31 C
Kudus
Sabtu, Februari 14, 2026

Tanggul Sungai Dawe Kritis, Tiap Tahun Warga Desa Golantepus Kudus Kebanjiran

BETANEWS.ID, KUDUS – Kondisi tanggul Sungai Dawe yang melintas di Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, kian mengkhawatirkan.

Beberapa titik tanggul sungai juga dilaporkan jebol. Selain itu, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan juga memperburuk keadaan.

Baca Juga: Banjir Kudus Kian Meluas, 47.050 Jiwa Terdampak, 1.805 Jiwa Mengungsi

-Advertisement-

Selama ini, warga terpaksa meninggikan tanggul sungai secara swadaya dengan memanfaatkan sampah rumah tangga. Mulai dari tumpukan pampers bekas hingga rumput digunakan sebagai penahan tambahan di sepanjang tanggul.

Oleh karena itu, Ketika ada pasokan tanah warga pun bergegas bergotong royong. Mereka mengisi tanah ke dalam karung, kemudian memanggulnya satu per satu untuk memperkuat dan meninggikan tanggul Sungai Dawe, Jumat (16/1/2025).

Kepala Desa Golantepus, Nur Taufiq, mengatakan hampir seluruh tanggul Sungai Dawe di wilayahnya dalam kondisi kritis. Dari seluruh titik rawan, terdapat delapan titik yang dinilai paling parah.

“Semua tanggul kritis, tetapi yang paling parah ada delapan titik. Di sana ada yang jebol, merembes, dan melimpas, sehingga menyebabkan banjir,” ujar Taufiq saat ditemui di lokasi.

Ia menyebutkan, hampir seluruh warga desanya terdampak banjir. Ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga satu meter.

“Total warga terdampak sekitar 4.500 jiwa dari 2.500 kepala keluarga. Dari 32 RT yang ada di enam RW, hanya dua RT yang tidak terdampak banjir. Sisanya, 30 RT tergenang,” jelasnya.

Menurut Taufiq, Desa Golantepus berada di posisi rawan karena diapit oleh empat sungai, yakni Sungai Dawe, Sungai Mrisen, Sungai Poceho, dan Sungai Piji.

“Jika intensitas hujan tinggi, hampir bisa dipastikan desa kami kebanjiran. Selain tanggulnya kritis, sungai-sungai tersebut juga mengalami pendangkalan,” ungkapnya.

Baca Juga: Jalan Jetiskapuan Kudus Lumpuh, Motor Mogok, dan Warga Dievakuasi

Ia menegaskan, peninggian tanggul menggunakan karung tanah yang dilakukan warga hanya bersifat sementara. Pihaknya berharap pemerintah, khususnya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, segera melakukan penanganan permanen.

“Kami berharap ada peninggian tanggul secara permanen sekaligus normalisasi sungai. Supaya desa kami tidak terus-menerus menjadi langganan banjir,” harap Taufiq.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER