Beranda blog Halaman 87

Pertalite di SPBU Bacin Kudus Tercampur Air, Pengelola Sebut Karena Cuaca Ekstrem

0
Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di SPBU Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus tercampur air. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di SPBU Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus tercampur air. Tercemarnya bahan bakar tersebut bukan kelalaian dari Pertamina tetapi dari wadah penampungan SPBU.

Penanggung jawab SPBU Bacin, Agus Purnomo menuturkan, tercampurnya BBM Pertalite dengan air terjadi saat di wadah penampungan. Menurutnya, air masuk dari atas, tidak merembes dari samping.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Curah hujan beberapa hari ini cukup ekstrem. Jadi masuk melalui tutup penampungan. Namanya, tutup kan ada celahnya juga,” ujar Purnomo kepada awak media di SPBU Bacin, Selasa (13/1/2025).

Purnomo menuturkan, terakhir pengiriman Pertalite tiga hari yang lalu. Menurutnya, bahan bakar RON 92 yang dikirim oleh Pertamina tersebut dalam keadaan baik. 

“Kapasitas wadah kami itu kurang lebih ada 20 ribu liter. Sementara saat ini tersisa sekira 3 ribu liter Pertalite yang tercampur dengan air,” bebernya.

Terkait sisa BBM Pertalite yang tercampur air, lanjut Purnomo, bakal menunggu dari pihak Pertamina. Pihaknya akan mengikuti arahan dari perusahaan milik negara tersebut.

“Terkait Pertalite ini kami menunggu pemeriksaan lengkap dari Pertamina. Sekaligus menunggu arahannya,” sebutnya.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Dia menegaskan bahwa pihaknya akan bertanggung jawab penuh atas kerugian konsumen. Pihaknya akan menanggung biaya perbaikan motor konsumen yang mogok gegara menenggak Pertalite campur air. 

“Untuk saat ini sudah ada 10 pemilik kendaraan yang mengadu dan dibawa ke SPBU Bacin. Kami siap bertanggung jawab sepenuhnya, sampai motor konsumen menyala dan normal kembali,” tandas Purnomo. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

BBM Pertalite di SPBU Bacin Tercampur Air, Penjualan Dihentikan Sementara

0
Tangkapan layar video warga yang menguras tangki kendaraan bermotor akibat Bahan Bakar Minyak (BBM) tercampur air. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Video warga yang menguras tangki kendaraan bermotor akibat Bahan Bakar Minyak (BBM) tercampur air ramai beredar di grup WhatsApp, Selasa (13/1/2025). Dalam video tersebut dinarasikan bahwa BBM jenis Pertalite yang tercampur air berasal dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Penanggung Jawab SPBU 4359318 Bacin, Agus Purnomo, membenarkan bahwa BBM kendaraan yang tercampur air tersebut berasal dari SPBU Bacin. Ia menyebut, BBM yang tercampur air merupakan jenis Pertalite dan pihak SPBU siap bertanggung jawab atas kerugian konsumen.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

“Benar, itu dari kami. BBM yang tercampur air adalah Pertalite. Kami akan bertanggung jawab atas kerugian yang ditanggung konsumen,” ujar Agus saat ditemui di SPBU Bacin, Selasa (13/1/2025).

Agus memastikan kejadian tersebut baru terjadi pada hari itu, sekitar pukul 05.00 hingga 06.00 WIB. Keluhan konsumen muncul tidak lama setelah pengisian BBM dilakukan, sehingga pihak SPBU langsung melakukan pengecekan.

“Setelah ada keluhan, kami langsung cek ke tangki penampungan. Dari situ diketahui Pertalite tercampur air, sementara jenis BBM lainnya aman,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, hingga siang hari tercatat sekitar 10 kendaraan yang melapor mengalami masalah akibat BBM tercampur air. Pihak SPBU juga mempersilakan konsumen lain yang mengalami kejadian serupa untuk datang dan melapor.

“Kami akan bertanggung jawab penuh atas kerusakan kendaraan. Namun tetap akan kami kroscek agar tidak ada klaim yang tidak sesuai,” tegasnya.

Baca Juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Sementara itu, Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan. Pengawas Perdagangan Dinas Perdagangan Kudus, Atok Darmo Broto, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan BBM jenis Pertalite di SPBU Bacin memang tercampur air.

“Karena terbukti tercampur air, penjualan BBM jenis Pertalite kami hentikan sementara, sampai ada petugas dari Pertamina untuk melakukan pembersihan sisa BBM,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Setinggi Satu Meter Rendam 464 Rumah di Welahan Jepara

0
Banjir setinggi satu meter masih merendam ratusan rumah warga di Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Banjir setinggi satu meter masih merendam ratusan rumah warga di Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Genangan terjadi di Dukuh Selomenur dan Temenur, Desa Welahan, serta Desa Ketilengsingole.

Pantauan di Dukuh Selomenur menunjukkan banjir merendam sebagian besar rumah warga. Sejumlah rumah terkunci karena ditinggal mengungsi, namun sebagian warga memilih bertahan di tengah genangan.

Baca juga: Desa Tempur Jepara Terisolir Akibat Dikepung Longsor, Jaringan Listrik Mati Total 

Warga Dukuh Selomenur RT 3 RW 3, Achmadi (60), mengatakan banjir mulai menggenangi permukiman pada Minggu (11/1/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Air kemudian masuk ke rumah warga pada Senin (12/1/2026) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB dan sempat mencapai ketinggian 1,5 meter.

“Sekarang mulai surut, tapi masih sekitar satu meter,” ujarnya saat ditemui Selasa (13/1/2026).

Sebagian warga memilih mengungsi, sementara lainnya bertahan. Salah satu warga, Roichatun (47), mengaku tetap tinggal meski air setinggi lutut hampir merobohkan lemari di rumahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan makan, ia memasak sendiri dengan sisa bahan makanan yang tersedia.

Baca juga: Terisolir Akibat Longsor, Pemkab Jepara Upayakan Jalur Alternatif Menuju Desa Tempur

Camat Welahan, Suhadi, menyebutkan sebanyak 464 rumah masih terendam banjir. Rinciannya, 428 rumah di Desa Welahan dan 36 rumah di Desa Ketilengsingole. Sekitar 35 warga mengungsi di MTs Ketilengsingole.

Menurut Suhadi, banjir dipicu curah hujan tinggi serta limpasan air dari Kecamatan Mayong. Saat ini, pihak kecamatan masih fokus menyalurkan bantuan kepada warga terdampak, terutama kebutuhan makanan. Hingga saat ini dapur umum belum didirikan.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Fraksi Gerindra Kudus Hadir di Tengah Banjir: ‘Politik Harus Menyentuh Rakyat’

0
Fraksi Gerindra DPRD Kudus turun langsung menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat, Selasa (13/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah genangan banjir yang masih merendam sejumlah wilayah di Kota Kretek, Fraksi Partai Gerindra DPRD Kudus memilih turun langsung ke lapangan. Mereka datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat terdampak tidak merasa sendirian menghadapi musibah.

Bagi Fraksi Gerindra, situasi darurat seperti banjir menjadi pengingat bahwa politik tidak cukup dijalankan dari balik meja rapat. Melainkan harus hadir secara nyata menyentuh langsung kehidupan rakyat, terutama saat penderitaan datang tanpa aba-aba.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Sebagai bentuk kepedulian awal, Fraksi Partai Gerindra menyalurkan kurang lebih 300 karton mi instan kepada warga terdampak banjir. Bantuan tersebut didistribusikan ke empat desa yang mengalami genangan cukup parah. 

Mi instan dipilih karena menjadi kebutuhan paling mendesak. Mudah dimasak, cepat disajikan, dan dapat langsung dikonsumsi oleh keluarga yang terdampak.

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Kudus, Valerie Yudistira Pramudya, menegaskan bahwa langkah ini merupakan wujud kehadiran wakil rakyat di tengah kondisi krisis. Menurutnya, di saat seperti ini masyarakat tidak membutuhkan janji politik, melainkan kepastian dan kepedulian nyata.

“Dalam kondisi darurat, rakyat tidak butuh banyak janji. Mereka butuh makanan, perhatian, dan kehadiran. Di situlah politik seharusnya berdiri, berpihak dan hadir saat rakyat paling membutuhkan,” tegas Valerie di sela-sela menyerahkan bantuan kepada warga terdampak banjir di Dukuh Karanganyar, Desa Payaman, Selasa (13/1/2025).

Ia mengungkapkan, keputusan turun lebih awal diambil setelah melihat langsung kondisi lapangan. Banyak warga yang kehilangan akses dapur, listrik, hingga bahan makanan akibat banjir yang tak kunjung surut.

“Kami tidak ingin menunggu keadaan semakin memburuk. Bantuan ini memang sederhana, tapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban warga. Ini adalah langkah awal dari solidaritas,” ujarnya.

Fraksi Gerindra juga memastikan tidak berhenti pada penyaluran bantuan awal. Mereka berkomitmen untuk terus memantau perkembangan situasi banjir serta mendorong langkah-langkah lanjutan agar proses pemulihan berjalan cepat dan tepat sasaran.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Menurutnya, bencana bukan semata persoalan kemanusiaan, tetapi juga tanggung jawab politik. Negara, melalui para wakil rakyatnya, memiliki kewajiban memastikan tidak ada warga yang tertinggal dan terabaikan saat kondisi darurat melanda.

“Ketika rakyat sedang kesulitan, di situlah seharusnya negara dan wakil rakyat hadir sepenuhnya,” imbuh Valerie.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Gerindra Kudus Terjang Banjir, Salurkan Ratusan Paket Sembako ke Warga Terdampak

0
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Kudus turun langsung menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat, Selasa (13/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepedulian terhadap warga terdampak banjir kembali ditunjukkan Partai Gerindra Kabupaten Kudus. Di tengah genangan air yang masih merendam sejumlah wilayah, jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Kudus turun langsung menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat, Selasa (13/1/2025).

Tak sekadar menyerahkan bantuan, para pengurus partai berlambang kepala garuda itu harus menerobos banjir demi memastikan bantuan sampai ke tangan warga yang benar-benar membutuhkan. Bantuan difokuskan pada tiga desa yang terdampak cukup parah, yakni Desa Payaman, Desa Jojo, dan Desa Temulus.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Ketua DPC Gerindra Kudus, Sulistyo Utomo, menyampaikan bahwa total sebanyak 325 paket sembako disalurkan kepada warga terdampak banjir. Setiap desa mendapatkan alokasi sekitar 100 paket bantuan, sementara sisanya disalurkan secara fleksibel sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Penentuan lokasi bantuan ini berdasarkan laporan langsung dari ranting-ranting Gerindra di desa. Mereka menyampaikan bahwa ketiga wilayah tersebut terdampak cukup serius,” ujar Sulistyo di sela kegiatan penyaluran bantuan.

Ia menilai, banjir yang melanda Kabupaten Kudus kali ini tergolong cukup berat. Meski berbagai upaya mitigasi telah dilakukan sebelumnya, kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi membuat banjir tetap tidak terhindarkan.

“Ini murni faktor alam. Kami di DPRD, khususnya melalui Komisi C, sudah mendorong langkah-langkah pencegahan. Namun curah hujan yang tinggi membuat dampaknya meluas,” jelas Wakil Ketua DPRD Kudus.

Menurutnya, persoalan banjir di Kudus tidak bisa ditangani secara parsial. Diperlukan kerja sama lintas sektor, bahkan hingga melibatkan pemerintah pusat, agar penanganannya dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Jika hanya ditangani di level kabupaten tentu berat. Perlu sinergi dari hulu ke hilir. Kolam retensi di Kecamatan Jati sudah ada, namun ternyata belum cukup menahan limpasan air,” ungkapnya.

Dalam kegiatan sosial tersebut, DPC Gerindra Kudus juga mengerahkan relawan dari Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria). Para relawan membantu proses distribusi sembako sekaligus memantau kondisi warga di lokasi terdampak.

“Karena jumlah pengungsi tidak terlalu banyak, kami memilih menyalurkan bantuan langsung ke rumah-rumah warga agar bisa langsung dimanfaatkan,” katanya.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Ia berharap banjir segera surut sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Menurutnya, banjir tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga mengganggu mata pencaharian, terutama petani dan pekerja harian.

“Kami sangat prihatin. Semoga air segera surut, tidak ada bencana susulan, dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Landa Sejumlah Wilayah Kudus, Bupati Sam’ani Instruksikan PUPR Lakukan Asesmen Infrastruktur

0
Petugas Satlantas Polres Kudus mengatur lalu lintas di Jalan Kudus Pati, akibat banjir, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus dalam beberapa hari terakhir mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk mengambil langkah cepat. Sejumlah ruas jalan dan infrastruktur diperkirakan mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kudus untuk segera melakukan asesmen dan peninjauan terhadap infrastruktur yang terdampak. Instruksi itu disampaikan saat Bupati meninjau warga terdampak banjir di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Selasa (13/1/2026).

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Untuk Dinas PUPR Kabupaten Kudus, segera melakukan asesmen, baik terhadap jalan maupun infrastruktur lainnya,” kata Sam’ani.

Ia menegaskan, kerusakan infrastruktur yang menjadi kewenangan Pemkab Kudus harus segera ditangani agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal. Asesmen tersebut diperlukan untuk mendata secara menyeluruh tingkat kerusakan yang terjadi akibat bencana.

“Dengan adanya data yang akurat dari hasil asesmen, perbaikan terhadap kerusakan infrastruktur dapat segera dilakukan,” jelasnya.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Sam’ani menambahkan, Pemkab Kudus telah menetapkan status tanggap bencana melalui Surat Keputusan Bupati yang berlaku mulai 12 hingga 19 Januari 2026. Dengan langkah tersebut, ia berharap kondisi Kabupaten Kudus dapat segera pulih sehingga aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.

Selain itu, Pemkab Kudus juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan. Ia memastikan ketersediaan logistik bantuan bagi warga terdampak masih mencukupi dan masyarakat diminta tidak khawatir.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sambangi Posko Bencana, Bupati Sam’ani Beri Bantuan Logistik

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris menyambangi warganya yang berada di posko bencana, Selasa (13/1/2026). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyambangi warganya yang berada di posko bencana, Selasa (13/1/2026). Dalam kunjungannya, Sam’ani juga membagikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Sam’ani menyambangi beberapa posko, diantaranya posko bencana Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati lalu di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo. 

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Melihat warganya yang kelihatan kesusahan, Bupati Sam’ani bersama dengan sejumlah OPD datang dengan membawa logistik bantuan yang diperlukan sebagian warga. Ada selimut, makanan siap saji, matras, beras, dan lain sebagainya. 

Sam’ani juga sempat berbaur dengan masyarakat yang berada di posko bencana, MI Hidayatus Shibyan Desa Temulus. Bercanda dengan warga dan menggendong balita di sana. 

Bupati menyampaikan, ada dua posko yang didirikan untuk menampung warga terdampak banjir di Kudus.

“Terimasih kepada kades, Polsek Mejobo, dan semua yang terlibat dalam penanganan bencana. Semoga hujan reda dan banjir secepatnya bisa segera surut sehingga masyarakat bisa beraktifitas kembali,” bebernya.

Ia menyampaikan, kondisi para pengungsi di sana semua dalam keadaan baik. Apabila ada warga yang terindikasi sakit, nantinya ada pihak puskesmas yang terjun untuk mengecek kondisi pengungsi yang sakit. 

“Semoga tanggap darurat yang kami tetapkan mulai 12-19 Januari 2026 ini cepat selesai dan kondisi bisa pulih kembali seperti sedia kala. Kami mendorong Dinas PUPR Kudus untuk melakukan asesmen, bila ada jalan dan infratruktur yang rusak segera diperbaiki,” jelaasnya. 

Bupati memastikan, bahwa logistik bantuan saat ini masih aman untuk dibagikan kepada warga terdampak. Jika bantuan itu kurang, pihaknya akan meminta bantuan dari Pemerintah Jawa Tengah.

Salah satu pengungsi di Desa Temulus, Ngatono menuturkan bahwa pihaknya sudah mengungsi sejak tiga hari ini. Hal itu dikarenakan kondisi rumahnya yang masih terendam banjir dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter atau selutut orang dewasa. 

“Warga yang terdampak kurang lebih ada 47 rumah. Saat ini mereka mengungsi di sini dan ada juga yang mrngungsi di rumah kerabatnya. Pengungsian di sini nyaman karena ada dapur umumnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua RW Dukuh Goleng, Sukijan mengaku, banjir yang terjadi di sana sejak dua hari lalu. Ia menyebut, bertambahnya air saat ini dikarenakan derasnya hujan yang terjadi di Kabupaten Kudus.

Menurutnya, ada sebanyak 100 rumah yang tergenang air dengan ketinggian berbeda-beda.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Saat ini untuk ketinggian air rata-rata 40-50 centimeter. Warga ada yang mengungsi dan ada pula yang masih bertahan di rumahnya masing-masing.

Sebagai informasi, sebanyak 40 warga Desa Temulus mengungsi di MI Hidayatus Shibyan, sementara warga Dukuh Goleng ada sebnayak 24 warga yang mengungsi di TPQ Khurriyatul Fikri. Sebagian besar warga masih bertahan di rumahnya masing-masing.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Maestro Wayang Klithik, Bertahan Jaga Warisan Budaya yang Terancam Punah  

0
Ki Sutikno mementaskan Wayang Klithik di Taman Padang Mbulan Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (10/1/2026) malam. Foto Betanews.id: Kaerul Umam

Seni tradisi Wayang Klithik, warisan budaya khas Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kini berada di ujung tanduk. Dari generasi ke generasi, seni pertunjukan wayang berbahan kulit kayu itu diwariskan secara turun-temurun. Namun saat ini hanya tersisa satu dalang yang masih aktif, yakni Ki Sutikno, pewaris generasi kedelapan warisan leluhur.

Berbeda dengan wayang kulit yang mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana, Wayang Klithik Wonosoco lebih menceritakan tentang babad sejarah lokal. Cerita-ceritanya memuat asal-usul desa, konflik sosial masa lalu, hingga relasi manusia dengan alam dan spiritualitas masyarakat setempat.

Seiring perubahan sosial dan minimnya regenerasi, Wayang Klithik kini hanya dipentaskan pada momen tertentu, seperti ritual sedekah bumi. Padahal sebelumnya, pertunjukan wayang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual warga desa.

Baca juga: Pentas Tahunan ke-18, Widyas Budaya Suguhkan Sendratari Ramayana

Melihat kondisi tersebut, pegiat budaya asal Kudus, Bustomy Rifa Aljauhari, menggagas program bertajuk “Sang Dalang Terakhir” sebagai upaya penyelamatan Wayang Klithik Wonosoco. Dengan pementasan wayang yang didokumentasi sebagai film, penguatan ruang pertunjukan, serta kegiatan edukatif yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni, di Taman Padang Mbulan Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (10/1/2026) malam.

“Wayang Klithik bukan sekadar tontonan, tapi praktik budaya hidup. Di dalamnya ada sejarah lokal, relasi manusia dengan alam, serta nilai spiritual masyarakat,” kata Bustomy.

Ia menambahkan, Wayang Klithik memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber yang masih dijalankan warga Wonosoco sebagai bentuk syukur atas mata air di kawasan Pegunungan Kendeng Utara tersebut. Dalam ritual tersebut, wayang berfungsi sebagai medium doa, pengingat sejarah, sekaligus sarana pendidikan moral.

Program Sang Dalang Terakhir mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Dana Indonesiana. Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga tradisi yang terancam putus regenerasi.

Menurut Bustomy, pertunjukan publik menjadi cara penting untuk mengembalikan eksistensi Wayang Klithik. 

“Jika hanya disimpan sebagai arsip, maka yang hilang bukan hanya pertunjukannya, tapi juga fungsinya dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ki Sutikno mengaku khawatir fenomena generasi muda sekarang ini yang sudah mulai berdialog tak menggunakan Bahasa Jawa. Sehingga hal itu dapat berdampak pada budaya lokal seperti Wayang Klithik yang akan kehilangan maknanya jika tidak diwariskan. 

“Wayang ini menyimpan doa dan sejarah desa. Kalau tidak ada yang meneruskan, semua bisa hilang,” tuturnya.

Sejarawan Kudus, Edy Supratno menilai, perlu adanya kolaborasi antar unsur, untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut. Bahkan pihaknya mengaku prihatin dengan judul yang diangkat dalam kegiatan itu, yakni “Sang Dalang Terakhir”. 

Baca juga: Kudus Bakal Hadirkan Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ki Sigid Ariyanto

“Sehingga kita perlu memposisikan Wayang Klithik ini sebagai bagian hidup kita. Semua pihak harus bahu membahu dan berperan di masing-masing bagian, supaya ke depannya muncul dalang-dalang yang dapat meneruskan warisan budaya lokal ini biar semakin lestari dan bergairah,” jelasnya. 

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto, menyebut Wayang Klithik sebagai kekayaan budaya khas Kudus yang perlu dikenalkan lebih luas. Bila perlu bisa dimasukan pada kulikulum sekolah, harapannya generasi muda bisa mengetahui tentang keberadaan budaya lokal yang dimiliki.

“Harapannya, Wayang Klithik tidak berhenti pada satu generasi saja. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi dan ruang publik agar seni ini tetap relevan,” ungkapnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

8 Kecamatan di Jepara Terdampak Bencana, Pemkab Siapkan Dana BTT Rp5 Miliar 

0
Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Foto Betanews.id: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebanyak delapan kecamatan di Kabupaten Jepara terdampak bencana mulai dari banjir hingga tanah longsor akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan delapan kecamatan yang saat ini terdampak bencana yaitu Kecamatan Keling, Donorojo, Kalinyamatan, Nalumsari, Mayong, Bangsri, Tahunan, dan Kembang. 

Dari delapan kecamatan itu, Desa Tempur di Kecamatan Keling menjadi daerah terparah terdampak bencana berupa tanah longsor yang membuat akses jalan menuju desa itu terputus. 

Baca juga: Terisolir Akibat Longsor, Pemkab Jepara Upayakan Jalur Alternatif Menuju Desa Tempur

“Yang terdampak ada delapan kecamatan, Alhamdulillah kondisinya saat ini sudah lumayan membaik, yang paling besar memang di Desa Tempur,” katanya saat ditemui usai meninjau banjir di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Senin (12/1/2026). 

Untuk di Desa Tempur, Wiwit mengatakan fokus penanganan saat ini yaitu pembersihan badan jalan yang tertutup material longsor. Dalam waktu tiga hari hal tersebut akan diupayakan segera teratasi.

Pihaknya akan menurunkan tiga unit eksavator ke lokasi untuk membersihkan pohon-pohon yang menghambat aliran sungai. 

Kemudian terkait kondisi Sungai Gelis di Desa Tempur, arus air saat ini masih cukup deras sehingga alat berat belum bisa diturunkan sepenuhnya. 

Sebagai solusi teknis, nantinya akan dilakukan pengalihan aliran sungai serta pembuatan badan jalan yang sebelumnya hilang sepanjang kurang lebih 4,5 meter. 

Baca juga: Desa Tempur Jepara Terisolir Akibat Dikepung Longsor, Jaringan Listrik Mati Total 

Untuk pelebaran jalan menurutnya belum bisa dilakukan, sebab saat ini potensi munculnya longsor susulan masih dimungkinkan terjadi. 

“Pembukaan akses jalan masih kita upayakan, tapi untuk jalan alternatif saat ini sudah bisa dilalui dengan sepeda motor yang bisa digunakan untuk penyaluran logistik,” ujarnya. 

Kemudian untuk penanganan dampak bencana, Wiwit mengatakan nantinya akan diambil dari dana Belanja Tidak Terduga (BTT). 

“Tahun ini kita punya Rp5 miliar (dana BTT), saya rasa cukup untuk membiayai. Selain itu juga nanti akan kita carikan CSR serta dari masyarakat,” katanya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Kecamatan Tayu Dirikan Dapur Umum, Suplai Ratusan Porsi Makanan untuk Korban Banjir

0
Pemerintah Kecamatan Tayu mendirikan dapur umum untuk korban banjir, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pemerintah Kecamatan Tayu mendirikan dapur umum yang dipusatkan di kantor kecamatan setempat. Hal ini menyusul adanya sejumlah desa di wilayah tersebut yang terdampak banjir.

Setidaknya ada sembilan desa di Kecamatan Tayu yang diterjang banjir bandang sejak Jumat (9/1/2026) malam lalu. Akibatnya, ratusan rumah warga di sembilan desa tergenang banjir.

Desa-desa di Kecamatan Tayu yang terdampak banjir itu di antaranya, Desa Keboromo, Sambiroto, Tayu Kulon, Tayu Wetan, Margomulyo, Dororejo, Japat Kidul, Kedungsari dan Desa Tunggulsari.

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

Saat ini, sebagian desa sudah surut, tinggal Desa Tunggulsari dan Margomulyo yang rumah warganya tergenang banjir. Namun, ribuan hektare di sembilan desa tersebut masih tergenang banjir hingga kini.

”Yang terdaftar itu ada sembilan desa. Tapi yang paling parah itu di sekitar tanggul Sungai Tayu,” ujar Ketua PKK Tayu yang juga Kasi Pemerintahan Kecamatan Tayu Zahrotul Istiqomah, Senin (12/1/2026).

Ribuan warga di Kecamatan Tayu juga terdampak banjir. Kondisi ini membuat pemerintah  kecamatan mendirikan dapur umum di Kantor Kecamatan Tayu.

”Dapur umum kecamatan Tayu ini untuk meringankan beban saudara kita yang terdampak banjir. Karena yang terdampak banjir mulai Sambiroto, Dororejo, Tunggulsari, Jepat Kidul, Margomulyo, Tayu Wetan, Tayu Kulon, Kedungsari, Keboromo ini yang terdekat dengan tanggul,” sebutnya.

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

Setidaknya, keberadaan dapur umum ini bisa memasak lebih dari 500 porsi setiap harinya. Meskipun belum bisa mencukupi semua kebutuhan warga, diharapkan dapur umum yang baru didirikan Minggu (11/1/2026) kemarin ini bisa meringankan beban korban banjir.

”Kemarin 500 lebih hari ini juga 500 lebih. Alhamdulillah ada sejumlah donatur yang memeberikan bantuan. Baru kemarin didirikan. Ini hari kedua,” ungkapnya.

Ia pun bersyukur dapur umum ini dibantu oleh sejumlah pihak. Mulai dari NU, Fatayat, Ansor, PKK Kecamatan dan sejumlah relawan lainnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Korban Banjir di Pati Mulai Keluhkan Gatal-gatal

0
Petugas kesehatan memeriksa korban banjir di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Warga di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati yang rumahnya terendam banjir mulai mengeluhkan gatal-gatal. Mereka pun mendatangi posko umum yang didirikan oleh pihak kelurahan setempat.

Posko umum tersebut berada di Masjid Maji’ Rohmati Annur Kalidoro. Posko ini untuk menyuplai kebutuhan logistik hingga pengobatan bagi warga yang terdampak banjir.

Layanan pengobatan difasilitasi oleh Puskesmas Pati l. Sejumlah petugas kesehatan disiagakan di posko umum untuk melayani masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan.

Petugas dari Puskesmas Pati I, Aura Aprilia mengatakan, layanan pengobatan di posko ini gratis. Fasilitas ini untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir.

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

“Kita memang ada program untuk membantu para korban banjir. Jadi dari Puskesmas Pati I itu menurunkan beberapa personilnya mengadakan pengobatan gratis di daerah yang terdapat banjir. Salah satunya di Kalidoro ini,” katanya.

Pihaknya sebelumnya juga telah turun ke lapangan yang sejumlah desa yang terdampak banjir. Ia berharap layanan ini dapat bermanfaat korban banjir.

“Jadi kita berharap semua kejadian ini akan cepat berlalu dan kita juga insyaallah siap memberikan sedikit bantuan kepada korban yang terdampak banjir,” ucapnya.

Puskesmas Pati I telah menerima berbagai macam keluhan penyakit dari warga yang terdampak banjir. Utamanya penyakit gatal-gatal.

“Rata-rata keluhannya pada kutu air, karena ini banjir gabungan dari segala hal airnya itu bisa bakteri, atau virus atau jamur. Jadi rata-rata pada mengeluh itu gatal-gatal di kakinya Ada juga yang batuk pilek. Kita paling kasih salep saja, salep yang anti jamur,” sebutnya.

Ia menyebut sudah ada puluhan warga yang mengalami gatal-gatal. Mereka mulai dari orang dewasa hingga lanjut usia (lansia).

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

“37 kurang lebihnya. Rata-rata dewasa ke arah lansia,” imbuhnya.

Salah satu warga Kelurahan Kalidoro, Sri Maryani mengaku berobat ke layanan di posko ini karena kakinya mengalami lecet saat menerjang banjir.

“Ini saya di Masjid ada posko kesehatan ini ada keluhan karena lecet di kaki, karena bawa sandal. Ini sudah tensi, tensinya malah naik karena terpikir banjir,” ujarnya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Pembuatan Tanggul Darurat di Bulumanis Kidul Pati Ditarget Rampung Hari Ini

0
BBWS Pemali Juana mengebut pembuatan tanggul darurat Sungai Suwatu di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, mulai dikerjakan, Minggu (11/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana mengebut pembuatan tanggul darurat Sungai Suwatu di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati yang jebol akibat banjir bandang, Jumat (9/1/2026) lalu. Pengerjaan sudah dimulai Minggu (11/1/2026) dan ditergetkan rampung hari ini.

Sejumlah pekerja tampak mengangkut berbagai material, seperti bambu untuk tiang pancang hingga anyaman bambu atau sesek. Dua alat berat juga tampak dikerahkan untuk mempercepat proses pembangunan tanggul sepanjang sekitar 40 meter.

Penancapan bambu sepanjang sekitar 4 meter menggunakan alat berat itu dilakukan di dua sisi selebar kurang lebih 1 meter. Setelahnya, para pekerja memasang anyaman bambu dan geotek yang kemudian tengahnya baru diisi tanah.

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

Pengawas proyek dari BBWS Pemali Juana, Wachid  mengatakan, untuk percepatan pembangunan tanggul darurat, pihaknya mengerahkan 15 pekerja dan dua alat berat. Pembangunan sebenarnya sudah dimulai Minggu (11/1/2026). Namun, karena terkendala hujan deras maka pemasangan trucuk bambu baru dimulai hari ini, Senin (12/1/2026).

“Pembuatan tanggul darurat kami mulai dari kemarin, tapi untuk problemnya kemarin itu cuaca dan debit air tinggi. Jadi kami menambal tanggul saja. Tadi pagi baru mulai pemancangan (bambu) untuk tanggul daruratnya,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi banjir susulan, pihaknya menargetkan pembangunan harus selesai hari ini. Jika belum selesai, maka pihaknya akan melakukan penambalan darurat lagi, dan esoknya dibongkar kemudian dipasang trucuk bambu.

“Untuk hari ini kita harus ngejar, kalau bisa hari ini selesai untuk mengamankan,” beber dia.

Namun, dalam proses pembuatan tanggul darurat ini, pihaknya terkendala akses menuju tanggul jebol yang berada sangat dekat dengan permukiman. Selain itu, material juga harus didatangkan dari luar daerah.

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

“Kendalanya, satu, akses. Kedua, banyak hunian di bantaran juga untuk penghambatnya. Kemudian material tanah, karena belum tiba akhirnya sementara pakai tanah sekitar tanggul, nanti diganti,” ujar Wachid

Untuk tanggul permanen, pihaknya belum bisa memastikan waktu pembangunannya. Mengingat, masyarakat untuk sementara butuh tanggul tertutup dulu, karena mereka khawatir akan ada banjir susulan.

“Untuk tanggul permanen, kami menunggu cuaca. Cuacanya masih kayak gini. Kami sementara bisa untuk tanggap darurat dulu, yang penting aman,” pungkasnya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Bencana Hidrometeorologi di Kudus, 14.437 Jiwa Terdampak, 3 Orang Meninggal Dunia

0
Petugas Satlantas Polres Kudus mengatur lalu lintas di Jalan Kudus Pati, akibat banjir, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat banyak kejadian bencana akibat cuaca ektream yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) di wilayah Kota Kretek, baik cuaca ektream, bencana banjir maupun tanah longsor.

Berdasarkan data BPBD Kudus per hari ini, Senin (12/1/2026) pukul 8.00 WIB, warga terdampak total ada sebanyak 14.437 jiwa dari 4.610 KK, hingga ada tiga warga yang meninggal. Data tersebut terjadi di 30 desa dari delapan kecamatan di Kota Kretek.

Kejadian bencana tersebut terjadi disebabkan adanya cuaca ektream atau bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak Jumat-Senin (9-12/1/2026) di wilayah Kabupaten Kudus.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Kudus, EKo Hari DJatmiko menyampaikan, dampak cuaca hujan yang mengguyur Kudus beberapa hari terakhir ini mengakibatkan banyak bencana, seperti tanah longsor, banjir, dan cuaca ektream. Bencana tanah longsor terjadi di tiga kecamatan dengan 84 titik longsor, meliputi Kecamatan Gebog, Kecamatan Dawe, dan Kecamatan Bae, dan dilaporkan ada satu warga meninggal dikarenakan bencana ini.

“Bencana tanah longsor di Kecamatan Gebog, ada dua desa yakni Desa Rahtawu dan Menawan, kemudian di Kecamatan Dawe ada enam desa terdampak, meliputi Desa Japan, Kuwukan, Kajar, Ternadi, Kandangmas, dan Colo. Sementara di Kecamatan Bae hanya Desa Gondangmanis yang terdampak, sehingga dari total sembilan desa ini, ada sebanyak 20 KK dari 64 jiwa dan 20 rumah terdampak,” jelasnya.

Untuk bencana banjir, terdapat ada 16 desa dari 6 kecamatan yang terdampak, dengan total 14.362 jiwa dari 4.587 KK. Akibat bencana ini dua orang dilaporkan meninggal setelah hanyut karena aliran sungai.

Dari enam kecamatan mengakibatkan bencana banjir tersebut, meliputi Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Jati, dan Kaliwungu. Di mana Kecamatan Mejobo paling banyak desa yang mengalami kebanjiran dengan tujuh desa terdampak, disusul Kecamtan Kaliwungu dengan lima desa yang kebanjiran.

“Dari bencana banjir ini 176,4 hektar sawah teredam, 2.647 rumah terendam, dan dua warga mengalami laka air dan keduanya ditemukan meninggal dunia,” jelasnya.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Sementara untuk bencana cuaca ektrem mengakibatkan tujuh desa dari empat kecamatan terdampak. Di antaranya Kecamatan Dawe, Kaliwungu, Jati, dan Gebog. Bencana ini menyebabkan tiga pohon tumbang, tiga orang mengalami luka ringan dan tiga kendaraan rusak.

Akibat banyaknya bencana yang terjadi di Kabupaten Kudus, pihak BPBD Kudus telah berkoordinasi dengan pemdes, pemcam, TNI, Polri, Kencana, Destana, relawan gabungan, untuk menangani wilayah yang terdampak. Selain itu, BPBD Kudus juga telah menyalurkan dukungan logistik ke beberapa desa dan melakukan asesmen data secara periodik.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Diterjang Banjir Bandang, Jembatan di Nalumsari Jepara Hanyut Terbawa Arus 

0
Warga melintasi blokade jembatan penghubung warga di dua desa di Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, yang amblas terbawa arus sungai, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebuah jembatan yang menjadi akses penghubung warga di dua desa di Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara hanyut terbawa arus sungai saat terjadi banjir bandang.  

Peristiwa itu terjadi pada Minggu, (11/1/2026) sekitar pukul 13.30 WIB. Dari rekaman video yang diterima Betanews.id, salah satu sisi jembatan tampak sudah ambruk dan jatuh ke dasar sungai. 

Sisi jembatan yang sudah ambruk kemudian diterjang derasnya air sungai hingga akhirnya hanyut terbawa aliran air sungai. 

Baca juga: Terisolir Akibat Longsor, Pemkab Jepara Upayakan Jalur Alternatif Menuju Desa Tempur

Maskuri (56), Warga RT 1 RW 9 Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari bercerita jembatan itu merupakan jalur alternatif bagi warga di Dukuh Glatik Watu, Desa Ngetuk dan Dukuh Pondok, Desa Karangnongko. 

Jembatan itu dulunya dibangun secara swadaya oleh masyarakat sekitar tahun 1997. Sebab masyarakat di dua desa itu ingin memiliki akses yang cepat menuju desa lainnya.  

“(Jembatan) ini jalan pintas, jalan alternatif penghubung (Desa) Karangnongko dan Ngetuk. Dulu dibangun sekitar tahun 1997, secara swadaya karena kita ingin punya akses,” kata Maskuri saat ditemui di lokasi jembatan, Senin (12/1/2026). 

Saat jembatan tersebut hanyut terbawa arus sungai, Maskuri mengatakan peristiwa itu memang tidak terjadi seketika. Namun berangsur-angsur. Dimulai dari robohnya tiang penyangga yang tertimpa pohon randu. 

“Karena tiang penyangganya ngga kuat, sehingga turun sedikit-sedikit terkena arus banjir, akhirnya hanyut. Arus air saat itu memang deras, seperti banjir bandang, bisanya ngga sampe kayak gitu,” bebernya. 

Saat pertama kali dibangun hingga akhirnya  hanyut, jembatan memang sempat direnovasi. Namun hanya pada bagian plat atau lantai jembatan. 

Kini akibat jembatan itu roboh, warga di dua desa maupun anak sekolah yang terbiasa melintas di jalur itu terpaksa harus berputar melewati jalan poros desa. Jarak yang harus ditempuh yaitu sekitar 2,5 km. 

Baca juga: 18 Titik Longsor Kepung Desa Tempur Jepara, Akses Jalan Masih Tertutup Total 

“Sekarang lewatnya muter. Terutama anak-anak sekolah, SD, SMP, karena dari Desa Karangnongko itu ada yang sekolahnya di Desa Ngetuk,” ungkapnya. 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan karena jembatan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dalam waktu dekat pihaknya akan segera membangun ulang jembatan itu menggunakan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT). 

Wiwit menarget sekitar bulan Maret jembatan itu akan selesai dibangun sehingga bisa diakses kembali oleh masyarakat. 

“Karena itu sangat urgent maka akan kita bikinkan dengan dana BTT. Mudah-mudahan kita bisa segera bangun kembali, dijadwalkan setelah lebaran insyaallah sudah bisa terbangun,” katanya. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Ratusan Rumah di Kalidoro Terendam Banjir, Pemerintah Dirikan Posko Umum

0
Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, mendirikan posko banjir, Senin (12/1/2026). Foto Betanews.id: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Ratusan rumah warga di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati terendam banjir. Menyikapu kondisi tersebut, pihak kelurahan setempat pun mendirikan posko umum.

Posko umum didirikan di Masjid Maji’ Rohmati Annur Kalidoro. Posko ini, nantinya digunakan untuk menyuplai kebutuhan logistik hingga pengobatan bagi warga yang terdampak banjir.

Perangkat Kelurahan Kalidoro, Arif Imawan mengungkapkan, posko umum ini didirikan lantaran semua warga di kelurahannya terdampak banjir. Ia menyebut, ada 300 lebih rumah yang tergenang banjir.

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

“Yang mendirikan dari kelurahan. Bantuan dari Setda Bupati karena rumah warga kebanjiran semua. Total 2 RW, 7 RT. 300-400 rumah,” katanya.

Selain untuk menyuplai logistik, posko ini juga dijadikan tempat pengungsian. Meski demikian, ia menyebut hanya puluhan warga yang mengungsi, sementara lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing.

“Yang mengungsi tidak terlalu banyak. Ada yang masih tinggal di rumah. Tapi di rumah ketinggian ada 1 meteran. Tidak bisa masak, sehingga hanya menunggu bantuan saja,” ungkapnya.

Bantuan untuk posko di Kalidoro ini mulai berdatangan. Salah satunya bantuan berupa pinjaman gas elpiji 12 kilogram dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati.

Bantuan ini disalurkan langsung oleh Kepala Disdagperin Pati, Bhakti Junior Isrony. Ia menyebut gas elpiji ini untuk membantu operasi posko umum ini.

“Dalam rangka membantu teman-teman di Posko Kalidoro dengan pembukaan dapur umum karena adanya kejadian banjir. Tadi pagi ada perintah Bapak Bupati lewat Pj Sekda kepada Dinas Perdagangan dan Perindustrian memohon untuk bantuan tabungan elpiji kegiatan dapur umum,” ucapnya.

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

Rony menyebut, ada sebanyak 3 tabung gas elpiji 12 kilogram yang dipinjamkan. Pihaknya akan memastikan ketersediaan gas ini selama dapur umum beroperasi.

“Alhamdulillah kita dipenuhi dari teman-teman agen. Dapur umum di Kalidoro kita berikan pinjaman 3 tabung gas elpiji 12 kilo. Kalau habis digunakan segera komunikasi dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -