Beranda blog Halaman 83

Kisah Sarjono, Mantan Guru yang Banting Setir Jual Nasi Tumpang

0
Nasi Tumpang yang ada di Jalan Veteran, Kudus. Foto: Wulan Divatia

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, aroma gurih sambal tumpang tercium dari sebuah tenda sederhana di pinggir Jalan Veteran, tepatnya di belakang PPRK Kudus. Di balik meja kayu, seorang pria berkaus putih dan memakai topi tampak telaten menata nasi, sambal letok, serta aneka lauk ke dalam wadah-wadah kecil. Dialah Sarjono (63), pensiunan guru asal Boyolali yang kini dikenal sebagai penjual nasi tumpang dan pecel pakis di kawasan tersebut.

Sebelum menekuni usaha kuliner, Sarjono mengabdikan dirinya sebagai guru di salah satu SMP di Kudus. Setelah memasuki masa pensiun, hari-harinya terasa sepi. Rasa jenuh yang muncul justru menjadi titik awal lahirnya usaha nasi tumpang yang kini digemari banyak orang.

Baca Juga: Scroll Tiktok Jadi Cuan, Kisah Ratna Temukan Ide Bisnis Dari Tiktok

“Awalnya karena sudah pensiun dan tidak nyaman kalau hanya di rumah. Akhirnya saya cari kesibukan dengan berjualan nasi,” ujar Sarjono saat ditemui benerapa waktu lalu.

Langkah pertamanya dimulai saat ia mencoba berjualan nasi tumpang dalam sebuah acara di kawasan Menara Kudus. Di luar dugaan, respons pengunjung sangat positif. Dagangannya ludes, dan banyak pembeli mengaku menyukai cita rasa nasi tumpang khas Boyolali yang ia sajikan.

“Waktu itu ternyata ramai banget. Banyak yang suka nasi tumpang Boyolali. Dari situ saya teruskan sampai sekarang,” ungkapnya.

Hampir dua tahun terakhir, Sarjono setia membuka lapak di Jalan Veteran setiap pagi. Selain itu, setiap hari Minggu ia juga berjualan di area Car Free Day (CFD) Kudus, yang menjadi momen paling ramai pembeli.

“Kalau di CFD biasanya lebih ramai. Banyak yang penasaran sama nasi tumpang khas Boyolali,” katanya.

Cita rasa nasi tumpang racikan Sarjono memang memiliki kekhasan tersendiri, berbeda dengan nasi tumpang versi Jawa Timur. Kuncinya terletak pada sambal letok, sambal berbahan dasar tempe yang telah difermentasi dan dimasak lebih dari tiga hari.

“Kalau tempenya masih baru, rasanya belum keluar. Harus tempe yang sudah agak layu, baru gurih dan mantap,” jelasnya.

Baca Juga: Perjalanan Brand Luna Hijab, Brand Asal Kudus yang Menyuguhkan Fasyen Berkelas

Dengan harga Rp8 ribu, pembeli sudah bisa menikmati satu porsi nasi tumpang buatan Sarjono. Lapaknya buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Tak jarang, sebelum waktu tutup, seluruh dagangan sudah habis terjual.

“Yang penting saya tetap aktif, tetap ketemu orang, dan bisa ngenalin nasi tumpang Boyolali ke banyak orang,” tanbahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

- advertisement -

Gerobak “Getuk & Tiwul” Wiwi, Nostalgia Rasa Tradisional di Karangbener Kudus

0
Lapak Getuk dan Tiwul Wiwi di Desa Karangbener. Foto: Luthfia Himma Soraya

BETANEWS.ID, KUDUS – Di depan Lapangan Karangbener, Kecamatan Bae, sebuah gerobak kayu sederhana bertuliskan besar “GETUK & TIWUL” jadi magnet bagi pencinta jajanan tradisional.

Setiap pagi, aroma kue jadul dari etalase itu mengundang rindu akan cita rasa masa lalu.

Baca Juga: Tahu Uap Mas Heri, Cemilan Kekinian yang Tak Pernah Sepi di Jepara

Di balik gerobak, berdiri Dwi Sudarso atau akrab disapa Wiwi. Usai purna kerja dari sebuah perusahaan, pria ramah ini memilih mengisi hari dengan berjualan getuk, tiwul, klepon, hingga cetot—kuliner yang kini kian jarang ditemui.

“Karena sudah pensiun, saya cari kesibukan. Kebetulan ditawari adik untuk jualan ini,” tuturnya.

Meski baru berjalan beberapa bulan, antusiasme pembeli cukup tinggi. Harga pun ramah kantong, satu mika berisi tiga potong kue hanya Rp3.000, dengan pilihan rasa sesuai selera.

“Boleh pilih, karena harganya sama kok,” ujar Wiwi sambil merapikan dagangan.

Lapaknya buka sekitar pukul 08.30 WIB hingga habis terjual. Bagi Wiwi, berjualan bukan sekadar mengisi waktu, melainkan langkah menuju kemandirian.

Baca Juga: Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah

“Harapannya ke depan bisa buka sendiri, tidak merepotkan saudara. Soalnya makanan tradisional begini sudah jarang yang jual,” ungkapnya penuh semangat.

Gerobak kecil di Karangbener itu pun kini menjadi oase nostalgia, mengingatkan warga Kudus bahwa cita rasa tradisional tak pernah lekang oleh waktu.

Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kudus Dibuat Penasaran, Jajanan Viral Kue Koin Ludes Ratusan Porsi Sehari

0
Lapak Kue Koin di Kawasan Balai Jagong, tepat di timur Musala. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Tren kuliner baru kembali menghebohkan Kota Kretek. Sebuah lapak sederhana di Kawasan Balai Jagong, tepat di timur Musala, mendadak jadi magnet pembeli setelah menghadirkan jajanan viral Kue Koin yang bisa ditarik molor hingga sepanjang satu meter.

Sejak pertama kali buka pada 2 Januari 2026, lapak milik Rahma Abel Sadiya (19) langsung diserbu warga. Tanpa promosi besar-besaran, ratusan porsi ludes setiap hari.

Baca Juga: Tahu Uap Mas Heri, Cemilan Kekinian yang Tak Pernah Sepi di Jepara

“Alhamdulillah, dari hari pertama sudah bisa jual 100 porsi. Padahal belum sempat saya iklankan,” ujar Abel, Jumat (16/1/2026).

Fenomena ini tak lepas dari tren media sosial. Abel mengaku terinspirasi dari TikTok dan Instagram, di mana jajanan asal Korea itu tengah booming.

“Di luar sana harganya bisa Rp35 ribu. Saya jual Rp15 ribu saja, lengkap dengan keju mozarella dan topping pilihan,” jelasnya.

Harga ekonomis membuat jajanan ini digemari semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Topping yang tersedia antara lain coklat, strawberry, dan tiramisu YANG menjadi favorit pembeli.

Meski sempat menurun akibat cuaca ekstrem dan hujan deras, antusiasme warga tetap tinggi. Salah satu pembeli, Lili, mengaku sengaja datang bersama anak-anaknya setelah melihat tren di media sosial.

Baca Juga: Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah

“Penasaran banget, apalagi katanya bisa molor sampai satu meter,” ungkap warga Gondangmanis, Kecamatan Bae.

Dengan konsep unik, harga ramah kantong, dan sensasi viral, Kue Koin kini resmi menjadi jajanan baru yang meramaikan kuliner Kudus.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Gandeng Polda Jateng, Polres Jepara Selidiki Dampak Kimia Kebakaran Pabrik Busa 

0
Pabrik busa bernama PT. Chengqi Industrial Indonesia yang berlokasi di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terbakar pada Sabtu, (17/1/2026). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – PT. Chengqi Industrial Indonesia, pabrik yang memproduksi bahan busa di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terbakar pada Sabtu, (17/1/2027) sekitar pukul 10.30 WIB. 

Di dalam pabrik tersebut berisi material plastik serta Gas LPG aktif yang digunakan sebagai bahan bakar mesin produksi. 

Baca Juga: BNPB Bakal Bantu Pemulihan Paska Bencana Longsor di Tempur Jepara

Saat peristiwa kebakaran, kepulan asam hitam membumbung tinggi memenuhi area di sekitar lokasi. Selain itu, aroma gas dari Gas LPG di dalam pabrik juga cukup menyengat. 

Untuk itu, Tim Kepolisian Resor (Polres) Jepara bekerjasama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah sedang melakukan penyelidikan dampak kimia yang ditimbulkan dari peristiwa kebakaran tersebut. 

Kabag Ops Polres Jepara, Kompol Sutono mengatakan saat ini Tim Detasemen Kimia, Biologi dan Radioaktif Pasukan Gegana Brimob Polda Jateng sudah tiba di lokasi kejadian dan sedang melakukan penyelidikan. Total terdapat 23 anggota yang diterjunkan. 

“Kita meminta tim dari Polda Jawa Tengah untuk menganalisa dampak kimia. Hasilnya seperti apa nanti akan kita sampaikan,” katanya saat ditemui di lokasi kejadian. 

Saat peristiwa berlangsung, Polres Jepara juga menerjunkan satu unit water canon untuk membantu proses pemadaman api bersama dengan tim dari Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jepara. 

“Water Canon tadi juga kita terjunkan, bolak-balik tiga kali untuk cari sumber air, karena semprotannya ini tidak bisa sekuat seperti mobil pemadam,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi dan Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jepara, Edy Marwoto menjelaskan total terdapat 13 unit kendaraan pemadam yang diterjunkan ke lokasi. 

Dengan rincian 4 Unit dari pos Mako 113, 1 Unit dari pos Bangsri, 1 Unit dari pos Kalinyamatan, 1 Unit dari BPBD, 1 Water Canon dari Polres Jepara, 

1 Unit mobil pemadam dari PT. Djarum, 1 Unit mobil tangki air dari DLH, 1 Unit mobil pemadam dari PT. ELS, dan 1 Unit dari PT. KOTA JATI. 

“Kita terima berita kejadian itu 10.38 WIB, jam 10.58 kita baru sampai lokasi. Api baru bisa kita padamkan sekitar pukul 14.00 WIB, dan proses pendinginan sampai sekitar 15.45 WIB,” katanya. 

Kondisi pabrik yang cukup luas yaitu sekitar 1.600 meter persegi serta berisi bahan material yang mudah terbakar menjadi kendala saat proses pemadaman api. 

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Busa di Nalumsari Jepara: Dua Pegawai Operasional Mesin Alami Luka Bakar 

“Di dalam itu juga ada Gas LPG, ini kita amankan juga, satu tangki berisi 3 ribu kg, kita semprot dan kita dinginkan agar tidak terbakar,” sebutnya. 

Akibat peristiwa itu, dua pegawai operator mesin harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka bakar. Sementara untuk total kerugian masih dilakukan pendataan. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

BNPB Bakal Bantu Pemulihan Paska Bencana Longsor di Tempur Jepara

0
Pengerahan alat berat untuk pemulihan longsor Tempur, Jepara. Foto: Umi Nuraizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI meninjau lokasi terdampak bencana tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara pada Jumat, (16/1/2026). 

Bersama Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Wakil Bupati Jepara, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Jepara, pihaknya menggelar rapat koordinasi di titik longsor yang berada di Pertigaan Tugu Desa Wisata Desa Tempur. 

Baca Juga: Pabrik Busa di Nalumsari Jepara Terbakar

Sebelum menggelar rapat pihaknya bersama beberapa pihak terkait juga meninjau langsung titik lokasi terdampak bencana longsor dengan mengendarai motor trail. 

Pada saat melakukan peninjauan, Kepala BNBP, Suharyanto menyoroti beberapa titik longsor yang saat ini belum tertangani dan masih menyisakan sisa material longsor di badan jalan. 

Untuk itu, ia meminta agar penanganan titik longsor bisa dilakukan dengan skema jangka pendek dan jangka panjang. 

“Mulai dari bawah (jalur menuju posko rapat) sampai di titik ini (titik pertama longsor) itu kan banyak sekali longsoran, ini rawan kalau dilewati. Jadi jangka pendeknya ini dibersihkan, kemudian jalan yang putus akan dibantu bronjong sehingga dalam waktu 2-3 minggu, jalan sudah bisa pulih,” katanya. 

Adapun di titik pertama longsor yang berada di pertigaan tugu selamat datang, setengah badan jalan sepanjang 50 meter hanyut terbawa aliran Sungai Kali Gelis. 

Kemudian untuk jangka panjangnya, ia meminta agar jembatan sementara yang berada di bawah lokasi rumah warga yang rumahnya terdampak longsor segera ditangani agar bisa dilewati kendaraan roda empat. Sebab, saat ini jembatan sementara yang dibangun baru bisa dilewati kendaraan roda dua. 

Suharyanto melanjutkan, pemerintah pusat melalui BNPB nantinya juga akan membantu dukungan anggaran untuk pemulihan paska bencana. 

Baca Juga: Banjir Mulai Surut, Dapur Umum di Kalinyamatan Jepara Masih Suplai Ribuan Warga Terdampak 

Beberapa bantuan yang akan diberikan yaitu rehabilitasi delapan rumah warga terdampak bencana longsor serta kebutuhan untuk perbaikan pemulihan jembatan. 

“Anggarannya sesuai pengajuan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat lewat BNPB nanti kita akan bantu untuk perbaikannya,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kebakaran Pabrik Busa di Nalumsari Jepara: Dua Pegawai Operasional Mesin Alami Luka Bakar 

0
Pabrik busa bernama PT. Chengqi Industrial Indonesia yang berlokasi di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terbakar pada Sabtu, (17/1/2026). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – PT. Chengqi Industrial Indonesia yang memproduksi kain busa di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terbakar pada Sabtu (17/1/2026). 

Kepala Satuan Polisi dan Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jepara, Edy Marwoto mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. 

Baca Juga: Pabrik Busa di Nalumsari Jepara Terbakar 

Sampai saat ini, Edy mengatakan penyebab kebakaran masih diteliti oleh pihak berwenang. Hanya saja dari dugaan sementara, kebakaran dipicu akibat mesin produksi tersambar petir. Sehingga menimbulkan korsleting listrik dan membakar kain busa yang sedang diproduksi. 

“Penyebab sedang diteliti. Tapi diduga karena instalasi listrik tersambar petir dan korsleting listrik di mesin produksi,” katanya saat ditemui di lokasi kejadian. 

Akibat peristiwa itu, dua orang pegawai yang saat itu mengoperasikan mesin mengalami luka bakar. Saat ini dua pegawai itu dalam kondisi selamat dan sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kecamatan Mayong. 

“Dua orang yang mengoperasikan mesin mengalami luka bakar. Satu pegawai kondisinya mengalami luka bakar 50 persen, satu lainnya 60 persen,” ungkapnya. 

Untuk memadamkan api, Edy mengatakan total terdapat 13 unit kendaraan pemadam yang diterjunkan. Terdiri dari tujuh unit mobil pemadam kebakaran dari Damkar Jepara serta masing-masing satu unit bantuan dari PT. Djarum, Kota Jati, PT. HWI, mobil tangki air dari BPBD, DLH, dan Water Canon dari Polres Jepara. 

Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 14.00 WIB atau sekitar 3,5 jam. Luasan area yang terbakar sekitar 1.600 meter persegi, yang merupakan area produksi dan gudang penyimpanan barang. 

“Yang diproduksi ini bahan-bahan yang mudah terbakar, ada busa, plastik, untuk bahan baku pembuatan tas dan sepatu, jadi cukup kesulitan untuk memadamkan api,” jelasnya. 

Selain itu, di dalam pabrik juga terdapat Gas LPG yang digunakan sebagai bahan bakar mesin produksi. Keberadaan tabung itu menurut Edy juga menjadi kesulitan tersendiri untuk memadamkan api. 

Baca Juga: Banjir Mulai Surut, Dapur Umum di Kalinyamatan Jepara Masih Suplai Ribuan Warga Terdampak 

“Ini kita amankan juga satu tangki LPG berisi 3 ribu kg, ini kita semprot dan kita dinginkan agar tidak terbakar,” ungkapnya. 

Sehingga untuk membantu pemadaman dan mengurangi kepulan asap hitam, pihaknya menggunakan busa kimia dibantu dengan busa detergen. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Muria Raya Dilanda Banjir, Pertamina Pastikan Distribusi BBM dan Gas Melon Aman

0
Stok pasokan gas LPG 3 kg. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah memastikan pasokan serta distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di wilayah Jepara, Kudus, dan Pati tetap terjaga. Hal ini dilakukan meskipun sejumlah kawasan di wilayah tersebut terdampak banjir akibat tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.

Beberapa jalur distribusi sempat terdampak genangan air, di antaranya kawasan Trengguli di Kabupaten Demak, wilayah Kaligawe dan Pengapon di Kota Semarang, serta jalur penghubung Kudus–Jepara–Juwana. Untuk mengantisipasi gangguan distribusi, Pertamina melakukan rekayasa jalur suplai dan penyesuaian pola pengiriman.

Baca Juga: Modifikasi Cuaca Sudah Dilakukan, Kenapa Hujan Masih Guyur Lereng Muria? Begini Kata BMKG

Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan intensif serta langkah mitigasi di lapangan guna menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat.

“Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan BBM dan elpiji di wilayah Jepara, Kudus, dan Pati tetap aman. Kami melakukan pengaturan distribusi, termasuk pengiriman pada dini hari saat lalu lintas relatif lengang, serta mengalihkan jalur suplai agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi meski ada kendala banjir,” ujar Taufiq melalui siaran tertulisnya, Sabtu (17/1/2025).

Ia menjelaskan, pengaturan operasional dilakukan dengan memprioritaskan mobil tangki menuju wilayah terdampak. Selain itu, jalur alternatif melalui Grobogan–Mranggen dimaksimalkan untuk menghindari ruas jalan yang tergenang banjir.

Guna menjaga stabilitas pasokan elpiji, khususnya bagi masyarakat terdampak, Pertamina juga menyiapkan tambahan pasokan elpiji 3 kilogram secara fakultatif. Untuk Kabupaten Jepara disalurkan tambahan 33.600 tabung, Kabupaten Kudus sebanyak 29.080 tabung, dan Kabupaten Pati sebanyak 37.520 tabung.

“Penambahan ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan elpiji tetap aman, menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, serta mencegah potensi kelangkaan yang bisa dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Dengan pasokan yang cukup, masyarakat diharapkan tetap bisa membeli elpiji sesuai Harga Eceran Tertinggi,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah SPBU di Kabupaten Kudus terpaksa menghentikan operasional sementara akibat terdampak banjir demi menjaga keselamatan dan kualitas layanan. SPBU tersebut antara lain SPBU 43.593.18 di Jalan Lingkar Utara Bacin, SPBU 44.593.15 di jalur Pantura Demak–Kudus, serta SPBU 48.595.05 di Jalan Raya Demak, perbatasan Kudus–Demak.

Sebagai langkah antisipasi, Pertamina mengarahkan masyarakat untuk melakukan pengisian BBM di SPBU terdekat yang masih beroperasi, seperti SPBU Matahari di Jalan Jenderal Ahmad Yani, SPBU Prambatan di Jalan Raya Kudus–Jepara, SPBU Hadipolo di Jalan Raya Kudus–Pati, serta SPBU Rendeng di Jalan Jenderal Sudirman, Kudus.

Terkait kualitas produk, Taufiq menegaskan seluruh fasilitas yang terdampak banjir tidak akan kembali beroperasi sebelum melalui proses pemeriksaan menyeluruh sesuai standar keselamatan dan mutu.

Baca Juga: Fenomena Tekanan Rendah Lokal Disebut Jadi Pemicu Bencana di Muria Raya

“Kami memastikan kualitas BBM dan elpiji tetap sesuai standar. SPBU yang terdampak banjir akan dilakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum kembali melayani masyarakat,” tegasnya.

Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan pemantauan berkelanjutan untuk memastikan distribusi energi tetap aman, lancar, dan berkualitas di tengah kondisi cuaca ekstrem. Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut terkait produk dan layanan Pertamina dapat menghubungi Pertamina Call Center 135.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Modifikasi Cuaca Sudah Dilakukan, Kenapa Hujan Masih Guyur Lereng Muria? Begini Kata BMKG

0
Banjir di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan masih mengguyur wilayah lereng Gunung Muria, termasuk Kabupaten Kudus, pada Sabtu (17/1/2026). Kondisi ini terjadi meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak beberapa hari terakhir untuk menekan potensi cuaca ekstrem.

Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca tidak bertujuan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan agar tidak turun secara ekstrem.

Baca Juga: Fenomena Tekanan Rendah Lokal Disebut Jadi Pemicu Bencana di Muria Raya

“Modifikasi cuaca itu untuk mengurangi curah hujan agar tidak ekstrem, bukan menghilangkan hujan sama sekali,” ujar Goeroeh kepada awak media di Gedung DPRD Kudus belum lama ini.

Ia mengungkapkan, BMKG Jawa Tengah telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak 15 Januari 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 19 Januari 2026. Namun, durasi operasi masih bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di lapangan.

“Nanti akan kita lihat perkembangannya. Jika cuaca masih tidak kondusif dan cenderung ekstrem, maka operasi modifikasi cuaca bisa diperpanjang,” jelasnya.

Goeroeh menjelaskan, titik operasi modifikasi cuaca dilakukan di wilayah udara di atas Laut Jawa bagian utara. Hal ini disesuaikan dengan arah angin yang saat ini dominan bertiup dari barat dan utara.

“Awan-awan yang masih berada di atas laut dan berpotensi masuk ke wilayah Jawa Tengah, termasuk Kudus, akan ditaburi garam agar hujan turun lebih dulu di laut,” terangnya.

Menurutnya, penaburan garam bertujuan mempercepat proses hujan di laut sehingga volume awan yang masuk ke daratan berkurang.

“Harapannya, ketika hujan turun di laut, wilayah daratan bisa lebih aman dari hujan ekstrem,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan bahwa wilayah lereng Gunung Muria saat ini tengah berada pada puncak musim hujan. Kondisi tersebut tidak selalu ditandai hujan setiap hari, melainkan hujan lebat hingga sangat lebat yang terjadi secara berkala.

“Ada jeda tanpa hujan. Misalnya hari ini hujan lebat, besok bisa cerah. Namun masa cerah itu justru menjadi waktu pengumpulan awan yang bisa memicu hujan lebih lebat dua atau tiga hari berikutnya,” paparnya.

Goeroeh menambahkan, puncak fenomena cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung hingga akhir Januari. Namun, di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah, potensi hujan ekstrem dapat berlanjut hingga Februari 2026.

“Sekitar 80 persen wilayah Jawa Tengah mengalami puncak musim hujan pada Januari hingga Februari. Untuk operasi modifikasi cuaca, kami akan terus memantau kondisi di lapangan,” ujarnya.

Baca Juga: Musim Panen , Harga Padi di Kudus Tingkat Petani Capai Rp7.000 Per Kilogram

Sebagai informasi, selama sepekan terakhir Kabupaten Kudus dikepung berbagai bencana akibat cuaca ekstrem, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 46.284 warga dari 14.758 kepala keluarga terdampak bencana. Selain itu, 8.497 rumah dilaporkan tergenang banjir, sementara 833 warga terpaksa mengungsi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pabrik Busa di Nalumsari Jepara Terbakar 

0
Pabrik busa bernama PT. Chengqi Industrial Indonesia yang berlokasi di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terbakar pada Sabtu, (17/1/2026). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pabrik busa bernama PT. Chengqi Industrial Indonesia yang berlokasi di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terbakar pada Sabtu (17/1/2026). 

Berdasarkan pantauan di lokasi, asap hitam tebal masih membumbung tinggi. Asap tersebut terlihat dari radius cukup jauh dari lokasi kejadian. 

Angin yang berhembus tidak hanya membawa kepulan asap ke arah timur, tetapi juga membawa aroma gas yang cukup kuat. Sebab di dalam lokasi pabrik terdapat tabung gas dengan ukuran cukup besar. 

Baca juga: Banjir Mulai Surut, Dapur Umum di Kalinyamatan Jepara Masih Suplai Ribuan Warga Terdampak 

Sementara hingga berita ini ditulis, di dalam lokasi pabrik, petugas dari Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jepara bersama dengan pihak kepolisian masih berupaya memadamkan api. 

Salah satu saksi mata, Lina Reva Anggraini (23) bercerita ia mulai melihat api membumbung dari dalam lokasi pabrik sekitar pukul 10.41 WIB. 

Saat itu, ia mendengar ada terikan kebakaran dari arah selatan pabrik yang menjadi titik awal munculnya api. 

“Pas pertama lihat, apinya sudah langsung besar. Kebakaran awalnya dari selatan, terus saling merembet, Alhamdulillah ada hujan, apinya agak mereda,” katanya saat ditemui di lokasi kejadian. 

Sementara itu, Muhammad Fatkhul Ary, salah satu karyawan PT Chengqi Industrial Indonesia mengungkapkan kebakaran dipicu akibat sambaran petir. 

“Tersambar petir, kemudian muncul api dan mulai membakar dalam gedung,” kata Ary di lokasi.

Baca juga: Terendam Banjir Hampir Setiap Tahun, Ini Pemicu Banjir di Batukali Jepara

Dia menyebut, material busa yang masih baru membuat kebakaran menjalar lebih cepat. Selain itu, di dalam gudang produksi juga terdapat tabung gas besar yang juga mudah terbakar.

“Saat kebakaran, karyawan langsung keluar, karena di dalam ada tabung gas besar, kalau meledak lebih parah lagi,” katanya. 

Dari data Damkar Jepara, total terdapat sembilan unit mobil pemadam yang diterjunkan. Tujuh unit mobil pemadam dari Damkar Jepara, dua unit mobil pemadam bantuan dari PT Djarum. Selain itu juga terdapat satu unit water canon dari Polres Jepara dan satu unit tangki bantuan dari DLH Jepara. 

Editor: Suwoko

- advertisement -

Fenomena Tekanan Rendah Lokal Disebut Jadi Pemicu Bencana di Muria Raya

0
Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, kembali diterjang banjir bandang. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angkat suara terkait penyebab bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Muria Raya, meliputi Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Salah satu faktor utama pemicu cuaca ekstrem di wilayah tersebut adalah fenomena tekanan rendah lokal.

Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Jawa Tengah memang tengah memasuki musim hujan. Namun, keberadaan tekanan rendah lokal membuat potensi terjadinya hujan lebat hingga ekstrem menjadi lebih tinggi.

Baca Juga: Bertemu Kepala BNPB, Warga Terdampak Banjir Kudus Minta Normalisasi Sungai Juwana

“Hujan yang terjadi di wilayah sekitar Gunung Muria bisa dikategorikan sangat ekstrem. Salah satu penyebabnya adalah adanya fenomena tekanan rendah lokal,” ujar Goeroeh di Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Jumat (16/1/2025).

Ia menjelaskan, tekanan rendah lokal merupakan kondisi ketika awan-awan tertarik dan berkumpul di satu wilayah tertentu. Fenomena ini biasanya terjadi di daerah dengan suhu permukaan yang relatif panas.

“Ketika permukaan wilayah panas, tekanan udaranya menjadi rendah. Awan-awan di sekitarnya akan tertarik ke wilayah tersebut, sehingga potensi terjadinya hujan lebat hingga ekstrem menjadi lebih besar,” jelasnya.

Menurut Goeroeh, seluruh wilayah Jawa saat ini berada dalam musim hujan. Namun, tingkat ekstremnya hujan sangat ditentukan oleh kondisi tekanan udara di permukaan.

“Jika suatu wilayah menerima panas matahari pada siang hari, tekanannya akan turun. Udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, prinsipnya sama seperti air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah,” paparnya.

Untuk wilayah lereng Gunung Muria, BMKG mencatat saat ini sedang berada pada puncak musim hujan. Kondisi tersebut tidak selalu ditandai hujan setiap hari, tetapi hujan lebat hingga sangat lebat dapat terjadi secara berkala.

“Ada jeda tanpa hujan, misalnya hari ini hujan lebat, besok bisa cerah. Namun masa cerah itu justru menjadi waktu pengumpulan awan yang berpotensi menimbulkan hujan lebih lebat dua hingga tiga hari berikutnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, puncak fenomena cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung hingga akhir Januari. Namun, di beberapa wilayah, termasuk Jawa Tengah, potensi tersebut dapat berlangsung hingga Februari 2026.

“Sekitar 80 persen wilayah Jawa Tengah mengalami puncak musim hujan pada periode Januari hingga Februari,” jelas Goeroeh.

Baca Juga: Pemkab Kudus Usulkan 4 Kolam Retensi ke Pemerintah Pusat

Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama pihak terkait telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak 15 Januari 2025. Modifikasi cuaca ini bertujuan untuk mengurangi intensitas hujan ekstrem.

“Modifikasi cuaca bukan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya, melainkan untuk mengurangi curah hujan agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Bandang Kembali Hantam Rumah Kholifah, Trauma Lama Anak-anak Kembali Terbuka

0
Tembok rumah milik Kholifah, warga Bulumanis Kidul ambrol akibat terkena banjir bandang. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Jumat (9/1/2026) menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan Kholifah dan keluarganya. Untuk kedua kalinya dalam tiga tahun terakhir, malam kelam itu kembali menghadirkan mimpi buruk. Banjir bandang memporak-porandakan rumah mereka tanpa ampun.

Tak sekadar meninggalkan kerugian materi yang tak terhitung nilainya, amukan air bah itu juga menyisakan luka batin yang dalam, terutama bagi kedua anak Kholifah yang kini hidup dalam bayang-bayang trauma.

Baca Juga: Desa Mintobasuki Pati Terisolir Banjir, Logistik Warga Mulai Menipis

Sore itu sebenarnya berjalan seperti hari-hari biasa. Warga Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati tersebut tengah sibuk menyiapkan pesanan di usaha katering yang dirintis sang ibu sejak 25 tahun silam. Hujan yang turun seharian penuh tak menimbulkan kecurigaan apa pun. Tak ada firasat bahwa bencana besar sedang mengintai.

Hingga tiba-tiba, gemuruh banjir bandang datang tanpa aba-aba. Suaranya menghantam seperti petir, memecah ketenangan dan menyeret kembali ingatan pahit tahun 2022, saat rumah mereka luluh lantak hingga nyaris tak tersisa.

“Ngeri banget. Semua pada roboh. Mobil tertimpa kanopi, suara airnya, ya Allah. Ngeri,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).

Saat detik-detik awal kejadian, Kholifah dan keluarganya sudah berada di teras rumah, bersiap menyelamatkan diri. Namun derasnya arus datang begitu cepat, menutup semua peluang. Tak satu pun barang berharga sempat diamankan, termasuk peralatan utama usaha katering yang menjadi sumber penghidupan keluarga.

“Pas kejadian saya sudah di teras rumah bersama anak-anak. Tidak bisa nyebrang, keluar dari rumah sudah kayak laut. Enggak ada yang bisa diselamatkan. Barang berharga mesin cuci, kulkas hilang semua,” ratapnya.

Pemandangan paling mengerikan terjadi tepat di depan matanya. Ibu dan adiknya sempat terseret arus banjir bandang yang mengamuk ganas. Beruntung, keduanya akhirnya selamat. Namun peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam bagi seluruh keluarga, terutama anak-anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD.

“Banjir bandang kali ini seperti luka lama belum sembuh, kemudian terulang lagi. Anak trauma semua. Sekarang anak saya kalau ada hujan deras menangis,” ungkapnya.

Meski terpuruk untuk kedua kalinya, Kholifah tak ingin sepenuhnya menyerah. Perlahan, ia mulai mengumpulkan kekuatan, membersihkan rumah yang temboknya runtuh di berbagai sisi, dan mencoba menata kembali hidup dari puing-puing yang tersisa.

“Ya, istilahnya baru mulai tertata lagi usaha katering saya. Bahkan malam itu saya baru membuat pesanan bolu untuk dapur MBG (Makan Bergizi Gratis). Tapi ini hilang semua,” kata Kholifah.

Secercah harapan muncul saat Bupati Pati, Sudewo, datang meninjau lokasi banjir pada Minggu (10/1/2026). Dalam kunjungannya, Sudewo berjanji akan membantu renovasi lima rumah yang rusak parah, termasuk rumah Kholifah, serta rumah terdampak lainnya.

“Kemarin Pak Sudewo sudah ke sini dan bilang akan segera direnovasi. Ya, semoga ke depannya cepat pulih, Ya Allah, meski kembali ke nol lagi,” harapnya.

Baca Juga: Pria yang Diduga Hanyut di Sungai Kedungdowo Pati Belum Ditemukan

Selain bantuan renovasi, Kholifah juga menaruh harapan besar pada perbaikan tanggul yang berada tepat di sisi rumahnya. Ia berharap tanggul tersebut dibangun lebih kokoh agar bencana serupa tak terus berulang.

“Semoga tanggulnya diperbaiki, lebih kuat, lebih tinggi, agar bisa menampung air lebih baik,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Tak Surut, Warga Bumirejo Juwana Mengungsi Hampir Sepekan dan Kekurangan Makanan

0
Banjir di Desa Bumirejo, Juwana. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir  memaksa puluhan warga Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, mengungsi ke aula kantor desa selama hampir sepekan. Hingga hari kelima pengungsian, warga mengaku masih kekurangan bantuan, terutama makanan, lantaran baru dua kali menerima kiriman nasi bungkus.

Pantauan di Aula Desa Bumirejo, Jumat (16/1/2026), puluhan warga tampak bertahan di lokasi pengungsian dengan fasilitas terbatas. Mereka meninggalkan rumah sejak banjir merendam permukiman pada Minggu (11/1/2026) lalu. Genangan air tidak kunjung surut, bahkan terus meninggi akibat curah hujan yang masih tinggi.

Baca Juga: Desa Mintobasuki Pati Terisolir Banjir, Logistik Warga Mulai Menipis

Salah satu warga, Tutik, mengungsi bersama suami dan anaknya setelah rumah yang ditempatinya terendam banjir hingga lebih dari satu meter.

“Banjir di sini itu sejak hari Minggu (11/1/2026) lalu kedalaman sedada orang dewasa di jalan, kalau di dalam rumah seperut orang dewasa,” ujar Titik, Jumat (16/1/2026).

Ia menyebutkan, total ada 39 jiwa yang mengungsi di aula desa. Menurutnya, banjir terjadi akibat luapan Sungai Silugonggo yang berada tidak jauh dari permukiman warga.

“Airnya itu datang Minggu pagi, sore mengungsi, sudah lima hari ini mengungsi. Bersama 39 orang yang mengungsi ke sini,” ungkapnya.

Selama berada di pengungsian, Tutik mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak bisa bekerja. Bantuan makanan yang diterima pun masih sangat terbatas.

“Bantuan berupa nasi, kemarin ada dapur umum cuman dua hari saja. Kalau ini belum tahu. Mungkin kalau ada ya alhamdulillah karena tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Ia menilai banjir kali ini lebih parah dibandingkan kejadian serupa pada 2022 lalu. Ketinggian air naik lebih cepat dan merendam permukiman lebih luas.

“Kejadian banjir itu 2 tahun yang lalu. Gede yang ini, naiknya cepet banget. Harapannya cepat surut dan bisa bekerja lagi. Suami nggak bisa bekerja biar bekerja,” harapnya.

Sementara itu, Camat Juwana Sunaryo mengatakan, banjir telah melanda 13 desa di wilayah Kecamatan Juwana dengan total 10.765 jiwa terdampak. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena hujan masih terus mengguyur.

“Saat ini Juwana dilanda banjir ada 13 Desa dan jumlah jiwa 10.765 jiwa. Karena situasi bertambah terus mungkin jumlah warga juga terus bertambah,” jelasnya

Sebagai upaya penanganan, pihak kecamatan bersama TNI, Polri, dan relawan Komunitas Kerukunan Umat Beragama (KKUB) Juwana mendirikan posko serta dapur umum di Kantor Kecamatan Juwana. Posko dan dapur umum tersebut mulai beroperasi hari ini.

“Memang kita akui bersama masyarakat yang terkena banjir sangat membutuhkan bantuan utamanya sembako, dan makanan siap saji, kemudian selimut, kondisi rumah kebanjiran dan juga masih sering hujan, sehingga kondisnya mereka tidur kedinginan. Kedalaman mulai dari 10 sampai 1 meter lebih,” ucapnya.

Ia menambahkan, ratusan warga terpaksa mengungsi ke sejumlah titik, di antaranya Desa Doropayung, Bumirejo, Kedungpancing, dan Jepuro.

Baca Juga: Pria yang Diduga Hanyut di Sungai Kedungdowo Pati Belum Ditemukan

“Jumlah pengungsi di Doropayung 15 Jiwa di Balai Desa, 87 jiwa yang ke rumah saudara, di Bumirejo juga ada. Kita juga menyiapkan tempat pengungsian di aula Kecamatan,” jelasnya.

“Tim kesehatan juga kita terjunkan ke lokasi untuk memeriksa warga yang terdampak banjir,” lanjutnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Musim Panen, Harga Padi di Kudus Tingkat Petani Capai Rp7.000 Per Kilogram

0
Panen di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Musim panen padi di Kabupaten Kudus mulai berlangsung sejak sepekan terakhir. Di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, sekitar 50 persen lahan sawah sudah dipanen.

Darwanto, salah satu petani setempat, mengungkapkan panen dilakukan menggunakan mesin combine harvester di lahan seluas 3.000 meter persegi yang ditanami padi jenis ketan.

Baca Juga: Pemkab Kudus Usulkan 4 Kolam Retensi ke Pemerintah Pusat

Meski cuaca ekstrem sempat melanda, harga padi di tingkat petani masih terbilang tinggi: Rp7.000 per kilogram untuk padi biasa dan Rp8.000 per kilogram untuk padi ketan.

“Harga ini memang turun dari empat hari lalu yang sempat mencapai Rp9.000 per kilogram. Tapi tetap lebih tinggi dibanding HPP gabah kering panen pemerintah yang Rp6.500 per kilogram,” jelasnya, Jumat (16/1/2026).

Darwanto bersyukur masih bisa panen di tengah kondisi banjir yang melanda sejumlah daerah lain.

Dari lahan setengah bau itu, ia mampu menghasilkan sekitar 3 ton padi dengan nilai kotor Rp23–25 juta. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan bersih yang didapat mencapai Rp17–18 juta.

Meski begitu, ia sempat mengeluarkan biaya tambahan akibat angin kencang yang merobohkan tanaman, sehingga harus memanggil pekerja untuk mengikat batang padi.

Baca Juga: Tinjau Bencana Kudus, Kepala BNPB Sampaikan Pesan Presiden kepada Warga

Untungnya, ketersediaan pupuk dan obat-obatan kali ini lancar, tidak seperti periode sebelumnya yang sempat mengalami kelangkaan.

“Harapannya ke depan tetap seperti ini, hasil panen bagus, harga tinggi, dan petani makin makmur,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Mulai Surut, Dapur Umum di Kalinyamatan Jepara Masih Suplai Ribuan Warga Terdampak 

0
Dapur umum di lokasi bencana Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Banjir yang merendam enam desa di empat kecamatan yang berada di Kabupaten Jepara pada Jumat, (16/1/2026) mulai surut. 

Enam desa yang sebelumnya terdampak banjir yaitu Desa Welahan dan Ketilengsingolelo, Kecamatan Welahan; Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan; Desa Gerdu dan Kaliombo, Kecamatan Pecangaan; dan Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung. 

Baca Juga: Terendam Banjir Hampir Setiap Tahun, Ini Pemicu Banjir di Batukali Jepara

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto mengatakan dari enam desa itu, saat ini hanya Desa Batukali, Gerdu, Kali Ombo, dan Sowan Kidul yang masih menyisakan genangan air di area pemukiman warga. 

“Desa Welahan dan Ketilengsingolelo sudah tidak ada genangan air,” kata Arwin pada Betanews.id di Desa Tempur, Kecamatan Keling pada Jumat, (16/1/2026). 

Lebih lanjut Arwin mengatakan dapur umum yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara di Kantor Kecamatan Kalinyamatan saat ini juga masih mensuplai kebutuhan makanan siap saji di empat desa itu. 

“Empat desa masih kita support makanan siap saji dari dapur umum,” ujarnya. 

Terpisah, Kepala Bidang Rehabilitasi, Perlindungan dan Jaminan Sosial (RPJS) pada Dinsospermades Kabupaten Jepara, Iman Bagus menyebutkan pada hari ini jumlah makanan siap saji yang disiapkan yaitu 2.538 bungkus. 

Baca Juga: Lima Hari Rendam Rumah Warga, Banjir Batukali Jepara Akhirnya Surut

Dengan rincian Desa Batu Kali sebanyak 725 porsi, Desa 525 porsi, Desa Kaliombo 552 porsi, dan Desa Sowan Kidul sebanyak 937 porsi. 

“Desa Welahan dan Ketilengsingolelo sudah tidak meminta, sehingga hanya kita suport untuk empat desa,” katanya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jalur Alternatif Pati-Kudus Nyaris Lumpuh Akibat Banjir, Warga Kasiyan Terisolasi

0
Akses jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Pati menuju Kabupaten Kudus via Desa Kasiyan-Gadudero nyaris lumpuh  sejak Rabu (14/1/2026). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Akses jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Pati menuju Kabupaten Kudus via Desa Kasiyan-Gadudero nyaris lumpuh sejak Rabu (14/1/2026). Hingga Jumat (16/1/2026), genangan air setinggi 70 centimeter di badan jalan, memaksa pengendara roda dua putar balik guna menghindari mogok massal.

Titik terparah terpantau di Dusun Penggingwangi, Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo. Tak hanya memutus akses transportasi, luapan air juga menenggelamkan permukiman dan lahan pertanian dengan kedalaman mencapai 1,5 meter.

Baca Juga: Desa Mintobasuki Pati Terisolir Banjir, Logistik Warga Mulai Menipis

Kepala Dusun (Kadus) Penggingwangi, Budi Sutrisno mengungkapkan, bahwa bencana ini berdampak langsung pada 333 jiwa dari 116 Kepala Keluarga (KK). Sedikitnya 90 rumah warga kini terendam air.

“Untuk saat ini di Dukuh Penggingwangi, Desa Kasiyan terdampak bencana banjir. Jumlah rumah yang terendam 90 rumah, jumlah KK 116, jumlah penduduk 333 jiwa, di antaranya laki-laki dewasa 149 jiwa, perempuan dewasa 149 jiwa, dan balita 35 jiwa,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).

Posko pengungsian darurat telah didirikan di sekitar Masjid Dukuh Penggingwangi. Meski sebagian warga mulai mengevakuasi diri dan aset berharga, sebagian lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing di tengah kepungan air.

“Ketinggian air di jalan 50 sampai 70 centimeter, kalau di permukiman 80 centimeter sampai di atas 1 meter. Untuk saat ini pengungsi barusan mengungsi di sebelah masjid Penggingwangi,” kata Budi.

Kebutuhan mendesak seperti air bersih mulai menjadi perhatian. Saat ini warga masih mengandalkan depo pengisian ulang mandiri karena belum adanya pasokan bantuan dari pihak terkait.

“Belum ada bantuan air bersih, tapi saat ini masih aman,” tuturnya.

Kondisi kian pelik bagi warga yang rumahnya berada di tepian jalan. Sulastri, salah satu perajin telur asin mengeluhkan laju kendaraan roda empat dan enam yang nekat melintas dengan kecepatan tinggi. Gelombang air yang dihasilkan dari laju kendaraan tersebut justru memperparah kerusakan di dalam rumah warga.

“Ini telur, (dibawa) mengungsi. Usaha telur asin,” ucapnya singkat sambil menunjukkan barang dagangannya yang terancam rusak.

Ia tak dapat menyembunyikan kekesalannya terhadap para sopir yang kurang berempati terhadap kondisi warga terdampak. “Saake (kasihan), kan mengombak, Mas. Bantere (kendaraan melaju kenceng) kaya ngene (seperti ini),” urainya.

Baca Juga: Pria yang Diduga Hanyut di Sungai Kedungdowo Pati Belum Ditemukan

Pemerintah desa pun mengimbau agar pengguna jalan, terutama pengendara motor, mencari jalur alternatif lain. Selain risiko mesin mati, debit air di titik terdalam sebelah barat masjid dinilai terlalu berisiko untuk diterjang.

“Titik terdalam di sebelah barat masjid. Untuk saat ini lalu lintas mobil masih aman, kalau sepeda kotor tidak bisa, maka sebaiknya mencari jalan pintas dulu karena motor banyak yang macet, mogok. Harapan kami dinas terkait bisa meninjau ke lokasi Desa Kasiyan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -