Beranda blog Halaman 85

Pria yang Diduga Hanyut di Sungai Kedungdowo Pati Belum Ditemukan

0
Proses pencarian korban yang diduga hanyut di Sungai Kedungdowo. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Puluhan personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pencarian terhadap seorang pria yang hilang dan diduga hanyut di Sungai Kedungdowo, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati. Hingga kini, masuk hari ke tiga, yakni Kamis (15/1/2026), pria tersebut belum ditemukan. 

Kapolsek Gunungwungkal AKP Sukarno mengatakan, para personel gabungan ini berasal dari Polsek Gunungwungkal, Koramil Gunungwungkal, Pemerintah Kecamatan, relawan hingga Tim SAR. 

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

Puluhan personel ini dibagi tiga tim. Mereka disebar untuk menyisir Sungai Kedungdowo untuk mencari keberadaan korban bernama Sudi (52), warga Desa Perdopo, Kecamatan Gunungwungkal. 

”Ini kita bagi tiga titik. Mulai dari titik 0 sampai jembatan Kedungwatu ada 25 personel. Kedungwatu ke jembatan Jembulwunut 25 personel. Jembatan jembulwunut ke bendungan Puring juga 25 personel. Masing-masing kelompok didampingi tim SAR dan relawan,” ujar AKP Sukarno, Kamis (15/1/2026). 

Korban diketahui menghilang sejak Selasa (13/1/2026) lalu. Sudi awalnya pergi dari rumah untuk pergi ke sawah sekitar pukul 05.30 WIB. Korban membawa sepeda motor Vega R yang diparkirkan di tepi sungai dan menyebarang sungai lantaran lahannya berada di sebrang sungai.

Namun hingga Selasa sore, korban tak kunjung pulang. Keluarganya pun mencari keberadaan korban ke lahan. Mereka menemukan motor korban terparkir di tepi sungai, namun mereka tak menemukan korban dan hanya menemukan sepeda motornya. 

”Sudi ke sawah pukul 05.30 WIB dengan kendaran Vega R. Sampai sore tidak kembali warga mencari  dan menemukan kendaraannya  terparkir di pinggir sungai. Setelah dicari  di sekitar tak ada. Kemudian melaporkan ke Kepala Sesa fan melaporkan kr kami pukul 18.06 WIB,” ujar Kapolsek. 

Pihaknya pun langsung mencari keberadaan korban hingga malam hari. Pencarian kembali dilanjutkan pada Rabu (14/1/2026) kemarin dan dilanjutkan hingga hari ini. Namun korban belum ditemukan. 

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Kapolsek juga menyampaikan kendala pencarian korban. Kondisi cuaca yang ekstrim ditambah arus sungai yang deras membuat pencarian terkendala. 

”Kendala hujan deras dan air naik. Medan bebatuan di sungai. Kami cari bersama dengan warga hingga kini. Mohon doanya agar saudara Sudi segera ditemukan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Polres Kudus Bagikan MBG untuk Korban Banjir

0
Polres Kudus membagikan MBG di lokasi pengungsian korban banjir Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kamis (15/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana hangat tampak di lokasi pengungsian korban banjir di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kamis (15/1/2025). Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo turun langsung menyapa para pengungsi, berbincang santai dengan warga, hingga membagikan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) kepada masyarakat terdampak banjir.

AKBP Heru menanyakan kondisi kesehatan pengungsi sekaligus memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Kehangatan semakin terasa ketika Kapolres menyuapi makan anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

“Hari ini kami berbagi melalui SPPG Polri, khususnya Polres Kudus, dengan membagikan MBG kepada para korban banjir,” ujar AKBP Heru.

Ia menjelaskan, penyaluran MBG tersebut merupakan bentuk kepedulian Polres Kudus terhadap warga terdampak bencana banjir. Kegiatan ini telah berlangsung selama dua hari berturut-turut.

“Total sekitar seribu porsi MBG kami bagikan setiap hari kepada para pengungsi. Tidak hanya di Posko Loram Kulon, tetapi juga di sejumlah posko banjir lainnya,” jelasnya.

Kapolres menegaskan, pembagian MBG tersebut bukan merupakan pengalihan dari penerima manfaat sebelumnya. Polres Kudus menambah produksi secara swadaya khusus untuk membantu para korban banjir.

“Bukan mengalihkan, karena penerima manfaat yang seharusnya tetap menerima masih berjalan. Kami menambah produksi sekitar seribu porsi secara swadaya,” tegasnya.

Menurut AKBP Heru, pendistribusian MBG akan terus dilakukan setiap hari hingga kondisi banjir benar-benar mereda. Ia juga memastikan makanan yang dibagikan aman dan layak konsumsi.

“Sebelum didistribusikan, seluruh paket MBG melalui pemeriksaan ketat, mulai dari uji organoleptik hingga rapid test. Alhamdulillah hasilnya aman dan layak dikonsumsi,” imbuhnya.

Salah satu pengungsi, Sukarni (63), mengaku senang mendapatkan menu MBG di pengungsian. Menurutnya, makanan yang dibagikan memiliki rasa yang enak.

“Rasanya enak sekali,” ujar Sukarni sambil mengacungkan jempol.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Sukarni mengungsi sejak dua hari terakhir karena rumahnya di Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, terendam banjir dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter.

“Saya mengungsi bersama keluarga dan tetangga. Semoga tidak ada hujan lagi dan banjir segera surut,” harapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sudah Seminggu Kapal Penyeberangan Off, Stok Logistik di Karimunjawa Jepara Mulai Menipis 

0
Beberapa kapal terpakir di dermaga Pelabuhan Kartini Jepara. Fot: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Kapal penyeberangan dari Pelabuhan Jepara menuju Pulau Karimunjawa sudah satu minggu atau sejak Jumat, (9/1/2026) lalu diberhentikan akibat cuaca buruk. Kondisi itu saat ini mulai berdampak pada menipisnya stok bahan logistik. 

Camat Karimunjawa, Nuril Abdillah mengatakan secara umum kondisi di Karimunjawa memang masih terpantau aman. Kondisi cuaca sejak Senin- Rabu (12-14/1/2026) hanya terjadi hujan ringan.  

Baca Juga: 2.967 Warga Jepara Terdampak Banjir, Pemkab Geser Dapur Umum dari Utara ke Selatan

Akan tetapi, karena kapal penyeberangan sudah satu minggu berhenti, beberapa stok bahan logistik saat ini mulai menipis. 

“Untuk kondisi cuaca di Karimunjawa terpantau aman. Tapi ada beberapa logistik yang stoknya mulai menipis, seperti sayur, Gas LPG juga mulai menipis,” kata Nuril pada Betanews.id, Kamis (15/1/2026). 

Untuk stok LPG 3 Kg, Nuril mengatakan pengiriman ke Karimunjawa terakhir dilakukan pada Kamis, (8/1/2026) lalu sebanyak 2 ribu tabung. 

Pada Rabu, (13/1/2026) kemarin seharusnya akan dilakukan pengiriman kembali, namun kapal yang dijadwalkan untuk mengambil tidak jadi diberangkatkan. 

“Pengiriman LPG lagi rencananya hari ini, kemarin mau dikirim tapi kapal tidak bisa berangkat,” katanya. 

Sementara untuk stok sayuran yang mulai menipis yaitu jenis sayur yang biasanya mengandalkan pengiriman dari wilayah Jepara. Seperti cabai, kol, buncis, sawi, serta beberapa sayur lain. 

Sementara untuk stok sembako seperti beras Nuril mengatakan saat ini masih terpantau aman. Setiap keluarga masih memiliki stok persediaan beras yang cukup untuk empat hari ke depan. 

“Untuk beras aman, di Desa Karimunjawa dan Kemujan stok di toko masih tersedia. Di Desa Parang dan Nyamuk stok di toko memang mulai habis, tapi stok di masing-masing rumah masih ada,” ungkapnya. 

Baca Juga: Penyebrangan Kapal Dihentikan, Ratusan Warga Karimunjawa Terjebak di Jepara 

Di Karimunjawa Nuril mengatakan saat ini juga tidak terdapat wisatawan yang terjebak. Berdasarkan data rekapitulasi kunjungan wisatawan ke Karimunjawa, seluruh wisatawan sudah kembali menyebrang ke Jepara. 

“Justru masih ada 129 Warga Karimunjawa yang saat ini masih di Jepara karena kapal off sehingga tidak bisa pulang,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sepekan Sudah Penyebrangan Jepara-Karimunjawa Dihentikan Akibat Gelombang Tinggi 

0
Kondisi perairan Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Rute penyebrangan kapal dari Jepara-Karimunjawa maupun sebaliknya sudah satu minggu dihentikan akibat cuaca buruk. 

Kepala Seksi Kepelabuhanan pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jepara, Luthfi Fuadi menjelaskan kapal penyebrangan terakhir berangkat pada Jumat, (9/1/2026) lalu dari Karimunjawa-Jepara. 

Baca Juga: 2.967 Warga Jepara Terdampak Banjir, Pemkab Geser Dapur Umum dari Utara ke Selatan 

Sedangkan untuk kapal dari Jepara-Karimunjawa pada Jumat, (9/1/2026) sudah dihentikan seluruhnya, baik untuk KMP Siginjai maupun KMC Express Bahari.  

“Iya, ini sudah satu minggu kapal penyebrangan Karimunjawa-Jepara off (dihentikan),” katanya saat ditemui di Kantor Pelabuhan Penyebrangan Jepara, Kamis (15/1/2026).  

Luthfi melanjutkan rute penyebrangan itu dihentikan karena keadaan tinggi gelombang di Perairan Karimunjawa bagian barat dan timur serta Perairan Jepara sejak Jumat, (9/1/2026) lalu masuk kategori sedang. Dengan ketinggian 1,25 – 2,5 meter. 

“Dari prakiraan BMKG, peta laut di Karimunjawa dan Jepara sampai saat ini juga masih kuning, artinya tinggi gelombang diperkirakan bisa mencapai 2,5 meter sehingga tidak memungkinkan dilakukan pelayaran,” jelasnya. 

Kondisi tersebut, sesuai prakiraan dari BMKG menurutnya masih akan berlangsung hingga Minggu, (18/1/2026) mendatang. 

Sehingga, kapal penyebrangan dari Jepara-Karimunjawa maupun sebaliknya masih akan dihentikan hingga hari Minggu.  

“Untuk kapal off sampai hari Minggu. Senin, (19/1/2026) kita belum tau, kalau (kondisi cuaca) sudah membaik, Senin bisa diberangkatkan,” ujarnya. 

Baca Juga: Penyebrangan Kapal Dihentikan, Ratusan Warga Karimunjawa Terjebak di Jepara 

Dengan kondisi cuaca yang seperti ini, Luthfi mengatakan rute penyebrangan Jepara-Karimunjawa hanya bisa dilayani menggunakan kapal Pelni yang diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. 

“Lewat udara sebenarnya juga bisa, tapi dengan kondisi angin yang cukup kencang seperti sekarang, pesawat sepertinya juga tidak berani,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Semakin Tinggi Jasa Angkut Motor Bermunculan

0
Jasa angkut motor di jalan raya Kudus-Purwodadi yang terendam banjir. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Jasa pengangkut sepeda motor kini mulai bermunculan di sepanjang Jalan Kudus-Purwodadi, turut Desa Jetiskapuan hingga Desa Tanjungkarang. Jasa tersebut bisa menjadi penolong bagi warga yang tak ingin motornya mogok ketika melewati genangan air.

Diketahui, banjir yang menggenangi akses jalan utama penghubung dua kabupaten itu dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 75 sentimeter per Kamis (15/1/2026). Kendaraan sepeda motor yang nekat menerjang banjir berpotensi mogok di tengah jalan. 

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

Salah satu penyedia jasa angkut sepeda motor, Aris Budiyanto menyampaikan, kehadiran jasa angkut tersebut pertama untuk membantu para pengguna jalan menghindari banjir. Keduanya, kata dia, bisa menghasilkan cuan untuk keluarganya. 

“Ada peluang bisnis yang bisa kita kerjakan, bahkan selain itu utamanya kami niatkan untuk membantu. Karena kondisi saat ini sedang banjir, jadi kalau mau kerja ke luar kota juga masih kepikiran rumah,” bebernya saat ditemui disela-sela aktivitasnya, Kamis (15/1/2026).

Ia menuturkan, jasa angkut sepeda motor itu dimulainya sejak Rabu (14/1/2026) kemarin. Selain dirinya, ada beberapa orang yang terjun membuka jasa angkut tersebut. Ia mengaku, total ada sebanyak empat kelompok yang diketahuinya membuka layanan jasa angkut sepeda motor.

“Tiga kelompok membawa tossa dan saya menggunakan armada kol. Satu kelompoknya pasti lebih dari satu orang, untuk menaikan dan menurunkan sepeda motor,” jelasnya.

Bahkan pihaknya mengaku, adanya banjir membawa keberkahan tersendiri baginya. Meski rumahnya terdampak banjir, namun ia masih bisa menghasilkan uang dari peluag bisnis tersebut. “Banjir membawa berkah, karena momen seperti ini juga tidak datang sepanjang hari,” terangnya.

Dalam jasa angkut motor yang digelutinya saat ini, jasa angkut ia bandrol dengan harga Rp50 ribu untuk sekali angkatam dan satu kendaraannya. Menurutnya banyak warga menggunakan jasa itu untuk menghindari banjir yang terjadi di sana.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

“Seperti kemarin saya mengangkut enam sepeda motor dengan tiga kali angkatan. Karena sekali angkatan bisa mengangkut dua sepeda motor sekaligus. Hari ini mulai start Pukul 8.00-10.30 WIB juga baru tiga kali angkatan,” ujar warga Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut. 

Ia menambahkan, selalu terlibat dalam jasa angkut sepeda motor di kala banjir seperti saat ini. Sebelumnya ia bahkan mampu menghasilkan Rp1,5 juta sehari dalam jasa angkutan itu.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Petani Panen Bawang Merah di Pati Terpaksa Panen Dini Akibat Lahan Terendam Banjir

0
Petani bawang merah di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati terpaksa harus panen dini. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Petani bawang merah di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati terpaksa harus panen dini. Hal ini dikarenakan tanaman mereka terendam banjir.

Khawatir tak bisa terselamatkan lagi, para petani kemudian memanen bawang merah di lahan yang tergenang banjir hingga 1 meter lebih. Hasil panen kemudian dibawa menggunakan terpal di tengah genangan banjir.

Baca Juga: Terobos Banjir, Warga Mintobasuki Pati Antar Jenazah Gunakan Perahu ke Makam 

Salah satu petani, Slamet Warsito mengungkapkan, banjir yang melanda desanya sejak Jumat (9/1/2026) lalu itu, juga merendam lahan persawahan. 

“Ini di panen dini agar bawang merah tidak busuk. Kalau 2-3 hari bawang merah terendam air, bisa busuk,” ujarnya.

Menurutnya, seharusnya petani baru memanen bawang merah beberapa pekan ke depan. Namun karena kebanjiran harus segera diselamatkan.

“Dipanen dini, karena ini sudah umur, sudah ada DP dari tengkulak, kira-kira kurang 2-3 sampai 1 minggu sudah panen,” ucapnya.

Warsito menyebut, ada belasan hektare lahan persawahan yang ditanami bawang merah di desanya terendam banjir. Akibat kondisi ini, para petani pun mengalami kerugian.

“Luasnya 15 hektare yang terdampak. Padahal 1 hektare bisa mendapatkan Rp 175 juta,” sebutnya.

Karena bawang merah tersebut dipanen dini, menurutnya juga akan berdampak terhadap harga jual.  Akan tetapi, panen dini ini dilakukan agar masih bisa mendapatkan hasil meskipun sedikit.

“Harganya kalau normal yang besar kemarin itu hampir Rp 28.000. Kalau di panen dini ada penurunan harga. Terserah nanti harga pasar,” katanya.

Petani lainnya, Setiyono menuturkan, selain merugi, petani juga kesulitan memanen bawang merah di lahan yang kebanjiran. Mereka harus mengambil bawang merah di dalam air.

“Saat memanen bawang merah kendala yang dihadapi yakni daun bawangnya tidak kelihatan karena terendam air,” tuturnya.

Baca Juga: Cerita Sopir Truk Terjebak Banjir, Tempuh Perjalanan Semarang- Pati Sampai 18 Jam

Selain itu, petani juga kesulitan membawa bawang merah menggunakan terpal di tengah genangan banjir. Apalagi ketinggian airnya hingga mencapai 1,5 meter. Ditambah kesulitan lain yakni jalan yang berlumpur dan licin.

“Kedalaman 1,5 meter, sudah terendam 3 hari. Cara membawa bawang merah ke pinggir jalan dengan terpal, kalau dipanggul kesulitan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Belum Surut, Banjir di Jalan Kudus–Purwodadi Semakin Bertambah

0
Banjir di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Banjir yang menggenangi Jalan Kudus–Purwodadi hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Kettinggian air dilaporkan semakin bertambah dibandingkan hari sebelumnya akibat curah hujan yang kembali mengguyur wilayah Kabupaten Kudus pada Rabu (14/1/2026) malam.

Saat ini, ketinggian genangan air di jalan utama penghubung Kabupaten Kudus dan Grobogan tersebut mencapai sekitar 75 centimeter di titik terdalam. Meski demikian, masih terlihat sejumlah pengendara sepeda motor nekat menerobos genangan air, meskipun sebagian di antaranya mengalami mogok.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

Salah seorang warga, Aris Budiyanto, mengatakan banjir di ruas jalan tersebut terus bertambah seiring hujan yang tak kunjung reda. Menurutnya, titik genangan tertinggi berada di depan warung Mi Ayam Bang Romi dengan ketinggian air mencapai 75 centimeter.

“Sepeda motor masih banyak yang nekat menerjang banjir. Ada juga yang mogok. Namun, sebagian besar pengendara roda dua memilih jalur alternatif melalui jalan belakang Kelenteng Tanjungkarang menuju Dukuh Barisan, Desa Jati Wetan,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Aris menyebut jalur alternatif tersebut relatif aman dilalui sepeda motor karena tidak terdapat genangan air. Ia pun menyarankan para pengendara roda dua untuk memilih jalur tersebut daripada memaksakan diri melintasi banjir yang berisiko merusak kendaraan.

“Banyak yang lewat sana, mulai anak sekolah sampai pekerja. Saat jam sibuk, pagi dan sore hari, jalur itu bahkan sempat macet,” tambahnya.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Sofyan, yang mengaku lebih memilih melewati jalur alternatif karena aman dari banjir. Meski harus memutar sedikit lebih jauh, menurutnya jalur tersebut lebih aman bagi kendaraan.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

“Mutarnya tidak terlalu jauh. Daripada lewat jalan yang tergenang banjir, lebih baik lewat sini,” katanya.

Sofyan mengaku memilih jalur tersebut setelah mendapat informasi bahwa ketinggian air di Jalan Kudus–Purwodadi kembali bertambah. Oleh karena itu, baik saat berangkat maupun pulang kerja, ia memilih menghindari jalur utama yang terdampak banjir.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Meski Banjir, Warga Gerdu Jepara Pilih Bertahan di Tenda Terpal Sambil Jaga Hewan Ternak 

0
Tenda darurat beratap terpal dengan aneka warna tampak berdiri di area jalan dekat bantaran Sungai SWD Pecangaan. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Tenda darurat beratap terpal dengan aneka warna tampak berdiri di area jalan dekat bantaran Sungai SWD Pecangaan. Tenda itu didirikan oleh Warga Desa Gerdu RT 2 RW 1, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara yang rumahnya terendam banjir. 

Berdasarkan pantauan Betanews.id, terdapat lima tenda yang didirikan warga. Tenda itu terbuat dari tiang bambu, namun cukup kokoh saat diterjang angin dan hujan deras. 

Baca Juga: 2.967 Warga Jepara Terdampak Banjir, Pemkab Geser Dapur Umum dari Utara ke Selatan 

Tenda itu sengaja didirikan warga sebagai tempat mengungsi serta mengamankan barang berharga milik mereka. Terdapat beberapa barang perabotan seperti almari, kasur, peralatan memasak serta kendaraan bermotor yang turun diamankan di dalam tenda. 

Tidak hanya itu, warga juga turut membawa serta hewan ternak mereka berupa kambing dan bebek untuk diamankan di dalam tenda. 

Sapawi (60), Warga Desa Gerdu RT 2 RW 1 bercerita  meskipun harus menahan dingin karena tidur di dalam tenda, ia memilih bertahan karena anak-anaknya enggak untuk diajak mengungsi. Selain itu, dengan bertahan di dalam tenda ia mengaku lebih mudah untuk mengontrol keadaan rumahnya yang teredam banjir. 

“Anak-Anak mboten purun (tidak mau) diajak ngungsi. Kalau ada apa-apa dirumah lebih enak, kalau ngungsi kan susah,” katanya saat ditemui di Desa Gerdu, Rabu (14/1/2026). 

Disamping tenda yang ia gunakan beristirahat bersama anak dan istrinya, Sapawi juga mendirikan tenda berisi puluhan bebek miliknya. 

Hal serupa juga dilakukan oleh Sopiyah (60). Ia yang hanya tinggal dengan suaminya memilih bertahan dan tidur di dalam tenda sembari menjaga tiga ekor kambing miliknya. 

“Daripada jauh-jauh enak disini, sambil jaga kambing. Soale udah sering banjir, kalau banjir ya memang bikin tenda,” kata Sopiyah. 

Sementara itu, salah satu warga lain, Soleh (55) bercerita banjir mulai masuk ke rumah warga pada Senin, (12/1/2026) pagi. Saat itu ketinggian air baru mencapai mata kaki atau sekitar 30 cm. 

Kini, setelah dua hari ketinggian air justru mengalami kenaikan sekitar 50 cm di dalam rumah. 

“Kalau diluar ya satu meter ada, kalau di dalam rumah sekitar setengah meter (50 cm),” ungkapnya.

Baca Juga: Penyebrangan Kapal Dihentikan, Ratusan Warga Karimunjawa Terjebak di Jepara 

Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinaospermades) Kabupaten Jepara, terdapat 525 warga di Desa Gerdu yang terdampak banjir. 

Untuk mencukupi kebutuhan logistik, saat ini sudah didirikan dapur umum di Kantor Kecamatan Kalinyamatan yang mensuplai kebutuhan makan warga selama kondisi banjir. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

0
Petugas melakukan pembersihan di kawasan Kolam Retensi,Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh intensitas hujan yang terjadi secara berturut-turut serta limpasan aliran air dari Sungai Dawe dan Sungai Piji. Limpasan tersebut membuat aliran air yang semula bergerak dari timur ke barat kembali mengarah ke wilayah perkotaan Kudus.

Untuk mengurangi genangan, kolam retensi yang berada di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, saat ini memompa seluruh air banjir dari berbagai wilayah Kudus, termasuk Desa Tanjungkarang. Pompa di kolam retensi tersebut telah beroperasi secara nonstop selama lima hari terakhir.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Direksi Lapangan Sungai Pantai pada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Nisar Suci Raharjo menjelaskan, pintu aliran air di wilayah Desa Tanjungkarang telah dibuka ke kolam retensi, pada Rabu (14/1/2026) per pukul 15.00 WIB. Hal itu dilakukan secara bertahap untuk mengurai banjir yang menggenangi Desa Tanjungkarang, utamanya akses Jalan Kudus-Purwodadi yang kian tinggi.

“Jika ketinggian air di Sungai Wulan sudah mencapai satu meter, maka aliran akan dialihkan secara bergantian ke arah Tanggulangin. Karena elevasi Wulan paling rendah, sekaligus untuk membuang eceng gondok yang cukup banyak,” ujarnya melalui sambungan telepon, Rabu (14/1/2026) sore.

Saat ini, kolam retensi Jati Wetan mengoperasikan total lima unit pompa, terdiri dari tiga unit pompa berkapasitas 1,5 meter kubik per detik dan dua unit pompa berkapasitas 0,5 meter kubik per detik. Dengan demikian, total kapasitas pemompaan mencapai 5,5 meter kubik per detik.

“Dalam satu jam, pompa bisa bekerja mengurangi debit air sekitar 1.980 m³/detik. Saat ini semua banjir di wilayah Kudus masuk ke dalam kolam retensi,” ungkapnya.

Nisar menyebut, area pompa dan kolam retensi tersebut awalnya memang didesain untuk menangani banjir di wilayah perkotaan Kudus, terutama di Kecamatan Jati. Hingga saat ini, kapasitas kolam retensi masih mampu menampung air banjir yang masuk.

“Fungsi kolam retensi ini cukup signifikan. Kalau sebelumnya durasi banjir bisa sampai satu bulan, sekarang bisa berkurang menjadi sekitar satu minggu,” jelasnya.

Meski demikian, proses pengendalian banjir masih menghadapi kendala utama berupa sampah, terutama sampah pertanian seperti tanaman kangkung, sisa padi, dan eceng gondok yang terbawa arus dan masuk ke kolam retensi.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Semua ketarik ke kolam, sehingga harus dibersihkan secara rutin setiap dua jam sekali. Kalau tidak dibersihkan, beda tinggi muka air dengan pintu kolam bisa sampai satu meter,” jelasnya.

BBWS Pemali Juwana terus melakukan pembersihan sampah dan pengaturan aliran air secara bergantian untuk mempercepat surutnya genangan banjir di wilayah terdampak di Kabupaten Kudus.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terobos Banjir, Warga Mintobasuki Pati Antar Jenazah Gunakan Perahu ke Makam 

0
Tangkapan layar cctv saat warga Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati mengantarkan jenazah dengan perahu. Foto: Ist

BETANEWS.ID, PATI – Suasana duka menyelimuti Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, yang hingga kini masih terendam banjir. Di tengah genangan air yang kian meninggi, warga harus menghadapi kenyataan pahit: mengantar salah satu penduduknya ke peristirahatan terakhir melalui jalur air.

Kamis pagi (15/1/2026), sebuah perahu kayu bermesin tempel melaju perlahan membelah air berwarna kecokelatan yang merendam permukiman hingga setinggi paha orang dewasa. Perahu sederhana itu berubah fungsi menjadi ambulans air dadakan.

Baca Juga: Cerita Sopir Truk Terjebak Banjir, Tempuh Perjalanan Semarang- Pati Sampai 18 Jam

Di atas perahu, jenazah Warsono, warga setempat, terbaring di dalam keranda yang ditutup terpal biru. Beberapa pengiring duduk di sekelilingnya, sebagian memegang payung untuk melindungi jasad almarhum dari rintik hujan yang turun sejak pagi.

Sementara itu, sejumlah warga lain berjalan setapak demi setapak menerjang genangan air sedalam paha, menuntun dan memastikan perahu tetap berada di jalur hingga tiba di area pemakaman. Di tengah kepungan banjir, prosesi pemakaman berlangsung dengan perjuangan ekstra.

Jenazah almarhum Warsono (53), warga RT 4 RW 1 Desa Mintobasuki, terpaksa dievakuasi melalui jalur air lantaran akses jalan menuju permakaman umum lumpuh total akibat banjir. Dengan penuh khidmat, warga menaikkan keranda ke atas perahu kayu untuk menempuh perjalanan sekitar dua kilometer melewati area persawahan yang telah berubah menjadi hamparan air.

Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, membenarkan bahwa penggunaan perahu merupakan hasil kesepakatan keluarga dan masyarakat setempat. Hal itu dilakukan karena mobil jenazah yang biasa digunakan sedang tidak tersedia.

“Tadi kontak mobil jenazah ternyata sedang dipakai. Akhirnya pihak keluarga dan masyarakat sepakat diantar melalui perahu. Karena lokasi makamnya melewati jalur sawah yang semuanya sudah terendam, jadi memungkinkan untuk dilewati perahu,” ujar Abdul Mustaji melalui sambungan telepon.

Mustaji menambahkan, jalur yang dilalui perahu sepenuhnya melewati persawahan yang kini terendam banjir. Meski sebagian area permakaman mulai tergenang, pihak desa memastikan masih terdapat titik tanah yang cukup tinggi untuk proses pemakaman.

Menurutnya, banjir di Desa Mintobasuki mulai terjadi sejak Sabtu (10/1/2026) sore akibat luapan Sungai Silugonggo. Hingga Kamis ini, ketinggian air masih menunjukkan tren kenaikan.

Data pemerintah desa mencatat sedikitnya 241 rumah terendam banjir, berdampak pada 313 kepala keluarga atau sekitar 800 jiwa.

“Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter. Sementara di jalan raya, ketinggiannya mencapai 5 hingga 90 sentimeter. Sepeda motor kecil sudah tidak bisa melintas,” jelasnya.

Banjir tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga menghantam sektor pertanian. Sebanyak 6 hektare tanaman padi muda dan 65 hektare padi siap panen terendam air. Kerugian materiel akibat kerusakan lahan pertanian tersebut diperkirakan mencapai Rp515 juta.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Di sisi lain, kondisi kesehatan warga mulai mengkhawatirkan. Sejumlah warga mengeluhkan penyakit kulit, terutama gatal-gatal, akibat terlalu lama terpapar air banjir. Namun hingga kini, belum tersedia posko kesehatan darurat di lokasi bencana.

“Kalau keluhan gatal-gatal sudah banyak. Posko kesehatan belum ada, mungkin masih dikoordinasikan. Untuk bantuan, kemarin baru ada kiriman mi instan dari Kemenag. Dari donatur mungkin memang bantuannya terbagi-bagi karena banjir ini memang merata (di seluruh Pati),” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Cerita Sopir Truk Terjebak Banjir, Tempuh Perjalanan Semarang- Pati Sampai 18 Jam

0
Antrean panjang kendaraan di jalur pantura Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir yang menggenangi jalur Pantura di Kabupaten Kudus dan Pati berdampak serius terhadap aktivitas distribusi barang dan logistik. Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas tersendat parah, bahkan waktu tempuh perjalanan dari Semarang ke Pati kini bisa mencapai 18 jam.

Lamanya perjalanan itu belum termasuk waktu antrean saat melintasi titik banjir di Jalan Pantura Kabupaten Pati, tepatnya di Desa Widorokandang, Kecamatan Pati. Selain genangan air, kondisi jalan yang berlubang di sejumlah titik turut memperparah kemacetan.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Salah satu sopir truk, Ocong, mengaku berangkat dari Semarang pada Selasa  (13/1/2026) pukul 17.00 WIB dan baru tiba di Pati sekitar pukul 11.00 WIB hari ini. Total, ia menghabiskan waktu 18 jam di perjalanan. Padahal, Ocong berencana mengirim barang hingga Provinsi Bali.

“Berangkat jam lima sore, sampai sekarang belum lolos. Terjebak macet di dua titik Kudus dan Pati. Ini di Pati sendiri sudah lebih dari satu jam,” ujarnya, Rabu (14/1/2026). 

Menurut sopir truk tronton tersebut, pada kondisi normal perjalanan dari Semarang ke Pati hanya memakan waktu sekitar empat jam. Bahkan, pengiriman barang ke Bali biasanya hanya membutuhkan satu malam perjalanan. Namun, akibat banjir, ia terpaksa berhenti dan tidur di jalan.

“Kalau nggak banjir ya cuma satu malam. Ini aja belum ada separuh perjalanan,” katanya.

Ocong mengaku sudah pasrah apabila kliennya melayangkan komplain atas keterlambatan pengiriman. Ia menilai kondisi bencana banjir ini berada di luar perkiraan semua pihak.

“Ya komplain sih komplain, cuma ya mereka menyadari,” kata warga Kabupaten Batang itu.

Selain keterlambatan, Ocong juga mengeluhkan membengkaknya biaya perjalanan, mulai dari konsumsi hingga bahan bakar minyak.

“Wah, kalau ungkos udah nggak bengkak lagi. Minilam untuk makan dan solar,” katanya. 

Keluhan serupa disampaikan sopir lainnya, Supri. Ia mengatakan antrean kendaraan untuk melintasi banjir di Pantura Pati sudah berlangsung lebih dari satu jam, belum termasuk waktu saat menerobos genangan.

“Tadi sudah padat sejak lampu merah (lalu lintas) Perempatan Tanjang sampai pertigaan sini (Widorokandang), ” ucapnya. 

Supri sendiri hendak mengirim barang dari Jakarta menuju Surabaya. Namun, akibat terjebak banjir di sejumlah wilayah, ia mengaku pasrah terhadap keterlambatan pengiriman.

“Terlambat lah, telat. Semarang gak banjir, Kudus banjir, dan Pati ini juga banjir,” katanya.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Sementara itu, Kasat Lantas Polresta Pati Kompol Riki Fahmi Mubarok menyampaikan bahwa hingga hari ketiga banjir di jalur Pantura Pati–Rembang, antrean kendaraan masih mengular panjang. Dari arah Rembang menuju Pati, antrean mencapai sekitar tiga kilometer, sedangkan dari arah sebaliknya sekitar dua kilometer.

“Terjadi perlambatan kendaraan dari arah Rembang ke Pati dan sebaliknya karena adanya luapan sungai. Limpasan air tersebut ditambah adanya lubang jalan sehingga membuat kendaraan yang melintas menjadi lambat,” sebutnya. 

Untuk mengurai kepadatan, kepolisian melakukan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan kendaraan dari arah Rembang ke Jalan Lingkar Selatan (JLS) karena volume kendaraan yang tinggi. Sementara kendaraan dari arah Pati menuju Rembang tetap melintasi jalur Pantura.

“Kita melakukan pengalihan arus lalu lintas di Pertigaan Sampang dan Batangan. Itupun hanya untuk kendaraan kecil dan roda dua” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

2.967 Warga Jepara Terdampak Banjir, Pemkab Geser Dapur Umum dari Utara ke Selatan 

0
Dapur umum di lokasi bencana Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Tingginya intensitas hujan yang terjadi di Kabupaten Jepara selama beberapa hari terakhir mulai menyebabkan terjadinya banjir di beberapa titik. 

Berdasarkan data Dari Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, pada Rabu (13/1/2026) total terdapat enam desa yang saat ini terendam banjir. 

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Yaitu Desa Gerdu dan Kaliombo Kecamatan Pecangaan, Desa Batukali Kecamatan Kalinyamatan, Desa Sowan Kidul Kecamatan Kedung, serta Desa Welahan dan Ketilengsingole Kecamatan Welahan. 

Kepala Bidang Rehabilitasi, Perlindungan dan Jaminan Sosial (RPJS) pada Dinsospermades Kabupaten Jepara, Iman Bagus menyebutkan total terdapat 2.967 warga di enam desa yang saat ini terdampak banjir. 

Untuk mensuplai kebutuhan logistik di enam desa itu, Iman mengatakan saat ini sudah ada dua dapur umum yang didirikan. 

“Desa terdampak berdasarkan laporan terbaru ada enam. Saat ini sudah ada dua dapur umum yang kita didirikan,” kata Iman melalui pesan tertulis pada Betanews.id, Rabu (13/1/2026). 

Satu dapur dari Dinsospermades dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kantor Kecamatan Kalinyamatan. 

Dapur umum itu sebelumnya didirikan di Posko Destana Desa Damarwulan, Kecamatan Keling untuk mensuplai kebutuhan warga dan relawan di daerah utara. Yaitu Desa Tempur, Kecamatan Keling yang mengalami tanah longsor dan Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo yang mengalami banjir. 

Karena saat ini kondisi di daerah Jepara Utara mulai membaik, Iman mengatakan dapur umum itu kemudian digeser untuk mensuplai kebutuhan makanan warga di Jepara bagian selatan. 

“Utk Tempur warga sudah bisa mengakses ke bawah karena jalan sudah bisa dilalui dan tidak ada warga yang terdampak untuk dicukupi asupan makanannya. Karena tingkat kebutuhan dinilai untuk warga Tempur sudah dikatakan aman, karena tinggal penataan jalannya,” jelasnya. 

Dapur umum di Kantor Kecamatan Kalinyamatan, Iman mengatakan digunakan untuk mensuplai kebutuhan makan di empat desa. Yaitu Desa Gerdu, Batu Kali, Sowan Kidul, dan Kaliombo. 

“Untuk yang di Desa Welahan dan Ketilengsingole disuplai dari dapur mandiri yang ada di Desa Welahan,” tambahnya. 

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Selama kondisi banjir belum surut, dapur umum akan mensuplai kebutuhan makanan warga selama tiga kali sehari. 

“Kapasitasnya sekali masak sesuai data. Di Kantor Kecamatan Kalinyamatan untuk 2.337 porsi dan di Desa Welahan 630 porsi,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

0
Petugas mengevakuasi truk tangki air yang terperosok di longsoran di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (9/1/2026). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Kudus sejak Jumat (9/1/2026) akibat hujan berintensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah hulu dan lokal secara terus-menerus. Dampaknya, banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem terjadi di berbagai kecamatan dan mengganggu aktivitas warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, menyampaikan bahwa hingga Rabu (14/1/2026) pukul 17.00 WIB, pihaknya mencatat 61 desa di 9 kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Curah hujan tinggi menyebabkan debit sungai meningkat, air meluap ke permukiman, persawahan, hingga akses jalan. Beberapa wilayah juga mengalami longsor akibat tanah menjadi labil,” ujar Eko melalui siaran tertulisnya, Rabu (14/1/2025). 

Berdasarkan data BPBD Kudus, total terdapat 15.317 kepala keluarga atau 48.305 jiwa terdampak. Dari jumlah tersebut, 7.472 rumah terdampak, dengan rincian 5.093 rumah terendam banjir dan 233 kepala keluarga atau 596 jiwa terpaksa mengungsi ke sejumlah lokasi pengungsian.

Selain permukiman, bencana juga berdampak pada infrastruktur dan fasilitas umum. BPBD mencatat 127 titik tanah longsor, 14 pohon tumbang, serta 5 kendaraan rusak. Kerusakan juga terjadi pada 4 fasilitas ibadah, 5 fasilitas pendidikan, dan 2 fasilitas layanan kesehatan.

Untuk sektor pertanian, dampak banjir cukup signifikan. Total 3.464,84 hektare lahan sawah terendam, dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 100 sentimeter, tergantung wilayah. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi masa tanam dan hasil panen petani.

Wilayah yang terdampak banjir paling luas berada di Kecamatan Mejobo, Jati, Undaan, Bae, Jekulo, dan Kota Kudus. Sementara kejadian tanah longsor banyak terjadi di Kecamatan Dawe dan Gebog, khususnya di wilayah lereng dan perbukitan.

Eko menjelaskan, BPBD Kudus bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan pemerintah desa telah melakukan berbagai upaya penanganan darurat. Mulai dari evakuasi warga, pendirian dapur umum, distribusi logistik, hingga asesmen kerusakan secara berkala.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

“Kami juga menyiapkan beberapa lokasi pengungsian dan dapur umum di desa-desa terdampak. Penanganan terus kami lakukan sambil menunggu kondisi cuaca membaik,” jelasnya.

Pihaknya, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. “Kami minta warga menghindari daerah rawan longsor, tidak memaksakan aktivitas di tengah cuaca ekstrem, dan segera melapor jika terjadi keadaan darurat,” imbuh Eko.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Penanganan Tanggul Sleding di Undaan Lor Ditarget Rampung Tiga Hari

0
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana mulai melakukan penanganan tanggul sleding Sungai Wulan yang berada di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana mulai melakukan penanganan tanggul sleding Sungai Wulan yang berada di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan.

Direksi Lapangan Sungai Pantai pada BBWS Pemali Juwana, Nisar Suci Raharjo mengatakan, penanganan tanggul sleding dilakukan sesegera mungkin untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat, terumata warga Kecamatan Undaan dan sekitarnya. Mengingat saat ini, intensitas cuaca hujan di wilayah Kabupaten Kudus masih tinggi. 

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

“Saat ini sudah dalam penanganan, bahkan alat berat kemarin sore sudah tiba di lokasi. Kami gerak cepat setelah ada laporan dengan adanya tanggul sleding yang menjadi tanggungjawab kami,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (14/1/2026).

Ia menjelaskan, penanganan hari pertama dimulai dari pengumpulan tanah tanggul sleding. Sehingga tanggul bisa tertutup dengan baik setealh dilakukannya penanganan.

“Besoknya kami akan melakukan penebalan dengan bambu dan terpal. Jadi langkah kami lakukan bertahap dengan melihat kondisi cuaca,” ungkapnya. 

Ia menuturkan, tanggul yang mengalami sleding di sebelah utara Punden Mbah Tirto Undaan Lor tersebut dengan panjang sekira 25 meter dan ketebalan 8 meter. Ia menargetkan pengerjaan penanganan tanggul bisa rampung dalam tiga hari ke depan.

“Secepatnya penanganan akan kita selesaikan. Target kami tiga hari ke depan kalau cuaca memungkinkan. Sebab saat ini kondisi cuaca masih dalam keadaan mendung,” terang Nisar.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Ia menambahkan, dalam kondisi cuaca yang masih hujan ini ada kendala yang dihadapi dalam penanganan. Kendaraan yang mengangkut material tanah maupun bambu sangat sulit diakses.

“Karena jarak lokasi dengan jalan raya sekitar 500 meter, sehingga ini menyulitkan dalam mempercepat penanganan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kolam Retensi Rp350 M di Kudus Disorot, Ribuan Warga Jati Wetan Terdampak Banjir

0
Banjir di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Keberadaan kolam retensi senilai Rp350 miliar di Kabupaten Kudus kembali menjadi sorotan setelah ribuan warga Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, masih dilanda banjir. Genangan air bahkan mencapai ketinggian hingga 80 centimeter akibat cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kolam retensi yang mulai beroperasi awal 2025 itu sebelumnya digadang-gadang mampu menanggulangi banjir di dua kecamatan, yakni Jati dan Kota. Namun di lapangan, warga menilai dampaknya belum terasa signifikan. Banjir masih rutin terjadi setiap tahun, baik sebelum maupun sesudah kolam retensi dibangun.

Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana

Warga Dukuh Tanggulangin, Sri Wahyuni, menyebut kondisi kampungnya tak banyak berubah. Setiap hujan dengan intensitas tinggi, air tetap menggenangi permukiman.

Bahkan, banjir tahun ini dinilai lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya karena ketinggian air mencapai 80 centimeter. Ia menuturkan, banjir mulai terjadi sejak Sabtu (10/1/2025) dan meningkat tajam dalam dua hari terakhir.

Keluhan serupa disampaikan Ali Arwan (57). Menurutnya, kolam retensi belum memberikan pengaruh besar terhadap pengurangan banjir. Meski rumahnya telah ditinggikan, air tetap masuk hingga sebetis.

Ia menilai cuaca ekstrem membuat kolam retensi kewalahan menampung debit air yang sangat besar.

Sementara itu, Kepala Desa Jati Wetan, Agus Susanto, menyebut sekitar 1.000 kepala keluarga atau 3.500 jiwa terdampak banjir yang tersebar di empat dukuh.

Baca juga: Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir

Ia menegaskan, fungsi kolam retensi sejatinya untuk mengurangi debit air, bukan menghilangkan banjir sepenuhnya. Menurutnya, tanpa kolam retensi, banjir kemungkinan terjadi lebih awal dengan ketinggian lebih parah.

Saat ini, proses pemompaan air dari kolam retensi ke Sungai Wulan terus dilakukan. Sebanyak lima pompa beroperasi selama 24 jam nonstop.

Pemerintah desa berharap intensitas hujan segera menurun agar banjir dapat cepat surut dan efektivitas kolam retensi bisa kembali dirasakan warga.

Editor: Haikal

- advertisement -