Terik matahari siang mulai terasa ketika bel sekolah berbunyi di Sekolah Miftahul Falah, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Satu per satu siswa keluar dari gerbang, membawa tas dan lelah setelah belajar. Di tengah hiruk-pikuk itu, aroma manis santan dan gula merah tercium dari sebuah gerobak berwarna abu-abu.
Seorang perempuan paruh baya tampak cekatan menuang es dawet ke dalam plastik. Dengan tangan terampil dan senyum ramah, Martini (48) melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di sela-sela kesibukannya, Martini sudi berbagi cerita tentang usaha yang belum genap satu tahun ia geluti itu. Meski terbilang baru, ia mengaku bahwa es dawet buatannya cepat dikenal.
Baca juga: Es Teler Sandi Karangbener Kudus, Cuma Rp5.000 dan Siap COD
“Awalnya saya dikasih ilmu sama orang, diajarin cara bikin dawet, dari bahan, proses sampai jadi. Istilahnya saya itu sekolah dulu, baru akhirnya berani buka usaha sendiri,” ujar Martini saat ditemui di lapaknya beberapa waktu lalu.
Ia mengaku memilih usaha ini karena modalnya relatif kecil dan bahan-bahannya mudah didapat. Selain ed dawet, Martini juga menawarkan beberapa pilihan menu, seperti es dawet, es gempol, dan es campur.
Semua menu es dagangannya itu ia dijual dengan harga Rp5.000 per bungkus. Dari ketiga menu tersebut, es dawet dan es gempol menjadi yang paling diminati pembeli.
Martini berjualan setiap hari, kecuali Jumat. Biasanya, ia mulai membuka lapak sejak pukul 08.30 WIB hingga sekitar pukul 14.00 WIB.
Baca juga: Menikmati King of Fruit di Pondok Durian Bu Yati, Gak Enak Langsung Diganti
“Tapi kalau lagi laris ya saya balik lebih cepat. Mayoritas pembeli ya siswa. Lokasinya di sini terus, di depan Sekolah Miftahul Falah,” katanya.
Penulis: Muhammad Amaruddin, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

