Beranda blog Halaman 86

Tanggul Sungai Wulan di Undaan Lor Sleding 20 Meter

0
Tanggul Sungai Wulan yang berada di wilayah Desa Undaan Lor, tepatnya sebelah Punden Mbah Tirto mengalami sleding atau pergeseran. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Tanggul Sungai Wulan yang berada di wilayah Desa Undaan Lor, tepatnya sebelah Punden Mbah Tirto mengalami sleding atau pergeseran.

Kepala Desa Undaan Lor, Nurul Qomar menyampaikan, bahwa tanggul mengalami pergeseran tanah sejak Senin (12/1/2026) kemarin. Menurutnya, sleding terjadi karena tingginya curah hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. 

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Untuk panjang tanggul yang terjadi sleding dengan panjang sekitar 30 meter, lebar 3 meter, dan anjlok ke bawah sekitar satu meter. Ini sangat berbahaya dan mengakibatkan bencana besar untuk Kecamatan Undaan dan sekitarnya kalau tak secepatnya dilakukan perbaikan,” bebernya, Rabu (14/1/2026).

Untuk itu pihaknya berharap agar segera ada penanganan yang dilakukan untuk perbaikan tanggul yang terjadi sleding tersebut. Pihaknya mengaku telah melaporkan ke Pemerintah Kecamatan Undaan untuk bisa dikoordinasikan dengan pihak terkait, supaya bisa mendapat penanganan secepatnya.

“Informasinya hari ini sudah dilakukan penanganan. Terimakasih sekali karena telah merespon aduan dengan cepat, sehingga ke depannya bisa memberikan rasa aman untuk masyarakat,” ungkapnya. 

Camat Undaan, Arif Budiyanto melalui Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Undaan, M Safruddin menjelaskan, bahwa untuk tanggul sleding yang terjadi, hari ini Rabu (14/1/2026) mulai dilakukan penanganan oleh pihak terkait.

“Kemarin kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak berwenang (BBWS Pemali Juwana) dan hari ini sudah dilakukan penanganan dengan menggunakan alat berat. Semua dikerjakan oleh BBWS, jadi pihak desa hanya memfasilitasi tenaga, dalam hal ini Destana jika diperlukan,” ungkapnya usai melakukan Rapat Koordinasi bersama instansi dan kepala desa di Kecamatan Undaan. 

Sementara itu, Direksi Lapangan Sungai Pantai pada BBWS Pemali Juwana, Nisar Suci Raharjo menegaskan, bahwa pihaknya saat ini sudah melakukan penanganan terhadap tanggul yang sledind tersebut. Penanganan itu katanya mulai dilakukan hari ini dengan menggunakan alat berat.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

“Alat kemarin sudah tiba, dan hari ini sudah kami lakukan penanganan. Hari ini pengumpulan tanah sehingga yang mengalami sleding bisa tertutup,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (14/1/2026) sore.

Ia memperkirakan panjang tanggul sleding dengan panjang sekira 25 meter dan ketebalan 8 meter. Penanganan itu dilakukan dengan target tiga hari ke depan bisa rampung.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

JPU Tolak Eksepsi Botok Cs, Jaksa Sebut Gunakan KUHAP Lama 

0
Botok dan Teguh, dua pentolan AMPB usai persidangan, Rabu (14/1/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati menolak seluruh eksepsi Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto. Mereka beralasan, pihaknya masih menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) lama. 

Penolakan ini disampaikan JPU dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Pati, Rabu (14/1/2026). 

”Pada intinya kami menolak seluruh eksepsi atau tanggapan dari penasehat hukum terdampak yang telah dibacakan dalam persidangan sebelumnya,” ujar Kasi Intel Kejari Pati Rendra Pardede. 

Rendra menyebut, pihaknya menggunakan KUHAP lama untuk menetapkan Botok cs sebagai terdakwa. Menurutnya, penetapan terdakwa Botok cs sudah sesuai aturan KUHAP lama. 

”Alasannya, eksepsi yang disampaikan sebagian besar sudah masuk ke pokok perkara. untuk materi eksepsi diatur dalam KUHAP lama. Mulai kewenangannya mengadili dan sebagainya. Kami masih memakai KUHAP lama. Nanti tergantung majelis hakim menggunakan pasal lama atau KUHAP baru,” katanya. 

Sidang kasus Botok cs bakal dilanjutkan pada pekan depan, Rabu (21/1/2026), dengan meteri persidangan putusan sela. Dalam persidangan pekan depan, hakim akan memutuskan eksepsi Botok cs diterima atau ditolak. 

”Nanti keputusan akan dibacakan dalam persidangan pekan depan,” ungkap Humas PN Pati, Retno Lastiani. 

Sementara itu, Botok cs menilai, UU KUHP lama yang digunakan merupakan UU bikinan Belanda. 

”UU yang disangkakan kami adalah UU nomor 1 tahun 1946. Itu adalah UU Belanda atau penjajah. UU itu diterapkan Belanda untuk menghalangi pejuang,” ungkap Teguh Istiyanto. 

Ia pun mencontohkan pasal pemblokiran jalan. Menurutnya, aturan itu digunakan Belanda di masa perjuangan untuk menangkap para pejuang kemerdekaan. 

”Contoh pemblokiran jalan. Itu digunakan Belanda untuk menangkap pejuang yang merusak Jalan dan jembatan untuk menghambat kendaraan Belanda,” kata Teguh. 

Saat ini, aturan tersebut kembali digunakan untuk menjerat Botok cs. Meskipun ada KUHP baru yang telah berlaku sejak 2 Januari 2026 lalu. 

”Kali ini UU itu diterapkan kepada kami. Itu sama. kami dianggap mengganggu pemerintah. UU itu untuk menangkap pejuang,” ucapnya. 

Untuk diketahui, Botok cs dipenjara usai menggelar demo mengawal sidang paripurna Hak Angket DPRD terkait Pemakzulan Bupati Pati Sudewo. Dalam sidang tersebut, DPRD Pati sepakat memberikan kesempatan kepada Sudewo untuk memperbaiki kinerja. Pemakzulan pun gagal. 

Gagalnya pemakzulan ini membuat massa AMPB kecewa. Mereka kemudian melampiaskan kekecewaannya dengan memblokir Jalan Pantura Pati-Rembang. 

Tindakan ini menjadi celah pihak aparat kepolisian untuk menangkap Botok dan Teguh Istiyanto. Selain keduanya, seorang sopir dari Kabupaten Pati yang berinisial I juga ditangkap. Mereka kini telah menjadi terdakwa dan terancam hukuman 9 tahun penjara meskipun hanya memblokir Pantura sekitar 15 menit. 

Botok cs dijerat dengan pasal berlapis, yakni pasal 192 ke 1 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP atau pasal 160 KUHP junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan atau melanggar ketentuan pasal 169 ayat 1 KUHP.

- advertisement -

Penyebrangan Kapal Dihentikan, Ratusan Warga Karimunjawa Terjebak di Jepara 

0
KMP Siginjai. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Rute penyebrangan kapal dari Pelabuhan Penyebrangan Kartini Jepara menuju Pulau Karimunjawa saat ini dihentikan akibat cuaca buruk yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. 

Imbasnya terdapat ratusan warga Kecamatan Karimunjawa yang saat ini masih tertahan di area Jepara. 

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Camat Karimunjawa, Nuril Abdillah menyebutkan terdapat 116 warganya yang saat ini belum bisa pulang. Rinciannya, warga Desa Karimunjawa sebanyak 96 orang, warga Desa Kemujan sebanyak 20 orang. Mereka sudah tertahan selama lima hari. 

“Total ada 116 warga Karimunjawa yang masih tertahan di Jepara sampai saat ini. Karena semua penyeberangan off. Baik kapal Express maupun Siginjai,” katanya melalui sambungan telepon, Rabu (13/1/2026). 

Nuril melanjutkan, warga Kecamatan Karimunjawa yang masih tertahan saat ini rata-rata menginap di tempat saudara atau teman. 

Dari 116 warga, sebanyak 61 orang sudah mendapat bantuan dari Badan Amil Zakat (Baznas) Jepara dan sisanya belum. 

Ia sendiri tidak bisa memastikan kapan pelayaran akan dibuka. Sebab sampai saat ini, dari pihak Syahbandar belum mengeluarkan ijin pelayaran. 

“(Kemungkinan) Kapal akan beroperasi Sabtu atau Minggu ini, semoga cuaca mendukung,” ujarnya. 

Terpisah, Kabid Angkutan Laut pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jepara, Nur Sahid mengatakan sejak tanggal 9 Januari lalu seluruh jadwal pelayaran sudah dihentikan total. Pihaknya pun juga belum dapat memastikan kapan rute penyebrangan akan kembali dibuka. 

“Semuanya off total. Kapal Express Bahari dan Siginjai,” kata Nur Sahid. 

Nur Sahid melanjutkan kondisi cuaca di perairan Jepara dan Karimunjawa saat ini masih dalam kondisi buruk. Kecepatan angin mencapai 25 knots dengan ketinggian gelombang 1,25 – 2,5 meter. 

Pihaknya memprediksi, kondisi baratan ini akan berlangsung hingga Februari atau bulan depan. 

“Tapi kelihatannya ini puncak-puncaknya (baratan). Karena di darat sendiri sudah semingguan hujan angin terus,” jelasnya. 

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Untuk sementara ini, wilayah Karimunjawa hanya bisa diakses oleh kapal-kapal besar. Seperti Kapal Pelni dari Semarang yang beberapa hari lalu mengangkut wisatawan dari Karimunjawa.

“Kapal Pelni itu berani. Tapi kalau seperti Kapal Express atau Siginjai, tidak berani. Syahbandar juga enggak mengizinkan,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Lumpuhkan Terminal Jati Kudus, Ketinggian Air Capai 80 Cm

0
Banjir merendam Terminal Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan ekstrem yang mengguyur Kabupaten Kudus menyebabkan Terminal Jati Kudus terendam banjir hingga nyaris satu meter. Akibatnya, terminal utama tersebut terpaksa ditutup sementara dan seluruh kendaraan dilarang masuk.

Admin Terminal Jati Kudus, Hengki Muslimma Aji, mengatakan air mulai menggenangi area terminal sejak Senin sore (12/1/2025). Hingga Rabu (14/1/2025), ketinggian air bervariasi antara 45 hingga 80 centimeter.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Ketinggian air paling parah berada di pintu masuk Terminal Jati Kudus. Itu yang membuat kami tidak berani membuka akses kendaraan,” ujar Hengki saat ditemui di lokasi.

Ia menjelaskan, penutupan Terminal Jati Kudus telah diberlakukan sejak Selasa (13/1/2025) demi keselamatan penumpang serta untuk mencegah kerusakan fasilitas terminal.

Sebagai langkah antisipasi, aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang sementara dialihkan ke Jalan R Agil Kusumadya, tepatnya di sisi barat Terminal Jati. Pengalihan ini berlaku untuk bus malam maupun angkutan kota.

“Kalau kendaraan tetap masuk, dikhawatirkan akan menimbulkan gelombang air yang bisa merusak rolling door kios-kios di dalam terminal,” jelasnya.

Selain itu, Hengki menilai penumpang juga enggan masuk ke area terminal karena kondisi tergenang. Akibatnya, sebagian besar kios pedagang di Terminal Jati memilih tutup sementara.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Menurutnya, banjir di Terminal Jati Kudus dipicu oleh intensitas hujan yang sangat tinggi, sementara aliran pembuangan air menuju Sungai Wulan maupun kolam retensi belum berfungsi optimal.

“Kami berharap hujan segera reda dan air cepat surut, sehingga Terminal Jati Kudus bisa kembali beroperasi normal dan para pedagang dapat membuka kiosnya lagi,” harapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tergenang Hingga 80 Cm, Puluhan Warga Jetiskapuan Dievakuasi dan Kebanyakan Masih Bertahan di Rumah

0
Banjir di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Tingginya curah hujan yang mengguyur Kabupaten Kudus mengakibatkan bencana banjir di wilayah Kabupaten Kudus kian meluas. Kini beberapa desa mengalami banjir, seperti yang terjadi di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati.

Akses jalan terputus, sehingga membuat warga terisolir karena sudah tak dapat dilalui kendaraan roda dua. Sebanyak 60 warga Jetiskapuan terpaksa dievakusi dan diungsikan ke tempat aman, lantaran air menggenang pemukiman dengan ketinggian hampir menyentuh satu meter. Meski begitu, sebagian warga masih bertahan di rumahnya dengan logistik yang ada. 

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

Proses evakuasi penyelamatan bagi warga terdampak berlangsung cukup lama. Warga dievakusi menggunakan perahu karet dibantu petugas BPBD, relawan, serta TNI-Polri. 

Camat Jati, Mochammad Zainuddin mengatakan, banjir terjadi di Desa Jetiskapuan sejak Selasa (13/1/2026) kemarin. Genangan semakin tinggi, ketika hujan terus mengguyur hingga mengakibatkan Sungai Bakinah meluap.

“Lokasi terparah berada di RW 5 dengan ketinggian berkisar 70-80 sentimeter, baik persawahan dan pemukiman warga tertutup oleh air semua. Sehingga warga harus dievakuasi ke Gedung Muslimat Desa Loram Kulon,” terangnya saat ditemui di lokasi, Rabu (14/1/2026).

Pihaknya menyebut akan mendirikan dapur umum di Kantor Kecamatan Jati, untuk mencukupi kebutuhan logistik bagi warga. Menurutnya, logistik nantinya akan dipusatkan jadi satu kepada warga yang masih bertahan di lokasi banjir. 

“Kami akan menyiapkan dapur umum untuk menyuplai makanan bagi warga yang menetap di rumah,” ucapnya.

Petugas Kesehatan dari Puskesmas Jati juga turut memberikan layanan ke rumah-rumah warga terdampak melalui perahu. Bahkan, salah satu warga yang membutuhkan perawatan medis ke rumah sakit harus dievakusi segera dengan perahu.

Tak sedikit pula warga mengeluhkan bahwa banjir menyebabkan penyakit demam hingga gatal-gatal.

Salah satunya diungkapkan oleh Siti Munawaroh, warga Desa Jetiskapuan RT 2 RW 5. Banjir yang sudah melanda rumahnya dua hari ini menyebabkan anggota keluarganya demam. Dia pun mengaku terserang gatal-gatal dan kutu air.

“Keponakan sakit batuk pilek, kaki saya juga mulai gatal-gatal karena banjir,” ujar wanita yang kini berusia 39 tahun tersebut.

Hal senada juga dikatakan Suhermanto. Pria berusia 36 tahun itu mengaku rumahnya tergenang selama dua hari ini. Menurutnya, awalnya air belum masuk ke dalam rumah, namun saat ini genangan air di rumahnya mencapai 30 sentimeter. 

Dia berharap, supaya banjir di desanya segera surut. Apalagi logistik makanan yang berada di rumahnya hanya mampu untuk menghidupi dirinya dan anggota keluarganya selama satu pekan ke depan.

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

Hal itu ditambah sejak tiga minggu lalu Suhermanto tidak bekerja lantaran banjir. Keputusannya untuk tidak mengungsi lantaran khawatir dengan kondisi anak-anaknya.

“Anak masih kecil, tahun lalu kami mengungsi tapi anak saya tidak betah karena terlalu ramai,” ujar bapak dua anak ini. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Fraksi Gerindra DPRD Kudus Kembali Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Hadipolo

0
Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Kudus kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya dengan menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, pada Rabu (14/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Kudus kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya dengan menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, pada Rabu (14/1/2026).

Kehadiran wakil rakyat tersebut menjadi angin segar bagi warga yang masih berjibaku dengan dampak banjir. Sejumlah kebutuhan pokok disalurkan untuk membantu meringankan beban keluarga yang aktivitas sehari-harinya terganggu akibat genangan air.

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

Penyerahan bantuan ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Kudus, Galih Saputro, sebagai bagian dari respon cepat Fraksi Gerindra terhadap kondisi masyarakat yang masih kesulitan akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan politik kami sebagai wakil rakyat. Saat masyarakat mengalami musibah, negara dan wakil rakyat harus hadir, tidak hanya lewat kebijakan tetapi juga aksi nyata di lapangan,” ujar Galih Saputro.

Bantuan sembako ini, lanjut Galih, difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Khususnya keluarga yang aktivitas ekonominya terganggu akibat banjir. 

Galih menegaskan bahwa Fraksi Gerindra akan terus memantau perkembangan di wilayah terdampak banjir dan siap mendorong langkah lanjutan baik di tingkat legislatif maupun melalui koordinasi dengan pemerintah daerah.

“Kami tidak ingin bantuan ini berhenti di sini. Fraksi Gerindra akan terus mengawal upaya penanganan pasca-banjir, mulai dari kebutuhan darurat hingga pemulihan lingkungan dan ekonomi warga,” bebernya. 

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

Warga Desa Hadipolo menyambut baik kehadiran Fraksi Gerindra dan menyampaikan apresiasi atas perhatian serta kepedulian yang diberikan di tengah situasi sulit.

Melalui kegiatan ini, Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kudus kembali menegaskan komitmennya untuk selalu hadir bersama rakyat, terutama di saat masyarakat menghadapi musibah dan kondisi darurat.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Siswa di Pati Terpaksa Terjang Banjir Demi Berangkat Sekolah

0
Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Pati, memaksa para siswa berjuang ekstra demi tetap bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Pati, memaksa para siswa berjuang ekstra demi tetap bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Salah satunya terjadi di Dukuh Biteng, Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, yang terisolir akibat luapan Sungai Silugonggo.

Para siswa harus berjalan kaki menerobos genangan air setinggi lutut orang dewasa. Dengan mengenakan sandal jepit, mereka melintasi jalan licin dan arus air yang cukup deras untuk mencapai titik parkir kendaraan.


Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

Salah satu pelajar SMA, Febrina, mengaku sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut saat banjir melanda. Meski berisiko, ia tetap memilih berangkat sekolah.

“Airnya setinggi lutut, jalannya licin, tapi tetap harus hati-hati. Ini tetap berangkat ke sekolah, karena mau cari ilmu,” ujar Febrina.

Setelah sampai di area parkir yang aman dari genangan, para siswa berganti pakaian dan mengenakan jas hujan sebelum melanjutkan perjalanan menuju sekolah dengan sepeda motor.

Banjir akibat meluapnya Sungai Silugonggo tersebut tak hanya mengganggu aktivitas belajar, tetapi juga membuat wilayah Dukuh Biteng terisolir. Akses transportasi terendam, sehingga aktivitas warga ikut terhambat.

Kondisi ini membuat orang tua diliputi rasa khawatir. Supatmo, salah satu orang tua siswa, mengaku cemas saat melepas anaknya berangkat sekolah. 

“Khawatir pasti ada, apalagi airnya lumayan dalam. Tapi kalau tidak berangkat, anak-anak ketinggalan pelajaran. Untuk disiplin, sekolah juga masih wajibkan siswa berangkat sekolah, ” kata Supatmo.


Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

Warga berharap banjir segera surut agar akses jalan kembali normal dan aktivitas masyarakat, terutama anak-anak sekolah, dapat berjalan dengan aman.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, bencana banjir dan tanah longsor hingga kini telah berdampak pada 91 desa di 19 kecamatan di wilayah tersebut.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Gelar Rakor, Desa-desa di Kecamatan Undaan Diminta Sigap Bencana

0
Pemerintah Kecamatan Undaan menggelar rapat koordinasi membahas terkait antisipasi adanya bencana banjir yang dimungkinkan akan melanda desa-desa di Kecamatan Undaan. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kecamatan Undaan menggelar rapat koordinasi membahas terkait antisipasi adanya bencana banjir yang dimungkinkan akan melanda desa-desa di Kecamatan Undaan. Rapat tersebut diselenggarakan di Aula Gedung Serbaguna Desa Undaan Lor, Rabu (14/1/2026). 

Diketahui bencana banjir saat ini tengah melanda Desa Karangrowo dengan jumlah 996 jiwa dari 356 KK terdampak banjir. Sedangkan untuk area persawahan, 86 hekatr terendam hingga kerugian ditaksir mencapai Rp516 juta karena gagal panen.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Camat Undaan, Arif Budiyanto melalui Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kecamtan Undaan, M Safruddin menyaampaikan, rapat digelar sebagai upaya untuk meminimalisir dampak kejadian. Pihaknya meminta kepada semua desa untuk terus siaga dan sigap dalam penanganan bencana yang sewaktu-waktu terjadi kapan saja. 

“Sebab saat ini sudah ada desa di Kecamatan Undaan yang terdampak akibat banjir, yakni Desa Karangrowo. Untuk itu kami menggelar rapat ini supaya desa lainnyajuga sigap menanggapi bencana,” bebernya. 

Tak hanya itu, pihaknya mengumpulkan sejumlah instansi dan kepala desa agar bencana yang terjadi di Kecamatan Undaan bisa diatasi bersama. Desa yang tidak terdampak diminta untuk mensuport dan memberikan dukungan berupa material logistik kepada masyarakat terdampak banjir.

“Sejauh ini untuk masing-masig desa di Kecamatan Undaan pada kompak dan saling mensuport. Saat ini Desa Karangrowo menjadi desa yang terdampak di Kecamatan Undaan. Bahkan di sana juga sudah didirikan posko bencana dan dapur umum di balaidesa untuk menampung warga yang rumahnya kebanjiran,” ujarnya. 

Menurutnya, 16 desa di Kecamatan Undaan semuanya telah mengantongi Surat Keputusan (SK) Bupati, terkait adanya desa tangguh bencana (Destana). Sehingga adanya destana di masing-masing desa ini bisa membangun kemandirian dan ketangguhan desa dalam menghadapi ancaman bencana.

“Kita himbau untuk semua desa agar sigap menhadapi bencana yang terjadi. Terutama bagi desa yang sering terkena banjir untuk bisa mendirikan posko dan dapur umum ketika dibutuhkan dalam membantu masyarakat yang terdampak,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kabupaten Kudus, Sri Wahyuni mengapresiasi kegiatan rakor yang berlangsung. Apalagi 100 persen desa di Kecamatan Undaan telah terbentuk Destana itu bisa mengupayakan dan mandiri terkait bencana yang terjadi di masing-masing desa. 

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

“Dari 16 desa yang ada di Kecamatan Undaan, semuanya sudah melakaukan pembentukan Destana. Sehingga kehadiran destana ini bisa mencukupi dan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan yang ada,” sebutnya. 

Pihaknya meminta kepada masing-masing kades, supaya logistik kebutuhan bagi warga terdampak bisa disalurkan dengan baik dan lancar, serta tepat sasaran. Terlebih, pihaknya memastikan logistik bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus aman.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pertamina Angkat Suara Soal BBM Tercampur Air di SPBU Bacin Kudus

0
PT Pertamina Patra Niaga melakukan pengecekan menyeluruh terhadap sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati, menyusul banjir serta curah hujan tinggi yang terjadi pada Minggu hingga Senin, 11–12 Januari 2026. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Pertamina Patra Niaga melakukan pengecekan menyeluruh terhadap sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati, menyusul banjir serta curah hujan tinggi yang terjadi pada Minggu hingga Senin, 11–12 Januari 2026.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Pertamina menemukan satu SPBU di Kabupaten Kudus yang terindikasi mengandung air akibat curah hujan ekstrem. SPBU tersebut yakni SPBU 43.593.18 yang berlokasi di Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Pertalite di SPBU Bacin Kudus Tercampur Air, Pengelola Sebut Karena Cuaca Ekstrem

Menindaklanjuti temuan itu, Pertamina langsung memerintahkan penghentian sementara penjualan BBM di SPBU Bacin mulai pukul 06.00 WIB. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses pengecekan lanjutan berjalan optimal dan mencegah dampak yang lebih luas kepada konsumen.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan pengecekan dilakukan secara menyeluruh sesuai prosedur standar perusahaan. Pemeriksaan meliputi riwayat pengiriman BBM, pengecekan kandungan air melalui sistem Automatic Tank Gauging (ATG), pengecekan fisik menggunakan pasta air, hingga pembersihan tangki secara total.

“Pertamina memastikan produk yang diterima masyarakat harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Jika ditemukan adanya indikasi ketidaksesuaian, tentu akan kami tindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Taufiq melalui siaran tertulisnya, Selasa petang (13/1/2025)

Pertamina juga menegaskan komitmennya untuk melindungi konsumen. Masyarakat yang merasa kendaraannya mengalami gangguan atau menemukan indikasi adanya air setelah pengisian BBM di SPBU tersebut diminta segera mendatangi SPBU tempat pengisian untuk dilakukan proses validasi.

Apabila terbukti mengisi BBM di SPBU Bacin saat kejadian, konsumen akan mendapatkan ganti rugi sesuai ketentuan. Hingga pernyataan ini disampaikan, tercatat sebanyak 10 unit kendaraan roda dua telah melaporkan keluhan.

“Terhadap konsumen tersebut, Pertamina akan memfasilitasi perbaikan mesin kendaraan serta memberikan e-voucher pembelian BBM produk Pertamax,” jelasnya.

Pertamina Patra Niaga juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak ragu menyampaikan pengaduan melalui SPBU tempat pengisian atau melalui Pertamina Call Center 135 agar dapat segera ditindaklanjuti.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Pertamina berkomitmen menjaga kualitas produk dan terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, termasuk dalam kondisi darurat akibat bencana alam,” tandas Taufiq.

Diberitakan sebelumnya, video warga yang menguras tangki motornya ramai di grup watshap, Selasa (13/1/2025). Pada video tersebut, dinarasikan bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) kendaraan tersebut berjenis Pertalite yang tercampur air itu berasal dari SPBU Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jalan Kudus–Purwodadi Tergenang Banjir, Banyak Pengendara Motor Mogok

0
Pengendara motor saat melintasi banjir di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Akses Jalan Kudus–Purwodadi, tepatnya di sepanjang Desa Jetis Kapuan hingga Desa Tanjungkarang, tergenang banjir dengan ketinggian cukup tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan arus lalu lintas terganggu dan banyak sepeda motor mogok setelah nekat menerobos genangan air.

Pantauan di lokasi, Rabu (14/1/2026), sejumlah pengendara terpaksa mendorong sepeda motor mereka karena mesin mati akibat tidak mampu melintasi banjir. Ketinggian air di jalan penghubung Kabupaten Kudus dan Kabupaten Grobogan itu mencapai 30 hingga 50 centimeter, bahkan di beberapa titik dilaporkan lebih tinggi.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Salah seorang pengendara, Ahmad Arif, mengaku sepeda motornya mogok di tengah jalan setelah memaksakan diri menerjang banjir. Menurutnya, kondisi banjir semakin parah dibandingkan malam sebelumnya saat ia berangkat kerja.

“Tadi malam saat berangkat masih bisa dilalui motor. Ini pas pulang kerja ternyata airnya naik. Saya nekat menerobos, akhirnya mogok di tengah jalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketinggian air di beberapa titik mencapai 50 centimeter, bahkan di depan warung mi ayam Bang Romi diperkirakan mencapai sekitar 70 centimeter. Akibat mogok, ia terpaksa mendorong motornya sejauh kurang lebih 100 meter.

Pengendara lainnya, Habib Dawam, memilih tidak menerobos banjir karena ketinggian air sudah melebihi lutut orang dewasa. Ia mematikan mesin motornya dan mendorong sejauh sekitar 300 meter untuk menghindari kerusakan.

“Airnya selutut orang dewasa. Saya matikan mesin dan dorong saja, soalnya banyak motor jenis PCX selip dan tidak kuat,” terangnya.

Habib menuturkan, genangan air di lokasi tersebut semakin tinggi dibandingkan saat dirinya berangkat kerja pada Selasa (13/1/2026) malam. Banyak kendaraan, terutama sepeda motor, dilaporkan mogok setelah nekat melintasi banjir.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Hal serupa dialami Lutfin Yunia, warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, yang hendak berangkat kerja menuju kawasan GOR Kudus, Kelurahan Wergu Wetan. Ia terpaksa izin tidak masuk kerja karena sepeda motornya tidak mampu melintasi banjir dan mengalami brebet.

“Terpaksa izin kerja, karena motor tidak kuat menerjang banjir. Belum sampai mogok, tapi sudah brebet dan harus menepi,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

TNI Hadir di Tengah Korban Banjir, Dandim Kudus Serahkan Sembako ke Pengungsi

0
Komando Distrik Militer (Kodim) 0722/Kudus menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir yang mengungsi di Posko Pengungsian Balai Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa malam (13/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Komando Distrik Militer (Kodim) 0722/Kudus menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir yang mengungsi di Posko Pengungsian Balai Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa malam (13/1/2026).

Bantuan kemanusiaan tersebut diserahkan langsung oleh Komandan Kodim 0722/Kudus, Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie, kepada Kepala Desa Karangrowo. Penyerahan dilakukan secara simbolis dengan didampingi Danramil Undaan dan Kapolsek Undaan.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Usai penyerahan, bantuan sembako tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada warga terdampak banjir melalui para Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah masing-masing, agar penyaluran tepat sasaran.

Tak hanya menyerahkan bantuan, Dandim 0722/Kudus juga menyempatkan diri menyapa serta berdialog langsung dengan para pengungsi. Ia mendengarkan keluhan warga sekaligus memastikan kondisi mereka selama berada di posko pengungsian.

Kehadiran Dandim di tengah para pengungsi menjadi bentuk empati dan perhatian langsung dari TNI kepada masyarakat yang tengah dilanda musibah banjir. Warga pun tampak antusias dan merasa diperhatikan atas kunjungan tersebut.

Berdasarkan data posko pengungsian, saat ini tercatat sebanyak 33 orang dari 20 kepala keluarga (KK) masih mengungsi di Balai Desa Karangrowo. Mereka belum dapat kembali ke rumah karena kondisi hunian yang masih terendam banjir. 

Komandan Kodim 0722/Kudus, Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie menegaskan bahwa TNI akan terus hadir di tengah masyarakat dalam situasi darurat bencana, baik melalui bantuan logistik, pengamanan wilayah, maupun pendampingan warga.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

“Kami ingin memastikan masyarakat tidak merasa sendirian. Negara hadir melalui TNI, dan kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, serta seluruh elemen terkait untuk membantu pemulihan pascabanjir,” ujarnya.

Ia berharap, bantuan yang diberikan dapat meringankan beban para pengungsi dan mempercepat proses pemulihan kondisi warga terdampak banjir di wilayah Kabupaten Kudus.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

4.751 Warga Desa Tanjungkarang Kudus Terdampak Banjir

0
Banjir di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 4.751 jiwa dari 1.588 Kepala Keluarga (KK) di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terdampak banjir yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. Hingga Rabu (14/1/2026), banjir masih menggenangi permukiman, lahan pertanian, dan akses jalan utama.

Berdasarkan data Pemerintah Desa Tanjungkarang, sebanyak 196 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi. Selain itu, sekitar 16,4 hektare area persawahan turut tergenang.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Akibat kondisi tersebut, lima orang dari dua KK terpaksa mengungsi ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Tanjungkarang.

Kepala Desa Tanjungkarang, Sumarno, mengatakan banjir mulai terjadi sejak dua hingga tiga hari lalu. Namun, dalam beberapa waktu terakhir genangan semakin meluas hingga memasuki area permukiman warga. Bahkan, akses Jalan Kudus–Purwodadi turut tergenang sehingga menghambat arus lalu lintas.

“Ketinggian air di rumah warga berkisar antara 5 hingga 50 centimeter, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 70 centimeter, baik di dalam maupun luar rumah,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ia menjelaskan, hampir seluruh warga Desa Tanjungkarang terdampak banjir yang dipicu oleh intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Lima warga yang mengungsi terdiri dari satu balita laki-laki, dua orang dewasa laki-laki, dan dua perempuan.

Menurut Sumarno, keberadaan kolam retensi di Desa Jati Wetan cukup membantu mengurangi genangan banjir di wilayahnya. Namun, tingginya debit air membuat proses surut membutuhkan waktu lebih lama.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Banjir juga disebabkan oleh limpasan Sungai Gelis serta kiriman air dari Desa Jati Kulon, diperparah dengan jebolnya beberapa tanggul, salah satunya di wilayah Golantepus.

“Saat ini kami sangat membutuhkan bantuan logistik untuk warga terdampak. Kami berharap banjir segera surut dan aktivitas masyarakat bisa kembali normal,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Akses Terputus Akibat Banjir, Warga Mintobasuki Pati Gunakan Perahu untuk Aktivitas 

0
Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir paling parah. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir paling parah. Meski air telah merendam permukiman cukup tinggi, sebagian besar warga memilih bertahan dan belum mengungsi.

Genangan banjir setinggi 50 centimeter hingga satu meter merendam rumah-rumah warga. Aktivitas sehari-hari pun terpaksa dilakukan dengan perahu yang sudah lama menjadi “kendaraan andalan” warga setiap kali banjir datang. Jalan kampung tak lagi bisa dilalui kendaraan bermotor, sehingga perahu menjadi satu-satunya akses mobilitas.

Baca juga: Pantura Pati-Rembang Terendam Banjir, Arus Lalu Lintas Tersendat hingga 2 Kilometer

Warga mengaku hanya bisa pasrah menghadapi kondisi tersebut. Sebab, Desa Mintobasuki memang langganan banjir setiap tahun. 

Salah seorang warga, Agus Sutomo menyebut, ketinggian air di luar rumah sudah mencapai 50 centimeter hingga satu meter, sementara di dalam rumah rata-rata mencapai 50 centimeter.

“Luapan sungai Silugonggo. Naiknya begitu cepat,” ujarnya, Rabu (13/1/2026). 

Menurut Agus, perahu dimanfaatkan warga untuk beraktivitas sehari-hari karena akses jalan benar-benar terputus.

“Keluar masuk kampung dengan perahu. Untuk nganter anak ke sekolah atau kerja. Kendaraannya dititipkan ke tempat tetangga yang aman dari banjir,” imbuhnya. 

Sementara itu, Ketua RT 2 RW 2 Desa Mintobasuki, Eko Priyanto mengatakan, warga memilih bertahan di rumah demi menjaga barang-barang agar tidak hanyut terbawa arus. Untuk beristirahat, warga meninggikan tempat tidur dengan ganjalan umpak. Ada pula yang membuat ranggon dari bambu yang ditata tinggi sebagai tempat tidur darurat.

“Kalau di RW ini ada sekitar 120 rumah warga. Sebagian besar bertahan meski ada juga orangtua dan anak-anak yang diungsikan ke rumah sanak saudara yang lebih aman,” ungkapnya. 

Priyanto menjelaskan, banjir tersebut disebabkan oleh luapan Sungai Silugonggo yang tak mampu menampung debit air kiriman dari wilayah lain.

“Kalau arah kota banjir atau daerah Kecamatan Sukolilo dan Kayen banjir masuk ke sungai Silugonggo, desa Mintobasuki pasti kebanjiran. Cukup sering kebanjiran. Hampir setiap tahun,” ucapnya. 

Baca juga: Banjir Rendam Jalur Alternatif Pati–Rembang, Rubinah Terpaksa Tak Jualan Karena Warungnya Kebanjiran

Ia pun berharap ada perhatian serius dari pemerintah, salah satunya dengan melakukan normalisasi Sungai Silugonggo.

“Setiap ada banjir kiriman dari Utara atau Selatan dan Sungai tak mampu menampung ya banjir,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemkab Jepara Salurkan 34 Alsintan Senilai Rp7,7 M

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menyalurkan bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) kepada kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), dan Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menyalurkan bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) kepada kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), dan Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA). 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan bantuan tersebut menjadi upaya strategis Pemkab Jepara untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas pertanian di tengah tantangan cuaca ekstrem.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Wiwit menyebutkan total terdapat 34 kelompok tani, gapoktan, dan UPJA di 12 kecamatan yang menerima bantuan alsintan tahun ini. Alsintan yang diserahkan total terdapat 34 unit. 

Terdiri dari 5 unit traktor roda dua, 5 unit pompa air, 14 unit traktor roda empat, 7 unit traktor crawler, serta 3 unit combine harvester dengan total nilai mencapai Rp 7,7 miliar.

“Saya berharap bantuan ini benar-benar dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung peningkatan produksi pertanian di Jepara,” kata Wiwit usai menyerahkan bantuan Alsintan di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Selasa (13/1/2026). 

Wiwit juga menyinggung kondisi curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir dan genangan di beberapa wilayah, termasuk lahan pertanian. Pemerintah Kabupaten Jepara, bersama perangkat daerah, instansi vertikal, dan seluruh stakeholder, terus melakukan langkah strategis dan penanganan bencana secara holistik dari aspek sosial, ekonomi, hingga lingkungan.

Kepada para penerima bantuan, ia berpesan agar alsintan dimanfaatkan untuk mempercepat olah tanah dan panen pasca banjir, sehingga kerugian petani dapat diminimalkan. Pompa air juga diharapkan digunakan untuk mengatasi genangan dan menjaga irigasi, serta pemanfaatan alsintan dilakukan secara bergiliran agar memberi manfaat luas bagi petani.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Mundhofir, menuturkan  tahun ini terjadi peningkatan signifikan bantuan alsintan bagi petani. 

“Tahun ini naik 1000 persen bantuannya. Ini tahun berkah untuk Jepara,” jelasnya.

Ia menambahkan, penerima bantuan alsintan harus memenuhi persyaratan sesuai juknis, terdaftar dalam database Kementerian Pertanian, memiliki kesesuaian lahan minimal 50 hingga 100 hektare, serta mampu mendukung peningkatan produksi pangan khususnya padi. 

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

DKPP Jepara juga tengah memetakan kembali usulan bantuan tahun 2026 seiring pembaruan data lahan pertanian, terutama di wilayah sentra padi.

“Pemkab Jepara berharap bantuan ini menjadi dorongan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan swasembada pangan daerah, dengan tetap mengedepankan gotong royong, kewaspadaan bencana, dan kepedulian terhadap lingkungan,” tandasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Update Longsor di Tempur Jepara, Jalur Baru Bisa Dilalui Sepeda Motor

0
Bencana tanah longsor yang menutup jalur akses utama menuju Desa Tempur, tepatnya di Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, mulai menunjukkan perkembangan penanganan. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Bencana tanah longsor yang menutup jalur akses utama menuju Desa Tempur, tepatnya di Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, mulai menunjukkan perkembangan penanganan.

Salah satu titik longsor di jalur bertuliskan “Selamat Datang Desa Wisata Tempur” kini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua. Namun, di lokasi tersebut setengah badan jalan sepanjang sekitar 50 meter hilang akibat tergerus aliran Sungai Gelis.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Kepala Desa Tempur, Mariyono, menyampaikan berdasarkan data sementara terdapat 18 titik longsor yang dilaporkan. Titik-titik tersebut berada di ruas jalan kabupaten, sementara longsor di jalan desa belum seluruhnya terdata.

“Ruas jalan desa belum kami laporkan. Titiknya memang tidak besar, tetapi jumlahnya banyak. Untuk keseluruhan masih belum bisa kami hitung,” ujar Mariyono saat ditemui di lokasi titik longsor pertama, Selasa (13/1/2026).

Dari total 18 titik longsor yang dilaporkan, enam titik di antaranya telah berhasil ditangani. Namun, proses penanganan masih terkendala kondisi cuaca yang belum mendukung serta keterbatasan akses alat berat.

“Titik yang paling parah saat ini belum bisa ditangani. Upaya sudah dilakukan, tetapi cuaca belum mendukung. Alat berat juga terkendala. Setelah pengalihan arus memungkinkan, penanganan di bagian atas baru bisa dilanjutkan,” jelasnya.

Selain itu, jaringan komunikasi di Desa Tempur masih mengalami gangguan. Pasalnya, jaringan listrik yang sempat kembali menyala kini kembali terputus, sehingga berdampak langsung pada akses komunikasi warga.

Meski demikian, Mariyono memastikan aktivitas masyarakat perlahan mulai pulih. Warga sudah dapat kembali beraktivitas dengan dukungan logistik dan layanan kesehatan yang tersedia.

“Warga sudah mulai beraktivitas. Stok makanan untuk sekitar 10 hari ke depan InsyaAllah aman, posko kesehatan juga sudah tersedia. Secara umum kondisinya masih terkendali,” katanya.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Ia menambahkan, longsor yang menutup jalur utama tersebut berdampak pada seluruh warga Desa Tempur yang berjumlah 3.672 jiwa. Bencana longsor sendiri bukan pertama kali terjadi di wilayah tersebut.

“Longsor pernah terjadi sebelumnya pada 2006 dan 2014. Tahun 2026 ini jumlah titik longsornya lebih banyak, tetapi kerugian materiil terbesar terjadi pada 2006 karena saat itu ada enam jembatan yang putus,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -