Beranda blog Halaman 84

Tanggul Sungai Dawe Kritis, Tiap Tahun Warga Desa Golantepus Kudus Kebanjiran

0
Kondisi tanggul Sungai Dawe yang melintas di Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, kian mengkhawatirkan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kondisi tanggul Sungai Dawe yang melintas di Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, kian mengkhawatirkan.

Beberapa titik tanggul sungai juga dilaporkan jebol. Selain itu, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan juga memperburuk keadaan.

Baca Juga: Banjir Kudus Kian Meluas, 47.050 Jiwa Terdampak, 1.805 Jiwa Mengungsi

Selama ini, warga terpaksa meninggikan tanggul sungai secara swadaya dengan memanfaatkan sampah rumah tangga. Mulai dari tumpukan pampers bekas hingga rumput digunakan sebagai penahan tambahan di sepanjang tanggul.

Oleh karena itu, Ketika ada pasokan tanah warga pun bergegas bergotong royong. Mereka mengisi tanah ke dalam karung, kemudian memanggulnya satu per satu untuk memperkuat dan meninggikan tanggul Sungai Dawe, Jumat (16/1/2025).

Kepala Desa Golantepus, Nur Taufiq, mengatakan hampir seluruh tanggul Sungai Dawe di wilayahnya dalam kondisi kritis. Dari seluruh titik rawan, terdapat delapan titik yang dinilai paling parah.

“Semua tanggul kritis, tetapi yang paling parah ada delapan titik. Di sana ada yang jebol, merembes, dan melimpas, sehingga menyebabkan banjir,” ujar Taufiq saat ditemui di lokasi.

Ia menyebutkan, hampir seluruh warga desanya terdampak banjir. Ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga satu meter.

“Total warga terdampak sekitar 4.500 jiwa dari 2.500 kepala keluarga. Dari 32 RT yang ada di enam RW, hanya dua RT yang tidak terdampak banjir. Sisanya, 30 RT tergenang,” jelasnya.

Menurut Taufiq, Desa Golantepus berada di posisi rawan karena diapit oleh empat sungai, yakni Sungai Dawe, Sungai Mrisen, Sungai Poceho, dan Sungai Piji.

“Jika intensitas hujan tinggi, hampir bisa dipastikan desa kami kebanjiran. Selain tanggulnya kritis, sungai-sungai tersebut juga mengalami pendangkalan,” ungkapnya.

Baca Juga: Jalan Jetiskapuan Kudus Lumpuh, Motor Mogok, dan Warga Dievakuasi

Ia menegaskan, peninggian tanggul menggunakan karung tanah yang dilakukan warga hanya bersifat sementara. Pihaknya berharap pemerintah, khususnya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, segera melakukan penanganan permanen.

“Kami berharap ada peninggian tanggul secara permanen sekaligus normalisasi sungai. Supaya desa kami tidak terus-menerus menjadi langganan banjir,” harap Taufiq.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terendam Banjir Hampir Setiap Tahun, Ini Pemicu Banjir di Batukali Jepara

0
Banjir yang merendam ratusan rumah di Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara sejak Minggu, (11/1/2026) malam kini mulai surut.  Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Hampir setiap tahun pada saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi, Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara selalu terendam banjir. 

Kepala Desa Batukali, Sarmani mengatakan secara geografis, desanya terletak di daerah hilir dan berada di daerah cekungan. Sehingga, pada saat terjadi hujan, aliran air dari daerah hulu mengendap di desanya. 

Baca Juga: Lima Hari Rendam Rumah Warga, Banjir Batukali Jepara Akhirnya Surut

Saat terjadi banjir, air tidak hanya menggenangi pemukiman warga, tetapi juga area persawahan yang lokasinya berada persis di sekitar area pemukiman. 

“Hampir setiap tahun banjir, enam tahun saya menjabat, itu setiap musim hujan pasti banjir. Karena daerah sini kan cekung ya, kayak mangkok. Dan lokasinya di daerah hilir dan rendah,” katanya saat ditemui di Kantor Balai Desa Batukali, Jumat (16/1/2026). 

Sarmani melanjutkan, banjir yang menggenangi pemukiman serta area persawahan milik warga juga disebabkan oleh aliran Sungai Kaweden yang berada di sisi selatan Desa jarang dinormalisasi. 

Tidak hanya itu, pintu air yang pertama kali dibangun sejak tahun 1984 dan lokasinya berada di dasar sungai juga belum pernah dilakukan perbaikan. 

“Harapannya, kami mengusulkan adanya normalisasi, serta perbaikan pintu-pintu utama di wilayah Batukali,” katanya. 

Sebab, berbeda dengan pintu air di desa lainnya, di Desa Batukali, pintu air tidak hanya berfungsi sebagai jalan keluar air yang merendam pemukiman warga saat terjadi banjir. Tetapi juga berfungsi sebagai jalan air ke area persawahan warga. 

“Sehingga, harapannya dengan adanya normalisasi serta perbaikan pintu nanti tidak ada genangan di permukiman serta bisa mengurangi gagal panen karena sawahnya kebanjiran,” ujarnya.

Sarmani menyebut, dari total 307 hektare sawah yang berada di Desa Batukali, seluruhnya saat ini terendam banjir.

Sawah yang terendam tidak hanya yang baru ditanami padi, tetapi ada juga yang baru dilakukan persemaian dan siap panen. 

Baca Juga: Muria Raya Dikepung Bencana, Alih Fungsi Lahan Disebut Jadi Salah Satu Pemicu 

“Ada 15 hektare kemarin yang siap panen, tapi malah terendam banjir,” sebutnya. 

Sebagai informasi, banjir di Desa Batukali terjadi pada Minggu, (11/1/2026) malam. Total terdapat 405 rumah yang terdampak dengan jumlah sekitar 2.100 warga.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bertemu Kepala BNPB, Warga Terdampak Banjir Kudus Minta Normalisasi Sungai Juwana

0
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto meninjau langsung lokasi bencana banjir di Kabupaten Kudus, Jumat (16/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto mendatangi posko pengungsian di Gedung DPRD Kabupaten Kudus saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Kretek, Jumat (16/1/2025). Dalam kunjungan tersebut, ia menyapa ratusan pengungsi sekaligus menyalurkan berbagai bantuan.

Pada kesempatan itu, Suharyanto membuka ruang dialog dengan para pengungsi. Salah satu warga terdampak banjir, Sutarjo, mengusulkan agar Sungai Juana segera dinormalisasi agar wilayah tempat tinggalnya di Desa Karangrowo tidak lagi menjadi langganan banjir.

Baca Juga: Kades Jati Wetan Kudus: ‘Jika Tak Ada Kolam Retensi Ketinggian Banjir Bisa Lebih 2 Meter’

Menanggapi aspirasi tersebut, Suharyanto memastikan bahwa normalisasi Sungai Juana telah masuk dalam program kerja tahun 2026. Program tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

“Normalisasi Sungai Juana sudah masuk program kerja BBWS Pemali Juana tahun 2026, sehingga akan segera dilaksanakan,” ujar Suharyanto.

Ia menjelaskan, bencana banjir hampir setiap tahun terjadi di wilayah Jawa Tengah, meskipun lokasi terdampaknya berbeda-beda. Pada akhir tahun 2025 lalu, banjir besar sempat melanda kawasan Kaligawe, Kota Semarang, akibat curah hujan tinggi yang berlangsung selama sekitar 10 hari.

“Di tahun ini curah hujannya hampir sama, alhamdulillah Kaligawe tidak banjir. Artinya, penanganan pascabencana sebelumnya sudah menunjukkan hasil,” jelasnya.

Suharyanto menambahkan, saat ini Kabupaten Kudus menjadi salah satu wilayah yang masih terdampak banjir. Oleh karena itu, usulan masyarakat terkait normalisasi Sungai Juana menjadi perhatian serius pemerintah pusat.

“Karena luasnya wilayah Indonesia dan perubahan daya dukung lingkungan, bencana memang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun yang terpenting adalah upaya perbaikan dan mitigasi terus dilakukan,” katanya.

Baca Juga: Polres Kudus dan Tim Psikologi Polda Jateng Beri Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir

Ia berharap, normalisasi Sungai Juana dapat menjadi solusi mendasar dalam penanganan banjir di Kudus.

“Mudah-mudahan permasalahan utama penyebab banjir di Kudus bisa segera ditangani melalui normalisasi Sungai Juana, sehingga ke depan Kudus tidak lagi dilanda banjir,” harapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pemkab Kudus Usulkan 4 Kolam Retensi ke Pemerintah Pusat

0
Petugas melakukan pembersihan di kawasan Kolam Retensi,Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menyiapkan langkah penanggulangan banjir jangka menengah dan panjang di Kota Kretek. Di antaranya dengan mengusulkan empat pembangunan kolam retensi kepada pemerintah pusat.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, dengan pemangkasan transfer kas daerah (TKD) yang cukup besar jelas tidak memungkinkan pemerintah daerah membangun sendiri kolam retensi. Apalagi pembangunan tersebut butuh anggaran cukup besar.

Baca Juga: Kades Jati Wetan Kudus: ‘Jika Tak Ada Kolam Retensi Ketinggian Banjir Bisa Lebih 2 Meter’

“Oleh karena itu kami mengusulkan pembangunan empat kolam retensi ke pemerintah pusat. Usulan sudah kami sampaikan ke Kementerian PU (Pekerjaan Umum),” ujar Sam’ani saat meninjau Kolam retensi Jati Wetan, belum lama ini.

Lokasi yang diusulkan dibangun kolam retensi untuk penanggulangan banjir, menurutnya, dua di Kecamatan Kaliwungu dan duanya lagi di Kecamatan Mejobo dan Jekulo. Pasalnya, wilayah tersebut selama ini jadi langganan banjir.

“Untuk Kecamatan Kaliwungu lokasinya itu di Dukuh Kacu, Desa Banget dan Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Lor. Sedangkan yang dua lagi itu di Desa Kirig, Kecamatan Mejobo serta di Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo,” rincinya.

Dia menuturkan, bahwa ukuran kolam retensi yang diusulkan ke pemerintah pusat kurang lebih sama dengan yang ada Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati. Ia berharap usulan tersebut bisa direalisasikan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PU.

“Ini sebagai upaya dan ihtiar kami untuk menangani banjir di Kudus. Semoga secepatnya bisa terealisasikan,” harapnya.

Sebagai informasi, sudah hampir sepekan Kabupaten Kudus dikepung bencana. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus per Jum’at (16/1/2025) sebanyak 64 desa di 9 kecamatan terdampak bencana.

Ada tiga bencana yang terjadi di Kabupaten Kudus. Yakni, longsor, puting beliung dan banjir. Terjadi 127 titik longsor dan sebanyak 7.409 rumah terdampak bencana.

Baca Juga: Polres Kudus dan Tim Psikologi Polda Jateng Beri Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir

Warga yang terdampak bencana ada 47.165 jiwa dari 15.005 Kepala Keluarga (KK). Sementara bencana banjir juga makin meluas dengan merendam 5.890 rumah warga.

Warga yang mengungsi ada 1.805 jiwa dari 678 KK. Bencana di Kudus juga telah menelan tiga korban jiwa. Satu akibat longsor, sementara yang dua dikarenakan kecelakaan air.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tinjau Bencana Kudus, Kepala BNPB Sampaikan Pesan Presiden kepada Warga

0
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto meninjau langsung lokasi bencana banjir di Kabupaten Kudus, Jumat (16/1/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto meninjau langsung lokasi bencana banjir di Kabupaten Kudus, Jumat (16/1/2025). Kunjungan tersebut dilakukan setelah wilayah Kota Kretek dilanda bencana secara beruntun selama sepekan terakhir, mulai dari banjir, longsor, hingga angin puting beliung.

Suharyanto mengungkapkan, kehadirannya di Kudus merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Padahal, saat ini pemerintah pusat juga tengah fokus menangani bencana di Pulau Sumatra, seperti di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Baca Juga: Kades Jati Wetan Kudus: ‘Jika Tak Ada Kolam Retensi Ketinggian Banjir Bisa Lebih 2 Meter’

“Di tengah penanganan bencana di Pulau Sumatra, kami diutus langsung oleh Bapak Presiden untuk datang ke Kudus. Sebagaimana diketahui, wilayah lereng Muria, seperti Kudus, Jepara, dan Pati, saat ini juga sedang dilanda bencana,” ujar Suharyanto.

Ia menyebutkan, dalam beberapa hari terakhir Kabupaten Kudus mengalami banjir dan longsor cukup besar yang menyebabkan banyak rumah warga terendam hingga memaksa sebagian warga mengungsi. Menurutnya, bencana tersebut dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem.

“Kita sepakat bahwa tidak ada perbedaan antara wilayah Sumatra maupun Jawa Tengah. Masyarakat terdampak bencana di seluruh Indonesia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan bantuan dan perhatian dari negara,” tegasnya.

Saat berada di Kudus, Suharyanto menyempatkan diri menyapa warga terdampak banjir yang mengungsi di Gedung DPRD Kabupaten Kudus. Ia juga menyampaikan pesan belasungkawa dan empati dari Presiden Prabowo Subianto kepada masyarakat Kudus.

Dalam upaya penanggulangan bencana, BNPB telah melakukan operasi modifikasi cuaca. Sejak sehari sebelumnya, satu unit pesawat diterjunkan untuk melakukan modifikasi cuaca di wilayah Jawa Tengah bagian utara.

“Mudah-mudahan meskipun cuaca masih mendung, tidak terjadi hujan dengan intensitas tinggi sehingga tidak menambah debit air banjir dari wilayah hulu,” jelasnya.

Suharyanto menambahkan, kedatangannya ke Kudus juga membawa berbagai bantuan bagi warga terdampak, termasuk kebutuhan khusus untuk anak-anak.

“Bantuan yang kami salurkan berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat terdampak banjir, seperti makanan, minuman, pakaian, serta perlengkapan kebersihan,” sebutnya.

Baca Juga: Polres Kudus dan Tim Psikologi Polda Jateng Beri Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir

Selain itu, ia juga menginformasikan kepada Bupati Kudus bahwa pemerintah pusat melalui Bulog akan menyalurkan bantuan pangan bagi daerah terdampak bencana. Bantuan tersebut dapat mencukupi kebutuhan satu kabupaten selama beberapa bulan.

“Terkait kebutuhan lanjutan, dapat dipenuhi oleh pemerintah daerah dan anggarannya akan direimbursement ke pemerintah pusat melalui BNPB. Termasuk permintaan alat berat untuk penanganan longsor, pembiayaan sewa alatnya bisa kami bantu,” imbuh Suharyanto.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Kudus Kian Meluas, 47.050 Jiwa Terdampak, 1.805 Jiwa Mengungsi

0
Banjir di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat, saat ini sudah ada puluhan ribu jiwa terdampak banjir yang diakibatkan tingginya curah hujan mengguyur Kabupaten Kudus selama satu pekan terakhir. Bahkan warga yang mengungsi saat ini semakin bertambah.

Berdasarkan data yang dihimpun Betanews.id dari BPBD Kabupaten Kudus Jumat (16/1/2026) per pukul 8.00 WIB, banjir menggenangi 38 desa di tujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Kudus. Dari puluhan desa yang terendam banjir, sebanyak 47.050 jiwa dari 14.972 kepala keluarga (KK) terdampak.

Baca Juga: Kades Jati Wetan Kudus: ‘Jika Tak Ada Kolam Retensi Ketinggian Banjir Bisa Lebih 2 Meter’

Kepala pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko menyampaikan, banjir yang melanda Kota Kretek semakin meluas. Dengan 5.890 rumah terendam dengan ketinggian bervariasi mulai 40 sentimeter hingga satu meter..

“Saat ini sudah ada sebanyak 1.805 jiwa dari 678 KK mengungsi di 11 posko bencana yang telah didirikan. Tak hanya rumah warga, 11 fasilitas ibadah dan 45 satuan pendidikan di Kudus juga terdampak adanya bencana banjir,” katanya.

Dari jumlah pengungsi tersebut, paling banyak didominasi oleh warga Kecamatan Jati dengan jumlah 1.233 jiwa mengungsi, kemudian disusul Kecamatan Mejobo dengan jumlah 430 jiwa, baru Kecamatan Undaan ada sebanyak 142 jiwa mengungsi di berbagai posko bencana.

Ia menjelaskan, 11 posko bencana yang telah didirikan berada di berbagai titik. Meliputi Balaidesa Gulang ada 153 jiwa, Balaidesa Payaman ada 154 jiwa, Blaidesa Kesambi dan TK Pertiwi 12 jiwa, MI Hidayatus Shibyan Temulus ada 35 jiwa, NU Center Pasuruan Lor ada 53 jiwa, Balaidesa Jati Wetan ada 138 jiwa.

Baca Juga: Polres Kudus dan Tim Psikologi Polda Jateng Beri Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir

Kemudian di Gedung Muslimat NU Loram Kulon ada 283 jiwa, GKMI Tanjungkarang ada 72 jiwa, Aula Gedung DPRD Kabupaten Kudus ada 687 jiwa, Balaidesa Karangrowo ada 79 jiwa, dan Gedung DPC PDIP Kudus ada 63 jiwa.

“Pengungsi kian bertambah, karena banjir semakin meluas ke sejumlah titik Kabupaten Kudus. Apalagi Intensites curah hujan tinggi saat ini masih terjadi. Namun BNPB kemarin telah melakukan modifikasi cuaca di wilayah Muria Raya,” sebutnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jalan Jetiskapuan Kudus Lumpuh, Motor Mogok, dan Warga Dievakuasi

0
Banjir di Desa Jetiskapuan, Kudus, Jumat (16/1/2026). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Banjir yang melanda Kabupaten Kudus selama lima hari terakhir semakin meluas. Ruas Jalan Kudus–Purwodadi, tepat di depan Gapura Desa Jetiskapuan, Jumat (16/1/2026), tergenang air setinggi 40 centimeter. Akibatnya, banyak kendaraan, terutama sepeda motor matic, mogok di tengah jalan.

Kondisi banjir di wilayah Tanjungkarang memang mulai menyusut, namun genangan justru melebar ke desa-desa selatan hingga Undaan Lor, Kecamatan Undaan.

Baca Juga: Kades Jati Wetan Kudus: ‘Jika Tak Ada Kolam Retensi Ketinggian Banjir Bisa Lebih 2 Meter’

Ahmad Taufik, relawan Destana Jetiskapuan, menyebut ketinggian air di ruas jalan tersebut naik sekitar 5 centimeter dibanding sehari sebelumnya.

“Banjir di sini makin tinggi, banyak motor mogok. Penyebabnya hujan deras semalam ditambah kiriman air dari Mejobo dan Sungai Dawe,” ujarnya.

Lebih dari separuh warga Jetiskapuan kini sudah dievakuasi ke tempat aman. Sebagian lainnya memilih bertahan di rumah karena merasa lebih nyaman, meski air menggenang hingga 40–110 centimeter.

Tanzila (25), salah satu warga yang tetap tinggal, mengaku masih betah meski air setinggi lutut orang dewasa masuk ke rumahnya.

Baca Juga: Polres Kudus dan Tim Psikologi Polda Jateng Beri Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir

“Bantuan makanan kemarin hanya sekali sehari,” katanya. Sementara Khoirina (22) yang rumahnya terendam hingga satu meter menuturkan, “Sudah biasa, tiap tahun kebanjiran. Tapi tetap saja susah, kerja jadi terhambat.”

Relawan berharap cuaca segera cerah agar banjir cepat surut dan aktivitas warga bisa kembali normal.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Desa Mintobasuki Pati Terisolir Banjir, Logistik Warga Mulai Menipis

0
Banjir di Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir yang melanda Kabupaten Pati meluas hingga merendam 127 desa di 21 kecamatan pada Jumat (16/1/2026). Tingginya intensitas hujan dalam sepekan terakhir menyebabkan debit air terus meningkat, mengakibatkan sejumlah desa terisolasi dan aktivitas perekonomian warga lumpuh total.

Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Akses menuju pemukiman tersebut kini hanya dapat dijangkau menggunakan perahu akibat ketinggian air.

Baca Juga: Pria yang Diduga Hanyut di Sungai Kedungdowo Pati Belum Ditemukan

Kondisi ini memaksa warga bergantung pada armada perahu milik desa bagi mereka yang tidak memiliki transportasi pribadi.

Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji mengungkapkan, data pemerintah desa mencatat, sedikitnya 300 rumah terendam air dengan total 800 jiwa terdampak. Ketinggian air di akses jalan berkisar antara 50 hingga 80 cm, sementara di dalam rumah warga, air dilaporkan telah mencapai ketinggian lebih dari 1 meter.

“Kondisi di Desa Mintobasuki, untuk akses utama desa hanya kendaraan tertentu yang bisa lewat. Semua akses jalan teremdam dan terisolir,” ujarnya.

Kemudian untuk ketersediaan logistik warga, katanya  saat ini juga  dalam kondisi menipis.

“Banjir sudah merendam desa kami selama lima hari. Stok makanan warga menipis dan diperkirakan hanya cukup untuk dua hari ke depan,” ungkapnya.

Menurut Abdul, bantuan dari pemerintah maupun pihak terkait sejauh ini masih sangat minim. Hingga hari kelima, warga baru menerima satu kali bantuan berupa mi instan.

“Semua akses jalan tertutup. Kami berharap bantuan segera datang karena aktivitas ekonomi benar-benar terhenti,” tambahnya.

Baca Juga: Petani Panen Bawang Merah di Pati Terpaksa Panen Dini Akibat Lahan Terendam Banjir

Warga berharap adanya langkah cepat dari Pemerintah Kabupaten Pati untuk segera menyalurkan bantuan logistik dan obat-obatan guna mencegah krisis pangan di wilayah terdampak.

Selain itu, pihaknya juga berharap, untuk jangka panjang pemerintah bisa memberikan solusi yang tepat, agar banjir tidak lagi menggenangi desanya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Lima Hari Rendam Rumah Warga, Banjir Batukali Jepara Akhirnya Surut

0
Banjir yang merendam ratusan rumah di Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara sejak Minggu, (11/1/2026) malam kini mulai surut.  Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Banjir yang merendam ratusan rumah di Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara sejak Minggu, (11/1/2026) malam kini mulai surut. 

Sebelumnya, Rumah warga terendam air dengan ketinggian bervariasi antara 20-60 cm, kini menyisakan genangan di area jalan permukiman. 

Baca Juga: Muria Raya Dikepung Bencana, Alih Fungsi Lahan Disebut Jadi Salah Satu Pemicu

Aktivitas warga juga mulai berjalan normal. Suasana desa yang selama lima hari terakhir tampak lengang, kini mulai ramai.

Kepala Desa Batukali, Sarmani mengatakan banjir di desanya tidak hanya menggenangi area permukiman, tetapi juga area persawahan milik warga. 

Dari total 675 Kepala Keluarga (KK) di desanya, hanya 60 persen rumah atau sekitar 405 rumah yang terendam banjir. Rumah yang tidak terendam rata-rata berada di daerah yang lebih tinggi. 

Sementara untuk area persawahan, dari total 307 hektare sawah yang berada di Desa Batukali, seluruhnya terendam banjir. 

“Alhamdulillah, air yang merendam permukiman maupun sawah warga hari ini sudah mulai surut 20 cm,” katanya saat ditemui di Balai Desa Batukali, Jumat, (16/1/2026). 

Sarmani mengatakan banjir yang melanda desanya disebabkan oleh tingginya intensitas hujan yang terjadi selama beberapa hari terakhir. 

Desanya yang berada di daerah hilir dan di daerah dataran rendah, membuat Desa Batukali rawan bencana banjir setiap tahun. 

“Hampir setiap tahun saat ada hujan deras selalu terjadi banjir. Karena disini paling rendah dan paling hilir,” ujarnya. 

Selama banjir merendam desanya, Sarmani mengatakan sudah banyak bantuan logistik yang diterima. Sehingga bisa membantu kebutuhan warga. Bantuan berupa kebutuhan sembako serta makanan siap saji. 

“Bantuan logistik aman, untuk kebutuhan makanan siap saji sudah disuplai dari Dapur Umum di Kantor Kecamatan Kalinyamatan,” katanya. 

Baca Juga: Sudah Seminggu Kapal Penyeberangan Off, Stok Logistik di Karimunjawa Jepara Mulai Menipis 

Sementara itu, Musthoiri (44), Warga RT4 RW1 Desa Batukali mengaku bersyukur banjir yang menggenangi rumahnya kini mulai surut. Banjir kemarin sempat menggenangi rumahnya setinggi 60 cm. 

“Alhamdulillah seneng hari ini sudah surut. Mulai bersih-bersih rumah, semoga hujannya cepet reda, ngga banjir lagi,” ujarnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kades Jati Wetan Kudus: ‘Jika Tak Ada Kolam Retensi Ketinggian Banjir Bisa Lebih 2 Meter’

0
Kades Jati Wetan, Agus Susanto. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebagian warga Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati menganggap adanya kolam retensi tak berpengaruh terhadap bencana banjir. Sebab saat ini mereka masih kebanjiran dengan ketinggian air hingga satu meter.

Namun angggapan tersebut disanggah oleh Kepala Desa (Kades) Desa Jati Wetan, Agus Susanto. Menurut Susanto keberadaan kolam retensi cukup maksimal sebagai pengendali banjir.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

“Hal itu terbukti di tahun lalu tak ada banjir. Kalau banjir sekarang ini lebih disebabkan cuaca yang sangat ekstrem,” ujar Susanto di Balai Desa Jati Wetan, Kamis (15/1/2025).

Lebih lanjut Susanto menuturkan, bahwa banjir di desanya terutama di Dukuh Gendok, Barisan, Tanggulangin dan Kaligawe itu terjadi sejak lima hari lalu. Dengan ketinggian air hingga satu meter.

“Jika tidak ada kolam retensi, maka desa kami bisa kebanjiran lebih lama lagi. Dengan curah hujan seperti ini, Ketinggian air bisa sampai dua meter lebih. Untungnya tahun ini sudah ada kolam retensi,” bebernya.

Dia mengungkapkan, saat ini total ada kurang lebih 2.500 warga Desa Jati Wetan yang terdampak banjir. Dengan ketinggian banjir antara 40 sentimeter hingga satu meter.

Pihaknya juga sudah menyediakan posko pengungsian sejak kemarin Rabu (14/1/2025). Posko pengungsian berada di Balai Desa Jati Wetan.

“Saat ini sudah ada warga yang mengungsi. Jumlah pengungsi kurang lebih 131 jiwa, termasuk anak-anak,” ungkapnya.

Ia memastikan bahwa logistik bantuan untuk para korban banjir di Desa Jati Wetan aman dan mencukupi. Selain itu, pihaknya juga dibantu oleh Puskesmas Kecamatan Jati untuk pemeriksaan kesehatan korban banjir. 

“Logistik makan bagi warga terdampak banjir insyallah aman. Begitu juga kesehatan mereka, tim kesehatan akan lakukan pengecekan berkala,” imbuhnya. 

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Wartawan Betanews.id juga berkesempatan melihat sistem pengendali banjir di kolam retensi bekerja. Dua pintu pembuangan air dibuka ke Sungai Wulan. 

Selain itu lima unit pompa polder juga menyala semua. Berada di kolam retensi kurang lebih sejam, terlihat air surut sekira 10 centimeter.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Polres Kudus dan Tim Psikologi Polda Jateng Beri Trauma Healing Anak-Anak Korban Banjir

0
Kepolisian Resor Kudus bekerja sama dengan Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jawa Tengah mengadakan kegiatan pendampingan psikososial bagi warga terdampak banjir di sejumlah titik pengungsian di Kabupaten Kudus, Kamis (15/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepolisian Resor Kudus bekerja sama dengan Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jawa Tengah mengadakan kegiatan pendampingan psikososial bagi warga terdampak banjir di sejumlah titik pengungsian di Kabupaten Kudus, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan tersebut difokuskan untuk membantu pemulihan kondisi mental masyarakat, khususnya anak-anak, agar tidak mengalami tekanan psikologis berkepanjangan akibat bencana banjir. Pendampingan dilakukan secara langsung di lokasi pengungsian oleh tim psikologi yang dibantu personel Polres Kudus.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

Tim trauma healing menyambangi beberapa lokasi pengungsian, di antaranya Aula Gedung DPRD Kabupaten Kudus, TPQ Kuriyathul Fikri di Desa Pasuruhan Lor, serta Gedung NU Center di Desa Loram Kulon.

Dalam pelaksanaannya, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas interaktif seperti permainan edukatif dan sesi motivasi. Tim juga membagikan makanan ringan serta memberikan pemahaman sederhana mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kemandirian selama berada di pengungsian.

Selain pendampingan psikologis, Bag Psikologi Biro SDM Polda Jawa Tengah turut menyalurkan bantuan kebutuhan pokok yang diserahkan melalui koordinator dapur umum untuk didistribusikan kepada para pengungsi.

Kepala Bagian Psikologi Biro SDM Polda Jateng, AKBP Ahli Rumekso, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap kondisi psikologis masyarakat pascabencana, terutama anak-anak.

“Melalui pendampingan ini, kami berharap anak-anak tetap ceria dan para pengungsi dapat mengurangi beban trauma, sehingga proses pemulihan mental bisa berjalan lebih baik,” ujarnya.

Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat tidak hanya sebatas menjaga keamanan, tetapi juga mencakup upaya kemanusiaan.

“Kami berupaya hadir secara menyeluruh, baik dalam pengamanan maupun pendampingan sosial. Harapannya, warga terdampak banjir dapat segera pulih dan bangkit dari kondisi sulit ini,” kata AKBP Heru.

Salah satu pengungsi, Siti Aminah, mengaku kegiatan tersebut memberikan dampak positif, terutama bagi anak-anak yang selama ini harus bertahan di pengungsian.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

“Anak-anak jadi lebih ceria dan tidak terus merasa sedih. Sebagai orang tua kami merasa lebih tenang. Terima kasih kepada Polri dan tim psikologi yang sudah mendampingi kami,” ungkapnya.

Kegiatan psikososial dan trauma healing ini mendapat sambutan positif dari para pengungsi. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap sesi, sementara warga dewasa mengapresiasi kepedulian jajaran Polda Jawa Tengah dan Polres Kudus yang terus mendampingi masyarakat selama masa bencana.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Muria Raya Dikepung Bencana, Alih Fungsi Lahan Disebut Jadi Salah Satu Pemicu 

0
Bencana yang terjadi di Muria Raya. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID,JEPARA- Daerah yang berada di Kawasan Muria Raya, terutama Pati-Jepara-Kudus sejak beberapa hari terakhir dikepung bencana hebat mulai dari banjir hingga tanah longsor. 

Akademisi sekaligus Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK), Hendy Hendro mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa bencana itu. Salah satunya alih fungsi lahan. 

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

Hendi menjelaskan curah hujan selama satu minggu terakhir memang terbilang cukup tinggi bahkan masuk kategori ekstrem yaitu diatas >150 mm. 

“Maka tak mengherankan jika di beberapa desa di kawasan Muria, termasuk Tempur (Jepara) dan Rahtawu (Kudus) mengalami bencana hidrometrologi berupa tanah longsor dan banjir bandang,” katanya pada Kamis, (15/1/2026). 

Hendi melanjutkan secara geografis letak Desa Tempur dan Rahtawu memang bersebelahan dan berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Kudus. Posisi keduanya berada persis di pegunungan Muria. 

Sehingga dua wilayah desa itu memiliki kemiripan karakteristik. Secara geologis, keduanya juga mempunya formasi vulkanik dan letaknya masing-masing berada dalam bekas kawah gunung api Muria purba.

Selain itu, lanjut Hendy, kedua desa itu juga memiliki struktur geologi patahan atau sesar yang menjadi satu garis patahan, yang termasuk dari sesar Muria. 

Akibatnya, dua desa tersebut memiliki topografi dengan lereng-lereng yang curam dan terjal. Sehingga struktur geologinya menjadi lemah dan labil, apalagi jenis tanahnya termasuk pasir tufaan, yang menjadikan tanah labil.

“Setiap puncak musim hujan seperti saat ini, kondisi tanah yang labil itu juga mudah sekali jenuh air. Kondisi inilah yang menjadikan kedua daerah itu rentan terhadap tanah longsor,” jelas Hendy.

Tidak hanya secara geografis, peristiwa tanah longsor di kedua desa itu salah satu penyebabnya yaitu adanya perubahan penggunaan lahan atau alihfungsi lahan, seperti dari lahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, maupun permukiman.

Yang mengakibatkan berkurangnya tutupan vegetasi hutan. 

Hendy menyebut penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi dapat memperparah keadaan meningkatnya erosi tanah. Kemudian, pembangunan di lereng yang curam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan tata ruang dapat meningkatkan risiko erosi tanah atau longsor.

Berdasarkan data satelit yang dijadikan rujukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk penelitian Taman Hutan Raya (Tahura), per tahun 2024 menunjukkan hanya 7.287 hektare area tutupan hutan asli yang tersisa di kawasan Muria.

“Memang, deforestasi atau alihfungsi lahan membuat kondisi bencana saat ini semakin parah,” ungkapnya. 

Melihat kondisi saat ini, Hendy mengusulkan agar pemerintah membuat suatu kebijakan pengelolaan risiko bencana secara terintegrasi dan holistik.

Termasuk peningkatan sistem peringatan dini, peningkatan infrastruktur yang tahan longsor, serta meningkatkan kesadaran dan edukasi masyarakat tentang tindakan mitigasi.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Di samping itu, lanjut Hendy, masyarakat juga mempunyai peran kunci dalam mengatasi dan mengurangi risiko longsor. Caranya, dengan berperan aktif dalam menjaga lingkungan, melakukan konservasi dan rehabilitasi lahan.

“Masyarakat juga diharapkan menaati aturan serta kebijakan pemerintah dalam menata suatu kawasan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Karangrowo Tahun Ini Disebut Terparah dalam Lima Tahun Terakhir

0
Banjir di Desa Karangrowo, Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Warga Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus menyebut banjir yang terjadi tahun ini sebagai yang terparah dalam lima tahun terakhir. Banjir merendam sekitar 800 rumah warga, khususnya di Dukuh Krajan, dengan ketinggian air mencapai 125 centimeter di titik terdalam.

Salah satu warga Dukuh Krajan RT 5 RW 2, Kunarti (55), mengungkapkan kondisi rumahnya saat ini dalam keadaan darurat. Air dilaporkan telah masuk ke dalam rumah hingga setinggi satu meter.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

Menurutnya, banjir yang terjadi tahun ini jauh lebih parah dibandingkan banjir pada 2023 lalu. Padahal, ia mengaku telah meninggikan lantai rumah agar terhindar dari banjir, namun upaya tersebut tidak mampu menahan tingginya genangan air.

“Banjir kali ini lebih parah dibandingkan sebelumnya. Rumah sudah saya uruk setinggi selutut, tapi ranjang masih terendam air. Tahun-tahun sebelumnya tidak sebesar ini,” ujarnya saat ditemui di Posko Pengungsian Balai Desa Karangrowo, Kamis (15/1/2026).

Kunarti menuturkan, air mulai masuk ke rumahnya dengan cepat pada Selasa (13/1/2026) sore, sehingga ia terpaksa dievakuasi oleh petugas dan relawan. Saat pertama meninggalkan rumah, ketinggian air di dalam rumah mencapai sekitar 50 centimeter.

“Sekarang air semakin tinggi sampai satu meter. Padahal Selasa pagi air belum terlalu tinggi, tapi sekitar pukul 15.00 WIB naik sangat cepat,” jelasnya.

Ia mengaku hampir setiap musim hujan rumahnya terdampak banjir. Oleh karena itu, Kunarti berharap pemerintah segera melakukan perbaikan saluran drainase yang selama ini dinilai tidak berfungsi optimal.

Selama tiga hari mengungsi di posko bencana, Kunarti mengaku tetap memikirkan kondisi rumahnya. Meski demikian, kebutuhan dasar pengungsi telah terpenuhi, termasuk makanan dan layanan kesehatan melalui posko medis yang disiagakan bagi warga terdampak.

“Saya memilih mengungsi di sini karena dekat dengan rumah, jadi bisa sewaktu-waktu memantau kondisi rumah,” terangnya.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Wiwik Alfiah, yang memilih bertahan di rumah meski dikelilingi genangan air. Ia mengaku lebih nyaman tinggal di rumah dibandingkan harus mengungsi ke tempat lain.

“Saat ini air sudah masuk ke rumah hingga di atas mata kaki. Banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun 2023 dan 2024. Tahun 2024 lalu air hanya masuk di bawah mata kaki, sekarang lebih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Karangrowo, Heri Darwanto, menyampaikan bahwa sekitar 1.000 warga telah mengungsi akibat banjir, baik ke Gedung DPRD Kabupaten Kudus maupun ke Balai Desa Karangrowo. Selain itu, lebih dari 2.000 warga dilaporkan terdampak, mayoritas berasal dari Dukuh Krajan.

“Banjir disebabkan curah hujan dengan intensitas cukup tinggi sehingga limpasan air dari lereng Muria mengalir ke wilayah hulu. Saat ini ketinggian banjir di Dukuh Krajan berkisar antara 50 hingga 125 centimeter,” ungkapnya.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Secara keseluruhan, lanjut Heri, terdapat sekitar 800 rumah warga yang terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen rumah tergenang air hingga masuk ke dalam bangunan dengan ketinggian bervariasi antara 50 hingga 125 centimeter.

Ia menegaskan, banjir tahun ini merupakan yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, pemerintah desa bersama pihak terkait terus melakukan penanganan, termasuk memastikan ketersediaan logistik bagi warga terdampak tetap aman.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pura Group Salurkan Sembako hingga Air Bersih kepada Korban Banjir Kudus

0
PT Pura Group membagikan paket sembako kepada korban banjir di wilayah Kabupaten Kudus, Kamis (15/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Pura Group membagikan paket sembako kepada korban banjir di wilayah Kabupaten Kudus, Kamis (15/1/2026).

Direktur HR-GA Pura Group Kudus, Agung Subani, menyampaikan, rasa prihatin dengan musibah banjir yang terjadi di Kota Kretek. Pihaknya akan selalu ada bagi warga yang terdampak bencana.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

“Sebagai rasa empati kepada warga yang terdampak banjir, saat ini kita bagikan paket sembako di posko pengungsian di Balai Desa Jati Wetan. Terkait jumlahnya kita akan menyesuaikan kebutuhan,” ujar Subani.

Dia menuturkan, bantuan tidak hanya diberikan kepada para pengungsi di Desa Jati Wetan saja, tetapi juga di posko lainnya di Kudus. Saat ini sudah ada tim dari Pura Group yang melakukan pendataan di lapangan.

“Selain paket sembako, Pura Group juga memberikan bantuan distribusi air bersih. Serta menyediakan armada untuk evakuasi korban banjir,” bebernya.

Subani berharap, bantuan dari Pura Group bisa meringankan beban bagi para korban bencana banjir. Ia pun berharap bencana ini cepat berlalu dan tak ada korban jiwa.

Sementara Kepala Desa Jati Wetan, Agus Susanto menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pura Goup yang telah memberikan bantuan paket sembako kepada para pengungsi yang terdampak banjir. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga.

“Sampai saat ini total ada 131 orang pengungsi. Mereka merupakan warga Dukuh Gendok, Dukuh Kaligae, Barisan dan Dukuh Tanggulangin,” ujarnya.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Dia menuturkan, ketinggian banjir di Desa Jati Wetan saat ini antara 40 centimeter sampai satu meter. Sementara total warga yang terdampak ada 2.500 jiwa dari 1.200 kepala keluarga (KK).

“Banjir terjadi sekira lima hari yang lalu. Namun, kenaikan debit banjir yang cukup signifikan itu sejak dua hari yang lalu,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bupati Kudus Tinjau Kolam Retensi, Pastikan Pintu Air dan Pompa Berfungsi Maksimal

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris saat meninjau kolam retensi Jati. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau pintu pembuangan air di kolam retensi Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kamis (15/1/2025). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan sistem pengendalian banjir di wilayah tersebut berjalan optimal.

Dalam peninjauan itu, Bupati Sam’ani memastikan dua pintu kolam retensi, yakni Drain Kencing Satu dan Drain Kencing Dua, dalam kondisi terbuka. Kedua pintu tersebut berfungsi mengalirkan air banjir menuju Sungai Wulan.

Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop 

“Kami mengecek langsung kolam retensi. Semua pintu air terbuka dan pompa polder juga menyala seluruhnya,” ujar Sam’ani.

Sam’ani menjelaskan, kolam retensi tersebut dilengkapi lima unit pompa dengan kapasitas total sekitar 5,5 meter kubik per detik. Dengan dukungan dua pintu air yang terbuka, pembuangan air banjir ke Sungai Wulan dapat dilakukan secara maksimal.

“Jika pompa dan pintu air di kolam retensi bekerja optimal, dalam kurun waktu sekitar tujuh jam ketinggian banjir bisa berkurang hingga 30 sentimeter, dengan catatan tidak ada hujan atau air kiriman tambahan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kudus terus melakukan penanganan bencana banjir secara lintas sektoral. Kolaborasi dilakukan bersama pemerintah provinsi, pemerintah pusat, TNI, Polri, serta para relawan.

“Kami bahu-membahu dalam penanganan bencana ini. Semoga tidak ada hujan lagi sehingga banjir bisa segera surut,” ujarnya.

Meski demikian, Sam’ani mengungkapkan bahwa kondisi banjir di Kabupaten Kudus masih meluas. Saat ini, Pemkab Kudus telah menyiapkan tujuh lokasi pengungsian bagi warga terdampak.

“Saat ini sekitar 650 warga terdampak banjir mengungsi. Kami pastikan kebutuhan logistik bagi para pengungsi dalam kondisi aman dan mencukupi,” sebutnya.

Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak

Sementara itu, Direksi Teknis BBWS Pemali Juana, Nisar Raharjo, menyampaikan bahwa seluruh sarana pengendalian banjir telah dioptimalkan meskipun masih menghadapi kendala di lapangan.

“Kendala utama adalah banyaknya sampah dan eceng gondok yang menghambat aliran air. Namun pengoperasian tetap dilakukan dengan membuka seluruh pintu air dan mengaktifkan lima unit pompa selama kurang lebih tujuh jam, dan hambatan tersebut kami tangani secara bertahap,” jelas Nisar.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -