BETANEWS.ID, KUDUS – Minat generasi muda terhadap puisi dinilai masih belum maksimal. Padahal, puisi dianggap sebagai bentuk ekspresi tertinggi dalam dunia sastra yang lahir dari pengalaman, perasaan, dan kepekaan seseorang terhadap lingkungan sekitar.
Pandangan tersebut mengemuka dalam talkshow bertema “Menemukan Makna dalam Setiap Karya” yang digelar Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Kabupaten Kudus dalam rangka memperingati Hari Bulan Puisi 2026 di Sidji Coffee, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan itu menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya pegiat teater Asa Jatmiko, penulis novel AJ Susmana, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, Wahyu Kristanto.
Pemateri, Asa Jatmiko, menilai puisi memiliki posisi penting dalam khazanah sastra. Namun, ia menyayangkan karya sastra tersebut belum sepenuhnya diminati kalangan muda.
“Puisi itu penting, tapi kehadirannya belum sepenuhnya diminati anak muda. Padahal, puisi adalah hasil endapan pengalaman dan perasaan manusia,” ujarnya.
Baca juga : Peringati Bulan Puisi 2026, Jaker Kudus Gelar Talkshow
Menurut Asa, karya puisi yang baik lahir dari kepekaan penulis terhadap fenomena sosial maupun pengalaman pribadi yang dirasakan sehari-hari.
“Puisi lahir dari pengalaman, dari apa yang kita lihat dan rasakan. Itu yang menjadi kekuatan dalam karya sastra,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan AJ Susmana, penulis novel Menghadang Kubilai Khan. Ia menilai puisi bukan sekadar luapan kegelisahan, melainkan juga ruang pengetahuan dan sarana memahami kehidupan.
“Puisi adalah seni paling tinggi, hasil olah rasa dan rasio manusia. Di dalamnya ada nilai-nilai perjuangan yang menarik untuk diulik dan disampaikan,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong generasi muda agar tidak takut memulai menulis. Menurutnya, keberanian mengekspresikan diri menjadi langkah awal lahirnya sebuah karya sastra.
“Jangan terlalu dikontrol. Tulis saja apa yang menjadi kegelisahan. Dari situ nanti akan berkembang, bisa jadi puisi, cerpen, atau karya lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah yang juga menjadi pemateri dalam talkshow, Wahyu Kristanto, menilai kebiasaan anak muda menuangkan gagasan di media sosial bisa menjadi pintu masuk dalam berkarya sastra. Sehingga tinggal pengembangan imajinasi agar melahirkan karya.
“Apa yang dilakukan di media sosial itu bisa menjadi cikal bakal karya sastra. Tinggal bagaimana dikembangkan dengan imajinasi untuk melahirkan nilai-nilai dalam puisi,” ujarnya.
Editor : Kholistiono

