan Pantura merupakan akses utama dari Kudus menuju Pati, Rembang, hingga Surabaya. Sementara jalur alternatif di wilayah Kecamatan Mejobo terpaksa ditutup karena genangan banjir lebih tinggi, bahkan mencapai pinggang orang dewasa.

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga Terdampak

“Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan melintas jika tidak ada keperluan mendesak. Cuaca masih ekstrem, keselamatan harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Salah satu pengendara, Tri Utami, mengaku terpaksa menerobos banjir karena hendak berangkat kuliah ke Semarang dan tidak mengetahui adanya jalur alternatif lain.

“Saya tidak tahu kalau Pantura terendam banjir. Karena tidak tahu jalan lain, akhirnya nekat lewat dan motor langsung mogok. Untung ada polisi yang membantu mendorong,” ujarnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pecah Telur, Persipa Pati Raih Kemenangan Perdana di Liga Nusantara

0
Persipa Pati Raih Kemenangan Perdana di Liga Nusantara, Senin (11/1/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, PATI – Persipa Pati akhirnya memecah kebuntuan di kompetisi Liga Nusantara musim 2025/2026. Bertanding di Stadion Moch Soebroto, Minggu (11/1/2026), tim berjuluk Laskar Saridin sukses mengamankan kemenangan perdana usai menaklukkan Batavia FC dengan skor tipis 1-0.

Sejak peluit awal dibunyikan, duel kedua tim berlangsung dalam tempo sedang namun sarat tensi. Persipa tampil lebih rapi dan terorganisir, menunjukkan keseimbangan solid antara lini belakang dan lini depan. Sementara Batavia FC berusaha mengimbangi permainan, namun kerap menemui kebuntuan saat memasuki area pertahanan tuan rumah.

Gol penentu kemenangan Persipa lahir di babak pertama. Berawal dari skema serangan efektif, kelengahan barisan belakang Batavia FC berhasil dimanfaatkan dengan sempurna. Keunggulan tersebut membuat Persipa semakin percaya diri dalam mengendalikan ritme permainan.

Baca juga: Terpuruk di Klasemen, Persipa Wajib Menang atas Dejan FC Malam Ini 

Memasuki paruh kedua, Batavia FC tampil lebih agresif demi mengejar ketertinggalan. Sejumlah peluang sempat tercipta, namun rapatnya pertahanan Persipa membuat setiap ancaman berhasil dipatahkan. Disiplin tinggi dan koordinasi antarlini menjadi kunci kokohnya pertahanan Laskar Saridin.

Di sisi lain, Persipa memilih bermain lebih sabar dengan mengandalkan serangan balik cepat. Strategi ini efektif meredam tekanan lawan hingga wasit meniup peluit panjang tanda laga usai. Skor 1-0 bertahan, sekaligus memastikan tiga poin penting bagi Persipa.

Kemenangan ini menjadi momentum kebangkitan bagi Persipa Pati dalam perburuan poin di Liga Nusantara. Tambahan tiga angka diharapkan mampu mendongkrak kepercayaan diri tim untuk menghadapi laga-laga krusial berikutnya.

Pelatih Persipa Pati, Nazal Mustofa, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas kemenangan perdana tersebut. Ia mengapresiasi kerja keras para pemain yang dinilai mampu menjalankan instruksi dengan disiplin tinggi.

“Alhamdulillah, untuk pertama kalinya Persipa meraih kemenangan. Saya salut dengan anak-anak, mereka menjalankan instruksi taktikal dengan sangat baik. Formasi yang disiapkan bisa diterapkan di lapangan,” ujar Nazal usai pertandingan.

Menurut Nazal, kemenangan ini bisa menjadi pemicu semangat tim untuk terus tampil maksimal. Ia juga mengungkapkan bahwa kemenangan tersebut sudah dipersiapkan secara matang.

“Sebelum berangkat kami sudah briefing dan mempelajari permainan Batavia. Kami menerapkan high pressure dan menargetkan gol di babak pertama. Alhamdulillah berhasil. Anak-anak tetap fokus dan disiplin dalam bertahan,” jelasnya.

