BETANEWS.ID, KUDUS – Di depan Lapangan Karangbener, Kecamatan Bae, sebuah gerobak kayu sederhana bertuliskan besar “GETUK & TIWUL” jadi magnet bagi pencinta jajanan tradisional.
Setiap pagi, aroma kue jadul dari etalase itu mengundang rindu akan cita rasa masa lalu.
Baca Juga: Tahu Uap Mas Heri, Cemilan Kekinian yang Tak Pernah Sepi di Jepara
Di balik gerobak, berdiri Dwi Sudarso atau akrab disapa Wiwi. Usai purna kerja dari sebuah perusahaan, pria ramah ini memilih mengisi hari dengan berjualan getuk, tiwul, klepon, hingga cetot—kuliner yang kini kian jarang ditemui.
“Karena sudah pensiun, saya cari kesibukan. Kebetulan ditawari adik untuk jualan ini,” tuturnya.
Meski baru berjalan beberapa bulan, antusiasme pembeli cukup tinggi. Harga pun ramah kantong, satu mika berisi tiga potong kue hanya Rp3.000, dengan pilihan rasa sesuai selera.
“Boleh pilih, karena harganya sama kok,” ujar Wiwi sambil merapikan dagangan.
Lapaknya buka sekitar pukul 08.30 WIB hingga habis terjual. Bagi Wiwi, berjualan bukan sekadar mengisi waktu, melainkan langkah menuju kemandirian.
Baca Juga: Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah
“Harapannya ke depan bisa buka sendiri, tidak merepotkan saudara. Soalnya makanan tradisional begini sudah jarang yang jual,” ungkapnya penuh semangat.
Gerobak kecil di Karangbener itu pun kini menjadi oase nostalgia, mengingatkan warga Kudus bahwa cita rasa tradisional tak pernah lekang oleh waktu.
Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Haikal Rosyada

