BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angkat suara terkait penyebab bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Muria Raya, meliputi Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Salah satu faktor utama pemicu cuaca ekstrem di wilayah tersebut adalah fenomena tekanan rendah lokal.
Koordinator BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Jawa Tengah memang tengah memasuki musim hujan. Namun, keberadaan tekanan rendah lokal membuat potensi terjadinya hujan lebat hingga ekstrem menjadi lebih tinggi.
Baca Juga: Bertemu Kepala BNPB, Warga Terdampak Banjir Kudus Minta Normalisasi Sungai Juwana
“Hujan yang terjadi di wilayah sekitar Gunung Muria bisa dikategorikan sangat ekstrem. Salah satu penyebabnya adalah adanya fenomena tekanan rendah lokal,” ujar Goeroeh di Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Jumat (16/1/2025).
Ia menjelaskan, tekanan rendah lokal merupakan kondisi ketika awan-awan tertarik dan berkumpul di satu wilayah tertentu. Fenomena ini biasanya terjadi di daerah dengan suhu permukaan yang relatif panas.
“Ketika permukaan wilayah panas, tekanan udaranya menjadi rendah. Awan-awan di sekitarnya akan tertarik ke wilayah tersebut, sehingga potensi terjadinya hujan lebat hingga ekstrem menjadi lebih besar,” jelasnya.
Menurut Goeroeh, seluruh wilayah Jawa saat ini berada dalam musim hujan. Namun, tingkat ekstremnya hujan sangat ditentukan oleh kondisi tekanan udara di permukaan.
“Jika suatu wilayah menerima panas matahari pada siang hari, tekanannya akan turun. Udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, prinsipnya sama seperti air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah,” paparnya.
Untuk wilayah lereng Gunung Muria, BMKG mencatat saat ini sedang berada pada puncak musim hujan. Kondisi tersebut tidak selalu ditandai hujan setiap hari, tetapi hujan lebat hingga sangat lebat dapat terjadi secara berkala.
“Ada jeda tanpa hujan, misalnya hari ini hujan lebat, besok bisa cerah. Namun masa cerah itu justru menjadi waktu pengumpulan awan yang berpotensi menimbulkan hujan lebih lebat dua hingga tiga hari berikutnya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, puncak fenomena cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung hingga akhir Januari. Namun, di beberapa wilayah, termasuk Jawa Tengah, potensi tersebut dapat berlangsung hingga Februari 2026.
“Sekitar 80 persen wilayah Jawa Tengah mengalami puncak musim hujan pada periode Januari hingga Februari,” jelas Goeroeh.
Baca Juga: Pemkab Kudus Usulkan 4 Kolam Retensi ke Pemerintah Pusat
Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama pihak terkait telah melakukan operasi modifikasi cuaca sejak 15 Januari 2025. Modifikasi cuaca ini bertujuan untuk mengurangi intensitas hujan ekstrem.
“Modifikasi cuaca bukan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya, melainkan untuk mengurangi curah hujan agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

