BETANEWS.ID, KUDUS – Hujan masih mengguyur wilayah lereng Gunung Muria, termasuk Kabupaten Kudus, pada Sabtu (17/1/2026). Kondisi ini terjadi meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak beberapa hari terakhir untuk menekan potensi cuaca ekstrem.
Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca tidak bertujuan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan agar tidak turun secara ekstrem.
Baca Juga: Fenomena Tekanan Rendah Lokal Disebut Jadi Pemicu Bencana di Muria Raya
“Modifikasi cuaca itu untuk mengurangi curah hujan agar tidak ekstrem, bukan menghilangkan hujan sama sekali,” ujar Goeroeh kepada awak media di Gedung DPRD Kudus belum lama ini.
Ia mengungkapkan, BMKG Jawa Tengah telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak 15 Januari 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 19 Januari 2026. Namun, durasi operasi masih bersifat fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di lapangan.
“Nanti akan kita lihat perkembangannya. Jika cuaca masih tidak kondusif dan cenderung ekstrem, maka operasi modifikasi cuaca bisa diperpanjang,” jelasnya.
Goeroeh menjelaskan, titik operasi modifikasi cuaca dilakukan di wilayah udara di atas Laut Jawa bagian utara. Hal ini disesuaikan dengan arah angin yang saat ini dominan bertiup dari barat dan utara.
“Awan-awan yang masih berada di atas laut dan berpotensi masuk ke wilayah Jawa Tengah, termasuk Kudus, akan ditaburi garam agar hujan turun lebih dulu di laut,” terangnya.
Menurutnya, penaburan garam bertujuan mempercepat proses hujan di laut sehingga volume awan yang masuk ke daratan berkurang.
“Harapannya, ketika hujan turun di laut, wilayah daratan bisa lebih aman dari hujan ekstrem,” tambahnya.
Ia juga menyebutkan bahwa wilayah lereng Gunung Muria saat ini tengah berada pada puncak musim hujan. Kondisi tersebut tidak selalu ditandai hujan setiap hari, melainkan hujan lebat hingga sangat lebat yang terjadi secara berkala.
“Ada jeda tanpa hujan. Misalnya hari ini hujan lebat, besok bisa cerah. Namun masa cerah itu justru menjadi waktu pengumpulan awan yang bisa memicu hujan lebih lebat dua atau tiga hari berikutnya,” paparnya.
Goeroeh menambahkan, puncak fenomena cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung hingga akhir Januari. Namun, di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah, potensi hujan ekstrem dapat berlanjut hingga Februari 2026.
“Sekitar 80 persen wilayah Jawa Tengah mengalami puncak musim hujan pada Januari hingga Februari. Untuk operasi modifikasi cuaca, kami akan terus memantau kondisi di lapangan,” ujarnya.
Baca Juga: Musim Panen , Harga Padi di Kudus Tingkat Petani Capai Rp7.000 Per Kilogram
Sebagai informasi, selama sepekan terakhir Kabupaten Kudus dikepung berbagai bencana akibat cuaca ekstrem, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 46.284 warga dari 14.758 kepala keluarga terdampak bencana. Selain itu, 8.497 rumah dilaporkan tergenang banjir, sementara 833 warga terpaksa mengungsi.
Editor: Haikal Rosyada

