Wanita berhijab hitam tampak begitu bersemangat melayani pembeli yang datang silih berganti di tokonya. Ia adalah Dwi Maria Ningsih (56), pemilik lapak Ganesha Snack di Jalan Ganesha II, Desa Purwosari, Kota Kudus. Dari pagi, aktivitas perdagangan di toko Ganesha Snack itu sangat ramai pembeli yang memenuhi lapaknya.
Di sela-sela kesibukannya, perempuan yang akrab disapa Dwi itu berbagi cerita tentang usahanya. Ia menjelaskan bahwa dagangannya selalu ramai setiap paginya. Dari sejumlah jajanan yang ia jual meliputi kue basah dan kue kering, menurutnya semua jajanannya sama rata banyak yang suka.
“Jajanannya mulai pedas, manis, asin semuanya ada macam-macam, ada puluhan lebih. Alhamdulillah semuanya sama, pasti ada pelanggannya masing-masing,” tuturnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun
Dwi juga menjelaskan, ia menerima banyak sekali pesanan setiap harinya, tentunya dengan kualitas jajanan yang selalu bagus untuk kepuasan pelanggannya.
“Setiap hari saya menerima pesanan, kadang 200 pcs snack box hingga 500 pcs, biasanya dari UMKM, kantor-kantor, proyek yang ada di Kudus, dan berbagai acara lainnya saya layani. Di sini minimal order 20 pcs,” kata Dwi.
Ketahanan dari jajanan yang ia jual, mulai dari kue basah biasanya 1 hari, jajanan kering bisa sampai 1 bulan. Menurutnya, untuk menjaga kualitas ia mempunyai prinsip untuk selalu menjaga dapurnya sendiri. Kualitas produk dan bahan baku yang bagus serta tata cara yang baik juga akan menjamin suatu produk itu berkualitas.
“Bahan-bahan yang bagus dan berkualitas, karena kita juga tidak ingin rugi, apalagi merugikan pelanggan. Dengan bahan dan kualitas produknya bagus untuk menjaga kepuasan pelanggan supaya tidak kecewa,” ujarnya.
Baca juga: Modal Rp50 Ribu, Warung Mbak Yuni Jadi Andalan Sarapan Warga Kudus
Berbagai jajanan yang ia jual mulai harga Rp 1.500 hingga Rp 6.500. Karena banyaknya pesanan, Ganesha Snack hanya libur dua pekan sekali di hari minggu.
“Namanya usaha tidak mungkin produksi terus, pasti ada istirahatnya. Pada hari Minggu selama dua minggu sekali itulah kita manfaatkan untuk istirahat. Kalau kita punya usaha sendiri otomatis akan berkembang, bisa mengatur waktu sendiri,” imbuhnya.
Penulis: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