Baca juga: Sempat Bawa Persipa Promosi Liga 2, Nazal Mustofa Kembali Ditunjuk jadi Pelatih Laskar Saridin

Menatap laga selanjutnya melawan Nusantara United FC pada 20 Januari mendatang, Nazal menegaskan timnya akan memaksimalkan waktu persiapan demi meraih hasil terbaik.

“Kami targetkan poin penuh, itu harga mati. Kami tidak ingin degradasi. Evaluasi dan intensitas latihan akan kami tingkatkan untuk menghadapi Nusantara,” tegasnya.

Sementara itu, pemain Persipa Pati Adhil turut mengungkapkan kebahagiaannya atas kemenangan pertama tim musim ini. Ia berkomitmen untuk terus tampil maksimal di sisa pertandingan.

Alhamdulillah, ini kemenangan pertama setelah beberapa laga belum mendapat hasil maksimal. Ini berkat kerja keras pelatih, manajemen, dan seluruh pemain. Kami akan tetap fokus karena masih ada dua pertandingan dan kami tidak ingin kalah,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Hujan Ekstrem Picu Longsor di Menawan Kudus, Pemilik Toko Tewas Tertimpa Tebing

0
Rumah di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, dipasang garis polisi, Minggu (11/1/2025). Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan ekstrem di wilayah Kabupaten Kudus mengakibatkan bencana longsor di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan gebog, Minggu (11/1/2025). Akibat dari bencana tersebut, tiga rumah rusak dan satu korban meninggal dunia bernama Sriyatun.

Saksi mata sekaligus tetangga korban, Ahmad Syauqon menyampaikan, bencana longsor yang merenggut jiwa almarhum terjadi sekira pukul 13:00 WIB. Saat itu cuaca cukup ekstrem, karena curah hujan tinggi terjadi sejak semalam dan tak kunjung berhenti.

“Cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan tebing yang berada di belakang di toko Sriatun longsor dan menjebok tembok bagian belakang. Naasnya, longsoran tersebut kemudian menimpa almarhum,” ujar Syauqon.

Baca juga: Akses Jalan Terputus Banjir, Dukuh Karangturi Terisolir

Sebelum terjadi bencana, suami korban mendengar pergerakan tebing yang ada di belakang toko. Curiga bahwa tebing bakal longsor, sang suami pun mengajak korban untuk menutup toko dan pulang ke rumah.

“Pada saat itu, justru korban keluar toko terlebih dulu. Namun, karea dompetnya ketinggalan, sehingga korban pun masuk ke toko kembali. Hingga kemudian tebing di belakang toko dan menimpa korban,” bebernya.

Ia yang mendengar suara gemuruh tebing longsor langsung keluar. Kemudian mengajak para tetangga untuk melakukan evakuasi terhadap korban yang tertimpa longsor.

“Pada saat ditemukan, korban dinyatakan meninggal dunia. Posisi korban saat itu berdiri terhimpit tanah longsor dengan dinding toko bagian dalam. Karena dinding luar sudah jebol tertimpa longsor,” jelasnya.

Dia menuturkan, tebing yang longsor kurang lebih tingginya 10 meter. Selain merenggut korban jiwa, longsor tersebut juga merusak toko korban yang berukuran tiga meter kali tujuh meter.

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga Terdampak

“Kerusakan terjadi pada dinding belakang toko yang jebol sepanjang tiga meter,” imbuhnya.

Selain toko milik almarhum, tuturnya, ada dua lagi rumah di lokasi berbeda yang juga rusak karena bencana longsor. Namun, di dua lokasi tersebut tak sampai merenggut korban jiwa.

“Semoga cuaca ekstrem ini cepat berlalu. Tak ada lagi bencana dan korban jiwa lain,” harap Syauqon.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Diminta Setoran Rp10 Ribu, Puluhan Pedagang Sayur Pasar Bitingan Geruduk Kantor Disdag

0
Puluhan pedagang sayur Pasar Bitingan, menggeruduk Kantor Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kudus, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan pedagang sayur Pasar Bitingan, menggeruduk Kantor Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kudus, Senin (12/1/2026). Puluhan Pedagang itu mendesak dinas terkait untuk memutus kontrak dengan pemenang lelang parkir di pasar tradisional tersebut. 

Mereka beralasan, selama ini ratusan pedagang sayur diminta untuk menyetorkan uang Rp10 ribu per hari kepada pihak kedua, yakni pemenang lelang parkir. Padahal, menurut mereka pada perjanjian kontrak parkir, pihak kedua seharusnya tak lagi menarik uang kepada pedagang. 

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2003, disebutkan bahwa pedagang hanya berkewajiban membayar retribusi kepada pemerintah daerah. 

Baca juga: Antisipasi Kendaraan Sayur Masuk, Pintu Pasar Bitingan Kudus Diblokade

Ketua Paguyuban Pedagang Sayur Pasar Bitingan, Kunarto menyayangkan adanya penarikan setoran uang dari pedagang kepada pemenang lelang. Menurutnya hal itu melanggar Perda Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

“Pedagang selama ini diminta uang di luar parkir, penjanjian parkir kan Rp174 juta dan mereka sudah menerima sekitar Rp250 juta, kenapa minta lagi ke pedagang hampir Rp 940 juta,” klaim Kunarto.

Datang dengan mewakili 560 pedagang, Kunarto mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Disdag agar kontrak perjanjian dengan pemenang lelang parkir saat ini diputus. Alasannya, karena para pedagang sangat dirugikan adanya tarikan uang dari pihak kedua tersebut. 

“Kami ditarik sejak Agustus 2025 hingga saat ini. Setiap pedagang diminta Rp10 ribu, jelas sangat merugikan bagi kami” sebutnya.

Ia menyebut, apabila keinginan para pedagang tersebut tidak diindahkan, mereka bersepakat tidak akan membayar lagi kepada pihak kedua. Ia menegaskan, hanya akan membayar retribusi daerah yang telah diatur dalam perda sebesar Rp2-5 ribu per hari. 

Baca juga: Ratusan Pedagang Sayur Pilih Tetap Bertahan di Pasar Bitingan Kudus

“Kalau kontrak tidak diputus, kami tidak akan bayar. Mau ribut silahkan,” ujarnya. 

Sementara itu Pelaksana Harian (Plh) Kepala DIsdag Kabupaten Kudus, Djati Solechah tak banyak memberikan komentar adanya desakan para pedagang sayur di Pasar Bitingan. Yang jelas, pihaknya akan segera melakukan evaluasi dan meminta arahan kepada Bupati Kudus. 

“Aduan ini sementara kita tampung, akan kita evaluasi, dan akan kita laporkan ke pimpinan daerah,” terangnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

0
Banjir melanda jalan alternatif Pati–Rembang tepatnya di Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir melanda jalan alternatif Pati–Rembang tepatnya di Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Luapan air menggenangi ruas jalan utama yang menjadi penghubung antarwilayah dan memicu lumpuhnya aktivitas warga.

Air menutup badan jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer, dengan titik terparah berada di wilayah Desa Glonggong. Kondisi tersebut membuat kendaraan sulit melintas dan memaksa warga sekitar menghentikan aktivitas sehari-hari.

Menurut Rifi, salah seorang warga yang tinggal di pinggir jalan tersebut, banjir mulai datang pada Minggu (11/1/2026) kemarin sekitar pukul 11.30 WIB. Debit air terus meningkat seiring hujan deras yang mengguyur kawasan hulu.

Baca juga: Banjir Susulan Terjang Semampir, Ratusan Kolam Ikan Tak Terselamatkan

Ketinggian air di ruas jalan mencapai sekitar 50 sentimeter, sementara di permukiman warga bisa mencapai satu meter.

“Di permukiman ini 70 sentimeter sampai satu meter sampai masuk ke kampung, semua warga kena,” ujarnya.

Banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi sehingga debit air dari hulu membludak dan mengalir deras ke hilir, membanjiri jalan dan permukiman penduduk.

Tak hanya merendam rumah warga, banjir juga menghambat roda perekonomian. Di sepanjang jalan tersebut terdapat pasar tradisional, bengkel, serta deretan warung yang terpaksa tutup.

“Jualan di pasar, bengkel motor, toko pada tutup,” terangnya.

Salah satu pedagang yang terdampak adalah Rubinah, penjual mi ayam yang biasa mangkal di pinggir jalan. Ia mengaku harus menghentikan aktivitas berjualannya selama banjir berlangsung karena akses terputus. Ia tak bisa mendapatkan penghasilan akibat kondisi tersebut.

“Ndak bisa jualan karena banjir. Kalau ramai bisa habis 2 kilogram mie ayam, kalau sepi gak sampai 1 kilogram,” tuturnya.

Baca juga: Banjir Bandang Terjang Bulumanis Kidul Pati, Belasan Rumah Rusak Parah

Biasanya, Rubinah membuka warung mulai sore hingga malam hari, bahkan hingga dini hari karena lokasi tersebut berdekatan dengan pasar.

“Buka sore sampai malam, apalagi di sini pasar, jadinya jualan sampai fajar. Jualan mi, bakso, kopi, es,” sebutnya.

Namun kali ini, ia terpaksa menutup warungnya karena air juga merendam rumah dan tempat usahanya.

“Rumah kena banjir, depan rumah masuk ke latar sampai satu tekel. Ketinggian 20 sentimeter masuk, kalau warungnya kemasukan air 10 sentimeter,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Banjir Susulan Terjang Semampir, Ratusan Kolam Ikan Tak Terselamatkan

0
Warga Desa Semampir, Kabupaten Pati, menerjang banjir di desanya, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir bandang susulan kembali menerjang Desa Semampir, Kecamatan/Kabupaten Pati. Setelah sempat surut dan dilakukan pembersihan pada Sabtu kemarin, banjir kembali datang pada Minggu sekitar pukul 15.00 WIB dan bertahan hingga hari ini.

Kepala Desa Semampir, Parmono mengatakan, banjir kali ini merupakan yang kedua dalam dua hari terakhir dan berdampak hampir merata di seluruh wilayah desa.

“Banjir bandang ini susulan kedua. Kemarin hari Sabtu sudah selesai dan dibersihkan, tapi hari Minggu sekitar jam tiga sore banjir datang lagi sampai pagi ini,” ujar Parmono, Senin (12/01/2025).

Baca juga: Banjir Bandang Terjang Bulumanis Kidul Pati, Belasan Rumah Rusak Parah

Ia menyebutkan, dari 8 RT yang ada, hampir seluruhnya terdampak. Sekitar 75-80 persen rumah warga kemasukan air, dengan jumlah warga terdampak mencapai 302 kepala keluarga.

“Rata-rata per RT hampir 40 KK. Totalnya sekitar 302 KK yang terdampak,” jelasnya.

Banjir juga kembali merendam area di depan SD Semampir yang sebelumnya telah dibersihkan pasca banjir pertama. Akibat kondisi tersebut, aktivitas belajar mengajar terpaksa diliburkan demi keselamatan siswa.

“Kami liburkan sekolah dan kantor desa. Namun pelayanan pemerintahan desa tetap berjalan dari rumah,” kata Parmono.

Selain permukiman dan fasilitas pendidikan, tempat ibadah umat Kristen di Desa Semampir turut terdampak. Hingga kini, genangan air masih bertahan dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa, sehingga belum dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.

Dampak paling parah dirasakan oleh para petambak ikan. Banjir bandang menyebabkan lebih dari 100 kolam ikan jebol, sehingga ikan-ikan lepas terbawa arus. Jenis ikan yang terdampak meliputi lele, nila, mujair, patin, dan gurame, dengan luas tambak mencapai sekitar 9 hektar.

“Semua tambak kemasukan air, ikan pada lepas. Kerugian petambak belum bisa kami hitung,” ungkap Parmono.

Baca juga: Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Pati, 9 Kecamatan Terdampak

Sementara itu, Babinsa Desa Semampir, Aipda Heru, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyatakan banjir merendam seluruh RT di desa itu dan berdampak luas terhadap rumah warga serta tambak ikan.

“Delapan RT terendam banjir, ratusan rumah warga kemasukan air, dan semua tambak ikan terdampak,” kata Aipda Heru.

Pemerintah Desa Semampir berharap banjir segera surut dan adanya perhatian serta bantuan dari pemerintah daerah untuk meringankan beban warga terdampak.

“Harapan kami, pemerintah bisa membantu sesuai kemampuan Pemda agar warga kami bisa segera bangkit,” pungkasnya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Akses Jalan Terputus Banjir, Dukuh Karangturi Terisolir

0
Warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, menerjang banjir, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Cuaca ektream yang terjadi di wilayah Kabupaten Kudus beberapa hari ini mengakibatkan sejumlah wilayah terkena banjir. Seperti Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, yang tergenang banjir sejak Minggu (11/1/2026) kemarin. 

Bahkan, hingga hari ini (12/1/2026) ketinggian airnya mencapai 70 sentimeter dan memutus akses jalan di Dukuh Karangturi. Warga setempat harus memutar arah jalan lain untuk melakukan rutinitasnya sehari-hari, dengan melewati jalan di Dukuh Setro. 

Kepala Desa Setrokalangan, Didik Handono menyampaikan, genangan air di desa yang kerap menjadi langganan banjir itu semakin tinggi. Menurutnya, hal itu disebabkan adanya air kiriman dari Sungai Dawe dan Sungai Mijen. 

Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Kudus, Ribuan Warga Terdampak

Apalagi, cuaca yang saat ini masih hujan dengan intensitas tinggi, berpotensi air akan semakin bertambah. Saat ini kondisi air di sana dengan ketinggian antara 20 hingga 70 sentimeter. Titik paling tinggi, katanya di RT 1 RW 2 yang mencapai ketinggian 70 sentimeter.

“Untuk banjir yang terjadi di sini mulai kemarin. Hingga saat ini air semakin bertambah dengan cepat,” bebernya saat ditemui di lokasi, Senin (12/1/2026).

Setidaknya ada sebanyak 35 rumah terendam dengan sebanyak 50 kepala keluarga (KK) terdampak akibat banjir yang terjadi. Selain itu, meski Dukuh Karangturi dalam kondisi aman, namun untuk akses di sana terputus atau tidak bisa dilalui oleh kendaraan, sehingga tetap mengganggu aktivitas warga.

“Dukuh Karangturi terisolir karena akses jalan di sana sudah tidak bisa dilewati oleh motor. Sebab, ketinggian air akses jalan mencapai 70 sentimeter. Tadi pagi para pekerja dan anak sekolah sudah melewati jalan di Dukuh Setro, karena memang jalan di sana airnya sudah tinggi,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dengan bertambahnya air ketua RT dan RW berinisiatif untuk membuat penampungan motor bagi masyarakat. Mengingat mobilitas warga terganggu akibat banjir yang terjadi.

Baca juga: Banjir Rendam Jalan Alternatif Kudus–Pati, Puluhan Motor Mogok di Mejobo

“Kalau memang dibutuhkan, posko kebencanaan akan kami buat. Sementara ini, akan kita tampung di masjid dulu, kalau memang sudah ada pengungsi, Pemdes akan membuat posko bencana,” jelasnya. 

Dia berharap, semoga banjir secepatnya bisa surut, agar masyarakat bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Terlebih petani di sana juga terdampak akibat area persawahan mereka tergenang air.

Salah satu warga, Muhdi (52) menyampaikan, kondisi banjir di Desa Setrokalangan semakin bertambah dengan cepat. Dia menyebut, perluya penanganan dari pihak terkait untuk melakukan pembenahan aliran sungai yang mengalami kedangkalan. 

“Ini perlu penanganan untuk sungai alirannya agak terhambat yang mengalir ke arah Dorang, Soalnya sungai dangkal dan debit air Sungai Serang dan Lusi juga tinggi, jadi air di sini tidak bisa keluar,” imbuhnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Scroll Tiktok Jadi Cuan, Kisah Ratna Temukan Ide Bisnis Dari Tiktok

0
Ratna sedang menjajakan cireng di Desa Getas Pejaten, Jati, Kudus. Foto: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Deru wajan berisi minyak panas terdengar nyaring dari sebuah tenda merah bertuliskan Cireng Prasmanan. Aroma gurih adonan yang digoreng hangat berpadu dengan tawa ringan para pelanggan terdengar dari lapak yang ada di Desa Getas Pejaten, Jati, Kudus, tepatnya di depan Klinik Pratama Cahaya Husada. Di atas meja kecil, aneka cireng dan camilan tersusun rapi siap dipilih dan digoreng langsung sesuai selera.

Dian Ratna Sari (24), atau akrab disapa Ratna, tampak cekatan melayani satu per satu pembeli. Usai melayani pembeli, ia sudi berbagi cerita tentang usaha tersebut.

Ratna menjelaskan, bahwa Cireng Prasmanan sudah ia dirintis sejak 2023. Sebelumnya, ia adalah pekerja pabrik Djarum yang setiap sore pulang dengan rutinitas sama. Keinginan untuk memiliki kegiatan produktif selepas kerja mendorongnya mencoba berjualan.

Baca juga: Tahu Uap Mas Heri, Cemilan Kekinian yang Tak Pernah Sepi di Jepara

“Saya coba bikin cireng, awalnya cuma lihat resep dari TikTok. Rasanya belum pas, lalu saya terus eksperimen sampai akhirnya nemu resep sendiri,” terangnya.

Dari tangan Ratna, lahir beragam menu cireng dan camilan yang kini digemari pelanggan. Mulai dari cireng aneka rasa dan bentuk, cireng isi ayam suwir pedas, cireng keju, cireng kuah creamy, cireng chili oil, hingga basreng dan bikang. Seluruh proses produksi ia kerjakan sendiri, tanpa bantuan karyawan.

“Semua dari tangan saya sendiri, biar rasanya tetap konsisten,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Soal harga, Ratna sengaja membanderol menunya agar terjangkau semua kalangan. Camilan di lapaknya ia jual mulai Rp2.000.

Dari sekian banyak pilihan, cireng ayam suwir pedas, cireng keju, dan bikang menjadi favorit pelanggan. Menurutnya, perpaduan rasa gurih dan tekstur kenyal membuat pembeli kerap datang kembali.

Baca juga: Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah

Setiap hari, Ratna mulai buka pukul 15.30 WIB hingga dagangan habis, biasanya sekitar pukul 20.30 WIB. Tak hanya melayani pembeli yang datang langsung, ia juga memanfaatkan platform digital seperti GrabFood dan ShopeeFood untuk menjangkau pelanggan lebih luas.

“Harapannya ya ramai terus. Semoga bisa terus berkembang lebih besar lagi,” tambahnya.

Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Tahu Uap Mas Heri, Cemilan Kekinian yang Tak Pernah Sepi di Jepara

0
Pelanggan sedang membeli tahu uap di Raya Kelet–Bangsri, Desa Kelet, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Foto: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Menjelang sore, aroma gurih bumbu tahu uap berpadu dengan harum gorengan renyah menyebar di tepi Jalan Raya Kelet–Bangsri, tepatnya di depan Rama 88, Krajan, Desa Kelet, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Sebuah spanduk bertuliskan “Tahu Uap Mas Heri” menjadi penanda camilan kekinian yang tengah digemari masyarakat sekitar.

Di balik ramainya antrean, Syafi’i (35), adik pemilik outlet yang kini mengelola gerai tersebut, tampak melayani pelanggan dengan cekatan. Ia mengaku tak pernah menyangka usaha yang dijalaninya bisa berkembang pesat dalam waktu yang relatif singkat.

“Saya memang pecinta tahu sumedang, tahu crispy, dan sejenisnya. Suatu hari saya melihat Tahu Uap Mas Heri di TikTok, lalu langsung tertarik,” ungkap Syafi’i saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah

Ketertarikan itu membawanya pada keputusan besar untuk bergabung sebagai mitra franchise. Ia kemudian menghubungi pihak Mas Heri yang berlokasi di Bangilan, Tuban, untuk mencari tahu lebih jauh soal kerja sama.

“Setelah tanya-tanya harga dan sistem franchise, saya merasa cocok. Akhirnya saya buka cabang Tahu Uap Mas Heri di Kelet ini,” bebernya.

Cabang Kelet itu sudah berjalan sekitar satu tahun. Menurut Syafi’i, Tahu Uap Mas Heri cepat mencuri perhatian warga karena rasa dan teksturnya yang berbeda dari tahu goreng pada umumnya.

“Keunikannya ada di rasa, crispiness, dan kekriukannya. Ini yang bikin unik dan khas, deda dari tahu goreng biasa,” jelasnya.

Proses pembuatan Tahu Uap Mas Heri memerlukan ketelatenan khusus. Bahan utamanya terdiri dari tahu pilihan, tepung, dan bumbu racikan.

“Tahunya harus dikeringkan semalaman supaya saat digoreng bisa mengembang sempurna,” kata Syafi’i.

Baca juga: Es Teler Sandi Karangbener Kudus, Cuma Rp5.000 dan Siap COD

Tahu yang telah dipotong dan dikeringkan kemudian digoreng dengan teknik khusus selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, tahu disiram bumbu rahasia hingga lima kali, sehingga rasa benar-benar meresap. Dalam sistem franchise ini, pihak pusat hanya menyediakan bumbu rahasia, sementara bahan lain dan proses produksi dikelola mandiri oleh mitra.

Tahu Uap Mas Heri dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000. Untuk cabang Kelet, menu yang ditawarkan masih fokus pada varian tahu. Berbeda dengan outlet pusat Bangilan, Tuban, pelanggan juga bisa menikmati menu tambahan seperti sosis crispy.

“Kami buka setiap hari tanpa libur, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Kami ingin memastikan kapan pun pelanggan ingin menikmati Tahu Uap Mas Heri, kami selalu siap melayani,” tambah Syafi’i.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah

0
Martini sedang membuat es dawet, di depan Sekolah Miftahul Falah, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Terik matahari siang mulai terasa ketika bel sekolah berbunyi di Sekolah Miftahul Falah, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Satu per satu siswa keluar dari gerbang, membawa tas dan lelah setelah belajar. Di tengah hiruk-pikuk itu, aroma manis santan dan gula merah tercium dari sebuah gerobak berwarna abu-abu.

Seorang perempuan paruh baya tampak cekatan menuang es dawet ke dalam plastik. Dengan tangan terampil dan senyum ramah, Martini (48) melayani pembeli yang datang silih berganti.

Di sela-sela kesibukannya, Martini sudi berbagi cerita tentang usaha yang belum genap satu tahun ia geluti itu. Meski terbilang baru, ia mengaku bahwa es dawet buatannya cepat dikenal.

Baca juga: Es Teler Sandi Karangbener Kudus, Cuma Rp5.000 dan Siap COD

“Awalnya saya dikasih ilmu sama orang, diajarin cara bikin dawet, dari bahan, proses sampai jadi. Istilahnya saya itu sekolah dulu, baru akhirnya berani buka usaha sendiri,” ujar Martini saat ditemui di lapaknya beberapa waktu lalu.

Ia mengaku memilih usaha ini karena modalnya relatif kecil dan bahan-bahannya mudah didapat. Selain ed dawet, Martini juga menawarkan beberapa pilihan menu, seperti es dawet, es gempol, dan es campur.

Semua menu es dagangannya itu ia dijual dengan harga Rp5.000 per bungkus. Dari ketiga menu tersebut, es dawet dan es gempol menjadi yang paling diminati pembeli.

Martini berjualan setiap hari, kecuali Jumat. Biasanya, ia mulai membuka lapak sejak pukul 08.30 WIB hingga sekitar pukul 14.00 WIB.

Baca juga: Menikmati King of Fruit di Pondok Durian Bu Yati, Gak Enak Langsung Diganti

“Tapi kalau lagi laris ya saya balik lebih cepat. Mayoritas pembeli ya siswa. Lokasinya di sini terus, di depan Sekolah Miftahul Falah,” katanya.

Penulis: Muhammad Amaruddin, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -